6 PENYEBAB PERBEDA’AN PENDAPAT ULAMA

6 PENYEBAB PERBEDA’AN PENDAPAT ULAMA

Perbedaan pendapat ulama dalam menetapkan hukum syar’iyah tidak hanya terjadi antar madzhab, perbedaan pendapat ulama ini juga terjadi dalam lingkungan madzhab mereka. Banyak orang mengingkari perbedaan pendapat ulama ini, disebabkan keyakinannya yang menyatakan bahwa agama ini satu, syariat juga satu, kebenaran itu satu tidak bermacam-macam dan sumber hukum hanya satu yaitu wahyu ilahi. Selanjutnya mereka mengatakan, mengapa harus ada perbedaan pendapat, dan mengapa madzhab-madzhab fiqh tidak menyatu ?.

Mereka menyangka bahwa perbedaan pendapat ulama akan berakibat terjadinya benturan-benturan dalam syariah dan perpecahan, dan menyamakan perbedaan pendapat ini sama seperti perpecahan yang terjadi dalam tubuh agama Kristen yang terpecah menjadi Ortodoks, Katolik dan Protestan. Semuannya ini adalah kesalah pahaman yang batil.

Perlu diketahui bahwa perbedaan pendapat ulama merupakan rahmat yang memberikan kemudahan bagi umat Islam, menjadi kekayaan intelektual yang besar yang dapat dibanggakan. Perbedaan pendapat ini hanya sebatas perbedaan far’iyah (cabang) dan metode ilmiah, bukan dalam ushul, pondasi agama dan i’tikad. Dalam sejarah Islam, tidak ditemukan bahwa perbedaan pendapat ini menjadi biang perpecahan, permusuhan dan pengoyak kesatuan muslimin.

Perlu dijelaskan bahwa perbedaan ulama hanya sebatas akibat dari perbedaan metode pengambilan hukum yang menjadi kebutuhan pasti dalam dalam memahami hukum dari dalil-dalil syariah, seperti perbedaan dalam masalah penafsiran nash-nash hukum berikut penjelasan-penjelasan yang dilakukan. Hal ini disebabkan karakter bahasa Arab yang terkadang mempunyai makna lebih dari satu, juga disebabkan riwayat hadits, kwalitas keilmuan ulama, atau disebabkan adanya upaya ulama tertentu dalam menjaga kemaslahatan dan kebutuhan secara umum.

Semua penyebab perbedaan tidak menafikan sumber hukum syariah yang satu dan kesatuan syariah itu sendiri, karena pada dasarnya perbedaan dalam syariah itu tidak ada. Perbedaan pendapat hanya disebabkan oleh kelemahan manusia. Akan tetapi kita boleh mengamalkan satu hukum dari pendapat-pendapat yang bebeda, untuk menghilangkan kesulitan dalam umat dimana tidak ada jalan lain setelah terputusnya wahyu, kecuali mengambil apa yang terkuat dari sebuah dugaan para ulama terhadap apa yang mereka pahami dari dalil-dalil syara’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إذا اجتهد الحاكم فأصاب فله أجران، وإن أخطأ فله أجر واحد

“JIka seorang hakim berijtihad lalu benar, maka baginya dua pahala. Dan jika salah maka baginya satu pahala”. (Hadits Muttafaq Alaih).

Berikut adalah enam penyebab penting perbedaan pendapat ulama dalam mengambil hukum syariah :

1. Perbedaan Dalam Memaknai lafadz-lafadz Arabiah.

Perbedaan dalam memberikan makna ini disebabkan oleh bentuk lafadz yang global (mujmal), mempunyai banyak makna (musytarak), mempunyai makna yang tidak bisa dipastikan khusus atau umumnya, haqiqah dan majaznya, haqiqah dan ‘urufnya, atau disebabkan mutlaq atau muqayyadnya, atau perbedaan I’rab. Contoh simpel dari penyebab ini adalah pemaknaan lafadz “al-Qur’u”, apakah dimaknai suci atau haid. Juga seperti lafaz amr (perintah), apakah menunjukkan wajib atau sunat. Dan masih banyak contoh yang lain.

2. Perbedaan Riwayat

Perbedaan riwayat hadits yang menjadi rujukan hukum diakibatkan oleh beberapa hal.

Pertama : Adalah adanya hadits yang hanya sampai kepada satu mujtahid dan tidak sampai pada mujtahid yang lain.

Kedua : Adalah sampainya satu hadits kepada seorang mujtahid dengan sanad yang dla’if, sementara hadits tersebut sampai kepada mujtahid yang lain dengan sanad yang shahih.

Ketiga : Seorang mujtahid berpendapat bahwa terdapatnya perawi dhaif dalam riwayat sabuah hadits membuat hadits tidak dapat diterima, sedangkan mujtahid yang lain tidak demikian.

3. Adanya Perbedaan Dasar hukum

Perbedaan dasar hukum yang dimaksud ialah dasar hukum selain al-Quran, hadits dan ijma’, seperti Istihsan, mashalih mursalah, qaul shahabi, istishab dan sadd al-dzariah

4. Perbedaan dalam Kaidah-kaidah usul

Perbedaan ini seperti perbedaan pendapat tentang digunakannya kaidah “al-‘am al-makhsush laisa bihujjah/lafadz yang bermakna khusus yang dikhususkan tidak dapat dijadikan hujjah”, “Al-mafmun laisa bi hujjah/kepahaman konteks tidak bisa dijadikan hujjah” dan lain-lain.

5. Ijtihad Menggunakan Qiyas.

Ini adalah penyebab yang paling luas, dimana ia mempuyai dasar, syarat dan illat. Illat pun juga mempunyai syarat dan tata cara dalam mengaplikasikannya. Semua ini menjadi potensi bagi timbulnya perbedaan.

6. Pertentangan Dasar Hukum berikut Tarjihnya

Masalah ini sangat luas yang menjadi perbedaan pandangan dan menimbulkann banyak perdebatan. Masalah ini membutuhkan ta’wil, ta’lil, kompromi (jam’u), taufiq, naskh dan lain-lain.

Dengan penjelasan ini dapat diketahui bahwa hasil ijtihad para imam madzhab tidak mungkin untuk diikuti semua, meskipun boleh dan wajib mengamalkan salah satunya. Semua perbedaan adalah masalah ijthadiyah, dan pendapat-pendapat yang bersifat dzanni (dugaan), yang harus dihormati dan dianggap sama. Amatlah salah jika perbedaan tersebut menjadi pintu timbulnya fanatisme, permusuhan dan perpecahan diantara kaum muslimin yang telah disifati dalam al-Qur’an sebagai umat yang bersaudara dan diperintah untuk berpegang teguh kepada tali Allah.

