MEMPERINGATKAN UMAT DARI PENYIMPANGAN SEBAGAI BUKTI CINTA KEPADANYA

MEMPERINGATKAN UMAT DARI PENYIMPANGAN ADALAH SEBAGAI BUKTI CINTA KEPADA SAUDARANYA

Munculnya berbagai macam kelompok aliran, dan merebaknya amalan-amalan bid’ah di tengah-tengah umat adalah sebuah keniscaya’an.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam mengabarkan,

وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيل تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّة , وَتَفْتَرِق أُمَّتِي عَلَى ثَلَاث وَسَبْعِينَ مِلَّة , كُلّهمْ فِي النَّار إِلَّا مِلَّة وَاحِدَة , قَالُوا : مَنْ هِيَ يَا رَسُول اللَّه ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Sesungguhnya Bani Israil telah berpecah menjadi 72 golongan, dan ummatku akan berpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu”. Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah ?” Beliau bersabda, “Yang mengikuti aku dan para sahabatku”.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2641).

Banyaknya faham menyimpang dari tuntunan Allah dan Rasulnya, merebaknya amalan-amalan baru (bid’ah), perkara muhdats (yang dibuat-buat) dalam Islam ditengah-tengah umat, Lalu apakah kita diam saja membiarkan saudara-saudara kita berpecah belah, terjerumus kedalam penyimpangan ?

Atau membiarkan saudara-saudara kita kaum muslimin disesatkan oleh kelompok-kelompok yang menyimpang ?

Tentunya, adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk menjaga agama ini dari berbagai penyimpangan sesuai kemampuannya.

Merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim untuk menyelamatkan saudara-saudaranya kaum muslimin dari kelompok-kelompok yang menyimpang dan faham-faham sesat menyesatkan.

Jika demikian, maka sesungguhnya memperingatkan saudara sesama muslim dari bahaya kelompok menyimpang dan faham-faham sesat, adalah bukti sejati kecintaan seorang muslim kepada saudara-saudaranya kaum muslimin.

Inilah yang dipahami para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagaimana dalam atsar berikut :

Abu Shalih Al-Farra’ rahimahullah berkata, “Aku menceritakan kepada Yusuf bin Asbath tentang Waki’ bahwasanya beliau terpengaruh sedikit dengan perkara fitnah (Khawarij) ini”. Maka dia (Yusuf bin Asbath) berkata, “Dia serupa dengan gurunya, yaitu Al-Hasan bin Shalih bin Hay”. Aku pun berkata kepada Yusuf, “Apakah kamu tidak takut perkataanmu ini merupakan ghibah ?” Beliau menjawab, “Kenapa begitu wahai orang dungu, justru saya lebih baik bagi mereka dibanding ibu dan bapak mereka sendiri, saya melarang manusia dari mengamalkan kebid’ahan mereka, karena bisa mengakibatkan semakin banyaknya dosa-dosa para pengajak kepada bid’ah tersebut. Adapun yang memuji mereka, justru lebih membahayakan mereka.” [Lihat At-Tahdzib (2/249 no. 516), sebagaimana dalam Lamud Durril Mantsur Minal Qoulil Ma’tsur, karya Abu Abdillah Jamal bin Furaihan al-Haritsiy. Muraja’ah: As-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, (hal. 27)].

Maka sangat mengherankan jika ada seorang muslim, apalagi mengaku Ahlus Sunnah, kemudian marah jika ada saudaranya yang mengingatkan akan bahayanya berbagai kelompok yang menyimpang, faham-faham sesat menyesatkan yang muncul di tengah-tengah umat.

Tidak jarang yang meluruskan saudaranya sesama muslim dituduh sebagai pemecah belah umat, tukang usil, senang ngajak ribut, biang kerok, suka mencari-cari kesalahan orang, suka membid’ahkan, dan tuduhan-tuduhan buruk lainnya.

Atau keluar dari lisan mereka yang merasa terusik, ucapan : ”sedikit-sedikit bid’ah, sedikit-sedikit sesat, sedikit-sedikit syirik, jangan merasa benar sendiri”, dan ucapan-ucapan sejenisnya.

Para penyeru umat untuk kembali kepada ajaran yang sesuai tuntunan Allah dan Rasulnya sering mereka katakan sebagai kelompok ekstrem, kaku, tidak tahu fiqhud dakwah dan tidak toleran kepada faham dan kelompok lain.

• ORANG BERILMU AKAN MENJAGA ISLAM DARI BERAGAM PENYIMPANGAN

Menjaga Islam dari berbagai penyimpangan dan kesesatan adalah sifat orang-orang yang Allah Ta’ala anugerahkan ilmu kepada mereka.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

يَحْمِلُ هَذَا العِلْمُ مَنْ كُلُّ خَلْفَ عدوله يَنْفُونَ عَنْهِ تَحْرِيفَ الغالين وَاِنْتِحَالٌ المبطلين وَتَأْوِيلُ الجَاهِلِينَ

“Yang membawa ilmu agama ini pada setiap jaman adalah orang-orang terbaiknya, mereka menolak penyimpangan orang-orang yang berlebihan dalam agama, (membantah) para penghapus (agama) dan (meluruskan) tafsiran orang-orang jahil”. [H.R. Al-Baihaqi dari Ibrahim bin Abdir Rahman Al-‘Adzri radhiyallahu’anhu, Al-Misykah, (no. 248)].

• WAJIB MENCEGAH KEMUNGKARAN

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kaum muslim sebagai penyeru kepada kebaikan dan penolak kemungkaran.

Allah ta’ala berfirman :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”. [QS. Ali Imran: 104].

Firman Allah ta’ala di atas merupakan dalil yang sharih mengenai kewajiban dakwah atas setiap Muslim. Bahkan, Allah Ta’ala mengancam siapa saja yang meninggalkan dakwah, atau berdiam diri terhadap kemungkaran dengan “tidak terkabulnya doa”.

Bahkan, jika di dalam suatu masyarakat, tidak lagi ada orang yang mencegah kemungkaran, niscaya Allah akan mengadzab semua orang yang ada di masyarakat tersebut, baik ia ikut berbuat munkar maupun tidak.

Hal ini menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa hukum menolak kemungkaran adalah wajib.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ رَأَى مُنْكِرًا فَلِيُغِيرَهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفَ الإِيمَانَ

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia mencegah dengan tangannya, sekiranya dia tidak mampu, maka dengan lisannya, dan sekiranya dia tidak mampu (juga), maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah keimanan.” (Riwayat Imam Muslim dalam Sahihnya dari hadis Abu Said r.a).

Abu Ali Ad-Daqqoq berkata :

السَّاكِتُ عَنْ الحَقِّ شَيْطَانٌ أُخْرِسُ، وَالمُتَكَلِّمُ بِالبَاطِلِ شَيْطَانٌ نَاطِقٌ

“Orang yang diam dari kebenaran adalah setan bisu, sedang yang berucap dengan kebatilan adalah setan yang berbicara”. [Lihat Ar-Raddu ‘alal Mukhaalif min Ushulil Islam, karya Asy-Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah, (hal. 75-76), sebagaimana dalam Madarikun Nazhor, (hal. 67)].

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

_____________