SABAR DALAM DAKWAH KETIKA MENDAPATKAN CACIAN

.
SABAR DALAM DAKWAH KETIKA MENDAPATKAN CACIAN
.
Oleh : Abu Meong.
.
Mendakwahkan Al-Hak, menyeru manusia untuk kembali kepada ajaran yang datangnya dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, memperingatkan umat untuk meninggalkan segala macam tahayul, bid’ah dan kesyirikan, sudah menjadi sunnatullah apabila mendapatkan caci-maki dari orang-orang yang merasa terusik keyakinannya. Bukankah para Nabi dan Rasul berikut para Sahabatnya pada masa lalu juga mendapatkan cacian dan makian setiap harinya.
.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, pernah datang seorang laki-laki menemui Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, tiba-tiba lelaki tersebut mencaci-maki sahabat Nabi yang mulia tersebut.
.
Rasulullah salallaahu ‘alaihi wassalam yang saat itu tengah duduk di sampingnya tampak terheran-heran sambil tersenyum melihat Abu Bakar diam saja. Namun ketika kata makian semakin banyak dan Abu Bakar pun meladeninya, maka Rasulullah bangkit dengan wajah tidak suka dengan sikap Abu Bakar tersebut.
.
Beliau berdiri dan Abu Bakar mengikutinya.
.
Lalu Abu Bakar bertanya, “Ya Rasulullah, tadi dia mencaci makiku namun engkau tetap duduk. Tapi ketika kuladeni sebagian kata-katanya, engkau marah dan berdiri. Mengapa demikian ya Rasulullah ?”. Tanya Abu Bakar.
.
Rasulullah salallaahu ‘alaihi wassalam pun menjawab, “Sesungguhnya bersamamu ada malaikat, kemudian dia berpaling daripadamu. Ketika engkau meladeni perkataannya, datanglah syaitan dan aku tidak sudi duduk bersama syaitan itu”. Jawab Rasulullah.
.
Kemudian Rasulullah salallaahu ‘alaihi wassalam meneruskan nasihatnya : “Tidak teraniaya seseorang karena penganiayaan yang ia sabar memikulnya kecuali Allah akan menambahkan kepadanya kemuliaan dan kebesaran”. (HR. Imam Ahmad dari Abu Kabsyah Al Anmari).
.
Nasihat Rasulullah salallaahu ‘alaihi wassalam kepada Abu Bakar di atas harus kita terapkan dalam sikap kita ketika menghadapi caci maki orang-orang yang tidak mau menerima dan memusuhi seruan kita. Tidak perlu caci maki mereka kita balas dengan caci maki pula. Karena tindakan tersebut akan menjadikan setan senang dengan yang kita lakukan.
.
Sabar ketika mendapatkan sikap kebencian dalam menyeru manusia untuk berjalan diatas jalan yang benar adalah sikap yang tepat. Bukankah segala sesuatu yang terjadi sudah Allah Ta’ala tetapkan. Seorang mukmin harus lapang dada dan ridha ketika menghadapi kejadian (musibah) yang menimpanya, karena hal itu merupakan ujian dari Allah Ta’ala, sejauh mana dia bersabar. Sehingga Allah Ta’ala mencintainya dan memberikan balasan pahala atas kesabarannya.
.
Allah ta’ala berfirman :
.
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
.
“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”. (QS. Ali Imran, 146).
.
Allah ta’ala berfirman :
.
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
.
“Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”. (QS. An-Nahl : 96).
.
Selain dicintai Allah Ta’ala dan mendapatkan pahala, orang yang sabar juga akan mendapatkan ampunan.
.
Allah ta’ala berfirman :
.
إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
.
“Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itu mendapatkan ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Hud: 11).
.
Dan diatas semua itu, orang yang sabar akan mendapatkan Surga ‘Adn.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
.
“Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu, maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu (Surga Adn)”. (QS Ar-Ra’d : 24).
.
Semoga kita bisa semakin bersabar dalam menyeru manusia untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni, ajaran yang tidak mengandung kebatilan yang dibuat-buat oleh para penyesat umat, Karena besarnya pahala yang akan kita dapatkan.
.
❁ MENELADANI IMAM SYAFI’I KETIKA MENGHADAPI ORANG BODOH
.
Imam Syafi’i adalah seorang Ulama besar yang banyak melakukan dialog dan pandai dalam berdebat dalam permas’alahan agama.
.
Sampai-sampai Harun bin Sa’id berkata : “Seandainya Syafi’i berdebat untuk mempertahankan pendapat bahwa tiang yang pada aslinya terbuat dari besi adalah terbuat dari kayu niscaya dia akan menang, karena kepandainnya dalam berdebat”. (Manaqib Aimmah Arbaah hlm. 109 oleh Ibnu Abdil Hadi).
.
Imam Syafi’i adalah seorang Ulama pembela sunnah, sehingga tentu saja pada waktu itu banyak orang sesat yang memusuhinya, karena cela’an Imam Syafi’i terhadap kesesatan mereka.
.
Berikut perkata’an Imam Syafi’i terhadap mereka.
.
Imam Syafi’i berkata :
.
يُخَاطِبُنِي السَّفِيْهُ بِكُلِّ قُبْحٍ
.
Orang jahil berbicara kepadaku dengan segenap kejelekan
.
فَأَكْرَهُ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ مُجِيْبًا
.
Akupun enggan untuk menjawabnya
.
يَزِيْدُ سَفَاهَةً فَأَزِيْدُ حُلْمًا
.
Dia semakin bertambah kejahilan dan aku semakin bertambah kesabaran
.
كَعُوْدٍ زَادَهُ الْإِحْرَاقُ طِيْبًا
.
“Seperti gaharu dibakar, akan semakin menebar kewangian”. (Diwân Imam Asy-Syâfi’iy).
.
Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Orang pandir mencercaku dengan kata-kata jelek. Maka aku tidak ingin untuk menjawabnya. Dia bertambah pandir dan aku bertambah lembut, seperti kayu wangi yang dibakar malah menambah wangi”. (Diwan Asy-Syafi’i, hal. 156).
.
Imam Syafi’i juga berkata : ”Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku, diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas bagi singa meladeni anjing”.
.
Itulah sikap dari Imam Syafi’i ketika menghadapi orang-orang sesat yang memusuhinya. Semoga kita bisa meneladaninya. Aamiin.
.
Semoga bermanfa’at.
.
Alhamdulilllah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.
.
با رك الله فيكم
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏Mąŋţяί
.
(Pecinta meong, pengamat perilaku cacat mental).
.
Kunjungi blog pribadi di : https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah
.
.
Peringatan !
.
Komentar oot (out of topic) atau oon, tidak ilmiah dan tidak menggunakan bahasa yang baik, atau pertanya’an dengan tujuan memancing adu omongan akan di hapus. Tidak ada waktu untuk menanggapi !
.
.
_____