Wallahul Musta’an

Sumber : Al-Fiqh Al-Islamy Wa Adillatuh, Wahbah Zuhaili, Juz. 1 hlm: 83-88

_____________

TEGURAN RASULULLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG MENYIMPANG DALAM IBADAH

TEGURAN RASULULLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG MENYIMPANG DALAM IBADAH
.
Oleh : Ikhwan pecinta meong.
.
Sesungguhnya ibadah itu di bangun di atas petunjuk Allah Ta’ala dan sunnah Rasul-Nya dan juga sunnahnya para Sahabat Nabi generasi terbaik umat.
.
Ibadah bukan di bangun di atas prasangka baik dan tujuannya baik. Betapa banyak manusia semenjak dahulu sampai sa’at ini, mereka bersemangat mengamalkan ajaran-ajaran baru (bid’ah), amalan-amalan yang di buat-buat (muhdats) dengan tujuan taqorrub Ilallah untuk mendapatkan pahala yang melimpah. Namun ternyata kesesatan yang di lakoninya.
.
Orang yang menyelisihi sunnah dan orang-orang yang hendak berlebih-lebihan dalam ibadah dengan tujuan taqorrub Ilallah ternyata sudah ada pada zamannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ternyata Rasulullah mengingkari dan menegurnya.
.
Berikut ini pengingkaran Rasulullah terhadap para Sahabatnya yang menyelisihi sunnah.
.
1. Teguran Rasulullah kepada orang yang hendak shalat tahajjud sepanjang malam, puasa sepanjang tahun dan tidak akan menikah.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
.
“Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu’alaihi wasallam.
.
فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا
.
Setelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka.
.
Mereka berkata,
.
وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ ؟
.
“Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang ?”
.
Salah seorang dari mereka berkata,
.
أَمَّا أَنَا، فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا،
.
“Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya” (tanpa tidur). Kemudian yang lain berkata, “Sungguh aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan tidak akan berbuka”. Dan yang lainnya berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya”.
.
فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ، فَقَالَ : ”أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ
.
Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mendatangi mereka dan berkata, “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa.
.
َلَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
.
“Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku”. (HR. Bukhari no.5063).
.
Dalam hadits di atas ketiga orang Sahabat berniat untuk mengerjakan amal ibadah sebanyak-banyaknya, karena merasa ibadah mereka sangat jauh di banding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ternyata niat baik mereka mendapatkan teguran dari Rasulullah.
.
Tujuan mereka baik, hendak beribadah sebanyak-banyaknya.
.
Lalu mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai dan menegurnya ?
.
Permasalahannya, walaupun tujuannya hendak ibadah sebanyak-banyaknya, ikhlas karena Allah. Namun apabila tidak ada petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya, maka perbuatan tersebut sebagai kemaksiatan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Perbuatan tersebut adalah kesesatan. Sehingga Rasulullah mengingkari, menegur dan mencelanya.
.
2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyetujui seorang Sahabatnya mengucapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang di ajarkan kepadanya.
.
Al-Baroo’ bin ‘Aazib berkata :
.
قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شَقِّكَ الأَيْمَنِ وَقُلْ
.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku : Jika engkau mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah sebagaimana berwudhu untuk sholat, lalu berbaringlah di atas bagian tubuhmu yang kanan, lalu katakanlah (berdo’a) :
.
اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إْلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتُ
.
“Ya Allah aku menyerahkan jiwaku kepadaMu, dan aku pasrahkan urusanku kepadaMu, dan aku sandarkan punggungku kepadaMu, dengan kekhawatiran dan harapan kepadaMu. Tidak ada tempat bersandar dan keselamatan dariMu kecuali kepadaMu. Aku beriman kepada kitabMu yang Engkau turunkan dan beriman kepada NABI-MU yang Engkau utus”.
.
Nabi berkata :
.
فَإِنْ مِتَّ مِتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُوْلُ
.
“Jika engkau meninggal maka engkau meninggal di atas fitroh, dan jadikanlah do’a ini adalah kalimat terakhir yang engkau ucapkan (sebelum tidur)”.
.
Al-Baroo’ bin ‘Aazib berkata :
.
فَقُلْتُ أَسْتَذْكِرُهُنَّ وَبِرَسُوْلِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ لاَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ
.
“Lalu aku mencoba untuk mengingatnya dan aku berkata, “Dan aku beriman kepada RASUL-MU yang Engkau utus”
.
Nabi berkata, “Tidak”, (bukan begitu), (tapi ucapkan) “Dan aku beriman kepada NABI-MU yang Engkau utus”. (HR Al-Bukhari no 6311).
.
Perhatikan baik-baik riwayat di atas ! !
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan ucapan Al-Baroo’ bin ‘Aazib yang mengatakan, “Dan aku beriman kepada RASUL-MU yang Engkau utus”.
.
Lalu mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan ucapan Al-Baroo’ bin ‘Aazib ?
.
Permas’alahannya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelumnya mengajarkan kepada Al-Baroo’ bin ‘Aazib dengan perkata’an “Dan aku beriman kepada NABI-MU yang Engkau utus”.
.
Dalam riwayat di atas kita mendapatkan pelajaran dari Rasulullah bahwa menyelisihi apa yang sudah Nabi ajarkan, walaupun sedikit saja, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap tidak menyukainya. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurnya.
.
3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari Utsman bin Madz’uun yang tidak akan menikah karena ingin memperbanyak ibadah.
.
Di riwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur seorang Sahabatnya Utsman bin Madz’uun yang tidak akan menikah karena ingin memperbanyak ibadah.
.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi sallam pun berkata kepadanya :
.
يَا عُثْمَانُ إِنَّ الرَّهْبَانِيَّةَ لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْنَا, أَفَمَا لَكَ فِيَ أُسْوَةٌ ؟ فَوَاللهِ إِنِّى أَخْشَاكُمْ للهِ, وَأَحْفَظُكُمْ لِحُدُوْدِهِ
.
“Wahai ‘Utsman, sesungguhnya Rohbaniyah tidaklah di syariatkan kepada kita. Tidakkah aku menjadi teladan bagimu ?. Demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, dan akulah yang paling menjaga batasan-batasan-Nya”. (HR Ibnu Hibban, Ahmad, dan At-Thobrooni dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir).
.
Riwayat di atas menunjukkan bahwa, walaupun tujuannya baik hendak memperbanyak ibadah, akan tetapi di lakukan dengan cara menyelisihi sunnah Nabi, maka bukanlah perkara yang di ridhoi Allah dan Rasul-Nya.
.
4. Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata, orang-orang mengangkat suara tatkala berdo’a, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
أيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلى أنْفُسكُمْ إنَّكُمْ لَيسَ تَدْ عُونَ أصَمَّ وَلاَ غَائِبًا إنّكُم تَدْ عُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا
.
“Wahai manusia, tenangkanlah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang bisu atau yang tidak ada. Sesungguhnya Dzat yang kalian seru Maha Mendengar lagi Maha Dekat”. (HR al-Bukhâri, no. 4205).
.
Riwayat di atas mengandung tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimana cara berdo’a yang benar. Juga merupakan cela’an kepada orang-orang yang berdo’a namun tidak sesuai tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya. Pada sa’at ini sebagian orang berdo’a bukan saja di lantunkan dengan suara keras tapi juga dengan di nyanyikan.
.
5. Abu Musa Al Asy’ari berkata,
.
ﻟَﻤَّﺎ ﻏَﺰَﺍ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺧَﻴْﺒَﺮَ ﺃَﻭْ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻤَّﺎ ﺗَﻮَﺟَّﻪَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﺷْﺮَﻑَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﺍﺩٍ ﻓَﺮَﻓَﻌُﻮﺍ ﺃَﺻْﻮَﺍﺗَﻬُﻢْ ﺑِﺎﻟﺘَّﻜْﺒِﻴﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍﺭْﺑَﻌُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺃَﺻَﻢَّ ﻭَﻟَﺎ ﻏَﺎﺋِﺒًﺎ ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺳَﻤِﻴﻌًﺎ ﻗَﺮِﻳﺒًﺎ
.
“Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi atau menuju Khaibar, orang-orang menaiki lembah, lalu mereka meninggikan suara dengan takbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illa Allah. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Pelanlah, sesungguhnya kamu tidaklah menyeru kepada yang tuli dan yang tidak ada. Sesungguhnya kamu menyeru (Allah) Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat”. (HR Muslim, no. 2704).
.
Riwayat di atas juga merupakan teguran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang yang punya semangat taqorrub ilallah namun tidak dengan cara yang benar.
.
Itulah beberapa riwayat pengingkaran dan teguran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para Sahabatnya yang punya niat baik hendak memperbanyak ibadah akan tetapi Rasulullah tidak mengajarkannya, maka niat baik mereka bukanlah di pandang sebagai amal salih. Tapi sebagai kesesatan.
.
Lalu bagaimana dengan mereka yang mudah sekali membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah), apakah mereka yakin bid’ah-bid’ah yang mereka buat dan amalkan di ridhoi Allah dan Rasul-Nya ?
.
Perhatikan teguran Rasulullah kepada Al-Baroo’ bin ‘Aazib di atas. Padahal Al-Baroo’ bin ‘Aazib menyelisihi sunnah Nabi hanya sedikit. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang banyak melakukan amal ibadah namun amalannya banyak menyelisihi Nabi, apakah mereka di akhirat kelak tidak akan mendapatkan teguran dari Allah dan Rasul-Nya ?
.
Semoga bermanfa’at.
.
Ingatlah tekad Iblis yang akan menyesatkan manusia semuanya !
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
.
”Iblis bekata : Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, . .” (QS. Al Hijr : 39).
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
__________________

