6 PENYEBAB PERBEDA’AN PENDAPAT ULAMA

6 PENYEBAB PERBEDA’AN PENDAPAT ULAMA

Perbedaan pendapat ulama dalam menetapkan hukum syar’iyah tidak hanya terjadi antar madzhab, perbedaan pendapat ulama ini juga terjadi dalam lingkungan madzhab mereka. Banyak orang mengingkari perbedaan pendapat ulama ini, disebabkan keyakinannya yang menyatakan bahwa agama ini satu, syariat juga satu, kebenaran itu satu tidak bermacam-macam dan sumber hukum hanya satu yaitu wahyu ilahi. Selanjutnya mereka mengatakan, mengapa harus ada perbedaan pendapat, dan mengapa madzhab-madzhab fiqh tidak menyatu ?.

Mereka menyangka bahwa perbedaan pendapat ulama akan berakibat terjadinya benturan-benturan dalam syariah dan perpecahan, dan menyamakan perbedaan pendapat ini sama seperti perpecahan yang terjadi dalam tubuh agama Kristen yang terpecah menjadi Ortodoks, Katolik dan Protestan. Semuannya ini adalah kesalah pahaman yang batil.

Perlu diketahui bahwa perbedaan pendapat ulama merupakan rahmat yang memberikan kemudahan bagi umat Islam, menjadi kekayaan intelektual yang besar yang dapat dibanggakan. Perbedaan pendapat ini hanya sebatas perbedaan far’iyah (cabang) dan metode ilmiah, bukan dalam ushul, pondasi agama dan i’tikad. Dalam sejarah Islam, tidak ditemukan bahwa perbedaan pendapat ini menjadi biang perpecahan, permusuhan dan pengoyak kesatuan muslimin.

Perlu dijelaskan bahwa perbedaan ulama hanya sebatas akibat dari perbedaan metode pengambilan hukum yang menjadi kebutuhan pasti dalam dalam memahami hukum dari dalil-dalil syariah, seperti perbedaan dalam masalah penafsiran nash-nash hukum berikut penjelasan-penjelasan yang dilakukan. Hal ini disebabkan karakter bahasa Arab yang terkadang mempunyai makna lebih dari satu, juga disebabkan riwayat hadits, kwalitas keilmuan ulama, atau disebabkan adanya upaya ulama tertentu dalam menjaga kemaslahatan dan kebutuhan secara umum.

Semua penyebab perbedaan tidak menafikan sumber hukum syariah yang satu dan kesatuan syariah itu sendiri, karena pada dasarnya perbedaan dalam syariah itu tidak ada. Perbedaan pendapat hanya disebabkan oleh kelemahan manusia. Akan tetapi kita boleh mengamalkan satu hukum dari pendapat-pendapat yang bebeda, untuk menghilangkan kesulitan dalam umat dimana tidak ada jalan lain setelah terputusnya wahyu, kecuali mengambil apa yang terkuat dari sebuah dugaan para ulama terhadap apa yang mereka pahami dari dalil-dalil syara’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إذا اجتهد الحاكم فأصاب فله أجران، وإن أخطأ فله أجر واحد

“JIka seorang hakim berijtihad lalu benar, maka baginya dua pahala. Dan jika salah maka baginya satu pahala”. (Hadits Muttafaq Alaih).

Berikut adalah enam penyebab penting perbedaan pendapat ulama dalam mengambil hukum syariah :

1. Perbedaan Dalam Memaknai lafadz-lafadz Arabiah.

Perbedaan dalam memberikan makna ini disebabkan oleh bentuk lafadz yang global (mujmal), mempunyai banyak makna (musytarak), mempunyai makna yang tidak bisa dipastikan khusus atau umumnya, haqiqah dan majaznya, haqiqah dan ‘urufnya, atau disebabkan mutlaq atau muqayyadnya, atau perbedaan I’rab. Contoh simpel dari penyebab ini adalah pemaknaan lafadz “al-Qur’u”, apakah dimaknai suci atau haid. Juga seperti lafaz amr (perintah), apakah menunjukkan wajib atau sunat. Dan masih banyak contoh yang lain.

2. Perbedaan Riwayat

Perbedaan riwayat hadits yang menjadi rujukan hukum diakibatkan oleh beberapa hal.

Pertama : Adalah adanya hadits yang hanya sampai kepada satu mujtahid dan tidak sampai pada mujtahid yang lain.

Kedua : Adalah sampainya satu hadits kepada seorang mujtahid dengan sanad yang dla’if, sementara hadits tersebut sampai kepada mujtahid yang lain dengan sanad yang shahih.

Ketiga : Seorang mujtahid berpendapat bahwa terdapatnya perawi dhaif dalam riwayat sabuah hadits membuat hadits tidak dapat diterima, sedangkan mujtahid yang lain tidak demikian.

3. Adanya Perbedaan Dasar hukum

Perbedaan dasar hukum yang dimaksud ialah dasar hukum selain al-Quran, hadits dan ijma’, seperti Istihsan, mashalih mursalah, qaul shahabi, istishab dan sadd al-dzariah

4. Perbedaan dalam Kaidah-kaidah usul

Perbedaan ini seperti perbedaan pendapat tentang digunakannya kaidah “al-‘am al-makhsush laisa bihujjah/lafadz yang bermakna khusus yang dikhususkan tidak dapat dijadikan hujjah”, “Al-mafmun laisa bi hujjah/kepahaman konteks tidak bisa dijadikan hujjah” dan lain-lain.

5. Ijtihad Menggunakan Qiyas.

Ini adalah penyebab yang paling luas, dimana ia mempuyai dasar, syarat dan illat. Illat pun juga mempunyai syarat dan tata cara dalam mengaplikasikannya. Semua ini menjadi potensi bagi timbulnya perbedaan.

6. Pertentangan Dasar Hukum berikut Tarjihnya

Masalah ini sangat luas yang menjadi perbedaan pandangan dan menimbulkann banyak perdebatan. Masalah ini membutuhkan ta’wil, ta’lil, kompromi (jam’u), taufiq, naskh dan lain-lain.

Dengan penjelasan ini dapat diketahui bahwa hasil ijtihad para imam madzhab tidak mungkin untuk diikuti semua, meskipun boleh dan wajib mengamalkan salah satunya. Semua perbedaan adalah masalah ijthadiyah, dan pendapat-pendapat yang bersifat dzanni (dugaan), yang harus dihormati dan dianggap sama. Amatlah salah jika perbedaan tersebut menjadi pintu timbulnya fanatisme, permusuhan dan perpecahan diantara kaum muslimin yang telah disifati dalam al-Qur’an sebagai umat yang bersaudara dan diperintah untuk berpegang teguh kepada tali Allah.

