PENGERTIAN SUNNAH

PENGERTIAN SUNNAH

• Makna sunnah secara bahasa

Sunnah berasal dari kata,

(سن) -> (يسن) -> (سنة)

Secara bahasa (etimologi) arti sunnah adalah : ”Cara atau disebut juga jalan (yang ditempuh)”. (An-Nihayah/ Ibnu Atsir, Lisanul ‘Arab/ Ibnu Manzhur).

Arti sunnah secara bahasa lainnya adalah : Peraturan atau ketetatapan, tradisi atau kebiasa’an juga bisa berarti keterangan

• Sunnah berarti cara

Sunnah berarti ”cara” diantaranya terdapat dalam sebuah hadits sebagai berikut,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barang siapa yang mencontohkan “cara” yang baik di dalam Islam, maka ia akan mendapat pahala dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang mencontohkan “cara” yang jelek, maka ia akan mendapat dosa dan dosa orang yang mengerjakannya sesudahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim: 2398).

Dalam pengertian ini, sunnah berarti ”cara” maka terbagi menjadi dua, sebagaimana dikatakan Ibnu Manzhur :

1. Cara atau jalan yang baik (sunnah mahmudah)

2. Cara atau jalan yang buruk (sunnah madzmumah).

• Sunnah berarti jalan (yang ditempuh)

Sunnah yang berarti jalan (yang ditempuh) diantaranya terdapat dalam sebuah hadits sebagai berikut,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اَلنّكَاحُ مِنْ سُنَّتِى فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِى فَلَيْسَ مِنّي

”Nikah itu dari sunnahku, maka barangsiapa yang tidak beramal dengan sunnahku, bukanlah ia dari golonganku”. (HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 592).

Sebagaimana diketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukan orang yang pertama kali menjalani nikah, melainkan mengikuti jalan yang pernah dijalani oleh para Nabi yang datang sebelumnya.

Makna ini juga terdapat dalam sebuah hadits,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اَبْغَضُ النَّاسِ اِلىَ اللهِ ثَلاَثَةٌ: مُلْحِدٌ فِى اْلحَرَمِ وَ مُبْتَغٍ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةَ اْلجَاهِلِيَّةِ وَ مُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقّ لِيُهْرِيْقَ دَمَهُ

”Manusia yang paling dibenci Allah ada tiga golongan, yaitu : Yang melakukan kekufuran di tanah haram, dan menghendaki perjalanan (sunata) jahiliyah di dalam (agama) Islam, dan yang menuntut darah seseorang dengan tidak haq (benar) untuk ditumpahkan darahnya”. (H.R. Bukhari juz 8, hal. 39).

Dari dua hadits diatas, maka kata “sunnah” berarti jalan atau perjalanan yang telah dijalani oleh orang yang datang terlebih dahulu.

Makna sunnah menurut bahasa lainnya bisa juga berarti : Peraturan atau ketetatapan, tradisi atau kebiasa’an juga bisa berarti keterangan.

• Sunnah berarti peraturan atau ketetapan

Makna sunnah berarti peraturan atau ketetapan contohnya dalam firman Allah Ta’ala sebagai berikut,

Allah Ta’ala berfirman :

سُنَّةَ مَنْ قَدْ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُسُلِنَا وَلاَ تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيْلاً

”(Yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap Rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perobahan bagi ketetapan Kami itu”. (Q.S. Al-Israa’: 77).

Juga dalam firman Allah Ta’ala :

سُنَّةَ اللهِ فِى الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللهِ تَبْدِيْلاً

”Sebagai ketetapan Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada ketetapan Allah”. (Q.S. Al-Ahzab: 62).

• Sunnah berarti tradisi atau kebiasa’an

Sunnah berarti tradisi atau kebiasa’an terdapat pada sebuah hadits,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Niscaya kalian pasti akan mengikuti tradisi (kebiasa’an) orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka memasuki lubang dhob (sejenis biawak) maka kalian akan mengikuti mereka”. Kami bertanya: “Wahai Rasulullah (mereka itu) Yahudi dan Nashara ??”. Beliau menjawab : “Lalu siapa lagi (kalau bukan mereka)”. (Riwayat Bukhari).

• Sunnah berarti keterangan

Sunnah yang berarti keterangan, seperti perkata’an ulama ahli bahasa (lughat) sebagai berikut :

سَنَّ اللهُ اَحْكَامَهُ لِلنَّاسِ

”Allah telah menerangkan hukum-hukumnya kepada manusia”.

Juga perkata’an sebagai berikut :

سَنَّ الرَّجُلُ اْلاَمْرَ

”Lelaki itu telah menerangkan satu urusan”.

