KALAU BAIK TENTU PARA SAHABAT SUDAH MELAKUKANNYA

KALAU BAIK TENTU PARA SAHABAT SUDAH MELAKUKANNYA

Para pembela bid’ah hasanah sering beralasan bahwa amalan-amalan atau acara-acara bid’ah yang mereka ikuti atau lakukannya adalah baik.

Apakah benar anggapan baik mereka ?

Kalau memang baik, tentu para Sahabat sudah melakukannya !

Seandainya amalan-amalan atau acara-acara baru dalam urusan ibadah yang ahli bid’ah sa’at ini lakukan namun para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan dan mencontohkannya, maka sudah pasti amalan tersebut tidak baik.

Mengapa demikian ?

Karena para Sahabat adalah orang-orang yang lebih semangat dalam kebaikan daripada kita.

Atau para pembela bid’ah hasanah merasa lebih baik dari para Sahabat ?

Inilah yang dikatakan para Ulama Ahlu Sunnah :

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”

Imam Ibnu Katsir berkata :

وأما أهل السُّنّة والجماعة فيقولون في كلِّ فِعلٍ وقولٍ لم يَثبت عن الصحابة: هو بدعة؛ لأنه لو كان خيرًا؛ لَسَبقونا إليه؛ لأنهم لم يتركوا خصلة مِن خصال الخير إلا وقد بادروا إليها”.

“Adapun para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka berkata pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, mereka menggolongkannya sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir).

Perhatikan perkata’an Imam Ibnu Katsir berikut ini :

“ADAPUN PARA ULAMA AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH, MEREKA BERKATA PADA SETIAP AMALAN ATAU PERBUATAN YANG TIDAK PERNAH DILAKUKAN OLEH PARA SAHABAT, MEREKA MENGGOLONGKAN-NYA SEBAGAI BID’AH“.

Perkata’an Imam Ibnu Katsir diatas ketika Ibnu Katsir menafsirkan firman Allah surat Al-Ahqaf ayat 11,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ

”Dan orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, “Sekiranya (Al Quran) itu sesuatu yang baik, tentu mereka tidak pantas mendahului kami (beriman) kepadanya. Tetapi karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata, “Ini adalah dusta yang lama“. (Al Ahqaf: 11).

Cukup mudah sebetulnya untuk mengetahui perkara baru dalam urusan ibadah itu baik atau tidak, bid’ah atau bukan. Cukup kita mengetahui apakah perkara tersebut di lakukan para Sahabat atau tidak.

Kalau tidak dilakukan para Sahabat maka perkara baru dalam urusan ibadah itu adalah tidak baik atau tercela. Maka perkara baru dalam urusan ibadah itu adalah bid’ah.

Sebagaimana yang dikatakan Imam ibnu Katsir :

فيقولون في كلِّ فِعلٍ وقولٍ لم يَثبت عن الصحابة: هو بدعة؛ لأنه لو كان خيرًا؛ لَسَبقونا إليه

”Mereka (Ulama Ahlu Sunnah) berkata, pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, mereka menggolongkannya sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya”. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir).

Tapi mengapa para pembela bid’ah hasanah begitu teguh membela amalan-amalan bid’ahnya, dan mereka memandangnya sebagai sesuatu yang baik ?

Inilah jawabannya ! !

Telah berkata Abdullah bin Aun Al-Bashri Rahimahullah : “Jika hawa nafsu telah menguasai hati, maka seseorang akan menganggap baik sesuatu yang buruk”. (Kitab Sallus Suyuf: 24).

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”

Prinsip para Ulama Ahlu Sunnah diatas bisa kita terapkan untuk menilai apakah amalan baru dalam urusan ibadah tersebut baik atau tidak.

وَٱللَّهُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

================

Iklan