SANG PEMBAHARU DAN PEMURNI ISLAM KETURUNAN WALI SONGO DARI TANAH JAWA

SANG PEMBAHARU DAN PEMURNI ISLAM KETURUNAN WALI SONGO DARI TANAH JAWA
.
Oleh : Ikhwan pecinta meong
.
Pada abad ke 18, umat Islam di Nusantara khususnya di pulau jawa sudah tidak mengenal lagi ajaran Islam yang murni, mereka lebih akrab dengan tahayul dan khurofat, juga dengan aneka macam bid’ah dan kesyirikan. Ajaran Hindu dan Budha yang di Islamisasikan menjadi ritual yang tidak bisa di tinggalkan oleh umat Islam sa’at itu. Pengaruh animisme, dinamisme, kebatinan dan kejawen sangat kental di tengah-tengah kaum muslimin. Di lingkungan keraton, benda-benda-pusaka seperti keris, kereta kuda, tombak dan lainnya di sembah dan di keramatkan. Umat Islam sa’at itu mengalami keterbelakangan (dekadensi), kolot (ortodoks), tidak ada kemajuan (stagnan) dan kaku (statis).
.
Dalam kondisi umat Islam yang demikian, muncul di tengah-tengah umat Islam seorang Ulama besar Nusantara di zamannya. Dia adalah KH. Ahmad Dahlan.
.
• Putra Seorang Ulama
.
K.H. Ahmad Dahlan bernama kecil Muhammad Darwisy. Lahir di Yogyakarta pada tgl 1 Agustus thn 1868 dan wafat pada usia 54 tahun di Yogyakarta pada tgl 23 Februari thn 1923. Lahir dari keluarga Ulama. Ayahnya, KH Abu Bakar adalah seorang Ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta, dan ibunya, Nyai Abu Bakar adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.
.
• Keturunan Wali Songo
.
KH. Ahmad Dahlan termasuk keturunan kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa. (Kutojo dan Safwan, 1991).
.
Silsilah lengkapnya ialah ; Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH Abu Bakar bin KH Muhammad Sulaiman bin Kiyai Murtadla bin Kiyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlul’llah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).
.
• Guru-guru KH. Ahmad Dahlan
.
Sebagaimana anak seorang kyai pada masa itu pemuda Darwis juga menimba ilmu ke banyak kyai. Ia belajar ilmu fikih kepada KH Muhammad Shaleh, ilmu Nahwu-Sharaf (tata bahasa) kepada KH. Muhsin, ilmu falak (astronomi) kepada KH. Raden Dahlan, ilmu hadis kepada kyai Mahfud dan Syekh KH. Ayyat, ilmu Al Qur-an kepada Syekh Amin dan Sayid Bakri Satock, dan ilmu pengobatan dan racun binatang kepada Syekh Hasan.
.
Salah seorang guru KH. Ahmad Dahlan di Makkah adalah Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Yang juga gurunya Haji Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka) dan Syekh Muhammad Djamil Djambek. Keduanya pendiri gerakan “Kaoem Moeda” (kaum pembaharu) di Sumatra Barat. Haji Agus Salim yang menjadi wakil ketua Sarekat Islam dan Pembina Jong Islamieten Bond juga berguru pada Syekh Ahmad Khatib. Jadi seluruh gerakan pembaharu (reformis) Islam di Indonesia yang menjadi mainstream sumbernya satu yaitu Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang menjadi Imam Masjidil Haram di Mekkah.
.
Dan dari Syekh Ahmad Khatib inilah Dahlan berkenalan dengan pemikiran trio pembaharu dan Reformis Islam dari Timur Tengah yaitu Sayid Jamaluddin Al-Afghani, Syekh Muhammad Abduh, dan Syekh Muhammad Rasyid Ridha.
.
Akhirnya KH. Ahmad Dahlan membawa gerakan Reformasi itu ke Indonesia. Dalam mengintrodusir cita-cita reformasinya itu mulanya dengan mencoba mengubah arah kiblat di Masjid Sultan di Keraton Yogyakarta ke arah yang sebenarnya yaitu Barat Laut (sebelumnya ke Barat). Walaupun di tolak pihak keraton. Dahlan juga memperbaiki kondisi higienis di daerah Kauman bersama sahabat-sahabatnya.
