MENGENAL HAKEKAT ULAMA

.
MENGENAL HAKEKAT ULAMA
.
By : Abu Meong
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
.
الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
.
“Ulama adalah pewaris para Nabi”. (Hr. At-Tirmidzi).
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mewariskan dirham dan dinar kepada umatnya, tapi yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wariskan adalah ilmu.
.
Ilmu yang Nabi wariskan kemudian para Ulama mencatatnya. Dalam sejarah Islam banyak sekali Ulama yang menulis kitab, dan kitab-kitab yang ditulis para Ulama tersebut masih bisa kita baca sampai sa’at ini. Kitab-kitab yang ditulis para Ulama menjadi penerang umat sepanjang masa.
.
Apakah semua Ulama sebagai pewaris Nabi ?
.
Sa’at ini begitu mudahnya melabeli seseorang dengan sebutan Ulama.
.
Ada orang yang disebut Ulama karena kondang namanya sebagai penceramah yang pandai bicara, mahir berdalil, serta sibuk dengan undangan ceramahnya.
.
Ada pula orang yang dikatakan Ulama karena ia memiliki pondok pesantren dan banyak santrinya.
.
Juga ada orang yang dipandang sebagai Ulama karena terkenal sering jadi juara lomba baca Al-Qur’an.
.
Dan juga ada orang yang dianggap sebagai Ulama, karena selalu memakai gamis lengkap dengan sorban melilit di kepala, tongkat di tangan kiri dan biji tasbih di tangan kanannya.
.
Benarkah mereka itu ulama ?
.
Ternyata tidak semua Ulama baik. Dalam dunia islam dikenal ada istilah Ulama Su’ yaitu ulama buruk/jahat.
.
Perlu kita ketahui bahwa ulama ada dua :
.
1. Ulama Robbani
2. Ulama Su’ (buruk/jahat)
.
Apa itu Ulama Robbani dan Ulama Su’ (buruk/jahat) ?
.
(1) ULAMA ROBBANI
.
Ulama Robbani yaitu, Ulama yang mengajak umat untuk memurnikan Tauhid dan menjauhi kesyirikan, Ulama yang menyeru untuk ittiba’ kepada sunnah Nabi dan memperingatkan umat dari bahayanya tahayul, bid’ah dan khurafat. Ulama yang memperingatkan umat untuk tidak taqlid kepada siapapun dan kepada kelompok manapun. Ulama Robbani adalah seorang Ulama yang membimbing umat untuk menapaki jejak para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut tabi’in. Karena mereka itulah generasi terbaik umat (Shalafus Shalih). Ulama Robbani adalah seorang Ulama yang menjadikan umat menjadi takut kepada Allah Ta’ala, sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin : “Ulama adalah orang yang ilmunya menyampaikan mereka kepada sifat takut kepada Allah”. (Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin).
.
Itulah ciri-ciri dari Ulama Robbani, dan Ulama Robbani itulah yang Rasulullah sebut sebagai Ulama pewaris para Nabi.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
.
الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
.
“Ulama adalah pewaris para nabi”. (Hr. At-Tirmidzi).
.
(2) ULAMA SU’
.
Tentang Ulama Su’ (buruk/jahat), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya, sebagaimana dalam sebuah hadits berikut ini,
.
دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا
.
”Akan muncul para da’i yang menyeru ke Neraka Jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam Neraka”.
.
Itulah Ulama Su’ yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu para da’i yang menjerumuskan umat ke dalam Jahannam.
.
Apa itu Ulama Su’ (buruk/jahat) ?
.
Ulama Su’ adalah para Ulama yang menjadikan umat menyimpang dan bergelimang kesesatan, menyeret umat kepada kesyirikan, bid’ah dan kebatilan lainnya. Menjadikan umat semakin jauh dari Allah Ta’ala.
.
Ulama Su’ lainnya menyeret umat kedalam dunia khurafat, umatnya disesatkan dengan ajaran mistik dan kebatinan, ilmu kebal, bisa menghilang, penglaris, pengasihan dan ajaran setan lainnya yang digemari orang-orang awam.
.
Di samping Ulama Su’ yang memiliki sifat diatas, juga ada Ulama Su’ yang menjadikan agama sebagai barang dagangan. Agama dijadikan sarana untuk mencari keuntungan dunia, popularitas, kekaya’an dan kedudukan.
.
Ulama Su’ model ini sebagaimana layaknya Ulama, nampak alim, santun tutur katanya lembut memikat, fasih dan pandai berdalil yang mampu menyihir orang awam.
.
Dengan kemahirannya berbicara masalah agama, membuat orang awam kagum terpesona, pujian dari manusia mengalir, menjadikan jadwal undangan ceramahnya padat, dan pundi-pundinya pun semakin melimpah.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka. Lisan mereka lebih manis dari gula, namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan)”. (Hr. Tirmidzi).
.
Itulah Ulama Su’ yang hadir di tengah-tengah umat. Keberada’annya bukan menerangi umat, mengeluarkan umat dari kejahilan, tapi menjadikan umat semakin jahil. Ulama Su’ menjadikan kebenaran tersamarkan, menjadikan umat memusuhi kebenaran dan sebaliknya menggandrungi kebatilan. Ulama Su’ menjadikan umat untuk selalu manut dan membenarkan kepada apa yang dikatakan dan dilakukannya. Ulama Su’ menjadikan umat menyimpang dan tersesat.
.
Ulama Su’ bukanlah Ulama pewaris Nabi, tapi sebaliknya menodai Risalah Nabi. Ulama Su’ hakekatnya adalah musuh umat Islam.
.
Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari tipu daya mereka, Aamiin.
.
الله المستعان
.
.
Kunjungi blog pribadi di https : //agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah
.
.
____

TUJUANNYA KAN BAIK ?

TUJUANNYA KAN BAIK ?

Maulid Nabi itu kan baik, sebagai bukti cinta kita kepada Rasulullah.

Tahlilan itu kan baik, mendo’akan mayat, mengirimkan pahala sedekah kepada mayat, ada pembaca’an Qur’an, dzikir dan lain-lain. Semua itu baik. Tidak menyalahi Qur’an dan Sunnah.

Begitulah orang awam menjawab atau berujar ketika amalan-amalan bid’ah yang mereka lakukan di peringatkan untuk di tinggalkannya.

Allah ta’ala berfirman ;

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“. . Tetapi boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh Jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”. (Al Baqarah, 216).

Sesuatu yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah dan Rasul-Nya. Bahkan dengan sesama manusia pun, bisa tidak sependapat memberikan penilaian baik terhadap suatu perkara.

Kita ambil contoh, melokalisir pelacuran. Sebagian orang berpendapat, tindakan tersebut baik, jadi tidak ada pelacur berkeliaran di jalanan, pelacur dan penikmatnya bisa di kontrol, di awasi dan di bina.

Apakah baik tindakan melokalisir pelacuran tersebut ?

Pihak lain bisa memiliki pendapat yang berbeda.

Melokalisir pelacuran sama saja dengan melegalkan kemaksiatan, yang semestinya di hilangkan. Melokalisir pelacuran artinya tidak baik atau dengan kata lain sangat buruk.

