AHLUS SUNNAH BERGEMBIRA DENGAN KEMATIANNYA TOKOH AHLI BID’AH PENYESAT UMAT

AHLUS SUNNAH BERGEMBIRA DENGAN KEMATIANNYA TOKOH AHLI BID’AH PENYESAT UMAT
.
إن المسلم الحق كما يحزن لموت العلماء والدعاة إلى الله
.
Seorang muslim sejati itu merasa sedih dengan wafatnya para ulama dan dai.
.
يفرح بهلاك أهل البدع والضلال، خاصة إن كانوا رؤوساً ورموزاً ومنظرين،
.
Demikian pula, muslim sejati merasa gembira dengan matinya ahli bid’ah dan orang sesat terutama jika dia adalah tokoh, icon dan aktor intelektual dari sebuah kesesatan.
.
يفرح لأن بهلاكهم تُكسر أقلامُهم، وتُحسر أفكارُهم التي يلبِّسون بها على الناس
.
Muslim sejati merasa gembira karena dengan meninggalnya mereka, tulisan dan pemikiran sesat orang tersebut yang menyesatkan banyak orang berhenti.
.
ولم يكن السلف يقتصرون على التحذير من أمثال هؤلاء وهم أحياء فقط، فإذا ماتوا ترحموا عليهم وبكوا على فراقهم
.
Para ulama salaf tidak hanya mengingatkan bahaya para tokoh kesesatan ketika mereka hidup lalu ketika mereka mati lantas kita memohonkan rahmat Allah untuk mereka bahkan menangisi kepergian mereka.
.
بل كانوا يبيِّنون حالهم بعد موتهم، ويُظهرون الفرح بهلاكهم، ويبشر بعضهم بعضاً بذلك
.
Teladan para salaf adalah mereka menjelaskan kesesatan orang tersebut meski orang tersebut sudah mati. Salaf menampakkan rasa gembira dengan matinya tokoh kesesatan bahkan mereka saling menyampaikan berita gembira dengan matinya tokoh kesesatan.
.
ففي صحيح البخاري ومسلم يقول صلى الله عليه وسلم عن موت أمثال هؤلاء : ((يستريح منه العباد والبلاد والشجر والدواب))
.
Dalam shahih Bukhari dan Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai kematian tokoh kesesatan : “Kematiannya menyebabkan manusia, tanah, pohon dan hewan merasa nyaman”.
.
فكيف لا يفرح المسلم بموت من آذى وأفسد العباد والبلاد
.
Bagaimana mungkin seorang muslim tidak merasa gembira dengan matinya seorang yang mengganggu dan merusak pemikiran banyak manusia dan merusak alam semesta.
.
لذلك لما جاء خبر موت المريسي الضال وبشر بن الحارث في السوق قال: لولا أنه كان موضع شهرة لكان موضع شكر وسجود، والحمد لله الذي أماته،..(تاريخ بغداد: 7/66) (لسان الميزان: 2/308)
.
Oleh karena itu ketika terdengar berita mengenai matinya Bisyr al Marisi saat Bisyr bin al Harits berada di pasar beliau berkomentar, “Seandainya berita ini bukanlah berita yang tersebar luas tentu saja berita ini adalah berita yang perlu direspon dengan kalimat syukur bahkan sujud syukur. Segala puji milik Allah yang telah mematikannya”. (Tarikh Baghdad 7/66 dan Lisan al Mizan 2/308).
.
وقيل للإمام أحمد بن حنبل: الرجل يفرح بما ينزل بأصحاب ابن أبي دؤاد، عليه في ذلك إثم؟ قال: ومن لا يفرح بهذا؟! (السنة للخلال: 5/121)
.
Ada seorang yang bertanya kepada Imam Ahmad, “Apakah berdosa jika seorang itu merasa gembira dengan musibah yang menimpa para pengikut Ibn Abi Duad [tokoh Mu’tazilah]?” Jawaban Imam Ahmad, “Siapa yang tidak gembira dengan hal tersebut ?!”. (as Sunnah karya al Khallal 5/121).
.
وقال سلمة بن شبيب: كنت عند عبد الرزاق -يعني الصنعاني-، فجاءنا موت عبد المجيد، فقال: (الحمد لله الذي أراح أُمة محمد من عبد المجيد). (سير أعلام النبلاء: 9/435)
.
Salamah bin Syubaib mengatakan, “Suatu hari aku berada di dekat Abdurrazzaq ash Shan’ani lalu kami mendapatkan berita kematian Abdul Majid”. Abdurrazzaq ash Shan’ani lantas merespons, “Segala puji milik Allah yang telah membuat nyaman umat Muhammad dari gangguan Abdul Majid”. (Siyar A’lam an Nubala’ 9/435).
.
وعبد المجيد هذا هو ابن عبدالعزيز بن أبي رواد، وكان رأساً في الإرجاء
.
