UMAT ISLAM AKAN MENGIKUTI JEJAK YAHUDI DAN NASRANI HINGGA MASUK LUBANG BIAWAK SEKALIPUN

UMAT ISLAM AKAN MENGIKUTI JEJAK YAHUDI DAN NASRANI HINGGA MASUK LUBANG BIAWAK SEKALIPUN
.
Kaum Yahudi dan kaum Nasrani adalah kaum yang di murkai oleh Allah Ta’ala dan kaum yang sesat. Sebagaimana Allah Ta’ala terangkan di dalam Al-Qur’an.
.
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ
.
“Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (QS. Al-Fatihah: 7).
.
Yang dimaksud ayat di atas adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebagaimana di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,
.
إن الْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمُ الْيَهُودُ وَإِنَّ الضَّالِّينَ النَّصَارَى
.
“Sesungguhnya orang-orang yang dimurkai itu adalah orang-orang Yahudi, dan sesungguhnya orang-orang yang sesat itu adalah orang-orang Nasrani”. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Fatihah, 7).
.
Dalam sejarah Islam di ketahui bahwa kaum Yahudi sangat memusuhi umat Islam, dan rasa permusuhan mereka Allah Ta’ala sebutkan dalam Firman-Nya,
.
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
.
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”. (QS. Al-Maidah: 82).
.
Begitu pula kaum Nasrani, mereka memiliki rasa permusuhan dan perasa’an tidak senang terhadap umat Islam. Sikap mereka demikian Allah Ta’ala sebutkan dalam Firman-Nya,
.
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
.
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka”. (QS. Al-Baqarah, 120).
.
Permusuhan dan makar kaum Yahudi dan juga kaum Nasrani begitu panjang tercatat dalam sejarah Islam. Semenjak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru manusia untuk kembali mentauhidkan Allah Ta’ala, tidak henti-hentinya makar kaum Yahudi dan Nasrani ditujukan kepada kaum muslimin hingga sampai sa’at ini.
.
Kaum Yahudi dan kaum Nasrani akan senang kepada umat Islam apabila kita mengikuti mereka, sebagaimana disebutkan dalam penghujung ayat di atas,
.
حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
.
“Hingga kamu mengikuti agama mereka”.
.
Mengikuti jejak langkah mereka maka sama artinya kita membenarkan kesesatan mereka, padahal karena kesesatan mereka itulah yang menjadikan mereka mendapatkan murka Allah Ta’ala.
.
Allah Ta’ala juga mengancam kepada orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka, tidak akan mendapatkan perlindungan dan pertolongannya,
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ
.
“Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. Al-Baqarah: 120).
.
Imam Ibnu Katsir terkait ayat di atas mengatakan, Di dalam ayat ini terkandung makna ancaman dan peringatan yang keras bagi umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar mereka jangan sekali-kali mengikuti jalan-jalan kaum Yahudi dan kaum Nasrani, sesudah mereka mempunyai pengetahuan dari Al-Qur’an dan sunnah, na’uzubillah min zalik. Khitab ayat ini ditujukan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi perintahnya ditujukan kepada umatnya.
.
Allah Ta’ala mengancam tidak akan memberikan pertolongan dan bantuannya kepada orang-orang yang mengikuti jejak langkah kaum Yahudi dan Nasrani.
.
Namun ternyata banyak umat Islam yang tidak menghiraukan ancaman Allah Ta’ala tersebut. Banyak dari umat Islam yang secara tidak sadar telah mengikuti jejak langkah mereka. Mengikuti jejak langkah (agama) mereka bukan berarti kaum muslimin keluar (murtad) dari agama Islam, lalu masuk ke dalam agama mereka, namun pengertiannya adalah mengikuti perilaku mereka.
.
Berikut ini diantara beberapa perilaku kaum Yahudi dan kaum Nasrani yang diikuti oleh sebagian umat Islam,
.
๏ Beribadah dengan alat musik
.
Dalam kitab “Perjanjian Lama” milik kaum Yahudi disebutkan, “Biarkan orang-orang zionis bergembira dengan kekuasan mereka. Hendaklah mereka memuji-Nya dengan bergoyang dan memukul rebana …Haliluyaa… pujilah Tuhan dalam kesuciannya. Pujilah Dia dengan gambus dan kecapi. Pujilah Dia dengan memukul rebana dan bergoyang. Pujilah Dia dengan gitar dan seruling. Pujilah Dia dengan berbagai warna sorak-sorai”. (Mazmûr, hlm. 149-150).
.
Cara-cara peribadahan kaum Yahudi di atas ternyata diikuti oleh kaum Sufi. Dalam ajaran sufi ada berbagai acara yang mereka anggap ibadah yang pelaksanaannya sama persis dengan cara beribadah orang-orang Yahudi yang kita sebutkan di atas. Ada acara bid’ah kaum Sufi yang disebut dengan zikir jamâ’i, duba’an, rajaban, manaqiban, salawatan dan maulidan.
.
Dalam acara-cara tersebut digunakan juga alat-alat pujian yang digunakan oleh orang-orang Yahudi dalam ibadah mereka. Seperti gambus, rebana, kadang-kadang dilengkapi dengan guitar dan seruling sambil berteriak-teriak dalam mengucapkan kalimat-kalimat pujian kepada Allâh Ta’âla dan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
.
Silakan dilihat peribadahan orang-orang Sufi yang mengikuti ajaran kaum Yahudi di bawah ini,
.
Tari Sufi full musik: https://youtu.be/u28vrj-zEh0
.
Tarekat hulahup kaum Sufi:

.
Tarekat disco ahli bid’ah : https://youtu.be/pYLvgnUcQFA
.
Dzikir model dangdutan kaum Sufi: https://youtu.be/rCRbHvDcRK8
.
Yahana vs Yahudi: https://youtu.be/OYGor7wlvIQ
.
๏ Menggoyang-goyangkan kepala ketika beribadah
.
Disebutkan, diantara sebab muasal penamaan pengikut nabi Musa ’alaihissalam dari orang-orang Bani Israil dinamakan Yahudi adalah karena kebiasaan mereka ketika membaca Taurat mengangguk-anggukkan kepala. Hal ini dapat kita saksikan sendiri bagaimana orang-orang Yahudi ketika beribadah di depan Dinding Ratapan (tempat ibadah mereka) yang terdapat di masjid Aqsha.
.
Abu Bakar Tharthûsy mengatakan : “Bergoyang dalam berzikir dan berusaha agar pingsan, yang pertama sekali melakukannya adalah pengikut Samiri ketika mengajak mereka untuk menyembah ‘Ijil (anak sapi). Mereka bergoyang-goyang disekelilingnya dan pura-pura pingsan. Maka ia adalah agama para penyembah ‘Ijil. Barangsiapa menyerupai mereka berarti mereka termasuk golongan mereka”. (Tahrîmus Samâ’, hlm. 269-270, Tafsîr Qurtubi,10/366, 11/238).
.
Perilaku kaum Yahudi yang menggoyang-goyangkan kepala sa’at ibadah juga diikuti oleh kaum Sufi. Kebanyakan kaum Sufi ketika berzikir kepalanya digoyang kekanan dan kekiri. Bahkan ada yang benar-benar bergoyang sambil berdiri seperti dalam acara-acara sepesial mereka. Perbuatan tersebut mereka anggap sebagai ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allâh Ta’âla.
.
Itulah perilaku sebagian dari umat Islam yang mengikuti jejak langkah kaum Yahudi.
.
Selain mengikuti jejak langkah kaum Yahudi, orang-orang Sufi juga mengikuti jejak langkah kaum Nasrani.
.
Berikut ini diantarannya,
.
๏ Tarbiyah Ruhiyah
.
Diantara ajaran kaum Nasrani yang di adopsi oleh orang-orang Sufi diantaranya adalah Tarbiyah Ruhiyah.
.
Dalam agama Nasrani tarbiyah ruhiyah dilakukan dengan beberapa bentuk. Mulai dari menghindari segala kenikmatan dunia, seperti tidak mengkosumsi sesuatu yang enak dan lezat, tidak memakai pakaian bagus, menjauhi pernikahan sampai pada tinggkat bersemedi di gua-gua. Sa’at mereka menganggap telah mencapai puncak kesucian jiwa, mereka meyakini bahwa Zat Allâh Ta’âla menyatu dengan diri mereka. Yang mereka sebut dengan istilah : Menyatunya Lahût dengan Nasût. Hal serupa juga ditiru oleh orang-orang sufi dalam mentarbiyah dirinya untuk mencapai tingkat hakikat.
.
Tokoh Sufi Abu Tolib al-Makki menyatakan, terdapat empat perkara yang dapat membantu murid melaksanakan pembersihan hati iaitu: Berlapar, berjaga malam, berdiam diri (tidak bercakap), dan bersunyian diri (Khalwat/Uzlah). [Qutul Qulub, 1/132].
.
๏ Tidak menikah
.
Ajaran kaum Nasrani lainnya yang di adopsi oleh sebagian kaum Sufi adalah tidak menikah dengan alasan agar lebih fokus beribadah demi mendapatkan surga.
.
Ajaran kaum Nasrani ini terdapat dalam Injil Matius fasal 19 ayat 12, yang berbunyi : “Ada orang yang tidak kawin,… ia membuat dirinya demikian karena keraja’an surga. Barangsiapa yang dapat melakukan maka hendaklah ia melakukannya”. Dalam surat Paulus kepada penduduk Karnitus fasal 7 ayat 1, berbunyi : “Sangat baik bagi seorang lelaki untuk tidak menyentuh wanita”.
.
Berkata salah seorang tokoh sufi, Abu Sulaiman al-Darani : “Tiga perkara yang jika seseorang lakukan maka dia telah cenderung kepada dunia ; Mencari rezeki, menikah dan menulis hadits”. (Ihya’ Uludmuddin, 1/379).
.
Jika dibandingkan apa yang diajarkan oleh tokoh-tokoh Sufi di atas dengan apa yang terdapat dalam ajaran Nasrani ternyata tidak jauh berbeda. Dan sebetulnya memang kaum Sufi mengikuti ajaran mereka.
.
Perilaku lainnya dari kaum Nasrani yang diikuti oleh sebagian umat Islam diantaranya, peringatan bid’ah Maulid Nabi, yaitu memperingati kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal ini sama dengan peraya’an Natal, yaitu peraya’an kelahiran Yesus Kristus.
.
Perilaku lainnya dari kaum Nasrani yang diikuti sebagian umat Islam adalah peringatan Kenaikan Isa Al Masih, Naiknya Tuhan Yesus Kristus ke langit. Sebagian umat Islam pun ada yang ikut-ikutan membuat peringatan seperti itu, yaitu peringatan Isra’ Mi’raj, naiknya Nabi Muhammad ke langit.
.
Perilaku lainnya dari kaum Nasrani yang di ikuti sebagian umat Islam adalah peraya’an Tahun Baru Masehi, sebagian dari umat Islam pun ada yang membuat peraya’an bid’ah Tahun Baru Hijriyah.
.
Itulah beberapa perilaku sesat kaum Yahudi dan Nasrani yang di ikuti oleh sebagian umat Islam. Dan masih banyak lagi perilaku mereka yang diikuti.
.
Benarlah apa yang di sabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ
.
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya”. Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani ?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi ?”. (HR. Muslim no. 2669).
.
Ibnu Taimiyah menjelaskan, tidak diragukan lagi bahwa umat Islam ada yang kelak akan mengikuti jejak Yahudi dan Nashrani dalam sebagian perkara. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 27: 286.
.
Syaikhul Islam menerangkan pula bahwa dalam shalat ketika membaca Al Fatihah kita selalu meminta pada Allah agar diselamatkan dari jalan orang yang dimurkai dan sesat yaitu jalannya Yahudi dan Nashrani. Dan sebagian umat Islam ada yang sudah terjerumus mengikuti jejak kedua golongan tersebut. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 1: 65.
.
Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziroo’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal-hal kekafiran mereka yang diikuti. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini”. (Syarh Muslim, 16: 219).
.
با رك الله فيكم
.
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί (pecinta meong dan dan pengamat aliran menyimpang dan sesat).
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam–sudah-sempurna/
.
.
________

MENYIMPANG SETELAH MENDAPAT HIDAYAH

MENYIMPANG SETELAH MENDAPAT HIDAYAH

لماذا ينتكس البعض بعد استقامته على طريق الهداية ؟؟؟

Mengapa ada sebagian orang yang justru berbalik (menyimpang) setelah ia konsisten di atas jalan hidayah (bahkan sebelumnya ia mendakwahkan sunnah)…??

قيل للشيخ ابن باز :

Syaikh Bin Baz pernah ditanya :

ياشيخ، فلان انتكس

Wahai Syaikh; si fulan berbalik (menyimpang)

قال الشيخ :

Syaikh berkata :

(لعل انتكاسته من أمرين :

Boleh jadi dia berbalik menyimpang karena dua hal :

إما أنه لم يسأل الله الثبات، أو أنه لم يشكر الله على الإستقامة)

Pertama, dia mungkin tidak pernah meminta kepada Allah agar diteguhkan (di atas alhaq), atau yang kedua, ia tidak bersyukur setelah diberikan keteguhan dan keistiqomahan oleh Allah.

