HUKUM SHALAT BERJAMAAH DENGAN BERMAKMUM KEPADA AHLI BID’AH

.
HUKUM SHALAT BERJAMAAH DENGAN BERMAKMUM KEPADA AHLI BID’AH
.
Shalat berjamaah dengan bermakmun kepada ahli bid’ah hukumnya boleh, apabila perbuatan bid’ahnya tidak sampai mengeluarkannya dari Islam.
.
Imam Hasan al-Bashri rahimahullah (wft. 110 H) pernah ditanya tentang boleh atau tidaknya shalat di belakang ahlul bid’ah, beliau menjawab : “Shalatlah di belakangnya dan ia yang menanggung dosa bid’ahnya”. Imam al-Bukhari memberikan bab tentang perkataan Hasan al-Bashri dalam Shahiihnya (Bab Imamatul Maftuun wal Mubtadi’ dalam Kitaabul Aadzaan).
.
Keterangan dari Imam Hasan al-Bashri rahimahullah di atas sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
يُصَلُّوْنَ لَكُمْ، فَإِنْ أَصَابُوْا فَلَكُمْ وَلَهُمْ، وَإِنْ أَخْطَأُوْا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ.
.
“Mereka shalat mengimami kalian. Apabila mereka benar, kalian dan mereka mendapatkan pahala. Apabila mereka keliru, kalian mendapat pahala, sedangkan mereka mendapat dosa”. (Hr. Al-Bukhari, dan Ahmad).
.
Ahli bid’ah ataupun ahli maksiat, pada asalnya, shalatnya sah. Apabila seseorang shalat bermakmum kepadanya, shalatnya tidak batal. Namun ada ulama yang menganggapnya makruh.
.
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata : “Bahwa shalat di belakang orang yang fasik dan pemimpin yang zhalim, sah shalatnya. Sahabat-sahabat kami telah berkata : ‘Shalat di belakang orang fasik itu sah tidak haram akan tetapi makruh, demikian juga dimakruhkan shalat di belakang ahli bid’ah yang bid’ahnya tidak sampai kepada tingkat kufur (bid’ahnya tidak menjadikan ia keluar dari Islam). Tetapi bila bid’ahnya adalah bid’ah yang menyebabkan ia keluar dari Islam, maka shalat di belakangnya tidak sah, sebagaimana shalat di belakang orang kafir.’ Dan Imam asy-Syafi’i rahimahullah menyebutkan dalam al-Mukhtashar bahwa makruh hukumnya shalat di belakang orang fasiq dan ahlu bid’ah, kalau dikerjakan juga, maka shalatnya tetap sah, dan inilah pendapat jumhur ulama”. (Diringkas dari al-Majmuu’ Syarhul Muhadzdzab (IV/253) oleh Imam Nawawi, cet. Daarul Fikr).
.
.
Sumber : http://almanhaj.or.id/content/2026/slash/0/hukum-shalat-di-belakang-ahlul-bidah-hukum-shalat-tahiyyatul-masjid
.
.


HIKUM BERMUAMALAH DENGAN AHLI BID’AH

.
HUKUM BERMUAMALAH DENGAN AHLI BID’AH
.
Larangan duduk-duduk (bermajlis/bergaul) dengan ahli bid’ah bukan berarti terlarang bermuamalah dengan mereka, selama muamalahnya tidak mengandung kebid’ahan.
.
Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafidzahullah ditanya :
.
الجار الذي هو من أهل البدع وقد تكون بدعته مكفرة، كيف أتعامل معه؟
.
Bagaimana cara saya bermuamalah dengan tetangga yang termasuk ahli bid’ah dan bisa jadi bid’ahnya mukaffirah (mengeluarkan dari islam) ?
.
Syaikh hafidzahullah menjawab :
.
تعامل معه بدعوته والحرص على إنقاذه، وكما تعامل الكافر الذي هو كافر أصلي أيضاً تعامله
.
”Bermuamalah dengannya dengan cara mendakwahinya dan sangat berharap dia bisa terbebas dari bid’ahnya. Sebagaimana engkau boleh bermuamalah dengan orang kafir tulen maka engkau juga boleh bermuamalah dengannya”
.
وإذا كان هجرك إياه يفيده فافعل، لكن في الغالب أن الجيران لا يؤثر هجرهم، إنما الذي يؤثر مثل هجر الوالد للولد، وهجر الشيخ للتلميذ وغيرهم ممن قد يؤثر فيهم الهجر
.
”Dan jika hajr-mu kepadanya bermanfa’at maka lakukanlah. Akan tetapi, pada umumnya hajr ini tidak memberi pengaruh kepada tetangga. Hajr yang memberi pengaruh adalah seperti hajrnya orang tua kepada anaknya, hajr seorang guru kepada muridnya dan yang semisalnya, yaitu orang yang memang berpengaruh jika melakukan hajr”
.
وأما قضية الجيران فكون الإنسان يبقى على صلة به ويحرص على هدايته خير من أن يهجره ويبتعد عنه.
.
”Adapun masalah dengan tetangga maka hendaknya seseorang itu tetap menyambung hubungan dengannya dan bersemangat untuk menunjukkan kebaikan kepadanya dari pada melakukan hajr dan menjauhinya”.

Sumber : http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=FullContent&audioid=170612#170615
.
.


