RATAPAN DAN PENYESALAN ORANG-ORANG YANG DISESATKAN PARA PENYESAT UMAT

RATAPAN DAN PENYESALAN ORANG-ORANG YANG DISESATKAN PARA PENYESAT UMAT
.
Sungguh anugerah yang besar apabila seorang manusia hidup di muka bumi berpijak di atas hidayah Allah Ta’ala. Karena dengan hidayah manusia dapat memilih dan menempuh jalan yang lurus diantara sekian banyak jalan berliku yang menjerumuskan kedalam jurang kebinasa’an. Sungguh beruntung orang-orang yang mendapatkan hidayah, dan sebaliknya sungguh celaka orang-orang yang dijauhkan dari hidayah oleh Allah Ta’ala, sehingga mereka terjerembab dalam penyimpangan dan kesesatan.
.
Dalam sejarah manusia semenjak masa para Nabi sampai saat ini, di muka bumi tidak lepas dari penyimpangan dan kesesatan yang dilakukan oleh orang-orang menyimpang dan sesat. Perseteruan antara pengikut kebenaran dan pembela kesesatan pun mewarnai sejarah manusia dari dulu hingga saat ini.
.
Mengapa ada orang-orang menyimpang dan sesat ?
.
Sesungguhnya diantara penyebab adanya orang-orang menyimpang dan sesat adalah karena adanya seorang tokoh atau pembesar atau seorang manusia yang memiliki kelebihan kemampuan ilmu di tengah-tengah manusia. Orang yang memiliki kelebihan ilmu tersebut, lalu dipercaya sebagai sosok (figur) yang pantas diikuti karena kelebihan ilmunya. Dan ketika orang yang dianggap pantas diikuti itu menyeru orang banyak ke dalam kesesatan, maka orang-orang pun mengikutinya. Dan pada akhirnya, semakin lama kesesatannya pun dipandang sebagai anutan yang benar sehingga dibela mati-matian oleh para pengikutnya.
.
۞ Kesesatan Kaum Bani Israil
.
Di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam ada seorang yang memiliki kelebihan ilmu dibandingkan orang lainnya. Dia dikenal dengan nama Samiri.
.
Disebutkan dalam Al-Qur’an, bahwa Samiri adalah seorang lelaki yang membuat patung sapi dari emas yang kemudian menyeru kaum Bani Israil untuk menyembah patung sapi tersebut. Patung sapi yang dibuat oleh Samiri memang memiliki ‘keajaiban’ bisa mengeluarkan suara yang menjadikan kaum Bani Israil tersihir sehingga banyak dari mereka yang kemudian mengagungkan dan menyembahnya.
.
Tersesatnya kaum Bani Israil sa’at itu, karena ditinggalkan Nabi Musa ‘alaihis salam ke Bukit Sinai untuk bermunajat kepada Allah Ta’ala selama empat puluh hari.
.
Kelebihan ilmu Samiri sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an ketika menjawab pertanya’an Nabi Musa mengapa bisa membuat patung sapi untuk di sembah,
.
Samiri menjawab,
.

بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ

.
“Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahui”. (QS. Thaha: 96).
.
Begitulah Samiri dengan kelebihan kemampuan ilmunya, menjadikan dia diikuti walaupun seruannya membinasakan kaum Bani Israil.
.
۞ Kesesatan Kaum Qurais
.
Kaum Qurais adalah kaumnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Kaum Qurais atau masyarakat Arab jahiliyah pada mulanya menganut kepercaya’an kepada Tauhid sebagai warisan dari ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Namun seiring waktu berlalu, tepatnya semenjak kota Mekah dikuasai oleh Bani Khuza’ah, masyarakat jahiliyah mulai tersesat dari ajaran Tauhid.
.
Kesesatan bangsa Arab jahiliyah dipelopori oleh seorang pemimpin mereka yang bernama ‘Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i, sebagaimana disebutkan oleh Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,
.

رَأَيْتَ عَمْرٌو بِنْ عَامِرُ بِنْ لِحَيِّ الخزاعي يَجُرُّ قَصَبَهُ فِي النَّارِ وَكَانَ أَوَّلَ مَنْ سِيبَ السوائب

.
“Aku melihat ‘Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i menarik-narik ususnya di neraka. Dia adalah orang pertama yang melepaskan onta-onta (untuk dipersembahkan kepada berhala)”. (HR. Bukhari no. 3333 dan Muslim no. 2856).
.
Siapakah ‘Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i ?
.
Ia adalah pemimpin atau pembesar masyarakat Arab jahiliyah
.
Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i dikenal sebagai orang yang suka berbuat kebajikan, suka bersedekah dan berkhidmat terhadap urusan-urusan agama, sehingga semua orang mencintainya dan mereka menganggapnya sebagai salah seorang ulama besar dan wali yang disegani.
.
Ketika dia pergi ke Syam, disana dia melihat penduduk Syam yang menyembah berhala dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang baik serta benar. Sebab menurutnya, Syam adalah tempat lahirnya para Nabi, Rasul dan turunnya kitab-kitab suci. Maka ketika dia kembali pulang ke Mekkah, dia membawa serta berhala Hubal (dewa bulan) dan meletakannya di dalam Ka’bah. Setelah itu dia mengajak penduduk Mekkah untuk menyembah Hubal tersebut. Dan lambat laun orang-orang pun mengikuti seruannya, karena mereka melihat Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i adalah seorang ulama, paling berilmu dan seorang yang paling salih yang patut dijadikan panutan.
.
Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan :
.