فحين اختارك الله لطريق هدايته

Maka tatkala Allah telah memilihmu berjalan di atas jalan hidayah-Nya,

ليس لأنك مميز أو لطاعةٍ منك

camkanlah bahwa itu bukan karena keistimewaanmu atau karena ketaatanmu,

بل هي رحمة منه شملتك

melainkan itu adalah rahmat dari-Nya yang meliputimu

قد ينزعها منك في أي لحظة

Allah bisa saja mencabut rahmat tersebut kapan saja darimu

لذلك لا تغتر بعملك ولا بعبادتك

Oleh karena itu, jangan engkau tertipu dengan amalanmu, jangan pula disilaukan oleh ibadahmu

ولا تنظر باستصغار لمن ضلّ عن سبيله

Jangan engkau memandang remeh orang yang tersesat dari jalan-Nya

فلولا رحمة الله بك لكنت مكانه

Kalau bukan karena rahmat Allah padamu, niscaya engkau akan tersesat pula, posisimu akan sama dengan orang yang tersesat itu.

أعيدوا قراءة هذه الآية بتأنٍّ

Ulang-ulang lah membaca ayat berikut ini dengan penuh penghayatan

﴿ولوﻵ أن ثبتناك لقد كدت تركن إليهم شيئا قليلا﴾

“Andai Kami tidak meneguhkanmu (wahai Muhammad ﷺ), sungguh engkau hampir-hampir saja akan sedikit condong kepada mereka (orang-orang yang tersesat itu).”

إياك أن تظن أن الثبات على الإستقامة أحد إنجازاتك الشخصية …

Jangan pernah engkau menyangka, bahwa keteguhan di atas istiqomah, merupakan salah satu hasil jerih payahmu pribadi.

تأمل قوله تعالى لسيد البشر..

Perhatikan firman Allah kepada Pemimpin segenap manusia (Muhammad ﷺ) :

“ولولا أن ثبتناك”

“Kalau bukan Kami yang meneguhkanmu (wahai Muhammad ﷺ)…”

فكيف بك !!؟

Maka apalagi engkau…!!?

نحنُ مخطئون عندما نتجاهل أذكارنا

Kita sering keliru, manakala kita melupakan dzikir-dzikir kita

نعتقد أنها شيء غير مهم وننسى

Kita menyangka bahwa dzikir-dzikir itu tidak penting, sehingga kita pun melupakannya.

بأن الله يحفظنا بها، وربما تقلب الأقدار..

Kita lupa bahwa Allah akan menjaga kita karena dzikir-dzikir tersebut. Boleh jadi takdir Allah akan berbalik.

يقول ابن القيم :

Ibnu al-Qayyim berkata :

حاجة العبد للمعوذات أشدُ من حاجته للطعام واللباس..!

Kebutuhan hamba akan doa dan dzikir (agar Allah memberikan perlindungan), melebihi kebutuhannya akan makanan dan pakaian.

داوموا على أذكاركم لتُدركوا معنى :

Maka rutinkanlah membaca doa dan dzikir kalian, agar kalian meraih apa yang dijanjikan dalam sabda Rasulullah ﷺ :

احفظ الله يحفظك..

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjaga kalian”

تحصنوا كل صباح ومساء ؛

Niscaya kalian akan mendapatkan perlindungan pagi dan petang.

فالدنيا مخيفة .. وفي جوفها مفاجأت .. والله هو الحافظ لعباده

Dunia ini benar-benar menakutkan…. di lorongnya ada banyak hal yang menyentakkan… Allah, Dialah yang Maha Menjaga hamba-hamba-Nya.

Zainal Abidin bin Syamsuddin Lc, حفظه الله تعالى

_________________

UCAPAN YANG PALING DI BENCI ALLAH TA’ALA

UCAPAN YANG PALING DI BENCI ALLAH TA’ALA
.
Sering kita jumpai sikap rasa tidak senang yang di tunjukkan kepada orang yang menyeru kepada jalan Allah Ta’ala. Terkadang keluar ucapan dari lisan mereka, “Urus saja dirimu sendiri, tidak perlu mengurusi orang lain, seperti dirimu yang sudah bener saja”. Dan ucapan-ucapan semacam itu.
.
Mereka tidak sadar bahwa sikap dan ucapan seperti itu adalah ucapan yang sangat di benci oleh Allah Ta’ala.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
إِنَّ أَبْغَضَ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: اتَّقِ اللهَ ! فَيَقُولُ: “عَلَيْكَ بِنَفْسِكَ”.
.
Sesungguhnya perkata’an yang paling di benci Allah ialah, ketika seseorang menasehati temannya, “Bertaqwalah kepada Allah”, namun dia menjawab : “Urus saja dirimu sendiri”. (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 1/359, an-Nasai dalam Amal al-Yaum waal-Lailah, 849).
.
Perkata’an tersebut sangat dibenci karena merupakan bentuk sikap kesombongan.
.
Sombong dan menolak seruan orang yang menyeru kepada jalan Allah Ta’ala diantaranya di tunjukkan orang-orang durhaka dari umat Nabi Nuh ‘alaihis salam. Sebagaimana di sebutkan dalam Al-Qur’an.
.
قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا، فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا، وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ، وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا
.
Nuh berkata : “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri”. (QS. Nuh: 5-7).
.
Semoga kita termasuk kepada orang-orang yang menyombongkan diri dan berpaling dari kebenaran.
.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :
.
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
.
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi. Ada seseorang yang bertanya, Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus ? Beliau menjawab, Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. (HR. Muslim no. 91).
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
.
_________