Sangat banyak perkara-perkara yang di anggap baik oleh satu pihak, tapi di anggap sangat buruk oleh pihak lain.

Jadi baik itu relatif, tergantung kepada siapa yang memandangnya.

Dalam urusan ibadah, yang punya hak untuk menentukan baik dan buruk itu hanya Allah dan Rasul-Nya.

Coba perhatikan baik-baik perkara yang di katakan BID’AH SESAT oleh Imam An-Nawawi berikut ini.

• Berdo’a setiap kali mencuci anggota wudhu.

Sebagian umat Islam membaca do’a setiap kali membasuh anggota wudhu.

✔ Ketika berkumur-kumur membaca do’a,

اللَّهُمَّ اسْقِنِيْ مِنْ حَوْضِ نَبِيَّكَ كَأْسًا لاَ أَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدُا

“Ya Allah berilah saya minum dari telaga Nabi-Mu satu gelas yang saya tidak akan haus selama-lamanya.”

✔ Membasuh wajah membaca do’a,

اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَسْوَدُّ الْوُجُوْهُ

“Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari wajah-wajah menjadi hitam.”

✔ Mencuci tangan membaca do’a,

اللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِيَمِيْنِيْ وَلاَ تُعْطِنِيْ بِشِمَالِيْ

“Ya Allah, berikanlah kitabku di tangan kananku dan janganlah engkau berikan di tangan kiriku.”

Begitu pula ketika mengusap kepala, mengusap telinga dan mencuci kaki membaca do’a.

Do’a-do’a tersebut tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Artinya do’a-do’a tersebut adalah perkara baru dalam agama yang dibuat-buat (bid’ah).

Imam besar Ulama Syafi’iyah, Imam An-Nawawi menegaskan, bahwa do’a-do’a tersebut tidak ada asalnya dan tidak pernah disebutkan oleh orang-orang terdahulu di kalangan Syafi’iyah.

Imam An-Nawawi berkata :

ثم، مع هذا، لا شك أنه يتم تضمين الصلاة في الوضوء بدعة المضللة التي ينبغي التخلي عنها

”MAKA, DENGAN INI, TIDAK DIRAGUKAN BAHWA DO’A INI TERMASUK BID’AH SESAT DALAM WUDHU YANG HARUS DITINGGALKAN”. (Lihat Al-Majmu’, 1: 487-489).

Perhatikan baik-baik perkata’an Imam An-Nawawi di atas ! !

Do’a-do’a yang di ucapkan sebagian umat Islam ketika membasuh anggota wudhunya, Imam An-Nawawi menyebutnya sebagai BID’AH YANG SESAT (بدعة المضللة), yang harus di tinggalkan.

Perhatikan do’a-doa yang di katakan bid’ah sesat oleh Imam An-Nawawi di atas.

Apakah do’a-do’anya tersebut mengandung kejelakan ? ?

Tentu tidak, bahkan sangat baik.

Apakah do’a-do’a yang dikatakan bid’ah sesat oleh Imam An-Nawawi di atas menyalahi Qur’an dan Sunnah ? ?

Tentu tidak, bahkan sangat selaras dengan Qur’an dan Sunnah.

Bukankah berdo’a itu di syari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya ? ?

Tentu saja, bahkan berdo’a itu Rasulullah sebutkan sebagai pokoknya ibadah (مخ العبادة).

Lalu mengapa do’a-do’a ketika membasuh setiap anggota wudhu yang di lafalkan sebagian umat Islam, Imam An-Nawawi menyebutnya sebagi BID’AH YANG SESAT (بدعة المضللة) yang harus di tinggalkan ? ? ?
Jawabannya :
Ibadah bukan hanya menurut perasa’an baik, tapi harus ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

الله يهدك

Дδµ$ $ąŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/08-bidah/02-memahami-bidah/

=====

BAIK MENURUT KITA BELUM TENTU BAIK MENURUT ALLAH DAN RASULNYA

BAIK MENURUT KITA BELUM TENTU BAIK MENURUT ALLAH DAN RASULNYA

Seringkali orang awam kebingungan tidak faham ketika dikatakan amalan-amalan atau acara-acara yang dilakukannya dikatakan bid’ah. Mereka pun berkata ; Bukankah amalan ini baik ?

Ketahuilah, baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah dan Rasul-Nya.

Allah ta’ala berfirman ;

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“. . Tetapi boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh Jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”. (Al Baqarah, 216).

Coba kita perhatikan riwayat-riwayat berikut ini.

1. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar berita tentang pernyata’an tiga orang. Yang pertama berkata : “Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam”, yang kedua berkata : ”Saya akan puasa dan tidak akan berbuka”, yang terakhir berkata : “Saya tidak akan menikah”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegur mereka, seraya berkata : “Apa urusan mereka dengan berkata seperti itu ?, Padahal saya puasa dan saya pun berbuka, saya shalat dan saya pun tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku”. (Muttafaqun alaihi).

– Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mencela seseorang yang hendak shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam.

* Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencelanya, bukankah tujuan orang tersebut baik, hendak memperbanyak ibadah ?

– Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mencela seseorang yang akan puasa dan tidak akan berbuka.

* Kenapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mencelanya, bukankah tujuan orang tersebut baik, hendak memperbanyak ibadah ?

– Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mencela seseorang yang tidak akan menikah, karena hendak taqorrub kepada Allah.

* Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencelanya, bukankah tujuan orang tersebut baik, hendak taqorrub kepada Allah ?

2- Al-Baroo’ bin ‘Aazib berkata :

قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شَقِّكَ الأَيْمَنِ وَقُلْ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku : Jika engkau mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah sebagaimana berwudhu untuk sholat, lalu berbaringlah di atas bagian tubuhmu yang kanan, lalu katakanlah :

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إْلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتُ

“Yaa Allah aku menyerahkan jiwaku kepadaMu, dan aku pasrahkan urusanku kepadaMu, dan aku sandarkan punggungku kepadaMu, dengan kekhawatiran dan harapan kepadaMu. Tidak ada tempat bersandar dan keselamatan dariMu kecuali kepadaMu. Aku beriman kepada kitabMu yang Engkau turunkan dan beriman kepada Nabimu yang Engkau utus”

Nabi berkata :

فَإِنْ مِتَّ مِتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُوْلُ

“Jika engkau meninggal maka engkau meninggal di atas fitroh, dan jadikanlah doa ini adalah kalimat terakhir yang engkau ucapkan (sebelum tidur)”

Al-Baroo’ bin ‘Aazib berkata :

فَقُلْتُ أَسْتَذْكِرُهُنَّ وَبِرَسُوْلِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ لاَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Lalu aku mencoba untuk mengingatnya dan aku berkata “Dan aku beriman kepada RasulMu yang Engkau utus”

Nabi berkata : “Tidak, (akan tetapi) : Dan aku beriman kepada NabiMu yang Engkau utus”. (HR Al-Bukhari no 6311).

* Kenapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyalahkan perkata’an Al-Baroo’ bin ‘Aazib yang berkata : “Dan aku beriman kepada RasulMu yang Engkau utus”. Bukankah perkata’an “RasulMu” itu baik ?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Perhatikan juga atsar para Sahabat berikut ini.

