AMAL IBADAH YANG TIDAK ADA PERINTAHNYA MAKA DI TOLAK

AMAL IBADAH YANG TIDAK ADA PERINTAHNYA MAKA DI TOLAK
.
Setiap muslim ketika beribadah tentu berharap mendapatkan rahmat, magfiroh dan limpahan pahala dari Allah Ta’ala. Seorang muslim yang berakal pasti tidak menghendaki amal ibadahnya sia-sia bahkan di tolak.
.
Ibadah yang kita lakukan tentu saja akan mendapatkan balasan pahala apabila dilakukan sesuai dengan tuntunan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Dan sebaliknya ibadah tanpa perintah dan tuntunannya dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, maka ibadah yang dilakukan tersebut akan ditolak. Walau sebanyak dan sebesar apapun ibadah yang di lakukan.
.
Akan di tolaknya amal ibadah apabila tidak ada perintahnya dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, di sabadakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
.
“Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perkara baru dalam urusan kami ini (agama) yang tidak ada padanya (perintahnya dari kami) maka tertolak“. (H.R Bukhari dan Muslim).
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
.
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
.
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka tertolak”. (H.R Muslim).
.
Dua hadits Nabi di atas menerangkan bahwa, segala rupa amal ibadah yang tidak ada perintahnya dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya maka amal ibadah tersebut tertolak atau tidak di terima. Walaupun pelakunya ikhlas dan berniat untuk mendekatkan diri (taqorrub) kepada Allah Ta’ala.
.
Perhatikan sebuah hadits berikut ini, teguran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para Sahabatnya yang hendak memperbanyak ibadah namun ternyata tidak di benarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Dalam sebuah hadits di sebutkan, ada tiga orang Sahabat Nabi yang mendatangi istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya tentang ibadah Nabi. Setelah diberitahukan kepada mereka bagaimana ibadahnya Nabi, maka mereka merasa ibadah yang sudah mereka lakukan dirasakan sangat kurang. Dan mereka pun berkata,
.
وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ ؟
.
“Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang ?”
.
Salah seorang dari mereka berkata,
.
أَمَّا أَنَا، فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا،
.
“Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya (tidak tidur malam)”. Kemudian yang lain berkata, “Sungguh aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan tidak akan berbuka”. Dan yang lainnya berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya”.
.
Perhatikan besarnya semangat para Sahabat Nabi dalam hadits di atas yang akan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan memperbanyak amal ibadah. Lalu apakah Rasulullah senang dengan niat baik para Sahabat tersebut ?
.
Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam malah menegur mereka. Perhatikan kelanjutan dari hadits di atas.
.
فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ، فَقَالَ : ”أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ
.
Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mendatangi mereka dan berkata, “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa.
.
َلَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
.
“Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku”. (HR. Bukhari no. 5063).
.
Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyetujui niat baik para Sahabatnya yang akan memperbanyak ibadah.
.
Bukankah memperbanyak amal ibadah itu baik ?
.
Lalu mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyetujui, niat baik para Sahabatnya tersebut ?
.
Permasalahannya, niat baik para Sahabat Nabi tersebut tidak di perintahkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, bahkan ibadah yang akan mereka lakukan menyelisihi sunnah Nabi.
.
Hadits di atas juga menjadi pelajaran bagi kita, niat baik untuk memperbanyak amal ibadah, namun tidak ada perintahnya dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, belum tentu di sukai oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Yang jelas, amal ibadah yang di lakukan tanpa ada perintahnya adalah di tolak, sebagaimana yang di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas.
.
Lalu bagaimana mereka yang suka membuat-buat ajaran baru dalam Islam (kebid’ahan) bisa mengetahui kalau bid’ah yang mereka lakukan akan di sukai dan benarkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya ?
.
Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
.
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka tertolak”. (H.R Muslim).
.
Semoga bisa di fahami.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
________________

Iklan