ORANG-ORANG SESAT PUN BERDALIL

ORANG-ORANG SESAT PUN BERDALIL
.
Orang-orang yang menyimpang dan sesat, bukan berarti mereka tanpa dalil dalam melakukan amalan-amalan yang menyimpang dan sesatnya. Bahkan biasanya mereka menunjukkan banyak dalil. Tidak heran karena mereka asal berdalil. Hadits-hadits dha’if bahkan palsu juga riwayat-riwayat dusta selain dari ayat-ayat Al-Qur’an yang di tafsirkan sesuka hati, juga hadits-hadits sohih namun di fahami secara keliru juga di tempatkan secara serampangan atau hadits-hadits sohih tersebut di tempatkan bukan pada tempatnya (asal berdalil).
.
Begitulah orang-orang sesat dalam berdalil. Sehingga menjadikan mereka sesat justru karena dalil-dalil yang di jadikan hujjahnya.
.
• Iblis membangkang karena punya dalil
.
Iblis laknatullah biangnya kesesatan ketika di perintahkan untuk bersujud kepada Adam ‘alaihis salam, iblis pun menolak karena punya dalil. Dan dalilnya itulah yang menjadikannya menjadi makhluk tersesat. Padahal sebelumnya iblis makhluk yang ta’at.
.
Inilah dalil iblis ketika membangkang perintah Allah, sebagaimana yang Firmankan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an :
.
خَلَقْتَنِى مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
.
“Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakannya (Adam) dari tanah. (QS. Shaad, 76),
.
Itulah dalil iblis ketika menolak perintah Allah Ta’ala. Karena Adam ‘alaihis salam di ciptakan dari tanah. Sedangkan iblis di ciptakan dari api. Menurut iblis api lebih mulia daripada tanah.
.
• Para penentang Rasul juga berdalil
.
Berdalil dalam membela kesesatan juga di lakukan orang-orang sesat terdahulu. Sebagaimana yang di lakukan oleh orang-orang kafir Qurais ketika di peringatkan untuk tidak mengagungkan dan memuja berhala.
.
Mereka berdalil sebagaimana yang di sebutkan dalam Al-Qur’an,
.
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
.
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) : “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. (QS. Az Zumar: 3).
.
Itulah dalil mereka. Berhala-berhala yang mereka agungkan dan puja menurut mereka hanya sebagai sarana (washilah) untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Padahal cara tersebut justru dilarang dalam Islam. Sebagai perbuatan menyekutukan Allah Ta’ala (syirik).
.
Memiliki dalil atau ada dalilnya, bukan berarti sudah berpijak di atas kebenaran(al-haq). Karena ternyata mereka yang telah dinyatakan sesat juga memiliki dalil yang di jadikan hujjah dalam membela kesesatannya. Sebagaimana iblis dan juga orang-orang sesat terdahulu.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
_________________