DILARANG MENGAMBIL ILMU KEPADA AHLI BID’AH

.
DILARANG MENGAMBIL ILMU KEPADA AHLI BID’AH
.
Pepatah Arab mengatakan :
.
العلم نور والجهل ضار
.
”Ilmu itu cahaya dan bodoh itu bahaya”.
.
Ilmu adalah penerang bagi manusia, dengan ilmu manusia bisa membedakan mana haq mana batil, mana sunnah mana bid’ah, mana yang tauhid mana yang syirik, mana yang baik mana yang buruk. Sejatinya ketika manusia memiliki ilmu, maka akan menjadikan dirinya selamat bukan malah tersesat.
.
Apakah bisa kita rajin mencari ilmu, tapi malah justru menjadi tersesat ?
.
Tergantung dari mana kita mendapatkannya, apabila kita mengambil ilmu dari orang sesat, maka kita pun bisa terseret kesesatan. Maksud hati ke pulau impian tapi justru malah terdampar di pulau setan.
.
Mencari ilmu disyari’atkan dalam Islam. Sebagaimana syari’at Islam lainnya, mencari ilmu pun harus mengikuti tuntunan. Tidak ada satupun syari’at Islam yang tidak ada tuntunannya.
.
Dalam perkara mencari ilmu, Islam pun memberikan petunjuk, supaya para pencari ilmu tidak malah terjerumus kedalam lembah kegelapan.
.
Orang yang punya keinginan mendapatkan ilmu yang benar, harus waspada supaya tidak mengambil ilmu dari sembarang orang. Sehingga bukan menyelamatkan tapi justru malah mencelakakan.
.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
إِنَّ مِنْ أَشْرِاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ
.
“Sesungguhnya di antara tanda hari Kiamat adalah, ilmu diambil dari orang-orang kecil (ahli bid’ah)”. (Riwayat Ibnul Mubarak, al Lalikai, dan al Khaththib al Baghdadi).
.
Imam Ibnul Mubarak rahimahullah ditanya : “Siapakah orang-orang kecil itu ?” Beliau menjawab : “Orang-orang yang berbicara dengan fikiran mereka. Adapun shaghir (anak kecil) yang meriwayatkan dari kabir (orang tua, Ahlus Sunnah), maka dia bukan shaghir (ahli bid’ah)”. (Jami’ Bayanil ‘ilmi, hlm. 246).
.
Dalam riwayat lain, Imam Ibnul Mubarak juga mengatakan : “Orang-orang kecil dari kalangan ahli bid’ah”. (Riwayat al Lalikai, 1/85).
.
Hadits diatas menyebutkan, bahwa diantara tanda menjelang datangnya kiamat ialah diambilnya ilmu dari Ashaagir (الْأَصَاغِرِ). Yang di maksudkan Ashaagir (الْأَصَاغِرِ) yaitu ahli bid’ah. Sebagaimana yang diterangkan Imam Ibnul Mubarak diatas.
.
Mengambil ilmu dari ahli bid’ah akan menimbulkan banyak kerusakan ditengah-tengah umat, kemulia’an Islam ternodai juga perselisihan tidak kunjung reda. Karena bid’ah menimbulkan perpecahan diantara sesama umat Islam.
.
Mengambil ilmu dari ahli bid’ah menjadikan manusia tersesat, karena agama sebagai tuntunan yang seharusnya menjadi pedoman untuk meraih keselamatan, malah menyeret kedalam jurang kebinasa’an.
.
Maka pantaslah Ali bin Abi Thalib memperingatkan, supaya memperhatikan dari siapa ilmu itu didapat.
.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata :
.
اُنْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ هَذَا الْعِلْمَ فَإِنَّمَا هُوَ دِينٌ
.
“Perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ilmu ini, karena sesungguhnya ia adalah agama”. (Riwayat al Khaththib al Baghdadi di dalam al Kifayah, hlm. 121).
.
Seorang Sahabat yang lain yaitu Abdullah bin Mas’ud menyebutkan, ilmu yang datangnya dari ahli bid’ah, akan menjadikan umat bercerai-berai dan binasa.
.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :
.
لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ مِنْ أَكَابِرِهِمْ, فَإِذَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصَاغِرِهِمْ، وَ تَفَرَّقَتْ أَهْوَاءُهُمْ، هَلَكُوْا
.
“Manusia akan selalu berada di atas kebaikan, selama ilmu mereka datang dari para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan dari orang-orang besar (tua) mereka. Jika ilmu datang dari arah orang-orang kecil (ahli bid’ah) mereka, dan hawa-nafsu mereka bercerai-berai, mereka pasti binasa”. (Riwayat Imam Ibnul Mubarak di dalam az Zuhud, hlm. 281, hadits 815).
.
● Tuntunan para Ulama bagi penuntut ilmu
.
Para Ulama semenjak dahulu sampai hari ini, sudah memberikan bimbingan supaya tidak sembarangan dalam menuntut ilmu.
.
Imam Malik rahimahullah berkata :
.
لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ، وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ، وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ
.
“Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang : (1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya, (2) Shahibu hawa’ (pengikut hawa nafsu) yang mengajak agar mengikuti hawa nafsunya, (3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicara’an-pembicara’annya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) Seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui hadits yang dia sampaikan”. (Jami’ Bayanil ‘Ilmi, hlm. 348).
.
Syaikh Bakar Abu Zaid berkata : “Waspadalah terhadap Abu Jahal (bapak kebodohan), yaitu ahli bid’ah, yang tertimpa penyimpangan aqidah, diselimuti oleh awan khurafat, dia menjadikan hawa nafsu sebagai hakim (penentu keputusan) dengan menyebutnya dengan kata “akal”. Dia menyimpang dari nash (wahyu), padahal bukankah akal itu hanya ada dalam nash ? Dia memegangi yang dha’if (lemah) dan menjauhi yang shahih. Mereka juga dinamakan ahlus syubuhat (orang-orang yang memiliki dan menebar kerancuan pemikiran) dan ahlul ahwa’ (pengikut hawa nafsu). Oleh karena itulah Ibnul Mubarak menamakan ahli bid’ah dengan ash shaghir (anak-anak kecil)”. (Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hlm. 39, karya Syaikh Bakar Abu Zaid).
.
Syaikh Bakar Abu Zaid berkata : ”Wahai, penuntut ilmu. Jika engkau berada dalam kelonggaran dan memiliki pilihan, janganlah engkau mengambil (ilmu) dari ahli bid’ah, (yaitu) : seorang Rafidhah (Syi’ah), seorang Khawarij, seorang Murji’ah, seorang qadari (orang yang mengingkari takdir), seorang quburi (orang yang berlebihan mengagungkan kuburan), dan seterusnya, karena engkau tidak akan mencapai derajat orang yang benar aqidah agamanya, kokoh hubungannya dengan Allah, benar pandangannya, mengikuti atsar (jejak Salaf), kecuali dengan meninggalkan ahli bid’ah dan bid’ah mereka”. (Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hlm. 40).
.
Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir Ruhaili hafizhahullah berkata : ”Sesungguhnya para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para tabi’in sesudah mereka telah memberikan bimbingan untuk mengambil ilmu dari orang yang ‘adil dan istiqamah. Mereka telah melarang mengambil ilmu dari orang yang zhalim dan menyimpang. Dan di antara orang yang menyimpang, yaitu para ahli bid’ah. Sesungguhnya mereka telah menyimpang dan menyeleweng dari agama dengan sebab bid’ah-bid’ah itu, maka tidak boleh mengambil ilmu dari mereka. Karena ilmu merupakan agama, dipelajari untuk diamalkan. Maka jika ilmu diambil dari ahli bid’ah, sedangkan ahli bid’ah tidak mendasarkan dan menetapkan masalah-masalah kecuali dengan bid’ah-bid’ah yang dia jadikan agama, sehingga ahli bid’ah itu akan mempengaruhi murid-muridnya secara ilmu dan amalan. Sehingga murid-murid itu akan tumbuh di atas bid’ah dan susah meninggalkan kebid’ahan setelah itu. Apalagi jika belajar dari ahli bid’ah itu pada masa kecil, maka pengaruhnya akan tetap dan tidak akan hilang selama hidupnya”. (Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’, hlm 686, karya Syaikh Ibrahim ar Ruhaili).
.
Disebutkan di dalam kitab Fatawa Aimmatil Muslimin, hlm 131, yang berisikan fatwa-fatwa sebagian ulama Mesir, Syam dan Maghrib mutaqaddimin : “Seluruh imam mujtahidin telah sepakat, bahwa tidak boleh mengambil ilmu dari ahli bid’ah”.
.
Itulah bimbingan para Ulama untuk para pencari ilmu, sehingga tidak sia-sia waktu yang diluangkan untuk belajar dan bisa mendapatkan ilmu yang benar dan beguna untuk keselamatan dunia akhirat. Aamiin.
.
با رك الله فيكم
.
By : Abu Meong
.
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.


BID’AH AKAN TERSEBAR SEHINGGA SUNNAH TIDAK AKAN TERLIHAT

.
BID’AH AKAN TERSEBAR SEHINGGA SUNNAH TIDAK AKAN TERLIHAT
.
Sekarang ini kita saksikan tersebarnya amalan-amalan bid’ah di mana-mana. Sehingga umat Islam yang awam menyangka, amalan-amalan bid’ah yang mereka kerjakan adalah ajaran Islam, padahal bukan.
.
Akan tersebarnya amalan-amalan bid’ah yang dikerjakan oleh sebagian umat Islam saat ini, memang sudah disebutkan oleh seorang Sahabat Nabi, Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu.
.
Suatu ketika Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu mengambil dua batu dan meletakkan salah satunya di atas yg lain. Lalu Hudzaifah bin Yaman berkata kepada para Shahabatnya :
.
”Apakah kalian melihat ada cahaya di antara sela-sela dua batu itu ?”.
.
Mereka berkata : ”Wahai Abu Abdirrahman, kami tidak melihatnya kecuali sedikit saja”.
.
Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu kemudian berkata : ”Demi Dzat yang diriku berada ditangan-Nya, bid’ah benar-benar akan muncul sampai kebenaran tidak terlihat kecuali seperti cahaya diantara dua batu tersebut. Demi Allah, bid’ah akan benar-benar tersebar sehingga apabila ada sebuah bid’ah yang ditinggalkan, mereka akan berkata : ”Sunnah sudah ditinggalkan”.
.
(Al-Bida’ wan Nahyu’ Anha, hlm. 58).
.
Wallahu a’lam.
.
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/11-bidah/04-bidah-yang-dilarang-nabi-adalah-bidah-dalam-urusan-ibadah
.
.


BEBERAPA FAKTOR PENYEBAB MUNCULNYA BID’AH

.
BEBERAPA FAKTOR PENYEBAB MUNCULNYA BID’AH
.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan bermunculannya amalan-amalan bid’ah di tengah-tengah umat. Di antaranya :
.

