HUKUM ASALNYA IBADAH

HUKUM ASALNYA IBADAH
.
Semua orang yang beribadah tentu saja mengharapkan pahala yang melimpah dan kecinta’an Allah Ta’ala.
.
Sangat di sayangkan apabila kita beribadah kepada Allah Ta’ala hanya berdasarkan hawa nafsu, bukan berdasarkan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana orang-orang menyimpang dan sesat dari zaman dahulu sampai sa’at ini, mereka beribadah di bangun di atas anggapan baik semata. Sehingga bermunculan cara-cara baru dalam ibadah yang tidak pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lakukan, perintahkan dan setujui.
.
Padahal baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah dan Rasul-Nya. Dan tentu saja apabila ibadah di bangun berdasarkan perasa’an baik, maka ibadah yang kita lakukan akan sia-sia, bahkan akan mendapatkan murka Allah Ta’ala.
.
Para Ulama menyebutkan bahwa asal hukumnya ibadah adalah di lakukan setelah di ketahui adanya dalil.
.
Ulama Syafi’i berkata :
.
اَلْأَصْلَ فِي اَلْعِبَادَةِ اَلتَّوَقُّف
.
“Hukum asal ibadah adalah tawaqquf (diam sampai datang dalil)”.
.
Perkata’an di atas disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (5: 43).
.
Ibnu Hajar adalah di antara ulama besar Syafi’i yang jadi rujukan. Perkata’an Ibnu Hajar tersebut menunjukkan bahwa jika tidak ada dalil, maka suatu amalan tidak boleh dilakukan. Itu artinya asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkan.
.
Ibnu Hajar rahimahullah juga berkata :
.
أَنَّ التَّقْرِير فِي الْعِبَادَة إِنَّمَا يُؤْخَذ عَنْ تَوْقِيف
.
“Penetapan ibadah diambil dari tawqif (adanya dalil)”. (Fathul Bari, 2: 80).
.
Ibnu Daqiq Al ‘Ied, salah seorang ulama besar bermadzhab Syafi’i juga berkata :
.
لِأَنَّ الْغَالِبَ عَلَى الْعِبَادَاتِ التَّعَبُّدُ، وَمَأْخَذُهَا التَّوْقِيفُ
.
“Umumnya ibadah adalah ta’abbud (beribadah pada Allah). Dan patokannya adalah dengan melihat dalil”.
.
Kaedah ini disebutkan oleh beliau dalam kitab Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdatil Ahkam.
.
Dalam kitab ulama Syafi’iyah lainnya, yaitu kitab Ghoyatul Bayan Syarh Zubd Ibnu Ruslan di sebutkan,
.
الأصل في العبادات التوقيف
.
“Hukum asal ibadah adalah tawqif (menunggu sampai adanya dalil)”.
.
Dalam Al-Adabu Asy Syar’iyah, Ibnu Muflih berkata :
.
أَنَّ الْأَعْمَالَ الدِّينِيَّةَ لَا يَجُوزُ أَنْ يُتَّخَذَ شَيْءٌ سَبَبًا إلَّا أَنْ تَكُونَ مَشْرُوعَةً فَإِنَّ الْعِبَادَاتِ مَبْنَاهَا عَلَى التَّوْقِيفِ
.
“Sesungguhnya amal diniyah (amal ibadah) tidak boleh dijadikan sebagai sebab kecuali jika telah di syari’atkan karena standar ibadah boleh dilakukan jika ada dalil”.
.
Imam Ahmad dan para fuqoha ahli hadits, Imam Syafi’i termasuk di dalamnya berkata :
.
إنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ
.
“Hukum asal ibadah adalah tauqif (menunggu sampai adanya dalil)”. (Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 29: 17).
.
Itulah beberapa perkata’an para Ulama Ahlussunnah yang mensyaratkan bahwa ibadah tidak boleh di lakukan jika tidak ada dalil yang memerintahkannya.
.
Berbeda dengan orang-orang yang menyimpang dan sesat, mereka beribadah bukan berdasarkan dalil, tapi di bangun di atas hawa nafsu, yaitu anggapan baik. Kemudian di cari-carinya dalil untuk membenarkan amalan-amalannya, sehingga semarak bid’ah di tengah-tengah umat, yang kemudian umat meyakininya sebagai ajaran Islam. Dan kemudian mereka sulit untuk meninggalkan amalan-amalan bid’ahnya.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
______________

Iklan