1. Sa’id bin Musayyib (tabi’in), Ia melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua raka’at, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Akhirnya Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata : “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku dengan sebab shalat ? Beliau menjawab : “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi As-Sunnah.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra, II/466).

* Kenapa Sa’id bin Musayyib melarang seorang laki-laki yang menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua raka’at, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya, Bukankah Shalat itu adalah amalan yang paling utama ?

2. Shahabat yang mulia Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma, menceritakan, Bahwasannya ada seorang laki-laki yang bersin kemudian dia berkata, “Alhamdulillah wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah” (segala puji bagi Allah dan kesejahtera’an bagi Rasulullah). Maka Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata : Aku juga mengatakan, “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah” (maksudnya juga bershalawat). Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami untuk mengucapkan (ketika bersin) : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.” (Diriwayatkan olehAt-Tirmidzi, no. 2738).

* Kenapa Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma mengajarkan kepada seorang laki-laki yang bersin, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari, kalau bersin untuk mengucapkan : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal”. Bukankah ucapan “Alhamdulillah wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah” yang diucapkan seorang laki-laki itupun baik ?

3- Abu Musa Al-As’ari Radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan memasuki masjid Kufah, lalu didapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling). Pada setiap halaqah terdapat seorang syaikh, dan didepan mereka ada tumpukan kerikil, lalu syaikh tersebut menyuruh mereka, “Bertasbihlah seratus kali !” Lalu mereka pun bertasbih (menghitung) dengan kerikil tersebut. Lalu syaikh itu berkata lagi, “Bertahmidlah seratus kali” Dan demikianlah seterusnya . . Maka Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu mengingkari hal itu dalam hatinya, tapi ia tidak mengingkari dengan lisannya. Hanya saja ia bersegera pergi dengan berlari kecil menuju rumah Abdullah bin Mas’ud, lalu iapun mengucapkan salam kepada Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin mas’ud pun membalas salamnya. Berkatalah Abu Musa kepada Ibnu Mas’ud , “Wahai Abu Abdurrahman, sungguh baru saja saya memasuki masjid, lalu aku melihat sesuatu yang aku mengingkarinya, demi Allah tidaklah saya melihat melainkan kebaikan”. Lalu Abu Musa menceritakan keada’an halaqah dzikir tersebut. Maka berkatalah Ibnu Mas’ud kepada Abu Musa : “Apakah engkau memerintahkan mereka untuk menghitung kejelekan-kejelekan mereka ? Dan engkau memberi jaminan mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan hilang sedikitpun ?” Abu Musa pun menjawab, “Aku tidak memerintahkan apapun kepada mereka”. Berkatalah Ibnu Mas’ud, Mari kita pergi menuju mereka. Lalu Ibnu Mas’ud mengucapkan salam kepada mereka. Dan mereka membalas salamnya. Berkatalah Ibnu Mas’ud : “Perbuatan apa yang aku lihat kalian melakukannya ini wahai Umat Muhammad ?” Mereka menjawab, “Wahai Abu Abdurrahman, ini adalah kerikil yang digunakan untuk menghitung tasbih, tahmid, dan tahlil, dan takbir”. Maka berkatalah Ibnu Mas’ud : “Alangkah cepatnya kalian binasa wahai Umat Muhammad, (padahal) para sahabat masih banyak yang hidup, dan ini pakaiannya belum rusak sama sekali, dan ini bejananya belum pecah, ataukah kalian ingin berada diatas agama yang lebih mendapat petunjuk dari agama Muhammad ? Ataukah kalian telah membuka pintu kesesatan ?”, Mereka pun menjawab, “Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan”. Abu Mas’ud pun berkata : “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak mendapatkannya”. Berkata Amru bin Salamah, “Sungguh aku telah melihat umumnya mereka yang mengadakan majelis dzikir itu memerangi kita pada hari perang An-Nahrawan bersama kaum Khawarij”. (Riwayat Darimi dengan sanad shahih).

* Mengapa Ibnu Mas’ud menegur orang-orang yang sedang berdzikir, Bukankah dzikir itu baik ?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kalau kita perhatikan riwayat-riwayat diatas,

* Kenapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mencela orang yang hendak memperbanyak ibadah, bukankah ibadah itu baik ?

* Kenapa para Sahabat mencela dan mengingkari orang yang sedang beribadah, bukankah ibadah itu baik ?

Apa yang dicela dan diingkari oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga para Sahabat, tujuan mereka melakukannya adalah untuk memperbanyak ibadah. Maksud mereka tentu saja baik.

Tapi mengapa mereka dicela ?

Tidak lain, karena apa yang mereka lakukan tidak dibenarkan oleh syari’at. Apa yang mereka lakukan tidak ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Yang mereka lakukan adalah perkara yang dibuat-buat. Perkara yang baru (bid’ah) dalam urusan ibadah.

Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga para Sahabat tidak faham kalau bid’ah ada yang baik ?

Apakah ahli bid’ah yang mengatakan ada bid’ah hasanah lebih faham Islam daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat ?

الله المستعان

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

=======================

YANG PENTING NIATNYA

YANG PENTING NIATNYA

Yang penting niatnya karena Allah, yang penting niatnya ikhlas, yang penting niatnya baik.

Begitulah kira-kira yang sering diucapkan orang awam.

Sebagai manusia yang berakal tentu kita menginginkan semua urusan yang kita lakukan didunia ini apakah urusan duniawi atau urusan ibadah tidak sia-sia. Beribadah kita berharap limpahan pahala, begitu pula urusan duniawi kita mengharapkan keuntungan bukan kerugian. Sungguh rugi apabila kita beribadah bukannya pahala yang kita dapatkan tapi malah laknat. Terlebih lagi untuk urusan ibadah itu kita berkorban meluangkan waktu tenaga bahkan disertai dengan keluarnya biaya.

Ibadah tidak cukup hanya niatnya karena Allah, niatnya ikhlas, niatnya baik. Akan tetapi juga harus sesuai dengan perintah Allah ta’ala dan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Ibadah akan diterima Allah ta’ala apabila terpenuhi dua syarat.

• DUA SYARAT DITERIMANYA IBADAH

Dua syarat diterimanya ibadah ini bukanlah suatu yang dibuat-buat oleh para Ulama semata-mata berdasar akal mereka, melainkan dua syarat ini telah Allah Subhanahu wa Ta’ala abadikan dalam firman-Nya di ayat terakhir surat Al Kahfi.

Allah ta’ala berfirman ;

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلٰهُكُمْ إِلٰهٌ وٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

“Katakanlah, Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, “Bahwa sesungguhnya sesembahan kamu itu adalah sesembahan yang satu”. Barangsiapa mengharap perjumpa’an dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya“. (QS. Al Kahfi: 110).

Ibnu Katsir Asy-Syafi’i rohimahullah seorang pakar tafsir yang tidak diragukan lagi keilmuannya mengatakan ;

“Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya.”Kemudian beliau mengatakan, “Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (Shohih Tafsir Ibnu Katsir oleh Syaikh Musthofa Al Adawiy hafidzahullah hal. 57/III, terbitan Dar Ibnu Rojab, Mesir).