  1. Ingin mendapatkan kebaikan
    .
    Ingin mendapatkan kebaikan merupakan penyebab yang paling banyak dijadikan alasan mengapa ahli bid’ah melakukan amalan-amalan bid’ah.
    .
    Kita perhatikan jawaban sekelompok orang yang membuat halaqoh dzikir yang tidak sesuai tuntutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian ditegur oleh Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Dan mereka menjawab dengan alasan :
    .
    وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ
    .
    “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan”.
    .
    Perhatikan ucapan mereka !. Alasan mereka mengerjakan amalan bid’ah, adalah karena ingin mendapatkan kebaikan.
    .
    Akan tetapi Ibnu Mas’ud menjawab perkata’an mereka :
    .
    وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ
    .
    “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya”. (Hr. Ad Darimi).
    .
  2. Berdalil dengan hadits dhaif bahkan palsu
    .
    Tidak sedikit amalan-amalan bid’ah dibangun diatas hadits-hadits dhaif bahkan palsu.
    .
    Berikut ini diantaranya :
    .
    ● Mengusap tengkuk ketika wudhu
    .
    Di antara hadits dhaif yang sering digunakan,
    .
    مَسَحُ الرَّقَبَةِ أَمَانٌ مِنَ الْغُلِّ
    .
    “Mengusap leher adalah pengaman dari dengki, iri hati, benci”.
    .
    Juga hadits yang berbunyi,
    .
    مَنْ تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عُنُقَهُ لَمْ يُغَلَّ بِالْأَغْلاَلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
    .
    “Siapa yang berwudhu dan mengusap lehernya, ia tidak akan dibelenggu dengan (rantai) belenggu hari kiamat”.
    .
    Berkata Imam an-Nawawy : “Tidak ada sama sekali (hadits) yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalamnya (yakni dalam masalah mengusap leher/tengkuk)”.
    .
    Berkata Ibnul Qayyim : “Tidak ada satu hadits pun yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mengusap leher”. (Zadul Ma’ad, 1/195).
    .
    Baca al-Majmu’ 1/488, dan Nailul Authar 1/206-207.
    .
    ● Berdo’a setiap mencuci anggota wudhu
    .
    Ada sebagian umat Islam yang membaca do’a setiap kali membasuh anggota wudhu.
    .
    Ketika kumur-kumur membaca do’a,
    .
    اللَّهُمَّ اسْقِنِيْ مِنْ حَوْضِ نَبِيَّكَ كَأْسًا لاَ أَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدُا
    .
    “Ya Allah berilah saya minum dari telaga Nabi-Mu satu gelas yang saya tidak akan haus selama-lamanya”.
    .
    Membasuh wajah membaca do’a,
    .
    اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَسْوَدُّ الْوُجُوْهُ
    .
    “Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari wajah-wajah menjadi hitam”.
    .
    Mencuci tangan membaca do’a,
    .
    اللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِيَمِيْنِيْ وَلاَ تُعْطِنِيْ بِشِمَالِيْ
    .
    “Ya Allah, berikanlah kitabku di tangan kananku dan janganlah engkau berikan di tangan kiriku”.
    .
    Begitu pula ketika membasuh kepala, telinga dan kaki ada do’a-do’anya yang dibaca.
    .
    Do’a-do’a tersebut tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
    .
    Imam Besar ulama Syafi’iyah, Imam an-Nawawy menegaskan, bahwa do’a ini tidak ada asalnya, dan tidak pernah disebutkan oleh orang-orang terdahulu di kalangan Syafi’iyah.
    .
    Imam an-Nawawi berkata :
    .
    ثم، مع هذا، لا شك أنه يتم تضمين الصلاة في الوضوء بدعة المضللة التي ينبغي التخلي عنها
    .
    ”Maka, dengan ini, tidak diragukan bahwa do’a ini termasuk bid’ah sesat dalam wudhu yang harus ditinggalkan”. (Lihat Al-Majmu’, 1: 487-489).
    .
  3. Salah kaprah memahami nash
    .
    Faktor lainnya adalah salah memahami nash. Banyak hadits-hadits sohih, namun mengamalkan hadits sohih tersebut dengan membuat cara-cara atau model-model baru dalam ibadah yang tidak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga Shalafus Shaalih. Hal ini juga menjadi sebab bermunculannya amalan-amalan bid’ah.
    .
    Sebagai contoh diantaranya, tentang keutama’an malam nishfu sya’ban. Keutama’an malam nishfu sya’ban banyak diriwayatkan oleh para Sahabat. Sebagaimana diriwayatkan.
    .
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
    .
    يطلع الله تبارك و تعالى إلى خلقه ليلة النصف من شعبان، فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن
    .
    “Allah Ta’ala menampakkan kepada hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, maka Dia mengampuni bagi seluruh hambaNya, kecuali orang yang musyrik atau pendengki”.
    .
    (Diriwayatkan oleh banyak sahabat nabi dan satu sama lain saling menguatkan. Lihat kitab as-Silsilah ash-Shahihah, 3/135, No. 1144. Darul Ma’arif. Juga kitab Shahih al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu, 2/785. Al Maktab al-Islami).
    .
    Hadits ini menunjukkan keutama’an malam nishfu sya’ban (malam ke 15 di bulan Sya’ban), yakni sa’at itu Allah mengampuni semua makhluk kecuali yang menyekutukan-Nya dan para pendengki.
    .
    Tentunya sa’at itu waktu yang sangat baik untuk banyak beristighfar dan ibadah lainnya. Tetapi hadits ini sama sekali tidak menerangkan cara-cara tertentu dalam bentuk ibadah.
    .
    Tidak disebutkan di hadits tersebut perintah membaca yasin sebanyak tiga kali dengan tujuan tertentu, atau shalat tertentu dengan fadhilah tertentu, lalu sambil membawa air, juga tidak ada perintahnya semua amalan itu dilakukan ba’da maghrib sebagaimana yang dilakukan sebagian umat Islam sa’at ini.
    .
    Didalam kitab “al Mausu’ah al Fiqhiyah”, juz II hal, 254 disebutkan, bahwa jumhur ulama memakruhkan berkumpul untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban. Dan mereka menegaskan, bahwa berkumpul untuk itu adalah sautu perbuatan bid’ah menurut para imam yang melarangnya, yaitu ‘Atho bin Abi Robah dan Ibnu Malikah.
    .
    Apabila sengaja berkumpul saja di malam nishfu sya’ban para Ulama memakruhkannya. Bagaimana pula apabila di malam nishfu sya’ban sengaja membuat perkara-perkara baru dalam agama (bid’ah) ?
    .
    Keutama’an malam nishfu sya’ban memang shahih, tetapi amalan-amalan khusus malam nishfu sya’ban tidak ada tuntunannya. Jadi apabila ada sebagian orang yang melakukan amalan-amalan tertentu dengan cara-cara tertentu di malam nisfu sya’ban ini adalah bid’ah.
    .
  4. Mengikuti hawa nafsu
    .
    Penyebab lainnya bermunculannya bid’ah adalah dorongan hawa nafsu. Mereka beranggapan, Islam akan lebih baik dan bisa diterima umat, apabila ada inovasi dan kreasi-kreasi tertentu yang membuat umat semangat dalam beragama. Ketika dikatakan bahwa hal itu tidak dibenarkan oleh syari’at, karena tidak pernah diajarkan, atau dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka membantah dengan keras. Mereka mengikuti hawa nafsunya, dibanding dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah.
    .
    Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
    .
    ثلاث مهلكات، فقال: ثلاث مهلكات: شح مطاع و هوى متبع و إعجاب المرء بنفسه
    .
    “Ada tiga hal yang membinasakan. Lalu Nabi bersabda : “Tiga hal yang membinasakan, adalah syahwat yang dita’ati, hawa nafsu yang dituruti, dan seorang yang kagum dengan dirinya sendiri”. (Lihat As Silsilah Ash Shahihah, No. 1802).
    .
    Demikian, wallahu Ta’ala A’lam.
    .
    برك الله فيكم
    .
    .
    https://agussantosa39.wordpress.com/category/11-bidah/04-bidah-yang-dilarang-nabi-adalah-bidah-dalam-urusan-ibadah
    .

