KEWAJIBAN SALING MENASEHATI

KEWAJIBAN SALING MENASEHATI

Memberi nasehat kepada sesama, terlebih lagi terhadap saudaranya sesama muslim adalah bentuk kecinta’an dan kepedulian, disamping karena memang diperintahkan dalam Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” [Al-‘Ashr : l-3].

Sebagian orang memang ada yang sulit untuk menerima nasehat, bahkan sesak dadanya.

Semakin sulit untuk menerima nasehat apabila orang yang menasehatinya dipandang tidak lebih baik dari dirinya atau lebih rendah, apakah lebih rendah setatus sosialnya, ilmunya, atau orang yang dinasehati beranggapan bahwa dirinya diatas kebenaran. Atau yang dinasehati memandang orang yang menasehatinya tidak lebih pintar dari guru-gurunya.

Memberi nasehat harus ikhlas semata-mata karena Allah ta’ala juga harus bijaksana dan sabar, karena terkadang orang yang diberi nasehat malah menunjukkan rasa tidak suka, sinis bahkan mencibir seakan-akan dirinya sedang disalahkan.

Padahal semestinya nasehat diterima dengan kerendahan hati dan lapang dada, apabila sebuah nasehat di sampaikannya dengan baik, karena setiap nasehat pasti ada hikmahnya.

• Nasehat adalah pokok dalam ajaran Islam

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjadikan nasehat sebagai pokok ajaran agama.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Agama itu adalah nasihat”. Kami berkata : “Kepada siapa wahai Rasulullah ?” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, dan para imam kaum Muslimin serta segenap kaum Muslimin”. (HR. Muslim (no. 55).

“AKU MENASEHATIMU BUKAN BERARTI AKU YANG TERBAIK”

Al-Imam Hasan Basri Rahimahullaah berkata : “Wahai manusia sesungguhnya aku tengah menasehati kalian dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shaleh di antara kalian. Sungguh aku pun telah banyak melampaui batas terhadap diriku aku tak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membencinya sesuai dengan kewajiban dalam menta’ati Rabbnya. Andai kata orang muslim tidak memberi Nasehat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang sempurna niscaya tidak akan ada pemberi nasehat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang yang berdakwah di jalan Allah ‘azza wa jalla tidak akan ada yang mengajak untuk ta’at kepada-Nya, tidak akan ada pula yang melarang dari perbuatan maksiat kepada-Nya, . .”

• Manusia tidak luput dari salah dan dosa.

Sesungguhnya manusia tidak akan luput dari salah dan dosa, tidak terkecuali orang alim atau para Ulama, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun sering mendapatkan teguran dari Allah ta’ala karena melakukan kesalahan.

Teguran Allah ta’ala kepada Rasulullah salah satunya bisa kita lihat di Surah Ali-Imran ayat 128.

Allah ta’ala menegur Rasulullah :

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

”Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim”. (Ali-Imran ayat 128).

Imam Bukhari meriwayatkan daripada Humaid bin Tsabit daripada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terluka di kepalanya semasa Perang Uhud, maka beliau bersabda : ‘Bagaimana akan beruntung kepada kaum yang melukai nabi mereka ?’ Maka turunlah ayat “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka”.

Teguran Allah ta’ala kepada Rasulullah lainnya bisa kita lihat di surah Abasa ayat 1-10, surah al-Tahrim ayat 1, surah at-Taubah ayat 84, surah at-Taubah ayat 43, surah ali-Imran ayat 128, dan surah al-Anfal ayat 67.

Kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja bisa melakukan kesalahan lalu bagaimana dengan manusia biasa seperti para Ulama atau bahkan kita ? ?

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

===============

Iklan