TEGURAN RASULULLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG MENYIMPANG DALAM IBADAH

TEGURAN RASULULLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG MENYIMPANG DALAM IBADAH
.
Oleh : Ikhwan pecinta meong.
.
Sesungguhnya ibadah itu di bangun di atas petunjuk Allah Ta’ala dan sunnah Rasul-Nya dan juga sunnahnya para Sahabat Nabi generasi terbaik umat.
.
Ibadah bukan di bangun di atas prasangka baik dan tujuannya baik. Betapa banyak manusia semenjak dahulu sampai sa’at ini, mereka bersemangat mengamalkan ajaran-ajaran baru (bid’ah), amalan-amalan yang di buat-buat (muhdats) dengan tujuan taqorrub Ilallah untuk mendapatkan pahala yang melimpah. Namun ternyata kesesatan yang di lakoninya.
.
Orang yang menyelisihi sunnah dan orang-orang yang hendak berlebih-lebihan dalam ibadah dengan tujuan taqorrub Ilallah ternyata sudah ada pada zamannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ternyata Rasulullah mengingkari dan menegurnya.
.
Berikut ini pengingkaran Rasulullah terhadap para Sahabatnya yang menyelisihi sunnah.
.
1. Teguran Rasulullah kepada orang yang hendak shalat tahajjud sepanjang malam, puasa sepanjang tahun dan tidak akan menikah.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
.
“Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu’alaihi wasallam.
.
فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا
.
Setelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka.
.
Mereka berkata,
.
وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ ؟
.
“Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang ?”
.
Salah seorang dari mereka berkata,
.
أَمَّا أَنَا، فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا،
.
“Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya” (tanpa tidur). Kemudian yang lain berkata, “Sungguh aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan tidak akan berbuka”. Dan yang lainnya berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya”.
.
فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ، فَقَالَ : ”أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ
.
Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mendatangi mereka dan berkata, “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa.
.
َلَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
.
“Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku”. (HR. Bukhari no.5063).
.
Dalam hadits di atas ketiga orang Sahabat berniat untuk mengerjakan amal ibadah sebanyak-banyaknya, karena merasa ibadah mereka sangat jauh di banding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ternyata niat baik mereka mendapatkan teguran dari Rasulullah.
.
Tujuan mereka baik, hendak beribadah sebanyak-banyaknya.
.
Lalu mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai dan menegurnya ?
.
Permasalahannya, walaupun tujuannya hendak ibadah sebanyak-banyaknya, ikhlas karena Allah. Namun apabila tidak ada petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya, maka perbuatan tersebut sebagai kemaksiatan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Perbuatan tersebut adalah kesesatan. Sehingga Rasulullah mengingkari, menegur dan mencelanya.
.
2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyetujui seorang Sahabatnya mengucapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang di ajarkan kepadanya.
.
Al-Baroo’ bin ‘Aazib berkata :
.
قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شَقِّكَ الأَيْمَنِ وَقُلْ
.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku : Jika engkau mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah sebagaimana berwudhu untuk sholat, lalu berbaringlah di atas bagian tubuhmu yang kanan, lalu katakanlah (berdo’a) :
.
اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إْلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتُ
.
“Ya Allah aku menyerahkan jiwaku kepadaMu, dan aku pasrahkan urusanku kepadaMu, dan aku sandarkan punggungku kepadaMu, dengan kekhawatiran dan harapan kepadaMu. Tidak ada tempat bersandar dan keselamatan dariMu kecuali kepadaMu. Aku beriman kepada kitabMu yang Engkau turunkan dan beriman kepada NABI-MU yang Engkau utus”.
.
Nabi berkata :
.
فَإِنْ مِتَّ مِتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُوْلُ
.
“Jika engkau meninggal maka engkau meninggal di atas fitroh, dan jadikanlah do’a ini adalah kalimat terakhir yang engkau ucapkan (sebelum tidur)”.
.
Al-Baroo’ bin ‘Aazib berkata :
.
فَقُلْتُ أَسْتَذْكِرُهُنَّ وَبِرَسُوْلِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ لاَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ
.
“Lalu aku mencoba untuk mengingatnya dan aku berkata, “Dan aku beriman kepada RASUL-MU yang Engkau utus”
.
Nabi berkata, “Tidak”, (bukan begitu), (tapi ucapkan) “Dan aku beriman kepada NABI-MU yang Engkau utus”. (HR Al-Bukhari no 6311).
.
Perhatikan baik-baik riwayat di atas ! !
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan ucapan Al-Baroo’ bin ‘Aazib yang mengatakan, “Dan aku beriman kepada RASUL-MU yang Engkau utus”.
.
Lalu mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan ucapan Al-Baroo’ bin ‘Aazib ?
.
Permas’alahannya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelumnya mengajarkan kepada Al-Baroo’ bin ‘Aazib dengan perkata’an “Dan aku beriman kepada NABI-MU yang Engkau utus”.
.
Dalam riwayat di atas kita mendapatkan pelajaran dari Rasulullah bahwa menyelisihi apa yang sudah Nabi ajarkan, walaupun sedikit saja, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap tidak menyukainya. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurnya.
.
3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari Utsman bin Madz’uun yang tidak akan menikah karena ingin memperbanyak ibadah.
.
Di riwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur seorang Sahabatnya Utsman bin Madz’uun yang tidak akan menikah karena ingin memperbanyak ibadah.
.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi sallam pun berkata kepadanya :
.
يَا عُثْمَانُ إِنَّ الرَّهْبَانِيَّةَ لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْنَا, أَفَمَا لَكَ فِيَ أُسْوَةٌ ؟ فَوَاللهِ إِنِّى أَخْشَاكُمْ للهِ, وَأَحْفَظُكُمْ لِحُدُوْدِهِ
.
“Wahai ‘Utsman, sesungguhnya Rohbaniyah tidaklah di syariatkan kepada kita. Tidakkah aku menjadi teladan bagimu ?. Demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, dan akulah yang paling menjaga batasan-batasan-Nya”. (HR Ibnu Hibban, Ahmad, dan At-Thobrooni dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir).
.
Riwayat di atas menunjukkan bahwa, walaupun tujuannya baik hendak memperbanyak ibadah, akan tetapi di lakukan dengan cara menyelisihi sunnah Nabi, maka bukanlah perkara yang di ridhoi Allah dan Rasul-Nya.
.
4. Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata, orang-orang mengangkat suara tatkala berdo’a, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
أيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلى أنْفُسكُمْ إنَّكُمْ لَيسَ تَدْ عُونَ أصَمَّ وَلاَ غَائِبًا إنّكُم تَدْ عُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا
.
“Wahai manusia, tenangkanlah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang bisu atau yang tidak ada. Sesungguhnya Dzat yang kalian seru Maha Mendengar lagi Maha Dekat”. (HR al-Bukhâri, no. 4205).
.
Riwayat di atas mengandung tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimana cara berdo’a yang benar. Juga merupakan cela’an kepada orang-orang yang berdo’a namun tidak sesuai tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya. Pada sa’at ini sebagian orang berdo’a bukan saja di lantunkan dengan suara keras tapi juga dengan di nyanyikan.
.
5. Abu Musa Al Asy’ari berkata,
.
ﻟَﻤَّﺎ ﻏَﺰَﺍ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺧَﻴْﺒَﺮَ ﺃَﻭْ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻤَّﺎ ﺗَﻮَﺟَّﻪَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﺷْﺮَﻑَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﺍﺩٍ ﻓَﺮَﻓَﻌُﻮﺍ ﺃَﺻْﻮَﺍﺗَﻬُﻢْ ﺑِﺎﻟﺘَّﻜْﺒِﻴﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍﺭْﺑَﻌُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺃَﺻَﻢَّ ﻭَﻟَﺎ ﻏَﺎﺋِﺒًﺎ ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺳَﻤِﻴﻌًﺎ ﻗَﺮِﻳﺒًﺎ
.
“Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi atau menuju Khaibar, orang-orang menaiki lembah, lalu mereka meninggikan suara dengan takbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illa Allah. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Pelanlah, sesungguhnya kamu tidaklah menyeru kepada yang tuli dan yang tidak ada. Sesungguhnya kamu menyeru (Allah) Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat”. (HR Muslim, no. 2704).
.
Riwayat di atas juga merupakan teguran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang yang punya semangat taqorrub ilallah namun tidak dengan cara yang benar.
.
Itulah beberapa riwayat pengingkaran dan teguran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para Sahabatnya yang punya niat baik hendak memperbanyak ibadah akan tetapi Rasulullah tidak mengajarkannya, maka niat baik mereka bukanlah di pandang sebagai amal salih. Tapi sebagai kesesatan.
.
Lalu bagaimana dengan mereka yang mudah sekali membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah), apakah mereka yakin bid’ah-bid’ah yang mereka buat dan amalkan di ridhoi Allah dan Rasul-Nya ?
.
Perhatikan teguran Rasulullah kepada Al-Baroo’ bin ‘Aazib di atas. Padahal Al-Baroo’ bin ‘Aazib menyelisihi sunnah Nabi hanya sedikit. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang banyak melakukan amal ibadah namun amalannya banyak menyelisihi Nabi, apakah mereka di akhirat kelak tidak akan mendapatkan teguran dari Allah dan Rasul-Nya ?
.
Semoga bermanfa’at.
.
Ingatlah tekad Iblis yang akan menyesatkan manusia semuanya !
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
.
”Iblis bekata : Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, . .” (QS. Al Hijr : 39).
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
__________________