• Makna Sunnah menurut Ahli Fikih

Menurut Ahli Fikih, sunnah adalah : ”Suatu amal yang dianjurkan oleh syariat namun tidak mencapai derajat wajib”.

Juga dikatakan : ”Segala perbuatan yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa”.

Sunnah dalam makna ini terbagi menjadi dua :

1. Sunnah muakadah (sangat dianjurkan).

2. Sunnah ghoir muakadah

(1) Sunnah muakadah (sangat dianjurkan) artinya : Sesuatu yang yang sangat dianjurkan atau dikerjakan oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara rutin, seperti : Shalat witir, shalat dua raka’at sebelum fajar, shalat rowatib. Termasuk juga menikah, karena Rasulllah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

من أحب فطرتي فليستن بسنتي ومن سنتي النكاح

“Barang siapa yang cinta dengan “fitroh-ku“, maka hendaknya dia melaksanakan sunnahku, dan diantara sunnahku adalah menikah”. (HR Baihaqi : 7/ 78).

(2) Sunnah ghoir muakadah.

Contohnya : Shalat Dhuha, shalat empat raka’at sebelum Dhuhur, dan lain-lain.

• Makna sunnah menurut ahli hadits dan ahli ushul fiqih

Para ulama ahli hadits dan ahli ushul fiqih mendefinisikan kata sunnah sebagai berikut :

مَاجَاءَ عَنِ النَّبِيّ ص مِنْ اَقْوَالِهِ وَاَفْعَالِهِ وَ تَقْرِيْرِهِ وَمَاهَمَّ بِفِعْلِهِ

“Apa-apa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa perkata’annya, perbuatannya dan taqrirnya (persetujuannya) dan apa-apa yang beliau cita-citakan untuk mengerjakannya”.

Maka arti sunnah menurut ahli hadits dan ahli ushul fiqih sunnah Nabi ada empat macam :

1. Sunnah Qauliyyah (perkata’an Nabi)
2. Sunnah Fi’liyyah (perbuatan Nabi)
3. Sunnah Taqririyyah (persetujuan Nabi)
4. Sunnah Hammiyah (keinginan Nabi)

Ada juga ahli usul fikih yang mendefinisikan sunnah sebagai berikut :

كل ما صد رعن النبي صلى الله عليه وسلم غيرالقران من قول او فعل او تقرير مما يصلح ان يكون دليلا لحكم شرعي

”Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam selain Al-Qur’an, baik berupa perkata’an, perbuatan, maupun taqrirnya yang pantas untuk di jadikan dalil bagi penetapan hukum syara’ (hukum agama).

Senada dengan definisi diatas :

السنة ما جاء منقولا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم من قول او فعل او تقرير للحكم

“Sunnah adalah segala yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapan (testimonial) yang bisa dijadikan dasar penetapan hukum syara”.

Definisi ahli usul fikih ini membatasi pengertian sunnah hanya pada sesuatu yang disandarkan atau yang bersumber dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkaitan dengan penetapan hukum syara’.

Maka dengan demikian, segala sifat, perilaku, sejarah hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak ada hubungannya dengan hukum syara’, tidak dianggap sebagai sunnah.

• Sunnah lawan dari bid’ah

Pengertian sunnah selain disebutkan diatas juga kata sunnah sebagai lawan dari kata bid’ah. Sebagaimana disebutkan oleh Al Imam asy-Syathibi,

Al Imam asy-Syathibi berkata : “Dipakai juga (lafazh sunnah) sebagai lawan dari bid’ah. Dikatakan fulan diatas Sunnah jika dia beramal sesuai dengan apa yang ditempuh oleh Nabi Shallallahu’alayhi wa salam, dan dikatakan fulan diatas bid’ah jika dia mengamalkan kebalikannya”. (Al-Muwafaqat 4/4).

• Sunnah sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ اَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا مَسَكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ نَبِيّهِ

”Kutinggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat apabila kamu berpegang teguh kepada keduaya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”. (H.R. Malik, Al-Muwaththa’ juz 2, hal. 899).

Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah mengirim surat kepada Syuraih, ketika ia menjabat qadli, yang bunyinya :

اِذَا اَتَاكَ اَمْرٌ فَاقْضِ ِبمَا فِى كِتَابِ اللهِ. فَاِنْ اَتَاكَ مَا لَيْسَ فِى كِتَابِ اللهِ فَاقْضِ ِبمَا سَنَّ فِيْهِ رَسُوْلُ اللهِ ص

“Apabila datang kepadamu suatu urusan, maka hukumilah dengan apa yang ada di dalam Kitab Allah dan jika datang kepadamu apa yang tidak ada di dalam Kitab Allah, maka hukumilah dengan apa yang pernah dihukumi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. (Al-Muwafaqaat, 4 : 6).

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________