PERKATA’AN PARA SAHABAT NABI TENTANG BID’AH

.
PERKATA’AN PARA SAHABAT NABI TENTANG BID’AH
.
Para Sahabat Nabi rodhiyallohu ‘anhum adalah adalah generasi umat Islam terbaik. Mereka adalah umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling kuat imannya, dan paling paham terhadap setiap perkataan Nabi yang diajarkan kepada mereka.
.
Berikut perkataan para Sahabat Nabi tentang bid’ah :
.

  1. Setiap bid’ah adalah sesat
    .
    Umar radhiyallahu ‘anhu berkata :
    .
    إِنَّ أَصْدَقَ القيل قيل الله و إِنَّ أَصْدَقَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّد و إِنَّ شَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، ألا و إِنَّ كل مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
    .
    “Sesungguhnya perkata’an yang paling benar adalah firman Alloh, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wasalam, dan sesungguhnya seburuk-buruk perkara adalah yang dibuat-buat (dalam agama). Ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap perkara yang dibuat-buat (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan dan setiap kesesatan itu tempatnya di Neraka”. (Hr. Ibnul Wudhah, dalam al Bida’, hal. 31. Dan al Laalikaa’iy, hadits no. 100, 1/84).
    .
  2. Ikutilah sunnah dan jangan berbuat bid’ah
    .
    Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : “Hendaknya engkau bertakwa kepada Allah dan istiqomah, ikutilah (Sunnah Nabi) jangan berbuat bid’ah”. (Hr. ad-Daarimi).
    .
  3. Ikutilah Nabi dan jangan berbuat bid’ah
    .
    Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :
    .
    اتبَّعِوُا وَلاَ تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
    .
    “Berittiba’lah (ikutlah) kamu kepada Rasululloh dan janganlah berbuat bid’ah (perkara baru dalam agama), karena sesungguhnya agama ini telah dijadikan cukup buat kalian, dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan”. (Hr. Ibnu Baththah, dalam Al Ibaanah, no. 175, 1/327-328. Dan Al Laalikaa’iy, no. 104, 1/86).
    .
  4. Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada sungguh-sungguh dalam bid’ah
    .
    Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :
    .
    الْإِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ أَحْسَنُ مِنَ الْاِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ
    .
    “Sederhana didalam Sunnah lebih baik dibandingkan bersungguh-sungguh di dalam bid’ah”. (Hr. al-Hakim).
    .
    Maksudnya, sedikit amalan namun diatas Sunnah (sesuai bimbingan Nabi) lebih baik dibandingkan banyak beramal dan bersungguh-sungguh, namun diatas kebid’ahan.
    .
  5. Setiap bid’ah itu sesat walaupun manusia menganggapnya baik
    .
    Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata :
    .
    كلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
    .
    “Setiap bid’ah itu adalah kesesatan, sekalipun manusia menganggapnya baik (hasanah)”. (Al Ibaanah, no. 205, 1/339. Al Laalikaa’iy, no. 126, 1/92).
    .
  6. Hati-hatilah terhadap bid’ah
    .
    Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata :
    .
    فَإِياَّكُمْ وَمَا يُبْتَدَعُ فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلَالَة
    .
    “Berhati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan, karena perkara yang diada-adakan (dalam agama) adalah sesat”. (Hilyatul Awliyaa’ [1/233]).
    .
  7. Jangan melakukan ibadah yang tidak dilakukan oleh para Sahabat
    .
    Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata :
    .
    كُلُّ عِبَادَةٍ لَمْ يَتَعَبَّدْ بِهَا أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فلاَ تَتَعَبَّدُوْا بِهَا. فَإِنَّ الأَوَّلَ لَمْ يَدَعْ لِلآخِرِ مَقَالا. فَاتَّقُوا اللهَ يَا مَعْشَرَ القُرَّاءِ، خُذُوْا طَرِيْقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
    .
    “Setiap ibadah yang tidak pernah diamalkan oleh para Sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, janganlah kalian beribadah dengannya. Karena generasi pertama tidak menyisakan komentar bagi yang belakangan. Maka bertakwalah kalian kepada Allah wahai para pembaca al-Qur’an (orang-orang alim dan yang suka beribadah) dan ikutilah jalan orang-orang sebelummu”. (Hr. Ibnu Baththah, dalam Al-Ibanah).
    .
    .

HADITS NABI TENTANG BID’AH

.
HADITS NABI TENTANG BID’AH
.
Banyak hadits Nabi yang mengingatkan dan mencela perbuatan bid’ah, maka seharusnya umat Islam hati-hati supaya selamat dari tipu daya para penyesat umat yang menjerumuskan umat kepada bermacam-macam amalan bid’ah.
.
Berikut beberapa hadits Nabi tentang bid’ah :
.

