APAKAH SYARI’AT ISLAM BELUM CUKUP ?

APAKAH SYARI’AT ISLAM BELUM CUKUP ?
.
Banyak sekali syari’at Islam yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya, dari mulai urusan yang kecil sampai urusan yang besar semuanya sudah disampaikan dan dijelaskan.
.
Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,
.
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنْ الْجَنَّة وَيُبَاعِدُ مِنْ النَّار إِلَّا وَقْدٌ بَيْنَ لَكُمْ
.
“Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah dijelaskan semuanya kepada kalian”. (Hr. Thobroni dalam Al Mu’jamul Kabir, 1647).
.
Imam Baihaqi dalam kitab sunannya meriwayatkan dari Muththalib bin Hanthab, “Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak aku tinggalkan sesuatu/sedikitpun juga apa-apa yang Allah telah perintahkan kepada kamu, melainkan sesungguhnya aku perintahkan kepada kamu. Dan tidak aku tinggalkan kepada kamu sesuatu/sedikitpun juga apa-apa yang Allah telah larang/cegah kamu (mengerjakannya), melainkan sesungguhnya telah aku larang kamu dari mengerjakannya”.
.
Perhatikan baik-baik sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, tidak ada satu pun perintah dan larangan Allah Ta’ala kecuali semuanya telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan kepada umatnya.
.
Seorang Sahabat Nabi yang mulia, Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,
.
لَقَدْ تَرَكَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا يَتَقَلَّبُ فِي السَّمَاءِ طَائِرٌ إِلَّا ذَكَّرَنَا مِنْهُ عِلْمًا
.
”Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan kami dan tidak ada burung yang terbang kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitahukan tentang ilmunya”. (Musnad Ahmad, 20467).
.
Maksud perkataan Abu Dzar radlyallahu ’anhu ialah, bahwa Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya segala sesuatunya yang berhubungan dengan Islam, baik dalam bab keimanan, ibadah, muamalat, adab dan akhlak, kabar-kabar, perintah-perintah dan larangan dan segalanya. Hal yang paling kecilpun telah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam kepada umatnya.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya di atas menerangkan, sesungguhnya syari’at Islam sudah mencukupi. Oleh karena itu tidak dibenarkan apabila ada umatnya yang ingin mendapatkan jalan menuju surga-Nya Allah Ta’ala membuat-buat lagi cara-cara baru dalam agama. Oleh karena itu barang siapa mencari jalan untuk menuju surga dengan menempuh cara-cara yang tidak diajarkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia menempuh jalan yang menyimpang dan sesat.
.
Banyak amalan-amalan dalam Islam yang dapat kita lakukan guna meraih ridho Allah Ta’ala dan pahala sebanyak-banyaknya.
.
Ada puasa-puasa sunnat, seperti : Puasa sunnat 6 hari dibulan syawwal, puasa sunnat senin dan kamis, puasa Daud, puasa sunnat tiga hari dalam sebulan, puasa sunnat arafah, puasa sunnat di bulan muharram dan puasa sunnat di bulan sya’ban.
.
Ada shalat-shalat sunnat, seperti : Shalat sunnat rowatib, shalat sunat dhuha, shalat sunnat tahajud, shalat sunnat witir, shalat sunnat tahiyatul masjid.
.
Dan masih banyak lagi amalan-amalan yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendapatkan ridha Allah dan pahala yang melimpah.
.
Dari ibadah-ibadah sunnat yang di sebutkan di atas, apakah ada diantaranya yang sudah secara rutin kita amalkan ?
.
Perkara berdo’a saja untuk kebaikan diri dan orang yang kita cintai, belum tentu kita bisa mengamalkan semuanya. Padahal berdo’a adalah amalan mulia dan terpuji, merupakan ibadah yang utama.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
.
“Do’a adalah ibadah”. (Hr. Abu Daud, no. 1479).
.
Banyak sekali do’a-doa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada umatnya, diantaranya :
.