TEGURAN RASULULLAH KEPADA ORANG YANG MENYELISIHI SUNNAH

TEGURAN RASULULLAH KEPADA ORANG YANG MENYELISIHI SUNNAH.
.
Sesungguhnya ibadah itu di bangun di atas petunjuk Allah Ta’ala dan sunnah Rasul-Nya dan juga sunnahnya para Sahabat Nabi generasi terbaik umat.
.
Ibadah bukan di bangun di atas prasangka baik dan tujuannya baik. Betapa banyak manusia semenjak dahulu sampai sa’at ini, mereka bersemangat mengamalkan ajaran-ajaran baru (bid’ah), amalan-amalan yang di buat-buat (muhdats) dengan tujuan taqorrub Ilallah, untuk mendapatkan pahala yang melimpah. Namun ternyata kesesatan yang di lakoninya.
.
Orang yang menyelisihi sunnah dan orang-orang yang hendak berlebih-lebihan dalam ibadah dengan tujuan taqorrub Ilallah ternyata sudah ada pada zamannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ternyata Rasulullah mengingkari dan menegurnya.
.
Berikut ini pengingkaran Rasulullah terhadap para Sahabatnya yang menyelisihi sunnah.
.
1. Teguran Rasulullah kepada orang yang hendak shalat tahajjud sepanjang malam, puasa sepanjang tahun dan tidak akan menikah.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
.
“Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu’alaihi wasallam.
.
فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا
.
Setelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka.
.
Mereka berkata,
.
وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ ؟
.
“Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang ?”
.
Salah seorang dari mereka berkata,
.
أَمَّا أَنَا، فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا،
.
“Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya” (tanpa tidur). Kemudian yang lain berkata, “Sungguh aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan tidak akan berbuka”. Dan yang lainnya berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya”.
.
فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ، فَقَالَ : ”أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ
.
Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mendatangi mereka dan berkata, “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa.
.
َلَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
.
“Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku”. (HR. Bukhari no.5063).
.
Dalam hadits di atas ketiga orang Sahabat berniat untuk mengerjakan amal ibadah sebanyak-banyaknya, karena merasa ibadah mereka sangat jauh di banding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ternyata niat baik mereka mendapatkan teguran dari Rasulullah.
.
Tujuan mereka baik, hendak beribadah sebanyak-banyaknya.
.
Lalu mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai dan menegurnya ?
.
Permasalahannya, walaupun tujuannya hendak ibadah sebanyak-banyaknya, ikhlas karena Allah. Namun apabila tidak ada petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya, maka perbuatan tersebut sebagai kemaksiatan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Perbuatan tersebut adalah kesesatan. Sehingga Rasulullah mengingkari, menegur dan mencelanya.
.
2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyetujui seorang Sahabatnya mengucapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang di ajarkan kepadanya.
.
Al-Baroo’ bin ‘Aazib berkata :
.
قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شَقِّكَ الأَيْمَنِ وَقُلْ
.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku : Jika engkau mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah sebagaimana berwudhu untuk sholat, lalu berbaringlah di atas bagian tubuhmu yang kanan, lalu katakanlah (berdo’a) :
.
اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إْلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتُ
.
“Yaa Allah aku menyerahkan jiwaku kepadaMu, dan aku pasrahkan urusanku kepadaMu, dan aku sandarkan punggungku kepadaMu, dengan kekhawatiran dan harapan kepadaMu. Tidak ada tempat bersandar dan keselamatan dariMu kecuali kepadaMu. Aku beriman kepada kitabMu yang Engkau turunkan dan beriman kepada NABI-MU yang Engkau utus”.
.
Nabi berkata :
.
فَإِنْ مِتَّ مِتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُوْلُ
.
“Jika engkau meninggal maka engkau meninggal di atas fitroh, dan jadikanlah do’a ini adalah kalimat terakhir yang engkau ucapkan (sebelum tidur)”.
.
Al-Baroo’ bin ‘Aazib berkata :
.
فَقُلْتُ أَسْتَذْكِرُهُنَّ وَبِرَسُوْلِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ لاَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ
.
“Lalu aku mencoba untuk mengingatnya dan aku berkata, “Dan aku beriman kepada RASUL-MU yang Engkau utus”
.
Nabi berkata, “Tidak”, (bukan begitu), (tapi ucapkan) “Dan aku beriman kepada NABI-MU yang Engkau utus”. (HR Al-Bukhari no 6311).
.
Perhatikan baik-baik riwayat di atas ! !
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan ucapan Al-Baroo’ bin ‘Aazib yang mengatakan, “Dan aku beriman kepada RASUL-MU yang Engkau utus”.
.
Lalu mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan ucapan Al-Baroo’ bin ‘Aazib ?
.
Permas’alahannya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelumnya mengajarkan kepada Al-Baroo’ bin ‘Aazib dengan perkata’an “Dan aku beriman kepada NABI-MU yang Engkau utus”.
.
Dalam riwayat di atas kita mendapatkan pelajaran dari Rasulullah bahwa menyelisihi apa yang sudah Nabi ajarkan, walaupun sedikit saja, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap tidak menyukainya. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurnya.
.
3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari Utsman bin Madz’uun yang tidak akan menikah karena ingin memperbanyak ibadah.
.
Di riwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur seorang Sahabatnya Utsman bin Madz’uun yang tidak akan menikah karena ingin memperbanyak ibadah.
.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi sallam pun berkata kepadanya :
.
يَا عُثْمَانُ إِنَّ الرَّهْبَانِيَّةَ لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْنَا, أَفَمَا لَكَ فِيَ أُسْوَةٌ ؟ فَوَاللهِ إِنِّى أَخْشَاكُمْ للهِ , وَأَحْفَظُكُمْ لِحُدُوْدِهِ
.
“Wahai ‘Utsman, sesungguhnya Rohbaniyah tidaklah di syariatkan kepada kita. Tidakkah aku menjadi teladan bagimu ?, Demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, dan akulah yang paling menjaga batasan-batasan-Nya”. (HR Ibnu Hibban, Ahmad, dan At-Thobrooni dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir).
.
Riwayat di atas menunjukkan bahwa, walaupun tujuannya baik hendak memperbanyak ibadah, akan tetapi di lakukan dengan cara menyelisihi sunnah Nabi, maka bukanlah perkara yang di ridhoi Allah dan Rasul-Nya.
.
Itulah beberapa riwayat pengingkaran dan teguran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para Sahabatnya yang punya niat baik hendak memperbanyak ibadah akan tetapi Rasulullah tidak mengajarkannya, maka niat baik mereka bukanlah di pandang sebagai amal salih. Tapi sebagai kesesatan.
.
Lalu bagaimana dengan mereka yang mudah sekali membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah), apakah mereka yakin bid’ah-bid’ah yang mereka buat dan amalkan di ridhoi Allah dan Rasul-Nya ?
.
Perhatikan teguran Rasulullah kepada Al-Baroo’ bin ‘Aazib di atas. Padahal Al-Baroo’ bin ‘Aazib menyelisihi sunnah Nabi hanya sedikit. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang banyak melakukan amal ibadah namun amalannya banyak menyelisihi Nabi, apakah mereka di akhirat kelak tidak akan mendapatkan teguran dari Allah dan Rasul-Nya ?
.
Semoga bermanfa’at.
.
Ingatlah tekad Iblis yang akan menyesatkan manusia semuanya !
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
.
”Iblis bekata : Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, . .” (QS. Al Hijr : 39).
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
=============