Iklan

KEBENARAN ITU SUDAH JELAS DAN TERANG

KEBENARAN ITU SUDAH JELAS DAN TERANG
.
Ada kalanya kita menemukan orang, kalau sudah terpojok atau tidak mampu membela keyakinan batilnya, lalu dia berkata :
.
“Kita lihat saja di akhirat nanti, siapa yang benar”
.
Ucapan tersebut tidaklah keluar kecuali dari lisan orang jahil.
.
Mengetahui kebenaran tidak perlu harus menunggu kematian terlebih dahulu dan meyakininya di akhirat nanti. Sesungguhnya kebenaran (Al-Haq), sudah sangat jelas dan terang, tidak ada kesamaran padanya.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌٌ
.
“Sesungguhnya perkara halal itu sudah jelas dan perkara haram itu sudah jelas”. (Muttafaqun ‘alaih).
.
Semua umat manusia yang berbeda faham, keyakinan dan golongannya, merasa di atas kebenaran.
.
Namun apakah mungkin mereka semua di atas kebenaran, sementara diantara mereka berbeda dan saling bertentangan. Padahal kebenaran itu satu tidak berbilang.
.
Imam Malik rahimahullah berkata :
.
لا، والله حتى يصيب الحق، ما الحق إلا واحد، قولان مختلفان يكونان صوابًا جميعًا ؟ ما الحق والصواب إلا واحد
.
“Tidak, demi Allah, hingga ia mengambil yang benar. Kebenaran itu hanya satu. Dua pendapat yang berbeda tidak mungkin keduanya benar, sekali lagi kebenaran itu hanya satu”.
.
• Haqekat kebenaran (Al-Haq).
.
Allamah Ar-Raghib Al-Ishfahani menyebutkan, bahwa makna kebenaran (Al-Haq) adalah: Kesesuaian. (Mu’jam Mufradat Al-Fauzhil Qur’an hal. 124-125).
.
• Siapa saja pengikut kebenaran ?
.
Orang-orang yang berada di atas kebenaran (Al-Haq) ialah, orang-orang yang berdiri di atas empat pilar berikut ini :
.
1. Mengikuti petunjuk Allah Ta’ala.
.
2. Mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
3. Mengikuti jalan dan pemahaman para Sahabat.
.
4. Mengembalikan perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya
.
Itulah empat pilar yang di jadikan pijakan orang-orang yang berada di atas kebenaran (Al-Haq).
.
(1) Mengikuti petunjuk Allah Ta’ala.
.
Kebenaran (al-haq) hanyalah yang datangnya dari Allah Ta’ala, adapun yang datang dari selain-Nya, adalah kebatilan, penyimpangan dan kesesatan.
.
Yang datangnya dari Allah Ta’ala sebagai kebenaran (al-hak), Allah Ta’ala sebutkan dalam beberapa firman-Nya,
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
َلَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِين
.
“Sesungguhnya telah datang al-haq (kebenaran) kepadamu dari Rabbmu, sebab itu janganlah engkau termasuk sekali-kali orang yang ragu-ragu”. (Yunus: 94).
.
– Allah Ta’ala berrman :
.
إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا
.
“Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa al-haq, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah tunjukkan kepadamu”. (An-Nisaa’: 105).
.
Itulah diantara beberapa firman Allah Ta’ala, yang menerangkan bahwa yang di turunkan Allah adalah kebenaran (al-haq).
.
Karena kebenaran (al-haq) itu hanya yang datangnya dari Allah Ta’ala, maka barang siapa yang mengimani dan mengikuti-Nya, maka orang itu di atas kebenaran (al-haq). Dan barangsiapa yang tidak mengikuti petunjuk Allah Ta’ala, maka dia adalah orang yang menyimpang dan tersesat.
.
(2) Mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Pilar ke dua, yang di jadikan pijakan oleh orang-orang yang berdiri di atas kebenaran (al-haq) adalah mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Nabi Muhammad adalah utusan Allah Ta’ala, maka yang di sampaikan oleh Rasulullah adalah kebenaran (al-haq). Sebagaimana Allah tegaskan dalam firman-Nya,
.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِنْ رَبِّكُمْ فَآمِنُوا خَيْرًا لَكُمْ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
.
“Wahai manusia sesungguhnya telah datang Rasul itu (Muhammad) kepada kamu, dengan (membawa) al-haq dari Rabbmu, maka berimanlah kamu, itu lebih baik bagimu”. (An-Nisa: 170).
.
Al Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini, “Yaitu Muhammad telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang haq dan penjelasan yang memuaskan dari Allah. Maka, berimanlah dengan apa yang dia bawa dan ikutilah dia, itu lebih baik bagi kamu”.
.
Apa yang Rasulullah sampaikan kepada umatnya, adalah wahyu dari Allah Ta’ala. Sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya :
.
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣) إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)
.
“Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara menurut hawa nafsunya. (Ucapannya) itu hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (An-Najm: 3-4).
.
Ayat di atas menerangkan, bahwa yang di sampaikan oleh Rasulullah adalah wahyu dari Allah Ta’ala, bukan berdasarkan, perasa’an atau akalnya. Oleh karenanya, apabila seseorang beriman kepada Allah Ta’ala, maka harus beriman pula kepada apa yang di sampaikan oleh Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena apa yang di sampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berdasarkan wahyu.
.
(3) Mengikuti jalan dan pemahaman para Sahabat.
.
Pilar selanjutnya, yang di jadikan pijakan orang-orang yang berada di atas kebenaran (al-haq) adalah yang mengikuti jalan dan pemahaman para Sahabat dalam memahami agama. Karena para Sahabat adalah generasi terbaik umat. Mereka adalah sebaik-baik manusia.
.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
خَيْرَ أُمَّتي قَرْنِيْ
.
“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku (para Sahabat)”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).
.
Para Sahabat adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat dan paling mengetahui dalam memahami Islam. Mereka adalah para pendahulu yang memiliki keshalihan yang tertinggi (as- alafu ash-shalih).
.
Karenanya, sudah merupakan kemestian bila menghendaki pemahaman dan pengamalan Islam yang benar, merujuk kepada mereka (as-salafu ash-shalih).
.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
.
وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ
.
“Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman: 15).
.
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam I’lam Al-Muwaqqi’in, terkait ayat di atas menyebutkan, “Bahwa setiap sahabat adalah orang yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, wajib mengikuti jalannya, perkata’an-perkata’annya, dan keyakinan-keyakinan (i’tiqad) mereka”.
.
Itulah keutama’an para Sahabat yang di terangkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
.
Maka bisa di jadikan barometer, siapa yang mengikuti jejak para Sahabat dalam aspek pemahaman, i’tiqad, perkata’an maupun amal, maka dia berada di atas kebenaran (al-haq) .
.
(4) Mengembalikan perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya.
.
Islam sudah memberikan tuntunan untuk mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya.
.
Terlalu banyak firman Allah Ta’ala dan sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam yang memerintahkan kita untuk mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
.
“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An Nisa: 59).
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ
.
“Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah”. (QS. Asy Syura: 10).
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى
.
”Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. (QS. Thaha: 123).
.
– Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
.
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
.
“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah”. (HR. Muslim).
.
Ayat-ayat dan hadits di atas memberikan petunjuk kepada kita, supaya mengembalikan setiap yang di perselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya.
.
Itulah empat pilar, yang harus di jadikan pijakan oleh orang-orang yang mengikuti kebenaran.
.
Setelah kita mengetahui empat landasan utama dalam mengikuti kebenaran, maka kini kita dapat mengetahui, barang siapa yang tidak berpijak kepada empat landasan di atas, maka mereka adalah orang-orang yang menyimpang dan tersesat. Walaupun mereka mengklaim sebagai, orang atau golongan yang benar.
.
Kebenaran (al-haq) bisa di klaim oleh siapa pun dan oleh kelompok mana pun.
.
Banyak orang yang mengaku beriman kepada Allah Ta’ala dan mengimani Kitab-Nya, namun faktanya, banyak orang yang tidak mengikuti petunjuk Allah Ta’ala.
.
Tidak sedikit orang yang menuhankan manusia, mereka selalu membenarkan apapun yang datang dari orang yang mereka anggap hebat, anggap alim, anggap shalih. Apapun yang datang dari orang yang mereka ikuti dan kagumi mereka jadikan seolah-olah wahyu yang tidak boleh di bantah dan selalu di ikuti. Maka orang-orang seperti ini hakekatnya bukan pengikut kebenaran (al-haq). Tapi orang yang menyimpang dan tersesat.
.
Banyak yang mengaku cinta Rasulullah, namun faktanya justru menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka membuat-buat ajaran baru, mereka mengerjakan amalan-amalan yang tidak Rasulullah ajarkan. Maka hakekatnya mereka bukanlah pengikut kebenaran (al-haq), tapi orang yang menyimpang dan sesat.
.
Allah Ta’ala dan Rasul-Nya memerintahkan kita supaya mengikuti dan menapaki jejak para Sahabat dalam beragama. Namun faktanya, banyak dari umat Islam yang tidak searah dan menyimpang dari manhajnya para Sahabat. Mereka membuat toriqoh-toriqoh baru. Toriqoh-toriqoh yang ajarannya berbeda dengan yang di tempuh, di fahami dan di amalkan para Sahabat. Maka orang-orang tersebut hakekatnya bukanlah pengikut kebenaran (al-haq), tapi orang-orang yang menyimpang dan tersesat.
.
Allah Ta’ala memerintahkan supaya mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Namun yang terjadi, banyak dari umat Islam ketika berselisih, mereka mengembalikan kepada madzhabnya, gurunya, syaikhnya, ustadznya, kiyainya atau jama’ahnya. Maka hakekatnya mereka bukanlah pengikut kebenaran, tapi orang-orang yang menyimpang dan tersesat.
.
Jalan menuju kebenaran (al-haq), hanyalah satu, yaitu jalan yang Allah Ta’ala sudah tunjukan, jalan yang mendapatkan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jalan yang telah di tempuh oleh para Sahabat generasi terbaik umat. Jalan yang di atasnya tidak ada perselisihan dan pertikaian.
.
Ibnu Mas’ud meriwayatkan,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat satu garis, kemudian bersabda : “Ini adalah jalan Allah. Kemudian beliau menggaris beberapa garis ke kanan dan ke kiri lalu bersabda : “Ini adalah “Subul” (jalan-jalan), dan di setiap jalan-jalan itu ada setan yang menyeru kepadanya. Kemudian beliau membaca (ayat 153, surat al-An’aam): “Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan lain, sehingga ia akan memisahkan kalian dari jalan-Nya”. (H.R Ahmad (II/318).
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.