Dalil lainnya, Allah ‘azza wa jalla berfirman ;

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“(Allah-lah) yang menciptakan kematian dan kehidupan supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalannya”. [QS Al Mulk: 2]

Fudhail bin ‘Iyaad rohimahullah seorang Tabi’in yang agung mengatakan ketika menafsirkan firman Allah, (yang artinya) “yang lebih baik amal ibadahnya” maksudnya adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar (paling mencocoki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Kemudian Beliau rohimahullah mengatakan ; “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima. Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan showab. Amalan dikatakan ikhlas apabila dikerjakan semata-mata karena Allah. Amalan dikatakan showab apabila mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (Lihat Ma’alimut Tanziil (Tafsir Al Baghowi) oleh Abu Muhammad Husain bin Mas’ud Al Baghowiy rohimahullah tahqiq Syaikh Muhammad Abdullah An Namr, terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh).

– Dalil dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Adapun dalil dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam untuk syarat pertama, adalah hadits yang diriwayatkan melalui jalan Amirul Mu’minin Umar bin Khottob rodhiyallahu ‘anhu,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan itu tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap orang tergantung dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia yang ingin ia perolehnya, atau untuk wanita yang ingin ia nikahinya, maka hijrahnya kepada apa-apa yang ia berhijrah kepadanya”. (HR. Al-Bukhari, 1/3 no. 1, Muslim 3/1515 no. 1907).

Dalil untuk syarat yang kedua adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam yang diriwayatkan dari jalur Ummul Mu’minin Aisyah rodhiyallahu ‘anha,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak”. (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718).

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan ; “Hadits ini adalah hadits yang sangat agung mengenai pokok Islam. Hadits ini merupakan timbangan amalan zhohir (lahir). Sebagaimana hadits ‘innamal a’malu bin niyat’ [sesungguhnya amal tergantung dari niatnya] merupakan timbangan amalan batin. Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak. Segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin dari Allah dan Rasul-Nya, maka perkara tersebut bukanlah agama sama sekali”. (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 77).

Ada riwayat masyhur, yaitu ada sekelompok orang yang berdzikir tapi mendapatkan teguran dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, karena dzikir mereka tidak sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Ketika ditegur Ibnu Mas’ud mereka beralasan,

وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.

“Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan”.

Perhatikan ucapan mereka, orang-orang yang ditegur itu berniat baik, namun cara mereka beribadah tidak sesuai ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lalu Ibnu Mas’ud membantah perkata’an mereka dan berkata,

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid).

Kaseimpulannya : Ibadah tidak cukup hanya niat karena Allah, niatnya ikhlas, niatnya baik. Tapi ibadah akan mendapatkan balasan pahala apabila di samping ikhlas juga sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulnya.

Wassalam

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-lafadz-sanna/

=========================

BELAJAR MEMBUAT KOMENTAR YANG CERDAS

BELAJAR MEMBUAT KOMENTAR YANG CERDAS

Manusia cerdas adalah manusia yang tidak bodoh, apakah bodoh sikap atau ucapannya. Orang cerdas diantaranya adalah orang yang mengetahui kapasitas diri dan bisa mengkondisikan dirinya. Ketika membuat tanggapan atau komentar orang cerdas tidak akan keluar dari tema yang sedang dibicarakan. Tidak OOT (out of tema).

Memberi komentar, membuat tanggapan boleh saja tapi jangan lupakan kehormatan diri (muru’ah) tidak malah justru menelanjangi diri dengan komentar bodoh tidak mengenal adab, berfikir primitif dan tidak mengumbar gejala kelainan jiwa.

Bila memang perlu bertanya jangan seperti orang yahudi. Orang yahudi kalau bertanya, ada niat busuk dibalik pertanya’annya.

SIFAT ASLI YAHUDI

Banyak Tanya, Banyak Membantah, Banyak Menyelisihi.

Jangan Ditiru !!

– Orang yahudi mencari-cari pertanya’an dengan tujuan untuk membingungkan dan menyudutkan orang yang ditanya.

– Orang yahudi apabila bertanya punya tujuan untuk membantah dan menolak kebenaran.

– Orang yahudi membuat pertanya’an hanya untuk memancing terjadinya saling berbantah-bantahan.

Gambaran sifat yahudi bisa dibaca dalam surat Al-Baqarah ayat 67-74.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Apa yang telah aku larang untukmu maka jauhilah. Dan apa yang kuperintahkan kepadamu, maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuanmu.

فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ

”Sesungguhnya umat sebelum kalian binasa karena mereka banyak tanya, dan sering menyelisihi para Nabi mereka”. (HR. Muslim).

wasallam

Agus Santosa Somantri

===============

KALAU BAIK TENTU PARA SAHABAT SUDAH MELAKUKANNYA

KALAU BAIK TENTU PARA SAHABAT SUDAH MELAKUKANNYA

Para pembela bid’ah hasanah sering beralasan bahwa amalan-amalan atau acara-acara bid’ah yang mereka ikuti atau lakukannya adalah baik.

Apakah benar anggapan baik mereka ?

Kalau memang baik, tentu para Sahabat sudah melakukannya !

Seandainya amalan-amalan atau acara-acara baru dalam urusan ibadah yang ahli bid’ah sa’at ini lakukan namun para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan dan mencontohkannya, maka sudah pasti amalan tersebut tidak baik.

Mengapa demikian ?

Karena para Sahabat adalah orang-orang yang lebih semangat dalam kebaikan daripada kita.

Atau para pembela bid’ah hasanah merasa lebih baik dari para Sahabat ?

Inilah yang dikatakan para Ulama Ahlu Sunnah :

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”

Imam Ibnu Katsir berkata :

وأما أهل السُّنّة والجماعة فيقولون في كلِّ فِعلٍ وقولٍ لم يَثبت عن الصحابة: هو بدعة؛ لأنه لو كان خيرًا؛ لَسَبقونا إليه؛ لأنهم لم يتركوا خصلة مِن خصال الخير إلا وقد بادروا إليها”.

“Adapun para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka berkata pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, mereka menggolongkannya sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir).

Perhatikan perkata’an Imam Ibnu Katsir berikut ini :

“ADAPUN PARA ULAMA AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH, MEREKA BERKATA PADA SETIAP AMALAN ATAU PERBUATAN YANG TIDAK PERNAH DILAKUKAN OLEH PARA SAHABAT, MEREKA MENGGOLONGKAN-NYA SEBAGAI BID’AH“.

Perkata’an Imam Ibnu Katsir diatas ketika Ibnu Katsir menafsirkan firman Allah surat Al-Ahqaf ayat 11,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ

”Dan orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, “Sekiranya (Al Quran) itu sesuatu yang baik, tentu mereka tidak pantas mendahului kami (beriman) kepadanya. Tetapi karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata, “Ini adalah dusta yang lama“. (Al Ahqaf: 11).

Cukup mudah sebetulnya untuk mengetahui perkara baru dalam urusan ibadah itu baik atau tidak, bid’ah atau bukan. Cukup kita mengetahui apakah perkara tersebut di lakukan para Sahabat atau tidak.

