MENUHANKAN MANUSIA

MENUHANKAN MANUSIA

Allah Ta’ala berfirman :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

”Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan ahli-ahli agama mereka sebagai tuhan-tuhan selain dari Allah, dan juga (mereka mempertuhankan) al-Masih Ibni Maryam, padahal mereka tidak diperintahkan melainkan untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Maha suci Allah dari apa Yang mereka sekutukan”. (At-Taubah: 31).

Mendengar ayat itu, Adiy bin Hatim radliyallahu ‘anhu yang sa’at itu masih beragama nasrani, dengan kalung salib di lehernya, ia berkata : “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami tidak menyembah mereka”.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :

أَلَيْسُوا يَحُلُّونَ مَا حَرَمُ اللهِ فَتُحِلُّونَهُ وَيُحْرَمُونَ مَا أَحَلَّ اللهُ فَتَحْرِمُونَهُ ؟ قَالَ: بَلَى، قَالَ: فَتْلُكَ عَبَّآ دتهم

“Bukankah mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan, kemudian kalian menghalalkannya. Dan mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan, kemudian kalian mengharamkannya ?!” Ia menjawab, “Ya benar.” Maka beliau bersabda lagi, “Itulah bentuk ibadah kepada mereka.” (H.R Tirmidzi).

Syeikh Abdurahman bin Hasan Rahimahulah berkata : “Di dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa menta’ati ulama dalam hal maksiat kepada Allah berarti beribadah kepada mereka dari selain Allah, dan termasuk syirik akbar yang tidak diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala”.

Begitulah hakekatnya orang-orang nasrani menuhankan rahib-rahibnya. Mereka selalu mengikuti apapun yang di katakan rahib-rahibnya.

Sesungguhnya yang berhak membuat syari’at hanyalah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Allah lah yang menentukan halal dan haram. Tidak seorangpun berwenang menghalalkan kecuali yang sudah dihalalkan Allah, juga tidak berwenang mengharamkan kecuali apa yang sudah diharamkan Allah Ta’ala.

Sungguh ironis sa’at ini sebagian kaum muslimin bertaklid kepada ulama yang mereka puja dan idolakan. Mereka tidak memperdulikan dalil, meskipun ulama yang diikutinya menyalahi dalil.

Mereka yang menuhankan manusia berkata : Pokoknya kita ikuti saja guru-guru kita, guru kita bukan orang-orang bodoh, kiai kita tidak mungkin salah, ustadz kita tentu faham permasalahan agama. Begitulah perkata’an mereka.

Bagi mereka, kiai, ajengan, ustadz dan habibnya adalah tuhan yang pasti benar tidak mungkin salah, mereka selalu ikuti apapun yang dikatakan guru-gurunya.

Maka keada’an mereka persis seperti orang-orang nasrani yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menuhankan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah Ta’ala.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________

Iklan