Abdul Majid yang dimaksudkan dalam hal ini adalah Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abu Rawad yang merupakan tokoh besar sekte Murjiah.
.
ولما جاء نعي وهب القرشي – وكان ضالاً مضلاً – لعبد الرحمن بن مهدي قال: الحمد لله الذي أراح المسلمين منه. (لسان الميزان لابن حجر: 8/402)
.
Tatkala Abdurrahman bin Mahdi mendengar berita kematian Wahb al Qurasyi, salah seorang tokoh kesesatan,beliau berkomentar, “Segala puji milik Allah yang telah membuat nyaman kaum muslimin dari gangguannya”. (Lisan al Mizan 8/402).
.
وقال الحافظ ابن كثير في (البداية والنهاية 12/338) عن أحد رؤوس أهل البدع: (أراح الله المسلمين منه في هذه السنة في ذي الحجة منها، ودفن بداره، ثم نقل إلى مقابر قريش فلله الحمد والمنة، وحين مات فرح أهل السنة بموته فرحاً شديداً، وأظهروا الشكر لله، فلا تجد أحداً منهم إلا يحمد الله)
.
Dalam kitab al Bidayah wan Nihayah 12/338 Ibnu Katsir berkata mengenai salah seorang tokoh ahli bidah, “Allah telah membuat kaum muslimin nyaman dari gangguannya pada tahun ini tepatnya pada bulan Dzulhijjah dan dimakamkan di dalam rumahnya lantas dipindah ke pekuburan Quraisy. Hanya milik Allah segala puji dan anugrah. Di hari kematiannya ahlu sunnah merasa sangat gembira. Ahli sunnah menampakkan rasa syukur mereka kepada Allah. Tidaklah anda jumpai seorang pun ahlu sunnah pada hari tersebut melainkan memuji Allah”.
.
هكذا كان موقف السلف رحمهم الله عندما يسمعون بموت رأسٍ من رؤوس أهل البدع والضلال،
.
Demikianlah sikap salaf saat mendengar kabar kematian salah seorang tokoh ahli bidah dan tokoh kesesatan.
.
وقد يحتج بعض الناس بما نقله الحافظ ابن القيم في (مدارج السالكين: 2/345) عن موقف شيخه شيخ الإسلام ابن تيمية من خصومه حيث قال: (وجئت يوماً مبشراً له بموت أكبر أعدائه وأشدهم عداوة وأذى له، فنهرني وتنكَّر لي واسترجع، ثم قام من فوره إلى بيت أهله فعزاهم وقال: إني لكم مكانه …)
.
Sebagian orang tidak sepakat dengan hal di atas lalu beralasan dengan pernyataan Ibnul Qayyim di Madarijus Salikin 2/345 menceritakan sikap gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah terhadap musuhnya. Ibnul Qayyim mengatakan, “Suatu hari aku datang menemui Ibnu Taimiyyah untuk menyampaikan berita kematian musuh terbesar beliau, seorang yang paling memusuhi dan suka menyakiti beliau. Beliau membentakku dan menyalahkan tindakanku. Beliau mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un kemudian segera berdiri menuju rumah keluarga orang tersebut lalu menyampaikan bela sungkawa dan mengatakan, ‘Aku adalah pengganti perannya’.
.
ومن تأمل ذلك وجد أنه لا تعارض بين الأمرين فمن سماحة شيخ الإسلام ابن تيمية أنه لا ينتقم لنفسه ولذلك عندما أتاه تلميذه يبشره بموت أحد خصومه وأشدهم عداوة وأذى له= نهره وأنكر عليه، فالتلميذ إنما أبدى لشيخه فرحه بموت خصمٍ من خصومه لا فرحه بموته لكونه أحد رؤوس البدع والضلال.
.
Siapa saja yang merenungkan dua sikap ahli sunnah di atas pasti akan berkesimpulan bahwa tidak ada pertentangan di antara keduanya. Di antara sikap besar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah tidak ingin balas dendam. Oleh karena itu ketika murid beliau menyampaikan kabar gembira akan matinya salah seorang musuh beliau, seorang yang sangat keras permusuhan dan gangguannya terhadap beliau, beliau membentaknya dan menyalahkan tindakannya. Si murid hanya menampakkan di depan gurunya rasa gembira karena matinya salah satu musuh beliau, bukan gembira karena meninggalnya salah seorang tokoh ahli bidah dan tokoh kesesatan.
.
.
Sumber:
http://www.dorar.net/art/492
.
Artikel: http://ustadzaris.com/matinya-tokoh-kesesatan
.
.
_____