Berdo’a ketika bangun tidur, keluar dari rumah, masuk ke dalam rumah, ketika hendak bepergian, hendak naik kendara’an, pulang dari bepergian, ketika terbangun dari tidur malam, apabila ada yang menakutkan sa’at tidur, supaya terhindar dari ke syirikan, masuk wc, keluar dari wc, apabila ada ada angin ribut, apabila turun hujan, mendengar petir, minta supaya hujan berhenti, mengalami keraguan iman, bila dipuji orang, melihat orang yang mendapatkan coba’an, mengagumi sesuatu, ketika marah, ketika bersin, masuk mesjid, keluar mesjid, menengok orang sakit, sa’at mengenakan pakaian, menanggalkan pakaian, ketika masuk suatu kampung, masuk pasar, mengenakan pakaian baru, mengusir setan, apabila ada yang menyenangkan atau menyusahkan, ketika ada firasat buruk, melihat bulan sabit, mendengar adzan, ingin sembuh dari sakit, sa’at gelisah, do’a perlindungan buat anak, mendo’akan pengantin, mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, sa’at dilanda ketakutan, sebelum makan, setelah makan, dan banyak lagi do’a-do’a yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada umatnya.
.
Dari semua do’a-doa di atas, berapa banyak yang sudah kita amalkan secara rutin ?
.
Masuk kamar mandi (wc) saja, apakah kita sudah biasa membaca do’anya ?
.
Kalau yang diajarkan oleh Rasulullah saja belum bisa kita amalkan secara rutin, lalu mengapa juga kita mengamalkan amalan-amalan yang tidak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam ajarkan ?
.
Apakah kita merasa ajaran Islam itu masih kurang ?
.
Sehingga harus mengamalkan lagi amalan-amalan yang tidak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan ?
.
Itu baru perkara do’a. Dan masih banyak lagi ibadah-ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah untuk mendapatkan ridha Allah dan meraih pahala yang melimpah, misalnya : Shalat qobliah subuh,
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dua raka’at sebelum shubuh, lebih utama dari dunia dan isinya”. (Hr. Muslim, no. 725).
.
Dua raka’at sebelum subuh, lebih utama dari dunia dan isinya. Apakah kita sudah mengamalkannya secara rutin ?
.
Kalau yang diajarkan oleh Rasulullah saja belum bisa kita amalkan secara rutin, lalu mengapa juga kita mengamalkan amalan-amalan yang tidak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam ajarkan ?
.
Apakah ajaran Islam tidak cukup, sehingga harus membuat-buat ajaran baru (bid’ah) ?
.
Mengapa kalau mengerjakan amalan-amalan bid’ah banyak yang bersemangat, sementara mengerjakan amalan-amalan yang diajarkan oleh Rasulullah banyak yang lalai, tidak diperhatikan bahkan banyak yang ditinggalkan.
.
Apakah semua yang diajarkan Nabi sudah mampu kita amalkan ?
.
Dan merasa masih kurang ?
.
Lalu mengapa, mengerjakan amalan-amalan yang tidak Nabi ajarkan ?
.
Apakah amalan bid’ah itu lebih utama dari pada amalan sunnah ?
.
MENGERJAKAN AMALAN YANG DIAJARKAN NABI (SUNNAH) SAJA KEDODORAN, KENAPA PULA HARUS MENGAMALKAN AJARAN YANG TIDAK DIAJARKAN NABI (BID’AH) ?
.
با رك الله فيكم
.

.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah
.
.
_________________

ISLAM SUDAH SEMPURNA

.
ISLAM SUDAH SEMPURNA
.
Sungguh telah sempurna syari’at Islam sehingga tidak membutuhkan penambahan atau pengurangan baik yang menyangkut halal atau haram, segalanya sudah dijelaskan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya
.
Kesempurna’an syari’at Islam Allah Ta’ala sebutkan dalam Firman-Nya,
.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
.
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu”. (Al-Maidah: 3).
.
Imam Asbath mengatakan, “Ayat ini turun pada hari arafah, dan setelah itu tidak ada lagi ayat yang turun, yang menyangkut halal dan haram. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali dan setelah itu beliau wafat”.
.
Kesempurna’an Islam disebutkan juga oleh Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam dalam sabdanya,
.