================

SUKARNO MENDUKUNG GERAKAN PEMURNIAN ISLAM

SUKARNO MENDUKUNG GERAKAN PEMURNIAN ISLAM
.
Pesan presiden RI pertama Ir. Sukarno “AGAR UMAT ISLAM KEMBALI KEPADA AJARAN ISLAM YANG BERSUMBER DARI ALLAH DAN NABI”
.
Siapa yang tidak mengenal Bung Karno, ia bukan sembarang orang, pada masanya ia merupakan tokoh muda bangsa, seorang yang berapi-api, cerdas dan ambisius. Sosok yang kemudian hari menjadi founding father dan presiden pertama Republik Indonesia yang di segani.
.
Di dalam buku yang berjudul “DIBAWAH BENDERA REVOLUSI” (kumpulan tulisan dan pidato-pidato Ir Sukarno) jilid pertama, cetakan kedua, tahun 1963. pada halaman 390, Ir. sukarno mengatakan sebagai berikut :

(“Tjobalah pembatja renungkan sebentar “padang-pasir” dan “wahabisme” itu. Kita mengetahui djasa wahabisme jang terbesar, ia punja kemurnian, ia punja keaslian, murni dan asli sebagai udara padang pasir, kembali kepada asal, kembali kepada Allah dan Nabi, kembali kepada islam di zamanja Muhammad !. Kembali kepada kemurnian, tatkala Islam belum dihinggapi kekotorannya seribu satu tahajul dan seribu satu bid’ah.”Lemparkanlah djauh-djauh tahajul dan bid’ah itu, tjahkanlah segala barang sesuatu jang membawa kemusjrikan”).
.
Seruan Ir. Sukarno kepada umat Islam untuk kembali kepada kemurnian Islam, yaitu ajaran Islam yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya bukan sekedar basa-basi.
.
Dalam surat tertanggal 14 Desember 1935, yang di kirimkan kepada A. Hasan (ustadz PERSIS), sahabatnya sekaligus guru dalam mempelajari Islam. Bung Karno bercerita mengenai ibu mertuanya yang telah meninggal dan kritik yang di alamatkan kepadanya karena ia dan keluarga tidak mengadakan acara tahlilan untuk almarhumah ibu mertuanya.
.
Dalam suratnya Bung Karno menulis : “Kaum kolot di Endeh, di bawah ajaran beberapa orang Hadaramaut, belum tenteram juga membicarakan halnya tidak bikin ‘selamatan tahlil’ buat saya punya ibu mertua yang baru wafat itu, mereka berkata bahwa saya tidak ada kasihan dan cinta pada ibu mertua itu. Biarlah ! Mereka tak tahu-menahu, bahwa saya dan saya punya istri, sedikitnya lima kali satu hari, memohonkan ampunan bagi ibu mertua itu kepada Allah. Moga-moga ibu mertua diampuni dosanya dan diterima iman Islamnya. Moga-moga Allah melimpahkan Rahmat-Nya dan Berkat-Nya…”
.
Seruan untuk kembali kepada ajaran Islam yang sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya, ternyata bukan saja di serukan oleh para Ulama namun juga oleh orang biasa, namun tentunya orang yang punya wawasan ke Islaman yang luas dan jauh dari sifat taklid buta.
.
.
Sumber tulisan :
.
http://firanda.com/index.php/artikel/wejangan/815-presiden-sukarno-mendukung-gerakan-pemurnian-agama-wahabisme
.
https://www.nahimunkar.com/surat-surat-soekarno-kepada-a-hassan-kekaguman-pada-wahabi/
.
_____________

PENGERTIAN QIYAS

PENGERTIAN QIYAS

Qiyâs atau analogi ialah suatu praktik penyamaan hukum antara sesuatu yang disebutkan hukumnya secara gamblang dalam agama (yang selanjutnya disebut al-maqis ‘alaih atau masalah utama) dengan suatu yang tidak dijelaskan hukumnya dalam agama (yang selanjutnya disebut al-maqis atau masalah cabang).

Penyamaan ini dilakukan karena ada kesamaan dalam penyebab hukum atau yang masyhur disebut dengan ‘illah.

RUKUN-RUKUN QIYAS

Pada setiap qiyâs yang benar, pasti terdapat empat hal atau rukun. Masing-masing rukun ini memiliki kriteria dan persyaratan tersendiri. Persyaratan-persyaratan tersebut bertujuan menjamin qiyâs tidak melampaui batas kekuatan hukumnya.

Rukun Pertama : Hukum Utama.

Yaitu hukum masalah utama yang ketetapannya termaktub dalam dalil al-Qur’ân, as-Sunnah atau ijmâ’. Adapun hukum yang berketatapan berdasarkan qiyâs atau yang dalil lainnya, maka tidak dibenarkan untuk dijadikan sebagai hukum utama dalam praktik qiyâs. Ini adalah syarat paling pokok pada hukum utama, walau sejatinya para Ulama’ merinci lebih jauh dari apa yang dipaparkan di sini.

Rukun Kedua : ‘Illah (Alasan Penetapan Hukum Pada Masalah Utama)

Qiyâs atau analogi ialah suatu praktik penyamaan antara hukum masalah utama dengan masalah cabang. Penyamaan ini berlandaskan adanya kesamaan dalam alasan hukum atau yang masyhur disebut dengan ‘illah.