عَمْرٌو هَذَا هُوَ اِبْنٌ لِحَيِّ بِنْ قمعة، أَحَدٌ رُؤَسَاءَ خزاعة الَّذِينَ وَلَّوْا البَيْتَ بَعْدَ جَرِّهِمْ وَكَانَ أَوَّلُ مِنْ غَيْرِ دِينِ إِبْرَاهِيمَ الخليل، فَأَدْخَلَ الأَصْنَامَ إِلَى الحِجَازِ، وَدَعَا الرُّعَاعُ مِنْ النَّاسِ إِلَى عِبَادَتِهَا والتقرب بِهَا، وَشَرَّعَ لَهُمْ هَذِهِ الشَّرَائِعَ الجَاهِلِيَّةُ فِي الأنعام وَغَيْرِهَا

.
“Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuza’i merupakan salah satu pemimpin Khuza’ah yang memegang kekuasa’an atas Ka’bah setelah Kabilah Jurhum. Ia adalah orang yang pertama kali mengubah agama Ibrahim (atas bangsa Arab). Ia memasukkan berhala-berhala ke Hijaz, lalu menyeru kepada beberapa orang jahil untuk menyembahnya dan bertaqarrub dengannya, dan ia membuat beberapa ketentuan jahiliyyah ini bagi mereka yang berkena’an dengan binatang ternak dan lain-lain . .” (lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/148 QS. Al-Maidah ayat 103).
.
Itulah sejarah awal mulanya masyarakat Arab jahiliyah tersesat dari jalan yang benar.
.
۞ Kesesatan manusia dari masa ke masa
.
Manusia tersesat dari jalan yang lurus bukan saja terjadi pada zaman dahulu, namun tentunya akan terjadi pula sepanjang masa. Sebagaimana terjadi pada zaman kita sekarang hidup. Ibadah-ibadah yang tidak diajarkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya sa’at ini begitu marak dan digemari oleh manusia. Mereka menganggap apa yang mereka lakoni sebagai ibadah yang akan mendatangkan kecinta’an Allah Ta’ala. Sebagian dari mereka ada yang menyadari bahwa ibadah-ibadah yang mereka jalani adalah amalan-amalan baru yang dibuat-buat namun mereka meyakininya sebagai amalan baru yang baik (bid’ah hasanah).
.
Lalu siapa yang menyeru mereka kepada ajaran-ajaran baru (bid’ah) pada sa’at ini ?
.
Tentu saja para pemuka mereka yang mereka pandang sebagai ‘ulama’ yang memiliki kelebihan ilmu dibanding mereka dan juga dianggap sebagai orang salih yang patut diikuti dan dibela ketika ada yang mengusiknya. Sehingga tidak mengherankan apabila sa’at ini, para penyesat umat diagungkan sebagaimana manusia setengah dewa yang dipercaya pasti selalu benar tidak mungkin salah.
.
۞ Pennyesalan orang-orang yang disesatkan para penyesat umat di akhirat kelak
.
Sungguh malang orang-orang yang memuja manusia, mereka menjadikan seorang manusia seolah-olah malaikat bahkan tuhan, tidak boleh dikritisi apalagi dibantah, segala yang dikatakannya seolah-olah wahyu yang turun dari langit, selalu dibenarkan dan diikuti. Padahal tidak ada seorang manusiapun yang ma’sum, siapa dan sehebat apapun seorang manusia tetaplah manusia, bisa salah dan keliru.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون

.
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat”. (Shahih Jami’us Shaghir 4391).
.
Dari hadits diatas maka kita mendapatkan penjelasan bahwa tidak ada seorangpun manusia yang akan luput dari salah, apakah perkata’an atau perbuatannya. Maka tidak selayaknya kita taqlid kepada siapapun.
.
Seorang Muslim yang sebenarnya, bukanlah seorang yang selalu mengikuti perkata’an siapapun dan apapun yang dilakukannya tanpa peduli apakah sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulnya.
.
Ketika seorang yang dipandang alim, fakih, luas ilmunya, kemudian ditokohkan dan dipuja, padahal sesungguhnya dia penyesat umat. Sungguh di akhirat dia tidak bisa menolong orang yang mengikutinya. Bahkan dia sendiri tidak akan mampu melepaskan dirinya dari adzab Allah Ta’ala yang harus ditanggungnya.
.
Maka tinggallah seorang muqallid (tukang ikut-ikutan) meratapi dan menyesali dirinya.
.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
.