KEBODOHAN MERAJALELA

KEBODOHAN MERAJALELA
.
Kiamat adalah ketetapan Allah Ta’ala yang pasti akan terjadi dan sebagai perkara yang wajib di imani oleh setiap kaum muslimin. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan kiamat akan terjadi termasuk malaikat jibril sekalipun. Namun demikian, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam telah memberikan banyak gambaran kepada umatnya tentang tanda-tanda menjelang datangnya kiamat, salah satunya adalah merebaknya kebodohan.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
ﻣﻦ ﺃﺷﺮﺍﻁ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﺃﻥ ﻳُﺮْﻓَﻊَ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻭﻳَﺜْﺒُﺖَ ﺍﻟﺠﻬﻞُ
.
“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan tetapnya kebodohan”. (Shahih Al-Bukhariy, Kitaabul-‘Ilmi, Baab Raf’il-‘Ilmi wa Qabdlihi wa Dhuhuuril-Jahli [1:/178]).
.
Diangkatnya ilmu yang dimaksud di hadits tersebut adalah dengan di wafatkannya para Ulama.
.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌﻠﻢَ ﺍﻧﺘﺰﺍﻋﺎً ﻳﻨﺘﺰﻋُﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ، ﻭﻟﻜﻦْ ﻳﻘﺒِﺾُ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﻘﺒﺾ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ
.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari manusia. Namun Allah akan mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama”. (Shahih Al-Bukhariy, Kitaabul-‘Ilmi, Baab Kaifa Yaqbidlul-‘Ilm (1/194).
.
Ulama yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah para Ulama pewaris Nabi. Para Ulama yang menuntun umat untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam dan membimbing umat berjalan diatas manhaj Shalafus Shaalih. Para Ulama yang membentengi dan menjaga umat dari para penyeru kebid’ahan dan kesyirikan. Para Ulama yang menghalau para pelaku penyimpangan dan kesesatan.
.
Ketika semakin sedikitnya para Ulama pewaris Nabi, maka umat menjadikan orang-orang bodoh terhadap ilmu syar’i sebagai pemimpin dalam peribadahan-peribadahan mereka. Umat mengambil fatwa dan pelajaran-pelajaran agama dari orang-orang bodoh yang di pandang sebagai orang alim. Maka akibatnya umat menyimpang dan tersesat.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
ﺣﺘﻰ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺒﻖَ ﻋﺎﻟﻤﺎً؛ ﺍﺗَّﺨﺬ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﻭﺳﺎَ ﺟُﻬَّﺎﻻ، ﻓﺴُﺌِﻠﻮﺍ ؟ ﻓﺄﻓﺘﻮﺍ ﺑﻐﻴﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻓﻀﻠّﻮﺍ ﻭﺃﺿﻠﻮﺍ
.
”Hingga ketika tidak tersisa lagi seorang berilmu (di tengah mereka), manusia mengangkat para pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya, dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Hingga akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (orang lain)”. (Shahih Al-Bukhariy, Kitaabul-‘Ilmi, Baab Kaifa Yaqbidlul-‘Ilm (1/194).
.
Kebodohan yang dimaksud dalam hadits diatas adalah kebodohan dalam ilmu agama, bukan ilmu duniawi. Karena seiring zaman, ilmu pengetahuan duniawi semakin berkembang dan beragam inovasi dalam sain dan teknologi dapat diciptakan manusia.
.
Di sa’at menjelang hari kiamat, kebodohan meluas di semua stratifikasi sosial, bukan saja ditingkat kelas sosial rendah tapi juga di kalangan elit para pemimpin masyarakat yang seharusnya mereka bisa dijadikan panutan.
.
Meluasnya kebodohan dalam hadits yang disebutkan diatas, apabila dikorelasikan dengan kondisi ke kinian. Maka bisa jadi pekatnya kegelapan yang menyelimuti umat akibat kebodohan sudah terjadi sa’at ini. Banyak indikasi yang kita saksikan.
.
Al-Haq (kebenaran) di musuhi dan kebatilan di ikuti. Bermunculan bid’ah, kesyirikan dan faham-faham menyimpang di tengah-tengah umat. Beribadah bukan lagi mengikuti petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, tapi dibangun di atas hawa napsu. Taqlid buta dan ta’ashub kepada orang yang dianggap alim, kepada madzhab atau kepada kelompok tertentu.
.
Bermunculan para penyesat di tengah-tengah umat, mereka berfatwa seolah-olah pakarnya, dan umat yang bodoh pun selalu mengikutinya. Sesama umat Islam bertikai saling bermusuhan bahkan sampai menumpahkan darah.
.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
ﻭﻳَﻜْﺜﺮ ﺍﻟﻬَﺮْﺝ
.
” . . Dan banyaknya ‘harj’ (pembunuhan)”. [Shahih Muslim, Kitaabul-‘Ilmi, Baab Raf’il-‘Ilmi (16/222-223)].
.
Demikianlah kondisi sa’at menjelang datangnya kiamat, umat diselimuti kegelapan.
.
Namun demikian, walaupun kebodohan meluas di semua lapisan masyarakat, akan tetapi akan tetap ada sekelompok orang yang berdiri di atas ilmu, walaupun jumlah mereka sangat sedikit.
.
Sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar, beliau berkata :
.
ﻭﻻ ﻳﻤﻨﻊ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻭﺟﻮﺩُ ﻃﺎﺋﻔﺔ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻷﻧﻬﻢ ﻳﻜﻮﻧﻮﻥ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﻣﻐﻤﻮﺭﻳﻦ ﻓﻲ ﺃﻭﻟﺌﻚ
.
”Namun hal itu tidaklah menghalangi untuk tetap adanya sekelompok ahli ilmu (ulama) di tengah umat, karena pada waktu itu mereka tertutup oleh dominasi masyarakat yang bodoh akan ilmu agama”. [Fathul-Baariy (13/16)].
.
Sudah menjadi ketetapan Allah Ta’ala, disa’at kebodohan merajalela, akan tetap ada sekelompok orang yang berdiri diatas ilmu, sekelompok orang yang menjaga aqidah dan manhajnya dari kerusakan akibat tipu daya para penyeru kesesatan yang mengemas syubhat dan kebatilan dengan kepandaian lisan mereka memainkan dalil yang membuat orang-orang bodoh tersihir dan terkecoh.
.
Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari kebodohan dan tipu daya para penyesat umat. Aamiin.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam-sudah-sempurna/
.
.
=============