Bila demikian, berarti pada setiap qiyâs pasti terdapat ‘illah yang mempersatukan antara kedua masalah.
Ulama’ ahli ushul fiqih telah bersepakat bahwa ‘illah yang berperan sebagai pemersatu ini haruslah memenuhi beberapa kriteria berikut :

1. Dia adalah sesuatu yang bersifat maknawi yang benar-benar berperan utama dalam keberadaan hukum pada masalah utama dan cabang. Sehingga, setiap kali ia ada, hukumnya juga ada. Dan sebaliknya, setiap kali dia tiada, maka hukumnya juga hilang atau tiada. Contoh, menurut madzhab Maliki, alasan penetapan hukum-hukum riba perniagaan (riba fadhl) pada kurma dan gandum ialah karena keduanya sebagai makanan pokok yang dapat disimpan. Berdasarkan ini mereka berpendapat bahwa setiap makanan pokok yang dapat disimpan berlaku padanya hukum-hukum riba perniagaan.

2. Illah harus nampak nyata, sehingga dengan mudah diidentifikasi atau dikenali. Syarat ini bertujuan agar penyamaan antara hukum masalah cabang dengan masalah utama dapat dilakukan dengan mudah.

3. Pemersatu tersebut adalah sesuatu yang tidak bertentangan dengan dalil-dalil al-Qur’ân dan hadits. Karena qiyâs hanya berkekuatan hukum dalam kondisi darurat, yaitu ketika tidak ditemukan dalil al-Qur’ân, as-Sunnah atau Ijmâ’.

Rukun Ketiga : Masalah Cabang.

Karena tujuan qiyâs ialah mengetahui hukum masalah cabang, maka suatu hal yang alami bila masalah cabang ialah :

1.Masalah yang belum memiliki ketetapan hukum dalam dalil al-Qur’ân, as-Sunnah atau Ijmâ’.

2. Masalah cabang adalah masalah baru, terjadi setelah penetapan hukum pada masalah utama.

3. Pada masalah cabang terdapat makna pemersatu ‘illah yang ada pada masalah utama.

Rukun Keempat : Hukum Masalah Cabang

Hukum masalah cabang ialah hasil akhir dari praktik qiyâs. Karenanya, bila Anda telah berhasil menemukan hukum pada masalah cabang, maka Anda telah sukses menjalankan qiyâs. Hanya saja, Anda perlu tahu, apakah hasil qiyâs Anda tepat atau salah ? Tepat atau tidaknya proses qiyâs Anda, dapat dikenali dengan mengenali kriteria hukum masalah cabang.

Ulama’ ahli ushul fiqih telah menjelaskan bahwa hukum hasil qiyâs Anda harus sama dengan hukum pada masalah utama. Bila hukum hasil qiyâs anda berbeda dengan hukum pada masalah utama, maka ini menjadi bukti bahwa qiyâs Anda salah, atau yang sering disebut oleh para ulama’ dengan sebutan qiyâs ma’al farqi. Yaitu memaksakan qiyâs masalah cabang dengan masalah utama, padahal antara keduanya terdapat perbedaan mendasar.

Dengan demikian tidak dapat diterima bila hukum masalah utama wajib, sedangkan hasil qiyâs pada masalah cabang adalah hukum sunnah. Sebagaimana tidak dapat diterima qiyâs gaji (profesi) dengan hasil tanaman dalam hal zakat, karena zakat pertanian adalah 10% atau 5 %, sedangkan menurut penggiat zakat profesi, zakat profesi sebesar 2,5 %.
Penjelasan tentang rukun-rukun qiyâs ini saya sarikan dari kitab Irsyâdul Fuhûl karya Imam as-Syaukâni, 2/149-166.

SYARAT-SYARAT QIYAS

Ulama’ ahli ilmu Ushûl Fiqih telah membahas masalah ini dengan panjang lebar. Dari penjelasan mereka, dapat disarikan beberapa persyaratan berikut :

1. Hukum masalah utama ditetapkan berdasarkan dalil dari al-Qur’ân, as-sunnah atau ijmâ’ Ulama’.

2. Alasan (‘illah) penetapan hukum masalah utama dapat diketahui dengan logika, sehingga alasan ini dapat diterapkan pada masalah cabang.

3. Alasan penetapan hukum pada masalah utama didapatkan pula pada masalah cabang yang akan diqiyaskan.

4. Tidak ditemukan dalil khusus yang menetapkan suatu hukum pada masalah cabang yang akan diqiyaskan.

5. Proses qiyâs akan menghasilkan hukum yang sama dengan hukum yang pada masalah utama. Dengan demikian tidak dapat diterima bila hukum masalah utama wajib, sedangkan hasil qiyâs pada masalah cabang adalah hukumnya sunnah. Sebagaimana tidak dapat diterima qiyâs gaji (profesi) dengan hasil tanaman dalam hal zakat, karena zakat pertanian adalah 10% atau 5 %, sedangkan menurut penggiat zakat profesi, zakat profesi sebesar 2,5 %

6. Alasan penetapan hukum pada masalah utama dapat diketahui dengan jelas, sebagaimana yang telah dijabarkan oleh para Ulama’ ahli ushul fiqh.

7. Alasan yang dijadikan penyatu antara masalah utama dengan masalah cabang adalah suatu hal yang dipertimbangkan dalam syari’at dan benar-benar memiliki pengaruh pada penetapan hukum

8. Qiyâs hanya berlaku pada hukum-hukum praktis, yaitu hukum yang ada kaitannya dengan amaliyah atau praktek. Sedangkan dalam urusan akidah atau idiologi maka qiyâs tidak dapat dijadikan dasar hukum, terlebih-lebih bila bertentangan dengan dalil-dalil al-Qur’ân dan as-sunnah.

QIYAS SEBAGAI DALIL DALAM AGAMA

Imam Syâfi’i rahimahullah berkata, “Setiap urusan yang menimpa seorang muslim pastilah ada penjelasan tentang hukumnya atau petunjuk yang menunjukkan jalan kebenaran tentangnya. Karenanya, bila telah ditemukan hukum khusus tentang masalahnya, maka ia wajib untuk mengamalkanya. Namun bila tidak ditemukan hukum khusus tentang masalahnya, maka ia wajib mencari petunjuk menuju jalan kebenaran yaitu dengan berijtihad. Dan yang dimaksud dengan ijtihad ialah qiyâs.” (ar-Risâlah, hlm. 477).

Imam Syâfi’i rahimahullah menganggap bahwa qiyâs adalah ijtihad yang semestinya dilakukan oleh seorang Ulama’ ketika tidak menemukan hukum suatu masalah dalam al-Qur’ân dan as-Sunnah.

Ini bukanlah klaim yang tanpa dasar, akan tetapi sebaliknya. Klaim ini adalah hasil kajian panjang beliau rahimahullah, dari berbagai dalil dalam syari’at. Beliau rahimahullah mendapatkan praktek dan contoh nyata dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan kepada sahabatnya agar senantiasa menyamakan antara dua hal yang serupa dan membedakan antara dua hal yang berbeda.

BEBERAPA PRAKTEK QIYAS YANG DICONTOHKAN NABI KEPADA SAHABATNYA :

Pertama :

Pada suatu hari Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu mengadu kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Pada hari ini aku telah melakukan kesalahan besar, yaitu aku mencium (istriku), padahal aku sedang berpuasa. Menanggapi pengaduan sahabatnya ini, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ ؟ فَقُلْتُ: لَا بَأْسَ بِذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَفِيم

Apa pendapatmu bila engkau berkumur-kumur dengan air, padahal engkau sedang berpuasa ? Sahabat Umar menjawab, “Tentu tidak masalah.” Mendengar jawaban demikian, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya dengan bersabda, “Lalu mengapa engkau risau ? (Riwayat Ahmad dan lainnya).

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pada hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa muqadimah (permulaan) suatu hal yang terlarang tidak serta merta terlarang pula. Ciuman yang merupakan permulaan hubungan badan, tidak serta merta haram hanya karena hubungan badan bagi orang yang sedang berpuasa itu haram. Demikian pula dengan memasukkan air ke mulut yang merupakan permulaan dari meminumnya. Permulaan meminum yaitu berkumur-kumur juga tidak haram”. (I’ilâmul Muwaqqi’în, 4/174).