KHATIB JUM’AT MENDO’AKAN SESEORANG KETIKA KHUTBAH

KHATIB JUM’AT MENDO’AKAN SESEORANG KETIKA KHUTBAH

Imam As-Syafii berkata :

إذا كان الأمام يصلي لشخص معين أو لشخص (أي شخص) ثم كرهت ذلك، ولكن ليست إلزامية لآلية القيام بتكرار

“Jika sang imam berdo’a untuk seseorang tertentu atau kepada seseorang (siapa saja) maka aku membenci hal itu, namun tidak wajib baginya untuk mengulang khutbahnya”. (Al-Umm: 2/416-417).

_____

RATAPAN DAN PENYESALAN ORANG-ORANG YANG DISESATKAN PARA PENYESAT UMAT

RATAPAN DAN PENYESALAN ORANG-ORANG YANG DISESATKAN PARA PENYESAT UMAT
.
Sungguh anugerah yang besar apabila seorang manusia hidup di muka bumi berpijak di atas hidayah Allah Ta’ala. Karena dengan hidayah manusia dapat memilih dan menempuh jalan yang lurus diantara sekian banyak jalan berliku yang menjerumuskan kedalam jurang kebinasa’an. Sungguh beruntung orang-orang yang mendapatkan hidayah, dan sebaliknya sungguh celaka orang-orang yang dijauhkan dari hidayah oleh Allah Ta’ala, sehingga mereka terjerembab dalam penyimpangan dan kesesatan.
.
Dalam sejarah manusia semenjak masa para Nabi sampai saat ini, di muka bumi tidak lepas dari penyimpangan dan kesesatan yang dilakukan oleh orang-orang menyimpang dan sesat. Perseteruan antara pengikut kebenaran dan pembela kesesatan pun mewarnai sejarah manusia dari dulu hingga saat ini.
.
Mengapa ada orang-orang menyimpang dan sesat ?
.
Sesungguhnya diantara penyebab adanya orang-orang menyimpang dan sesat adalah karena adanya seorang tokoh atau pembesar atau seorang manusia yang memiliki kelebihan kemampuan ilmu di tengah-tengah manusia. Orang yang memiliki kelebihan ilmu tersebut, lalu dipercaya sebagai sosok (figur) yang pantas diikuti karena kelebihan ilmunya. Dan ketika orang yang dianggap pantas diikuti itu menyeru orang banyak ke dalam kesesatan, maka orang-orang pun mengikutinya. Dan pada akhirnya, semakin lama kesesatannya pun dipandang sebagai anutan yang benar sehingga dibela mati-matian oleh para pengikutnya.
.
۞ Kesesatan Kaum Bani Israil
.
Di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam ada seorang yang memiliki kelebihan ilmu dibandingkan orang lainnya. Dia dikenal dengan nama Samiri.
.
Disebutkan dalam Al-Qur’an, bahwa Samiri adalah seorang lelaki yang membuat patung sapi dari emas yang kemudian menyeru kaum Bani Israil untuk menyembah patung sapi tersebut. Patung sapi yang dibuat oleh Samiri memang memiliki ‘keajaiban’ bisa mengeluarkan suara yang menjadikan kaum Bani Israil tersihir sehingga banyak dari mereka yang kemudian mengagungkan dan menyembahnya.
.
Tersesatnya kaum Bani Israil sa’at itu, karena ditinggalkan Nabi Musa ‘alaihis salam ke Bukit Sinai untuk bermunajat kepada Allah Ta’ala selama empat puluh hari.
.
Kelebihan ilmu Samiri sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an ketika menjawab pertanya’an Nabi Musa mengapa bisa membuat patung sapi untuk di sembah,
.
Samiri menjawab,
.

بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ

.
“Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahui”. (QS. Thaha: 96).
.
Begitulah Samiri dengan kelebihan kemampuan ilmunya, menjadikan dia diikuti walaupun seruannya membinasakan kaum Bani Israil.
.
۞ Kesesatan Kaum Qurais
.
Kaum Qurais adalah kaumnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Kaum Qurais atau masyarakat Arab jahiliyah pada mulanya menganut kepercaya’an kepada Tauhid sebagai warisan dari ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Namun seiring waktu berlalu, tepatnya semenjak kota Mekah dikuasai oleh Bani Khuza’ah, masyarakat jahiliyah mulai tersesat dari ajaran Tauhid.
.
Kesesatan bangsa Arab jahiliyah dipelopori oleh seorang pemimpin mereka yang bernama ‘Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i, sebagaimana disebutkan oleh Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,
.

رَأَيْتَ عَمْرٌو بِنْ عَامِرُ بِنْ لِحَيِّ الخزاعي يَجُرُّ قَصَبَهُ فِي النَّارِ وَكَانَ أَوَّلَ مَنْ سِيبَ السوائب

.
“Aku melihat ‘Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i menarik-narik ususnya di neraka. Dia adalah orang pertama yang melepaskan onta-onta (untuk dipersembahkan kepada berhala)”. (HR. Bukhari no. 3333 dan Muslim no. 2856).
.
Siapakah ‘Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i ?
.
Ia adalah pemimpin atau pembesar masyarakat Arab jahiliyah
.
Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i dikenal sebagai orang yang suka berbuat kebajikan, suka bersedekah dan berkhidmat terhadap urusan-urusan agama, sehingga semua orang mencintainya dan mereka menganggapnya sebagai salah seorang ulama besar dan wali yang disegani.
.
Ketika dia pergi ke Syam, disana dia melihat penduduk Syam yang menyembah berhala dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang baik serta benar. Sebab menurutnya, Syam adalah tempat lahirnya para Nabi, Rasul dan turunnya kitab-kitab suci. Maka ketika dia kembali pulang ke Mekkah, dia membawa serta berhala Hubal (dewa bulan) dan meletakannya di dalam Ka’bah. Setelah itu dia mengajak penduduk Mekkah untuk menyembah Hubal tersebut. Dan lambat laun orang-orang pun mengikuti seruannya, karena mereka melihat Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i adalah seorang ulama, paling berilmu dan seorang yang paling salih yang patut dijadikan panutan.
.
Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan :
.