BANGGA GOLONGAN

BANGGA GOLONGAN
.
Diantara fenomena memprihatinkan yang terjadi ditengah-tengah kaum muslimin sa’at ini begitu pula di masa lalu setelah lewatnya masa As-Shalafus Shalih (tiga generasi terbaik umat) adalah terpecah belahnya kaum muslimin kepada banyak golongan. Dan dampak buruknya adalah setiap golongan membanggakan golongannya masing-masing. Sikap tercela tersebut menjangkiti umat Islam di belahan bumi manapun.
.
Kita bisa saksikan, seringkali seorang pengikut jama’ah, aliran, madzhab atau torekot tertentu begitu membanggakan kelompoknya di atas kelompok yang lain. Sikap membanggakan golongan juga di iringi dengan sikap buruk, yaitu sikap merendahkan bahkan menjatuhkan kelompok lain.
.
Dampak buruk lainnya dari sikap membanggakan golongan adalah tidak maunya mengambil ilmu yang datang dari luar kelompoknya. Apabila tidak mau mencari ilmu agama selain dari Ahlus Sunnah memang benar. Karena ilmu agama hanya boleh di cari dari Ahlus Sunnah. Tidak boleh selain dari mereka. Akan tetapi apabila tidak mau mencari ilmu atau menerima ilmu selain dari kelompoknya atau selain dari guru-gurunya maka ini adalah sikap yang tidak di benarkan oleh syari’at. Karena Islam tidak membenarkan taklid kepada siapapun dan kelompok manapun.
.
Sikap bangga kepada kelompok, jama’ah atau madzhab tertentu tumbuh akibat sifat merasa paling benar terhadap salah satu kelompok yang di ikuti.
.
Terlalu banyak orang yang baru mengikuti kelompok atau jama’ah tertentu namun sudah merasa sangat yakin terhadap kelompok yang di ikutinya sebagai kelompok yang paling benar. Kemudian membanggakan kelompok yang di ikutinya serta merendahkan kelompok lain. Padahal membenarkan sebuah keyakinan membutuhkan pengkajian yang mendalam, diantaranya juga harus mau mendengarkan dari kelompok lain terhadap keyakinan yang di ikutinya. Tidak hanya sekedar mendengarkan yang datang dari kelompoknya.
.
Apabila seseorang mau menerima yang datang hanya dari kelompoknya, maka dia adalah muqollid (pengekor). Dan muqollid di cela dalam Islam. Bukankah orang-orang menyimpang dan sesat itu adalah para muqollid, yaitu orang-orang yang mengikuti saja apa yang di ajarkan atau di sampaikan kelompoknya.
.
Sifat membanggakan golongan, sebenarnya sudah di sebutkan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
.
“Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)”. (QS. Al-Mu’minun: 53).
.
Maksudnya, merasa bangga dengan kesesatannya karena mereka menduga bahwa diri mereka berada dalam petunjuk. Karena itulah dalam firman selanjutnya Allah mengancam mereka :
.
فَذَرْهُمْ فِي غَمْرَتِهِمْ
.
“Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya”. (Al-Mu’minim: 54).
.
Yaitu dalam kesesatan dan penyimpangan mereka.
.
حَتَّى حِينٍ
.
“Sampai suatu waktu”. (QS. Al Mu’minun: 54).
.
Yakni sampai kepada batas waktu mereka dibinasakan.
.
(Tafsir Ibnu Katsir QS. Al Mu’minun: 53-54).
.
Setiap golongan yang merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka yang di sebutkan dalam ayat di atas adalah sifat dari pengikut para Rasul yang kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah.
.
Perhatikan ayat sebelumnya,
.
فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا
.
“Kemudian mereka (pengikut para rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan”. (QS. Al-Mu’minun: 53).
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umatnya untuk tidak berbangga diri atau membanggakan sesuatu di atas yang lainnya.
.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
.
‘Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati hingga tidak seorang pun yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap yang lain” (HR Muslim no. 2865).
.
Sifat membanggakan kelompok ternyata sifatnya orang-orang sesat yang memecah belah agama mereka menjadi beberapa golongan sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas. Maka selayaknya seorang muslim tidak pernah membanggakan kelompok tertentu di atas kelompok yang lain.
.
Semoga kita di jauhkan dari sifat yang di cela oleh Islam.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
______________

DAMPAK BURUK DARI KEBODOHAN

DAMPAK BURUK DARI KEBODOHAN
.
Pepatah Arab mengatakan :
.
العلم نور والجهل ظلام
.
”Ilmu itu cahaya dan bodoh itu kegelapan”.
.
Dalam pepatah di atas di sebutkan bahwa ilmu adalah cahaya.
.
Memang benar, ilmu adalah cahaya sebagai penerang bagi manusia dalam menapaki kehidupan. Tanpa ilmu seorang manusia akan hidup di liputi kegelapan.
.
Ilmu adalah perkara yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Dengan ilmu manusia akan bisa membedakan mana yang salah mana yang benar, mana yang baik mana yang buruk, mana yang merugikan dan mana yang menguntungkan, mana yang mencelakakan dan mana yang akan menyelamatkan.
.
Dengan ilmu seorang manusia bisa mengeksplorasi akalnya sehingga tercipta berbagai inovasi yang berguna bagi kehidupan. Manusia bisa menjelajahi ruang angkasa, mengarungi samudra dan menembus bumi. Semua itu karena ilmu yang di milikinya.
.
Namun sebaliknya tanpa memiliki ilmu, seorang manusia akan hidup dalam kebodohan. Sehingga menjadikan manusia mudah di doktrin, di tindas, di perdaya, mudah di adu domba, di provokasi, mudah di tipu dan lainnya.
.
Dan akibat lebih buruk dari semua itu, kebodohan menjadikan manusia tidak bisa mengenal Allah Ta’ala penguasa alam semesta.
.
Akibat buruk dari kebodohan, manusia tidak akan bisa membedakan mana ajaran benar yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya dengan ajaran sesat yang datangnya dari setan. Akibatnya banyak manusia berbondong-bondong terjerumus kedalam ajaran dan faham sesat. Taklid buta (fanatisme), ta’ashub (bangga golongan), ghuluw (melampaui batas), semua itu dampak buruk dari kebodohan.
.
Kepercaya’an kepada takhayul menjamur, bid’ah merajalela, ke syirikan sulit di basmi, kebenaran di tentang, Ulama pewaris Nabi di dustakan dan di hinakan, tapi sebaliknya para penyesat umat di dewakan semua itu akibat buruk dari kebodohan.
.
Pada akhirnya, dampak buruk dari kebodohan adalah sengsara di dunia dan celaka di akhirat.
.
Ibnul Qayyim rohimahulloh berkata : “Tidaklah diragukan bahwa kebodohan adalah pokok dari segala kerusakan dan kejelekan yang didapatkan oleh seorang hamba di dunia dan di akhirat adalah dampak dari kebodohan”. (Miftaah Daaris Sa’adah, 1/87).
.
Fenomena sa’at ini, banyak manusia tertipu oleh para penyesat umat. Mereka di giring dengan keyakinan-keyakinan batil, di tipu dengan janji palsu, mereka dengan mudahnya percaya dengan ajaran menyesatkan yang datangnya dari setan.
.
Di media masa di beritakan seorang yang di panggil kyai oleh para pengikutnya membunuh dua santrinya. Motif pembunuhannya karena khawatir perbuatannya di bongkar oleh korban yang sudah mulai sadar bahwa yang di lakukan kyainya adalah penipuan.
.
Kejahatan lainnya terungkap, sang kyai mekakukan penipuan uang kepada banyak orang dengan jumlah penipuan yang sangat fantastis. Modus penipuannya melipat gandakan uang. Diantara korban ada yang tertipu 200 milyar. Kepada korban sang kyai menjanjikan akan menggandakan uangnya menjadi 18 trilyun. Selain di dakwa membunuh dan menipu, terungkap juga sang kyai mengajarkan kepada para pengikutnya amalan-amalan yang tidak di ajarkan oleh Islam. Para pengikut sang kyai di ajarkan mengamalkan shalawat fulus dan shalawat sulaiman yang tujuannya meminta kekaya’an. Selain di ajarkan shalawat-shalawat bid’ah, para pengikutnya juga di ajarkan shalat riyadul qubri. Shalat ini terdiri dari beberapa raka’at. Dalam tiap raka’atnya, sehabis membaca shalat al-Fatihah, diharuskan melafalkan baca’an huw (dari kata huwa yang berarti dia (sang kyai) sebanyak 44 kali. Dan bid’ah lainnya yang di ajarkan sang kyai adalah zikir yang bermuatan keyakinan sesat wihdatul wujud, seperti paham al-Hallaj. Zikir itu berbunyi : “Ya ingsun sejatine Allah ya wujud ingsun sejatine Allah”. Artinya : “Hakikat saya adalah Allah dan wujud saya sejatinyanya adalah Allah”.
.
Itulah kesesatan yang di ajarkan sang kyai kepada para pengikutnya.
.
Bagi orang-orang yang memiliki ilmu, tentu saja tidak akan mudah di tipu dan di perdaya. Karena orang-orang yang berilmu dapat mengetahui mana ajaran benar dan mana ajaran yang sesat. Beda halnya dengan orang-orang bodoh, mereka tidak akan mampu membedakan kebenaran dengan kesesatan. Maka akibatnya kerugian yang mereka alami di dunia dan di akhirat kelak.
.
Terungkapnya banyak kasus kejahatan yang di lakukan para penyesat umat, semestinya manusia bisa mengambil pelajaran, sehingga tidak akan pernah terulang kembali kejahatan serupa ataupun bentuk kejahatan lainnya menimpa umat. Jangan sampai kita di golongkan oleh Allah Ta’ala sebagai orang-orang yang tidak mempunyai akal karena tidak menjadikan pelajaran dari kejadian buruk yang menimpa.
.
Allah ta’ala berfirman :
.
إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
.
“Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”. (QS: Ar-Ra’d: 19).
.
Semoga bermanfa’at.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
______