Wallahul Musta’an

Sumber : Al-Fiqh Al-Islamy Wa Adillatuh, Wahbah Zuhaili, Juz. 1 hlm: 83-88

_____________

MENELADANI SHALAFUS SHALIH DALAM MENJAGA KEIKHLASAN DALAM BERAMAL

MENELADANI SHALAFUS SHALIH DALAM MENJAGA KEIKHLASAN DALAM BERAMAL

Semua umat Islam tentu berharap, apabila amal ibadah yang dilakukannya diterima oleh Allah Ta’ala. Karena diantara tujuan dari ibadah adalah mengharap ridho dan pahala, tidak mengharapkan kesia-sia’an. Namun ternyata tidak semua amal ibadah yang dilakukan manusia akan di terima, karena syarat di terimanya amal ibadah adalah ikhlas, semata-mata mengharap ridho Allah Ta’ala. Tidak mengharapkan pujian dan sanjungan dari manusia di samping sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perlunya keikhlasan dalam ibadah di sebutkan Allah Ta’ala dalam Firman-nya :

الَّذِي خلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“(Allah-lah) yang menciptakan kematian dan kehidupan supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalannya”. (QS Al-Mulk: 2).

Fudhail bin ‘Iyaad rahimahullah seorang Tabi’in yang agung mengatakan ketika menafsirkan Firman Allah, (yang artinya) “yang lebih baik amal ibadahnya” maksudnya adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar (paling mencocoki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan showab. Amalan dikatakan ikhlas apabila dikerjakan semata-mata karena Allah. Amalan dikatakan showab apabila mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Ma’alimut Tanziil [Tafsir Al-Baghowi] terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh).

Para Shalaf sebagai generasi terbaik umat Islam, mereka benar-benar memahami pentingnnya ikhlas dalam beramal. Mereka sangat khawatir terselip perasa’an riya yang dapat menghanguskan nilai amal salih. Para Shalaf sekuat tenaga menyembunyikan amal soleh mereka dari perhatian manusia.

Berikut ini beberapa riwayat para Shalafus Shalih dalam menyembunyikan amal soleh mereka yang patut kita teladani.

۞ Ar Robi bin Khutsaim murid ‘Abdullah bin Mas’ud tidak pernah mengerjakan shalat sunnah di masjid kaumnya kecuali hanya sekali saja. (Az Zuhud, Imam Ahmad, 5/60, Mawqi’ Jami’ Al Hadits).

Ar Robi bin Khutsaim khawatir orang-orang mengenalnya sebagai ahli ibadah, kemudian mereka menyanjungnya.

۞ Ayub As Sikhtiyaniy memiliki kebiasaan bangun setiap malam. Ia pun selalu berusaha menyembunyikan amalannya. Jika waktu shubuh telah tiba, ia pura-pura mengeraskan suaranya seakan-akan ia baru bangun ketika itu. (Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim Al Ash-bahaniy, 3/8, Darul Kutub Al ‘Arobiy, Beirut).

۞ Ali bin Al Husain bin ‘Ali biasa memikul karung berisi roti setiap malam hari. Beliau pun membagi roti-roti tersebut ke rumah-rumah secara sembunyi-sembunyi. Beliau mengatakan,

إِنَّ صَدَقَةَ السِّرِّ تُطْفِىءُ غَضَبَ الرَّبِّ عَزَّ وَ جَلَّ

“Sesungguhnya sedekah secara sembunyi-sembunyi akan meredam kemarahan Rabb ‘azza wa jalla”.

Penduduk Madinah tidak mengetahui siapa yang biasa memberi mereka makanan. Ketika Ali bin Al Husain meninggal dunia, mereka tidak lagi mendapatkan kiriman makanan setiap malamnya. Penduduk Madinah baru mengetahui yang memberi mereka makanan adalah Ali bin Al Husain setelah mengetahui di punggung Ali bin Al Husain terlihat bekas hitam karena seringnya memikul karung yang dibagikan kepada orang miskin Madinah di malam hari. (Hilyatul Auliya’, 3/135-136).

۞ Daud bin Abi Hindi berpuasa selama 40 tahun dan tidak ada satupun orang, termasuk keluarganya yang mengetahuinya. Ia adalah seorang pedagang kain di pasar. Di pagi hari, ia keluar ke pasar sambil membawa sarapan pagi. Dan di tengah jalan menuju pasar, ia pun menyedekahkannya. Kemudian ia pun kembali ke rumahnya pada sore hari, sekaligus berbuka dan makan malam bersama keluarganya. (Shifatus Shofwah, Ibnul Jauziy, 3/300, Darul Ma’rifah, Beirut, cetakan kedua, 1399 H).

۞ Ibrahim bin Ad-ham diajak makan (padahal ia sedang puasa), ia pun ikut makan dan ia tidak mengatakan, “Maaf, saya sedang puasa”. (Ta’thirul Anfas, hal. 246).

Ibrahim bin Ad-ham sampai membatalkan puasa sunnahnya karena khawatir orang-orang mengetahui kalau ia sedang berpuasa. Ibrahim bin Ad-ham tidak ingin di kenal sebagai ahli ibadah yang rajin puasa, dan orang-orang memujinya.

۞ Ar-Robi’ bin Khutsaim tidak suka apabila sedang membaca Al-Qur’an ada orang yang mengetahuinya. Jika ada orang yang akan menemuinya, dan Ar Robi’ bin Khutsaim sedang membaca mushaf Al-Qur’an, ia pun segera menutupi mushaf Al-Qur’an yang sedang ia baca dengan bajunya. (Hilyatul Awliya’, 2/107, Darul Kutub ‘Arobiy, cetakan keempat, 1405 H).

۞ Begitu pula halnya dengan Ibrahim An-Nakho’i. Jika ia sedang membaca Al-Qur’an, lalu ada yang masuk menemuinya, ia pun segera menyembunyikan Al-Qur’annya. (Ta’thirul Anfas, hal. 246).

Para Shalaf di masa lalu sampai berpura-pura sedang terkena pilek untuk menutupi tangisannya apabila mendapati ayat-ayat Allah Ta’ala yang mengandung ancaman.

