PERKATA’AN ULAMA BUKAN DALIL

PERKATA’AN ULAMA BUKAN DALIL

Diantara penyebab lainnnya yang menjadikan umat Islam terus berselisih dalam perkara agama dan tidak ada ujungnya adalah, karena menjadikan perkata’an atau pendapat Ulama digunakan sebagai dalil untuk membela atau membenarkan sebuah amalan atau keyakinan yang diperselisihkan.

Padahal para Ulama berkata,

أَقْوَالٌ أَهَّلَ العِلْمُ فَيَحْتَجُّ لَهَا وَلَا يَحْتَجُّ بِهَا

“Pendapat para ulama itu butuh dalil dan ia (pendapatnya) bukanlah dalil”.

Bagaimana bisa perkata’an Ulama mau dijadikan dalil, sementara perkata’an dan pendapat mereka sering bertentangan antara satu Ulama dengan Ulama yang lainnya.

Bagi para pengikut hawa nafsu tentu saja akan mengikuti pendapat Ulama yang disukai yang sesuai dengan selera hawa nafsunya. Walaupun menyelisihi Allah dan Rasul-Nya. Dan meninggalkan perkata’an Ulama lainnya yang tidak disukainya, walaupun sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Karena sebagian dari ciri pengikut hawa nafsu adalah, hanya mau mengambil keterangan dari seorang Ulama yang sesuai hawa nafsunya yang bisa di jadikan pembenaran terhadap amalan-amalan atau keyakinannya.

Sebagaimana di katakan Imam Waqi’ :

وَأَهْلُ الأَهْوَاءِ لاَ يَكْتُبُوْنَ إِلاَّ مَا لَهُمْ

“Adapun ahlul ahwaa (pengikut hawa nafsu) maka mereka tidak menuliskan (mengambil pendapat) kecuali yang mendukung mereka”. (Sunan Ad-Daaruquthni 1/27 no 36).

• Tidak dibenarkan taklid kepada Ulama

Sejak dahulu sampai sa’at ini para Ulama sudah memberikan bimbingan kepada umat supaya tidak begitu saja mengikuti pendapat atau perkata’an para Ulama, karena belum tentu perkata’an atau pendapat mereka selalu benar. Kita boleh mengambil perkata’an dan pendapat seorang Ulama apabila sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dan kita tinggalkan perkata’an para Ulama manapun apabila menyelisihi petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

– Imam Malik berkata :

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيبُ، فَاُنْظُرُوا فِي رَأْيِي، فَكُلُّ مَا وَافَقَ الكِتَابَ وَالسَّنَةَ، فَخُذُوهُ. وَكُلُّ مَا لَمْ يُوَافِقْ الكُتَّابُ وَالسَّنَةُ، فَاُتْرُكُوهُ

“Saya ini hanya seorang manusia, kadang salah dan kadang benar. Cermatilah pendapatku, tiap yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah, ambillah. Dan tiap yang tidak sesuai dengan Qur’an dan Sunnah, tinggalkanlah..” (Diriwayatkan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Al Jami 2/32, Ibnu Hazm dalam Ushul Al Ahkam 6/149).

– Imam Asy-Syafi’i berkata :

أَجْمَعُ النَّاسُ عَلَى أَنْ مَنْ اِسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلٍ أَحَدٌ مِنْ النَّاسِ

“Para ulama bersepakat bahwa jika seseorang sudah dijelaskan padanya sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak boleh ia meninggalkan sunnah demi membela pendapat siapapun”. (Diriwayatkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al I’lam 2/361).

– Imam Abu Hanifah berkata :

لَا يُحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَأْخُذَ بُقُولَنَا، مَا لَمْ يَعْلَمْ مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ

“Tidak halal bagi siapapun mengambil pendapat kami, selama ia tidak tahu darimana kami mengambilnya (dalilnya)”. (Diriwayatkan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Al Intiqa 145, Hasyiah Ibnu ‘Abidin 6/293).

– Imam Ahmad bin Hambal berkata :

لَا تُقَلِّدُنِي، وَلَا تُقَلِّدُ مَالِكًا، وَلَا الشافعي، وَلَا الأوزاعي، وَلَا الثَّوْرِيُّ، وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوا

“Jangan taqlid kepada pendapatku, juga pendapat Malik, Asy Syafi’i, Al Auza’i maupun Ats Tsauri. Ambilah darimana mereka mengambil (dalil)”. (Diriwayatkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al I’lam 2/302).