Kedua :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – جَاءَهُ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ امْرَأَتِى وَلَدَتْ غُلاَمًا أَسْوَدَ . فَقَالَ « هَلْ لَكَ مِنْ إِبِلٍ » . قَالَ نَعَمْ . قَالَ « مَا أَلْوَانُهَا » . قَالَ حُمْرٌ . قَالَ « فِيهَا مِنْ أَوْرَقَ » . قَالَ نَعَمْ . قَالَ « فَأَنَّى كَانَ ذَلِكَ » . قَالَ أُرَاهُ عِرْقٌ نَزَعَهُ . قَالَ « فَلَعَلَّ ابْنَكَ هَذَا نَزَعَهُ عِرْقٌ » . متفق عليه

Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu mengisahkan, “Ada seorang arab baduwi yang bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya istriku melahirkan seorang anak berkulit hitam (sedangkan aku berkulit putih)”. Mendengar keluhan sahabatnya ini, Rasûlullâh balik bertanya, “Apakah engkau memiliki onta ?” Penanya menjawab, “Ya”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa warna kulit onta-ontamu ?” Sahabat itu menjawab, “Putih kemerah-merahan”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah ada dari ontamu yang berkulit hitam keabu-abuan ?” Ia menjawab, “Ya” Nabi melanjutkan pertanya’annya, “Darimanakah datangnya warna kulit onta itu ?” Penanya berusaha menjelaskan dengan berkata, “Menurutku dahulu ada dari induknya yang berwarna demikian”. Mendengar penjelasan itu, Nabi balik berkata, “Mungkin juga anakmu menuruni warna kulit salah seorang nenek moyangnya”. (Riwayat Bukhâri, no.6455 dan Muslim, no. 1500).

Ibnu Hajar al-Asqalâni rahimahullah mengatakan, ”Pada hadits ini terdapat perumpamaan, menyerupakan suatu hal yang dipersoalkan dengan hal yang telah diketahui bersama, guna mendekatkan pemahaman. Dan hadits ini merupakan dasar penggunaan qiyâs”. (Fathul Bâri, 9/444).

Ketiga :

Sahabat Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma mengisahkan, “Ada seorang wanita datang menjumpai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia bertanya, “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia dan meninggalkan kewajiban berpuasa sebulan, apakah boleh bagiku untuk menebusnya ?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ. قَالَتْ : نَعَمْ, قَالَ : فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى

Andai ibumu menanggung piutang, apakah engkau sudi untuk melunasinya ? Wanita itu menjawab, “Tentu”. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya dengan bersabda, “Sesungguhnya piutang milik Allâh lebih layak untuk ditebus”. (Riwayat Bukhâri, no. 1754 dan Muslim, no. 1148).

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Pada hadits ini terdapat petunjuk tentang benarnya qiyâs, yaitu pada sabda beliau, “Sesungguhnya piutang milik Allâh lebih layak untuk ditebus”. (Syarh Shahih Muslim oleh Imam Nawawi, 8/26).

Berbagai dalil di atas merupakan bukti bahwa qiyâs adalah salah satu dasar pengambilan hukum dalam syari’at Islam.

QIYAS TERCELA DAN QIYAS TERPUJI

Walaupun tidak diragukan tentang status qiyâs sebagai dalil hukum dalam syari’at, namun bukan berarti semua bentuk qiyâs dibenarkan dalam syari’at.

Al-Karmani rahimahullah mengatakan, “Ada dua jenis qiyâs. Pertama, qiyâs yang benar, yaitu qiyâs yang memenuhi berbagai persyaratannya. Kedua, qiyâs yang salah, yaitu yang tidak memenuhi persyaratannya. Qiyâs yang inilah yang tercela, sedangkan qiyâs yang benar, maka dia tidak tercela, bahkan dianjurkan. (Fathul Bâri oleh Ibnu Hajar al-Asqalâni rahimahullah, 13/297).

Bila faktanya demikian, maka sudah sepantasnya bila anda bersikap waspada, sehingga tidak gegabah dalam menerapkan qiyâs atau menerima hasil qiyâs orang lain. Karena kecerobohan anda dapat berakibat fatal dan menyengsarakan anda.

Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “Segala bentuk amalan bid’ah dan pendapat sesat yang disusupkan ke dalam agama para rasul berawalkan dari qiyâs yang salah.” (I’ilâmul Muwaqqi’în, 2/29).

ANDA BERHAK BERDALIL DENGAN QIYAS ?

Untuk mengetahui apakah anda berhak untuk berdalil dengan qiyâs atau tidak, Saya ajak anda untuk mencermati beberapa ucapan Imam Syâfi’i rahimahullah, beliaulah ulama pertama yang membukukan ilmu ushûl fiqh berikut :

“Tidak dibenarkan untuk berdalil dengan qiyâs selain orang yang telah menguasai ilmu pendukung qiyâs yang terdiri dari :

1. Ilmu hukum-hukum al-Qur’ân, yang wajib, sunnah, penganulir (nâsikh) dan yang dianulir (mansûkh), yang bersifat umum, khusus dan berbagai petunjuknya.

2. Selanjutnya ia menguraikan ayat-ayat yang terkesan multi tafsir dengan bantuan hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Bila ia tidak menemukannya dalam hadits, maka ia mencari petunjuk dari ijmâ’ Ulama’. Dan bila ia tidak menemukan kesepakatan Ulama’, maka ia dapat mencari petunjuk dari qiyâs. Tidak dibenarkan bagi siapapun untuk berdalil dengan qiyâs hingga ia menguasai seluruh hadits yang diriwayatkan sebelumnya, berbagai keterangan Ulama’ terdahulu, kesepakatan Ulama’, perselisihan mereka dan juga menguasai bahasa arab. Sebagaimana ia tidak dibenarkan berdalil dengan qiyâs hingga terbukti ia memiliki kecerdasan, sehingga ia mampu membedakan antara hal-hal yang terkesan serupa. Ditambah lagi, hendaknya ia berlaku hati-hati dan tidak terburu-buru dalam menarik kesimpulan sebelum ia memastikan kebenaran dari kesimpulannya. …. Adapun orang yang memiliki kecerdasan akan tetapi ia tidak menguasai berbagai ilmu pendukung yang telah saya jelaskan, maka tidak halal baginya untuk berdalil dengan qiyâs. Yang demikian itu dikarenakan ia tidak mengetahui dalil-dalil yang dapat ia jadikan dasar bagi qiyâsnya. Layaknya seorang ahli fiqih yang cerdas, maka tidak boleh untuk mengutarakan pendapatnya tentang nilai tukar uang dirham, padahal ia tidak mengetahui harga pasarannya. Adapun orang yang menguasai berbagai disiplin ilmu yang telah saya sebutkan hanya dengan menghafalnya tanpa memahaminya dengan utuh, maka ia juga tidak layak untuk berdalil dengan qiyâs, karena bisa saja ia tidak memahami kandungan makna dalil-dalil yang ada.
Demikian pula halnya dengan orang yang kuat hafalannya akan tetapi ia kurang cerdas, atau kurang menguasai bahasa arab. Ia juga tidak berhak untuk berdalil dengan qiyâs, karena ia kurang pandai dalam memahami berbagai disiplin ilmu pendukung dalil qiyâs. Dan menurut pendapatku, orang yang demikian ini halnya tidak halal untuk mengutarakan suatu pendapat – wallahu a’alam- kecuali dengan mengikuti Ulama’ lain dan tidak berdalil sendiri dengan qiyâs”. (ar-Risâlah, hlm. 509-511).

Jujur saja saudaraku ! Bagaimana perasaan Anda tatkala membaca penjelasan Imam Syafi’i rahimahullah di atas ?

Setelah membaca ucapan beliau rahimahullah ini, sudahkah anda merasa layak untuk berdalil dengan qiyâs ?

KAPAN ANDA BOLEH BERDALIL DENGAN QIYAS ?

Mungkin saat ini Anda bergumam dan berkata, “Begitu sulitnya untuk bisa berdalil dengan qiyâs.” Dan mungkin juga Anda bertanya, “Sejatinya, seberapa jauh peranan dalil qiyâs dalam penetapan hukum syari’at ?”

Untuk mengobati rasa penasaran Anda, kembali saya mengajak Anda untuk merenungkan penegasan Imam Syâfi’i rahimahullah. Rasa penasaran Anda jauh-jauh hari telah beliau rahimahullah sediakan penawarnya. Simak dan camkanlah jawaban beliau berikut :

“Kami menentukan suatu hukum dengan dasar kesepakatan hasil ijtihâd Ulama’ dan juga qiyâs, dan ini adalah dalil yang jauh lebih lemah bila dibanding dengan dalil al-Qur’ân dan as-Sunnah. Akan tetapi pengambilan dalil dari kesepakatan hasil ijtihâd dan qiyâs ini kami lakukan ketika dalam keadaan darurat. Sejatinya tidak halal berdalil dengan qiyâs selama ditemukan dalil dari al-Qur’ân dan as-Sunnah. Sebagaimana tayammum, dia dianggap sebagai kesucian ketika dalam perjalanan dan kesulitan menemukan air. Tayammum tidak dianggap sebagai kesucian bila Anda mendapatkan air. Tayammum hanya dianggap sebagai kesucian bila sedang dalam kesulitan untuk mendapatkan air.” (ar-Risâlah, hlm. 509-600).