KEBENARAN ITU SUDAH JELAS DAN TERANG

KEBENARAN ITU SUDAH JELAS DAN TERANG
.
Ada kalanya kita menemukan orang, kalau sudah terpojok atau tidak mampu membela keyakinan batilnya, lalu dia berkata :
.
“Kita lihat saja di akhirat nanti, siapa yang benar”
.
Ucapan tersebut tidaklah keluar kecuali dari lisan orang jahil.
.
Mengetahui kebenaran tidak perlu harus menunggu kematian terlebih dahulu dan meyakininya di akhirat nanti. Sesungguhnya kebenaran (Al-Haq), sudah sangat jelas dan terang, tidak ada kesamaran padanya.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌٌ
.
“Sesungguhnya perkara halal itu sudah jelas dan perkara haram itu sudah jelas”. (Muttafaqun ‘alaih).
.
Semua umat manusia yang berbeda faham, keyakinan dan golongannya, merasa di atas kebenaran.
.
Namun apakah mungkin mereka semua di atas kebenaran, sementara diantara mereka berbeda dan saling bertentangan. Padahal kebenaran itu satu tidak berbilang.
.
Imam Malik rahimahullah berkata :
.
لا، والله حتى يصيب الحق، ما الحق إلا واحد، قولان مختلفان يكونان صوابًا جميعًا ؟ ما الحق والصواب إلا واحد
.
“Tidak, demi Allah, hingga ia mengambil yang benar. Kebenaran itu hanya satu. Dua pendapat yang berbeda tidak mungkin keduanya benar, sekali lagi kebenaran itu hanya satu”.
.
• Haqekat kebenaran (Al-Haq).
.
Allamah Ar-Raghib Al-Ishfahani menyebutkan, bahwa makna kebenaran (Al-Haq) adalah: Kesesuaian. (Mu’jam Mufradat Al-Fauzhil Qur’an hal. 124-125).
.
• Siapa saja pengikut kebenaran ?
.
Orang-orang yang berada di atas kebenaran (Al-Haq) ialah, orang-orang yang berdiri di atas empat pilar berikut ini :
.
1. Mengikuti petunjuk Allah Ta’ala.
.
2. Mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
3. Mengikuti jalan dan pemahaman para Sahabat.
.
4. Mengembalikan perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya
.
Itulah empat pilar yang di jadikan pijakan orang-orang yang berada di atas kebenaran (Al-Haq).
.
(1) Mengikuti petunjuk Allah Ta’ala.
.
Kebenaran (al-haq) hanyalah yang datangnya dari Allah Ta’ala, adapun yang datang dari selain-Nya, adalah kebatilan, penyimpangan dan kesesatan.
.
Yang datangnya dari Allah Ta’ala sebagai kebenaran (al-hak), Allah Ta’ala sebutkan dalam beberapa firman-Nya,
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
َلَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِين
.
“Sesungguhnya telah datang al-haq (kebenaran) kepadamu dari Rabbmu, sebab itu janganlah engkau termasuk sekali-kali orang yang ragu-ragu”. (Yunus: 94).
.
– Allah Ta’ala berrman :
.
إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا
.
“Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa al-haq, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah tunjukkan kepadamu”. (An-Nisaa’: 105).
.
Itulah diantara beberapa firman Allah Ta’ala, yang menerangkan bahwa yang di turunkan Allah adalah kebenaran (al-haq).
.
Karena kebenaran (al-haq) itu hanya yang datangnya dari Allah Ta’ala, maka barang siapa yang mengimani dan mengikuti-Nya, maka orang itu di atas kebenaran (al-haq). Dan barangsiapa yang tidak mengikuti petunjuk Allah Ta’ala, maka dia adalah orang yang menyimpang dan tersesat.
.
(2) Mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Pilar ke dua, yang di jadikan pijakan oleh orang-orang yang berdiri di atas kebenaran (al-haq) adalah mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Nabi Muhammad adalah utusan Allah Ta’ala, maka yang di sampaikan oleh Rasulullah adalah kebenaran (al-haq). Sebagaimana Allah tegaskan dalam firman-Nya,
.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِنْ رَبِّكُمْ فَآمِنُوا خَيْرًا لَكُمْ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
.
“Wahai manusia sesungguhnya telah datang Rasul itu (Muhammad) kepada kamu, dengan (membawa) al-haq dari Rabbmu, maka berimanlah kamu, itu lebih baik bagimu”. (An-Nisa: 170).
.
Al Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini, “Yaitu Muhammad telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang haq dan penjelasan yang memuaskan dari Allah. Maka, berimanlah dengan apa yang dia bawa dan ikutilah dia, itu lebih baik bagi kamu”.
.
Apa yang Rasulullah sampaikan kepada umatnya, adalah wahyu dari Allah Ta’ala. Sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya :
.
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣) إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)
.
“Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara menurut hawa nafsunya. (Ucapannya) itu hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (An-Najm: 3-4).
.
Ayat di atas menerangkan, bahwa yang di sampaikan oleh Rasulullah adalah wahyu dari Allah Ta’ala, bukan berdasarkan, perasa’an atau akalnya. Oleh karenanya, apabila seseorang beriman kepada Allah Ta’ala, maka harus beriman pula kepada apa yang di sampaikan oleh Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena apa yang di sampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berdasarkan wahyu.
.
(3) Mengikuti jalan dan pemahaman para Sahabat.
.
Pilar selanjutnya, yang di jadikan pijakan orang-orang yang berada di atas kebenaran (al-haq) adalah yang mengikuti jalan dan pemahaman para Sahabat dalam memahami agama. Karena para Sahabat adalah generasi terbaik umat. Mereka adalah sebaik-baik manusia.
.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
خَيْرَ أُمَّتي قَرْنِيْ
.
“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku (para Sahabat)”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).
.
Para Sahabat adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat dan paling mengetahui dalam memahami Islam. Mereka adalah para pendahulu yang memiliki keshalihan yang tertinggi (as- alafu ash-shalih).
.
Karenanya, sudah merupakan kemestian bila menghendaki pemahaman dan pengamalan Islam yang benar, merujuk kepada mereka (as-salafu ash-shalih).
.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
.
وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ
.
“Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman: 15).
.
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam I’lam Al-Muwaqqi’in, terkait ayat di atas menyebutkan, “Bahwa setiap sahabat adalah orang yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, wajib mengikuti jalannya, perkata’an-perkata’annya, dan keyakinan-keyakinan (i’tiqad) mereka”.
.
Itulah keutama’an para Sahabat yang di terangkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
.
Maka bisa di jadikan barometer, siapa yang mengikuti jejak para Sahabat dalam aspek pemahaman, i’tiqad, perkata’an maupun amal, maka dia berada di atas kebenaran (al-haq) .
.
(4) Mengembalikan perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya.
.
Islam sudah memberikan tuntunan untuk mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya.
.
Terlalu banyak firman Allah Ta’ala dan sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam yang memerintahkan kita untuk mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
.
“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An Nisa: 59).
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ
.
“Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah”. (QS. Asy Syura: 10).
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى
.
”Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. (QS. Thaha: 123).
.
– Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
.
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
.
“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah”. (HR. Muslim).
.
Ayat-ayat dan hadits di atas memberikan petunjuk kepada kita, supaya mengembalikan setiap yang di perselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya.
.
Itulah empat pilar, yang harus di jadikan pijakan oleh orang-orang yang mengikuti kebenaran.
.
Setelah kita mengetahui empat landasan utama dalam mengikuti kebenaran, maka kini kita dapat mengetahui, barang siapa yang tidak berpijak kepada empat landasan di atas, maka mereka adalah orang-orang yang menyimpang dan tersesat. Walaupun mereka mengklaim sebagai, orang atau golongan yang benar.
.
Kebenaran (al-haq) bisa di klaim oleh siapa pun dan oleh kelompok mana pun.
.
Banyak orang yang mengaku beriman kepada Allah Ta’ala dan mengimani Kitab-Nya, namun faktanya, banyak orang yang tidak mengikuti petunjuk Allah Ta’ala.
.
Tidak sedikit orang yang menuhankan manusia, mereka selalu membenarkan apapun yang datang dari orang yang mereka anggap hebat, anggap alim, anggap shalih. Apapun yang datang dari orang yang mereka ikuti dan kagumi mereka jadikan seolah-olah wahyu yang tidak boleh di bantah dan selalu di ikuti. Maka orang-orang seperti ini hakekatnya bukan pengikut kebenaran (al-haq). Tapi orang yang menyimpang dan tersesat.
.
Banyak yang mengaku cinta Rasulullah, namun faktanya justru menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka membuat-buat ajaran baru, mereka mengerjakan amalan-amalan yang tidak Rasulullah ajarkan. Maka hakekatnya mereka bukanlah pengikut kebenaran (al-haq), tapi orang yang menyimpang dan sesat.
.
Allah Ta’ala dan Rasul-Nya memerintahkan kita supaya mengikuti dan menapaki jejak para Sahabat dalam beragama. Namun faktanya, banyak dari umat Islam yang tidak searah dan menyimpang dari manhajnya para Sahabat. Mereka membuat toriqoh-toriqoh baru. Toriqoh-toriqoh yang ajarannya berbeda dengan yang di tempuh, di fahami dan di amalkan para Sahabat. Maka orang-orang tersebut hakekatnya bukanlah pengikut kebenaran (al-haq), tapi orang-orang yang menyimpang dan tersesat.
.
Allah Ta’ala memerintahkan supaya mengembalikan setiap ada perselisihan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Namun yang terjadi, banyak dari umat Islam ketika berselisih, mereka mengembalikan kepada madzhabnya, gurunya, syaikhnya, ustadznya, kiyainya atau jama’ahnya. Maka hakekatnya mereka bukanlah pengikut kebenaran, tapi orang-orang yang menyimpang dan tersesat.
.
Jalan menuju kebenaran (al-haq), hanyalah satu, yaitu jalan yang Allah Ta’ala sudah tunjukan, jalan yang mendapatkan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jalan yang telah di tempuh oleh para Sahabat generasi terbaik umat. Jalan yang di atasnya tidak ada perselisihan dan pertikaian.
.
Ibnu Mas’ud meriwayatkan,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat satu garis, kemudian bersabda : “Ini adalah jalan Allah. Kemudian beliau menggaris beberapa garis ke kanan dan ke kiri lalu bersabda : “Ini adalah “Subul” (jalan-jalan), dan di setiap jalan-jalan itu ada setan yang menyeru kepadanya. Kemudian beliau membaca (ayat 153, surat al-An’aam): “Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan lain, sehingga ia akan memisahkan kalian dari jalan-Nya”. (H.R Ahmad (II/318).
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.