  1. Hati-hati terhadap bid’ah
    .
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    .
    وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
    .
    “Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan (bid’ah) karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (Hr. Abu Daud, no. 4607, dan Tirmidzi, 2676).
    .
  2. Sejelek-jelek perkara adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat
    .
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    .
    فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
    .
    “Sesungguhnya sebaik-baik perkata’an adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat”. (Hr. Muslim).
    .
    Dalam riwayat An Nasa’i disebutkan,
    .
    وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
    .
    “Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (dalam urusan agama), setiap yang diada-adakan (dalam urusan agama) itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan. Dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka”. (Hr. An Nasa’i).
    .
    Dalam Musnad Ahmad bin Hanbal diriwayatkan, Abdullah berkata :
    .
    إِنَّهُ سَيَلِى أَمْرَكُمْ مِنْ بَعْدِى رِجَالٌ يُطْفِئُونَ السُّنَّةَ وَيُحْدِثُونَ بِدْعَةً وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا. قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ بِى إِذَا أَدْرَكْتُهُمْ قَالَ: لَيْسَ يَا ابْنَ أُمِّ عَبْدٍ طَاعَةٌ لِمَنْ عَصَى اللَّهَ. قَالَهَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ
    .
    “Sesungguhnya seburuk-buruknya perkara kamu sekalian sesudahku yaitu seseorang yang mematikan sunnah, mengada-adakan bid’ah dan mengakhirkan shalat dari waktunya, berkata ibnu Mas’ud, Ya Rasulullah bagaimana apabila aku mengetahui mereka, Rasul bersabda : Ya Ibnu Ummi ‘Abdin tidak ada keta’atan bagi orang yang durhaka kepada Allah” Dia berkata tiga kali”.
    .
  3. Akan muncul umat Nabi yang kerasukan bid’ah sebagaimana anjing terkena penyakit rabies
    .
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    .
    وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ
    .
    “Dan sungguh, nanti akan muncul pada umatku sekelompok orang yang kerasukan bid’ah dan hawa nafsu sebagaimana anjing kerasukan rabies, tak tersisa satu pun dari urat dan sendinya melainkan telah kerasukan”. (Hr. Abu Dawud, dan Ahmad).
    .
  4. Perbuatan bid’ah tertolak
    .
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    .
    من احدث في امرنا هد ما ليس منه فهو رد
    .
    “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (agama/ibadah) yang tidak ada asalnya (tidak Rasulullah lakukan/perintahkan), maka perkara tersebut tertolak”. (Hr. Bukhari, no. 20).
    .
    Ibnu Abbas berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    .
    أَبَى اللَّهُ أَنْ يَقْبَلَ عَمَلَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ
    .
    “Allah tidak akan menerima amal perbuatan bid’ah hingga dia meninggalkan bid’ahnya”.
    .
  5. Allah Ta’ala melaknat pelaku bid’ah
    .
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
    .
    مَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
    .
    “Barangsiapa berbuat bid’ah didalamnya (Madinah), atau melindungi pelaku bid’ah, maka baginya laknat Allah, para Malaikat, dan manusia”. (Muttafaq ‘Alaih).
    .
  6. Ahli bid’ah adalah sejahat-jahat makhluk
    .
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    .
    ﺍﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺷﺮ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﻭﺍﻟﺨﻠﻴﻘﺔ
    .
    “Ahli bid’ah itu adalah sejahat-jahat makhluk”. (Hr. Abu Daud).
    .
  7. Ahli bid’ah adalah penipu umat
    .
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang menipu umatku maka baginya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Para sahabat bertanya, “apa maksud menipu umatmu ya Rasulullah ?. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yang suka mengada-adakan amalan bid’ah lalu mengajak manusia ikut mengamalkannya”. (Shahih, riwayat Daruquthni dari Anwas bin Malik).
    .
  8. Wajib membantah ahli bid’ah
    .
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila telah muncul bid’ah-bid’ah dikalangan umatku, maka wajib atas siapa saja yang memiliki ilmu (tentang agama islam) untuk menyampaikan ilmunya. Jika ia tidak melakukannya, maka baginya laknat Allah, para malaikat-Nya dan seluruh manusia. Tidak akan diterima shodaqahnya dan keadilan (kebaikan) amalnya”. (Shahih ar-Rabi’i).
    .
  9. Jauhi dustakan dan cerca ahli bid’ah
    .
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila kamu melihat orang-orang yang ragu dalam agamanya dan ahli bid’ah sesudah aku tiada, maka tunjukkanlah sikap menjauh (bebas) dari mereka. Perbanyaklah lontaran cerca dan kata tentang mereka dan kasusnya. Dustakan mereka, supaya mereka tidak semakin merusak Islam. Waspadai pula orang-orang yang dikhawatirkan meniru-niru bid’ah mereka. Dengan demikian Allah akan mencatat bagimu pahala dan akan meningkatkan derajat kamu diakhirat”. (Hr. Ath-Thahawi).
    .
  10. Allah akan munculkan hamba-hambanya yang menolak perbuatan bid’ah
    .
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    .
    ﻣﺎ ﻇﻬﺮﺍﻫﻞ ﺍﺑﺪﻋﺔ ﺍﻟﺎ ﺍﻇﻬﺮﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻬﻢ ﺣﺠﺘﻪ ﻋﻠﻰﻟﺴﺎﻥ ﻣﻦ ﻳﺸﺎﺀ ﻣﻦ ﺧﻠﻘﻪ
    .
    “Tidak muncul ahli bid’ah, melainkan dimunculkan pula oleh Allah kepada mereka itu seorang dari hamba-hamba-Nya, menegakkan hujjah serta dalil untuk menolak bid’ah tersebut”. (Hr. Hakim).
    .
  11. Di antara tanda kiamat adalah diambilnya ilmu dari ahli bid’ah
    .
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    .
    إِنَّ مِنْ أَشْرِاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ
    .
    “Sesungguhnya diantara tanda hari Kiamat adalah, ilmu diambil dari orang-orang kecil (ahli bid’ah)”. (Riwayat Ibnul Mubarak, al Lalikai, dan al Khaththib al Baghdadi).
    .
  12. Allah mencegah pelaku bid’ah untuk bertaubat
    .
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
    .
    إِنَّ اللهَ حَجَزَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ
    .
    “Sesungguhnya Allah mencegah setiap pelaku bid’ah dari taubat”. (Hr. Abu Syaikh dalam Tarikh Ashbahan dan lainnya).
    .
  13. Ahli bid’ah akan diusir dari telaga al-Haud
    .
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    .
    أَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلَا هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا
    .
    “Aku akan mendahului kalian menuju telaga… sungguh, akan ada beberapa orang yang dihalau dari telagaku sebagaimana dihalaunya onta yang kesasar. Aku memanggil mereka: “Hai datanglah kemari…!”. Namun dikatakan kepadaku : “Mereka telah mengganti-ganti (ajaranmu) sepeninggalmu…”. Maka kataku : “Menjauhlah kesana… menjauhlah kesana (kalau begitu)”. (Hr. Muslim, no 249, Ibnu Majah, no. 4306, dan lainnya).
    .
  14. Allah akan menolak ibadah para pelaku bid’ah
    .
    Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
    .
    لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ صَوْمًا وَلاَ صَلاَةً وَلاَ صَدَقَةً وَلاَ حَجًّا وَلاَ عُمْرَةً وَ لاَ جِهَادًا وَلاَ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً يَخْرُجُ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا تَخْرُجُ الشَّعَرَةُ مِنَ الْعَجِين
    .
    “Allah tidak akan menerima puasanya orang yang berbuat bid’ah, tidak menerima shalatnya, tidak menerima shadaqahnya, tidak menerima hajinya, tidak menerima umrahnya, tidak menerima jihadnya, tidak menerima taubatnya, dan tidak menerima tebusannya, ia keluar dari islam sebagaimana keluarnya helai rambut dari tepung”.
    .
    .

MENCIUM DAN MENGUSAP KUBURAN

.
MENCIUM DAN MENGUSAP KUBURAN
.
Di antara bid’ah yang buruk, tapi banyak dilakukan oleh umat Islam adalah mengusap dan mencium kuburan.
.
Imam al-Munaawi rohimahullah (lhr, 952 H/1545 M) berkata, Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda -:
.
كنت نهيتكم عن زيارة القبور. لحدثان عهدكم بالكفر وأما الآن حيث انمحت آثار الجاهلية واستحكم الإسلام وصرتم أهل يقين وتقوى (فزوروا القبور) أي بشرط أن لا يقترن بذلك تمسح بالقبر أو تقبيل أو سجود عليه أو نحو ذلك فإنه كما قال السبكي بدعة منكرة إنما يفعلها الجهال
.
“Aku pernah melarang kalian dari ziaroh kuburan”, karena kalian baru saja meninggalkan kekufuran. Adapun sekarang ketika telah hilang sisa-sisa jahiliyah dan telah kokoh Islam dan jadilah kalian orang-orang yang yakin dan takwa (maka ziarahilah kuburan), yaitu dengan syarat tidak disertai dengan mengusap kuburan atau mencium kuburan atau sujud di atasnya atau yang semisalnya, karena hal itu – sebagaimana perkataan As-Subkiy – adalah bid’ah yang mungkar, hanyalah orang-orang jahil (bodoh) yang melakukannya”. (Faidhul Qodiir 5/55, lihat juga At-Taisiir bi syarh Al-Jaami’ As-Shoghiir, 2/439).
.
.


