SEJARAH TAUHID PRA ISLAM SAMPAI DIUTUSNYA RASULULLAH

SEJARAH TAUHID PRA ISLAM SAMPAI DIUTUSNYA RASULULLAH

Tauhid secara etimologis berarti keesa’an. Maksudnya, ittikad atau keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Esa, Tunggal, Satu.

Semua Nabi dari mulai Nabi Adam ‘alaihissalam sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya bahwa yang menciptakan dan mengatur alam semesta adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang maha esa. Dan semua Nabi mengajarkan kepada umatnya untuk beribadah hanya kepada Nya.

Dari mulai Nabi Adam ‘alaihissalam sampai Nabi Nuh ‘alaihissalam umat manusia tidak ada yang melakukan kesyirikan. Akan tetapi semenjak Nabi Nuh ‘alaihissalam, manusia mulai melakukan kesyirikan yang akhirnya dibinasakan oleh Allah Ta’ala. Dan Masa berikutnya Allah mengutus Nabi Ibrahim.

Sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Musa dan mengajarkan kepada umatnya untuk mentauhidkan Allah Ta’ala.

Kepada Nabi Musa ‘alaihissalam Allah Ta’ala menurunkan kitab taurat yang mengandung syari’at atau peraturan-peraturan untuk diamalkan dan berpegang teguh padanya.

Syari’at yang terdapat dalam taurat itu dijalankan oleh bani Israel semasa nabi Musa masih hidup. Akan tetapi Setelah Nabi Musa wafat umatnya berselisih dan melakukan perubahan-perubahan dan penyimpangan-peyimpangan yang dilakukan oleh sebagian mereka, sehingga ajaran yang dibawa Nabi Musa mengalami penyimpangan (distorsi).

Kemudian masa selanjutnya Allah Ta’ala mengutus Nabi Isa ‘alaihissalam juga menurunkan kitab yaitu Injil untuk mengembalikan bani Israel kepada ajaran yang semula, yaitu mentauhidkan Allah.

Namun setelah ditinggalkan Nabi Isa sedikit demi sedikit ajaran yang dibawa Nabi Isa mulai berubah, sehingga umatnya menyimpang dari ajaran semula dan terlepas dari dasar-dasar ketuhidan yang murni.

• Sejarah tauhid pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam diutus, sa’at itu bangsa Arab sudah tidak lagi mentauhidkan Allah ta’ala, mereka banyak menyembah berhala yang mereka jadikan sebagai sesembahan selain juga beriman kepada Allah. Tiga berhala yang terkenal sa’at itu yaitu ; manat, al-lata dan al-uzza.

Dengan perjuangan yang gigih yang dilakukan Rasulullah dan para Sahabatnya dengan melalui banyak rintangan sangat berat akhirnya bangsa Arab dapat dikembalikan kepada ajaran yang benar yaitu mentauhidkan Allah.

Dimasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup, umat Islam mendapatkan bimbingan langsung dari Rasulullah. Setiap permasalahan dalam urusan agama yang muncul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengembalikannya kepada Allah dan Rasulnya. Sebagaimana diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59).

Dari sejarah yang kita baca maka bisa kita ketahui, bahwa sebelum Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam diutus, Allah sudah mengutus beberapa Rasul untuk mengajarkan kepada umatnya utuk beribadah hanya kepada satu Tuhan, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun setelah umatnya itu ditinggal wafat oleh Rasulnya, sebagian dari mereka membuat perkara-perkara yang tidak diajarkan oleh Rasulnya. Dan akibatnya syari’at yang mereka lakukan sudah tidak sesuai lagi dengan syari’at yang diajarkan oleh Rasulnya. Dan akhirnya mereka sudah tidak lagi menganut agama yang benar yaitu agama Tauhid melainkan agama batil yang menyimpang dari tuntunan Allah dan Rasulnya.

Kita mengetahui bahwa agamanya orang-orang yahudi asalnya agama Tauhid yang di bawa oleh Nabi Musa ‘alaihissalam, begitu pula agama nasrani awalnya agama Tauhid yang dibawa oleh Nabi Isa ‘alaihissalam, akan tetapi kita bisa mengetahui, sa’at ini orang-orang yahudi dan pengikut agama nasrani sudah bukan lagi penganut agama Tauhid melainkan penganut agama syirik yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kenapa agama orang-orang yahudi dan agama nasrani bisa jadi berubah dari agama Tauhid menjadi agama syirik ?

Penyebabnya karena mereka merubah-rubah, menambah, mengurangi bahkan menghilangkan syari’at yang ada pada mereka.

