SABAR DALAM DAKWAH KETIKA MENDAPATKAN CACIAN

SABAR DALAM DAKWAH KETIKA MENDAPATKAN CACIAN
.
Oleh : Ikhwan pecinta meong
.
Mendakwahkan Al-Hak, menyeru manusia untuk kembali kepada ajaran yang datangnya dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, memperingatkan umat untuk meninggalkan segala macam tahayul, bid’ah dan kesyirikan, sudah menjadi sunnatullah apabila mendapatkan caci-maki dari orang-orang yang merasa terusik keyakinannya. Bukankah para Nabi dan Rasul berikut para Sahabatnya pada masa lalu juga mendapatkan cacian dan makian setiap harinya.
.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, pernah datang seorang laki-laki menemui Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, tiba-tiba lelaki tersebut mencaci-maki sahabat Nabi yang mulia tersebut.
.
Rasulullah salallaahu ‘alaihi wassalam yang saat itu tengah duduk di sampingnya tampak terheran-heran sambil tersenyum melihat Abu Bakar diam saja. Namun ketika kata makian semakin banyak dan Abu Bakar pun meladeninya, maka Rasulullah bangkit dengan wajah tidak suka dengan sikap Abu Bakar tersebut.
.
Beliau berdiri dan Abu Bakar mengikutinya.
.
Lalu Abu Bakar bertanya, “Ya Rasulullah, tadi dia mencaci makiku namun engkau tetap duduk. Tapi ketika kuladeni sebagian kata-katanya, engkau marah dan berdiri. Mengapa demikian ya Rasulullah ?”. Tanya Abu Bakar.
.
Rasulullah salallaahu ‘alaihi wassalam pun menjawab, “Sesungguhnya bersamamu ada malaikat, kemudian dia berpaling daripadamu. Ketika engkau meladeni perkataannya, datanglah syaitan dan aku tidak sudi duduk bersama syaitan itu”. Jawab Rasulullah.
.
Kemudian Rasulullah salallaahu ‘alaihi wassalam meneruskan nasihatnya : “Tidak teraniaya seseorang karena penganiayaan yang ia sabar memikulnya kecuali Allah akan menambahkan kepadanya kemuliaan dan kebesaran”. (HR. Imam Ahmad dari Abu Kabsyah Al Anmari).
.
Nasihat Rasulullah salallaahu ‘alaihi wassalam kepada Abu Bakar di atas harus kita terapkan dalam sikap kita ketika menghadapi caci maki orang-orang yang tidak mau menerima dan memusuhi seruan kita. Tidak perlu caci maki mereka kita balas dengan caci maki pula. Karena tindakan tersebut akan menjadikan setan senang dengan yang kita lakukan.
.
Sabar ketika mendapatkan sikap kebencian dalam menyeru manusia untuk berjalan diatas jalan yang benar adalah sikap yang tepat. Bukankah segala sesuatu yang terjadi sudah Allah Ta’ala tetapkan. Seorang mukmin harus lapang dada dan ridha ketika menghadapi kejadian (musibah) yang menimpanya, karena hal itu merupakan ujian dari Allah Ta’ala, sejauh mana dia bersabar. Sehingga Allah Ta’ala mencintainya dan memberikan balasan pahala atas kesabarannya.
.
Allah ta’ala berfirman :
.
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
.
“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”. (QS. Ali Imran, 146).
.
Allah ta’ala berfirman :
.
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
.
“Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”. (QS. An-Nahl : 96).
.
Selain dicintai Allah Ta’ala dan mendapatkan pahala, orang yang sabar juga akan mendapatkan ampunan.
.
Allah ta’ala berfirman :
.
إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
.
“Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itu mendapatkan ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Hud: 11).
.
Dan diatas semua itu, orang yang sabar akan mendapatkan Surga ‘Adn.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
.
“Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu, maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu (Surga Adn)”. (QS Ar-Ra’d : 24).
.
Semoga kita bisa semakin bersabar dalam menyeru manusia untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni, ajaran yang tidak mengandung kebatilan yang dibuat-buat oleh para penyesat umat, Karena besarnya pahala yang akan kita dapatkan.
.
Semoga bermanfa’at.
.
.
با رك الله فيكم
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏Mąŋţяί
.
(Pecinta meong, pengamat perilaku ahli bid’ah, perilaku cacat mental dan konsultan emak-emak janda).
.
Kunjungi blog pribadi di : https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah
.
.
Peringatan !
.
Komentar oot (out of topic) atau oon, tidak ilmiah dan tidak menggunakan bahasa yang baik, atau pertanya’an dengan tujuan memancing adu omongan akan di hapus. Tidak ada waktu untuk menanggapi !
.
.
_____