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا (-) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا (-) رَبَّنَا آَتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا (-)

.
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata : ‘ALANGKAH BAIKNYA, SEANDAINYA (DAHULU) KAMI TA’AT KEPADA ALLAH DAN TA’AT (PULA) KEPADA RASUL. Dan mereka berkata: ‘YA RABB KAMI, SESUNGGUHNYA KAMI TELAH MENTA’ATI PEMIMPIN-PEMIMPIN DAN PEMBESAR-PEMBESAR KAMI, LALU MEREKA MENYESATKAN KAMI DARI (JALAN YANG BENAR). YA RABB KAMI, TIMPAKANLAH KEPADA MEREKA ADZAB DUA KALI LIPAT DAN KUTUKLAH MEREKA DENGAN KUTUKAN YANG BESAR”. (QS. Al-Ahzab: 66-68).
.
Ayat diatas bukan saja ditujukan kepada orang-orang kafir, tetapi juga kepada siapa saja yang memiliki sifat seperti orang kafir yang disebutkan di ayat tersebut.
.
Imam Ibnu Katsir rahimahullahu Ta’ala berkata, “Ayat ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, ‘Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya (yakni menyesali perbuatannya), seraya berkata : ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul’. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika Al-Quran itu telah datang kepadaku dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia’.” (QS. Al-Furqan : 27-29). Yang dimaksud dengan ‘si fulan’ dalam ayat ini adalah syaitan atau para pemimpin mereka yang telah menyesatkan mereka. Yakni mereka akan berkata, ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami lebih memilih untuk mentaati para pemimpin dan pembesar kami dalam kesesatan ketimbang memilih untuk mentaati para Rasul-Mu dalam jalan hidayah dan keselamatan’.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/427).
.
Sungguh penyesalan yang tidak berguna. Tangisan, ratapan dan lolongan orang-orang yang di sesatkan para penyesat umat, tidak akan mengurangi adzab yang harus ditanggungnya.
.
Wal Iyadzu billlah.
.
با رك الله فيكم
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί (pecinta meong, pengamat aliran sesat).
.
Kunjungi blog pribadi di: https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam–sudah-sempurna
.
.
___________

MAULID NABI ADALAH BID’AH MENURUT IMAM ASY-SYATHIBI

MAULID NABI ADALAH BID’AH MENURUT IMAM ASY-SYATHIBI
.

Imam Abu Ishaq Asy-Syathibi rahimahullah (790 H) berkata tentang peringatan Maulid Nabi :

.

أما الأولى: وهي الوصية بالثلث ليوقف على إقامة ليلة النبيء صلى الله عليه وسلم، فمعلوم أن إقامة المولد على الوصف المعهود بين الناس بدعة محدثة، وكل بدعة ضلالة

.

(Suatu perkara) yang seharusnya diketahui : “Bahwa pelaksanaan acara maulid dengan cara yang biasa dilakukan oleh masyarakat adalah perbuatan bid’ah muhdatsah (perkara bid’ah yang diada-adakan dalam agama). Padahal bid’ah itu semuanya sesat”. (Fatawa As-Syatiby, hlm. 203).

.

Penjelasan Imam Asy-Syathibi rahimahullah diatas, terkait pertanya’an yang menanyakan wasiat harta untuk diinfakkan guna memperingati Maulid Nabi.

.

Imam Asy-Syathibi rahimahullah menjawab :

.

فالإنفاق على إقامة البدعة لا يجوز والوصية به غير نافذة بل يجب على القاضي فسخه. ورُدَّ الثلث إلى البورثة يقتسمونه فيما بينهم …”

.

“Oleh karena itu, menginfakkan harta untuk pelaksanaan acara bid’ah tidak diperbolehkan. Sehingga wasiat untuk acara itu tidak perlu ditunaikan. Bahkan hakim (yang berwenang) wajib membatalkan wasiat tersebut. Serta mengembalikan sepertiga harta itu kepada ahli waris agar dibagikan diantara mereka…”.

.

❁ Profil Imam Imam Asy-Syathibi

.

Siapakh Imam As-Syatibhi ?

.

Imam As-Sytibhi (wafat 790 H / 1388 M), adalah seorang Ulama ahlu sunnah, yang keilmuannya diakui oleh seluruh umat Islam di dunia.

.

