MEMAHAMI ARTI JAMA’AH

MEMAHAMI ARTI JAMA’AH
.
Banyak firqoh dan aliran bermunculan dalam Islam. Masing-masing firqoh mengaku kelompok mereka yang paling benar. Selain itu masing-masing firqoh saling membagakan firqohnya. Kebangga’an setiap firqoh kepada kelompoknya masing-masing sudah di sebutkan Allah Ta’ala dalam Firmannya :
.
فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ (53) فَذَرْهُمْ فِي غَمْرَتِهِمْ حَتَّى حِينٍ (54)
.
Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu”. (QS. Al-Mu’minun: 53-54).
.
Akan terpecah belahnya umat Islam kepada banyak firqoh sudah di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :
.
أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
.
“Ketahuilah sesungguhnya umat sebelum kalian dari Ahli Kitab berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan. 72 golongan di neraka, dan 1 golongan di surga. Merekalah Al-Jama’ah”. (HR. Abu Daud 4597).
.
Dalam hadits di atas di sebutkan bahwa umat Islam akan terpecah ke dalam banyak kelompok namun hanya satu golongan yang akan masuk surga, yaitu Al-Jama’ah.
.
Adapun arti Al-Jama’ah di jelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :
.
ما أنا عليه وأصحابي
.
“Siapa saja yang berpegang padaku dan para sahabatku”.
.
Yang di maksud Al-Jama’ah menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, umat Islam yang mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnahnya para Sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Artinya umat Islam yang mengikuti tuntuntunan Rasulullah dan menapaki manhaj para Sahabat dalam beragama.
.
Keada’an Al-Jama’ah tidak berarti harus berupa sekumpulan orang dalam jumlah mayoritas dalam suatu wilayah. Tetap di sebut Al-Jama’ah walaupun keada’annya sedikit (minoritas) bahkan tetap di sebut Al-Jama’ah walaupun keada’annya sendirian. selama mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sahabatnya maka tetap di sebut Al-Jama’ah.
.
– Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ’anhu berkata :
.
اَلْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ
.
“Al-Jama’ah adalah siapa saja yang sesuai dengan kebenaran walaupun engkau sendiri”.
.
– Syihabuddin Abu Syamah (w 665H) berkata :
.
حيث جاء الأمر بلزوم الجماعة فالمراد به لزوم الحق وإتباعه وإن كان المتمسك به قليلا والمخالف كثيرا
.
“Ketika dalam hadits terdapat perintah berpegang pada Al-Jama’ah, yang dimaksud dengan berpegang pada Al-Jama’ah adalah berpegang pada kebenaran dan menjadi pengikut kebenaran walaupun ketika itu hanya sedikit jumlahnya dan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran banyak jumlahnya”. (Faidul Qadhir, 4/99).
.
– Imam Al-Baihaqi berkata :
.
إذا فسدت الجماعة فعليك بما كانوا عليه من قبل وإن كنت وحدك فإنك أنت الجماعة حينئذ
.
“Ketika Al-Jama’ah (kaum muslimin sa’at ini) telah bobrok maka hendaknya engkau berpegang pada pemahaman orang terdahulu (para Salaf) walaupun engkau sendirian, maka ketika itu engkaulah Al-Jama’ah”. (Faidul Qadhir, 4/99).
.
PENGERTIAN AL-JAMA’AH SECARA LEBIH LUAS
.
• Makna Al-Jama’ah menurut bahasa
.
Menurut bahasa, makna Al Jama’ah adalah :
.
الجماعة هي الاجتماع، وضدها الفرقة، وإن كان لفظ الجماعة قد صار اسما لنفس القوم المجتمعين
.
“Al-Jama’ah artinya perkumpulan, lawan dari kekelompokan. Walau terkadang Al-Jama’ah juga artinya sebuah kaum dimana orang-orang berkumpul”. (Majmu’ Fatawa Ibni Taimiyah, 3/157).
.
• Makna Al-Jama’ah menurut syari’at
.
Adapun makna Al-Jama’ah yang di maksud oleh syar’iat adalah sebagaimana di terangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Sementara para Ulama menjabarkan banyak definisi dari Al-Jama’ah.
.
Berikut ini perkata’an para Ulama tentang Al-Jama’ah,
.
– Ibnu Hajar Al-Asqalani (w 852 H) menukil penjelasan Imam Ath Thabari (w 310 H) menjabarkan makna-makna dari Al-Jama’ah :
.