Iklan

KEWAJIBAN SALING MENASIHATI

KEWAJIBAN SALING MENASIHATI
.
Oleh: Ikhwan pecinta meong
.
Memberi nasihat kepada sesama, terlebih lagi terhadap saudaranya sesama muslim adalah bentuk kecinta’an dan kepedulian, disamping karena memang diperintahkan dalam Islam.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)
.
“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menta’ati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-‘Ashr: l-3).
.
Menasihati orang lain tidaklah mudah, karena ada sebagian orang yang sulit untuk menerima nasihat, bahkan sesak dadanya ketika di nasihati. Semakin sulit untuk menerima nasihat apabila orang yang menasihatinya di pandang tidak lebih baik atau tidak lebih pintar dari dirinya. Atau yang di nasihati merasa lebih tinggi status sosialnya atau status ekonominya, atau dirinya merasa benar.
.
Memberi nasihat harus ikhlas semata-mata karena Allah Ta’ala juga harus sabar dan bijaksana, karena terkadang orang yang diberi nasihat malah menunjukkan rasa tidak suka, sinis bahkan mencibir seakan-akan dirinya sedang di salahkan atau di musuhi.
.
❁ Nasihat adalah pokok dalam ajaran Islam
.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjadikan nasihat sebagai pokok ajaran agama.
.
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Agama itu adalah nasihat”. Kami berkata, “Kepada siapa wahai Rasulullah ?” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, dan para imam kaum Muslimin serta segenap kaum Muslimin”. (HR. Muslim (no. 55).
.
❁ Memberi nasihat bukan berarti lebih baik
.
Imam Hasan Basri Rahimahullaah berkata : “Wahai manusia sesungguhnya aku tengah menasihati kalian dan bukan berarti aku orang yang terbaik diantara kalian, bukan pula orang yang paling shaleh diantara kalian. Sungguh aku pun telah banyak melampaui batas terhadap diriku aku tak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membencinya sesuai dengan kewajiban dalam menta’ati Rabbnya. Andai kata orang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang sempurna niscaya tidak akan ada pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang yang berdakwah di jalan Allah ‘azza wa jalla tidak akan ada yang mengajak untuk ta’at kepada-Nya, tidak akan ada pula yang melarang dari perbuatan maksiat kepada-Nya, . .”
.
❁ Manusia tidak luput dari salah dan dosa.
.
Sesungguhnya manusia tidak akan luput dari salah dan dosa, tidak terkecuali para Ulama, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun sering kali mendapatkan teguran dari Allah Ta’ala karena melakukan kesalahan.
.
Teguran Allah Ta’ala kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salah satunya bisa kita lihat di dalam surah Ali-Imran ayat 128.
.
Allah ta’ala menegur Rasulullah :
.
لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ
.
”Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang dzalim”. (QS. Ali-Imran: 128).
.
Imam Bukhari meriwayatkan daripada Humaid bin Tsabit daripada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terluka di kepalanya semasa perang Uhud, maka beliau berkata, ‘Bagaimana akan beruntung kepada kaum yang melukai Nabi mereka ?’. Maka turunlah ayat “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka”.
.
Teguran Allah ta’ala kepada Rasulullah lainnya bisa kita lihat di surah ‘Abasa ayat 1-10, surah al-Tahrim ayat 1, surah at-Taubah ayat 84, surah at-Taubah ayat 43, surah ali-Imran ayat 128, dan surah al-Anfal ayat 67.
.
Kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja bisa melakukan kesalahan lalu bagaimana dengan manusia biasa seperti para Ulama atau bahkan kita ?
.
Karena manusia siapapun dia bisa berpotensi melakukan kesalahan, maka tidak sepantasnya kita antipati kepada orang yang memberi nasihat kepada kita, namun semestinya kita menyikapinya dengan kerendahan hati dan lapang dada, apabila nasihatnya di sampaikan dengan cara yang baik dan benar.
.
.
با رك الله فيكم
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί.
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam–sudah-sempurna
.
.
____________

