NABI PUN DAHULU DI TUDUH PEMECAH BELAH

NABI PUN DAHULU DI TUDUH PEMECAH BELAH
.
Seringkali orang yang menyeru umat untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni dan meninggalkan segala macam amalan-amalan bid’ah juga tradisi nenek moyang yang bertentangan dengan ajaran Islam sering dituduh sebagai pihak yang merusak kerukunan dan persatuan (pemecah belah) umat.
.
Tuduhan pemecah belah dan meruntuhkan persaudaraan itu, ternyata juga pernah dialamatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika pada masa dahulu menyeru umat untuk kembali kepada ajaran Tauhid yang benar yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan meninggalkan tradisi jahiliyah yang bertentangan dengan ajaran Tauhid.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dituduh merusak persatuan dan pemecah belah bisa kita ketahui dari riwayat ketika masuk Islamnya kepala kabilah Daus yaitu Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi, yang satu kabilah dengan Abu Hurairah, seorang Sahabat Nabi yang terkenal. Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi adalah salah seorang pemuka bangsa Arab yang memiliki kedudukan tinggi. Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi juga dikenal sebagai seorang sastrawan cerdik lagi ulung.
.
Dalam sebuah riwayat di sebutkan, Ath-Thufail meninggalkan kampung halamannya di Tihamah menuju Mekah yang pada saat itu di Mekah sedang terjadi pertentangan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan orang-orang kafir Quraisy yang menolak dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Ketika Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi sampai di Mekah, ia ditemui dan disambut dengan sangat baik dan disediakan tempat singgah yang terbagus oleh para pemuka dan pembesar bangsa Qurais.
.
Dan kepada Ath-Thufail bin Amru Ad-Dausi mereka berkata : “Wahai Thufail, sesungguhnya kamu telah datang ke negeri kami, dan laki-laki yang menyatakan dirinya sebagai Nabi itu telah mencela-cela urusan (peribadatan) kami DAN MEMECAH-BELAH PERSATUAN KAMI, SERTA MENCERAI-BERAIKAN PERSAUDARAAN KAMI. Kami khawatir apa yang menimpa kami ini akan menimpamu sehingga mengancam kepemimpinanmu atas kaummu. Oleh karena itu, jangan berbicara dengan laki-laki itu, jangan mendengar apa pun darinya, karena dia mempunyai kata-kata seperti sihir, memisahkan seorang anak dari bapaknya, seorang saudara dari saudaranya, seorang istri dari suaminya”.
.
Itulah kata-kata yang disampaikan para pembesar kafir Qurais kepada Ath-Thufail bin Amru Ad-Dausi. Namun ternyata Ath-Thufail bin Amru Ad-Dausi malah tertarik oleh dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu masuk Islam.
.
Kalau kita perhatikan kata-kata para pembesar kafir Qurais yang merasa terusik oleh dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menuduh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemecah belah persatuan dan mencerai beraikan persaudaraan tersebut, ternyata sama persis dengan tuduhan orang-orang yang menyimpang dan sesat sa’at ini yang merasa terusik amalan-amalan bid’ah mereka yang menuduh para penyeru umat untuk kembali kepada kemurnian Islam dan meninggalkan segalam macam bid’ah dalam urusan ibadah.
.
Mengapa para penyeru umat untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni sa’at ini mendapatkan perlakuan dan tuduhan yang sama dengan yang didapatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ?
.
Jawabannya :
.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata : “Siapa saja yang mengikuti para Nabi, maka akan mendapatkan seperti yang didapat oleh para Nabi”.
.
Semoga kita berada dalam barisan para Nabi dan Rasul, bukan berada dalam barisan Abu Jahal dan Abu Lahab walaupun konsekuensinya mendapatkan tuduhan pemecah belah umat, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dahulu dituduh pemecah belah.
.
SIAPA SESUNGGUHNYA PEMECAH BELAH UMAT ?
.
Sangat memprihatinkan perselisihan terjadi diantara umat Islam, yang seolah-olah mereka tidak akan bisa dipersatukan. Padahal kiblat mereka sama, Nabinya sama yang di ibadahi juga sama, yaitu Allah Ta’ala.
.
Apa yang menjadikan umat Islam terus berselisih ?
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَلَا تَتَّبِعُوۡا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ وَصّٰٮكُمۡ بِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ‏
.
“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain karena itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS.Al-An’am, 153).
.
Yang dimaksud jalan-jalan lain dalam ayat diatas yaitu, macam-macam bid’ah dan syubhat. Sebagaimana diterangkan oleh Imam Mujahid rahimahullah dalam tafsirnya, Beliau berkata : “Jalan-jalan dengan aneka macam bid’ah dan syubhat”. (Jami’ul Bayan V/88).
.
Setelah menyebutkan beberapa dalil-dalil bahwa bid’ah adalah pemecah belah ummat, Imam Asy-Syatibi rahimahullaahu ta’ala berkata : “Semua bukti dan dalil ini menunjukan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan.” (Al- I’tisham,I/157).
.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala pernah berkata : “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.” (al-Istiqamah, I/42).
.
Dari keterangan para Ulama diatas, maka jelaslah sesungguhnya terjadinya perselisihan sehingga umat terpecah belah dan saling bermusuhan adalah diakibatkan adanya orang-orang yang membuat bid’ah ditengah-tengah umat.
.
Apabila tidak ada yang membuat-buat perkara baru dalam agama (bid’ah), maka niscaya umat Islam pun akan utuh dalam persatuan diatas kemurnian Islam berdasarkan petunjuk Allah Ta’ala dan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
با رك الله فيكم
.
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏Mąŋţяί
.
.
Bid’ah hasanah yang di maksud Imam Syafi’i, silahkan baca di sini : https://agussantosa39.wordpress.com/category/11-bidah-hasanah/01-bidah-hasanah-yang-di-maksud-imam-syafii
.
– Bid’ah hasanah yang di maksud Umar bin Khatab, silahkan baca di sini : https://agussantosa39.wordpress.com/category/11-bidah-hasanah/02-memahami-perkataan-umar-bin-khatab
.
_______________