Demikianlah kedudukan qiyâs yang sebenarnya sebagai dalil hukum dalam syari’at. Qiyâs hanya berlaku ketika tidak ada penjelasan hukum dalam al-Qur’ân dan as-Sunnah. Adapun bila pada suatu masalah ditemukan dalil dari al-Qur’ân dan as-Sunnah, maka anda tidak dibenarkan untuk berdalil dengan qiyâs dan menghasilkan kesimpulan hukum yang menyelisihi keduanya. Seluruh Ulama’ telah bersepakat bahwa qiyâs yang menghasilkan kesimpulan hukum yang menyelisihi ayat atau hadits adalah qiyâs tidak sah atau disebut fasidul i’itibar (tidak pada tempatnya).. (al-Ihkâm Fi Ushûlil Ahkâm oleh al-Aamidi, 4/76 dan Irsyâdul Fuhûl oleh as-Syaukâni, 2/158).

PENUTUP

Demikian selayang pandang tentang dalil qiyâs yang pada zaman sekarang sering disalah pahami oleh sebagian umat Islam. Qiyâs yang sejatinya hanya menjadi dalil pada kondisi darurat, yaitu ketika tidak ditemukan dalil al-Qur’ân dan as-sunnah, akan tetapi pada zaman sering dipertentangkan dengan keduanya. Sebagaimana qiyâs hanya boleh digunakan oleh orang yang benar-benar mumpuni, akan tetapi sekarang, banyak orang yang lancang menggunakannya untuk membenarkan sikap dan pendapatnya. Semoga penjelasan singkat ini mampu membuka wawasan Anda tentang dalil qiyâs sebagaimana yang dipahami oleh Ulama’-ulama’ kita. Wallahu Ta’ala a’alam bisshawab.

Di ringkas dari tulisan : Ustadz DR Muhammad Arifin Badri, MA

===============

AKULTURASI BUDAYA DAN SINGKRETISASI DI NUSANTARA

AKULTURASI BUDAYA DAN SINGKRETISASI DI NUSANTARA

Situasi kehidupan religius di Nusantara pada umumnya dan pada masyarakat Jawa khususnya sebelum datangnya Islam sangatlah beragam (heterogen).

Sebelum menganut agama Hindu dan Budha, masyarakat di Nusantara pra sejarah telah memeluk keyakinan yang bercorak animisme dan dinamisme.

Masyarakat Jawa khususnya sebelum menganut ajaran Islam, mereka meyakini kekuatan magis pada benda-benda seperti keris, tombak, dan senjata lainnya. Benda-benda yang dianggap keramat dan memiliki kekuatan magis ini selanjutnya dipuja, dihormati, dan mendapat perlakuan istimewa. Selain itu orang Jawa juga mengkultuskan raja-raja sebagai titisan dewa. Kepercaya’an tersebut setelah mereka menganut ajaran Hindu-Budha yang mengajarkan konsep dewa-raja atau raja titising dewa.

Era Wali Songo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara. Wali Songo adalah simbol penyebaran Islam di Nusantara, khususnya di tanah Jawa.

Dalam menyebarkan dakwahnya, Wali Songo menerapkan pola Akulturasi budaya dan Singkretisasi.

• Akulturasi budaya

Akulturasi budaya ialah menyatukan budaya-budaya yang berbeda menjadi sebuah kebudaya’an baru.

Akulturasi budaya dalam menyebarkan Islam yang di terapkan Wali Songo yaitu menggunakan pendekatan sosial budaya dengan cara mengakulturasikan budaya setempat pada ajaran Islam.

Akulturasi budaya yang masih kita saksikan sa’at ini ialah bangunan masjid yang di dirikan oleh Sunan Kudus dengan menaranya yang berarsitekturkan rumah ibadah masyarakat setempat yaitu pure atau candi, yaitu tempat ibadah bagi umat hindu.

Akulturasi budaya lainnya yang di lakukan Wali Songo yaitu kesenian wayang kulit yang menjadi tontonan menarik sa’at itu.

Salah seorang Wali Songo yang piawai memainkan wayang kulit sebagai media penyebaran islam adalah Sunan Kalijaga.

Sebelum kedatangan para Wali menyebarkan agama Islam, cerita pewayangan tentu saja sarat dengan unsur Hindu-Budha, maka Sunan Kalijaga berusaha memasukkan nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam ke dalam cerita pewayangan tersebut, Walaupun lakon atau kisah dalam pewayangan tersebut tetap mengambil cerita Pandawa dan Kurawa yang mengandung ajaran kebaikan dan keburukan.

Dengan akulturasi budaya antara kebudaya’an Hindu yang di masukkan kedalamnya ajaran Islam (di Islamisasikan), maka ajaran Islam sedikit demi sedikit mulai di kenal masyarakat yang pada waktu itu masih menganut agama Hindu-Budha atau Animisme. Dan selanjutnya banyak dari mereka mulai tertarik dengan ajaran Islam lalu kemudian masuk Islam.

Akulturasi budaya yang di lakukan Wali Songo sebenarnya masih banyak, seperti terhadap sastra dan tetembangan.

• Singkretisme

Singkretisme, berasal dari bahasa Yunani “Sunistanto, Sunkretamos”. Artinya : “Kesatuan” dan kata “Synkerannumi” yang berarti “Mencampur aduk”.

Sinkretisme dalam beragama adalah suatu sikap atau pandangan yang tidak mempersoalkan murni tidaknya suatu agama.

Dalam menyebarkan agama Islam, Wali Songo selain mengakulturasikan budaya juga mengsingkretisasikan atau memadukan tradisi-tradisi keagama’an lokal yang sudah mentradisi di masyarakat, kemudian memasukkan ajaran Islam ke dalamnya, yang selanjutnya menjadi ajaran baru yang di amalkan dan di yakini sebagai ajaran agama.

Pada masyarakat Jawa khususnya dan Nusantara umumnya, sebelum menganut ajaran Islam, mereka sudah menjalankan ritual-ritual keagama’an yang sudah menjadi tradisi secara turun-temurun berkaitan dengan siklus kehidupan. Seperti di moment kelahiran, kematian, membangun atau pindah rumah, menanam dan memanen padi, melaut serta penghormatan terhadap roh para leluhur dan roh halus.

Ketika Islam datang ritual-ritual ini tetap dilanjutkan, hanya isinya diubah dengan unsur-unsur dari ajaran Islam. Maka terjadilah islamisasi dan masih di amalkan dan di pertahankan oleh sebagian masyarakat Indonesia sampai sa’at ini.

• Syngkretisme dan
Wali Songo.

Syngkretisasi yang di lakukan oleh sebagian dari Wali Songo, sebenarnya tidak di sukai dan di benarkan oleh sebagian dari Wali Songo lainnya.

Sebagai bukti ketidak setujuan dari sebagian Wali Songo terhadap praktek Syingkretisasi yang di lakukan oleh sebagian Wali, bisa kita ketahui di dalam buku “Het Book Van Bonang”

Buku Het Book Van Bonang di simpan di perpustakaan Universitas Heiden Belanda, yang menjadi salah satu dokumen langka dari jaman Walisongo. Kalau tidak dibawa Belanda, mungkin dokumen yang amat penting itu sudah lenyap.

Buku Het Book Van Bonang ditulis oleh Sunan Bonang pada abad 15 yang berisi tentang ajaran-ajaran Islam.

Dalam naskah kuno itu diantaranya menceritakan tentang Sunan Ampel yang memperingatkan Sunan Kalijogo yang masih melestarikan acara selamatan arwah yang sudah di Islamisasikan, yang kita kenal sa’at ini dengan istilah tahlilan.

Sunan Ampel berkata : ”Jangan ditiru perbuatan semacam itu karena termasuk BIDA’H”.

Sunan Kalijogo menjawab : “Biarlah nanti generasi setelah kita ketika Islam telah tertanam di hati masyarakat yang akan menghilangkan budaya selamatan arwah itu”.

Dalam buku Kisah dan Ajaran Wali Songo yang ditulis H . Lawrens Rasyidi dan diterbitkan Penerbit Terbit Terang Surabaya juga mengupas panjang lebar mengenai masalah ini.

Dimana Sunan Kalijogo, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati dan Sunan Muria berbeda pandangan mengenai adat istiadat yang di Islamisasikan dengan Sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Drajat.

Sunan Kalijogo mengusulkan agar adat istiadat lama seperti selamatan, bersaji, wayang dan gamelan dimasuki rasa keislaman.

Sunan Ampel berpandangan lain.

“Apakah tidak mengkhawatirkannya di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam ? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi BID’AH ? Sunan kudus mengatakan bahwa ia mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari ada yang menyempurnakannya (hal 41, 64).