Akibat Buruk dan Bahayanya Perbuatan Bid’ah

.
AKIBAT BURUK DAN BAHAYANYA PERBUATAN BID’AH
.
Sungguh besar keburukan dan bahayanya yang diakibatkan dari melakukan amalan-amalan bid’ah.
.
Berikut akibat buruk dan bahayanya yang diakibatkan dari perbuatan bid’ah :
.
1. Amalan bid’ah ditolak.
.
Setiap orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala tentunya dengan harapan ibadahnya dapat diterima. Maka sangat rugi apabila kita mengerjakan amalan-amalan bid’ah, karena segala macam amalan bid’ah ditolak, artinya tidak diterima.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
.
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ
.
“Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perkara di dalam urusan (agama) kami ini yang tidak ada dasar di dalamnya, maka amal itu tertolak”. (Hr. Bukhari, dan Muslim).
.
2. Amalan-amalan bid’ah menimbulkan perpecahan dan permusuhan di antara umat Islam.
.
Perpecahan dan permusuhan sepanjang masa di antara sesama umat Islam bahkan sampai terjadi pertumpahan darah juga karena timbulnya kebid’ahan di tengah-tengah umat.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَلَا تَتَّبِعُوۡا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ وَصّٰٮكُمۡ بِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ‏
.
“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain karena itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya”. (Qs. Al-An’am, 153).
.
Yang dimaksud jalan-jalan lain dalam ayat di atas yang akan mencerai beraikan umat dari jalan Allah yaitu, macam-macam bid’ah dan syubhat. Sebagaimana diterangkan oleh Imam Mujahid rahimahullah dalam tafsirnya, Beliau berkata : “Jalan-jalan dengan aneka macam bid’ah dan syubhat”. (Jami’ul Bayan V/88).
.
Imam Asy-Syatibi rahimahullaahu ta’ala (lhr, 720 – wft, 790 H) berkata : “Semua bukti dan dalil ini menunjukkan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan”. (Al- I’tisham, I/157).
.
3. Agama Islam akan mengalami kerusakan bahkan punah sebagaimana agama-agama terdahulu.
.
Seandainya tidak ada para Ulama yang mengingkari amalan-amalan bid’ah, maka agama Islam bisa rusak bahkan punah sebagaimana agama-agama terdahulu yang dibawa para Rasul.
.
Dr. Yusuf Qordhowi berkata : ”Apabila bid’ah dapat dibenarkan dalam Islam maka bukan tidak mungkin bila kemudian Islam akan menjadi agama yang sama dengan agama-agama sebelumnya, yang ahli-ahli agamanya menambahkan hal-hal baru dalam agamanya dengan hawa nafsunya sehingga pada akhirnya agama tersebut berubah sama sekali dari yang aslinya”. (Dr. Yusuf Qordhowi, As Sunnah wal Bid’ah).
.
4. Dilaknat Allah.
.
Amalan bid’ah yang dikerjakan bukannya mendatangkan pahala, tapi justru mendatangkan laknat Allah, laknat para Malaikat, dan laknat manusia seluruhnya.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
مَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
.
“Barangsiapa yang berbuat bid’ah atau melindungi/membantu pelaku bid’ah, maka baginya laknat Allah, para Malaikat-Nya, dan seluruh manusia”. (Hr. Bukhari, dan Muslim).
.
5. Pelaku bid’ah akan semakin jauh dari Allah.
.
Tujuan dari ibadah adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala (taqorrub ilallah). Namun dengan berbuat bid’ah justru malah sebaliknya akan menjadikan jauh dari Allah Ta’ala.
.
Ayyub As-Sikhtiyani, salah seorang tokoh Tabi’in, mengatakan :
.
مَا ازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اِجْتِهَاداً، إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً.
.
“Semakin giat pelaku bid’ah dalam beribadah, semakin jauh pula ia dari Allah”. (Hilyatul Auliya’, 1/392).
.
6. Pelaku bid’ah akan menanggung dosa orang yang mengikutinya.
.
Kecelaka’an lainnya dari para pelaku bid’ah adalah dibebankannya kepada mereka sebagian dari dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ
.
“(Ucapan mereka) Menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari Kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan)”. (Qs. an-Nahl: 25).
.
Allah Ta’ala juga berfirman :
.
وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالا مَعَ أَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ
.
“Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan”. (Qs. al-Ankabut: 13).
.
Imam Mujahid berkata : “Mereka memikul beban-beban dosa mereka, dan dosa-dosa orang yang menta’ati (mengikuti) mereka, dan hal itu tidak meringankan siksa terhadap orang yang menta’ati (mengikuti) mereka”. (Tafsir Ibnu Katsir, Qs. al-Ankabut: 13).
.
Ayat-ayat di atas ditujukan kepada orang-orang kafir namun hakekatnya ditujukan kepada siapapun secara umum, yaitu mereka yang menyesatkan manusia, maka akan menanggung sebagian dari dosa-dosa orang-orang yang disesatkannya.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مثلُ آثَامِ مَنِ اتَّبَعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ من آثامهم شيئًا
.
“Dan barang siapa yang menyeru kepada kesesatan, dia akan mendapatkan dosanya semisal dengan dosa orang-orang yang mengikuti jejaknya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun”. (Hr. Muslim, no. 1017).
.
7. Perbuatan bid’ah lebih dicintai iblis daripada maksiat.
.
Imam Sufyan Ats-Tsaury rahimahullah (wft. 161 H) berkata :
.
اَلْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ
.
“Perbuatan bid’ah lebih dicintai oleh iblis daripada kemaksiatan”. (Riwayat al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, no. 238).
.
Yang menyebabkan iblis mencintai perbuatan bid’ah daripada perbuatan maksiat adalah karena pelaku bid’ah sulit untuk bertobat.
.
Imam Sufyan Ats-Tsaury rahimahullah berkata :
.
وَالْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا وَالْبِدْعَةُ لاَ يُتَابُ مِنْهَا
.
“Dan pelaku kemaksiatan masih mungkin ia untuk bertaubat dari kemaksiatannya, sedangkan pelaku kebid’ahan sulit untuk bertaubat dari kebid’ahannya”. (Riwayat al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, no. 238).
.
8. Pelaku bid’ah sulit untuk bertobat.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
إِنَّ اللهَ حَجَزَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ
.
“Sesungguhnya Allah mencegah setiap pelaku bid’ah dari taubat”. (Hr. Abu Syaikh dalam Tarikh Ashbahan, dan lainnya).
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ وَاللَّهِ يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ لَئِنْ لَمْ تَقُومُوا بِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَغَيْرُكُمْ مِنْ النَّاسِ أَحْرَى أَنْ لَا يَقُومَ بِهِ
.
“Nanti akan muncul pada umatku sekelompok orang yang kerasukan bid’ah dan hawa nafsu sebagaimana anjing kerasukan rabies, tak tersisa satu pun dari urat dan sendinya melainkan telah kerasukan”. (Hr. Abu Dawud, no. 4597).
.
Para pelaku bid’ah digambarkan dalam hadits di atas seperti anjing yang terkena penyakit rabies. Maksudnya sangat sulit anjing yang terkena penyakit rabies tersebut untuk disembuhkan.
.
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berkata : “Ahlul bid’ah tidak akan bertaubat selama ia menilai bahwa itu merupakan amalan yang baik. Karena taubat berpijak dari adanya kesadaran bahwa perbuatan yang dilakukan itu buruk. Sehingga dengan itu ia bisa bertaubat darinya. Jadi, selama perbuatan itu dianggap baik padahal pada hakikatnya jelek, maka ia tidak akan bertaubat dari perbuatan tersebut. Akan tetapi taubat adalah sesuatu yang mungkin (dilakukan) dan terjadi, yaitu jika Allah Subhanahu wata’ala memberikan hidayah dan bimbingan kepadanya hingga ia dapat mengetahui kebenaran”. (At Tuhfatul Iraqiyyah, Syaikhul Islam ibnu Taimiyah).
.
Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata : ”Rujuknya ahli bid’ah dari kesesatannya adalah hal yang paling sulit bagi mereka, karena mereka menganggap bahwa bid’ah yang mereka lakukan adalah bagian dari agama, mereka bertaqarrub kepada Allah dengan bid’ah tersebut. Ini yang mendorong mereka sulit bertaubat, menentang dan bahkan sombong”. (Fadhilatus Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali-Twit Ulama).