Imam Asy Sytibhi juga dikenal sebagai seorang pakar atau ahlinya dalam gramatika bahasa arab (nahwu). Beliau menulis kitab-kitab tentang ilmu nahwu dan sharf, ini sebagai bukti bahwa Imam Asy Sytibhi ahlinya dalam ilmu tata bahasa arab nahwu dan sharf.

.

Kitab-kitab nahwu sharf yang beliau tulis adalah :

.

• Al-Maqashid al-Syafiyah fi Syarhi Khulashoh al-Kafiyah, kitab bahasa tentang Ilmu nahwu yang merupakan syarah dari Alfiyah Ibnu Malik.

.

• Unwan al-Ittifaq fi ‘ilm al-isytiqaq, kitab bahasa tentang Ilmu sharf dan Fiqh Lughah.

.

• Ushul al-Nahw, kitab bahasa yang membahas tentang Qawaid Lughah dalam Ilmu sharf dan Ilmu nahwu.

.

Kitab karya Imam Asy Syatibhi terkenal lainnya adalah :

.

• Al-I’tisham, kitab manhaj yang menerangkan tentang bid’ah dan seluk beluknya.

.

Semua karya tulis yang di buat oleh Imam Asy Sytibhi menunjukkan bahwa Imam Asy Sytibhi sebagai seorang Ulama yang luas dan dalam keilmuannya. Dan memang Kredibibilitas Imam Asy Sytibhi sebagai Ulama diakui oleh dunia Islam.

.
.
_______________

BERSIKAP LEMAH LEMBUT TERHADAP SESAMA AHLI SUNNAH

BERSIKAP LEMAH LEMBUT TERHADAP SESAMA AHLI SUNNAH
.
Hasan al-Bashrî rahimahullåhu berkata :
.
يا أهل السنة ترفقوا رحمكم الله فإنكم من أقل الناس
.
“Wahai Ahlus Sunnah, bersikap lembutlah semoga Allåh merahmati kalian, karena sesungguhnya kalian adalah kaum yang paling minoritas”. (Syarh al-Ushůl karya al-Lålikă’î, I/63).
.
Sufyan ats-Tsaurî rahimahullåhu berkata :
.
استوصوا بأهل السنة خيراً فإنهم غرباء
.
“Saling berwasiatlah kalian dengan Ahlus sunnah karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang asing (ghurobå)”. (Syarh al-Ushůl, I/71).
.
Ayyub As-Sukhtiyånî rahimahullåhu berkata :
.
إني أخبر بموت الرجل من أهل السنة فكأني أفقد بعض أعضائي
.
“Sesungguhnya aku diinformasikan tentang wafatnya seorang dari Ahlus Sunnah, maka saya merasa seakan-akan kehilangan salah satu anggota tubuhku”. (Syarh al-Ushůl, 1/66).
.
Imam Sufyan ats-Tsaurî pernah ditanya,
.
ما ماء العيش ؟
.
Apa itu air kehidupan ?
.
Imam Sufyan ats-Tsaurî menjawab :
.
لقاء الإخوان
.
‘Bertemu dengan saudara (Ahlus sunnah)”. (Raudhatul Uqolå wa Nuzhatul Fudholå, 93).
.
.
_____________________