.
• Naik Haji Pada Usia 15 Tahun dan Menuntut Ilmu di Makkah
.
Sejak kecil Muhammad Darwisy (KH. Ahmad Dahlan) diasuh dalam lingkungan pesantren, yang membekalinya pengetahuan agama dan bahasa Arab. Pada usia 15 tahun (1883), ia sudah menunaikan ibadah haji, yang kemudian dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah selama lima tahun.
.
• Berinteraksi Dengan Pembaharu Islam
.
KH. Ahmad Dahlan intens berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah. Interaksi dengan tokoh-tokoh Islam pembaharu itu sangat berpengaruh pada semangat, jiwa dan pemikiran Darwisy. Semangat, jiwa dan pemikiran itulah kemudian diwujudkannya dengan menampilkan corak keagamaan melalui Muhammadiyah, organisasi Islam yang di dirikannya.
.
• Di Angkat Menjadi Khatib
.
Setelah lima tahun belajar di Makkah, pada tahun 1888, saat berusia 20 tahun, Darwisy kembali ke kampungnya. Ia pun berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Lalu, ia pun diangkat menjadi Khatib Amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta.
.
• Di Musuhi Kaum Kolot (Ortodoks)
.
Mengembalikan umat Islam kepada ajaran Islam yang sebenarnya bukanlah perkara mudah, rintangan dan permusuhan dari orang-orang yang merasa terusik sudah menjadi sunnatullah, sebagaimana para Rasul dahulu ditentang dan diperangi oleh orang-orang sesat di zamannya. Begitu pula yang dihadapi oleh KH. Ahmad Dahlan. Karena gerakan reformasinya KH. Ahmad Dahlan sering diteror dan diancam akan dibunuh. Kediamannya dilempari batu dan kotoran binatang, tapi KH. Ahmad Dahlan maju terus pantang mundur.
.
Di awal berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan dianggap menyimpang oleh banyak orang yang merasa terusik keyakinannya. Sehingga KH. Ahmad Dahlan sering dijuluki sebagai Kiai Kafir, lantaran mendirikan Sekolahan Umum (yang dianggap berasal dari barat) dan merubah sistem Pendidikan Islam yang pada waktu itu identik dengan dunia Pesantren yang menggunakan metode pengajaran Sorogan, Bandongan atupun Wetonan (yaitu: Murid/Santri duduk melingkari Guru/Kiai yang duduk berada di tengah-tengahnya), menjadi sistem Klasikal Barat (yaitu: dengan menggunakan meja, kursi, dan papan tulis serta guru berdiri di depan untuk mengajar). Sistem pengajaran yang di terapkan KH. Ahmad Dahlan pada masa itu, dianggap asing bagi kalangan masyarakat santri, sehingga sistem Barat yang di terapkan KH. Ahmad Dahlan sering dikatakan sebagai Sekolah Kafir.
.
Namun aneh dan lucunya, kaum ortodoks yang mengejek dan memusuhi KH. Ahmad Dahlan ternyata mereka pun akhirnya mengikuti jejak KH. Ahmad Dahlan membentuk organisi Islam, begitu pula mengikuti jejak KH. Ahmad Dahlan dalam menerapkan sistem pendidikan yang menurut kaum kolot (ortodoks) sistem kafir.
.
• Di Ejek Guru Ngaji Kampungan (Ortodoks)
.
Suatu sa’at KH. Ahmad Dahlan kedatangan tamu seorang Guru Ngaji dari Magelang, yang mengejeknya dengan sebutan kiai kafir dan kiai palsu karena mengajar dengan menggunakan alat-alat sekolah seperti milik orang kafir. Karena ejekan guru ngaji tersebut, KH. Ahmad Dahlan bertanya,
.