================

PENTINGNYA MENGETAHUI ASBABUL WURUD DARI SEBUAH HADITS

PENTINGNYA MENGETAHUI ASBABUL WURUD DARI SEBUAH HADITS
.
Asbabul Wurud artinya, sebab turun atau kronologi atau historis dari sebuah hadits.
.
Perlu di ketahui, bahwa untuk memahami suatu hadits dengan baik, tepat dan benar, diantaranya diperlukan metodologi atau suatu cara. Tidak cukup hanya sekedar melihat teksnya saja dari sebuah hadits, lebih khususnya kepada hadits yang mempunyai Asbabul Wurud, (sebab turunnya). Melainkan juga kita harus melihat konteksnya.
.
Dengan kata lain, ketika kita ingin menggali pesan moral dari sebuah hadits, perlu memperhatikan konteks historitasnya, kepada siapa hadis itu disampaikan, dalam kondisi sosio kultural yang bagaimana Nabi waktu itu menyampaikannya. Tanpa memperhatikan konteks historisitasnya (Asbabul Wurud) maka akan mengalami kesalahan dalam menangkap makna suatu hadits, bahkan dapat terperosok ke dalam pemahaman yang keliru.
.
Untuk itu, mengapa Asbabul Wurud menjadi sangat penting dalam diskursus ilmu hadits, seperti pentingnya Asbabun Nuzul dalam kajian tafsir Al-Qur’an. Perlu diketahui juga, bahwa tidak semua hadis mempunyai Asbabul Wurud.
.
• PENGERTIAN ASBABUL WURUD DAN URGENSINYA
.
Di bawah ini sedikit penjelasan tentang Asbabul Wurud menurut pendapat beberapa ulama.
.
Menurut Imam As-Suyuthi, secara terminology (syara’) Asbabul Wurud berarti :
.
أنه ما يكون طريقا لتحديد المراد من الحديث من عموم أو حصوص أو إطلاق أوتقييد أونسخ أونحو ذالك
.
“Sesuatu yang menjadi thoriq (metode) untuk menentukan suatu hadis yang bersifat umum, atau khusus, mutlak atau muqayyad, dan untuk menentukan ada tidaknya naskh (pembatalan) dalam suatu hadits”.
.
Sedangkan KH. Hasbi Ash-Shiddiqie mengatakan :
.
علم يعرف به السبب الذي ورد لأجله الحديث والزمان الذي جاء به
.
“Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi menyampaikan sabdanya dan waktu Nabi menuturkannya”.
.
Mengetahui Asbabul Wurud bukanlah tujuan (ghayah), melainkan hanya sebagai sarana (washilah) untuk memperoleh ketepatan makna dalam memahami pesan moral suatu hadits. Supaya tidak terjebak hanya kepada teksnya saja dari sebuah hadits, dan terperosok kepada kesalah fahaman dalam memaknai terlebih lagi salah penerapannya.
.
• Contoh Hadits dan Asbabul Wurudnya
.
Berikut ini contoh salah satu hadits dan Asbabul Wurudnya.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه مسلم)
.
“Barangsiapa mencontohkan atau memulai suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”. (Riwayat Muslim).
.
Dan berikut Asbabul Wurudnya dari hadits diatas,
.
كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيصَدْرِ النَّهَارِ فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوْ الْعَبَاءِ مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ
.
Kami bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di pagi hari. Lalu datanglah satu kaum yang telanjang kaki dan telanjang dada berpakaian kulit domba yang sobek-sobek atau hanya mengenakan pakaian luar dengan menyandang pedang.
.
عَامَّتُهُمْ مِنْ مُضَرَ بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا رَأَى بِهِمْ مِنْ الْفَاقَةِ
.
Umumnya mereka dari kabilah Mudhar atau seluruhnya dari Mudhar, lalu wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah ketika melihat kefaqiran mereka.
.
فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ فَأَمَرَ بِلَالًا فَأَذَّنَ وَأَقَامَ فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ
.
Beliau masuk kemudian keluar dan memerintahkan Bilal untuk adzan, lalu Bilal adzan dan iqamat, kemudian beliau shalat. Setelah shalat beliau berkhutbah seraya membaca ayat,
.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍوَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَإِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
.
“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An-Nisa: 1).
.
وَالْآيَةَ الَّتِي فِي الْحَشْرِ
.
Dan membaca ayat di surat Al Hasyr,
.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسُُ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ
.
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Hasyr: 18).
.
تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ مِنْ دِرْهَمِهِ مِنْ ثَوْبِهِ مِنْ صَاعِ بُرِّهِ مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ حَتَّى قَالَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
.
Telah bershadaqah seseorang dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, takaran sha’ kurmanya sampai beliau berkata walaupun separuh kurma.
.
قَالَ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا بَلْ قَدْ عَجَزَتْ
.
Jarir berkata, Lalu seorang dari Anshar datang membawa sebanyak shurroh (yaitu sejumlah apa yang mampu dibawa dan diikat dengan sesuatu), hampir-hampir telapak tangannya tidak mampu memegangnya, bahkan tidak mampu.
.
قَالَ ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ حَتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ
.
Jarir berkata, Kemudian berturut-turut orang memberi sampai aku melihat makanan dan pakaian seperti dua bukit, sampai aku melihat wajah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersinar seperti emas.
.
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
.
Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang membuat sunnah dalam Islam ini, sunnah hasanah, maka baginya berhak atas pahala, dan pahala orang yang mengamalkannya (sunnah tersebut) setelahnya, tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang membuat sunnah sayyi’ah (sunnah yang buruk) dalam Islam, maka baginya dosa dan (ditambah dengan) dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun”(HR Muslim dalam Kitab Zakat, Bab Motivasi Untuk Bershadaqah Walaupun dengan Sebutir Kurma no. 1017).
.
Itulah Asbabul Wurudnya dari hadits di atas.
.
• Salah menerapkan hadits akibat tidak melihat Asbabul Wurudnya
.
Hadits diatas, yaitu hadits,
