ILMU BEKAL JURU DAKWAH

ILMU BEKAL JURU DAKWAH

Allah Subhanahuwata’a la telah menempatkan ahli ilmu pada kedudukan yang mulia.

Syaikh As Sa’di mengatakan :
“Dakwah mengajak manusia kembali kepada Allah harus senantiasa disertai dan berisi ilmu, sebab diantara syariat berdakwah itu adalah ilmu tentang apa yang harus disampaikan oleh seorang da’i”.

Allah Ta’ala berfirman :

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat“ (Al Mujadilah,11)

Dalil dan bukti-bukti ini adalah untuk mendorong para da’i yang memberi nasehat agar berbekal dengan ilmu. Oleh karena itu, semestinya da’i mempunyai ilmu tentang hal yang disyariatkan dan mana yang tidak disyariatkan.

Yang dengan ilmu itu dia akan mampu memisahkan antara sunnah dan bid’ah, kebaikan dan keburukan, halal dan haram serta mengerti mana yang merupakan tauhid dan mana kesyirikan. Allah Subhanahuwata’ala menerangkan bahwa dakwah mengajak manusia kepada Allah di atas bashirah adalah jalan Nabi & jalan para pengikutnya dari kalangan Ahli Ilmu, sebagaimana firman Allah Ta’la :

“Katakanlah, inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan hujjah yang nyata“. (Yusuf,108)

Ibnul Qayim menjelasakan pula hakekat ilmu & pengaruhnya :

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyerupakan ilmu dan hidayah yang dibawanya dengan air hujan yang turun dari langit, karena keduanya sama-sama menghasilkan kehidupan dan manfaat serta sumber makanan sebagaimana halnya hati yang menampung ilmu tersebut, dimana ilmu berbuah padanya dan semakin suci tampak jelasa berkah dan hasilnya.

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan :

“Yang dimaksud dengan ilmu dalam hal ini adalah ilmu tentang syari’at yang bermanfaat untuk mengenali apa yang menjadi kewajiban seseorang dalam urusan agamanya, baik dalam ibadah maupun muamalah, serta ilmu tentang Allah dan semua sifatNya, juga apa yang wajib baginya dalam menjalankan urusannya.

Oleh karena itu, Siapapun yang berbicara tentang agama Allah tanpa hujjah yang Allah utus Rasulnya untuk membawakan, berarti dia berbicara tanpa ilmu dan dikuasai oleh Syaitan. Wajib bagi setiap da’i untuk membekali dirinnya dengan ilmu syar’i yang dengan ilmu itu dia mengakat kebodohan yang ada pada dirinya dan dari orang lain. Hendaknya dia memahami As Sunnah, Al Bayan, Hujjah dan Burhan. Sehingga, ilmunya itu akan mengakat seorang da’i kepada Allah dari ketergelinciran dalam kubangan kesesatan dan hawa nafsu.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa ada tiga modal bagi setiap penyeru kebaikan dan pencegah kemungkaran. Modal tersebut adalah :

1- lLMU, Harus dimiliki di awal dakwah

2- LEMBUT, Harus ada di tengah-tengah memberi nasehat

3- SABAR, Harus ada di akhir karena barangkali ada gangguan atau hidayah belum kunjung datang pada orang yang kita dakwahi.

=====================

Iklan