۞ Ayub As-Sikhtiyaniy mengusap wajahnya, lalu ia berkata, “Aku mungkin sedang pilek berat.” Tetapi sebenarnya ia tidak pilek, namun ia hanya ingin menyembunyikan tangisannya (karena takut kepada Allah Ta’ala). (Ta’thirul Anfas, hal. 248).

۞ Abu As-Sa ib menampakkan senyumannya di hadapan manusia. Padahal ia sedang menangis ketika mendengar baca’an Al-Qur’an atau hadits. Ia tidak ingin tangisannya di ketahui manusia. (Ta’thirul Anfas, hal. 251).

Itulah beberapa riwayat para Shalafus Shalih dalam menyembunyikan amal soleh. Mereka sangat khawatir amal-amal soleh yang mereka lakukan hangus tidak ada nilainya di hadapan Allah Ta’ala karena terselip perasa’an riya di dalam hati.

Apabila kita perhatikan pada sa’at ini, banyak manusia yang senang mempublikasikan ibadah-ibadah atau amal soleh mereka, sungguh jauh berbeda dengan para Shalafus Shaleh. Perbeda’an ini akibat pemahaman mereka yang jauh berbeda. Para Shalafus Shaleh sangat memahami pentingnya ke ikhlasan dalam ibadah.

Sungguh rugi mereka yang beramal saleh tapi mengharapkan puja-puji dan sanjungan manusia.

با رك الله فيكم

By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam-sudah-sempurna

_________________

SETAN MENANAMKAN PERASA’AN KHUSYU’ KEPADA AHLI BID’AH

SETAN MENANAMKAN PERASA’AN KHUSYU’ KEPADA AHLI BID’AH
.
Tidak perlu heran apabila kita melihat para pelaku bid’ah, mereka begitu khusyu’ dalam mengerjakan amalan-amalan bid’ahnya. Menangis dalam dzikir-dzikir bid’ahnya dan suka cita dalam nyanyian dan tarian-tarian bid’ahnya. Mereka juga begitu bersemangat dalam acara-acara dan peraya’an-peraya’an bid’ahnya. Sehingga segala rupa amalan dan peraya’an bid’ah yang merebak di tengah-tengah umat sulit di bendung. Bahkan mereka melakukan perlawanan dan menunjukkan permusuhannya dengan caci-maki ketika di nasehati dan di peringatkan.
.
Nabila Dzaki Al-Imam Al Auzaa’iy rahimahullah berkata : “Telah sampai kepadaku bahwa, siapa yang membuat buat bid’ah sesat, maka syaithan akan membuat dirinya senang beribadah, dan menanamkan didalam hatinya kekhusyuan dan tangisan agar syaithan bisa lebih menanamkan bid’ah pada dirinya”. (Al’-Itishaam 1/125 ).
.
Silahkan di lihat bagaimana para pelaku bid’ah begitu khusyu dalam kebid’ahannya.
.
https://youtu.be/BkW1dQyzyl0
.
.
____________________

TOBATNYA SEORANG KUBURIYUN

TOBATNYA SEORANG KUBURIYUN

Aku dulu sering membayangkan dengan cara menghayal, ka’bah itu seperti apa, hanya gambaran dari imajinasiku, aku tahu ka’bah dari kata orang orang dan gambar gambar yang sudah ada.

Tobatku dari selama menjadi penganut Islam model aswaja, membuat aku yakin bahwa ajaran yang aku kenal sebelumnya salah. Tetapi pertentangan jiwaku menerima “Muhammadiyah” ketika itu juga berat, hingga timbul pertarungan batin antara tetap di aswaja atau hengkang menuju dunia baruku, yaitu “Muhammadiyah”.

Terkadang aku melirik kesyirikan-kesyirikan yang pernah aku kerjakan, seperti bertirakat dikuburan, membuang waktu malam dari kuburan ke kuburan orang sholeh (menurut keyakinan aswaja), memburu wangsit atau ilham dari para penghuni kuburan orang orang shaleh.

Malam bukan menghabiskan waktu di mesjid, tetapi disebuah mushallah tanah pekuburan kramat (ala aswaja).

Dipelataran kuburan itu memang tempat mangkir kalangan selebritis kuburiyun yang mencari berbagai ilmu, macam “ilmu kassyaf” dan “Ladunni”

Di Madura memang yang namanya kuburan kyai atau orang orang sholeh lebih dari sekedar ka’bah di mekkah. bahkan demi kuburan mereka melakukan apa saja, guna kuburan bisa tertarik memberikan aura kepandaian kepada peminatnya.

“Suluk” kuburiyun ini memang berbacam macam caranya, tergantung keilmuan yang bersangkutan di tentang bertirakat di areal kuburan.

Saya mengenal tokoh sesat waktu itu namanya “Umbar atmonosari”, rumahnya disekitar kota Sumenep, jalan trunoyo, dia seorang ahli kuburan yang tak pernah absen, bahkan tak pernah sembahyang, juga seorang tokoh dari anshor waktu itu.

Menurutnya “sembahyang”
itu hanya untuk orang awam, itulah sebabnya dia gak pernah shalat jum’at ke mesjid, dia juga jago wanita melalui cara ilmu pelet yang dimiliki si Umbar ini.

Gurunya yang terkenal namanya Amirul Khotib asal Saronggi Sumenep, dia tokoh sholawat Wahidiyah yang sangat terkenal, juga gak pernah sholat, kerjanya hanya muter muter baca sholawat wahidiyah, karang KH. Romo yai Abdul Majid Ma’ruf kedonglo kediri.

Sholawat ini dikenal sebaga “Mujahadah” yang datang bisa mencapai ribuan, tetapi terus terang saja, kalau baca sholawat ini kayak gasing memutar kekanan kekiri, kedepan kebelakang, sambil membaca Ya sayyidi Ya Rosulullah secara berjama’ah, biasanya gaya sholawat wahidiyah ini memang harus dilakukan dengan berteriak teriak memanggil Rasulullah, shalat atau tidak yang penting baca sholawat wahidiyah.

Itulah Umabar (tokoh Anshor Sumenet tahun 70 puluhan, saya kenal baik dengan dia, bagaimana hidupnya dihabiskan dengan wanita hasil peletannya, juga pengikut setia sholawat wahidiyah.

