PERPECAHAN TIMBUL AKIBAT MENAFSIRKAN AL-QUR’AN DENGAN HAWA NAFSU

PERPECAHAN TIMBUL AKIBAT MENAFSIRKAN AL-QUR’AN DENGAN HAWA NAFSU
.
Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi umat Islam, oleh karena itu tidak seharusnya umat Islam terpecah belah karena memiliki pedoman yang akan menyatukan mereka. Namun sangat disayangkan banyak kelompok dari umat Islam yang membuat penafsiran sendiri-sendiri terhadap ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan pendapat mereka masing-masing.
.
Menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan pendapat sendiri (hawa nafsu) adalah tindakan yang berbahaya.
.
Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
مَنْ فَسَّرَ اْلقُرْآنَ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
.
“Siapa saja yang menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan pendapatnya sendiri maka hendaknya dia menempati tempat duduknya yang terbuat dari api neraka”. (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan Ibnu Abi Syaibah).
.
Konon, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika mengutus Ibnu Abbas untuk melakukan dialogh dengan kelompok sesat Khawarij, berpesan agar Ibnu Abbas tidak mendebat mereka dengan ayat-ayat Al-Qur`an, sebab Al-Qur`an itu hammâlun dzû wujûh, mengandung berbagai kemungkinan penafsiran, yang boleh jadi dimanfa’atkan oleh mereka untuk mencari pembenaran terhadap kesesatannya. Dan memang bisa dikatakan seluruh kelompok Islam termasuk yang sesat bersandar pada Al-Qur`an.
.
Banyak kalangan awam tertipu oleh kelompok menyimpang dan sesat. Mereka mengaku, faham atau ajarannya berdasarkan Al-Qur’an. Padahal walaupun mereka mengklaim ajaran mereka berdasarkan al-Qur’an, namun mereka memiliki penafsiran-penafsiran sendiri terhadap ayat-ayat al-Qur’an berdasarkan logika-logika (hawa nafsu) mereka. Sehingga kemudian muncul berbagai penafsiran dari ayat-ayat Al-Qur’an yang berbeda-beda. Lalu timbul perselisihan diantara umat Islam yang berujung perpecahan dan permusuhan.
.
Dalam sebuah kisah disebutkan. Pada satu hari, Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu menyendiri. Dia berkata dalam hatinya, mengapakah umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu ?. Lalu ia memanggil Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian Umar bertanya kepadanya : “Mengapa umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu. Kiblat mereka juga satu dan Kitab suci mereka juga satu ?”. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu lalu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan kepada kita. Kita membacanya dan mengetahui maksudnya. Lalu datanglah sejumlah kaum yang membaca Al-Qur’an, namun mereka tidak mengerti maksudnya. Maka setiap kaum punya pendapat masing-masing. Jika demikian realitanya, maka wajarlah mereka saling berselisih. Dan jika telah saling berselisih, mereka akan saling menumpahkan darah”. [kitab Al I’tisham, karya Asy-Syathibi, (II/691)].
.
Itulah jawaban Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu ketika di tanya oleh Umar bin Khatab, mengapa umat Islam berselisih. Penyebabnya adalah karena setiap kelompok membuat penafsiran sendiri-sendiri terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.
.
Berikut ini beberapa contoh model penafsiran Al-Qur’an menurut hawa napsu.
.
• Tafsir model syi’ah
.
1. Surat Al Lahab ayat 1
.
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
.
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa”
.
Tafsir versi Syiah : Yang dimaksud dengan “dua tangan” Abu Lahab di sini adalah dua pembantu Abu Lahab, yaitu Abu Bakr Ash Shiddiq dan Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhuma.
.
Tafsir Ahlus Sunnah : Yang dimaksud dengan “dua tangan” Abu Lahab di sini adalah tangan Abu Lahab yang sesungguhnya. Maknanya adalah Abu Lahab mendapatkan kebinasaan dan kerugian akibat permusuhannya terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.
.
2. Surat Az Zumar ayat 65
.
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
.
“Jika kamu menyekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”
.
Tafsir versi Syiah : Makna ayat ini adalah jika kamu mempersekutukan Ali bin Abi Thalib dengan Abu Bakr di dalam perkara khilafah maka seluruh amalanmu akan terhapus dan akan menjadi orang yang merugi, yaitu murtad.
.
Tafsir Ahlus Sunnah : Makna ayat ini adalah jika kamu mempersekutukan Allah dengan segala sesuatu selain-Nya di dalam masalah peribadatan maka seluruh amalanmu akan terhapus dan akan menjadi orang yang merugi, yaitu murtad.
.
3. Surat Al-Baqarah ayat 67
.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً
.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina”
.
Tafsir versi Syiah : Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menyembelih Aisyah istri Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam
.
Tafsir Ahlus Sunnah : Nabi Musa ‘alaihssalam berkata kepada kaumnya bahwasanya Allah menyuruh mereka untuk menyembelih seekor sapi betina.
.
• Tafsir model Ahmadiyah
.
Di dalam tafsir Al-Qur`an versi Ahmadiyah yaitu Al-Qur`an dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat, editor Malik Ghulam Farid, di alih bahasakan oleh Panitia Penterjemah Tafsir Al-Qur`an Jema’at Ahmadiyah Indonesia jilid III Edisi Pertama Penerbit Yayasan Wisma Damai Jakarta 1983, bahwa makna kata Ahmad di dalam surah Ash-Shaff ayat 6 yang berbunyi,
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ
.
“Dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. (QS Ash-Shaff; 06).
.