NASEHAT EMAS BUYA HAMKA UNTUK PARA PEJUANG SUNNAH

NASEHAT EMAS BUYA HAMKA UNTUK PARA PEJUANG SUNNAH
.
Berjuanglah terus, wahai mubaligh menegakkan citamu, dan serahkanlah dirimu kepada Tuhan.
.
Terhadap sesama pemeluk Islam, ambillah satu sikap yang paling baik.
.
Jika engkau dipandang musuh, pandanglah mereka kawan.
.
Jika engkau dihina, muliakan mereka !
.
Jika engkau diinjak, angkat mereka ke atas agar sampai tersundak ke langit.
.
Adapun kemuliaan yang sejati hanyalah pada siapa yang lebih takwa kepada Allah !
.
Oleh karena itu, ketika orang-orang berebut keuntungan duniawi, mari kita merebut takwa !
.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 78, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
.
.
_____________

WAJIB MEMPERINGATKAN PARA PELAKU BID’AH

WAJIB MEMPERINGATKAN PARA PELAKU BID’AH

Buya Hamka menulis :

Dalam Islam mungkin saja terjadi hal-hal tambahan seperti itu. Tidak berasal dari Al-Qur’an, tidak dituntunkan oleh Sunnah Rasul.

Menjadi kebiasaan kemudian, tak tahu lagi dari mana asal-usulnya.

Kalau ada orang yang datang di belakang menegurnya, marahlah orang yang telah biasa berpegang dengan yang lama itu.

Oleh sebab itu, menjadi kewajibanlah bagi ahli-ahli agama mengadakan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap perbuatan mengada-ada yang berkenaan dengan ibadah itu.

(Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 3 Hal. 399, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).

________________

JADILAH PENOLONG AGAMA ALLAH

JADILAH PENOLONG AGAMA ALLAH
.
Allah memerintahkan kita supaya menolong agama-Nya. ’Menolong Allah’ bukan berarti Allah Ta’ala lemah dan butuh pertolongan manusia.
.
Al Qurthubi mengatakan bahwa maknanya adalah orang yang menolong agama dan nabi-Nya. (al Jami’ li Ahkamil Qur’an juz XII hal 386).
.
Allah ta’ala berfirman :
.
وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
.
”Dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya. Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hadid : 25).
.
Tatkala berbicara tentang “Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.” Kemudian Allah melanjutkannya dengan menjelaskan makna pertolongan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menolong manhaj dan da’wah-Nya, adapun Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah membutuhkan pertolongan dari mereka. “Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.” (Fii Zhilalil Qur’an juz VI hal 4395).
.
Allah ta’ala berfirman :
.
وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
.
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (QS. Al Hajj : 40).
.
Sesungguhnya Allah tidaklah membutuhkan pertolongan sedikit pun dari hambanya. Karena Dia maha kuat. Akan tetapi Allah hendak menguji dari hambanya mana yang layak untuk mendapatkan pertolongannya.
.
Menolong agama Allah diantara maksudnya adalah, memurnikan risalah yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari para pelaku penyimpangan dan penyesat umat. Membela sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjauhkan umat dari kesyirikan, bid’ah, khurafat dan tradisi-tradisi nenek moyang (jahiliyah) yang tidak sesuai dengan syari’at Islam.
.
Memang sulit dan besar aral rintangan yang akan dihadapi para pengemban dakwah dalam menyampaikan kebenaran karena besarnya permusuhan, perlawanan dan kecaman dari mereka yang merasa terusik amalan-amalan dan kepercaya’an batilnya. Tapi sebagaimana Allah sebutkan bahwa Allah ta’ala akan memberikan pertolongan dan meneguhkan kedudukan orang-orang yang istiqomah dalam membela agama Allah.
.
Allah ta’ala berfirman :
.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
.
”Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. Muhammad: 7).
.
.
با رك الله فيكم
.
By: Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
________