.
مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه مسلم)
.
“Barangsiapa mencontohkan atau memulai suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”. (Riwayat Muslim).
.
Sering dijadikan dalil oleh sebagian umat Islam untuk membenarkan bolehnya membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah).
.
Membolehkan membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah) dengan berdalilkan hadits di atas adalah salah satu contoh salah dalam memaknai dan menerapkan sebuah hadits.
.
Kesalahan memaknai dan menerapkan hadits tersebut adalah akibat dari tidak memperhatikan Asbabul Wurudnya (sebab turunnya) hadits tersebut.
.
Maka disinilah pentingnya mengetahui Asbabul Wurud (sebab turunnya) dari sebuah hadits, supaya tidak terjadi kesalahan memaknai sebuah hadits, yang berakibat salah penerapan.
.
Kenapa dikatakan salah memaknai dan menerapkannya apabila hadits diatas dijadikan dalil untuk membenarkan bolehnya berbuat bid’ah ?
.
Karena hadits tersebut bukan perintah atau persetujuan Nabi kepada orang yang membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah). Tapi sebagai bentuk apresiasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang Sahabatnya yang mendahului berbuat amal salih. Dalam hal ini shodaqoh.
.
Apakah shodaqoh yang di lakukan seorang Sahabat tersebut mau di katakan perkara baru ?
.
Tentu saja sodaqoh yang di lakukan seorang Sahabat tersebut bukan perkara baru. Tetapi amal saleh yang sudah ada perintahnya dalam Islam.
.
Dan seorang Sahabat yang mendahului bersedekah tersebut, juga karena ada anjuran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), maksudnya beramal salih. Perhatikan khutbah Rasulullah shalaihu ‘alaihi wa sallam diatas.
.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسُُ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ
.
“Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)”. (QS. Al Hasyr: 18).
.
Ayat diatas sebagai perintah dari Allah Ta’ala untuk beramal saleh, untuk kehidupan di akhirat.
.
• Penjelasan para Ulama tentang hadits diatas
.
– Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terhadap hadits diatas menjelaskan,
.
“Yang dimaksud dengan,
.
“من سن في الإسلام سنة حسنة”
.
“Barangsiapa yang membuat sunnah dalam Islam ini, sunnah hasanah,
.
Ialah memelopori suatu amal yang telah ada, bukan membuat amalan baru. Karena barangsiapa yang mengada-adakan suatu amalan yang tidak ada asalnya dalam Islam, maka amalan tersebut tertolak, dan bukan sebuah amalan yang baik. Yang dimaksud ialah sebagaimana laki-laki dari kalangan Anshar tersebut, radhiyallahu ‘anhu yang membawa kurma sebanyak satu shurrah. Hal ini menjadi dalil bahwa barangsiapa yang meniru perbuatan semisal dengan apa yang dilakukan pelopor sunnah ini, maka tercatat bagi si pelopor sunnah tersebut, pahala, baik ia masih hidup maupun telah meninggal”. (Syarh Riyadh As Shalihin).
.
– Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly terhadap hadits diatas dalam Bahjatun Nazhirin 1/258 mengatakan : “Hadits ini bukanlah hujjah bagi mereka yang menghias-hiasi perbuatan bid’ah, dan mereka yang berkata bahwa dalam Islam terdapat yang namanya “bid’ah hasanah” .
.
Inilah dalil bahwa tafsir mereka hanyalah omong kosong dan kedustaan yang nyata, dan bantahannya sangat jelas, bahwa setiap apa yang diperbuat oleh lelaki Anshar itu hanyalah memulai shadaqah, dan shadaqah ialah perbuatan yang telah disyariatkan lewat berbagai nash, lantas mereka menyangka bahwa shahabat ini telah mendatangkan suatu bid’ah hasanah ?!”. (selesai perkataan dari Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly).
.
• Arti kata “sanna” (سَنَّ)
.
Kata “sanna” (سَنَّ) secara bahasa adalah : “Memulai perbuatan lalu diikuti oleh orang lain”. Sebagaimana terdapat di dalam kamus-kamus bahasa Arab.
.
Al-Azhari rahimahullah (wafat tahun 370 H) dalam kitabnya Tadziib al-Lughoh berkata : “Setiap orang yang memulai suatu perkara lalu dikerjakan setelahnya oleh orang-orang maka dikatakan dialah yang telah merintisnya”. (Tahdziib al-Lughoh, karya al-Azhari, tahqiq Ahmad Abdul Halim, Ad-Daar Al-Mishriyah, 12/306).
.
Juga sebagaimana disampaikan oleh Az-Zabidi dalam kitabnya, (Taajul ‘Aruus min Jawahir al-Qoomuus, 35/234, Ibnul Manzhuur dalam kitabnya Lisaanul ‘Arob 13/220).
.
Lalu bagaimana dengan Kata “sanna” (سَنَّ) pada hadits di atas, apakah Kata “sanna” (سَنَّ) tersebut mengandung arti memulai atau merintis amalan yang benar-benar baru ?
.
Kata “sanna” (سَنَّ) pada hadits di atas BUKAN BERARTI BERKREASI MEMBUAT AMALAN BARU YANG TIDAK ADA CONTOH SEBELUMNYA. Tapi berupa amalan yang memang sudah ada tuntunannya atau perintahnya. KITA BISA MENGETAHUI MAKNANYA TERSEBUT BERDASARKAN SEBAB TURUNNYA atau KRONOLOGINYA HADITS TERSEBUT.
.
Oleh karenanya kata “sanna” (سَنَّ) bukan berarti harus berkreasi amalan baru atau berbuat bid’ah yang tidak ada contoh sebelumnya.
.
Akan tetapi lafal “sanna” (سَنَّ) bersifat umum, yaitu setiap yang memulai suatu perbuatan lalu diikuti, baik perbuatan tersebut telah ada sebelumnya atau merupakan kreasinya sendiri.
.
Namun dengan melihat SEBAB TURUNNYA atau KRONOLOGINYA hadits tersebut, maka dipahami bahwa yang dimaksud oleh Nabi dengan Kata “sanna” (سَنَّ) pada hadits itu, adalah yang mendahului melakukan sunnah yang telah diajarkan dan dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan membuat-buat amalan baru (bid’ah).
.
Karenanya al-Azhari berkata tentang hadits diatas : “Dalam hadits “Barang siapa yang “sanna” sunnah yang baik baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya, dan barang siapa yang “sanna” sunnah yang buruk …”, MAKSUD NABI ADALAH BARANG SIAPA YANG MENGAMALKANNYA UNTUK DI IKUTI”. (Tahdziib al-Lughoh 12/298).
.
Semoga bisa di fahami.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah
.
.
_____________________