Iklan

UMAT ISLAM AKAN MENGIKUTI JEJAK YAHUDI DAN NASRANI HINGGA MASUK LUBANG BIAWAK SEKALIPUN

UMAT ISLAM AKAN MENGIKUTI JEJAK YAHUDI DAN NASRANI HINGGA MASUK LUBANG BIAWAK SEKALIPUN
.
Kaum Yahudi dan kaum Nasrani adalah kaum yang di murkai oleh Allah Ta’ala dan kaum yang sesat. Sebagaimana Allah Ta’ala terangkan di dalam Al-Qur’an.
.
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ
.
“Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (QS. Al-Fatihah: 7).
.
Yang dimaksud ayat di atas adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebagaimana di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,
.
إن الْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمُ الْيَهُودُ وَإِنَّ الضَّالِّينَ النَّصَارَى
.
“Sesungguhnya orang-orang yang dimurkai itu adalah orang-orang Yahudi, dan sesungguhnya orang-orang yang sesat itu adalah orang-orang Nasrani”. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Fatihah, 7).
.
Dalam sejarah Islam di ketahui bahwa kaum Yahudi sangat memusuhi umat Islam, dan rasa permusuhan mereka Allah Ta’ala sebutkan dalam Firman-Nya,
.
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
.
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”. (QS. Al-Maidah: 82).
.
Begitu pula kaum Nasrani, mereka memiliki rasa permusuhan dan perasa’an tidak senang terhadap umat Islam. Sikap mereka demikian Allah Ta’ala sebutkan dalam Firman-Nya,
.
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
.
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka”. (QS. Al-Baqarah, 120).
.
Permusuhan dan makar kaum Yahudi dan juga kaum Nasrani begitu panjang tercatat dalam sejarah Islam. Semenjak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru manusia untuk kembali mentauhidkan Allah Ta’ala, tidak henti-hentinya makar kaum Yahudi dan Nasrani ditujukan kepada kaum muslimin hingga sampai sa’at ini.
.
Kaum Yahudi dan kaum Nasrani akan senang kepada umat Islam apabila kita mengikuti mereka, sebagaimana disebutkan dalam penghujung ayat di atas,
.
حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
.
“Hingga kamu mengikuti agama mereka”.
.
Mengikuti jejak langkah mereka maka sama artinya kita membenarkan kesesatan mereka, padahal karena kesesatan mereka itulah yang menjadikan mereka mendapatkan murka Allah Ta’ala.
.
Allah Ta’ala juga mengancam kepada orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka, tidak akan mendapatkan perlindungan dan pertolongannya,
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ
.
“Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. Al-Baqarah: 120).
.
Imam Ibnu Katsir terkait ayat di atas mengatakan, Di dalam ayat ini terkandung makna ancaman dan peringatan yang keras bagi umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar mereka jangan sekali-kali mengikuti jalan-jalan kaum Yahudi dan kaum Nasrani, sesudah mereka mempunyai pengetahuan dari Al-Qur’an dan sunnah, na’uzubillah min zalik. Khitab ayat ini ditujukan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi perintahnya ditujukan kepada umatnya.
.
Allah Ta’ala mengancam tidak akan memberikan pertolongan dan bantuannya kepada orang-orang yang mengikuti jejak langkah kaum Yahudi dan Nasrani.
.
Namun ternyata banyak umat Islam yang tidak menghiraukan ancaman Allah Ta’ala tersebut. Banyak dari umat Islam yang secara tidak sadar telah mengikuti jejak langkah mereka. Mengikuti jejak langkah (agama) mereka bukan berarti kaum muslimin keluar (murtad) dari agama Islam, lalu masuk ke dalam agama mereka, namun pengertiannya adalah mengikuti perilaku mereka.
.
Berikut ini diantara beberapa perilaku kaum Yahudi dan kaum Nasrani yang diikuti oleh sebagian umat Islam,
.
๏ Beribadah dengan alat musik
.
Dalam kitab “Perjanjian Lama” milik kaum Yahudi disebutkan, “Biarkan orang-orang zionis bergembira dengan kekuasan mereka. Hendaklah mereka memuji-Nya dengan bergoyang dan memukul rebana …Haliluyaa… pujilah Tuhan dalam kesuciannya. Pujilah Dia dengan gambus dan kecapi. Pujilah Dia dengan memukul rebana dan bergoyang. Pujilah Dia dengan gitar dan seruling. Pujilah Dia dengan berbagai warna sorak-sorai”. (Mazmûr, hlm. 149-150).
.
Cara-cara peribadahan kaum Yahudi di atas ternyata diikuti oleh kaum Sufi. Dalam ajaran sufi ada berbagai acara yang mereka anggap ibadah yang pelaksanaannya sama persis dengan cara beribadah orang-orang Yahudi yang kita sebutkan di atas. Ada acara bid’ah kaum Sufi yang disebut dengan zikir jamâ’i, duba’an, rajaban, manaqiban, salawatan dan maulidan.
.
Dalam acara-cara tersebut digunakan juga alat-alat pujian yang digunakan oleh orang-orang Yahudi dalam ibadah mereka. Seperti gambus, rebana, kadang-kadang dilengkapi dengan guitar dan seruling sambil berteriak-teriak dalam mengucapkan kalimat-kalimat pujian kepada Allâh Ta’âla dan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
.
Silakan dilihat peribadahan orang-orang Sufi yang mengikuti ajaran kaum Yahudi di bawah ini,
.
Tari Sufi full musik: https://youtu.be/u28vrj-zEh0
.
Tarekat hulahup kaum Sufi:

.
Tarekat disco ahli bid’ah : https://youtu.be/pYLvgnUcQFA
.
Dzikir model dangdutan kaum Sufi: https://youtu.be/rCRbHvDcRK8
.
Yahana vs Yahudi: https://youtu.be/OYGor7wlvIQ
.
๏ Menggoyang-goyangkan kepala ketika beribadah
.
Disebutkan, diantara sebab muasal penamaan pengikut nabi Musa ’alaihissalam dari orang-orang Bani Israil dinamakan Yahudi adalah karena kebiasaan mereka ketika membaca Taurat mengangguk-anggukkan kepala. Hal ini dapat kita saksikan sendiri bagaimana orang-orang Yahudi ketika beribadah di depan Dinding Ratapan (tempat ibadah mereka) yang terdapat di masjid Aqsha.
.
Abu Bakar Tharthûsy mengatakan : “Bergoyang dalam berzikir dan berusaha agar pingsan, yang pertama sekali melakukannya adalah pengikut Samiri ketika mengajak mereka untuk menyembah ‘Ijil (anak sapi). Mereka bergoyang-goyang disekelilingnya dan pura-pura pingsan. Maka ia adalah agama para penyembah ‘Ijil. Barangsiapa menyerupai mereka berarti mereka termasuk golongan mereka”. (Tahrîmus Samâ’, hlm. 269-270, Tafsîr Qurtubi,10/366, 11/238).
.
Perilaku kaum Yahudi yang menggoyang-goyangkan kepala sa’at ibadah juga diikuti oleh kaum Sufi. Kebanyakan kaum Sufi ketika berzikir kepalanya digoyang kekanan dan kekiri. Bahkan ada yang benar-benar bergoyang sambil berdiri seperti dalam acara-acara sepesial mereka. Perbuatan tersebut mereka anggap sebagai ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allâh Ta’âla.
.
Itulah perilaku sebagian dari umat Islam yang mengikuti jejak langkah kaum Yahudi.
.
Selain mengikuti jejak langkah kaum Yahudi, orang-orang Sufi juga mengikuti jejak langkah kaum Nasrani.
.
Berikut ini diantarannya,
.
๏ Tarbiyah Ruhiyah
.
Diantara ajaran kaum Nasrani yang di adopsi oleh orang-orang Sufi diantaranya adalah Tarbiyah Ruhiyah.
.
Dalam agama Nasrani tarbiyah ruhiyah dilakukan dengan beberapa bentuk. Mulai dari menghindari segala kenikmatan dunia, seperti tidak mengkosumsi sesuatu yang enak dan lezat, tidak memakai pakaian bagus, menjauhi pernikahan sampai pada tinggkat bersemedi di gua-gua. Sa’at mereka menganggap telah mencapai puncak kesucian jiwa, mereka meyakini bahwa Zat Allâh Ta’âla menyatu dengan diri mereka. Yang mereka sebut dengan istilah : Menyatunya Lahût dengan Nasût. Hal serupa juga ditiru oleh orang-orang sufi dalam mentarbiyah dirinya untuk mencapai tingkat hakikat.
.
Tokoh Sufi Abu Tolib al-Makki menyatakan, terdapat empat perkara yang dapat membantu murid melaksanakan pembersihan hati iaitu: Berlapar, berjaga malam, berdiam diri (tidak bercakap), dan bersunyian diri (Khalwat/Uzlah). [Qutul Qulub, 1/132].
.
๏ Tidak menikah
.
Ajaran kaum Nasrani lainnya yang di adopsi oleh sebagian kaum Sufi adalah tidak menikah dengan alasan agar lebih fokus beribadah demi mendapatkan surga.
.
Ajaran kaum Nasrani ini terdapat dalam Injil Matius fasal 19 ayat 12, yang berbunyi : “Ada orang yang tidak kawin,… ia membuat dirinya demikian karena keraja’an surga. Barangsiapa yang dapat melakukan maka hendaklah ia melakukannya”. Dalam surat Paulus kepada penduduk Karnitus fasal 7 ayat 1, berbunyi : “Sangat baik bagi seorang lelaki untuk tidak menyentuh wanita”.
.
Berkata salah seorang tokoh sufi, Abu Sulaiman al-Darani : “Tiga perkara yang jika seseorang lakukan maka dia telah cenderung kepada dunia ; Mencari rezeki, menikah dan menulis hadits”. (Ihya’ Uludmuddin, 1/379).
.
Jika dibandingkan apa yang diajarkan oleh tokoh-tokoh Sufi di atas dengan apa yang terdapat dalam ajaran Nasrani ternyata tidak jauh berbeda. Dan sebetulnya memang kaum Sufi mengikuti ajaran mereka.
.
Perilaku lainnya dari kaum Nasrani yang diikuti oleh sebagian umat Islam diantaranya, peringatan bid’ah Maulid Nabi, yaitu memperingati kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal ini sama dengan peraya’an Natal, yaitu peraya’an kelahiran Yesus Kristus.
.
Perilaku lainnya dari kaum Nasrani yang diikuti sebagian umat Islam adalah peringatan Kenaikan Isa Al Masih, Naiknya Tuhan Yesus Kristus ke langit. Sebagian umat Islam pun ada yang ikut-ikutan membuat peringatan seperti itu, yaitu peringatan Isra’ Mi’raj, naiknya Nabi Muhammad ke langit.
.
Perilaku lainnya dari kaum Nasrani yang di ikuti sebagian umat Islam adalah peraya’an Tahun Baru Masehi, sebagian dari umat Islam pun ada yang membuat peraya’an bid’ah Tahun Baru Hijriyah.
.
Itulah beberapa perilaku sesat kaum Yahudi dan Nasrani yang di ikuti oleh sebagian umat Islam. Dan masih banyak lagi perilaku mereka yang diikuti.
.
Benarlah apa yang di sabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ
.
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya”. Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani ?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi ?”. (HR. Muslim no. 2669).
.
Ibnu Taimiyah menjelaskan, tidak diragukan lagi bahwa umat Islam ada yang kelak akan mengikuti jejak Yahudi dan Nashrani dalam sebagian perkara. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 27: 286.
.
Syaikhul Islam menerangkan pula bahwa dalam shalat ketika membaca Al Fatihah kita selalu meminta pada Allah agar diselamatkan dari jalan orang yang dimurkai dan sesat yaitu jalannya Yahudi dan Nashrani. Dan sebagian umat Islam ada yang sudah terjerumus mengikuti jejak kedua golongan tersebut. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 1: 65.
.
Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziroo’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal-hal kekafiran mereka yang diikuti. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini”. (Syarh Muslim, 16: 219).
.
با رك الله فيكم
.
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί (pecinta meong dan dan pengamat aliran menyimpang dan sesat).
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam–sudah-sempurna/
.
.
________