عَمْرٌو هَذَا هُوَ اِبْنٌ لِحَيِّ بِنْ قمعة، أَحَدٌ رُؤَسَاءَ خزاعة الَّذِينَ وَلَّوْا البَيْتَ بَعْدَ جَرِّهِمْ وَكَانَ أَوَّلُ مِنْ غَيْرِ دِينِ إِبْرَاهِيمَ الخليل، فَأَدْخَلَ الأَصْنَامَ إِلَى الحِجَازِ، وَدَعَا الرُّعَاعُ مِنْ النَّاسِ إِلَى عِبَادَتِهَا والتقرب بِهَا، وَشَرَّعَ لَهُمْ هَذِهِ الشَّرَائِعَ الجَاهِلِيَّةُ فِي الأنعام وَغَيْرِهَا

.
“Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuza’i merupakan salah satu pemimpin Khuza’ah yang memegang kekuasa’an atas Ka’bah setelah Kabilah Jurhum. Ia adalah orang yang pertama kali mengubah agama Ibrahim (atas bangsa Arab). Ia memasukkan berhala-berhala ke Hijaz, lalu menyeru kepada beberapa orang jahil untuk menyembahnya dan bertaqarrub dengannya, dan ia membuat beberapa ketentuan jahiliyyah ini bagi mereka yang berkena’an dengan binatang ternak dan lain-lain . .” (lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/148 QS. Al-Maidah ayat 103).
.
Itulah sejarah awal mulanya masyarakat Arab jahiliyah tersesat dari jalan yang benar.
.
۞ Kesesatan manusia dari masa ke masa
.
Manusia tersesat dari jalan yang lurus bukan saja terjadi pada zaman dahulu, namun tentunya akan terjadi pula sepanjang masa. Sebagaimana terjadi pada zaman kita sekarang hidup. Ibadah-ibadah yang tidak diajarkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya sa’at ini begitu marak dan digemari oleh manusia. Mereka menganggap apa yang mereka lakoni sebagai ibadah yang akan mendatangkan kecinta’an Allah Ta’ala. Sebagian dari mereka ada yang menyadari bahwa ibadah-ibadah yang mereka jalani adalah amalan-amalan baru yang dibuat-buat namun mereka meyakininya sebagai amalan baru yang baik (bid’ah hasanah).
.
Lalu siapa yang menyeru mereka kepada ajaran-ajaran baru (bid’ah) pada sa’at ini ?
.
Tentu saja para pemuka mereka yang mereka pandang sebagai ‘ulama’ yang memiliki kelebihan ilmu dibanding mereka dan juga dianggap sebagai orang salih yang patut diikuti dan dibela ketika ada yang mengusiknya. Sehingga tidak mengherankan apabila sa’at ini, para penyesat umat diagungkan sebagaimana manusia setengah dewa yang dipercaya pasti selalu benar tidak mungkin salah.
.
۞ Pennyesalan orang-orang yang disesatkan para penyesat umat di akhirat kelak
.
Sungguh malang orang-orang yang memuja manusia, mereka menjadikan seorang manusia seolah-olah malaikat bahkan tuhan, tidak boleh dikritisi apalagi dibantah, segala yang dikatakannya seolah-olah wahyu yang turun dari langit, selalu dibenarkan dan diikuti. Padahal tidak ada seorang manusiapun yang ma’sum, siapa dan sehebat apapun seorang manusia tetaplah manusia, bisa salah dan keliru.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون

.
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat”. (Shahih Jami’us Shaghir 4391).
.
Dari hadits diatas maka kita mendapatkan penjelasan bahwa tidak ada seorangpun manusia yang akan luput dari salah, apakah perkata’an atau perbuatannya. Maka tidak selayaknya kita taqlid kepada siapapun.
.
Seorang Muslim yang sebenarnya, bukanlah seorang yang selalu mengikuti perkata’an siapapun dan apapun yang dilakukannya tanpa peduli apakah sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulnya.
.
Ketika seorang yang dipandang alim, fakih, luas ilmunya, kemudian ditokohkan dan dipuja, padahal sesungguhnya dia penyesat umat. Sungguh di akhirat dia tidak bisa menolong orang yang mengikutinya. Bahkan dia sendiri tidak akan mampu melepaskan dirinya dari adzab Allah Ta’ala yang harus ditanggungnya.
.
Maka tinggallah seorang muqallid (tukang ikut-ikutan) meratapi dan menyesali dirinya.
.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
.

