TABAYYUN DAN TATSABUT

TABAYYUN DAN TATSABUT

Mencari kebenaran dari berita-berita yang sampai kepada kita, baik berita yang sampai dari mulut ke mulut atau berita dari media informasi sangatlah penting. Terlebih lagi di zaman penuh fitnah ini.

Fitnah, hasutan begitu mudah sampai ke tengah-tengah umat, akibat kecanggihan teknologi media informasi dan komunikasi.

Dan banyak dari manusia begitu mudah menelan mentah-mentah informasi, kabar, berita yang sampai kepada mereka tanpa mencari kebenarannya.

Sehingga tumbuh dan berkembang permusuhan diantara umat. Para Ulama di hinakan, di jadikan bahan olok-olokkan, golongan atau kelompok lain di jauhi di tahjir dan di musuhi diantaranya akibat dari kabar-kabar yang tidak benar.

Sa’at ini begitu mudah fitnah dan hasutan di lontarkan pihak-pihak tertentu yang tidak menghendaki kerukunan terbangun diantara sesama umat Islam. Yang ironis banyak dari kaum Muslimin mengambil informasi dari orang-orang kafir. Yang hakekatnya mereka selalu memusuhi umat Islam.

Syaikh Muhamad Al ‘Aqil hafizhahullah berkata : “Diantara keanehan keada’an umat di zaman ini, yaitu bahwa orang-orang yang menukil berita dan segera menyebarkannya tidak dapat membedakan siapa yang membawa berita itu. Engkau lihat ia meriwayatkan berita dari majalah atau media milik orang-orang kafir dan menjadikannya sebagai kabar yang menghasilkan keyakinan. Dengan itu ia membangun di atasnya masalah-masalah yang berbahaya yang berhubungan dengan mashlahat umat. APAKAH MEREKA TIDAK MENGETAHUI BAHWA ORANG KAFIR TIDAK LAYAK DIJADIKAN SEBAGAI RUJUKAN DALAM MENERIMA BERITA. Tidakkah mereka tahu bahwa orang-orang kafir itu menyebarkan kabar-kabar tersebut untuk memporak-porandakan barisan kaum muslimin dan menebarkan ketakutan, kelemahan, dan keraguan kepada umat ?!” (Al Fitnah, Hal. 75).

Pertikaian dan permusuhan bukan saja antara Muslim dengan kafir. Ahlu Sunnah dengan ahlu bid’ah. Bahkan juga terjadi diantara sesama ahlu Sunnah.

Banyak penyebabnya yang menjadikan sebuah informasi, kabar dan berita melahirkan pertikaian dan berujung jadi permusuhan. Diantaranya ; gagal faham menyerap informasi, fanatisme golongan, tuduhan serampangan, kedengkian dan rasa permusuhan, tergesa-gesa mengambil kesimpulan dan tidak mencari kejelasan.

Supaya tidak termakan hasutan, fitnah, provokasi dan kabar yang tidak benar, seorang Muslim hendaknya teliti dan tidak tergesa-gesa membuat kesimpulan. Dan pastikan kejelasannya dari kabar-kabar yang sampai kepadanya.

Allah Ta’ala berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوْا أَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلىَ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian orang fasiq dengan membawa berita, maka periksalah dahulu dengan teliti, agar kalian tidak menuduh suatu kaum dengan kebodohan, lalu kalian menyesal akibat perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al Hujurat : 6).

Kabar yang sampai kepada kita, belum tentu dijamin kebenarannya. maka seharusnya kita Tabayyun dan Tatsabut.

Apakah Tabayyun dan Tatsabbut ?

Imam Asy Syaukani rahimahullah berkata ; “Yang dimaksud dengan tabayyun adalah memeriksa dengan teliti dan yang dimaksud dengan tatsabbut adalah berhati-hati dan tidak tergesa-gesa, melihat dengan keilmuan yang dalam terhadap sebuah peristiwa dan kabar yang datang, sampai menjadi jelas dan terang baginya.” (Fathul Qadir, 5:65)

Orang fasiq yang disebutkan di dalam ayat diatas, adalah kefasikan kecil, yaitu orang-orang yang suka melakukan dosa besar tetapi tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam. Seperti suka berbohong, mengadu domba dan memutuskan perkara tanpa melakukan tabayyun (meneliti kebenarannya).

Tidak Tabayyun, memeriksa dengan teliti untuk mencari kebenarannya dari berita yang sampai kepada kita juga Tatsabbut, tergesa-gesa menerima sebuah informasi. Dapat meruntuhkan persaudara’an diantara sesama umat Islam. Sehingga akan saling menjauhi dan saling mentahjir (memboikot). Dan parahnya akan menolak seruan, nasehat, keterangan dan pelajaran dari orang atau pihak yang sudah kita tuduh melakukan kesalahan.

Jika demikian, maka akan mendatangkan kerugian dan penyesalan kelak.

فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Kemudian kalian menyesal atas perlakuan kalian”.

Allah Ta’ala menyebutkan penyesalan ini akan menimpa seseorang yang salah dalam membuat tuduhan karena tanpa tabayyun kepada orang atau pihak yang dituduh. Dan apabila tuduhannya tersebut keliru, maka artinya dia telah membuat kedzaliman.

Padahal Rasulullah bersabda :

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

“Dan hindarilah do’a orang yang terzhalimi. Sesungguh-nya tidak ada tabir penghalang antara do’a orang yang terzhalimi dengan Allah”. (Shahîh al-Bukhâri, al-Mazhâlim (9, 3/99).

Bijaksanalah dalam menerima kabar atau tuduhan yang di alamatkan kepada sesama umat Islam. Perhatikan bantahan dan kejelasan dari orang atau pihak yang tertuduh. Supaya kita tidak menyesal pada akhirnya.

Semoga kita dihjauhkan dari fitnah dan kabar-kabar yang tidak benar.

الله المستعان

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

===================

Iklan