.
Bagaimana para pelaku bid’ah punya keinginan untuk bertaubat, sementara bid’ah-bid’ah yang dilakukannya diyakini sebagai ibadah.
.
9. Pelaku bid’ah dikhawatirkan akan mati dalam keada’an Suu’ul Khotimah.
.
Ketika seorang manusia meninggal dunia, sangat penting baginya mati dalam keada’an baik (husnul khotimah). Dan apabila sebaliknya, yaitu mati dalam keada’an buruk, sedang bermaksiat kepada Allah Ta’ala (suu’ul khotimah) maka kecelaka’an yang akan menimpa baginya.
.
Para pelaku bid’ah adalah orang-orang yang bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Mereka seolah-olah merasa tidak puas dengan syari’at yang sudah ditetapkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, padahal agama Islam sudah sempurna. Sehingga mereka membuat cara-cara baru dalam ibadah yang tidak pernah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya ajarkan. Dan mereka menganggap segala macam yang mereka ada-adakannya sebagai bentuk sarana mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala (taqorrub ilallah). Maka sangat dikhawatirkan bagi mereka mati dalam keada’an sedang bermaksiat (suu’ul khotimah) yaitu menyelisihi Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
.
10. Pelaku bid’ah dikhawatirkan terjerumus ke dalam kekafiran.
.
Para ulama dari dahulu sampai sa’at ini berbeda pendapat tentang kafir tidaknya sejumlah firqah ahlul bid’ah, seperti khawarij, qadariyyah dan yang lainnya. Hal ini didukung oleh dhahir ayat yang berbunyi :
.
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
.
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka”. (Qs. al-An’am: 159).
.
Di antara para ulama ada yang jelas-jelas mengkafirkan firqah bid’ah tertentu seperti batiniyyah dan yang lainnya. Jika ada ulama yang berselisih tentang suatu perkara, apakah ia dihukumi kafir atau tidak ?. Tentunya setiap orang yang berakal akan merinding untuk ditempatkan di persimpangan yang sarat marabahaya seperti ini. Siapa yang rela kalau ada orang yang mengatakan kepadanya : “Sesungguhnya para ulama berselisih pendapat mengenaimu; apakah kamu telah kafir, atau sekedar sesat ?”. Atau yang mengatakan : “Sesungguhnya ada sebagian ulama yang mengkafirkan kamu dan menganggap darahmu halal…?!”. Tentunya tak seorang pun mau dikatakan seperti itu. (Mukhtasar Al I’tisham, hal 38).
.
11. Wajah pelaku bid’ah akan menghitam pada hari kiamat.
.
Wajah umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kelak di hari Kiamat akan putih berseri-seri. Namun tidak demikian dengan wajah para pelaku bid’ah, wajah mereka hitam legam.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ
.
“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula yang hitam muram”. (Qs. Ali ‘Imran: 106).
.
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan ayat ini dengan mengatakan,
.
يَعْنِي: يَوْمَ الْقِيَامَةَ، حِيْنَ تَبْيَضُّ وُجُوْهُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَتَسْوَدُّ وُجُوْهُ أَهْلِ الْبِدْعَةِ وَالُفُرُقَة
.
“Yaitu : hari Kiamat, ketika wajah ahlus sunnah wal jama’ah putih berseri, sedangkan wajah ahlul bid’ah wal furqah hitam legam”. (Tafsir Ibnu Katsier, 2/92. Oleh Abul Fida’ Ibnu Katsier, tahqiq: DR. Sami Muhammad Salamah, cet.2, th. 1420/1999, Daarut Taybah).
.
12. Pelaku bid’ah terhalang untuk mendapatkan syafa’at.
.
Pada sa’at menghadapi beratnya keada’an di hari KK.iamat nanti, semua manusia membutuhkan syafa’at untuk menghilangkan penderita’an. Namun celaka bagi para pelaku bid’ah, mereka justru akan diusir dan tidak akan mendapatkan syafa’at.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
أَلَا وَإِنَّ أَوَّلَ الْخَلَائِقِ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام أَلَا وَإِنَّهُ سَيُجَاءُ بِرِجَالٍ مِنْ أُمَّتِي فَيُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِي. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
.
“Sesungguhnya manusia pertama yang diberi pakaian pada hari Kiamat ialah Ibrahim ‘alaihis salam. Ingatlah, bahwa nanti akan ada sekelompok umatku yang dihalau ke sebelah kiri, maka kutanyakan : Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku ?. Akan tetapi jawabannya ialah : Kamu tidak tahu yang mereka ada-adakan sepeninggalmu”. (Muttafaq ‘Alaih).
.
13. Pelaku bid’ah akan diusir dari telaga al-Haud pada hari Kiamat.
.
Pada hari Kiamat manusia akan digiring dan dikumpulkan di Mauqif (padang mahsyar). Sa’at itu manusia mengalami penderita’an yang berat sesuai dengan amal buruk yang mereka lakukan di dunia. Pada sa’at itu Allah Ta’ala menyediakan telaga (al-Haudh) kepada setiap para Nabi supaya umatnya bisa minum dari setiap telaga tersebut untuk menghilangkan penderita’an mereka.
.
Telaga yang diperuntukkan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam airnya lebih putih daripada susu, lebih manis dari madu, lebih harum daripada minyak kesturi, panjang dan lebarnya sejauh perjalanan sebulan, bejana-bejananya seindah dan sebanyak bintang di langit. Maka kaum Mukminin dari umat beliau akan meminum seteguk air dari al-Haudh (telaga) ini, maka ia tidak akan merasa haus lagi setelah itu selamanya.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرٍو قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلاَ يَظْمَأُ أَبَدًا
.
“Airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dibandingkan minyak misik. Bejananya bagaikan bintang-bintang di langit. Barang siapa minum darinya; niscaya ia tidak akan pernah merasa dahaga selamanya”. (Hr. Bukhari, no: 7579, dan Muslim, no: 2292).
.
Itulah telaga (al-Haud) yang diperuntukkan untuk umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ternyata tidak semua umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat minum di telaga tersebut. Ada sebagian dari umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang justru akan diusir supaya menjauh. Di antara mereka yang diusir adalah para pelaku bid’ah.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
أَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلَا هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا
.
“Aku akan mendahului kalian menuju telaga. Sungguh, akan ada beberapa orang yang dihalau dari telagaku sebagaimana dihalaunya onta yang kesasar. Aku memanggil mereka : “Hai datanglah kemari…!”. Namun dikatakan kepadaku : “Mereka telah mengganti-ganti (ajaranmu) sepeninggalmu”. Maka kataku : “Menjauhlah kesana… menjauhlah kesana (kalau begitu)”. (Hr. Muslim, no. 249, Ibnu Majah, no. 4306).
.
Begitulah keada’an mereka para pelaku bid’ah di Padang Mahsyar. Sa’at mereka menderita menahan dahaga, dan ketika hendak minum dari Telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka dihalau seperti unta.
.
14. Amalan bid’ah menjadikan pelakunya mendapatkan siksa Neraka.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
.
“Sesungguhnya sebaik-baik perkata’an adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat”. (Hr. Muslim).
.
Dalam riwayat An Nasa’i Rasulullah bersabda :
.
وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ
.
“Setiap kesesatan tempatnya di Neraka”. (Hr. An Nasa’i, 1578).
.
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata :
.
إِنَّ أَصْدَقَ القيل قيل الله و إِنَّ أَصْدَقَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّد و إِنَّ شَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، ألا و إِنَّ كل مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
.
“Sesungguhnya perkata’an yang paling benar adalah firman Alloh, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wasalam, dan sesungguhnya seburuk-buruk perkara adalah yang dibuat-buat (dalam agama). Ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap perkara yang dibuat-buat (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan dan setiap kesesatan itu tempatnya di Neraka”. (Hr. Ibnul Wudhah dalam al Bida’, hal. 31, dan al Laalikaa’iy, hadits no. 100, 1/84).
.
Demikian, semoga bermanfaat.
.
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah
.
.
_____________