SIKAP IMAM SYAFI’I MENGHADAPI ORANG BODOH

Meniru sikap Imam Syafi’i dalam menghadapi orang-orang bodoh.

SIKAP IMAM AS-SYAFI’I MENGHADAPI ORANG BODOH

Imam Syafi’i adalah seorang Ulama besar yang banyak melakukan dialog dan pandai dalam berdebat dalam permas’alahan agama.

Sampai-sampai Harun bin Sa’id berkata : “Seandainya Syafi’i berdebat untuk mempertahankan pendapat bahwa tiang yang pada aslinya terbuat dari besi adalah terbuat dari kayu niscaya dia akan menang, karena kepandainnya dalam berdebat”. (Manaqib Aimmah Arbaah hlm. 109 oleh Ibnu Abdil Hadi).

Imam Syafi’i adalah seorang Ulama pembela sunnah, sehingga tentu saja pada waktu itu banyak orang sesat yang memusuhinya, karena cela’an Imam Syafi’i terhadap kesesatan mereka.

Berikut perkata’an Imam Syafi’i terhadap mereka.

Imam Syafi’i berkata :

يُخَاطِبُنِي السَّفِيْهُ بِكُلِّ قُبْحٍ

Orang jahil berbicara kepadaku dengan segenap kejelekan

فَأَكْرَهُ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ مُجِيْبًا

Akupun enggan untuk menjawabnya

يَزِيْدُ سَفَاهَةً فَأَزِيْدُ حُلْمًا

Dia semakin bertambah kejahilan dan aku semakin bertambah kesabaran

كَعُوْدٍ زَادَهُ الْإِحْرَاقُ طِيْبًا

Seperti gaharu dibakar, akan semakin menebar kewangian.

(Diwân Imam Asy-Syâfi’iy).

– Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Orang pandir mencercaku dengan kata-kata jelek. Maka aku tidak ingin untuk menjawabnya. Dia bertambah pandir dan aku bertambah lembut, seperti kayu wangi yang dibakar malah menambah wangi”. (Diwan Asy-Syafi’i, hal. 156).

– Imam Syafi’i juga berkata : ”Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku, diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas bagi singa meladeni anjing”.

• Imam Syafi’i tidak mau berdebat dengan orang bodoh

Walaupun Imam Syafi’i dikenal sebagai ahli debat, tapi Imam Syafi’i tidak mau apabila harus berdebat dengan orang-orang bodoh.

Imam Syafi’i berkata :

ﺍﺫَﺍ ﻧﻄَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻔِﻴْﻪُ ﻭَﺗُﺠِﻴْﺒُﻬُﻔَﺦٌﺮْﻳَ ﻣِﻦْ ﺍِﺟَﺎﺑَﺘِﻪِ ﺍﻟﺴُّﻜُﻮْﺕُ

Apabila orang bodoh mengajak berdebat denganmu, maka sikap yang terbaik adalah diam, tidak menanggapi

ﻓﺎِﻥْ ﻛَﻠِﻤَﺘَﻪُ ﻓَﺮَّﺟْﺖَ ﻋَﻨْﻬُﻮَﺍِﻥْ ﺧَﻠَّﻴْﺘُﻪُ ﻛَﻤَﺪًﺍ ﻳﻤُﻮْﺕُ

Apabila kamu melayani, maka kamu akan susah sendiri. Dan bila kamu berteman dengannya, maka ia akan selalu menyakiti hati

ﻗﺎﻟُﻮْﺍ ﺳﻜَﺖَّ ﻭَﻗَﺪْ ﺧُﻮْﺻِﻤَﺖْ ﻗُﻠْﺖُ ﻟَﻬُﻤْﺎِﻥَّ ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏَ ﻟِﺒَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺮِ ﻣِﻔْﺘَﺎﺡُ

Apabila ada orang bertanya kepadaku, jika ditantang oleh musuh, apakah engkau diam ??

Jawabku kepadanya : Sesungguhnya untuk menangkal pintu-pintu kejahatan itu ada kuncinya

ﻭﺍﻟﺼﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟﺼﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ

Sikap diam terhadap orang bodoh adalah suatu kemulia’an. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan.

Lalu Imam Syafi’i berkata :

ﻭﺍﻟﻜﻠﺐُ ﻳُﺨْﺴَﻰ ﻟﻌﻤْﺮِﻯْ ﻭَﻫُﻮَ ﻧَﺒَّﺎﺡُ

Apakah kamu tidak melihat bahwa seekor singa itu ditakuti lantaran ia pendiam ?? Sedangkan seekor anjing dibuat permainan karena ia suka menggonggong ??

(Diwan As-Syafi’i, karya Yusuf Asy-Syekh Muhammad Al-Baqa’i).

• Sulitnya berdebat dengan orang bodoh menurut Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i berkata :

“Aku mampu berhujah dengan 10 orang yang berilmu, tapi aku pasti kalah dengan seorang yang jahil, karena orang yang jahil itu tidak pernah faham landasan ilmu”.

• Imam Syafi’i berdebat bukan untuk mencari kemenangan.

Imam Syafi’i berkata :

مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا قَطُّ عَلَى الْغَلَبَةِ

“Aku tidak pernah berdebat untuk mencari kemenangan”. (Tawali Ta’sis hlm.113 oleh Ibnu Hajar).

با رك الله فيكم

By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

________________________

MENIRU IMAM SYAFI’I DALAM MENYIKAPI ORANG-ORANG BODOH

Imam Syafi’i adalah seorang Ulama pembela sunnah, sehingga tentu saja pada waktu itu banyak orang sesat yang memusuhinya, karena cela’an Imam Syafi’i terhadap kesesatan mereka.