TIDAK ADA KE IMANAN BAGI ORANG YANG MEMBIARKAN KEBID’AHAN

TIDAK ADA KE IMANAN BAGI ORANG YANG MEMBIARKAN KEBID’AHAN
.
Setiap para Nabi di utus kepada umatnya, Allah Ta’ala memberikan pendamping kepada para Nabi tersebut sahabat setianya. Merekalah orang-orang yang membela para Nabi dari gangguan dan permusuhan orang-orang yang menentang dan memeranginya.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
مَا مِنْ نَبيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فِي أمَّةٍ قَبْلِي إلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأصْحَابٌ يَأخُذُونَ بِسنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لا يُؤْمَرونَ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلسَانِهِ فَهُوَ مُؤمِنٌ, وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلبِهِ فَهُوَ مُؤمِنٌ، وَلَيسَ وَرَاءَ ذلِكَ مِنَ الإيْمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ
.
“Tidak ada seorang Nabipun yang diutus kepada suatu umat sebelumku, kecuali ia memiliki para pengikut dan sahabat yang setia, yang mengikuti ajarannya dan mematuhi perintahnya. Kemudian datang setelah mereka itu suatu generasi yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka lakukan, dan melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan. Barangsiapa memerangi mereka dengan tangannya, maka dia itu orang yang beriman, dan barangsiapa memerangi mereka dengan lisannya maka dia itu orang yang beriman, dan barangsiapa memerangi mereka dengan hatinya maka dia itu orang yang beriman. Setelah itu, tidak ada keimanan walau hanya sebesar biji sawipun”. (HR Muslim).
.
Sahabat setia para Nabi adalah orang-orang yang paling mengerti ajaran yang di bawa para Nabi. Mereka mengamalkan ajaran agama sesuai dengan yang mereka dapatkan dari Nabi, tanpa menambah-nambah ataupun mengurangi. Dan mereka juga tidak membuat-buat ajaran baru selain yang sudah di tetapkan Allah dan Rasul-Nya.
.
Namun setelah generasi para sahabat Nabi, selanjutnya muncul orang-orang yang merubah-rubah dan membuat-buat ajaran baru dalam agama. Mengajarkan yang tidak Allah Ta’ala dan Rasul-Nya ajarkan. Sehingga agama yang di bawa para Nabi mengalami distorsi, menyimpang dan hilang kemurnianya.
.
Prilaku orang-orang sesat terdahulu yang merubah-rubah ajaran agama dan juga membuat-buat ajaran baru yang tidak Nabi ajarkan, ternyata juga di ikuti oleh sebagian dari umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun membuat-buat ajaran yang tidak Allah Ta’ala dan Rasul-Nya ajarkan. Sikap mereka mengikuti prilaku umat terdahulu yang sesat memang sudah di sabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
.
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ. فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ. فَقَالَ وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ
.
“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi ?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi ?“ (HR. Bukhari no. 7319).
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ, قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ: فَمَنْ
.
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun), pasti kalian pun akan mengikutinya”. Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani ?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi ?” (HR. Muslim no. 2669).
.
Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziroo’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan BERBAGAI PENYIMPANGAN, bukan dalam hal-hal kekafiran mereka yang diikuti. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi sa’at ini.” (Syarh Muslim, 16: 219).
.
Orang-orang sesat terdahulu yang menambah-nambah dan membuat-buat ajaran baru yang tidak Nabi mereka ajarkan, mereka seolah-olah tidak merasa cukup dengan syari’at yang sudah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tetapkan, padahal setiap agama yang di bawa para Nabi sudah mencukupi untuk di jadikan pedoman hidup bagi mereka.