AHLUS SUNNAH BERGEMBIRA DENGAN KEMATIAN TOKOH AHLI BID’AH

.
AHLUS SUNNAH BERGEMBIRA DENGAN KEMATIAN TOKOH AHLI BID’AH
.
إن المسلم الحق كما يحزن لموت العلماء والدعاة إلى الله
.
Seorang muslim sejati itu merasa sedih dengan wafatnya para ulama dan dai.
.
يفرح بهلاك أهل البدع والضلال، خاصة إن كانوا رؤوساً ورموزاً ومنظرين،
.
Demikian pula, muslim sejati merasa gembira dengan matinya ahli bid’ah dan orang sesat terutama jika dia adalah tokoh, icon dan aktor intelektual dari sebuah kesesatan.
.
يفرح لأن بهلاكهم تُكسر أقلامُهم، وتُحسر أفكارُهم التي يلبِّسون بها على الناس
.
Muslim sejati merasa gembira karena dengan meninggalnya mereka, tulisan dan pemikiran sesat orang tersebut yang menyesatkan banyak orang berhenti.
.
ولم يكن السلف يقتصرون على التحذير من أمثال هؤلاء وهم أحياء فقط، فإذا ماتوا ترحموا عليهم وبكوا على فراقهم
.
Para ulama salaf tidak hanya mengingatkan bahaya para tokoh kesesatan ketika mereka hidup, lalu ketika mereka mati lantas kita memohonkan rahmat Allah untuk mereka bahkan menangisi kepergian mereka.
.
بل كانوا يبيِّنون حالهم بعد موتهم، ويُظهرون الفرح بهلاكهم، ويبشر بعضهم بعضاً بذلك
.
Teladan para salaf adalah mereka menjelaskan kesesatan orang tersebut meski orang tersebut sudah mati. Salaf menampakkan rasa gembira dengan matinya tokoh kesesatan bahkan mereka saling menyampaikan berita gembira dengan matinya tokoh kesesatan.
.
ففي صحيح البخاري ومسلم يقول صلى الله عليه وسلم عن موت أمثال هؤلاء: “يستريح منه العباد والبلاد والشجر والدواب”
.
Dalam shahih Bukhari dan Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai kematian tokoh kesesatan : “Kematiannya menyebabkan manusia, tanah, pohon dan hewan merasa nyaman”.
.
فكيف لا يفرح المسلم بموت من آذى وأفسد العباد والبلاد
.
Bagaimana mungkin seorang muslim tidak merasa gembira dengan matinya seorang yang mengganggu dan merusak pemikiran banyak manusia dan merusak alam semesta.
.
لذلك لما جاء خبر موت المريسي الضال وبشر بن الحارث في السوق قال: لولا أنه كان موضع شهرة لكان موضع شكر وسجود، والحمد لله الذي أماته،..(تاريخ بغداد: 7/66) (لسان الميزان: 2/308)
.
Oleh karena itu ketika terdengar berita mengenai matinya Bisyr al Marisi saat Bisyr bin al Harits berada di pasar beliau berkomentar, “Seandainya berita ini bukanlah berita yang tersebar luas, tentu saja berita ini adalah berita yang perlu ditanggapi dengan kalimat syukur bahkan sujud syukur. Segala puji milik Allah yang telah mematikannya”. (Tarikh Baghdad 7/66 dan Lisan al Mizan 2/308).
.
وقيل للإمام أحمد بن حنبل: الرجل يفرح بما ينزل بأصحاب ابن أبي دؤاد، عليه في ذلك إثم؟ قال: ومن لا يفرح بهذا؟!.
.
Ada seorang yang bertanya kepada Imam Ahmad, “Apakah berdosa jika seorang itu merasa gembira dengan musibah yang menimpa para pengikut Ibn Abi Duad (tokoh Mu’tazilah) ?”. Jawaban Imam Ahmad, “Siapa yang tidak gembira dengan hal tersebut ?!”. (As-Sunnah, karya al Khallal 5/121).
.
وقال سلمة بن شبيب: كنت عند عبد الرزاق -يعني الصنعاني-، فجاءنا موت عبد المجيد، فقال: الحمد لله الذي أراح أُمة محمد من عبد المجيد.
.
Salamah bin Syubaib mengatakan, “Suatu hari aku berada di dekat Abdur Razzaq ash Shan’ani lalu kami mendapatkan berita kematian Abdul Majid”. Abdur Razzaq ash Shan’ani lantas menanggapi, “Segala puji milik Allah yang telah membuat nyaman umat Muhammad dari gangguan Abdul Majid”. (Siyar A’lam an-Nubala’, 9/435).
.
وعبد المجيد هذا هو ابن عبدالعزيز بن أبي رواد، وكان رأساً في الإرجاء
.
Abdul Majid yang dimaksudkan dalam hal ini adalah Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abu Rawad yang merupakan tokoh besar sekte Murjiah.
.
ولما جاء نعي وهب القرشي – وكان ضالاً مضلاً – لعبد الرحمن بن مهدي قال: الحمد لله الذي أراح المسلمين منه.
.
Ketika Abdurrahman bin Mahdi mendengar berita kematian Wahb al-Qurasyi, salah seorang tokoh kesesatan, beliau berkomentar, “Segala puji milik Allah yang telah membuat nyaman kaum muslimin dari gangguannya”. (Lisan al Mizan 8/402).
.
وقال الحافظ ابن كثير في البداية والنهاية ١٢/٣٣٨. عن أحد رؤوس أهل البدع: أراح الله المسلمين منه في هذه السنة في ذي الحجة منها، ودفن بداره، ثم نقل إلى مقابر قريش فلله الحمد والمنة، وحين مات فرح أهل السنة بموته فرحاً شديداً، وأظهروا الشكر لله، فلا تجد أحداً منهم إلا يحمد الله.
.
Berkata Ibnu Katsir dalam Kitab al Bidayah wan Nihayah 12/338, mengenai salah seorang tokoh ahli bidah, “Allah telah membuat kaum muslimin nyaman dari gangguannya pada tahun ini tepatnya pada bulan Dzulhijjah dan dimakamkan di dalam rumahnya lantas dipindah ke pekuburan Quraisy. Hanya milik Allah segala puji dan anugrah. Di hari kematiannya ahlu sunnah merasa sangat gembira. Ahli sunnah menampakkan rasa syukur mereka kepada Allah. Tidaklah anda jumpai seorang pun ahlu sunnah pada hari tersebut melainkan memuji Allah”.
.
هكذا كان موقف السلف رحمهم الله عندما يسمعون بموت رأسٍ من رؤوس أهل البدع والضلال،
.
Demikianlah sikap salaf saat mendengar kabar kematian salah seorang tokoh ahli bidah dan tokoh kesesatan.
.
وقد يحتج بعض الناس بما نقله الحافظ ابن القيم في (مدارج السالكين، ٢/٣٤٥) عن موقف شيخه شيخ الإسلام ابن تيمية من خصومه حيث قال: (وجئت يوماً مبشراً له بموت أكبر أعدائه وأشدهم عداوة وأذى له، فنهرني وتنكَّر لي واسترجع، ثم قام من فوره إلى بيت أهله فعزاهم وقال: إني لكم مكانه …)
.
Sebagian orang tidak sepakat dengan hal di atas lalu beralasan dengan pernyataan Ibnul Qayyim di Madarijus Salikin 2/345, menceritakan sikap gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah terhadap musuhnya. Ibnul Qayyim mengatakan, “Suatu hari aku datang menemui Ibnu Taimiyyah untuk menyampaikan berita kematian musuh terbesar beliau, seorang yang paling memusuhi dan suka menyakiti beliau. Beliau membentakku dan menyalahkan tindakanku. Beliau mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un kemudian segera berdiri menuju rumah keluarga orang tersebut lalu menyampaikan bela sungkawa dan mengatakan, ‘Aku adalah pengganti perannya’.
.
ومن تأمل ذلك وجد أنه لا تعارض بين الأمرين فمن سماحة شيخ الإسلام ابن تيمية أنه لا ينتقم لنفسه ولذلك عندما أتاه تلميذه يبشره بموت أحد خصومه وأشدهم عداوة وأذى له= نهره وأنكر عليه، فالتلميذ إنما أبدى لشيخه فرحه بموت خصمٍ من خصومه لا فرحه بموته لكونه أحد رؤوس البدع والضلال.
.
Siapa saja yang merenungkan dua sikap ahli sunnah di atas pasti akan berkesimpulan bahwa tidak ada pertentangan di antara keduanya. Di antara sikap besar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah tidak ingin balas dendam. Oleh karena itu ketika murid beliau menyampaikan kabar gembira akan matinya salah seorang musuh beliau, seorang yang sangat keras permusuhan dan gangguannya terhadap beliau, beliau membentaknya dan menyalahkan tindakannya. Si murid hanya menampakkan di depan gurunya rasa gembira karena matinya salah satu musuh beliau, bukan gembira karena meninggalnya salah seorang tokoh ahli bidah dan tokoh kesesatan.
.
.
Sumber :
.
http://www.dorar.net/art/492
. http://ustadzaris.com/matinya-tokoh-kesesatan
.
.
_____