Dari keterangan para Ulama diatas, maka tidak dibenarkan taklid kepada perkata’an atau pendapat para Ulama, apabila perkata’an atau pendapatnya menyelisihi petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

• Ulama bukan manusia ma’shum, pendapatnya bisa salah juga bisa benar

Sehebat dan sebesar apapun seorang Ulama tetaplah manusia biasa yang tidak akan lepas dari salah dan keliru. Berbeda dengan perkata’an Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang perkata’annya berdasarkan kepada wahyu. Berbeda dengan perkata’an Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang perkata’annya berdasarkan kepada wahyu. Bukan berdasarkan akal terlebih lagi hawa nafsu.

Sebagaimana Allah Ta’ala firmankan :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣) إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)

“Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara menurut hawa nafsunya. (Ucapannya) itu hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (An-Najm: 3-4).

Karena seorang Ulama itu manusia biasa, yang tidak terjaga dari salah dan keliru, maka tidak selayaknya perkata’annya dijadikan dalil sebagaimana halnya perkata’an Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para ulama bukan manusia ma’shum yang selalu benar dan tidak pernah terjatuh dalam kesalahan. Terkadang masing-masing dari mereka berpendapat dengan pendapat yang salah karena bertentangan dengan dalil. Mereka kadang tergelincir dalam kesalahan.

Imam As-Syafi’i berkata :

وَلَا تُقَلِّدْ دِينَكَ فَأَنَّهُ لَنْ يُسَلِّمَ عَنْ يُغْلَطُ

“Jangan taqlid dalam urusan agama kalian, karena siapapun yang kalian taqlidi, belum tentu selamat dari salah dan keliru”.

• Pengikut hawa napsu mencari-cari dalil yang membenarkan amalannya

Diantara sifat para pengikut hawa napsu ialah, mereka mencari-cari perkata’an atau pendapat Ulama yang bisa dijadikan dalil untuk membenarkan amalannya, walaupun pendapat Ulama tersebut bertentangan dengan Allah dan Rasulnya. Padahal sikap tersebut bisa menjadikan manusia terjatuh kepada keburukan.

Sebagaimana dikatakan Sulaiman At-Taimi :

لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ، أَوْ زَلَّةِ كُلِّ عَالِمٍ، اجْتَمَعَ فِيكَ الشَّرُّ كُلُّهُ

“Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan”. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 3172).

Maraknya kesesatan ditengah-tengah umat dan sangat sulit untuk dihilangkan karena perkata’an dan pendapat seorang Ulama sering dijadikan tandingan terhadap Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal menandingi petunjuk Allah dan Rasul-Nya menjadi sebab utama manusia terperosok kepada jurang kesesatan yang dalam.

Imam Az-Zuhri berkata : “Janganlah kamu membuat tandingan terhadap Kitabullah dan jangan pula terhadap Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, artinya janganlah kamu menjadikan sesuatu sebagai tandingan terhadap keduanya lalu kamu meninggalkan keduanya karena (mengikuti) pendapat orang”. (Syarhus Sunnah 1/202).

• Penyebab taklid kepada Ulama

Diantara penyebab menjadikan seseorang taklid kepada Ulama adalah karena fanatisme dan ta’ashub yang berlebihan. Faktor lainnya adalah karena perkata’an Ulama yang diikutinya tersebut cocok dengan hawa nafsunya.

Dalam syari’at Islam, sebenarnya kita dibolehkan mengambil salah satu keterangan atau pendapat dari dua pendapat Ulama yang berbeda pendapat. Namun tentunya ke dua keterangan atau pendapat Ulama yang berbeda pendapat tersebut harus didalami dan dikaji terlebih dahulu dengan teliti secara mendalam. Sehingga kemudian bisa diambil dari pendapat salah satunya yang dianggap paling rajih (kuat). Jadi mengambil salah satu pendapat Ulama bukan berdasarkan hawa nafsu karena taqlid dan ta’ashub golongan.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

Bagi yang hendak membagikan semua tulisan yang ada di blog ini silahkan tanpa perlu minta izin, dengan syarat disertakan linknya.

========================