Kalau tidak dilakukan para Sahabat maka perkara baru dalam urusan ibadah itu adalah tidak baik atau tercela. Maka perkara baru dalam urusan ibadah itu adalah bid’ah.

Sebagaimana yang dikatakan Imam ibnu Katsir :

فيقولون في كلِّ فِعلٍ وقولٍ لم يَثبت عن الصحابة: هو بدعة؛ لأنه لو كان خيرًا؛ لَسَبقونا إليه

”Mereka (Ulama Ahlu Sunnah) berkata, pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, mereka menggolongkannya sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya”. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir).

Tapi mengapa para pembela bid’ah hasanah begitu teguh membela amalan-amalan bid’ahnya, dan mereka memandangnya sebagai sesuatu yang baik ?

Inilah jawabannya ! !

Telah berkata Abdullah bin Aun Al-Bashri Rahimahullah : “Jika hawa nafsu telah menguasai hati, maka seseorang akan menganggap baik sesuatu yang buruk”. (Kitab Sallus Suyuf: 24).

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”

Prinsip para Ulama Ahlu Sunnah diatas bisa kita terapkan untuk menilai apakah amalan baru dalam urusan ibadah tersebut baik atau tidak.

وَٱللَّهُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

================

APA SAJA YANG DIPANDANG KAUM MUSLIMIN BAIK, MAKA DI SISI ALLAH JUGA BAIK

APA SAJA YANG DIPANDANG KAUM MUSLIMIN BAIK, MAKA DI SISI ALLAH JUGA BAIK

Diantara dalil yang digunakan oleh para pendukung bid’ah hasanah adalah sebuah atsar yang diakui sebagai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

مَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ حَسَناً؛ فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ سَيِّئاً؛ فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ

“Apa saja yang dipandang kaum muslimin merupakan kebaikan maka ia di sisi Allah juga merupakan kebaikan. Dan apa saja yang dipandang kaum muslimin merupakan keburukan maka ia di sisi Allah juga merupakan keburukan” (HR Ahmad).

Karenanya jika kaum muslimin memandang suatu bid’ah baik maka ia juga baik di sisi Allah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

BANTAHAN :

Bantahan terhadap syubhat ini bisa ditinjau dari beberapa sisi :

PERTAMA : Nukilan ini bukanlah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi merupakan perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu.

Ibnu Hazm rahimahullah (wafat 456 H) berkata :

“Mereka berdalil untuk (pembenaran) istihsaan dengan perkataan yang mengalir di lisan-lisan mereka, yaitu : Apa yang dipandang kaum muslimin baik, maka di sisi Allah juga baik”. Perkataan ini sama sekali kami tidak mengetahuinya bersanad sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan yang tidak diragukan lagi bahwasanya perkata’an ini tidak terdapat sama sekali di dalam hadits musnad yang shahih, yang kami ketahui perkata’an ini adalah dari Ibnu Mas’uud” (Al-Ihkaam fi Ushuul al-Ahkaam, karya Ibnu Hazm, tahqiq Ahmad Muhammad Syaakir, : 6/18)

Az-Zaila’i Al-Hanafi rahimahullah (wafat 762 H), berkata ;

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ((Apa yang dipandang kaum muslimin baik maka ia di sisi Allah juga baik)), aku berkata : Aneh diriwayatkan secara marfu’, dan aku tidak mendapatkan atsar ini kecuali mauquf dari Ibnu Mas’ud” (Nashbur Rooyah, Az-Zaila’i, Muassasah Ar-Royyaan, cetakan pertama, 4/133)

Al-Haafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

“Hadits ((Apa yang dipandang kaum muslimin baik maka ia di sisi Allah juga baik)), aku tidak menemukannya diriwayatkan secara marfu’ (dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad secara mauquf dari perkata’an Ibnu Mas’ud dengan sanad yang hasan. Demikian pula dikeluarkan oleh Al-Bazzaar, At-Thoyaalisi, At-Thobrooni, dan Abu Nu’aim pada biografi Ibnu Mas’ud, serta Al-Baihaqi dalam kitab al-I’tiqood. Ia juga telah mengeluarkan atsar ini dari jalan yang lain dari Ibnu Mas’ud” (Ad-Dirooyah fi takhriij Ahaadiits Al-Hidaayah, Ibnu Hajar al-Asqolaaniy, tahqiq : Sayyid Abdullah Hasyim Al-Yamaani, Daarul Ma’rifah, 2/187).

KEDUA : Kalaupun atsar ini shahih akan tetapi sama sekali tidak bertentangan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Semua bid’ah sesat” ditinjau dari beberapa sisi :

Pertama : Yang dimaksud dengan “pandangan / kesepakatan kaum muslimin” dalam atsar Ibnu Mas’ud ini adalah pandangan / ijmak / kesepakatan para sahabat, sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh konteks atsar tersebut.

Marilah kita perhatikan konteks atsar ini secara lengkap.

Ibnu Mas’ud berkata ;

إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ

“Sesungguhnya Allah melihat kepada hati-hati para hamba maka Allah mendapati hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hati yang terbaik, maka Allahpun memilih beliau untuk diriNya dan mengutusnya dengan risalahNya. Lalu Allah melihat kepada hati-hati para hamba setelah hati Muhammad maka Allah mendapati hati-hati para sahabatnya adalah hati-hati para hamba yang terbaik, maka Allah menjadikan mereka sebagai para penolong nabiNya, mereka berperang di atas agamaNya. Maka apa yang dipandang kaum muslimin baik maka ia juga baik di sisi Allah, dan apa yang mereka lihat sebagai keburukan maka ia di sisi Allah juga buruk” (Atsar Riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya 3600)

Kedua : Dalam riwayat Al-Hakim di Al-Mustadrok terdapat tambahan pada akhirnya:

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ مَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رآهُ الْمُسْلِمُوْنَ سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّءٌ وَقَدْ رَأَى الصَّحَابَةُ جَمِيْعًا أَنْ يَسْتَخْلِفُوا أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ،

Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Apa yang dipandang oleh kaum muslimin baik maka ia di sisi Allah juga baik, dan apa yang dipandang kaum muslimin buruk maka ia di sisi Allah juga buruk. Dan para sahabat seluruhnya telah memandang untuk mengangkat Abu Bakar radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah”

Lalu Imam Al-Haakim berkata, هَذَا حَدِيْث صَحِيْحُ الإِسْنَادِ وَلَمْ يُخْرِجَاه “Ini adalah hadits yang sanadnya shahih dan tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim” (Al-Mustadrok ‘ala as-Shahihain, no 4465, dan penshahihan Al-Haakim disepakati oleh Adz-Dzahabi).

Sangatlah jelas, bahwasanya Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berdalil dengan atsar ini untuk menyatakan bahwa ijmak para sahabat adalah benar di sisi Allah. Dan Ibnu Mas’ud lebih paham dengan apa yang beliau ucapkan / riwayatkan.

Karenanya ال (alif laam) yang terdapat dalam lafal الْمُسْلِمُوْنَ bukanlah alif lam untuk istighrooq (yang memberikan faedah keumuman, sehingga mencakup seluruh kaum mulsimin), akan tetapi di sini adalah ال untuk al-‘ahd, yaitu yang dimaksud dengan kaum muslimin di sini adalah para sahabat secara khusus, sebagaimana yang ditunjukkan oleh konteks lengkap atsar tersebut dan sebagaimana yang dipahami oleh Ibnu Mas’ud sendiri.