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا (-) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا (-) رَبَّنَا آَتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا (-)

.
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata : ‘ALANGKAH BAIKNYA, SEANDAINYA (DAHULU) KAMI TA’AT KEPADA ALLAH DAN TA’AT (PULA) KEPADA RASUL. Dan mereka berkata: ‘YA RABB KAMI, SESUNGGUHNYA KAMI TELAH MENTA’ATI PEMIMPIN-PEMIMPIN DAN PEMBESAR-PEMBESAR KAMI, LALU MEREKA MENYESATKAN KAMI DARI (JALAN YANG BENAR). YA RABB KAMI, TIMPAKANLAH KEPADA MEREKA ADZAB DUA KALI LIPAT DAN KUTUKLAH MEREKA DENGAN KUTUKAN YANG BESAR”. (QS. Al-Ahzab: 66-68).
.
Ayat diatas bukan saja ditujukan kepada orang-orang kafir, tetapi juga kepada siapa saja yang memiliki sifat seperti orang kafir yang disebutkan di ayat tersebut.
.
Imam Ibnu Katsir rahimahullahu Ta’ala berkata, “Ayat ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, ‘Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya (yakni menyesali perbuatannya), seraya berkata : ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul’. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika Al-Quran itu telah datang kepadaku dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia’.” (QS. Al-Furqan : 27-29). Yang dimaksud dengan ‘si fulan’ dalam ayat ini adalah syaitan atau para pemimpin mereka yang telah menyesatkan mereka. Yakni mereka akan berkata, ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami lebih memilih untuk mentaati para pemimpin dan pembesar kami dalam kesesatan ketimbang memilih untuk mentaati para Rasul-Mu dalam jalan hidayah dan keselamatan’.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/427).
.
Sungguh penyesalan yang tidak berguna. Tangisan, ratapan dan lolongan orang-orang yang di sesatkan para penyesat umat, tidak akan mengurangi adzab yang harus ditanggungnya.
.
Wal Iyadzu billlah.
.
با رك الله فيكم
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί (pecinta meong, pengamat aliran sesat).
.
Kunjungi blog pribadi di: https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam–sudah-sempurna
.
.
___________

MENGIKUTI SUNNAH ADALAH PILIHAN YANG MENYELAMATKAN

MENGIKUTI SUNNAH ADALAH PILIHAN YANG MENYELAMATKAN
.
Imam Asy Syathibi rahimahullah berkata : “Aku sempat dilanda kebimbangan, apakah tetap mengikuti sunnah dengan konsekwensi menyelisihi kebiasaan masyarakat (yang menyimpang dari syariat islam), ataukah mengikuti saja kebiasaan mereka. Apabila tetap berpegang pada sunnah bisa di pastikan aku akan menanggung akibat (celaan dan kebencian) yang dialami siapapun yang tidak sejalan dengan kebiasaan masyarakatnya, apalagi jika masyarakatnya itu mengklaim amalan merekalah yang sesuai sunnah, bukan yang lain. Hanya saja, di balik beban berat tersebut aku akan meraih pahala yang besar. Setelah mempertimbangkan secara matang, akupun menyimpulkan bahwa derita akibat mengikuti sunnah adalah keselamatan yang sesungguhnya, sementara manusia tidak mungkin menyelamatkanku dari azab Allah sedetikpun”. (Kitab Al- I’tishom 1 : 34-35).
.
.
_______