Aku yang merasa salah dan dosa ikut-ikutan sholawat tersebut bukan makin menemukan ketenangan, tetapi diburu rasa ragu, bahwa yang dikerjakan aku salah,

Aku mohon kepada Allah supaya diberi ilmu yang benar. Karena hidupku pada waktu itu hanya dihabiskan untuk ibadah ibadah bid’ah menyesatkan, aku belajar namanya Hizbul Bahar, dan bermacam macam hizib-hizb unggulan aswaja.

Tetapi yang ada justru aku makin ragu, bahkan gara gara petunjuk seorang kyai aswaja K. Dawi asal Lenteng Sumenep, aku pernah puasa selama 40 hari. Buka dan sahurnya hanya skepal nasi putih, tetapi justru makin menguatkan aku meninggalkan Aswaja.

Taun 1977 aku mulai meninggalkan aswaja, bergabung dengan pengajian Ashhabul Kahfi yang terdiri dari 7 pemuda.

Dari wadah ini aku mengenal dunia ilmu. aku di perkenalkan pada sebuah pustaka temanku Jufry namanya, di rak lemari buku Jusfry ini terdapat berbagai buku tua warisan Ustad-ustad tahun 50 hingga enam puluhan, aku baca semua buku buku itu,

Seperti buku Ustad A. Hassan, soal Jawab A. Hassan, Surat debat dengan Sukarno, berjilid-jilid Al muslimun, Panji Masyarakat, Kiblat, buku karangan KH. Bahauddin Mudhhari (Dialog Islam Kristen), Buku bruosur Darussalam oleh Ustad Usman Bahababazy dan ratusan buku lainnya yang kemudian membuat aku bertobat murni dari Aswaja.

Tetapi aku tidak puas hanya sampai disitu, aku mulai haus ilmu, aku mulai gila membaca, aku datangi semua perpustaka’an di Sumenep, aku bandingkan ilmu-ilmu yang kudapat.

Aku ketemu dengan bukunya Sirajuddin Abbas 40 masalah dalam Islam. Buku ini sangat tidak ilmiah, bahkan isinya lebih standar emosi. Aku yang tak kenal “wahabi” waktu itu justru menjadi tahu wahabi dari caci maki sirajuddin Abbas terhadap wahabi, juga caci maki Sirajuddin abbas terhadap Ibnu Taimiyah. Sirajuddin abbas dalam memaki Ibnu Taimiyah hanya berpedoman pada seorag Ibnu batutah ketika berlayar di Aceh,

Dengan caci maki Sirajuddin Abbas tersebut justru membuat aku makin yakin ada tersembunyi di balik hujatannya terhadap Wahabi dan Ibnu Taimiyah,

Itulah yang mendorong aku membuka buku buku yang beraliran wahabi, aku pelajari buku buku wahabi, dan terus terang saja waktu itu tidak ada mulut paling jelek mencaci wahabi selain aswaja. Padahal waktu itu aku gak kenal wahabi, wahabi yang aku kenal waktu itu adalah Muhammadiyah, sebab kalau kyai kyai Madura lagi mencemooh Muhammadiyah selalu bilang “Muhammadiyah wahabi “. Itu dulu sebelum ada kasak kusuk dakwah salafi di Indonesia.

Jadi kebencian pada wahabi itu sudah ditanamkan sejak dini oleh para kyai di Madura, tetapi beda dengan aku, justru wahabi yang makin dibenci membuat aku terpanggil ingin tahu wahabi.

Siapa wahabi ?, ternyata maksudnya orang orang yang menjalankan Qur’an dan sunah, itulah yang dibenci mereka.

Muhammadiyah yang menjadi payung aku mempelajari Islam waktu membuat aku ingin menguji kebenaran lewat Muhammadiyah.

Tahun 1992 aku membayangkan Mekkah, menggambarkan ka’bah kayak apa, aku ingin melihat ka’bah, aku ingin tahu sendiri seperti apa mekkah, ka’bah dan Madina. Tetapi bagaimana Mungkin aku bisa ke ka’bah, pusat kiblat umat Islam itu, sedangkan yang mau dimakan waktu itu saja sering absen perharinya, apa mungkin bisa aku ke Mekkah ?

Aku tantang Allah dengan doa doaku : ”Ya Allah, Ya Allah, aku sudah meninggalkan alam sesat, dan aku berada dalam pangkuan Muhammadiyah, aku ingin ya Allah bukti, kalau aku masuk Muhammadiyah sebagai ormas yang benar membela agamamu, maka buktikan kebenaran-MU ya Allah, aku ingin merasakan nikmatnya Mekkah seperti apa, aku sekarang tak perduli aku menderta/ miskin, tetapi aku ingin bukti bahwa aku masuk bukan pada ormas yang salah ya Allah. Tetapi jika sekiranya aku gak benar, Ya Allah jangan kabulkan doaku, aku sudah sangat menderita ya Allah, kau ambil ayahku, engkau membuat lingkungannya benci padaku, karena aku berjalan diatas Quran dan sunah, ya Allah jika memang benar izinkan dan mudahkan aku menggapai ka’bah dengan tanganku sendiri.

Tahun 1993 menjelang Ramadhan saya bermimpi Nabi Muhammad datang kepadaku, beliau berada diantara pelangi yang menyambungkan ke Ka’bah, lalu beliau bersabda padaku : Kamu sudah menjalani empat perkara, tinggal satu, maka beliau memberikan yang satu itu padaku, aku terbangun, tenang hatiku, merasakan sesuatu ada yang hadir di dekatku.

Besoknya seorang tetanggaku bapak H Ghani bercanda denganku, ”Kapan ke mekkah ?”. jawabku : ”Isnsya Allah tahun ini.
Bapak Haji Ghani (tetanggaku hanya tersenyum, tapi aku tak su’uddzon pdanya).

Setelah H tinggal 10 hari, mendadak aku dikejutkan dengan telegram dari PP. Muhammadiyah Jakarta yang isinya : Zul secepatnya ke Jakarta, anda mendapat undangan dari Raja Fahd bin Abdul Aziz untuk menunaikan ibadah haji, bagaikan di sambar petir kegirangan, bulu kudukku merinding dan aku rebah ketanah sujud sambil menangis syukur, aku peluk Ibuku, aku cium ibuku, pamanku, semua menangis mendengar aku dipanggil menunaikan ibadah haji, hingga bibiku sendiri gak percaya kalau aku akan ketanah suci, bahkan mengatakan aku sinting……. Itulah bukti kebenaran Islam yang aku temukan di Muhammadiyah.
Tetanggapun menjadi gempar, bahkan ketika aku diliput RCTI di mekkah tahun 1993.