KETIGA : Sebagian orang menganggap ال (alif laam) yang terdapat dalam lafal الْمُسْلِمُوْنَ adalah untuk istighrooq sehingga mencakup seluruh kaum muslimin, jadi bukan hanya khusus untuk para sahabat. Sehingga dengan demikian jika kaum muslimin memandang suatu bid’ah itu baik / hasanah maka bid’ah tersebut di sisi Allah juga baik.

Bantahannya ;

Kalaupun kita menerima bahwasanya ال (alif laam) yang terdapat dalam lafal الْمُسْلِمُوْنَ adalah untuk istighrooq, maka tentu sudah jelas bahwasanya bukan sekumpulan kaum muslimin secara sembarangan, menimbang dua perkara berikut :

Pertama : Kalau seandainya ada sekelompok orang jahil dalam agama (misalnya mereka berjumlah 100 orang) lalu memandang sesuatu perkara ibadah baru sebagai kebaikan, tentunya tidak akan diterima pandangan mereka. Sebagai contoh sekelompok sekte di tanah air kita yang memandang bahwasanya menentukan 1 Ramadhan atau 1 Syawwal dengan melihat pasang surut air laut. Tentunya meskipun mereka memandang itu yang terbaik, akan tetapi pandangan mereka tidak akan diterima.

Kedua : Jadi kaum muslimin yang dimaksud dalam atsar tersebut haruslah dari kalangan para ahli ilmu. Lantas kita bertanya lagi, jika ada sekelompok ulama yang memandang baik suatu perkara bid’ah, akan tetapi sekelompok ulama yang lain memandang perkara bid’ah tersebut merupakan perkara yang buruk, maka pandangan kelompok manakah yang menjadi patokan dari kedua kelompok ulama tersebut ?.

Ibnu Hazm Al-Andalusi Adz-Dzohiri (wafat 456 H), berkata :

“Kalaupun ini adalah hadits yang shahih maka ini pun bukan dalil bagi mereka, karena hanya bisa menjadi dalil untuk ijmak kaum muslimin saja. Karena ia tidak berkata “Apa yang dilihat oleh sebagian kaum muslimin baik maka ia juga baik di sisi Allah”, akan tetapi ia berkata, “Apa yang dipandang kaum muslimin”. Inilah ijmak yang tidak boleh diselisihi jika memang pasti. Dan bukanlah apa yang dipandang oleh sebagian kaum muslimin lebih utama untuk diikuti dari apa yang dipandang oleh sebagian kaum muslimin lainnya. Kalau seandainya demikian, maka berarti kita telah diperintahkan untuk melakukan sesuatu dan melakukan lawan sesuatu tersebut, diperintahkan mengerjakan sesuatu dan sekalian meninggalkannya bersamaan. Ini merupakan berkara yang mustahil yang tidak mungkin dilakukan” (Al-Ihkaam fi Ushuul al-Ahkaam 6/19)

Karenanya mau tidak mau, makna dari “kaum muslimin” dalam atsar tersebut harus dibawakan kepada makna ijmak para ulama, sebagaimana yang telah terjadi di zaman para sahabat, tatkala para sahabat berijmak dan bersepakat untuk mengangkat Abu Bakr radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah pengganti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pemahaman inilah yang telah dipahami oleh banyak ulama, bisa dilihat pada poin-poin berikut :

Pertama : Sebagian ahli hadits membawakan atsar ini dalam bab yang diberi judul bab “Ijmak”. Sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Haafizh Al-Haitsami (wafat : 807 H) dalam kitabnya Majma’ Az-Zawaaid (1/427), beliau membawakan atsar ini dalam bab : بَابٌ فِي الْإِجْمَاعِ (bab tentang ijmak). Demikian juga dalam kitabnya Kasyful Astaar ‘An Zawaaid Al-Bazzar (1/81).

Kedua : Banyak ulama yang berdalil dengan atsar ini untuk menyatakan hujjahnya ijmak.

Diantara para ulama tersebut adalah;

1. Ibnu Hazm Al-Andalusi Adz-Dzohiri (wafat 456 H), sebagaimana telah lalu perkataan beliau bahwasanya yang dimaksud dengan “kaum muslimin” adalah ijmak kaum muslimin.

2. Abu Bakar As-Sarokhsi Al-Hanafi (wafat 490 H), ia berkata ;

وفي قوله ما رآه المسلم حسنا بيان أن إجماع أهل كل عصر حجة

“Dan pada perkata’annya “Apa yang dipandang kaum muslimin baik…” penjelasan bahwa ijmak kaum muslimin pada setiap masa adalah hujjah” (Ushul As-Sarokhsiy, tahqiq : Abu al-Wafaa Al-Afghooniy, Lajnah Ihyaa al-Ma’aarif An-Nu’maaniyah 1/319).

3. Al-‘Izz bin Abdis Salaam As-Syafi’i (wafat 660 H), ia pernah ditanya :

Pertanya’an : Apakah yang dimaksud dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Apa yang dipandang kaum muslimin baik maka baik pula di sisi Allah” ?

Jawaban : “Jika hadits tersebut shahih maka yang dimaksud dengan kaum muslimin adalah Ahlul Ijmak, Wallahu A’lam” (Al-Fatawaa li Al-Imaam al-‘Izz bin Abdis Salaam, tahqiq : Abdurrahman bin Abdil Fattaah, Daarul Ma’rifah, cetakan pertama, hal 42).

4. Al-Haafiz Ibnu Katsiir As-Syaaf’i (wafat 774 H).

“Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata “Apa yang dilihat oleh kaum mulsimin baik maka di sisi Allah juga baik, dan apa yang dilihat kaum muslimin buruk maka ia juga buruk di sisi Allah. Dan para sahabat seluruhnya telah memandang untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah” Isnadnya Shahih. Aku (Ibnu Katsiir-pen) berkata : Pada atsar ini ada hikayat Ijmak dari para sahabat dalam mendahulukan Abu Bakr sebagai khalifah” (yaitu atsar Ibnu Mas’ud). (Al-Bidaayah wa an-Nihaayah, tahqiq : Abdullah At-Turki, Daar Hajr, 14/386).

5. Al-Mardaawi al-Hanbali (wafat 885 H), silahkan lihat perkata’annya di kitabnya At-Tahbiir Syarh At-Tahriir fi ushuul a-Fiqh, (tahqiq : Abdurrahman al-Jibrin, Maktabat Ar-Rusyd, 8/3823).

Jika perkaranya demikian maka apakah ada bid’ah hasanah yang disepakati oleh kaum muslimin, disepakati oleh para ulama ?, tidak ada seorangpun yang menyelisihi ??. Jawabannya tentunya tidak ada !!!