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنْ الْجَنَّة وَيُبَاعِدُ مِنْ النَّار إِلَّا وَقْدٌ بَيْنَ لَكُمْ
.
“Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah dijelaskan semuanya kepada kalian”. (Hr. Thobroni dalam Al Mu’jamul Kabir, 1647).
.
Yang dimaksudkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya di atas adalah, sesungguhnya syari’at Islam sudah mencukupi. Sehingga tidak dibenarkan apabila ada umatnya yang ingin mendapatkan jalan menuju surga-Nya Allah Ta’ala membuat-buat lagi cara-cara baru dalam agama. Karena syari’at Islam sudah sempurna.
.
Oleh karena itu barang siapa mencari jalan ke surga dengan menempuh cara-cara yang tidak di ajarkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia menempuh jalan yang menyimpang dan sesat.
.
Hadits lain yang menerangkan tentang telah sempurnanya Islam dijelaskan juga oleh Rasulullah dalam sabdanya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam kitab sunannya, dari Muththalib bin Hanthab, “Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak aku tinggalkan sesuatu/sedikitpun juga apa-apa yang Allah telah perintahkan kepada kamu, melainkan sesungguhnya aku perintahkan kepada kamu. Dan tidak aku tinggalkan kepada kamu sesuatu/sedikitpun juga apa-apa yang Allah telah larang/cegah kamu (mengerjakannya), melainkan sesungguhnya telah aku larang kamu dari mengerjakannya”.
.
Perhatikan baik-baik sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, tidak ada satu pun perintah dan larangan Allah Ta’ala kecuali semuanya telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan kepada umatnya. Sehingga tidak di benarkan mengada-adakan kembali cara-cara baru dalam ibadah walaupun tujuannya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan meraih ridho dan pahala sebanyak-banyaknya.
.
Kesempurna’an Islam selain dijelaskan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, juga diterangkan oleh para Sahabat.
.
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,
.
لَقَدْ تَرَكَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا يَتَقَلَّبُ فِي السَّمَاءِ طَائِرٌ إِلَّا ذَكَّرَنَا مِنْهُ عِلْمًا
.
”Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan kami dan tidak ada burung yang terbang kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitahukan tentang ilmunya”. (Musnad Ahmad, 20467).
.
Maksud perkata’an Abu Dzar radlyallahu ’anhu ialah, bahwa Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya segala sesuatunya yang berhubungan dengan Islam, baik dalam bab keimanan, ibadah, muamalat, adab dan akhlak, kabar-kabar, perintah-perintah dan larangan dan segalanya. Hal yang paling kecilpun telah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam kepada umatnya, sebagaimana hadits dibawah ini,
.
Dari Salman al-Farisi dia berkata,
.
قَالَ لَنَا الْمُشْرِكُونَ إِنِّي أَرَى صَاحِبَكُمْ يُعَلِّمُكُمْ حَتَّى يُعَلِّمَكُمْ الْخِرَاءَةَ فَقَالَ أَجَلْ إِنَّهُ نَهَانَا أَنْ يَسْتَنْجِيَ أَحَدُنَا بِيَمِينِهِ أَوْ يَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ وَنَهَى عَنْ الرَّوْثِ وَالْعِظَامِ وَقَالَ لَا يَسْتَنْجِي أَحَدُكُمْ بِدُونِ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ
.
”Kaum musyrikin berkata kepada kami, ‘Sungguh, aku melihat sahabat kalian (Rasulullah) mengajarkan kepada kalian hingga masalah adab beristinja’, maka dia berkata, ‘Ya. Beliau melarang kami dari beristinja’ dengan tangan kanannya atau menghadap kiblat, dan beliau juga melarang dari beristinja’ dengan kotoran hewan dan tulang.’ Beliau bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian beristinja’ kurang dari tiga batu”. (Shahih Muslim, 386).
.
Hadits diatas sebagai jawaban para sahabat kepada kaum musyrikin, juga menegaskan kepada kita, Sesungguhnya Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada umatnya segala sesuatunya tentang Islam, baik menyangkut aqidah, ibadah, muamalah, adab-adab dan akhlak dan seterusnya bahkan adab buang air sekalipun.