قَالَ الطَّبَرِيُّ اخْتُلِفَ فِي هَذَا الْأَمْرِ وَفِي الْجَمَاعَةِ فَقَالَ قَوْمٌ هُوَ لِلْوُجُوبِ وَالْجَمَاعَةُ السَّوَادُ الْأَعْظَمُ ثُمَّ سَاقَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ أَنَّهُ وَصَّى مَنْ سَأَلَهُ لَمَّا قُتِلَ عُثْمَانُ عَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُنْ لِيَجْمَعَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ عَلَى ضَلَالَةٍ وَقَالَ قَوْمٌ الْمُرَادُ بِالْجَمَاعَةِ الصَّحَابَةُ دُونَ مَنْ بَعْدَهُمْ وَقَالَ قَوْمٌ الْمُرَادُ بِهِمْ أَهْلُ الْعِلْمِ لِأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُمْ حُجَّةً عَلَى الْخَلْقِ وَالنَّاسُ تَبَعٌ لَهُمْ فِي أَمْرِ الدِّينِ قَالَ الطَّبَرِيُّ وَالصَّوَابُ أَنَّ الْمُرَادَ مِنَ الْخَبَرِ لُزُومُ الْجَمَاعَةِ الَّذِينَ فِي طَاعَةِ مَنِ اجْتَمَعُوا عَلَى تَأْمِيرِهِ فَمَنْ نَكَثَ بَيْعَتَهُ خَرَجَ عَنِ الْجَمَاعَةِ
.
“Ath-Thabari berkata, permasalahan ini (wajibnya berpegang pada Al-Jama’ah) dan makna Al-Jama’ah, diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama berpendapat hukumnya wajib. Dan makna Al Jama’ah adalah : As-Sawadul a’zham. Kemudian Ath Thabari berdalil dengan riwayat Muhammad bin Sirin dari Abu Mas’ud bahwa beliau berwasiat kepada orang yang bertanya kepadanya ketika Utsman bin ‘Affan terbunuh, Abu Mas’ud menjawab : “Hendaknya engkau berpegang pada Al Jama’ah karena Allah tidak akan membiarkan umat Muhammad bersatu dalam kesesatan“. Sebagian ulama berpendapat maknanya adalah para sahabat, tidak termasuk orang setelah mereka. Sebagian ulama berpendapat maknanya adalah para ulama. Karena Allah telah menjadikan mereka hujjah bagi para hamba. Para hamba meneladani mereka dalam perkara agama. Ath-Thabari lalu berkata, yang benar, makna Al Jama’ah dalam hadits-hadits perintah berpegang pada Al-Jama’ah adalah orang-orang yang berada dalam keta’atan, mereka berkumpul dalam kepemimpinan. Barangsiapa yang mengingkari baiat terhadap pemimpinnya (merasa tidak berkewajiban untuk menta’ati pemimpin sah kaum muslimin), maka ia telah keluar dari Al Jama’ah”. (Fathul Baari, 13/37).
.
– Imam Asy Syathibi (w 790 H) merinci makna-makna dari Al-Jama’ah :
.
اختلف الناس في معنى الجماعة المرادة في هذه الأحاديث على خمسة أقوال، أحدها: أنها السواد الأعظم من أهل الإسلام … فعلى هذا القول يدخل في الجماعة مجتهدو الأمة وعلماؤها، وأهل الشريعة العاملون بها، ومن سواهم داخل في حكمهم؛ لأنهم تابعون لهم مقتدون بهم. الثاني: أنها جماعة أئمة العلماء المجتهدين، فعلى هذا القول لا مدخل لمن ليس بعالم مجتهد؛ لأنه داخل في أهل التقليد فمن عمل منهم بما يخالفهم فهو صاحب الميتة الجاهلية، ولا يدخل أيضا أحد من المبتدعين.
الثالث: أن الجماعة هي الصحابة على الخصوص. فعلى هذا القول فلفظ (الجماعة) مطابق للرواية الأخرى في قوله صلى الله عليه وسلم: “ما أنا عليه وأصحابي”.