NABI PUN DAHULU DI TUDUH PEMECAH BELAH

NABI PUN DAHULU DI TUDUH PEMECAH BELAH
.
Seringkali orang yang menyeru umat untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni dan meninggalkan segala macam amalan-amalan bid’ah juga tradisi nenek moyang yang bertentangan dengan ajaran Islam sering dituduh sebagai pihak yang merusak kerukunan dan persatuan (pemecah belah) umat.
.
Tuduhan pemecah belah dan meruntuhkan persaudaraan itu, ternyata juga pernah dialamatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika pada masa dahulu menyeru umat untuk kembali kepada ajaran Tauhid yang benar yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan meninggalkan tradisi jahiliyah yang bertentangan dengan ajaran Tauhid.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dituduh merusak persatuan dan pemecah belah bisa kita ketahui dari riwayat ketika masuk Islamnya kepala kabilah Daus yaitu Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi, yang satu kabilah dengan Abu Hurairah, seorang Sahabat Nabi yang terkenal. Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi adalah salah seorang pemuka bangsa Arab yang memiliki kedudukan tinggi. Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi juga dikenal sebagai seorang sastrawan cerdik lagi ulung.
.
Dalam sebuah riwayat di sebutkan, Ath-Thufail meninggalkan kampung halamannya di Tihamah menuju Mekah yang pada saat itu di Mekah sedang terjadi pertentangan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan orang-orang kafir Quraisy yang menolak dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Ketika Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi sampai di Mekah, ia ditemui dan disambut dengan sangat baik dan disediakan tempat singgah yang terbagus oleh para pemuka dan pembesar bangsa Qurais.
.
Dan kepada Ath-Thufail bin Amru Ad-Dausi mereka berkata : “Wahai Thufail, sesungguhnya kamu telah datang ke negeri kami, dan laki-laki yang menyatakan dirinya sebagai Nabi itu telah mencela-cela urusan (peribadatan) kami DAN MEMECAH-BELAH PERSATUAN KAMI, SERTA MENCERAI-BERAIKAN PERSAUDARAAN KAMI. Kami khawatir apa yang menimpa kami ini akan menimpamu sehingga mengancam kepemimpinanmu atas kaummu. Oleh karena itu, jangan berbicara dengan laki-laki itu, jangan mendengar apa pun darinya, karena dia mempunyai kata-kata seperti sihir, memisahkan seorang anak dari bapaknya, seorang saudara dari saudaranya, seorang istri dari suaminya”.
.
Itulah kata-kata yang disampaikan para pembesar kafir Qurais kepada Ath-Thufail bin Amru Ad-Dausi. Namun ternyata Ath-Thufail bin Amru Ad-Dausi malah tertarik oleh dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu masuk Islam.
.
Kalau kita perhatikan kata-kata para pembesar kafir Qurais yang merasa terusik oleh dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menuduh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemecah belah persatuan dan mencerai beraikan persaudaraan tersebut, ternyata sama persis dengan tuduhan orang-orang yang menyimpang dan sesat sa’at ini yang merasa terusik amalan-amalan bid’ah mereka yang menuduh para penyeru umat untuk kembali kepada kemurnian Islam dan meninggalkan segalam macam bid’ah dalam urusan ibadah.
.
Mengapa para penyeru umat untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni sa’at ini mendapatkan perlakuan dan tuduhan yang sama dengan yang didapatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ?
.
Jawabannya :
.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata : “Siapa saja yang mengikuti para Nabi, maka akan mendapatkan seperti yang didapat oleh para Nabi”.
.
Semoga kita berada dalam barisan para Nabi dan Rasul, bukan berada dalam barisan Abu Jahal dan Abu Lahab walaupun konsekuensinya mendapatkan tuduhan pemecah belah umat, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dahulu dituduh pemecah belah.
.
SIAPA SESUNGGUHNYA PEMECAH BELAH UMAT ?
.
Sangat memprihatinkan perselisihan terjadi diantara umat Islam, yang seolah-olah mereka tidak akan bisa dipersatukan. Padahal kiblat mereka sama, Nabinya sama yang di ibadahi juga sama, yaitu Allah Ta’ala.
.
Apa yang menjadikan umat Islam terus berselisih ?
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَلَا تَتَّبِعُوۡا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ وَصّٰٮكُمۡ بِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ‏
.
“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain karena itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS.Al-An’am, 153).
.
Yang dimaksud jalan-jalan lain dalam ayat diatas yaitu, macam-macam bid’ah dan syubhat. Sebagaimana diterangkan oleh Imam Mujahid rahimahullah dalam tafsirnya, Beliau berkata : “Jalan-jalan dengan aneka macam bid’ah dan syubhat”. (Jami’ul Bayan V/88).
.
Setelah menyebutkan beberapa dalil-dalil bahwa bid’ah adalah pemecah belah ummat, Imam Asy-Syatibi rahimahullaahu ta’ala berkata : “Semua bukti dan dalil ini menunjukan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan.” (Al- I’tisham,I/157).
.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala pernah berkata : “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.” (al-Istiqamah, I/42).
.
Dari keterangan para Ulama diatas, maka jelaslah sesungguhnya terjadinya perselisihan sehingga umat terpecah belah dan saling bermusuhan adalah diakibatkan adanya orang-orang yang membuat bid’ah ditengah-tengah umat.
.
Apabila tidak ada yang membuat-buat perkara baru dalam agama (bid’ah), maka niscaya umat Islam pun akan utuh dalam persatuan diatas kemurnian Islam berdasarkan petunjuk Allah Ta’ala dan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
با رك الله فيكم
.
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏Mąŋţяί
.
.
Bid’ah hasanah yang di maksud Imam Syafi’i, silahkan baca di sini : https://agussantosa39.wordpress.com/category/11-bidah-hasanah/01-bidah-hasanah-yang-di-maksud-imam-syafii
.
– Bid’ah hasanah yang di maksud Umar bin Khatab, silahkan baca di sini : https://agussantosa39.wordpress.com/category/11-bidah-hasanah/02-memahami-perkataan-umar-bin-khatab
.
_______________