Saksi hidup dari orang orang PP. Muhammmadiyah masih hidup, beliau Ustad Goodwill Zubir (padang ), beliau juga sebagai ketua di PP. Muhammadiyah, juga saksi hidup lainnya adalah Buya Risman Mukhtar (padang) ketua PW Muhammadiyah DKI. Saksi meninggal adalah : Ustad Anhar Burhanuddin MA (Padang)…..Juga ketua Islam Tiongha (Ali Karim Oi, pemilik Mesjid Lautze jakarta).

______________

Profil Ustadz Zulkarnain El-Madury

Tanggal Lahir, 6 Agustus 1963

Pendidikan :

– Institute of Bussiness Study Angkatan 1992
– Pesantren At-Taufiqiyah Sumenep Angkatan 1984

Tempat Tinggal :

Jakarta, Kota Asal Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur

Jabatan :

Da’i Pimpinan Pusat Muhammadiyah Januari 1990 hingga sekarang Membina masyarakat Islam Tertinggal

Kontak Facebook :

https://www.facebook.com/KomunitasMuslimAntiBidah

https://www.facebook.com/groups/zelmadury/(Group1000.000 Orang Menolak Aswaja Penyebar Bid’ah)

________________

DI TINGGALKAN UMAT KARENA MENGIKUTI MANHAJ SALAF

DI TINGGALKAN UMAT KARENA MENGIKUTI MANHAJ SALAF
.
Dimusuhi dan di tinggalkan umat akan menjadi konsekuensi bagi seorang tokoh masyarakat ketika berpaling dari tradisi-tradisi yang sudah menjadi kebisa’an di masyarakat. Sebagaimana yang terjadi kepada seorang Kyai Ahmad Haiti.
.
Kyai Ahmad Haiti adalah ayah dari mantan Kapolri Badrodin Haiti yang dilantik Presiden Joko Widodo 17/4/2015.
.
Kyai Ahmad Haiti sebelumnya seorang Kyai yang mempunyai murid banyak. Tetapi karena berpaling mengikuti manhaj salaf, akhirnya beliau kemudian dijauhi santrinya dan ia pun rela menanggalkan kekyaiannya.
.
Ketika sudah mengikuti manhaj Salaf, Kyai Ahmad Haiti mengubah kebiasa’an sa’at membacakan khutbah Jumat di masjid. Kalau biasanya ia khutbah dengan membawa tongkat, sa’at itu Ahmad Haiti tidak memakai tongkat. Bahkan, ia juga tidak membaca teks khutbah berbahasa Arab, yang biasa dibaca oleh para khotib sa’at naik mimbar.
.
Kontan, cara berkhutbah Kiai Haiti yang diluar kebiasa’an itu, mendapat reaksi keras jama’ah Jumat yang memenuhi masjid Darun Najah. Sejak sa’at itu, ia tidak lagi diperkenankan menjadi khotib Jumat. Meski masih tetap shalat di masjid tersebut, ia lebih memilih menjadi makmum dan meninggalkan kebiasa’annya sebagai imam shalat, karena jama’ah sudah tidak menghendaki lagi menjadi imam. Kewibawa’annya sebagai Kiai Masjid, dengan sendirinya memudar.
.
Kiai Achmad Haiti dengan sabar dan lapang dada, menanggalkan gelar dan kehormatan yang sebelumnya disematkan kepadanya. Bahkan pada puncaknya Kiai Achmad Haiti, kembali pindah tempat tinggal, karena sudah tidak nyaman berada di lingkungan masyarakat yang berbalik memusuhinya.
.
Di tempat yang baru, di Dusun Krajan Kulon, Karang Genteng, Kiai Achmad Haiti tidak surut untuk tetap berdakwah. Justru di tempat baru ini, beliau semakin terang-terangan menyebut dirinya anggota Persyarikatan Muhammadiyah.
.
Dan untuk pertama kalinya, pada tahun 1971, beliau merintis pelaksanaan Sholat Idul Fitri di lapangan desa setempat. Sa’at pertama kali diadakan, jama’ah sholat Idul Fitri hanya 12 orang, terutama dari keluarga sendiri dan beliau yang menjadi imam sekaligus khotibnya.
.
Dari sinilah cikal bakal Muhammadiyah di Paleran berdiri. Setelah cukup lama menjadi ranting Muhammadiyah Kecamatan Bangsalsari, pada tahun 2000 lalu, Paleran yang hanya sebuah desa, bisa berdiri Cabang Muhammadiyah, hingga menjadi PCM diantara 22 PCM lainnya di kabupaten Jember.
.
Hasil rintisan dan perjuangan Kyai Ahmad Haiti, kini berdiri Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Paleran dengan berbagai amal usahanya. Diantara AUM yang berdiri berupa TK ABA, SD, SMP dan SMK Muhammadiyah, sejumlah masjid/mushalla, serta beberapa bidang tanah waqaf yang dikelola Muhammadiyah. Dan anak keduanya H. Lukman Haiti meneruskan aktifitas ayahnya aktif di Muhammadiyah Cabang Paleran.
.
Semoga Allah Ta’ala merahmati.
.
.
http://www.muhammadiyah.or.id/
.
.
____________