.
Begitu pula sebagian dari umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membuat-buat ajaran baru yang tidak Allah dan Rasul-Nya ajarkan (bid’ah), seolah-olah mereka menganggap agama Islam masih ada yang kurang. Padahal agama Islam sudah sempurna. Dan kesempurna’an Islam Allah Ta’ala sebutkan dalam Firmannya :
.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
.
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu”. (QS. Al-Maidah: 3).
.
Kesempurna’an Islam disebutkan juga oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam dalam sabdanya :
.
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنْ الْجَنَّة وَيُبَاعِدُ مِنْ النَّار إِلَّا وَقْدٌ بَيْنَ لَكُمْ
.
“Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah dijelaskan semuanya kepada kalian.” (HR. Thobroni dalam Al Mu’jamul Kabir 1647).
.
Kesempurna Islam sebagaimana di Firmankan Allah Ta’ala dan juga Rasul-Nya, maka tidaklah diperlukan lagi adanya penambahan-penambahan atau mengada-adakan hal-hal yang baru berdasarkan hawa nafsu dan pemikiran yang menganggap apa saja yang baik itu boleh saja dilakukan dalam agama meskipun tidak pernah diperintahkan, dilakukan atau pernah disetujui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Islam telah sempurna, artinya tidak lagi memerlukan tambahan-tambahan dan pengurangan sedikitpun meskipun sekecil apapun dan alasan apapun.
.
Apapun alasannya, membuat-buat ajaran baru yang tidak Allah Ta’ala dan Rasul-Nya ajarkan, meskipun dianggap baik adalah suatu perkara besar yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan menjadikan segala amal ibadah yang di lakulan para pelaku bid’ah tertolak. Sebagaimana di sabadakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ صَوْمًا وَلاَ صَلاَةً وَلاَ صَدَقَةً وَلاَ حَجًّا وَلاَ عُمْرَةً وَ لاَ جِهَادًا وَلاَ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً يَخْرُجُ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا تَخْرُجُ الشَّعَرَةُ مِنَ الْعَجِين
.
“Allah tidak akan menerima puasanya orang yang berbuat bid’ah, tidak menerima shalatnya, tidak menerima shadaqahnya, tidak menerima hajinya, tidak menerima umrahnya, tidak menerima jihadnya, tidak menerima taubatnya, dan tidak menerima tebusannya, ia keluar dari islam sebagaimana keluarnya helai rambut dari tepung”.
.
Selain segala amal ibadah para pelaku bid’ah tertolak, juga menjadikan mereka semakin jauh dari Allah Ta’ala. Sebagaimana dikatakan oleh seorang Tabi’in
.
مَا ازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اِجْتِهَاداً، إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً {حلية الأولياء – (ج 1 / ص 392)}
.
“Semakin giat pelaku bid’ah dalam beribadah, semakin jauh pula ia dari Allah”. (Hilyatul Auliya’, 1/392).
.
Dan para pelaku bid’ah juga mendapatkan laknat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
مَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (متفق عليه)
.
“Barangsiapa berbuat bid’ah didalamnya, atau melindungi pelaku bid’ah, maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya”. (Muttafaq ‘Alaih).
.
Karena begitu bahayanya membuat-buat ajaran atau mengada-adakan amalan-amalan baru dalam urusan ibadah (bid’ah), maka kewajiban bagi seorang muslim, ketika melihat ada yang melakukan kebid’ahan, memerangi mereka dengan tangannya atau dengan lisannya atau apabila tidak memiliki kemampuan dengan tangan dan lisannya, maka wajib mengingkari dengan hatinya. Dan apabila membiarkanya, tidak memerangi juga tidak mengingkari mereka yang melakukan kebid’ahan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
.
وَلَيسَ وَرَاءَ ذلِكَ مِنَ الإيْمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ
.
SETELAH ITU TIDAK ADA KEIMANAN WALAU HANYA SEBESAR BIJI SAWI PUN.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
_____________