Sunan Ampel, Sunan Drajat dan terutama Sunan Giri berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan ajaran Islam secara murni, baik tentang aqidah maupun ibadah.

Dan mereka menghindarkan diri dari bentuk singkretisasi / mencampur adukkan ajaran Hindu dan Budha dengan Islam.

Tetapi sebaliknya Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Kalijaga mencoba menerima sisa-sisa ajaran Hindu dan Budha di dalam menyampaikan ajaran Islam.

Sampai sa’at ini budaya itu masih ada di masyarakat kita, seperti sekatenan, ruwatan, selamatan arwah, upacara tujuh bulanan, sedekah bumi, sedekah laut dll.

(Sumber : Abdul Qadir Jailani, Peran Ulama dan Santri Dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia, hal. 22-23, Penerbit PT. Bina Ilmu).

• NASEHAT SUNAN BONANG

Salah satu catatan menarik yang terdapat dalam dokumen “Het Book van Mbonang” itu adalah peringatan dari sunan Mbonang kepada umat untuk selalu bersikap saling membantu dalam suasana cinta kasih, dan mencegah diri dari kesesatan dan BID’AH.

Bunyinya sebagai berikut :

“Ee..mitraningsun ! Karana sira iki apapasihana sami-saminira Islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah“.

Artinya :

“Wahai saudaraku ! Karena kalian semua adalah sama-sama pemeluk Islam maka hendaklah saling mengasihi dengan saudaramu yang mengasihimu. Kalian semua hendaklah mencegah dari perbuatan sesat dan BIDA’H.

Buku Het Book Van Bonang adalah sumber tentang walisongo yang dipercayai sebagai dokumen asli dan valid, yang tersimpan di Museum Leiden, Belanda.

Buku Het Book Van Bonang ini telah dilakukan beberapa kajian oleh beberapa peneliti. Diantaranya thesis Dr. Bjo Schrieke tahun 1816, dan Thesis Dr. Jgh Gunning tahun 1881, Dr. Da Rinkers tahun 1910, dan Dr. Pj Zoetmulder Sj, tahun 1935 .

• Apakah sebagian Wali Songo sesat, karena mencampur adukkan ajaran Islam ?

Meng-Islamisasikan tradisi masyarakat yang di lakukan oleh Sunan Kalijogo, Sunan Kudus, Sunan Gunung jati dan Sunan Muria. adalah sebuah bentuk Ijtihad sebagaimana Ijtihadnya yang di lakukan oleh khalifah utsman bin Affan yang membuat adzan jum’at dua kali dan juga Ijtihadnya Khalifah Abu Bakar yang membukukan Al-Qur’an.

Dan Ijtihad di benarkan dalam Islam, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ.

“Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala”. (H.R Al-Bukhaariy 13/268 dan Muslim no. 1716).

Ijtihad dalam bentuk meng-Islamisasikan budaya dan tradisi yang di lakukan oleh Wali Songo sa’at itu, di sebabkan adanya kebutuhan dalam menyebarkan agama Islam, bagaimana supaya masyarakat yang masih menganut kepercaya’an leluhurnya tertarik kepada Islam.

Dan dikhawatirkan apabila tradisi dan ritual-ritual yang sudah turun-temurun mereka lakukan dilarang, akan membuat mereka tidak mau masuk Islam dan bahkan memusuhi Islam.

Wali Songo meng-Islamisasikan budaya dan tradisi masyarakat sa’at itu bukanlah melakukan kebid’ahan terlebih lagi apabila Wali Songo di katakan sebagai ahli bid’ah, karena Wali Songo pun berharap di kemudian hari ada orang-orang yang menyempurnakan pemahaman agama yang sudah mereka anut.

Sebagaimana Sunan Kalijogo menjawab Sunan Ampel : “BIARLAH NANTI GENERASI SETELAH KITA KETIKA ISLAM TELAH TERTANAM DI HATI MASYARAKAT YANG AKAN MENGHILANGKAN BUDAYA SELAMATAN ARWAH ITU”.

Wali Songo juga anti bid’ah sebagaimana diketahui dari peringatan dan nasehat sunan Mbonang kepada umat untuk selalu bersikap saling membantu dalam suasana cinta kasih, dan mencegah diri dari kesesatan dan BID’AH.

Sunan Bonang memberi peringatan dan nasehat sebagai berikut :

“Ee..mitraningsun ! Karana sira iki apapasihana sami-saminira Islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah“.

Artinya :

“Wahai saudaraku ! Karena kalian semua adalah sama-sama pemeluk Islam maka hendaklah saling mengasihi dengan saudaramu yang mengasihimu. Kalian semua hendaklah mencegah dari perbuatan sesat dan BIDA’H.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________

MENGENAL HAKEKAT ULAMA

MENGENAL HAKEKAT ULAMA

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para nabi”. (H.R At-Tirmidzi).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mewariskan dirham dan dinar kepada umatnya. Tapi yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wariskan adalah ilmu.

Ilmu yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wariskan kemudian para Ulama mencatatnya. Dalam sejarah islam banyak sekali ulama yang menulis kitab dan kitab-kitab mereka masih bisa kita baca sampai sa’at ini. Kitab-kitab yang ditulis para Ulama menjadi penerang umat sepanjang masa.

Apakah semua Ulama sebagai pewaris Nabi ?

Sa’at ini begitu mudahnya melabeli seseorang dengan sebutan ulama.

Ada orang yang di sebut ulama karena kondang namanya sebagai penceramah yang pandai bicara, mahir berdalil, serta sibuk dengan undangan ceramahnya.

Ada pula orang yang di katakan ulama karena ia memiliki pondok pesantren dan banyak santrinya.

Juga ada orang yang di pandang sebagai ulama karena terkenal sering jadi juara lomba baca Al-Qur’an.

Dan juga ada orang yang dianggap sebagai ulama, karena selalu memakai gamis lengkap dengan sorban melilit di kepala, tongkat di tangan kiri dan biji tasbih di tangan kanannya.

Benarkah mereka itu ulama ?

Ternyata tidak semua ulama baik. Dalam dunia islam dikenal ada istilah ulama su’ yaitu ulama buruk/jahat.

Perlu kita ketahui bahwa ulama ada dua.

1. Ulama Robbani
2. Ulama su’ (buruk/jahat)

Apa itu Ulama Robbani dan ulama su’ (buruk/jahat) ?

(1) ULAMA ROBBANI

Ulama Robbani yaitu, Ulama yang mengajak umat untuk memurnikan tauhid dan menjauhi ke syirikan, ulama yang menyeru untuk ittiba’ kepada sunnah Nabi dan memperingatkan umat dari bahayanya tahayul, bid’ah dan khurafat. Ulama yang memperingatkan umat untuk tidak taqlid kepada siapa pun dan kepada kelompok manapun. Ulama Robbani adalah seorang Ulama yang membimbing umat untuk menapaki jejak para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut tabi’in. Karena mereka itulah generasi terbaik umat (Shalafus Shalih). Ulama Robbani adalah seorang Ulama yang menjadikan umat menjadi takut kepada Allah Ta’ala, sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin :

“Ulama adalah orang yang ilmunya menyampaikan mereka kepada sifat takut kepada Allah”. (Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin).

Itulah ciri-ciri dari Ulama Robbani, dan Ulama Robbani itu lah yang Rasulullah sebut sebagai Ulama pewaris para Nabi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para nabi”. (H.R At-Tirmidzi).

(2) ULAMA SU’

Tentang ulama su’ (buruk/jahat), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya, sebagaimana dalam sebuah hadits berikut ini :

دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا

”Akan muncul para da’i yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka”.

Itulah ulama su’ yang di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu para da’i yang menjerumuskan umat ke dalam jahannam.

Apa itu ulama su’ (buruk/jahat) ?

Ulama su’ adalah para ulama yang menjadikan umat menyimpang dan bergelimang kesesatan, menyeret umat kepada kesyirikan, bid’ah dan kebatilan lainnya. Menjadikan umat semakin jauh dari Allah Ta’ala.

Ulama su’ lainnya menyeret umat kedalam dunia khurafat, umatnya disesatkan dengan ajaran mistik dan kebatinan, ilmu kebal, bisa menghilang, penglaris, pengasihan dan ajaran setan lainnya yang jadi buruan orang-orang awam.

Disamping ulama su’ yang memiliki sifat diatas, juga ada ulama su’ yang menjadikan agama sebagai barang dagangan. Agama dijadikan sarana untuk mencari keuntungan dunia, popularitas, kekaya’an dan kedudukan.