Berikut perkata’an Imam Syafi’i terhadap mereka, orang-orang bodoh.

– Imam Syafi’i berkata :

يُخَاطِبُنِي السَّفِيْهُ بِكُلِّ قُبْحٍ

Orang jahil berbicara kepadaku dengan segenap kejelekan

فَأَكْرَهُ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ مُجِيْبًا

Akupun enggan untuk menjawabnya

يَزِيْدُ سَفَاهَةً فَأَزِيْدُ حُلْمًا

Dia semakin bertambah kejahilan dan aku semakin bertambah kesabaran

كَعُوْدٍ زَادَهُ الْإِحْرَاقُ طِيْبًا

Seperti gaharu dibakar, akan semakin menebar kewangian.

(Diwân Imam Asy-Syâfi’iy).

– Imam Syafi’i berkata :

“Orang pandir mencercaku dengan kata-kata jelek. Maka aku tidak ingin untuk menjawabnya. Dia bertambah pandir dan aku bertambah lembut, seperti kayu wangi yang dibakar malah menambah wangi”. (Diwan Asy-Syafi’i, hal. 156).

– Imam Syafi’i juga berkata :

”Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku, diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas bagi singa meladeni anjing”.

– Imam Syafi’i berkata :

ﻭﺍﻟﺼﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟﺼﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ

Sikap diam terhadap orang bodoh adalah suatu kemulia’an. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan.

Lalu Imam Syafi’i berkata :

ﻭﺍﻟﻜﻠﺐُ ﻳُﺨْﺴَﻰ ﻟﻌﻤْﺮِﻯْ ﻭَﻫُﻮَ ﻧَﺒَّﺎﺡُ

Apakah kamu tidak melihat bahwa seekor singa itu ditakuti lantaran ia pendiam ?? Sedangkan seekor anjing dibuat permainan karena ia suka menggonggong ??

(Diwan As-Syafi’i, karya Yusuf Asy-Syekh Muhammad Al-Baqa’i).

___

GAGAL FAHAM

GAGAL PAHAM

Gagal paham adalah suatu kondisi yang mengindikasikan ketidak pahaman seseorang pada topik pembahasan atau suatu permasalahan, akibat kurang bisa menyerap informasi dengan baik.

Gagal paham bisa diperbaiki dengan cara menyerap ulang informasi dengan kembali menyimak, mengkaji dan menela’ah suatu masalah.

Penyebab yang menjadikan orang gagal paham diantaranya : Pendidikan yang minim, IQ rendah dan kesombongan.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

______________

MATI TERLAKNAT AKIBAT KEBODOHAN DAN TA’ASHUB

MATI TERLAKNAT AKIBAT KEBODOHAN DAN TA’ASHUB

Meninggal dalam keada’an husnul khatimah (akhir hidup yang baik) adalah damba’an setiap orang muslim, apakah dia seorang yang ta’at atau tidak.

Sebaliknya tidak ada seorang muslim pun, apakah seorang pelaku kemaksiatan sekali pun yang ingin mati dalam keada’an su’ul khatimah. Terlebih lagi mati dalam keada’an mendapatkan laknat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mati dalam keada’an di laknat Allah Ta’ala pernah terjadi menimpa seorang yang jahil namun sangat fanatik terhadap seorang tokoh penyesat umat.

Orang jahil tersebut sangat mengagumi Ibnu ‘Arabi tokoh sufi yang diantara kesesatannya pernah berkata : “Seorang hamba adalah Rabb dan Rabb adalah hamba. Duhai kiranya, siapakah yang diberi kewajiban beramal ? Jika engkau katakan hamba, maka ia adalah Rabb. Atau engkau katakan Rabb, kalau begitu siapa yang di beri kewajiban ?” (Al-Futuhat Al- Makkiyyah dinukil dari Firaq Al-Mu’ashirah, hal. 601).

Ibnu Arabi seorang tokoh sufi yang memiliki faham akidah wihdatul wujûd (keyakinan seorang makhluk yang dapat bersatu dengan Khalik / Sang Pencipta).

Diantara kerusakan akidah Ibnu Arabi sebagai berikut :

• Ibnu Arabi mengaku, bahwa tulisan dan kitab yang ia sebarkan telah mendapatkan izin dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika ia bertemu dengan Rasulullah dalam mimpinya.

• Meyakini bahwa Rabb adalah hamba dan hamba adalah Rabb.

• Mengatakan bahwa hewan-hewan tertentu adalah Rabb.

• Mengatakan bahwa Rabb adalah pendeta yang ada di gereja.

• Bahwa Allah al-Haq al-Munazzah (suci dari segala aib dan kekurangan) adalah hamba yang diserupakan.

• Ia berkata tentang kaum Nabi Nuh, andai saja mereka meninggalkan peribadatan kepada Wadd, Suwâ’, Yaghûts, Ya’ûq dan Nasr, sungguh mereka akan menjadi jauh lebih bodoh tentang Allah al-Haq.

• Allah Al-Haq memiliki wajah pada setiap hamba-Nya.

(Silahkan baca kitab; Aqidah Ibn Arabi wa Hayatuhu, karya Syaikh Taqyuddin al-Farisi (wafat 832 H).

Walaupun Ibnu Arabi memiliki akidah yang sesat dan menyesatkan, akan tetapi banyak orang yang mengagumi dan memujanya.

Diantara pengagum Ibnu Arabi bahkan sampai ada yang bermubahalah dengan seorang Ulama besar Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani.

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani adalah seorang Ulama besar bermadzhab Syafi’i, seorang Ulama terkemuka ahli hadits (lahir, 773 H/1372 M-wafat 852 H/1449 M). Lahir dan wafat di Mesir.

Diantara kitab Ibnu Hajar al-‘Asqalani yang terkenal adalah, Fathul Bari dan Bulughul Maram.

Tentang mubahalah Ibnu Hajar Al-Asqalani di sebutkan oleh beliau, dalam kitabnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Dan dari pengalaman bahwa orang yang melakukan mubahalah dan dia itu orang yang salah, maka dia tidak akan hidup sampai satu tahun dari sa’at dia bermubahalah. Dan saya pun pernah mengalaminya bermubahalah dengan seorang yang ta’ashub dengan kelompok batil, akhirnya setelah itu dia hanya hidup dua bulan.” (Fathul Bari 7/697).

Mubahalah Ibnu Hajar Al-Asqolani diceritakan pula oleh Al-Hafizh as-Sakhowi rahimahullah dalam kitab al-jawahir wad Duror, “Biografi Syaikh Islam Ibnu Hajar” (I/1001).

As-Sakhawi menyebutkan : “Berkali-kali aku pernah mendengar Ibnu Hajar terlibat perdebatan serius dengan salah seorang pengagum Ibnu Arabi tentang diri Ibnu Arabi (dedengkot sufi) sehingga mendorongnya mengeluarkan ucapan yang dianggap tidak etis terhadap Ibnu Arabi.