Akan tetapi berbeda jika yang dimaksud dengan bid’ah hasanah adalah bid’ah secara bahasa yang mencakup al-maslahah al-mursalah sebagaimana yang dipahami dari perkata’an Imam As-Syafii, sebagaimana telah lalu, beliau berkata (sebagaimana dinukil oleh Imam An-Nawawi dalam Tahdziib Al-Asmaa’ wa Al-Lughoot 3/23) :

“Dan perkara-perkara yang baru ada dua bentuk, yang pertama adalah yang menyelisihi Al-Kitab atau As-Sunnah atau atsar atau ijma’, maka ini adalah bid’ah yang sesat. Dan yang kedua adalah yang merupakan kebaikan, tidak seorang ulamapun yang menyelisihi hal ini (bahwasanya ia termasuk kebaikan) maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela”(lihat juga manaqib As-Syafi’i 1/469).

Lihatlah Imam As-Syafi’i menyebutkan bahwa bid’ah yang hasanah sama sekali tidak seorang ulama pun yang menyelisihi. Jadi seakan-akan Imam Asy-Syafi’i menghendaki dengan bid’ah hasanah adalah perkara-perkara yang termasuk dalam bab al-maslahah al-mursalah, yaitu perkara-perkara adat yang mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan tidak terdapat dalil (nas) khusus, karena hal ini tidaklah tercela sesuai dengan kesepakatan para sahabat meskipun hal ini dinamakan dengan muhdatsah (perkara yang baru) atau dinamakan bid’ah jika ditinjau dari sisi bahasa.

KEEMPAT : Pendalilan dengan atsar Ibnu Mas’ud ini untuk melegalisasi bid’ah karena penilaian baik sebagian orang ternyata bertentangan dengan perkataan yang masyhuur dari al-Imam As-Syafi’i rahimahullah :

مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَّعَ

“Barangsiapa yang menganggap baik (suatu perkara) maka dia telah membuat syari’at”

(Perkataan Imam As-Syafi’i ini dinukil oleh para Imam madzhab As-Syafi’i, diantaranya Al-Gozaali dalam kitabnya Al-Mustashfa, demikian juga As-Subki dalam Al-Asybaah wa An-Nadzooir, Al-Aaamidi dalam Al-Ihkaam, dan juga dinukil oleh Ibnu Hazm dalam Al-Ihkaam fi Ushuul Al-Qur’aan, dan Ibnu Qudaamah dalam Roudhotun Naadzir).

Oleh karenanya barangsiapa yang menganggap baik suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi maka pada hakekatnya ia telah menjadikan ibadah tersebut syari’at yang baru.

KELIMA : Jika telah jelas bahwasanya atsar ini bukanlah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi merupakan perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, maka bagaimana mungkin dibawakan maknanya kepada bid’ah hasanah ?? Sementara Ibnu Mas’ud dikenal sangat menentang bid’ah. Sebagaimana telah lalu dimana beliau mengingkari orang-orang yang berhalaqoh untuk berdzikir secara berjama’ah !!!

Dan beliaulah radhiallahu ‘anhu yang telah berkata :

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّكُمْ سَتُحْدِثُوْنَ وَيُحْدَثُ لَكُمْ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مُحْدَثَةً؛ فَعَلَيْكُمْ بِالْأَمْرِ الْأَوَّلِ (وفي رواية : بِالْهَدْيِ الْأَوَّلِ)

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan berbuat perkara-perkara baru, dan akan diadakan perkara-perkara baru bagi kalian. Jika kalian melihat perkara muhdats/baru (bid’ah) maka berpegang teguhlah kepada perkara yang pertama (dalam riwayat yang lain : petunjuk yang pertama)” (Atsar riwayat Ad-Darimi dalam Sunnahnya no 174, Al-Laaikai dalam Syarh Ushul I’tiqood Ahlis Sunnah no 85, Ibnu Battoh dalam Al-Ibaanah al-Kubro no 181, Al-Marwazi dalam As-Sunnah no 80, dan dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/253 sebagai atsar yang valid dari Ibnu Mas’ud).

Beliau juga yang telah berkata :

اِتَّبِعُوا وَلاَ تَبْتَدِعُوا؛ فَقَدْ كُفِيْتُمْ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Beriittiba’lah dan janganlah kalian berbuat bid’ah karena sungguh kalian telah dicukupkan, dan seluruh bid’ah adalah sesat” (Atsar diriwayatkan oleh Al-Laalikaai dalam Syarh Usuul I’tiqood Ahlis Sunnah 1/22, Al-Marwazi dalam As-Sunnah hal 92 no 79, Ibnu Waddooh Al-Qurthubi dalam Al-Bida’ wa An-Nahyu ‘an Haa, hal 17, dan Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid no 853 berkata : “Diriwayatkan oleh At-Thobroni di al-Mu’jam al-Kabiir, dan para perawinya adalah perawi as-shahih).

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/302-syubhat-pendukung-bid-ah-hasanah-syubhat-keempat

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

_______

ORANG BODOH IBARAT LALAT

ORANG BODOH IBARAT LALAT

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala berkata : “Orang bodoh itu bagaikan lalat yang tidak hinggap kecuali pada kulit yang terluka, dan dia tidak mau hinggap pada kulit yang normal. Adapun orang yang berakal, ia akan memilah-milah, ini yang baik, dan ini yang tidak baik”.

Sungguh indah untaian kalimat ini, ringkas tetapi penuh arti. Demikianlah memang keada’an orang-orang bodoh, bagaikan seekor lalat yang tidak pernah berfikir apakah ini baik atau buruk, cantik atau jelek, wangi atau bau busuk.

Seorang yang yang berakal, sebelum melaksanakan sesuatu, ia akan berfikir dengan matang, apa akibat yang ditimbulkannya, berpahala atau tidak, menuai keridhaan ataukah justru kemurka’an. Menguntungkan atau justru merugikan.

• BODOH SUMBER KERUSAKAN

– Allah Ta’ala berfirman : “Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ? [Az-Zumar, 9].

– Allah Ta’ala berfirman : “Jadilah pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang bodoh”. (Al-A’raaf, 199).

– Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata : “Barangsiapa beribadah kepada Allah dengan kebodohan, dia telah membuat kerusakan lebih banyak daripada membuat kebaikan”. (Majmu’ Fatawa 25/281)

– Ibnul Qayyim rohimahulloh berkata : “Tidaklah diragukan bahwa kebodohan adalah pokok dari segala kerusakan dan kejelekan yang didapatkan oleh seorang hamba di dunia dan di akhirat adalah dampak dari kebodohan”. (Miftaah Daaris Sa’adah, 1/87).

Agus Santosa Somantri

————————

Apa saja yang dipandang baik menurut kaum muslimin maka baik pula menurut pandangan Alloh

Pemahaman mereka terhadap atsar:

ما رءاه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن

“Apa saja yang dipandang baik menurut kaum muslimin, maka baik pula menurut pandangan Alloh”

BANTAHAN:

Pertama: Bahwasanya tidak benar kalau atsar tersebut marfu’ sampai kepada Nabi صلى الله عليه و سلم, itu hanyalah perkataan Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه yang mauquf dari Ibnu Mas’ud saja.