PERINGATAN DARI RASULULLAH UNTUK TIDAK BERBUAT BID’AH

PERINGATAN DARI RASULULLAH UNTUK TIDAK BERBUAT BID’AH
.
Ada sebagian pihak yang mengatakan akhir-akhir ini ada orang atau kelompok yang suka membid’ah-bid’ahkan amalan-amalan orang lain.
.
Pernyata’an tersebut sangat keliru. Karena memperingatkan umat untuk tidak terjerumus kepada amalan-amalan atau ajaran yang di buat-buat (bid’ah), sejak awal di utusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah di peringatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang kemudian di peringatkan juga oleh para Sahabat dan juga oleh para Ulama sepanjang masa. Jadi memperingatkan umat untuk menjauhi bid’ah itu bukan akhir-akhir ini. Tapi sudah semenjak dahulu pada masa awal kenabian.
.
Peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya dari bid’ah, bisa kita perhatikan di dalam beberapa riwayat berikut ini,
.
– Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah matanya memerah, suaranya begitu keras, dan kelihatan begitu marah, seolah-olah beliau adalah seorang panglima yang meneriaki pasukan ‘Hati-hati dengan serangan musuh di waktu pagi dan waktu sore’. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat adalah bagaikan dua jari ini. (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuknya). Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
.
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkata’an adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Muslim no. 867).
.
Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,
.
وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ
.
“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i, 1578).
.
– Riwayat lainnya dari Sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, Beliau berkata, Kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari. Kemudian beliau mendatangi kami lalu memberi nasehat yang begitu menyentuh, yang membuat air mata ini bercucuran, dan membuat hati ini bergemetar (takut). Lalu ada yang berkata,
.
يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا
.
Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasehat perpisahan. Lalu apa yang engkau akan wasiatkan pada kami ?
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
.
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).
.
– Pada kesempatan yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
إِنَّ أَهْلَ الْكِتَابَيْنِ افْتَرَقُوا فِي دِينِهِمْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً يَعْنِي الْأَهْوَاءَ كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ وَاللَّهِ يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ لَئِنْ لَمْ تَقُومُوا بِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَغَيْرُكُمْ مِنْ النَّاسِ أَحْرَى أَنْ لَا يَقُومَ بِه -ِ (رواه أبو داود وأحمد وغيرهما بسند حسن).
.
“Sesungguhnya ahli kitab telah berpecah menjadi 72 firqah. Dan sesungguhnya umat ini akan berpecah menjadi 73 millah (pengikut hawa nafsu/bid’ah), mereka semua berada di Neraka kecuali satu, yaitu Al-Jama’ah. Nanti akan muncul pada umatku sekelompok orang yang kerasukan bid’ah dan hawa nafsu sebagaimana anjing kerasukan rabies, tak tersisa satu pun dari urat dan sendinya melainkan telah kerasukan. Hai sekalian bangsa Arab, demi Allah, kalau kalian saja tidak mau melaksanakan ajaran Nabimu, maka orang lain akan lebih tidak mau lagi”. (H.R. Abu Dawud no 4597, Ahmad dalam Musnadnya (4/102) no 17061 dari sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan).
.
Dari riwayat-riwayat yang disebutkan diatas menunjukkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak dari awalnya di utus kepada manusia sudah memperingatkan umatnya untuk tidak melakukan amalan-amalan atau ajaran-ajaran yang tidak di syari’atkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Maka apabila sa’at ini ada orang yang mengatakan akhir-akhir ini ada kelompok yang suka membid’ah-bid’ahkan amalan orang lain adalah keliru, juga menunjukkan apabila orang tersebut tidak mengetahui sejarah kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
_____________________