UMAT ISLAM AKAN MENGIKUTI JEJAK YAHUDI DAN NASRANI HINGGA MASUK LUBANG BIAWAK SEKALIPUN

UMAT ISLAM AKAN MENGIKUTI JEJAK YAHUDI DAN NASRANI HINGGA MASUK LUBANG BIAWAK SEKALIPUN
.
Kaum Yahudi dan kaum Nasrani adalah kaum yang di murkai oleh Allah Ta’ala dan kaum yang sesat. Sebagaimana Allah Ta’ala terangkan di dalam Al-Qur’an.
.
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ
.
“Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (QS. Al-Fatihah: 7).
.
Yang dimaksud ayat di atas adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebagaimana di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,
.
إن الْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمُ الْيَهُودُ وَإِنَّ الضَّالِّينَ النَّصَارَى
.
“Sesungguhnya orang-orang yang dimurkai itu adalah orang-orang Yahudi, dan sesungguhnya orang-orang yang sesat itu adalah orang-orang Nasrani”. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Fatihah, 7).
.
Dalam sejarah Islam di ketahui bahwa kaum Yahudi sangat memusuhi umat Islam, dan rasa permusuhan mereka Allah Ta’ala sebutkan dalam Firman-Nya,
.
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
.
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”. (QS. Al-Maidah: 82).
.
Begitu pula kaum Nasrani, mereka memiliki rasa permusuhan dan perasa’an tidak senang terhadap umat Islam. Sikap mereka demikian Allah Ta’ala sebutkan dalam Firman-Nya,
.
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
.
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka”. (QS. Al-Baqarah, 120).
.
Permusuhan dan makar kaum Yahudi dan juga kaum Nasrani begitu panjang tercatat dalam sejarah Islam. Semenjak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru manusia untuk kembali mentauhidkan Allah Ta’ala, tidak henti-hentinya makar kaum Yahudi dan Nasrani ditujukan kepada kaum muslimin hingga sampai sa’at ini.
.
Kaum Yahudi dan kaum Nasrani akan senang kepada umat Islam apabila kita mengikuti mereka, sebagaimana disebutkan dalam penghujung ayat di atas,
.
حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
.
“Hingga kamu mengikuti agama mereka”.
.
Mengikuti jejak langkah mereka maka sama artinya kita membenarkan kesesatan mereka, padahal karena kesesatan mereka itulah yang menjadikan mereka mendapatkan murka Allah Ta’ala.
.
Allah Ta’ala juga mengancam kepada orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka, tidak akan mendapatkan perlindungan dan pertolongannya,
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ
.
“Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. Al-Baqarah: 120).
.
Imam Ibnu Katsir terkait ayat di atas mengatakan, Di dalam ayat ini terkandung makna ancaman dan peringatan yang keras bagi umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar mereka jangan sekali-kali mengikuti jalan-jalan kaum Yahudi dan kaum Nasrani, sesudah mereka mempunyai pengetahuan dari Al-Qur’an dan sunnah, na’uzubillah min zalik. Khitab ayat ini ditujukan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi perintahnya ditujukan kepada umatnya.
.
Allah Ta’ala mengancam tidak akan memberikan pertolongan dan bantuannya kepada orang-orang yang mengikuti jejak langkah kaum Yahudi dan Nasrani.
.
Namun ternyata banyak umat Islam yang tidak menghiraukan ancaman Allah Ta’ala tersebut. Banyak dari umat Islam yang secara tidak sadar telah mengikuti jejak langkah mereka. Mengikuti jejak langkah (agama) mereka bukan berarti kaum muslimin keluar (murtad) dari agama Islam, lalu masuk ke dalam agama mereka, namun pengertiannya adalah mengikuti perilaku mereka.
.
Berikut ini diantara beberapa perilaku kaum Yahudi dan kaum Nasrani yang diikuti oleh sebagian umat Islam,
.
๏ Beribadah dengan alat musik
.
Dalam kitab “Perjanjian Lama” milik kaum Yahudi disebutkan, “Biarkan orang-orang zionis bergembira dengan kekuasan mereka. Hendaklah mereka memuji-Nya dengan bergoyang dan memukul rebana …Haliluyaa… pujilah Tuhan dalam kesuciannya. Pujilah Dia dengan gambus dan kecapi. Pujilah Dia dengan memukul rebana dan bergoyang. Pujilah Dia dengan gitar dan seruling. Pujilah Dia dengan berbagai warna sorak-sorai”. (Mazmûr, hlm. 149-150).
.
Cara-cara peribadahan kaum Yahudi di atas ternyata diikuti oleh kaum Sufi. Dalam ajaran sufi ada berbagai acara yang mereka anggap ibadah yang pelaksanaannya sama persis dengan cara beribadah orang-orang Yahudi yang kita sebutkan di atas. Ada acara bid’ah kaum Sufi yang disebut dengan zikir jamâ’i, duba’an, rajaban, manaqiban, salawatan dan maulidan.
.
Dalam acara-cara tersebut digunakan juga alat-alat pujian yang digunakan oleh orang-orang Yahudi dalam ibadah mereka. Seperti gambus, rebana, kadang-kadang dilengkapi dengan guitar dan seruling sambil berteriak-teriak dalam mengucapkan kalimat-kalimat pujian kepada Allâh Ta’âla dan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
.
Silakan dilihat peribadahan orang-orang Sufi yang mengikuti ajaran kaum Yahudi di bawah ini,
.
Tari Sufi full musik: https://youtu.be/u28vrj-zEh0
.
Tarekat hulahup kaum Sufi:

.
Tarekat disco ahli bid’ah : https://youtu.be/pYLvgnUcQFA
.
Dzikir model dangdutan kaum Sufi: https://youtu.be/rCRbHvDcRK8
.
Yahana vs Yahudi: https://youtu.be/OYGor7wlvIQ
.
๏ Menggoyang-goyangkan kepala ketika beribadah
.
Disebutkan, diantara sebab muasal penamaan pengikut nabi Musa ’alaihissalam dari orang-orang Bani Israil dinamakan Yahudi adalah karena kebiasaan mereka ketika membaca Taurat mengangguk-anggukkan kepala. Hal ini dapat kita saksikan sendiri bagaimana orang-orang Yahudi ketika beribadah di depan Dinding Ratapan (tempat ibadah mereka) yang terdapat di masjid Aqsha.
.
Abu Bakar Tharthûsy mengatakan : “Bergoyang dalam berzikir dan berusaha agar pingsan, yang pertama sekali melakukannya adalah pengikut Samiri ketika mengajak mereka untuk menyembah ‘Ijil (anak sapi). Mereka bergoyang-goyang disekelilingnya dan pura-pura pingsan. Maka ia adalah agama para penyembah ‘Ijil. Barangsiapa menyerupai mereka berarti mereka termasuk golongan mereka”. (Tahrîmus Samâ’, hlm. 269-270, Tafsîr Qurtubi,10/366, 11/238).
.
Perilaku kaum Yahudi yang menggoyang-goyangkan kepala sa’at ibadah juga diikuti oleh kaum Sufi. Kebanyakan kaum Sufi ketika berzikir kepalanya digoyang kekanan dan kekiri. Bahkan ada yang benar-benar bergoyang sambil berdiri seperti dalam acara-acara sepesial mereka. Perbuatan tersebut mereka anggap sebagai ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allâh Ta’âla.
.
Itulah perilaku sebagian dari umat Islam yang mengikuti jejak langkah kaum Yahudi.
.
Selain mengikuti jejak langkah kaum Yahudi, orang-orang Sufi juga mengikuti jejak langkah kaum Nasrani.
.
Berikut ini diantarannya,
.
๏ Tarbiyah Ruhiyah
.
Diantara ajaran kaum Nasrani yang di adopsi oleh orang-orang Sufi diantaranya adalah Tarbiyah Ruhiyah.
.
Dalam agama Nasrani tarbiyah ruhiyah dilakukan dengan beberapa bentuk. Mulai dari menghindari segala kenikmatan dunia, seperti tidak mengkosumsi sesuatu yang enak dan lezat, tidak memakai pakaian bagus, menjauhi pernikahan sampai pada tinggkat bersemedi di gua-gua. Sa’at mereka menganggap telah mencapai puncak kesucian jiwa, mereka meyakini bahwa Zat Allâh Ta’âla menyatu dengan diri mereka. Yang mereka sebut dengan istilah : Menyatunya Lahût dengan Nasût. Hal serupa juga ditiru oleh orang-orang sufi dalam mentarbiyah dirinya untuk mencapai tingkat hakikat.
.
Tokoh Sufi Abu Tolib al-Makki menyatakan, terdapat empat perkara yang dapat membantu murid melaksanakan pembersihan hati iaitu: Berlapar, berjaga malam, berdiam diri (tidak bercakap), dan bersunyian diri (Khalwat/Uzlah). [Qutul Qulub, 1/132].
.
๏ Tidak menikah
.
Ajaran kaum Nasrani lainnya yang di adopsi oleh sebagian kaum Sufi adalah tidak menikah dengan alasan agar lebih fokus beribadah demi mendapatkan surga.
.
Ajaran kaum Nasrani ini terdapat dalam Injil Matius fasal 19 ayat 12, yang berbunyi : “Ada orang yang tidak kawin,… ia membuat dirinya demikian karena keraja’an surga. Barangsiapa yang dapat melakukan maka hendaklah ia melakukannya”. Dalam surat Paulus kepada penduduk Karnitus fasal 7 ayat 1, berbunyi : “Sangat baik bagi seorang lelaki untuk tidak menyentuh wanita”.
.
Berkata salah seorang tokoh sufi, Abu Sulaiman al-Darani : “Tiga perkara yang jika seseorang lakukan maka dia telah cenderung kepada dunia ; Mencari rezeki, menikah dan menulis hadits”. (Ihya’ Uludmuddin, 1/379).
.
Jika dibandingkan apa yang diajarkan oleh tokoh-tokoh Sufi di atas dengan apa yang terdapat dalam ajaran Nasrani ternyata tidak jauh berbeda. Dan sebetulnya memang kaum Sufi mengikuti ajaran mereka.
.
Perilaku lainnya dari kaum Nasrani yang diikuti oleh sebagian umat Islam diantaranya, peringatan bid’ah Maulid Nabi, yaitu memperingati kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal ini sama dengan peraya’an Natal, yaitu peraya’an kelahiran Yesus Kristus.
.
Perilaku lainnya dari kaum Nasrani yang diikuti sebagian umat Islam adalah peringatan Kenaikan Isa Al Masih, Naiknya Tuhan Yesus Kristus ke langit. Sebagian umat Islam pun ada yang ikut-ikutan membuat peringatan seperti itu, yaitu peringatan Isra’ Mi’raj, naiknya Nabi Muhammad ke langit.
.
Perilaku lainnya dari kaum Nasrani yang di ikuti sebagian umat Islam adalah peraya’an Tahun Baru Masehi, sebagian dari umat Islam pun ada yang membuat peraya’an bid’ah Tahun Baru Hijriyah.
.
Itulah beberapa perilaku sesat kaum Yahudi dan Nasrani yang di ikuti oleh sebagian umat Islam. Dan masih banyak lagi perilaku mereka yang diikuti.
.
Benarlah apa yang di sabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ
.
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya”. Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani ?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi ?”. (HR. Muslim no. 2669).
.
Ibnu Taimiyah menjelaskan, tidak diragukan lagi bahwa umat Islam ada yang kelak akan mengikuti jejak Yahudi dan Nashrani dalam sebagian perkara. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 27: 286.
.
Syaikhul Islam menerangkan pula bahwa dalam shalat ketika membaca Al Fatihah kita selalu meminta pada Allah agar diselamatkan dari jalan orang yang dimurkai dan sesat yaitu jalannya Yahudi dan Nashrani. Dan sebagian umat Islam ada yang sudah terjerumus mengikuti jejak kedua golongan tersebut. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 1: 65.
.
Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziroo’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal-hal kekafiran mereka yang diikuti. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini”. (Syarh Muslim, 16: 219).
.
با رك الله فيكم
.
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί (pecinta meong dan dan pengamat aliran menyimpang dan sesat).
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam–sudah-sempurna/
.
.
________