KELOMPOK BID’AH YANG PERTAMA KALI MUNCUL DI TENGAH-TENGAH UMAT ISLAM

KELOMPOK BID’AH YANG PERTAMA KALI MUNCUL DI TENGAH-TENGAH UMAT ISLAM
.
Sebagaimana umat-umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap kali mereka di tinggal wafat oleh Rasul yang di utus kepada mereka, maka kemudian mereka mengada-adakan perkara-perkara baru dalam urusan ibadah.
.
Umat Nabi Nuh ‘alaihis salam berbuat bid’ah dengan membuat patung wadd, suwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr yang tujuan awalnya menurut anggapan mereka baik, untuk mengenang orang-orang saleh supaya tidak melupakan kesalehan mereka yang kemudian oleh generasi selanjutnya patung-patung tersebut di sembah.
.
Umat Nabi Musa ‘alaihis salam berbuat bid’ah dengan membuat patung anak lembu yang menjadikan mereka sesat, sebagaimana di sebutkan dalam Al-Qur’an,
.
وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَى مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلا يَهْدِيهِمْ سَبِيلا اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ
.
“Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke Gunung Tur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka ?. Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-A’raf, 148).
.
Umat Nabi Isa ‘alaihis salam membuat rahbaniyah (kerahiban) yang mana Nabi Isa ‘alaihis salam tidak mengajarkannya. Perbuatan bid’ah yang di lakukan umat Nabi Isa tersebut di sebutkan dalam Al-Qur’an yang artinya, “Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah (kerahiban) padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhoan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemelihara’an yang semestinya”. (QS. Al-Hadid: 27).
.
Kaum Qurais, kaumnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada mulanya adalah pengikut ajaran Tauhid yang di bawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Namun akhirnya mereka pun menjadi umat yang sesat, karena segala macam bid’ah yang mereka lakukan. Lalu Allah Ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengembalikan mereka kepada ajaran yang benar.
.
Itulah bid’ah-bid’ah yang di lakukan umat-umat terdahulu sebelum di utusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kebid’ahan mereka itulah yang menjadikan agama terdahulu pada akhirnya mengalami penyimpangan (distorsi). Yang semula sebagai agama Tauhid akhirnya berubah menjadi agama penyembah berhala (pagan).
.
Membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah), tidak saja di lakukan oleh umat-umat terdahulu, tapi ternyata juga di lakukan oleh umat Islam. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
.
“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).
.
Walaupun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan umatnya untuk tidak melakukan kebid’ahan, tapi faktanya dapat kita saksikan, aneka macam bid’ah merebak di tengah-tengah umat.
.
Dan bid’ah yang pertama kali di lakukan umat Islam, ternyata muncul ketika para Sahabat masih hidup, yang di lakukan oleh sekolompok orang yang mengadakan dzikir berjama’ah yang di pimpin oleh seorang syaikh yang mendapatkan teguran dari Abullah bin Mas’ud.
.
Imaam Ad-Daarimi dalam sunannya, jilid 1 halaman 68, dengan sanad dari al-Hakam bin al-Mubarak dari ‘Amr bin Yahya dari ayahnya dari datuknya (Amr bin Salamah) meriwayatkan, Abu Musa Al As’ari radhiyallahu ‘anhu, di riwayatkan memasuki masjid Kufah, lalu di dapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling). Pada setiap halaqah terdapat seorang syaikh, dan di depan mereka ada tumpukan kerikil, lalu syaikh tersebut menyuruh mereka,
.
كَبِّرُوا مِئَةً، فَيُكَبِّرُوْنَ مِئَةً، فَيَقُوْلُ: هَلِّلُوا مِئَةً، فَيُهَلِّلُونَ مِئَةً، فَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِئَةً، فَيُسَبِّحُونَ مِئَةً
.
“Bertakbirlah seratus kali !” Lalu mereka pun bertakbir seratus kali (menghitung dengan kerikil). Lalu syaikh itu berkata lagi, “Bertahlil” seratus kali” Dan mereka pun bertahlil seratus kali, kemudian syaikh itu berkata lagi, “bertasbih seratus kali”, lalu mereka pun bertasbih seratus kali.
.
Ibnu Mas’ud bertanya :
.
فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ ؟َ
.
Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka ?
.
Abu Musa menjawab :
.
مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتِظَارَ أَمْرِكَ
.
Aku tidak berkata apa-apa hingga aku menunggu apa yang akan engkau katakan atau perintahkan.
.
Ibnu Mas’ud berkata :
.
أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ، وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِهِم
.
Tidakkah engkau katakan kepada mereka agar mereka menghitung kesalahan mereka dan kamu jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan disia-siakan.
.
ثَمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلَقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ
.
Lalu Ibnu Mas’ud berlalu menuju masjid tersebut dan kami pun mengikuti di belakangnya hingga sampai di tempat itu.
.
Ibnu Mas’ud bertanya kepada mereka :
.
فَقَالَ : مَا هَذا الَّذِيْ أَرَاكُمْ تَصْنَعُوْنَ ؟
.
Benda apa yang kalian gunakan ini ?
.
Mereka menjawab :
.
قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًا نَعُدَّ بِهِ التَّكْبِيْرَ والتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيْحَ
.
Kerikil wahai Abu ‘Abdirrahman. Kami bertakbir, bertahlil, dan bertasbih dengan mempergunakannya
.
Ibnu Mas’ud berkata :
.
فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ
.
Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sedikitpun.
.
وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتكُمْ !
.
Celaka kalian wahai umat Muhammad !, betapa cepat kebinasaan/penyimpangan yang kalian lakukan.
.
هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُوْنَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَر
.
Para shahabat Nabi kalian masih banyak yang hidup. Sementara baju beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga belum lagi usang, bejana beliau belum juga retak.
.
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ
.
Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya ! Apakah kalian merasa berada di atas agama yang lebih benar daripada agama Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ataukah kalian akan menjadi pembuka pintu kesesatan ?”
.
Mereka menjawab :
.
. قَالُوا : وَاللهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ.
.
Wahai Abu ‘Abdirrahman, kami tidaklah menghendaki kecuali kebaikan.
.
Ibnu Mas’ud menjawab :
.
وَكَمْ مِنْ مُرِيْدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ تُصِيْبَهُ
.
“BETAPA BANYAK ORANG YANG MENGHENDAKI KEBAIKAN NAMUN TIDAK MENDAPATKANNYA”.
.
إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، وَايْمُ اللهِ مَا أَدْرِيْ لَعَلَّ أَكْتَرَهُمْ مِنْكُمْ،
.
Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada kami : “Akan ada segolongan orang yang membaca Al-Qur’an, namun apa yang dibacanya itu tidak melewati kerongkongannya”. Demi Allah, aku tidak tahu, boleh jadi kebanyakan dari mereka adalah sebagian diantara kalian.
.
Itulah kelompok dari umat Islam yang pertama kali mengada-adakan perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah). Dan sampai sa’at ini kebid’ahan semakin merajalela sulit dibendung seiring dengan bermunculannya firqoh-firqoh menyimpang dan sesat yang bermunculan di tengah-tengah umat.
.
Ahli ‘bid’ah tentu saja, seribu argumen akan mereka bawa untuk membela kebid’ahannya. Mereka akan membawa banyak dalil yang di cari-cari.
.
Dzikir itu baik, di perintahkan dalam Islam, lebih baik berdzikir dari pada membuang-buang waktu dan banyak lagi alasan yang biasa mereka katakan.
.
Lalu mengapa Ibnu Mas’ud menegur mereka yang sedang mengadakan dzikir berjama’ah, bukankah apa yang mereka lakukan itu baik ?
.
Apakah Ibnu Mas’ud tidak faham jika berdzikir itu adalah perkara yang baik ?
.
Ibnu Mas’ud menegur mereka yang mengadakan dzikir berjama’ah, adalah karena dzikir dengan cara seperti itu tidak pernah di lakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Bagaimana pula sikap Ibnu Mas’ud apabila menyaksikan umat Islam sa’at ini (kaum sufi) yang mengadakan dzikir bukan saja berjama’ah tapi juga dengan loncat-loncat, berjingkrak, menari, berputar dan lainnya ?
.
Silakan di liat bagaimana kaum sufi berdzikir,
.
● Dzikir breakdance ala sufi, https://youtu.be/1RJyZGDZC9A
.
● Dzikir loncat katak ala sufi, https://youtu.be/5h6Cby1w5zE
.
Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari amalan-amalan bid’ah yang akan menjadikan pelakunya sulit untuk bertaubat.
.
.
با رك الله فيكم
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏Mąŋţяί (Pecinta meong dan pengamat prilaku orang-orang menyimpang).
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
_________