Ibnul Qayyim berkata: “Sesungguhnya atsar ini bukanlah dari sabda Rasulullah صلى الله عليه و سلم, hanya orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan tentang ilmu hadits sajalah yang menyandarkan perkataan tersebut kepada beliau صلى الله عليه و سلم. Atsar itu hanya merupakan perkataan Ibnu Mas’ud” [Al Furuusiyyah, oleh Ibnul Qayyim, hal. 167]

Berkata Ibnu ‘Abdil Hadiy: “Perkataan tersebut diriwayatkan secara marfu’ dari Anas dengan sanad yang sangat lemah sakali, dan yang benar adalah bahwa atsar tersebut hanya mauquf sampai pada Ibnu Mas’ud.” [Kasyful Khafaa’ oleh Al ‘Ajaluuny, (2/245)]

Az Zaila’iy berkata: “Atsar tersebut gharib marfu’, dan saya belum mendapatkan jalur riwayat kecuali secara mauquf dari Ibnu Mas’ud”. [Nashbur Raayah, (4/133)]

Berkata Al Albaniy: “Ia tidak punya dasar riwayat secara marfu’, riwayat itu hanyalah mauquf kepada Ibnu Mas’ud”. [As Silsilah Adh Dha’iifah, no. 533 (2/17)]

Saya katakan: Dan sebelum ini telah diperingatkan bahwa tidak boleh sabda Rasulullah صلى الله عليه و سلم dikonfrontasikan dengan perkataan seorang manusiapun, siapapun orangnya.

Kedua: Bahwasanay huruf “ال” pada perkataan “المسلمون” berfungsi sebagai Al ‘Ahd (yang harus dikembalikan kepada sosok yang jelas), dan dalam hal ini kembali kepada para Shahabat sendiri, merekalah yang dimaksud oleh atsar tersebut sebagai “المسلمون” (kaum muslimin), sebagaimana yang bisa difahami dari alur kalimat atsar tersebut, yang berbunyi:

إن الله نظر في قلوب العباد فوجد قلب محمد صلى الله عليه وسلم خير قلوب العباد فاصطفاه لنفسه فابتعثه برسالته ثم نظر في قلوب العباد بعد قلب محمد فوجد قلوب أصحابه خير قلوب العباد فجعلهم وزراء نبيه يقاتلون على دينه فما رأى المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رأوا سيئا فهو عند الله سيءإن الله نظر في قلوب العباد فوجد قلب محمد صلى الله عليه وسلم خير قلوب العباد فاصطفاه لنفسه فابتعثه برسالته ثم نظر في قلوب العباد بعد قلب محمد فوجد قلوب أصحابه خير قلوب العباد فجعلهم وزراء نبيه يقاتلون على دينه فما رأى المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رأوا سيئا فهو عند الله سيء

“Sesungguhnya Alloh memandang hati para hambaNya lalu Dia dapati hati Muhammad صلى الله عليه و سلم sebagai hati yang terbaik dari para hambaNya lalu beliau dipilihNya dan diutuslah beliau sebagai RasulNya. Kemudian Alloh melihat hati hamba-hambaNya setelah hati Muhammad صلى الله عليه و سلم lalu Alloh dapati hati para Shahabat sebagai hati yang terbaik, maka mereka dijadikan sebagai menteri-menteri NabiNya. Mereka berperang dan berjuang diatas agamaNya. Maka apa saja yang dipandang baik menurut kaum muslimin (para shahabat tersebut) maka baik pula menurut Alloh, dan apa saja yang buruk menurut mereka maka buruk pula menurut Alloh”

Dalam riwayat lain ada tambahan:

و قد رءاى الصحابة جميعا أن يستخلفوا أبا بكر

“Dan seluruh Shahabat telah bersatu pendapat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai Khalifah”.

Dengan demikian maka jelaslah bahwa yang dimaksud dengan “kaum muslimin” dalam atsar tersebut adalah para shahabat.

Dan diantara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah bahwa para imam pengarang kitab-kitab hadits memuat hadits (atsar tersebut) pada “Kitabus Shahabah”, sebagaimana yang dilakukan oleh  Al Hakim dalam kitab beliau “Al Mustadrak”. [Al Mustadrak (3/78)]. Beliau telah memuat atsar tersebut dalam kitab “Ma’rifatus Shahaabah”, dan beliau tidak mencantumkan redaksi awalnya akan tetapi beliau memulai dari potongan atsar yang artinya : “Maka apa saja yang dipandang baik… dst.”

Ini menunjukkan bahwasanya Abu Adillah Al Hakim رحمه الله memahami bahwa yang dimaksud dengan “kaum muslimin” pada atsar tersebut adalah para shahabat.

Kalau memang demikian, maka telah diketahui secara pasti bahwa para shahabat seluruhnya telah bersepakat mencela dan memandang buruk setiap “bid’ah”. Dan tidak pernah diriwayatkan dari salah seorangpun dari mereka yang menganggap baik salah satu dari bid’ah tersebut.

Ketiga: Berdasarkan perkataan bahwa huruf ال disini bukan Alif Lam al’ahd yakni kembali kepada sosok tertentu, akan berfungsi sebagai ‘istighraq’, yakni meliputi keseluruhan kaum muslimin, maka yang dimaksudkan adalah ijma’ (para ulama), dan ijma’ itu adalah hujjah.

Al ‘Izz bin Abdus Salam berkata: ‘Jika hadits tersebut shahih, maka yang dimaksudkan dengan kata “المسلمون” tersebut adalah ahlul ijma’. Wallohu a’lam. [Fatawa Al ‘izz bin Abdis Salaam, hal. 42 no. 39]

Disini kami ajukan pertanyaan kepada orang yang berdalil dengan atsar tersebut bahwa ada yang dinamakan “bid’ah hasanah”: “Apakah anda dapat mendatangkan suatu bid’ah yang disepakati oleh kaum muslimin bahwa ia adalah bid’ah hasanah?”

Itu merupakan kemustahilan tanpa diragukan lagi, sebab tidak ada satupun bid’ah yang telah disepakati oleh kaum muslimin bahwa ia adalah bid’ah hasanah, bahkan ijma’ kaum muslimin pada generasi awal menegaskan bahwa setiap bid’ah itu adalah sesat, pendapat itu masih tetap demikian hingga saat ini. Walhamdu lillah.

Keempat: Bagaimana mereka berdalil dengan perkataan shahabat yang mulia ini tentang adanya suatu bid’ah hasanah padahal beliau adalah salah seorang diantara para shahabat yang paling tegas melarang dan memperingatkan tentang bid’ah.

Pada pembahasan sebelumnya telah kami nukilkan dari beliau ucapan beliau yang berbunyi:

إتبعوا و لا تبتدعوا فقد كفيتم و كل بدعة ضلالة

Ber-ittiba’lah kamu kepada Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم dan janganlah kamu ber-ibtida’ (mengada-ada tanpa dalil), sesungguhnya kamu telah dicukupi dengan ittiba’ itu, dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan. [Dikeluarkan oleh Ibnu Biththah dalam al Ibaanah, no. 175 (1/327-328) dan al Laalikaa’i, no. 104 (1/86).]

Dan perkataan beliau tentang larangan terhadap bid’ah sangat banyak sekali.

[Disalin dari buku “Mengapa Anda Menolak Bid’ah Hasanah?” penerbit Pustaka At-Tibyan]