الرابع: أن الجماعة هي أهل الإسلام إذا أجمعوا على أمر، فواجب على غيرهم من أهل الملل اتباعهم ثم تعقب الشاطبي هذا القول بقوله: ”وهذا القول يرجع إلى الثاني، وهو يقتضي أيضا ما يقتضيه، أو يرجع إلى القول الأول، وهو الأظهر، وفيه من المعنى ما في الأول من أنه لا بد من كون المجتهدين منهم، وعند ذلك لا يكون مع اجتماعهم بدعة أصلا فهم إذن الفرقة الناجية”. الخامس: ما اختاره الطبري الإمام من أن الجماعة جماعة المسلمين إذا اجتمعوا على أمير، فأمر عليه الصلاة والسلام بلزومه ونهى عن فراق الأمة فيما اجتمعوا عليه من تقديمه عليهم.
.
“Para ulama berbeda pendapat mengenai makna Al-Jama’ah yang ada dalam hadits-hadits dalam lima pendapat : As-sawadul a’zham dari umat Islam. Termasuk dalam makna ini para imam mujtahid, para ulama, serta ahli syariah yang mengamalkan ilmunya. Adapun selain mereka juga dimasukkan dalam makna ini karena di asumsikan hanya mengikuti orang-orang tadi”
Para imam mujtahid. Dalam makna ini, tidak termasuk orang-orang yang bukan imam mujtahid karena mereka hakikatnya adalah ahli taqlid. Maka barangsiapa yang beramal dengan keluar dari pendapat para imam mujtahid, lalu mati, maka matinya sebagai bangkai jahiliyah. Dalam makna ini tidak termasuk juga seorang pun dari ahlul bid’ah (artinya, adanya pendapat yang beda dari ahli bidah tidaklah mempengaruhi keabsahan ijma). Para sahabat nabi saja. Makna ini sesuai dengan riwayat dari Nabi yang menafsirkan makna Al Jama’ah, yaitu :
.
ما أنا عليه وأصحابي
.
“Siapa saja yang berpegang padaku dan para sahabatku”.
.
Umat Islam jika bersepakat dalam sebuah perkara (baca: ijma’). Maka wajib bagi orang-orang yang menyimpang untuk mengikuti mereka. Asy Syathibi lalu memberi catatan: “Makna ini sebenarnya kembali pada makna kedua (para imam mujtahid), dan berkonsekuensi sama seperti konsekuensi dari makna kedua. Atau kembali pada makna pertama, dan inilah yang lebih nampak. Dan secara makna pun, sama seperti makna pertama. Karena sudah pasti butuh peran para imam mujtahid di antara mereka barulah bisa terwujud umat tidak akan bersatu dalam kesesatan, bahkan merekalah golongan yang selamat”. Pendapat yang dipilih Imam Ath Thabari, yaitu bahwa Al Jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin yang berkumpul di bawah pemerintahan. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan ummat untuk berpegang pada pemerintahnya dan melarang memecah belah apa yang telah dipersatukan oleh umat sebelumnya.
Imam Asy Syathibi kemudian menyimpulkan :
.
قال الشاطبي: ”وحاصله أن الجماعة راجعة إلى الاجتماع على الإمام الموافق لكتاب الله والسنة، وذلك ظاهر في أن الاجتماع على غير سنة خارج عن الجماعة المذكورة في الأحاديث المذكورة؛
.
“Kesimpulannya, Al-Jama’ah adalah bersatunya umat pada imam yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah. Dan jelas bahwa persatuan yang tidak sesuai sunnah tidak disebut Al-Jama’ah yang disebut dalam hadits-hadits”. (Al I’tisham 2/260-265, dinukil dari Fatwa Lajnah Ad Daimah 76/276).
.

– Al Munawi (w 1031H) menukil perkata’an Syihabuddin Abu Syaamah (w 665H) dan Al Baihaqi (w 458 H) mengenai makna Al Jama’ah :
.
قال أبو شامة: حيث جاء الأمر بلزوم الجماعة فالمراد به لزوم الحق وإتباعه وإن كان المتمسك به قليلا والمخالف كثيرا أي الحق هو ما كان عليه الصحابة الأول من الصحب ولا نظر لكثرة أهل الباطل بعدهم قال البيهقي: إذا فسدت الجماعة فعليك بما كانوا عليه من قبل وإن كنت وحدك فإنك أنت الجماعة حينئذ
.