Tentu saja pengagum Ibnu Arabi tadi tidak bisa terima. Ia mengancam akan melaporkan Ibnu Hajar dan kawan-kawannya kepada sang sultan. Tetapi, ancaman itu ditanggapi oleh Ibnu Hajar dengan tenang. Ia mengatakan : “Jangan bawa-bawa sang sultan ikut campur dalam masalah ini. Mari kita mengadakan mubahalah saja”.

Jarang sekali dua orang yang mengadakan mubahalah, lalu pihak yang berdusta akan selamat dari musibah.

Tantangan Ibnu Hajar ini disetujui oleh pengagum Ibnu Arabi tersebut.

Lalu, Ia mengatakan : “Ya Allah, jika Ibnu Arabi dalam kesesatan, laknatilah aku dengan laknat-Mu”.

Lalu, Ibnu Hajar mengatakan : “Ya Allah, jika Ibnu Arabi dalam kebenaran, laknatilah aku dengan laknat-Mu”.

Setelah itu, keduanya berpisah.

Ketika pengagum Ibnu Arabi tadi sedang berada di sebuah taman, ia kedatangan rombongan tamu seorang putra serdadu yang sangat tampan. Tidak lama kemudian tamu itu bermaksud minta pamit meninggalkannya dan teman-temannya, tanpa bersedia menginap. Selepas isya’ tamu itu beranjak pergi. Ia dan teman-temannya ikut mengantarkannya sampai di daerah perbatasan.

Sepulang dari mengantarkan tamu, ia merasakan ada sesuatu yang bergerak pada kakinya. Ia mengeluhkan hal itu kepada teman-temannya. Setelah diperiksa, mereka tidak melihat apa-apa. Ia kemudian pulang ke rumahnya. Begitu sampai di rumah tiba-tiba ia menjadi buta, dan paginya ia meninggal dunia.

Peristiwa itu terjadi pada bulan Dzul Qa’dah tahun 97 Hijriyah. Sedangkan peristiwa mubahalah terjadi pada bulan Ramadhan tahun yang sama.

Ketika berlangsung mubahalah, Ibnu Hajar tahu bahwa siapa yang bersalah akan mendapat celaka kurang dari waktu setahun”.

الله المستعان

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

================

MEWASPADAI SYUBHAT

MEWASPADAI SYUBHAT

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُوْنُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6).

Dalam ayat diatas dinyatakan bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Maka selayaknya manusia selalu waspada terhadap segala tipu dayanya. Dengan segala cara dan upayanya, setan menyeru dan merayu manusia sehingga terjerumus ke dalam jurang kehancuran.

Dan diantara cara yang paling ampuh untuk menjerumuskan manusia adalah dengan menanamkan syubhat di hati manusia. Sehingga betapa banyak manusia yang mati dengan membawa serta kekafiran, kemunafikan, kesyirikan, kebid’ahan dan kesesatan lainnya. Yang ketika hidup mereka merasa kebatilan yang mereka yakini sebagai Al-Haq.

Fitnah syubhat telah dikhawatirkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap umatnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ

”Sesungguhnya diantara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan”. [HR. Ahmad].

Yang dimaksud dengan fitnah-fitnah yang menyesatkan adalah fitnah syubhat.

Syubhat artinya samar, kabur, atau tidak jelas. Syubhat yang tertanam di hati manusia akan membuat seseorang samar memandang kebenaran. Sehingga jadilah kebenaran dipandang sebagai kebatilan. Dan sebaliknya kebatilan akan di pandang sebagai kebenaran. Itulah tujuan syetan menanamkan syubhat di hati manusia.

Para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kebanyakan bukanlah orang-orang yang pandai membaca dan menulis. Namun mereka selamat akidahnya, mereka tidak terkena syubhat. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada di tengah-tengah mereka. Namun sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada jaminan umatnya bisa terbebas dari fitnah syubhat.

• Kebodohan penyebab syubhat tertanam di hati manusia.

Yang menjadikan syubhat tertanam di hati manusia adalah karena kebodohan. Bodoh terhadap ilmu agama menimbulkan banyak keburukan, diantaranya : Sifat taqlid, ta’ashub dan sombong.

Sifat Taqlid dan ta’ashub menumbuhkan pengkultusan individu dan fanatisme golongan secara berlebihan. Pengkultusan individu menjadikan seseorang selalu mengikuti apapun yang dikatakan oleh orang yang di kultuskannya. Seolah-olah malaikat yang pasti selalu benar. Dan fanatisme golongan menjadikan manusia buta terhadap kebenaran. Sehingga apapun yang datang dari golongannya di telannya mentah-mentah.

Seorang yang sudah terkena sifat taqlid dan ta’ashub tidak mengenal tabayyun dan tarjih. Tabayyun artinya mencari kejelasan dan tarjih artinya mencari dalil yang lebih kuat. Bagi seorang yang sudah terkena penyakit taqlid dan ta’ashub, apapun yang datang dari orang yang di pujanya atau dari golongannya akan selalu dibenarkan dan di ikutinya. Adapun yang datang dari pihak lain akan selalu diingkari dan di tolaknya. Sifat taqlid dan ta’ashub inilah yang menjadikan syubhat merasuki hati seseorang.

Keburukan lainnya akibat kebodohan adalah kesombongan. Sombong adalah merasa dirinya atau golongannya paling benar, maka sifat ini menjadikan dirinya menutup diri dari pihak luar. Keterangan dan seruan yang datang dari pihak lain akan di tolaknya mentah-mentah. Keterangan dari kelompok lain dianggapnya sebagai omong kosong yang tidak perlu di hiraukan. Maka akibat kesombongan seseorang terkena syubhat.

• Membentengi dengan ilmu.

Karena begitu merusaknya syubhat kepada keyakinan manusia. Menjadikan manusia samar melihat kebenaran. Maka dibutuhkan cara untuk membentenginya.

Adapun cara untuk terhindar dari fitnah syubhat, yaitu dengan membentengi diri dengan ilmu yang benar. Ilmu yang disampaikan oleh para Ulama yang membimbing umat kepada manhaj yang lurus. Para Ulama yang menyeru umat untuk berpegang taguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah, maka manusia bisa selamat terhindar dari kesesatan.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah”. (HR. Muslim).

Para Ulama yang menyeru umat untuk meneladani para Sahabat yang telah mendapatkan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Sesungguhnya sepeninggalku akan terjadi banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa Ar-Rasyidin. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian”. (HR. Abu Daud 4607).

Mendatangi majlis ilmu, dekat dengan para Ulama, berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dan meneladani para Sahabat dalam beragama, maka insya Allah kita bisa selamat dari fitnah syubhat dan terhindar dari kesesatan.

الله المستعان

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

=======================