BALASAN BAGI PARA PELAKU BID’AH

BALASAN BAGI PARA PELAKU BID’AH
.
Sungguh rugi di dunia dan di akhirat bagi para pelaku bid’ah. Di dunia rugi karena mereka melakukan amalan-amalan bid’ahnya tidak terlepas dari pengorbanan waktu dan tenaga bahkan biaya yang tidak sedikit yang mereka keluarkan untuk membiayai acara-acara bid’ah mereka. Padahal apabila biaya yang mereka keluarkan digunakan untuk membiayai syi’ar Islam yang di syari’atkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, maka tentu saja mereka akan mendapatkan keuntungan berupa balasan pahala. Selain rugi di dunia, mereka juga akan mengalami kerugian di akhirat kelak, karena mereka telah melakukan kesesatan dalam agama. Mereka mendekatkan diri (taqorrub ilallah) dengan cara-cara yang tidak di syari’atkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
.
Manusia yang berakal ketika beribadah kepada Allah Ta’ala yang di harapkan tentu saja adalah balasan pahala yang melimpah. Tidak ada orang yang beribadah menghendaki kesia-sia’an. Oleh karena itu hendaklah manusia beribadah sesuai dengan yang di syari’atkan. Tidak membuat-buat syari’at baru yang tidak di ajarkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Karena apabila beribadah dengan cara-cara yang tidak di syari’atkan, maka bukan pahala yang akan di peroleh tapi justru akan mendapatkan kerugian. Amalan mereka para pelaku bid’ah akan tertolak. Sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan :
.
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
.
“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu hal yang baru dalam perkara kami ini yang tidak ada (perintahnya dari kami) maka tertolak“. (H.R al-Bukhari dan Muslim).
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
.
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
.
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka tertolak”. (H.R Muslim).
.
Dan lebih dari itu, selain amalan mereka di tolak juga akan mendapatkan adzab neraka sebagai akibat dari kesesatannya.
.
• Akibat Buruk dari Bid’ah
.
Dalam beberapa kesempatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umatnya untuk tidak berbuat bid’ah. Karena bid’ah adalah kesesatan.
.
Diantara peringatannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
.
“Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Muslim no. 867).
.
Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dan melarang suatu perkara, kalau bukan perkara tersebut mendatangkan banyak keburukan. Dan berikut ini beberapa akibat buruk dari prilaku bid’ah berdasarkan keterangan dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya,
.
1. Pelaku bid’ah akan mendapatkan laknat Allah Ta’ala.
.
Pelaku bid’ah yang dimaksud adalah mereka yang gemar melakukan kebid’ahan, bukan mereka yang tidak sengaja berbuat bid’ah. Maka balasan bagi mereka adalah laknat dari Allah Ta’ala. Sebagaimana yang di sabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
.
مَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
.
“Barangsiapa yang berbuat bid’ah atau melindungi/membantu pelaku bid’ah, maka baginya laknat Allah, para malaikat-Nya dan seluruh manusia”. (HR Bukhary,1870 dan Muslim, 1370).
.
Sungguh rugi para pelaku bid’ah, padahal mereka beribadah mengharapkan pahala, akan tetapi malah justru mendapatkan laknat.
.
2. Pelaku bid’ah akan semakin jauh dari Allah Ta’ala.
.
Tujuan dari ibadah adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala (taqorrub ilallah). Namun dengan berbuat bid’ah justru malah sebaliknya akan menjadikan jauh dari Allah Ta’ala.
.
Sebagaimana yang di riwayatkan dari Ayyub As-Sikhtiyani, salah seorang tokoh tabi’in, bahwa beliau mengatakan :
.
مَا ازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اِجْتِهَاداً، إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً – (حلية الأولياء، ج 1/ص 392).
.
“Semakin giat pelaku bid’ah dalam beribadah, semakin jauh pula ia dari Allah”. (Hilyatul Auliya’, 1/392).
.
3. Pelaku bid’ah terhalang untuk mendapatkan syafa’at.
.
Pada sa’at menghadapi beratnya keada’an di hari kiamat nanti, semua manusia membutuhkan syafa’at untuk menghilangkan penderita’an. Namun celaka bagi para pelaku bid’ah, mereka justru akan di usir dan tidak akan mendapatkan syafa’at.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
أَلَا وَإِنَّ أَوَّلَ الْخَلَائِقِ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام أَلَا وَإِنَّهُ سَيُجَاءُ بِرِجَالٍ مِنْ أُمَّتِي فَيُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ – (متفق عليه).
.
“Sesungguhnya manusia pertama yang diberi pakaian pada hari kiamat ialah Ibrahim ‘alaihissalam. Ingatlah, bahwa nanti akan ada sekelompok umatku yang dihalau ke sebelah kiri, maka kutanyakan : Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku ? Akan tetapi jawabannya ialah : Kamu tidak tahu yang mereka ada-adakan sepeninggalmu”. (Muttafaq ‘Alaih).
.
4. Pelaku bid’ah akan menanggung dosa orang yang mengikutinya.
.
Kecelaka’an lainnya dari para pelaku bid’ah adalah di bebankannya kepada mereka sebagian dari dosa-dosa orang-orang yang di sesatkannya.
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ
.
“(ucapan mereka) Menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan)”. (QS. An-Nahl: 25).
.
– Allah Ta’ala juga berfirman :
.
وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالا مَعَ أَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ
.
“Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan”. (QS. Al-Ankabut: 13).
.
Imam Mujahid berkata : “Mereka memikul beban-beban dosa mereka, dan dosa-dosa orang yang menta’ati mereka, dan hal itu tidak meringankan siksa terhadap orang yang menta’ati mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Ankabut: 13).
.
Ayat-ayat di atas di tujukan kepada orang-orang kafir namun hakekatnya di tujukan kepada siapapun secara umum. Yaitu mereka yang menyesatkan manusia, maka akan menanggung sebagian dari dosa-dosa orang-orang yang di sesatkannya.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مثلُ آثَامِ مَنِ اتَّبَعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ من آثامهم شيئًا
.
“Dan barang siapa yang menyeru kepada kesesatan, dia akan mendapatkan dosanya semisal dengan dosa orang-orang yang mengikuti jejaknya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun”. (HR. Muslim no 1017).
.
5. Pelaku bid’ah sangat sulit untuk bertaubat.
.
Masih beruntung bagi setiap manusia ketika melakukan perbuatan dosa kemudian menyadari dan bertaubat lalu meninggalkan perbuatan-perbuatan dosanya. Namun ternyata para pelaku bid’ah mereka akan sangat sulit untuk bertaubat.
.
– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
إِنَّ اللهَ حَجَزَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ – (رواه أبو الشيخ والطبراني والبيهقي وغيرهم).
.
“Sesungguhnya Allah mencegah setiap pelaku bid’ah dari taubat”. (H.R. Abu Syaikh dalam Tarikh Ashbahan, At Thabrani dalam Al Mu’jamul Ausath, Al Baihaqy dalam Syu’abul Iman dan lainnya).
.
– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ وَاللَّهِ يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ لَئِنْ لَمْ تَقُومُوا بِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَغَيْرُكُمْ مِنْ النَّاسِ أَحْرَى أَنْ لَا يَقُومَ بِهِ – (رواه أبو داود وأحمد وغيرهما بسند حسن).
.
“Nanti akan muncul pada umatku sekelompok orang yang kerasukan bid’ah dan hawa nafsu sebagaimana anjing kerasukan rabies, tak tersisa satu pun dari urat dan sendinya melainkan telah kerasukan”. (H.R. Abu Dawud no 4597).
.
Para pelaku bid’ah di gambarkan dalam hadits di atas seperti anjing yang terkena penyakit rabies. Maksudnya sangat sulit anjing yang terkena penyakit rabies tersebut untuk di sembuhkan.
.
– Imam Sufyan Ats-Tsaury rahimahullah (w. 161 H) berkata :
.
اَلْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ وَالْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا وَالْبِدْعَةُ لاَ يُتَابُ مِنْهَا
.
“Perbuatan bid’ah lebih dicintai oleh iblis daripada kemaksiatan. Dan pelaku kemaksiatan masih mungkin ia untuk bertaubat dari kemaksiatannya, sedangkan pelaku kebid’ahan sulit untuk bertaubat dari kebid’ahannya”. (Riwayat al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, no. 238).
.