Ulama su’ model ini sebagaimana layaknya Ulama nampak alim, santun tutur katanya lembut memikat, fasih dan pandai berdalil yang mampu menyihir orang awam.

Dengan kemahirannya berbicara masalah agama, membuat orang awam kagum terpesona, pujian dari manusia mengalir, menjadikan jadwal undangan ceramahnya padat, dan pundi-pundinya pun semakin melimpah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka, lisan mereka lebih manis dari gula namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan)”. (HR. Tirmidzi).

Itulah ulama su’ yang hadir di tengah-tengah umat. Keberada’annya bukan menerangi umat, mengeluarkan umat dari kejahilan, tapi menjadikan umat semakin jahil. Ulama su’ menjadikan kebenaran tersamarkan, menjadikan umat memusuhi kebenaran dan sebaliknya menggandrungi kebatilan. Ulama su’ menjadikan umat untuk selalu manut dan membenarkan kepada apa yang di katakan dan di lakukannya. Ulama su’ menjadikan umat menyimpang dan tersesat.

Ulama su’ bukanlah ulama pewaris Nabi, tapi sebaliknya menodai risalah Nabi. Ulama su’ hakekatnya adalah musuh umat Islam.

Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari tipu daya mereka, Aamiin.

الله المستعان

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

=============

APAKAH SYARI’AT ISLAM BELUM CUKUP ?

APAKAH SYARI’AT ISLAM BELUM CUKUP ?
.
Banyak sekali syari’at Islam yang telah di ajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya, dari mulai urusan yang kecil sampai urusan yang besar semuanya sudah di sampaikan dan di jelaskan.
.
Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda :
.
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنْ الْجَنَّة وَيُبَاعِدُ مِنْ النَّار إِلَّا وَقْدٌ بَيْنَ لَكُمْ
.
“Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah dijelaskan semuanya kepada kalian”. (HR. Thobroni dalam Al Mu’jamul Kabir 1647).
.
Imam Baihaqi dalam kitab sunannya meriwayatkan dari Muththalib bin Hanthab, “Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam telah bersabda : “Tidak aku tinggalkan sesuatu/sedikitpun juga apa-apa yang Allah telah perintahkan kepada kamu, melainkan sesungguhnya aku perintahkan kepada kamu. Dan tidak aku tinggalkan kepada kamu sesuatu/sedikitpun juga apa-apa yang Allah telah larang/cegah kamu (mengerjakannya), melainkan sesungguhnya telah aku larang kamu dari mengerjakannya”.
.
Perhatikan baik-baik sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, tidak ada satu pun perintah dan larangan Allah Ta’ala kecuali semuanya telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan kepada umatnya.
.
Seorang Sahabat Nabi yang mulia, Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata :
.
لَقَدْ تَرَكَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا يَتَقَلَّبُ فِي السَّمَاءِ طَائِرٌ إِلَّا ذَكَّرَنَا مِنْهُ عِلْمًا
.
”Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan kami dan tidak ada burung yang terbang kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitahukan tentang ilmunya”. (Musnad Ahmad 20467).
.
Maksud perkata’an Abu Dzar radlyallahu ’anhu ialah, bahwa Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya segala sesuatunya yang berhubungan dengan Islam, baik dalam bab keimanan, ibadah, muamalat, adab dan akhlak, kabar-kabar, perintah-perintah dan larangan dan segalanya. Hal yang paling kecilpun telah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam kepada umatnya.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya di atas menerangkan, sesungguhnya syari’at Islam sudah mencukupi. Oleh karena itu tidak dibenarkan apabila ada umatnya yang ingin mendapatkan jalan menuju surga-Nya Allah Ta’ala membuat-buat lagi cara-cara baru dalam agama. Oleh karena itu barang siapa mencari jalan untuk menuju surga dengan menempuh cara-cara yang tidak di ajarkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia menempuh jalan yang menyimpang dan sesat.
.
Banyak amalan-amalan dalam Islam yang dapat kita lakukan guna meraih ridho Allah Ta’ala dan pahala sebanyak-banyaknya.
.
Ada puasa-puasa sunnat, seperti : Puasa sunnat 6 hari dibulan syawwal, puasa sunnat senin dan kamis, puasa Daud, puasa sunnat tiga hari dalam sebulan, puasa sunnat arafah, puasa sunnat di bulan muharram dan puasa sunnat di bulan sya’ban.
.
Ada shalat-shalat sunnat, seperti : Shalat sunnat rowatib, shalat sunat dhuha, shalat sunnat tahajud, shalat sunnat witir, shalat sunnat tahiyatul masjid.
.
Dan masih banyak lagi amalan-amalan yang di ajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendapatkan ridha Allah dan pahala yang melimpah.
.
Dari ibadah-ibadah sunnat yang di sebutkan di atas, apakah ada diantaranya yang sudah secara rutin kita amalkan ?
.
Perkara berdo’a saja untuk kebaikan diri dan orang yang kita cintai, belum tentu kita bisa mengamalkan semuanya. Padahal berdo’a adalah amalan mulia dan terpuji, merupakan ibadah yang utama.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
.
“Do’a adalah ibadah.” (HR. Abu Daud no. 1479).
.
Banyak sekali do’a-doa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada umatnya, diantaranya :
.
Berdo’a ketika bangun tidur, keluar dari rumah, masuk ke dalam rumah, ketika hendak bepergian, hendak naik kendara’an, pulang dari bepergian, ketika terbangun dari tidur malam, apabila ada yang menakutkan sa’at tidur, supaya terhindar dari ke syirikan, masuk wc, keluar dari wc, apabila ada ada angin ribut, apabila turun hujan, mendengar petir, minta supaya hujan berhenti, mengalami keraguan iman, bila di puji orang, melihat orang yang mendapatkan coba’an, mengagumi sesuatu, ketika marah, ketika bersin, masuk mesjid, keluar mesjid, menengok orang sakit, sa’at mengenakan pakaian, menanggalkan pakaian, ketika masuk suatu kampung, masuk pasar, mengenakan pakaian baru, mengusir setan, apabila ada yang menyenangkan atau menyusahkan, ketika ada firasat buruk, melihat bulan sabit, mendengar adzan, ingin sembuh dari sakit, sa’at gelisah, do’a perlindungan buat anak, mendo’akan pengantin, mendapatkan sesuatu yang tidak di sukai, sa’at dilanda ketakutan, sebelum makan, setelah makan, dan banyak lagi do’a-do’a yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada umatnya.
.
Dari semua do’a-doa di atas, berapa banyak yang sudah kita amalkan secara rutin ?
.
Masuk kamar mandi (wc) saja, apakah kita sudah biasa membaca do’anya ?
.
Kalau yang di ajarkan oleh Rasulullah saja belum bisa kita amalkan secara rutin, lalu mengapa juga kita mengamalkan amalan-amalan yang tidak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam ajarkan ?
.
Apakah kita merasa ajaran Islam itu masih kurang ?
.
Sehingga harus mengamalkan lagi amalan-amalan yang tidak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan ?
.
Itu baru perkara do’a. Dan masih banyak lagi ibadah-ibadah yang di ajarkan oleh Rasulullah untuk mendapatkan ridha Allah dan meraih pahala yang melimpah, misalnya ; Shalat qobliah subuh,
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Dua raka’at sebelum shubuh, lebih utama dari dunia dan isinya”. (HR. Muslim no. 725).
.
Dua raka’at sebelum subuh, lebih utama dari dunia dan isinya. Apakah kita sudah mengamalkannya secara rutin ?
.
Kalau yang di ajarkan oleh Rasulullah saja belum bisa kita amalkan secara rutin, lalu mengapa juga kita mengamalkan amalan-amalan yang tidak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam ajarkan ?
.
Apakah ajaran Islam tidak cukup, sehingga harus membuat-buat ajaran baru (bid’ah) ?
.
Mengapa kalau mengerjakan amalan-amalan bid’ah banyak yang bersemangat, sementara mengerjakan amalan-amalan yang di ajarkan oleh Rasulullah banyak yang lalai, tidak di perhatikan bahkan banyak yang di tinggalkan.
.
Apakah semua yang di ajarkan Nabi sudah mampu kita amalkan ?
.
Dan merasa masih kurang ?
.
Lalu mengapa, mengerjakan amalan-amalan yang tidak Nabi ajarkan ?
.
Apakah amalan bid’ah itu lebih utama dari pada amalan sunnah ?
.
MENGERJAKAN AMALAN YANG DI AJARKAN NABI (SUNNAH) SAJA KEDODORAN, KENAPA PULA HARUS MENGAMALKAN AJARAN YANG TIDAK DI AJARKAN NABI (BID’AH) ?
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah
.
.
_________________