“Ma’af saudara, saya ingin bertanya dulu. Saudara dari Magelang ke sini tadi berjalan kaki atau memakai kereta api ?”
.
“Pakai kereta api” Jawab guru ngaji.
.
“Kalau begitu, nanti Saudara pulang sebaiknya dengan berjalan kaki saja”. Ujar KH. Dahlan.
.
“Mengapa ?”. Tanya sang guru ngaji keheranan.
.
“Kalau saudara naik kereta api, bukankah itu perkakasnya orang kafir ?” Jawab KH. Ahmad Dahlan Telak.
.
“??????????????” Sang guru ngaji terbengong-bengong. Kemudian pergi tanpa pamit.
.
Demikianlah KH. Ahmad Dahlan dalam memberikan penjelasan kepada orang-orang yang meremehkan, mengejek dan memusuhinya.
.
Pada sa’at KH. Ahmad Dahlan melontarkan gagasan pendirian Muhammadiyah, ia mendapat tantangan bahkan fitnahan, tuduhan dan hasutan baik dari keluarga dekat maupun dari masyarakat sekitarnya. Ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.
.
• Di Ancam Akan Di Bunuh
.
Pada waktu berdakwah di Banyuwangi KH. Ahmad Dahlan diancam akan dibunuh karena tidak bersedia menjawab pertanya’an yang tidak ada hubungannya dengan Muhammadiyah. Para penantangnya berteriak-teriak, ”Dahlan kalah, Dahlan kyai palsu”.
.
KH. Ahmad Dahlan pun diancam akan dipancung dan isterinya akan dijadikan pelayan, kalau berani datang lagi ke Banyuwangi. Tapi KH. Ahmad Dahlan tidak gentar menghadapi tantangan orang-orang bodoh tersebut. Pada waktu yang sudah ditentukan beliau kembali ke Banyuwangi, walaupun teman-temannya meminta supaya niat itu dibatalkan. Polisi Banyuwangi pun menganjurkan agar kembali ke Yogya. KH. Ahmad Dahlan hanya menjawab, ”Kalau orang-orang yang durhaka sampai berani berbuat demikian, mengapa kita yang berkewajiban menyiarkan ajaran yang benar harus takut dan kurang berani ? Saya akan berbuat kebaikan dengan menerangkan agama yang benar, tetapi mereka akan berbuat jahat dengan membunuh saya. Mengapa orang yang berbuat kebaikan yang saudara larang, bukan mereka yang bermaksud jahat ?”.
.
• Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional
.
Atas jasa-jasa KH Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961.
.
Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional didasarkan pada empat pokok penting yakni :
.
1. KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.
.
2. Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan ummat, dengan dasar iman dan Islam.
.
3. Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam.
.
4. Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan.
.
Itulah riwayat hidup seorang Ulama besar di masanya dari Tanah Jawa yang masih keturunan Wali Songo. Seorang Ulama reformis yang membuka lebar-lebar pintu ijtihad. Seorang Ulama yang menjauhkan umat dari sifat taklid yang membutakan hati dan mengeluarkan umat Islam di Nusantara dari ke jumudan akal dan fikiran.
.
Semoga kita bisa melanjutkan langkah perjuangannya. Aamiin.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
sumber tulisan :
.
http://m.kompasiana.com/maspuguh/kh-ahmad-dahlan-dan-kiai-kereta-api_55004d71a33311d07551028a
.
http://metrotvnews.com/index.php/metromain/tajuk/2010/03/14/278/Fatwa-Rokok-Muhammadiyah
.
http://smujiono.blogspot.com/2011/05/metode-fatwa-muhammadiyah.html
.
https://putrahermanto.wordpress.com/2010/09/09/sang-pencerah-islam-kh-ahmad-dahlan-1868-1923-pendiri-muhammadiyah/?
.
http://sangpencerah.id/2015/01/kh-ahmad-dahlan-pernah-mau-dibunuh-saa.html
.
.
__________