PERPECAHAN TIMBUL AKIBAT MENAFSIRKAN AL-QUR’AN DENGAN HAWA NAFSU

PERPECAHAN TIMBUL AKIBAT MENAFSIRKAN AL-QUR’AN DENGAN HAWA NAFSU
.
Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi umat Islam, oleh karena itu tidak seharusnya umat Islam terpecah belah karena memiliki pedoman yang akan menyatukan mereka. Namun sangat disayangkan banyak kelompok dari umat Islam yang membuat penafsiran sendiri-sendiri terhadap ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan pendapat mereka masing-masing.
.
Menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan pendapat sendiri (hawa nafsu) adalah tindakan yang berbahaya.
.
Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
مَنْ فَسَّرَ اْلقُرْآنَ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
.
“Siapa saja yang menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan pendapatnya sendiri maka hendaknya dia menempati tempat duduknya yang terbuat dari api neraka”. (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan Ibnu Abi Syaibah).
.
Konon, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika mengutus Ibnu Abbas untuk melakukan dialogh dengan kelompok sesat Khawarij, berpesan agar Ibnu Abbas tidak mendebat mereka dengan ayat-ayat Al-Qur`an, sebab Al-Qur`an itu hammâlun dzû wujûh, mengandung berbagai kemungkinan penafsiran, yang boleh jadi dimanfa’atkan oleh mereka untuk mencari pembenaran terhadap kesesatannya. Dan memang bisa dikatakan seluruh kelompok Islam termasuk yang sesat bersandar pada Al-Qur`an.
.
Banyak kalangan awam tertipu oleh kelompok menyimpang dan sesat. Mereka mengaku, faham atau ajarannya berdasarkan Al-Qur’an. Padahal walaupun mereka mengklaim ajaran mereka berdasarkan al-Qur’an, namun mereka memiliki penafsiran-penafsiran sendiri terhadap ayat-ayat al-Qur’an berdasarkan logika-logika (hawa nafsu) mereka. Sehingga kemudian muncul berbagai penafsiran dari ayat-ayat Al-Qur’an yang berbeda-beda. Lalu timbul perselisihan diantara umat Islam yang berujung perpecahan dan permusuhan.
.
Dalam sebuah kisah disebutkan. Pada satu hari, Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu menyendiri. Dia berkata dalam hatinya, mengapakah umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu ?. Lalu ia memanggil Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian Umar bertanya kepadanya : “Mengapa umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu. Kiblat mereka juga satu dan Kitab suci mereka juga satu ?”. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu lalu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan kepada kita. Kita membacanya dan mengetahui maksudnya. Lalu datanglah sejumlah kaum yang membaca Al-Qur’an, namun mereka tidak mengerti maksudnya. Maka setiap kaum punya pendapat masing-masing. Jika demikian realitanya, maka wajarlah mereka saling berselisih. Dan jika telah saling berselisih, mereka akan saling menumpahkan darah”. [kitab Al I’tisham, karya Asy-Syathibi, (II/691)].
.
Itulah jawaban Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu ketika di tanya oleh Umar bin Khatab, mengapa umat Islam berselisih. Penyebabnya adalah karena setiap kelompok membuat penafsiran sendiri-sendiri terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.
.
Berikut ini beberapa contoh model penafsiran Al-Qur’an menurut hawa napsu.
.
• Tafsir model syi’ah
.
1. Surat Al Lahab ayat 1
.
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
.
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa”
.
Tafsir versi Syiah : Yang dimaksud dengan “dua tangan” Abu Lahab di sini adalah dua pembantu Abu Lahab, yaitu Abu Bakr Ash Shiddiq dan Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhuma.
.
Tafsir Ahlus Sunnah : Yang dimaksud dengan “dua tangan” Abu Lahab di sini adalah tangan Abu Lahab yang sesungguhnya. Maknanya adalah Abu Lahab mendapatkan kebinasaan dan kerugian akibat permusuhannya terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.
.
2. Surat Az Zumar ayat 65
.
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
.
“Jika kamu menyekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”
.
Tafsir versi Syiah : Makna ayat ini adalah jika kamu mempersekutukan Ali bin Abi Thalib dengan Abu Bakr di dalam perkara khilafah maka seluruh amalanmu akan terhapus dan akan menjadi orang yang merugi, yaitu murtad.
.
Tafsir Ahlus Sunnah : Makna ayat ini adalah jika kamu mempersekutukan Allah dengan segala sesuatu selain-Nya di dalam masalah peribadatan maka seluruh amalanmu akan terhapus dan akan menjadi orang yang merugi, yaitu murtad.
.
3. Surat Al-Baqarah ayat 67
.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً
.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina”
.
Tafsir versi Syiah : Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menyembelih Aisyah istri Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam
.
Tafsir Ahlus Sunnah : Nabi Musa ‘alaihssalam berkata kepada kaumnya bahwasanya Allah menyuruh mereka untuk menyembelih seekor sapi betina.
.
• Tafsir model Ahmadiyah
.
Di dalam tafsir Al-Qur`an versi Ahmadiyah yaitu Al-Qur`an dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat, editor Malik Ghulam Farid, di alih bahasakan oleh Panitia Penterjemah Tafsir Al-Qur`an Jema’at Ahmadiyah Indonesia jilid III Edisi Pertama Penerbit Yayasan Wisma Damai Jakarta 1983, bahwa makna kata Ahmad di dalam surah Ash-Shaff ayat 6 yang berbunyi,
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ
.
“Dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. (QS Ash-Shaff; 06).
.
Menurut jema’at Ahmadiyah ayat itu ditujukan kepada Mirza Ghulam Ahmad.
.
Penjelasan ayat ini oleh Ahmadiyah ditafsirkan di dalam footnote 3037 sebagai berikut : “… Jadi, nubuatan yang disebut dalam ayat ini ditujukan kepada Rasulullah SAW, tetapi sebagai kesimpulan dapat pula dikenakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud AS, Pendiri Jemaat Ahmadiyah, sebab beliau telah dipanggil dengan nama Ahmad di dalam wahyu (Barahin Ahmadiyah), dan oleh karena dalam diri beliau terwujud kedatangan kedua atau diutusnya yang kedua kali Rasulullah SAW…”. (Al-Qur`an dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat, footnote no. 3037, hal. 522).
.
• Tafsir model Al-Qiyadah
.
فَأَوْحَيْنا إِلَيْهِ أَنِ اصْنَعِِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا فَإِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ فَاسْلُكْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ مِنْهُمْ وَلا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ
.
”Lalu Kami wahyukan kepadanya, Buatlah kapal di bawah pengawasan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam kapal itu sepasang-pasang dari setiap jenis, juga keluargamu, kecuali orang yang lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa siksa’an) di antara mereka. Dan janganlah engkau bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zalim, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. Al-Muminun: 27).
.
Al-Qiyadah menafsirkan ayat tersebut menurut pemahaman mereka sendiri bahwa kapal Nabi Nuh adalah permisalan dari al-Qiyadah, yaitu sarana organisasi dakwah yang dikendalikan oleh Nuh sebagai nakoda. Ahli Nuh adalah orang-orang mukmin yang beserta beliau, sedangkan binatang ternak yang dimasukkan berpasang-pasangan adalah perumpama’an dari umat yang mengikuti beliau. Lautan yang dimaksud adalah bangsa Nuh yang musyrik itu.
.
• Tafsir model NII
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
.
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu daripada al-Kitab dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari yang keji dan yang munkar.” (QS. Al-Ankabut: 45).
.
Mereka orang NII menafsirkan Al-Qur’an tidak disandarkan pada dalil-dalil melainkan menggunakan logika. Ayat diatas mereka tafsirkan dengan mempertanyakan apakah shalat yang telah kalian lakukan dapat mencegah perbuatan keji dan munkar ? Hanya perbuatan langsunglah yang dapat mencegahnya. Maka muncullah aturan shalat universal yaitu mengajak orang-orang untuk masuk NII.
.
• Tafsir model sufi
.
Sebagimana kelompok batil lainnya, orang-orang sufi pun dalam menafsirkan Al-Qur’an menggunakan ra’yunya.
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
اَذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى
.
“Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya ia melampui batas”. (Q.S. Thaha: 24).
.
Orang Sufi menafsirkan yang dimaksud dengan Fir’aun adalah hati dan apa saja yang melampui batas pada setiap manusia.
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ
.
“Dan Kami wahyukan kepada Musa : ‘Lemparkanlah tongkatmu !’. Maka tiba-tiba tongkat itu menelan, apa yang mereka sulapkan”. (Q.S Al-A’raaf: 117).
.
Menurut penafsiran orang-orang sufi yang dimaksud tongkat ialah apapun yang dijadikan sandaran atau andalan selain Allah, harus dilemparkan.
.
Itulah diantara tafsir-tafsir mereka yang sangat berbeda dengan penafsiran para Ulama ahlu sunnah.
.
• Metode Ahlus Sunnah dalam menfsirkan Al-Qur’an
.
Para Ulama Ahlu Sunnah sangat ketat dalam memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Untuk memahami kandungan dan maksud-maksud ayat al-Quran, diperlukan penafsiran oleh orang yang memenuhi kualifikasi. Meski kualifikasi itu tidak mutlak, namun para Ulama tafsir menetapkan syarat-syarat yang sangat ketat sehingga tidak semua orang dapat menafsirkan al-Quran.
.
Ibnu Katsir menyebutkan bagaimana cara terbaik dalam menafsirkan Al-Qur’an, yaitu sebagai berikut :
.
1- Menafsirkan Al Qur’an dengan Al-Qur’an.
.
Jika ada ayat yang mujmal (global), maka bisa ditemukan tafsirannya dalam ayat lainnya.
.
2- Jika tidak didapati, maka Al-Qur’an ditafsirkan dengan sunnah atau hadits.
.
3- Jika tidak didapati, maka Al-Qur’an ditafsirkan dengan perkata’an para Sahabat karena mereka lebih tahu maksud ayat, lebih-lebih ulama sahabat dan para senior dari sahabat Nabi seperti Khulafaur Rosyidin yang empat, juga termasuk Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar.
.
4- Jika tidak didapati, barulah beralih pada perkataan Tabi’in seperti Mujahid bin Jabr, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah (bekas budak Ibnu ‘Abbas), ‘Atho’ bin Abi Robbah, Al Hasan Al Bashri, Masruq bin Al Ajda’, Sa’id bin Al Musayyib, Abul ‘Aliyah, Ar Robi’ bin Anas, Qotadah, dan Adh Dhohak bin Muzahim.
.
(Lihat Tafsir Al Qur’an Al‘Azhim karya Ibnu Katsir,1: 5-16).
.
Itulah metode yang di gunakan oleh para Ulama Ahlus Sunnah dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Bukan dengan logika (hawa nafsu) sendiri secara serampangan sebagaimana yang di lakukan oleh kelompok-kelompok yang menyimpang dan sesat.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
________