TIGA MACAM IKHTILAF

TIGA MACAM IKHTILAF

Oleh : Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu

Di antara manusia ada yang mengatakan bahwa perbedaan adalah rahmat ?

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu menjawab : Perbedaan (ikhtilaf) ada tiga macam :

1. Ikhtilaf Al-Afham (perbedaan pemahaman).

Para shababat pernah mengalami perbedaan yang seperti ini. Bahkan ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu tetap makan (sahur) hingga jelas baginya perbedaan antara benang yang putih dengan benang yang hitam. Dia menaruh di bawah bantalnya, benang putih dan benang hitam, dan tetap makan (sahur), berdasarkan apa yang dia pahami dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

ﻭﻛﻠﻮﺍ ﻭﺍﺷﺮﺑﻮﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﺘﺒﻴﻦ ﻟﻜﻢ ﺍﻟﺨﻴﻂﺍﻷﺑﻴﺾ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﻂ ﺍﻷﺳﻮﺩ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam”. (QS. Al-Baqarah: 187).

Sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan ayat :

ﻣﻦ ﺍﻟﻔﺠﺮ

“Yaitu fajar”. (QS. Al-Baqarah: 187).

Ikhtilaful afham insya Allah tidak mengapa.

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu :

ﺇﻥ ﻭﺳﺎﺩﻙ ﻟﻌﺮﻳﺾ

“Sesungguhnya bantalmu lebar.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengatakan kepadanya : “Ulangilah (puasamu) pada hari-hari yang engkau makan (sahur setelah lewatnya fajar)”.

2. Ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan/keaneka ragaman tata cara).

Yakni, diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihiwa sallam ada beberapa macam cara/ bacaan tasyahud dalam shalat, juga ada beberapa macam bacaan shalawat atas Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam.