.
✺ Syari’at Islam tidak memerlukan lagi tambahan
.
Kesempurna Islam sebagaimana disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an juga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga oleh para Sahabat Nabi. Maka dengan kesempurna’annya tersebut tidaklah diperlukan lagi adanya penambahan-penambahan atau mengada-adakan hal-hal yang baru berdasarkan hawa nafsu dan pemikiran yang menganggap apa saja yang baik itu boleh saja dilakukan dalam agama meskipun tidak pernah diperintahkan dilakukan atau pernah disetujui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Maka pabila ada orang-orang yang memandang perlu memberikan penambahan atau mengada-adakan lagi hal-hal yang baru diluar syari’at yang telah ada, maka berarti mereka menganggap Islam tersebut belum sempurna.
.
Dan lebih buruk lagi mereka yang menambahkan atau mengada-adakan hal-hal baru yang sudah disyari’atkan Allah dan Rasulul-Nya, maka secara tidak sadar dia telah menjadikan dirinya sebagai pihak yang berhak membuat syari’at. Padahal yang berhak membuat syari’at hanyalah Allah subhananu wa Ta’ala penguasa alam semesta dan Rasulullah shalallahu’ alaihi wa sallam sebagai utusan-Nya.
.
LALU MEREKA YANG TELAH LANCANG MEMBUAT-BUAT KEBID’AHAN, YAITU MEREKA YANG TELAH BERANI MEMBUAT-BUAT ATAU MENGADA-ADAKAN CARA-CARA BARU DALAM SYARI’AT ISLAM, MAKA PERLU DIPERTANYAKAN, SIAPA DIRINYA ?
.
Islam telah sempurna tidak memerlukan tambahan-tambahan dan cara-cara baru menyangkut urusan agama meskipun sekecil apapun dan alasan apapun dari tambahan-tambahan tersebut meskipun dianggap baik adalah suatu perkara besar yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi sebaliknya sangat dicintai oleh iblis dan para pengekornya.
.
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,
.
إِنَّ أَبْغَضَ الْأُمُورِ إِلَى اللَّهِ الْبِدَعُ
.
“Sesungguhnya perkara yang paling dibenci oleh Allah adalah bid’ah”.
.
Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata,
.
الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنْ الْمَعْصِيَةِ، الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا وَ الْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا
.
“Bid’ah itu lebih disenangi oleh iblis daripada kemaksiatan, sebab kemaksiatan itu (pelakunya) akan (mudah) bertaubat daripadanya sedangkan pelaku bid’ah itu sulit sekali untuk bertaubat dari bid’ahnya”.
.
Mereka yang telah menambah-nambah atau membuat-buat perkara baru dalam urusan agama, pelakunya secara sengaja atau tidak sengaja, langsung atau tidak langsung telah menuduh Rasulullah shalallahu ’alahi wa sallam telah berhianat dan menyembunyikan risalah Islam. Inilah yang pernah diperingatkan oleh Imam Malik bin Anas rahimahullah ta’ala di dalam salah satu perkata’annya yang sangat terkenal sekali yaitu, “Barang siapa yang membuat bid’ah di dalam islam, yang dia mengangapnya sebagai bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), maka sesungguhnya dia telah menuduh bahwa Muhammad shallahu ’alahi wa sallam telah berhianat di dalam (menyampaikan) risalah. Karena sesungguhnya Allah telah berfirman, “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu”. Maka apa-apa yang tidak menjadi (bagian dari) agama pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi (bagian dari) agama pada hari ini”. (Al-I’tisham, juz 1 hal.49).
.
Alangkah bagus dan indahnya perkata’an Imam Malik diatas dan ini merupakan kaidah besar yang sangat agung sekali di dalam agama Allah, bahwa “Apa-apa yang tidak menjadi agama pada hari itu, yakni ketika turunnya ayat diatas, maka tidak akan menjadi agama pada hari ini, Yakni, apa-apa yang bukan ajaran islam pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi ajaran islam pada hari ini”.
.
با رك الله فيكم
.
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
____________