SEGALA YANG BAIK SUDAH DI AJARKAN NABI

SEGALA YANG BAIK SUDAH DI AJARKAN NABI
.
Oleh : Ikhwan pecinta meong.
.
Ahli bid’ah sepertinya tidak pernah merasa puas dengan amalan-amalan yang sudah di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga mereka banyak membuat cara-cara baru dalam urusan ibadah (bid’ah) yang menurut hawa nafsu mereka baik.
.
Padahal seandainya mereka benar-benar mau mendapatkan kebaikan (pahala), seharusnya mencukupkan diri dengan yang sudah di ajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengajarkan semuanya.
.
Sebagaimana di sabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
.
إنَّهُ لَمْ يَكُن نَبِيٌّ قَبْلِي إلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ
.
“Sungguh tidak ada satupun Nabi sebelumku, melainkan ia pasti menunjukkan (mengajarkan) kepada umatnya segala bentuk kebaikan yang ia ketahui, dan memperingatkan umatnya dari segala macam keburukan yang ia ketahui”. (Shahih Muslim: 1844).
.
Hadits di atas sebagai petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa segala yang baik sudah di ajarkan kepada umatnya.
.
Seandainya ahli bid’ah faham dengan hadits Nabi di atas, maka seharusnya mereka tidak perlu lagi membuat-buat bid’ah yang akan menjadikan mereka tersesat dan mendapatkan adzab Allah Ta’ala di akhirat nanti.
.
Lalu untuk apa mereka berbuat bid’ah, perkara yang buruk, padahal segala yang baik sudah di ajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ?
.
Apakah ahli bid’ah sudah mengamalkan segala bentuk kebaikan yang di ajarkan Nabi, dan merasa masih kurang ?
.
Sehingga mereka membuat-buat lagi ajaran atau amalan-amalan baru yang tidak di contohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
با رك الله فيكم
.
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏Mąŋţяί
.
.
– Bid’ah hasanah yang di maksud Imam Syafi’i silahkan baca di sini : https://agussantosa39.wordpress.com/category/11-bidah-hasanah/01-bidah-hasanah-yang-di-maksud-imam-syafii/
.
– Bid’ah hasanah yang di maksud Umar bin Khatab silahkan baca di sini : https://agussantosa39.wordpress.com/category/11-bidah-hasanah/02-memahami-perkataan-umar-bin-khatab/
.
.
___________