Ikhtilaf jenis ini, kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang jahil (bodoh). Dan keadaannya memang seperti yang beliau rahimahullahu katakan, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang jahil.

3. Ikhtilaf tadhad (perbedaan kontradiktif).

Apa itu ikhtilaf tadhad ?

Yaitu seseorang menyelisihi suatu dalil yang jelas, tanpa alasan. Inilah yang di ingkari oleh para salaf, yaitu menyelisihi dalil yang shahih dan jelas tanpa alasan.

Adapun hadits yang menjadi sandaran merekaya itu :

ﺍﺧﺘﻠﺎﻑ ﺃﻣﺘﻲ ﺭﺣﻤﺔ

“Perbedaan umatku adalah rahmat”.

Ini adalah hadits yang tidak ada sanad dan matannya. Munqathi’ (terputus sanadnya). Kata As-Suyuthi rahimahullahu dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shaghir. Beliau rahimahullahu juga berkata : “Mungkin saja ada sanadnya, yang tidak kita ketahui”. Namun hal ini akan berakibat tersia-siakannya sebagian syariat, sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu. Adapun tentang matan hadits ini, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :

ﻭﻻ ﻳﺰﺍﻟﻮﻥ ﻣﺨﺘﻠﻔﻴﻦ. ﺇﻻ ﻣﻦ ﺭﺣﻢ ﺭﺑﻚ

“Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang yang dirahmati Rabbmu”. (QS.Hud: 118-119).

Mafhum dari ayat yang mulia ini, bahwa orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu waTa’ala tidaklah berselisih. Sedangkan orang-orang yang tidak dirahmati Allah Subhanahu waTa’ala akan berselisih.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Ash-Shahihain dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :

ﺫﺭﻭﻧﻲ ﻣﺎ ﺗﺮﻛﺘﻜﻢ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﺃﻫﻠﻚ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻠﻜﻢﻛﺜﺮﺓ ﻣﺴﺎﺋﻠﻬﻢ ﻭﺍﺧﺘﻠﺎﻓﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﺒﻴﺎﺋﻬﻢ

“Biarkanlah aku dan apa yang aku tinggalkan untuk kalian. Hanyalah yang membinasakan orang-orang yang sebelum kalian adalah banyaknya mereka bertanya, dan banyaknya penyelisihan terhadap nabi-nabi mereka.”

Ini merupakan dalil bahwa ikhtilaf (perselisihan/perbedaan) adalah kebinasaan, bukan rahmat.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, di mana Ibnu Mas’ud dan salah seorang temannya berselisih tentang qira`ah (bacaan Al-Qur`an) :

ﻟﺎ ﺗﺨﺘﻠﻔﻮﺍ ﻛﻤﺎ ﺍﺧﺘﻠﻒ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻠﻜﻢ ﻓﺘﻬﻠﻜﻮﺍﻛﻤﺎ ﻫﻠﻜﻮﺍ

“Janganlah kalian berselisih sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah berselisih, sehingga kalian binasa sebagaimana mereka telah binasa.

”Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Shahih Muslim dari hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu :

ﺍﺳﺘﻮﻭﺍ ﻭﻟﺎ ﺗﺨﺘﻠﻔﻮﺍ ﻓﺘﺨﺘﻠﻒ ﻗﻠﻮﺑﻜﻢ

“Luruskan (shaf kalian), dan janganlah berselisih, sehingga hati-hati kalian akan berselisih”.

Dalam sebuah riwayat :

ﻟﺎ ﺗﺨﺘﻠﻔﻮﺍ ﻓﺘﺨﺘﻠﻒ ﻭﺟﻮﻫﻜﻢ

“Janganlah kalian berselisih, sehingga akan berselisihlah wajah-wajah kalian”.

Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Sunan Abu Dawud, dari hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu, disebutkan ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat para shahabatnya berpencar. Mereka singgah disebuah lembah, lalu setiap kelompok pergi ketempat masing-masing. Maka Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda :

ﺇﻥ ﺗﻔﺮﻗﻜﻢ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ

“Sesungguhnya bercerai-berainya kalian ini adalah dari setan”.

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berkumpul. Bila hal ini (terjadi) dalam tercerai-berainya fisik, maka apa sangkaanmu terhadap tercerai-berainya hati ?

Hadits-hadits tentang hal ini banyak sekali. Saya telah mengumpulkan sebagiannya dalam tulisan pendek yang berjudul Nashihati li Ahlus Sunnah dan telah tercantum dalam Hadzihi Da’watuna wa ‘Aqidatuna. Yang saya inginkan dari penjelasan ini, bahwa ikhtilaf termasuk kebinasaan.

Hanya saja ikhtilaf yang mana ?

Yaitu ikhtilaf tadhad yang dahulu diingkari oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat. Ikhtilaf tadhad (misalnya) :

– Disebutkan dalam Shahih Muslim dari hadits Salamah ibnul Akwa’, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang makan dengan tangan kirinya. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya : “Makanlah dengan tangan kanan”. Orang itu menjawab : “Aku tidak bisa”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi : “Engkau tidak akan bisa”. Maka orang itu tidak bisa mengangkat tangannya ke mulutnya. Tidak ada yang menghalanginya kecuali kesombongan.