Iklan

KISAH MUBAHALAH SYAIKH IBNU HAJAR AL-ASQOLANI RAHIMAHULLAH

KISAH MUBAHALAH SYAIKH IBNU HAJAR AL-ASQOLANI RAHIMAHULLAH

Syaikh Islam Ibnu Hajar adalah pribadi yang lemah lembut dalam berdakwa, akan tetapi sering dia marah ketika melihat kesesatan nampak di depan matanya.

As-Sakhawi dalam kitab Al- Jawahir wa Ad-Durar, “Biografi Syaikh Islam Ibnu Hajar” (I/1001), juga berkata, “Berkali-kali aku pernah mendengar Ibnu Hajar terlibat perdebatan serius dengan salah seorang pengagum Ibnu Arabi (tokoh sufi) tentang diri Ibnu. Tentu saja pengagum Ibnu Arabi tadi tidak bisa terima. Ia mengancam akan melaporkan Ibnu Hajar dan kawan-kawannya kepada sang sultan. Tetapi, ancaman itu ditanggapi oleh Ibnu Hajar dengan tenang. Ia mengatakan, ‘Jangan bawa-bawa sang sultan ikut campur dalam masalah ini. Mari kita mengadakan mubahalah saja’.

Jarang sekali dua orang yang mengadakan mubahalah, lalu pihak yang berdusta akan selamat dari musibah. Tantangan Ibnu Hajar ini disetujui oleh pengagum Ibnu Arabi tersebut.

Lalu, Ia mengatakan, ‘Ya Allah, jika Ibnu Arabi dalam kesesatan, laknatilah aku dengan laknat-Mu’.

Lalu, Ibnu Hajar mengatakan, ‘Ya Allah, jika Ibnu Arabi dalam kebenaran, laknatilah aku dengan laknat-Mu’.

Peristiwa itu terjadi pada bulan Dzul Qa’dah tahun 97 Hijriyah. Sedangkan peristiwa mubahalah terjadi pada bulan Ramadhan tahun yang sama. Ketika berlangsung mubahalah, Ibnu Hajar tahu bahwa siapa yang bersalah akan mendapat celaka kurang dari waktu setahun.”

Tidak sampai setahun orang yang bermubahalah tersebut buta dan paginya meninggal dunia.

Sumber: Kisah Karomah Para Wali, Abul Fida’ Abdurraqib al-Ibi, Penerbit Darul Falah

___

PERMUSUHAN AHLI BID’AH KEPADA ULAMA PEMBELA SUNNAH

PERMUSUHAN AHLI BID’AH KEPADA ULAMA PEMBELA SUNNAH

Pernahkah mendengar sosok ulama salafi mujahid bernama Ihsan Ilahi Zhahir ?

Dialah seorang ulama yang tegar membela Islam dan sunnah serta menjadi senjata tajam bagi para pengusung kesesatan ahli bid’ah dan para penyesat umat lainnya.

Betapa banyak sekte-sekte sesat padam karena keberkahan lisan dan tulisannya sehingga beliau seringkali dipenjarakan, namun beliau tetap berjuang membela Islam dan membongkar kedok aliran-aliran sesat.

Kedengkian musuh-musuh Ahlu Sunnah memuncak ketika beliau menyampaikan muhadharah pada 23 Rajab 1407 H di Jam’iyyah Ahli Hadits di Lahore Pakistan yang dihadiri oleh dua puluh ribu orang, di mana di sekitar meja pidatonya ternyata telah di taruh bom yang kemudian diledakkan, sehingga sepuluh ulama dan beberapa tamu undangan meninggal dunia.

Beliau kemudian dilarikan ke Riyadh (Saudi Arabia) untuk berobat, tetapi kematian menjemputnya beberapa hari setelah itu. Beliau dishalati oleh Imam al-Mujaddid Abdul Aziz bin Baz dan dikubur di kuburan Baqi’ bersama para wali-wali Allah setelah para nabi, karena beliau selalu membela kehormatan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallm dan para istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallm. Semoga Allah merahmati beliau dan memasukkannya ke surga-Nya. (Ihsan Ilahi Zhahir, al-Jihad wal Ilmu minal Hayati ilal Mamat hlm. 1360–1407 oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim asy-Syaibani)

Kisah ini menunjukkan betapa dengkinya para ahli bid’ah dalam memusuhi ulama dan kegigihan mereka untuk merenggut nyawa para Ulama Sunnah. (Lihat al-Hiqdu Dafiin ’ala Ulama wa Shalihin oleh Ubaid asy-Sya’bi, dinukil dari Basha‘ir fil Fitan hlm. 30–31 oleh Isma’il al-Muqaddam.)

http://abiubaidah.com/aneh-dan-lucu-bag-4.html/

____