PENTINGNYA MENYAMPAIKAN KEBENARAN WALAUPUN DIBENCI SELURUH MANUSIA

.
PENTINGNYA MENYAMPAIKAN KEBENARAN WALAUPUN DIBENCI SELURUH MANUSIA
.
Menyeru umat untuk menjauhi penyimpangan dan kesesatan dalam agama, bukanlah mimbar dakwah yang di hampari permadani dan dekorasi warna-warni serta berhiaskan bunga-bunga di sekitarnya.
.
Menyeru umat untuk menjauhi penyimpangan dan kesesatan dalam agama, bukanlah mimbar dakwah untuk mendulang sanjungan dan puja-puji manusia. Tapi sebaliknya akan di banjiri caci maki, cibiran dan hujatan.
.
Rintangan dan ujian dalam berjuang di jalan dakwah adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa di hindari. Ia pasti akan menghampiri, namun jangan pernah berhenti, karena para Nabi dan pengikutnya tidak pernah berhenti ataupun melemah karena rintangan dan ujian.
.
Nabi Nuh ‘alaihissalam menghadapi cacian kaumnya, begitu pula para Nabi lainnya tidak kalah berat ujian yang mereka hadapi.
.
Mendakwahkan yang haq merupakan kewajiban bagi setiap muslim dari Rabb-nya, terutama kepada yang memiliki kemampuan dakwah.
.
Namun tugas ini sungguh berat karena akan mendapatkan perlawanan dari para pengikut hawa napsu yang tidak akan tinggal diam karena mereka selalu merasa terusik, yang menurutnya apa yang mereka yakini dan lakukan adalah benar dan harus dibela.
.
Perlawanan dari para pengikut hawa nafsu telah ada sejak zaman para Nabi dahulu dan akan ada hingga akhir zaman.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَكَذٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيٰطِيۡنَ الۡاِنۡسِ وَالۡجِنِّ
.
“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin.” (QS. al-An’am, 6:112).
.
Para pengemban dakwah akan selalu mendapatkan perlakuan yang sangat tidak menyenangkan dari orang-orang yang selalu menentangnya. Mereka menganggap keterangan yang disampaikan para pengemban dakwah adalah omong kosong yang tidak perlu di pedulikan.
.
Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits akan mereka remehkan walaupun di sampaikan dengan terang dan jelas.
.
Zaman memang sudah berubah, namun para pengikut hawa nafsu akan selalu ada sepanjang zaman.
.
Seruan kepada kebenaran yang haqiqi, memurnikan agama dari prilaku orang-orang yang menyimpang dan penyesat umat, akan dianggap sebagai lelucon yang menurut mereka pantas di tertawakan. Ancaman dari Allah dan Rasul-Nya akan selalu mereka cibir dan nistakan.
.
Para pengikut hawa nafsu merasa gerah, ajaran warisan dari nenek moyang yang mereka agung-agungkan dan harus di lestarikan merasa di gugat.
.
Para pengikut hawa nafsu akan selalu setia kepada ajaran leluhurnya, dan mereka berkata sebagaimana di Firmankan Allah ta’ala :
.
حَسْبُنَا مَا وَ جَدْنَا عَلَيْهِ أَبَاءَنَا
.
“Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek-moyang kami mengerjakannya”. (QS. al-Ma’idah: 104).
.
Pribadi-pribadi berwatak seperti ini akan selalu ada dan menjadi batu sandungan bagi para pengemban dakwah.
.
Namun demikian, para pengemban dakwah tidak akan pernah mundur walau selangkah dalam menyampaikan al-Haq meski mereka senantiasa di musuhi, di cibir dan dilecehkan oleh pihak-pihak yang memusuhinya.
.
Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : “Tidak akan datang suatu zaman kepada manusia, kecuali pada zaman itu semua orang mematikan sunnah dan menghidupkan bid’ah, hingga matilah sunnah dan hiduplah bid’ah. tidak akan ada orang yang berusaha mengamalkan sunnah dan mengingkari bid’ah, kecuali orang tersebut diberi kemudahan oleh Allah di dalam menghadapi segala kecaman manusia yang diakibatkan karena perbuatannya yang tidak sesuai dengan keinginan mereka serta karena ia berusaha melarang mereka melakukan apa yang sudah di biasakan oleh mereka, dan barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka Allah akan membalasnya dengan berlipat kebaikan di alam Akhirat”. (Al-Aqrimany: 315, al-Mawa’idz).
.
Pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad rahimahullah : Ada seseorang yang puasa, sholat, I’tikaf dan ada orang lain yang membantah ahli bid’ah, manakah yang lebih anda sukai ?. Beliau menjawab : “Apabila orang itu sholat, i’tikaf maka hal itu manfaatnya untuk dia sendiri, tapi apabila dia membantah ahli bid’ah maka manfaatnya bagi kaum muslimin dan inilah yang lebih afdhol/ lebih utama”. Beliau menjelaskan bahwa manfaatnya lebih luas bagi kaum muslimin di dalam agama mereka, yang hal tersebut termasuk jihad fi sabilillah.
.
Memurnikan agama Allah, manhaj serta syari’at-Nya dari kesesatan dan permusuhan mereka (ahli bid’ah) merupakan suatu fardu kifayah menurut kesepakatan kaum muslimin. Seandainya tidak ada yang menolak/ membantah bahaya (bid’ah) nya para pelaku bid’ah, maka akan rusaklah agama ini.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam-sudah-sempurna/
.
.
================