– Dalam Ash-Shahih dari hadits Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menjenguk seorang lelaki tua yang sedang sakit. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya : “Thahur (Sakit ini sebagai penyuci)”. Namun lelaki tua itu justru berkata : “Demam yang hebat, menimpa seorang lelaki tua, yang akan mengantarnya ke kubur”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab : “Kalau begitu, benar”. Akhirnya dia terhalangi dari barakah doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

– Juga kisah seorang laki-laki yang telah kita sebutkan. Yaitu ketika ada dua orang wanita berkelahi, lalu salah seorang memukul perut yang lain, sehingga gugurlah janinnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan agar wanita yang memukul membayar diyat berupa seorang budak. Maka datanglah Haml bin Malik An-Nabighah dan berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimana kami membayar diyat (atas kematian seseorang) yang tidak makan dan tidak minum, tidak bicara tidak pula menangis – atau kalimat yang semakna dengan ini –, yang seperti ini tidak di tuntut diyatnya”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam marah, karena lelaki itu hendak membatalkan hukum Allah dengan sajaknya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

ﺇﻧﻤﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺇﺧﻮﺍﻥ ﺍﻟﻜﻬﺎﻥ

“Orang ini termasuk teman-teman para dukun. ”Yaitu karena sajaknya. Adapun pengingkaran para ulama terhadap orang yang menolak Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan akalnya, merupakan perkara yang kesempatan ini tidaklah cukup untuk menyebutkannya.

Saya telah menyebutkan sebagiannya dalam akhir risalah Syar’iyyatu Ash-Shalati bin Ni’al, juga dalam Rudud Ahlil ‘Ilmi ‘ala Ath-Tha’inin fi HaditsAs-Sihr.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

[Diambil dari Ijabatus Sa`il, hal. 518-521].

_____________

6 PENYEBAB PERBEDA’AN PENDAPAT ULAMA

6 PENYEBAB PERBEDA’AN PENDAPAT ULAMA

Perbedaan pendapat ulama dalam menetapkan hukum syar’iyah tidak hanya terjadi antar madzhab, perbedaan pendapat ulama ini juga terjadi dalam lingkungan madzhab mereka. Banyak orang mengingkari perbedaan pendapat ulama ini, disebabkan keyakinannya yang menyatakan bahwa agama ini satu, syariat juga satu, kebenaran itu satu tidak bermacam-macam dan sumber hukum hanya satu yaitu wahyu ilahi. Selanjutnya mereka mengatakan, mengapa harus ada perbedaan pendapat, dan mengapa madzhab-madzhab fiqh tidak menyatu ?.

Mereka menyangka bahwa perbedaan pendapat ulama akan berakibat terjadinya benturan-benturan dalam syariah dan perpecahan, dan menyamakan perbedaan pendapat ini sama seperti perpecahan yang terjadi dalam tubuh agama Kristen yang terpecah menjadi Ortodoks, Katolik dan Protestan. Semuannya ini adalah kesalah pahaman yang batil.

Perlu diketahui bahwa perbedaan pendapat ulama merupakan rahmat yang memberikan kemudahan bagi umat Islam, menjadi kekayaan intelektual yang besar yang dapat dibanggakan. Perbedaan pendapat ini hanya sebatas perbedaan far’iyah (cabang) dan metode ilmiah, bukan dalam ushul, pondasi agama dan i’tikad. Dalam sejarah Islam, tidak ditemukan bahwa perbedaan pendapat ini menjadi biang perpecahan, permusuhan dan pengoyak kesatuan muslimin.

Perlu dijelaskan bahwa perbedaan ulama hanya sebatas akibat dari perbedaan metode pengambilan hukum yang menjadi kebutuhan pasti dalam dalam memahami hukum dari dalil-dalil syariah, seperti perbedaan dalam masalah penafsiran nash-nash hukum berikut penjelasan-penjelasan yang dilakukan. Hal ini disebabkan karakter bahasa Arab yang terkadang mempunyai makna lebih dari satu, juga disebabkan riwayat hadits, kwalitas keilmuan ulama, atau disebabkan adanya upaya ulama tertentu dalam menjaga kemaslahatan dan kebutuhan secara umum.

Semua penyebab perbedaan tidak menafikan sumber hukum syariah yang satu dan kesatuan syariah itu sendiri, karena pada dasarnya perbedaan dalam syariah itu tidak ada. Perbedaan pendapat hanya disebabkan oleh kelemahan manusia. Akan tetapi kita boleh mengamalkan satu hukum dari pendapat-pendapat yang bebeda, untuk menghilangkan kesulitan dalam umat dimana tidak ada jalan lain setelah terputusnya wahyu, kecuali mengambil apa yang terkuat dari sebuah dugaan para ulama terhadap apa yang mereka pahami dari dalil-dalil syara’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إذا اجتهد الحاكم فأصاب فله أجران، وإن أخطأ فله أجر واحد

“JIka seorang hakim berijtihad lalu benar, maka baginya dua pahala. Dan jika salah maka baginya satu pahala”. (Hadits Muttafaq Alaih).

Berikut adalah enam penyebab penting perbedaan pendapat ulama dalam mengambil hukum syariah :

1. Perbedaan Dalam Memaknai lafadz-lafadz Arabiah.

Perbedaan dalam memberikan makna ini disebabkan oleh bentuk lafadz yang global (mujmal), mempunyai banyak makna (musytarak), mempunyai makna yang tidak bisa dipastikan khusus atau umumnya, haqiqah dan majaznya, haqiqah dan ‘urufnya, atau disebabkan mutlaq atau muqayyadnya, atau perbedaan I’rab. Contoh simpel dari penyebab ini adalah pemaknaan lafadz “al-Qur’u”, apakah dimaknai suci atau haid. Juga seperti lafaz amr (perintah), apakah menunjukkan wajib atau sunat. Dan masih banyak contoh yang lain.

2. Perbedaan Riwayat

Perbedaan riwayat hadits yang menjadi rujukan hukum diakibatkan oleh beberapa hal.

Pertama : Adalah adanya hadits yang hanya sampai kepada satu mujtahid dan tidak sampai pada mujtahid yang lain.

Kedua : Adalah sampainya satu hadits kepada seorang mujtahid dengan sanad yang dla’if, sementara hadits tersebut sampai kepada mujtahid yang lain dengan sanad yang shahih.

Ketiga : Seorang mujtahid berpendapat bahwa terdapatnya perawi dhaif dalam riwayat sabuah hadits membuat hadits tidak dapat diterima, sedangkan mujtahid yang lain tidak demikian.