• Islam menggantikan agama-agama yang terdahulu

Setelah agama-agama yang terdahulu sebelum Islam mengalami kerusakan (distorsi) kemudian Allah Ta’ala mengutus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengembalikan manusia kepada agama yang benar (Tauhid) untuk beribadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Namun fakta bisa kita lihat, ternyata pemeluk agama Islam pun ada yang memiliki sifat seperti pemeluk agama yang terdahulu yang mengikuti hawa napsu, mereka tidak cukup dengan syari’at yang diajarkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mereka membuat-buat ajaran yang tidak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Padahal Islam sudah sempurna. Sebagaimana Allah Ta’ala firmankan,

Allah Azza wa Jalla berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3].

Kesempurna’an Islam sebagaimana di sebutkan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam Al-Qur’an surah Al Maidah ayat 3 tersebut, maka artinya ; Tidaklah diperlukan lagi adanya penambahan-penambahan atau mengada-adakan hal-hal yang baru berdasarkan hawa nafsu dan pemikiran yang menganggap apa saja yang baik itu boleh saja dilakukan dalam agama meskipun tidak pernah diperintahkan dilakukan atau pernah disetujui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apabila ada orang-orang yang memandang perlu memberikan penambahan atau mengada-adakan lagi hal-hal yang baru diluar syari’at yang telah ada, meskipun sekecil apapun dan alasan apapun, maka hal itu sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi sebaliknya sangat dicintai oleh iblis dan bala tentaranya. Dan pelakunya secara sengaja atau tidak sengaja, secara tidak langsung telah menuduh Rasulullah shalallahu’alahi wa sallam telah berhianat dan menyembunyikan risalah Islam.

Inilah yang pernah diperingatkan oleh Imam Malik bin Anas rahimahullah ta’ala di dalam salah satu perkata’annya yang sangat terkenal sekali yaitu :

“Barang siapa yang membuat bid’ah (perkara baru dalam urusan agama) di dalam islam, yang dia mengangpnya sebagai bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), maka sesungguhnya dia telah menuduh bahwa Muhammad shallahu’alahi wa sallam telah berhianat di dalam (menyampaikan) risalah. Karena sesungguhnya Allah telah berfirman : “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu”. Maka apa-apa yang tidak menjadi (bagian dari) agama pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi (bagian dari) agama pada hari ini”. (Al-I’tisham juz 1 hal.49).

Alangkah bagus dan indahnya perkata’an Imam Malik diatas dan ini merupakan kaidah besar yang sangat agung sekali di dalam agama Allah, bahwa “Apa-apa yang tidak menjadi agama pada hari itu, yakni ketika turunnya ayat diatas, maka tidak akan menjadi agama pada hari ini, Yakni, apa-apa yang bukan ajaran islam pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi ajaran islam pada hari ini.

• Para Ulama Ahlu Sunnah menjaga Islam dari para penyesat umat

Terjaganya keutuhan Islam bukan berarti tidak ada rongrongan dari orang-orang yang melakukan penyimpangan dalam Islam, akan tetapi karena adanya orang-orang yang selalu berjuang keras berusaha menjaga kemurnian Islam, walaupun mereka mendapatkan perlawanan yang hebat, dari mulai cacian, permusuhan, fitnah bahkan sampai serangan fisik.

Dengan adanya orang-orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka keutuhan Islam pun terjaga dan tidak terjadi distorsi (rusak) sebagaimana yang terjadi kepada agama-agama sebelum Islam.

Sungguh tercela para pengikut hawa napsu, yang merasa baik apa yang mereka lakukan membuat perkara-perkara baru dalam agama, padahal Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasalam tidak mengajarkannya.

Apabila mereka para pelaku bid’ah sesuka hatinya membuat perkara-perkara baru dalam urusan agama dibiarkan tidak dicegah maka yang terjadi agama Islam pun keada’annya akan mengalami kerusakan sebagaimana yang terjadi kepada agama-agama terdahulu sebelum Islam.

Sebagaimana yang dikatakan Dr. Yusuf Qardhawi dalam Kitabnya As Sunnah wal Bid’ah, Dr. Yusuf Qardhawi berkata :

”Apabila bid’ah dapat dibenarkan dalam Islam maka bukan tidak mungkin bila kemudian Islam akan menjadi agama yang sama dengan agama-agama sebelumnya, yang ahli-ahli agamanya menambahkan hal-hal baru dalam agamanya dengan hawa nafsunya sehingga pada akhirnya agama tersebut berubah sama sekali dari yang aslinya”.

با رك الله فيكم

By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________