Menurut jema’at Ahmadiyah ayat itu ditujukan kepada Mirza Ghulam Ahmad.
.
Penjelasan ayat ini oleh Ahmadiyah ditafsirkan di dalam footnote 3037 sebagai berikut : “… Jadi, nubuatan yang disebut dalam ayat ini ditujukan kepada Rasulullah SAW, tetapi sebagai kesimpulan dapat pula dikenakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud AS, Pendiri Jemaat Ahmadiyah, sebab beliau telah dipanggil dengan nama Ahmad di dalam wahyu (Barahin Ahmadiyah), dan oleh karena dalam diri beliau terwujud kedatangan kedua atau diutusnya yang kedua kali Rasulullah SAW…”. (Al-Qur`an dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat, footnote no. 3037, hal. 522).
.
• Tafsir model Al-Qiyadah
.
فَأَوْحَيْنا إِلَيْهِ أَنِ اصْنَعِِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا فَإِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ فَاسْلُكْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ مِنْهُمْ وَلا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ
.
”Lalu Kami wahyukan kepadanya, Buatlah kapal di bawah pengawasan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam kapal itu sepasang-pasang dari setiap jenis, juga keluargamu, kecuali orang yang lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa siksa’an) di antara mereka. Dan janganlah engkau bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zalim, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. Al-Muminun: 27).
.
Al-Qiyadah menafsirkan ayat tersebut menurut pemahaman mereka sendiri bahwa kapal Nabi Nuh adalah permisalan dari al-Qiyadah, yaitu sarana organisasi dakwah yang dikendalikan oleh Nuh sebagai nakoda. Ahli Nuh adalah orang-orang mukmin yang beserta beliau, sedangkan binatang ternak yang dimasukkan berpasang-pasangan adalah perumpama’an dari umat yang mengikuti beliau. Lautan yang dimaksud adalah bangsa Nuh yang musyrik itu.
.
• Tafsir model NII
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
.
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu daripada al-Kitab dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari yang keji dan yang munkar.” (QS. Al-Ankabut: 45).
.
Mereka orang NII menafsirkan Al-Qur’an tidak disandarkan pada dalil-dalil melainkan menggunakan logika. Ayat diatas mereka tafsirkan dengan mempertanyakan apakah shalat yang telah kalian lakukan dapat mencegah perbuatan keji dan munkar ? Hanya perbuatan langsunglah yang dapat mencegahnya. Maka muncullah aturan shalat universal yaitu mengajak orang-orang untuk masuk NII.
.
• Tafsir model sufi
.
Sebagimana kelompok batil lainnya, orang-orang sufi pun dalam menafsirkan Al-Qur’an menggunakan ra’yunya.
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
اَذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى
.
“Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya ia melampui batas”. (Q.S. Thaha: 24).
.
Orang Sufi menafsirkan yang dimaksud dengan Fir’aun adalah hati dan apa saja yang melampui batas pada setiap manusia.
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ
.
“Dan Kami wahyukan kepada Musa : ‘Lemparkanlah tongkatmu !’. Maka tiba-tiba tongkat itu menelan, apa yang mereka sulapkan”. (Q.S Al-A’raaf: 117).
.
Menurut penafsiran orang-orang sufi yang dimaksud tongkat ialah apapun yang dijadikan sandaran atau andalan selain Allah, harus dilemparkan.
.
Itulah diantara tafsir-tafsir mereka yang sangat berbeda dengan penafsiran para Ulama ahlu sunnah.
.
• Metode Ahlus Sunnah dalam menfsirkan Al-Qur’an
.
Para Ulama Ahlu Sunnah sangat ketat dalam memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Untuk memahami kandungan dan maksud-maksud ayat al-Quran, diperlukan penafsiran oleh orang yang memenuhi kualifikasi. Meski kualifikasi itu tidak mutlak, namun para Ulama tafsir menetapkan syarat-syarat yang sangat ketat sehingga tidak semua orang dapat menafsirkan al-Quran.
.
Ibnu Katsir menyebutkan bagaimana cara terbaik dalam menafsirkan Al-Qur’an, yaitu sebagai berikut :
.
1- Menafsirkan Al Qur’an dengan Al-Qur’an.
.
Jika ada ayat yang mujmal (global), maka bisa ditemukan tafsirannya dalam ayat lainnya.
.
2- Jika tidak didapati, maka Al-Qur’an ditafsirkan dengan sunnah atau hadits.
.
3- Jika tidak didapati, maka Al-Qur’an ditafsirkan dengan perkata’an para Sahabat karena mereka lebih tahu maksud ayat, lebih-lebih ulama sahabat dan para senior dari sahabat Nabi seperti Khulafaur Rosyidin yang empat, juga termasuk Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar.
.
4- Jika tidak didapati, barulah beralih pada perkataan Tabi’in seperti Mujahid bin Jabr, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah (bekas budak Ibnu ‘Abbas), ‘Atho’ bin Abi Robbah, Al Hasan Al Bashri, Masruq bin Al Ajda’, Sa’id bin Al Musayyib, Abul ‘Aliyah, Ar Robi’ bin Anas, Qotadah, dan Adh Dhohak bin Muzahim.
.
(Lihat Tafsir Al Qur’an Al‘Azhim karya Ibnu Katsir,1: 5-16).
.
Itulah metode yang di gunakan oleh para Ulama Ahlus Sunnah dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Bukan dengan logika (hawa nafsu) sendiri secara serampangan sebagaimana yang di lakukan oleh kelompok-kelompok yang menyimpang dan sesat.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
________

Iklan