“Abu Syamah berkata, ketika dalam hadits terdapat perintah berpegang pada Al Jama’ah, yang dimaksud dengan berpegang pada Al Jama’ah adalah berpegang pada kebenaran dan menjadi pengikut kebenaran walaupun ketika itu hanya sedikit jumlahnya dan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran banyak jumlahnya. Maksud Abu Syaamah adalah bahwa kebenaran itu adalah mengikuti pemahaman para sahabat Nabi, bukan melihat banyak jumlah, ini pada orang-orang yang datang setelah mereka. Al Baihaqi berkata, ketika Al Jama’ah (kaum muslimin sa’at ini) telah bobrok maka hendaknya engkau berpegang pada pemahaman orang terdahulu (para Salaf) walaupun engkau sendirian, maka ketika itu engkaulah Al-Jama’ah”. (Faidul Qadhir, 4/99).
.
Jika kita telah memahami penjelasan para ulama mengenai makna Al Jama’ah, walaupun definisi mereka berbeda, namun pokok maknanya sama. Bahwa yang dimaksud dengan Al Jama’ah adalah umat Islam yang berkumpul bersama imam mujtahid dan para ulama mereka yang senantiasa meneladani ajaran Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabat Nabi dan mereka berbaiat pada penguasa muslim yang sah serta tidak memberontak kepadanya.
.
Itulah makna Al-Jama’ah secara lebih luas yang di terangkan oleh para Ulama. Luasnya pengertian Al-Jama’ah yang di terangkan para Ulama berdasarkan dengan banyaknya hadits yang memuat istilah Jama’ah tersebut.
.
Berikut beberapa hadits tentang Al-Jama’ah,
.
– Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda :
.
أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
.
“Ketahuilah sesungguhnya umat sebelum kalian dari Ahli Kitab berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan. 72 golongan di neraka, dan 1 golongan di surga. Merekalah Al Jama’ah”. (HR. Abu Daud 4597).
.
– Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
.
عليكم بالجماعة، وإياكم والفرقة، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد. من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة. ن سرته حسنته وساءته سيئته فذلكم المؤمن
.
“Berpeganglah pada Al Jama’ah dan tinggalkan kekelompokan. Karena setan itu bersama orang yang bersendirian dan setan akan berada lebih jauh jika orang tersebut berdua. Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah surga, maka berpeganglah pada Al Jama’ah. Barangsiapa merasa senang bisa melakukan amal kebajikan dan bersusah hati manakala berbuat maksiat maka itulah seorang mu’min”. (HR. Tirmidzi no. 2165).
.
– Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
.
ستكون بعدي هنات وهنات، فمن رأيتموه فارق الجماعة، أو يريد أن يفرق أمر أمة محمد كائنا من كان فاقتلوه؛ فإن يد الله مع الجماعة، و إن الشيطان مع من فارق الجماعة يركض
.
“Sepeninggalku akan ada huru-hara yang terjadi terus-menerus. Jika diantara kalian melihat orang yang memecah belah Al Jama’ah atau menginginkan perpecahan dalam urusan umatku bagaimana pun bentuknya, maka perangilah ia. Karena tangan Allah itu berada pada Al Jama’ah. Karena setan itu berlari bersama orang yang hendak memecah belah Al Jama’ah”. (HR. As Suyuthi dalam Al Jami’ Ash Shaghir 4672).
.
– Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
.
من رأى من أميره شيئا يكرهه فليصبر عليه فإنه من فارق الجماعة شبرا فمات ، إلا مات ميتة جاهلية
.
“Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai dari pemimpinnya, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang keluar dari Al-Jama’ah sejengkal saja lalu mati, ia mati sebagai bangkai Jahiliah”. (HR. Bukhari no.7054,7143 dan Muslim no.1848,1849).
.
– Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
.
والذي لا إله غيره ! لا يحل دم رجل مسلم يشهد أن لا إله إلا الله ، وأني رسول الله ، إلا ثلاثة نفر : التارك الإسلام ، المفارق للجماعة أو الجماعة ( شك فيه أحمد ) . والثيب الزاني.والنفس بالنفس

“Demi Allah, darah seorang yang bersyahadat tidak lah halal kecuali karena tiga sebab: keluar dari Islam atau keluar dari Al Jama’ah, orang tua yang berzina dan membunuh” (HR. Muslim no.1676).
.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
.
من مات مفارقا للجماعة فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه
.
“Barangsiapa yang mati dalam keada’an memisahkan diri dari Al-Jama’ah, maka ia telah melepaskan tali Islam dari lehernya”. (HR Bukhari dalam Tarikh Al Kabir 1/325).
.
.
——————-