KESAMA’AN DALIH PARA PENENTANG DAKWAH TAUHID

KESAMA’AN DALIH (ARGUMEN) PARA PENENTANG DAKWAH TAUHID

Sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus para Rasul dengan tujuan yang sama, yaitu membumikan Tauhid. Menjadikan Allah Ta’ala satu-satunya yang berhak di ibadahi.

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut”. (An-Nahl: 36).

Para Rasul yang diutus Allah Ta’ala untuk menegakkan Tauhid, mendapatkan penolakan dan pengingkaran dari orang-orang sesat yang buta mata hatinya.

Penolakan mereka kepada dakwah Tauhid dari semenjak dahulu hingga hari ini ternyata dalih (argumen) mereka sama. Yakni tidak relanya mereka meninggalkan adat istiadat, tradisi yang sudah turun temurun mereka dapatkan dari nenek moyang mereka yang dengan setianya sudah mereka amalkan. Dan mereka enggan untuk meninggalkannya.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan risalah kepada kaumnya, orang-orang Quraisy. Mereka yang menolak seruan Rasulullah berkata sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ

Dan apabila dikatakan kepada mereka : “Ikutilah apa yang diturunkan Allah” Mereka menjawab : “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. (Q.S Luqman: 21).

Perkata’an orang-orang kafir Quraisy yang menolak dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama persis dengan perkata’an kaum-kaum terdahulu yang menolak dakwah Tauhid yang diserukan para Rasul yang di utus kepada mereka. Mereka berkata sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an,

إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ

”Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu tradisi, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka (nenek moyang)”. (Az-Zukhruf: 22).

Perkata’an mereka juga sama dengan perkata’an kaum Nabi Nuh, kaum Nabi Hud, kaum Nabi Shalih, kaum Nabi Ibrahim, kaum Nabi Syu’aib juga kaum Nabi Musa ‘alaihi salam ketika mereka menolak dakwah Tauhid yang diserukan kepada mereka.

Berikut perkata’an mereka ;

• Perkata’an kaum Nabi Nuh ‘alaihi salam

Nabi Nuh ‘alaihi salam berkata :

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

“Hai kaumku, sembahlah Allah, (karena) sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain Dia”. (Q.S Al Mukminun: 23).

Mereka berkata :

مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ

”Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu”. (Q.S Al Mukminun: 24).

• Perkata’an kaum Nabi Hud ‘alaihi salam

Nabi Hud ‘alaihi salam berkata :

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

”Hai kaumku, sembahlah Allah Azza wa Jalla , sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya”. (Q.S Al-A’raf: 65).

Mereka berkata :

أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا

”Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah Azza wa Jalla saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami ?”. (Al-A’râf: 70).

• Perkata’an kaum Nabi Shalih ‘alaihi salam

Nabi Shalih ‘alaihi salam berkata :

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

”Hai kaumku, sembahlah Allah Azza wa Jalla , sekali-kali tidak ada bagimu tuhan selain Dia”. (Hud: 61).

Mereka berkata :

أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا

”Apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami ?”. (Q.S Hud: 62).

• Perkata’an kaum Nabi Ibrahim ‘alaihi salam

Nabi Ibrahim ‘alaihi salam berkata :

مَا هَٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

”Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya ?”. (Q.S Al Anbiya’: 52).

Mereka berkata :

قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ

”Sungguh kami mendapati bapak-bapak kami (nenek moyang) menyembahnya”. (Q.S Al Anbiya’: 53).

• Perkata’an kaum Nabi Syu’aib ‘alaihi salam

Nabi Syu’aib ‘alaihi salam berkata :

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

”Hai kaumku, sembahlah Allah Azza wa Jalla, sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia”. (Q.S Hud: 84).

Mereka berkata :

يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا

”Hai Syu’aib, apakah shalatmu (agamamu) menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami ?”. (Q.S Hud: 87).

• Perkata’an fir’aun

Fir’aun berkata kepada Nabi Musa ‘alaihi salam ketika diseru untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala

أَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا

”Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya ?”. (Q.S Yunus: 78).

Nenek moyang kami biasa melakukannya, ini adalah tradisi nenek moyang.

Itulah alasan klasik para penentang dakwah Tauhid ketika diseru untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala. Ketika mereka diajak untuk mengamalkan apa-apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Mereka enggan, tidak berani meninggalkan kebiasa’an, adat istiadat, tradisi yang sudah mereka dapatkan dari nenek moyang (leluhur) mereka.

Begitu pula hari ini, mereka yang menentang dakwah Tauhid beralasan, bahwa apa yang mereka lakukan adalah mengamalkan adat-istiadat nenek moyang dalam rangka melestarikan budaya daerah, menjaga ke’arifan lokal sebagai pusaka warisan nenek moyang (leluhur) yang harus dijaga, di pertahankan dan dilestarikan.

Banyak kaum muslimin sa’at ini yang masih setia dengan adat istiadat nenek moyang. Dan dijadikannya sebagai pedoman hidup.

Mereka percaya hari baik hari buruk, mereka menghitung-hitung hari, kapan hari baik untuk melakukan urusan mereka, dan mereka tidak melakukan urusannya pada hari yang mereka anggap tidak baik. Mereka khawatir tidak mendapatkan keberuntungan apabila melanggar adat istiadat tersebut.

Banyak ritual-ritual peninggalan nenek moyang yang masih dilakukan sa’at ini. Seperti : Mitoni / telonan dan tingkepan (tujuh bulanan) yaitu upacara memohon keselamatan anak yang ada dalam rahim (kandungan). Upacara ini biasa disebut garba wedana. Garba artinya perut, Wedana artinya yang lagi mengandung. Mereka khawatir apabila tidak melakukan ritual tersebut terjadi sesuatu yang buruk menimpa kepada janin yang dikandungnya.

Ritual lainnya seperti : Sedekah bumi, sedekah laut dan banyak lagi. Mereka takut apabila ritual-ritual tersebut tidak di lakukan akan mendapatkan bencana akibat kutukan dari penguasa tempat-tempat tersebut.

Kepercaya’an lainnya seperti mengkeramatkan pohon, kuburan, sumber mata air dan lain-lain. Di tempat tersebut mereka memberikan sesajian dan melakukan ritual penyembahan.

Juga kepercaya’an kepada mitos-mitos yang mereka yakini melebihi keyakinan mereka kepada tuntunan yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.

Sa’at ini adat-istiadat warisan nenek moyang tersebut dimasukkan kedalamnya nilai-nilai Islam seperti do’a-doa yang berasal dari Islam sehingga tanpa disadari oleh masyarakat awam bahwa tradisi yang mereka lakoni sebagai tradisi warisan jahiliyah yang tidak sesuai dan bertentangan dengan syari’at islam.

Adat, tradisi dan kebiasa’an warisan nenek moyang, mereka lakukan tidak saja dalam acara seremonial berbentuk ritual-ritual tetapi juga dalam sikap hidup mereka sehari-hari.

Tradisi leluhur yang mereka laksanakan sebagai perwujudan pemberian penghormatan kepada tradisi dan budaya nenek moyang yang diwarisi secara turun temurun dari generasi kegenerasi.

Bahkan sa’at ini semakin digalakkan dengan dukungan dan peran aktif pemerintah daerah dengan dalih melestarikan budaya bangsa serta motif ekonomi sebagai obyek tujuan wisata.

Islam tidak mempermasalahkan umatnya melestarikan tradisi-tradisi, adat-istiadat yang berasal dari nenek moyang, selama tidak melanggar syari’at yaitu tidak mengandung kesyirikan dan bebagai macam bid’ah didalamnya.

الله المستعان

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

=======================