Sulitnya para pelaku bid’ah untuk bertaubat, dan kemudian meninggalkan amalan-amalan atau acara-acara bid’ahnya, karena mereka meyakini bahwa bid’ah-bid’ah yang di lakukannya sebagai amal ibadah.
.
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berkata : “Ahlul bid’ah tidak akan bertaubat selama ia menilai bahwa itu merupakan amalan yang baik. Karena taubat berpijak dari adanya kesadaran bahwa perbuatan yang dilakukan itu buruk. Sehingga dengan itu ia bisa bertaubat darinya. Jadi, selama perbuatan itu dianggap baik padahal pada hakikatnya jelek, maka ia tidak akan bertaubat dari perbuatan tersebut. Akan tetapi taubat adalah sesuatu yang mungkin (dilakukan) dan terjadi, yaitu jika Allah Subhanahu wata’ala memberikan hidayah dan bimbingan kepadanya hingga ia dapat mengetahui kebenaran”. (At Tuhfatul Iraqiyyah, Syaikhul Islam ibnu Taimiyah).
.
Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata : ”Rujuknya ahli bid’ah dari kesesatannya adalah hal yang paling sulit bagi mereka, karena mereka menganggap bahwa bid’ah yang mereka lakukan adalah bagian dari agama, mereka bertaqarrub kepada Allah dengan bid’ah tersebut. Ini yang mendorong mereka sulit bertaubat, menentang dan bahkan sombong”. (Fadhilatus Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali-Twit Ulama).
.
Bagaimana para pelaku bid’ah punya keinginan untuk bertaubat, sementara bid’ah-bid’ah yang di lakukannya di yakini sebagai ibadah.
.
Bukankah taubat itu berawal dari kesadaran, bahwa apa yang dilakukannya sebagai perbuatan dosa ?, sementara para pelaku bid’ah memandang segala rupa bid’ah yang di lakukannya sebagai amal saleh untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
.
6. Pelaku bid’ah akan di usir dari telaga Al-Haud pada hari kiamat.
.
Pada hari kiamat manusia akan di giring dan di kumpulkan di Mauqif (Padang mahsyar). Sa’at itu manusia mengalami penderita’an yang berat sesuai dengan amal buruk yang mereka lakukan di dunia. Pada sa’at itu Allah Ta’ala menyediakan telaga (Al-Haudh) kepada setiap para Nabi supaya umatnya bisa minum dari setia telaga tersebut untuk menghilangkan penderita’an mereka.
.
Telaga yang diperuntukkan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam airnya lebih putih daripada susu, lebih manis dari madu, lebih harum daripada minyak kesturi, panjang dan lebarnya sejauh perjalanan sebulan, bejana-bejananya seindah dan sebanyak bintang di langit. Maka kaum Mukminin dari ummat beliau akan meminum seteguk air dari Al-Haudh (telaga) ini, maka ia tidak akan merasa haus lagi setelah itu selamanya.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرٍو قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلاَ يَظْمَأُ أَبَدًا
.
“Airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dibandingkan minyak misik. Bejananya bagaikan bintang-bintang di langit. Barang siapa minum darinya; niscaya ia tidak akan pernah merasa dahaga selamanya”. (HR. Bukhari no: 7579 dan Muslim no: 2292).
.
Itulah telaga (Al-Haud) yang di peruntukkan untuk umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ternyata tidak semua umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat minum di telaga tersebut. Ada sebagian dari umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang justru akan di usir supaya menjauh. Diantara mereka yang di usir adalah para pelaku bid’ah.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
أَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلَا هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا – (رواه مسلم وابن ماجه وأحمد)
.
“Aku akan mendahului kalian menuju telaga. Sungguh, akan ada beberapa orang yang dihalau dari telagaku sebagaimana dihalaunya onta yang kesasar. Aku memanggil mereka : “Hai datanglah kemari…!” namun dikatakan kepadaku : “Mereka telah mengganti-ganti (ajaranmu) sepeninggalmu”. Maka kataku : “Menjauhlah kesana… menjauhlah kesana (kalau begitu)”. (HR. Muslim no 249, Ibnu Majah no 4306).
.
Begitulah keada’an mereka para pelaku bid’ah di Padang Mahsyar. Sa’at mereka menderita menahan dahaga dan ketika hendak minum dari Telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka di halau seperti unta.
.
5. Pelaku bid’ah dikhawatirkan akan mati dalam keada’an Suu’ul Khatimah.
.
Ketika seorang manusia tutup usia, sangat penting baginya mati dalam keada’an baik (khusnul khotimah). Dan apabila sebaliknya, yaitu mati dalam keada’an buruk, sedang bermaksiat kepada Allah Ta’ala (suu’ul khotimah) maka kecelaka’an yang akan menimpa baginya.
.
Para pelaku bid’ah adalah orang-orang yang bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Mereka seolah-olah merasa tidak puas dengan syari’at yang sudah di tetapkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, padahal agama Islam sudah sempurna. Sehingga mereka membuat cara-cara baru dalam ibadah yang tidak pernah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya ajarkan. Dan mereka menganggap segala macam yang mereka ada-adakannya sebagai bentuk sarana mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala (taqorrub ilallah). Maka sangat dikhawatirkan bagi mereka mati dalam keada’an sedang bermaksiat (suu’ul khotimah) yaitu menyelisihi Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
.
6. Wajah pelaku bid’ah akan menghitam di hari kiamat.
.
Wajah umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kelak di hari kiamat akan putih berseri-seri. Namun tidak demikian dengan wajah para pelaku bid’ah, wajah mereka hitam legam.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ
.
“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula yang hitam muram”. (QS. Ali ‘Imran: 106).
.
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan ayat ini dengan mengatakan,
.
يَعْنِي: يَوْمَ الْقِيَامَةَ، حِيْنَ تَبْيَضُّ وُجُوْهُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَتَسْوَدُّ وُجُوْهُ أَهْلِ الْبِدْعَةِ وَالُفُرُقَة -ِ {تفسير ابن كثير – (ج 2 / ص 92)}.
.
“Yaitu : hari kiamat, ketika wajah ahlussunnah wal jama’ah putih berseri, sedangkan wajah ahlul bid’ah wal furqah hitam legam”. (Tafsir Ibnu Katsier, 2/92. Oleh Abul Fida’ Ibnu Katsier, tahqiq: DR. Sami Muhammad Salamah, cet.2, th. 1420/1999, Daarut Taybah).
.
7. Pelaku bid’ah dikhawatirkan terjerumus ke dalam kekafiran
.
Para ulama dari dahulu sampai sa’at ini berbeda pendapat tentang kafir tidaknya sejumlah firqah ahlul bid’ah, seperti khawarij, qadariyyah dan yang lainnya. Hal ini didukung oleh dhahir ayat yang berbunyi :
.
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
.
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka”. (QS. Al An’am: 159).
.
Diantara mereka ada yang jelas-jelas mengkafirkan firqah bid’ah tertentu seperti batiniyyah dan yang lainnya. Jika ada ulama yang berselisih tentang suatu perkara, apakah ia dihukumi kafir atau tidak ? Tentunya setiap orang yang berakal akan merinding untuk ditempatkan di persimpangan yang sarat marabahaya seperti ini. Siapa yang rela kalau ada orang yang mengatakan kepadanya : “Sesungguhnya para ulama berselisih pendapat mengenaimu; apakah kamu telah kafir, atau sekedar sesat ?” Atau yang mengatakan : “Sesungguhnya ada sebagian ulama yang mengkafirkan kamu dan menganggap darahmu halal…?!” tentunya tak seorang pun mau dikatakan seperti itu. (Mukhtasar Al I’tisham, hal 38).
.
Itulah beberapa akibat buruk dari melakukan kebid’ahan. Alangkah berat dan menghinakan balasan yang akan diperoleh oleh para pelaku bid’ah, sungguh sudah selayaknya mereka renungkan amalan dan acara-acara bid’ah yang selalu mereka kerjakan. Cukuplah dengan syari’at yang sudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Karena tidak ada satupun cara yang akan bisa menyampaikan menuju surga melainkan semuanya sudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan kepada umatnya.
.
Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda :
.
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنْ الْجَنَّة وَيُبَاعِدُ مِنْ النَّار إِلَّا وَقْدٌ بَيْنَ لَكُمْ
.
“Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah dijelaskan semuanya kepada kalian”. (HR. Thobroni dalam Al Mu’jamul Kabir 1647).
.
Semoga bermanfa’at.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
___________________