HAKIKAT CINTA KEPADA ALLAH TA’ALA

HAKIKAT CINTA KEPADA ALLAH TA’ALA

Cinta . . .

Sebuah kalimat yang tidak terlalu panjang untuk di tulis dan diucapkan.

Dengan cinta manusia memiliki gairah ketika dia dituntut untuk menunjukkan cintanya walaupun segala rintangan, kepayahan bahkan harta dan nyawa sekalipun akan dikorbankan.

Beragam expresi ditunjukkan untuk orang yang dicintainya, tapi expresi yang benar adalah mengikuti apa yang diharapkan dan disukai oleh orang yang dicintainya, bukan malah mengabaikan perminta’annya apalagi sampai menentang, membangkang dan menyelisihinya. Jika demikian maka cinta yang diucapkannya adalah palsu atau cinta penuh dusta.

Seluruh umat Islam sudah pasti mencintai Allah Ta’ala, karena Allah kita hidup dan menikmati kehidupan. Dan nikmat yang paling besar adalah hidayah Islam yang tidak semua manusia memperolehnya.

Mencintai Allah Subhaanahu wa Ta’ala sebagai bentuk keimanan kepada risalah yang dibawa oleh Rasulullah.

• Bagaimana cara mencintai Allah ?

Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah memberikan petunjuk kepada umat Islam bagaimana caranya merefleksikan cintanya tersebut.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk) ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (Qs. Ali ‘Imran: 31).

Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat tersebut berkata : “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tidak mengikuti jalan (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia adalah orang yang berdusta dalam pengakuan tersebut dalam masalah ini, sampai dia mau mengikuti syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keada’annya.” [Tafsir Ibnu Katsir (1/477)].

Berdasarkan keterangan Imam Ibnu Katsir diatas, maka sebagai bukti mencintai Allah Ta’ala adalah : Mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Tidak menyelisihinya apalagi menentangnya.

• Sudahkah kita mencintai Allah ?

Perlu dipertanyakan kepada diri kita masing-masing, apakah kita sudah mencintai Allah atau bahkan sebaliknya.

Seberapa besar kita mengikuti petunjuk Rasulullah atau mungkin kita selalu menyelisihi atau malah menentangnya ?

– Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Allah dan Rasulnya.

Allah Ta’ala berfirman :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59).

Tapi mereka malah mengembalikan kepada tokoh yang di pujanya atau kepada mazhab tertentu.

Itukah bukti cinta kita kepada Allah ?

– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Setiap / semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867).

Tapi mereka mengatakan : Tidak semua bid’ah sesat.

Itukah bukti cinta kita kepada Allah ?

– Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam berwasiat :

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

”. . Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).

Rasulullah berwasiat untuk hati-hati dari perkara baru (dalam urusan agama). Tapi mereka malah sangat gemar membuat perkara baru, seakan-akan syari’at Islam masih kurang.

Itukah bukti cinta kita kepada Allah ?

– Rasulullah memerintahkan kita untuk menjauhi firqoh manapun ketika banyak firqoh bermunculan, dan masing-masing kelompok membanggakan firqohnya.

Tapi mereka malah wala wal bara kepada salah satu firqoh, mencintai dan selalu membelanya seolah-olah paling benar paling murni.

Itukah bukti cinta kita kepada Allah ?

Cinta sejati tidak harus diucapkan tapi butuh pembuktian, buktikan kalau memang cinta dengan perbuatan yang sesuai kehendak dari yang dicintai.

”CINTA SEJATI BUKAN CINTA PALSU APALAGI PENUH KEDUSTA’AN”.

Barokallaahu fiikum

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

_______________________

Iklan