3. Adanya Perbedaan Dasar hukum

Perbedaan dasar hukum yang dimaksud ialah dasar hukum selain al-Quran, hadits dan ijma’, seperti Istihsan, mashalih mursalah, qaul shahabi, istishab dan sadd al-dzariah

4. Perbedaan dalam Kaidah-kaidah usul

Perbedaan ini seperti perbedaan pendapat tentang digunakannya kaidah “al-‘am al-makhsush laisa bihujjah/lafadz yang bermakna khusus yang dikhususkan tidak dapat dijadikan hujjah”, “Al-mafmun laisa bi hujjah/kepahaman konteks tidak bisa dijadikan hujjah” dan lain-lain.

5. Ijtihad Menggunakan Qiyas.

Ini adalah penyebab yang paling luas, dimana ia mempuyai dasar, syarat dan illat. Illat pun juga mempunyai syarat dan tata cara dalam mengaplikasikannya. Semua ini menjadi potensi bagi timbulnya perbedaan.

6. Pertentangan Dasar Hukum berikut Tarjihnya

Masalah ini sangat luas yang menjadi perbedaan pandangan dan menimbulkann banyak perdebatan. Masalah ini membutuhkan ta’wil, ta’lil, kompromi (jam’u), taufiq, naskh dan lain-lain.

Dengan penjelasan ini dapat diketahui bahwa hasil ijtihad para imam madzhab tidak mungkin untuk diikuti semua, meskipun boleh dan wajib mengamalkan salah satunya. Semua perbedaan adalah masalah ijthadiyah, dan pendapat-pendapat yang bersifat dzanni (dugaan), yang harus dihormati dan dianggap sama. Amatlah salah jika perbedaan tersebut menjadi pintu timbulnya fanatisme, permusuhan dan perpecahan diantara kaum muslimin yang telah disifati dalam al-Qur’an sebagai umat yang bersaudara dan diperintah untuk berpegang teguh kepada tali Allah.

Wallahul Musta’an

Sumber : Al-Fiqh Al-Islamy Wa Adillatuh, Wahbah Zuhaili, Juz. 1 hlm: 83-88

_____________

SETAN MENANAMKAN PERASA’AN KHUSYU’ KEPADA AHLI BID’AH

SETAN MENANAMKAN PERASA’AN KHUSYU’ KEPADA AHLI BID’AH
.
Tidak perlu heran apabila kita melihat para pelaku bid’ah, mereka begitu khusyu’ dalam mengerjakan amalan-amalan bid’ahnya. Menangis dalam dzikir-dzikir bid’ahnya dan suka cita dalam nyanyian dan tarian-tarian bid’ahnya. Mereka juga begitu bersemangat dalam acara-acara dan peraya’an-peraya’an bid’ahnya. Sehingga segala rupa amalan dan peraya’an bid’ah yang merebak di tengah-tengah umat sulit di bendung. Bahkan mereka melakukan perlawanan dan menunjukkan permusuhannya dengan caci-maki ketika di nasehati dan di peringatkan.
.
Nabila Dzaki Al-Imam Al Auzaa’iy rahimahullah berkata : “Telah sampai kepadaku bahwa, siapa yang membuat buat bid’ah sesat, maka syaithan akan membuat dirinya senang beribadah, dan menanamkan didalam hatinya kekhusyuan dan tangisan agar syaithan bisa lebih menanamkan bid’ah pada dirinya”. (Al’-Itishaam 1/125 ).
.
Silahkan di lihat bagaimana para pelaku bid’ah begitu khusyu dalam kebid’ahannya.
.
https://youtu.be/BkW1dQyzyl0
.
.
____________________

MANTAN WAKIL KETUA PG NU BERPALING KEPADA MANHAJ SALAF

MANTAN WAKIL KETUA PG NU BERPALING KEPADA MANHAJ SALAF

Sangat terlalu banyak apabila disebutkan satu persatu orang-orang yang tadinya gemar dengan beragam aneka ritual dan amalan-amalan bid’ah kemudian berpaling kepada manhaj Salaf.

Dan sosok yang satu ini salah satunya. Beliau adalah bernama Buchari seorang mantan anggota Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tahun 1965.

Sa’at kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah cabang Serang, dan Wakil Ketua Persatuan Guru NU Kabupaten Lebak 1969-1974.

Jabatan terakhirnya Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama, Serang, Banten (2008-2009).

Perubahan keyakinan Buchari berubah sejak ia dan istrinya berangkat haji pada 2007.

Selama di sana, ia membaca buku-buku karya ulama berpaham Wahabi, antara lain, Kasyfusy Syubuhat fit Tauhid (Menyingkap Kesalah pahaman dalam Tauhid) karya Muhammad bin Abdul Wahhab, Al-Aqidah ash-Shahihah wa Ma Yudladhuha (Aqidah Yang Benar dan Hal-Hal yang Membatalkannya) karya Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, dan Haji, Umrah, dan Ziarah Menurut Kitab dan Sunnah, juga karya Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.

Berdasarkan baca’annya dari buku-buku karya ulama Wahabi ini, Buchari menyatakan, seorang Muslim yang konsisten mengikuti Alquran dan as-Sunnah tidak akan mengikuti upacara peringatan ‘Maulid Nabi, Isra Miraj, dan Nuzulul Quran. Sebab, tradisi ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Ia juga menegaskan peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada 12 Rabiul Awal adalah meniru penganut agama Nasrani dalam merayakan Hari Natal (Hari Lahirnya Yesus Kristus) setiap 25 Desember

(Buku Mustasyar MWC NU Menggugat Maulid Nabi karya Buchari, hal 117 dan 211).

http://m.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/15/01/28/nivmw6-raja-abdullah-dan-wahabi

_________________