CELA’AN IMAM FUDHAIL BIN IYADH TERHADAP PELAKU BID’AH

CELA’AN IMAM FUDHAIL BIN IYADH TERHADAP PARA PELAKU BID’AH
.
Berikut beberapa perkata’an salah seorang Ulama besar dari kalangan tabi’ut tabi’in, yakni Fudhail bin Iyadh rahimahullah yang sangat mencela ahli bid’ah dan para pengikutnya.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
مَنْ أَحَبَّ صَاحِبَ بِدْعَةٍ أَحْبَطَ اللهُ عَمَلُهُ , وَأَخْرَجَ نُورَ الْإِسْلَامِ مِنْ قَلْبِهِ
.
“Barangsiapa yang mencintai ahli bid’ah maka Allah telah membatalkan amalannya, dan Allah telah mengeluarkan cahaya islam dari hatinya”
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
إِذَا رَأَيْتَ مُبْتَدِعًا فِي طَرِيقٍ فَخُذْ فِي طَرِيقٍ آخَرَ
.
“Jika kamu melihat seorang pelaku bid’ah sedang berada dalam suatu jalan, maka carilah jalan yang lain”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
لَا يَرْتَفِعُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَمَلٌ
.
“Amal perbuatan ahli bidah tidak akan naik menuju Allah azza wa jalla”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
مَنْ أَعَانَ صَاحِبَ بِدْعَةٍ فَقَدْ أَعَانَ عَلَى هَدْمِ الْإِسْلَامِ
.
“Barangsiapa yang menolong ahli bid’ah maka dia telah menolongnya untuk menghancurkan islam”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
نَظَرَ الْمُؤْمِنُ إِلَى الْمُؤْمِنِ جَلَاءُ الْقَلْبِ , وَنَظَرُ الرَّجُلِ إِلَى صَاحِبِ الْبِدْعَةِ يُورِثُ الْعَمَى
.
“Seorang mu’min melihat mu’min lainnya maka itu adalah cahaya hati, dan seseorang melihat kepada ahli bid’ah maka akan mewariskan kebutaan”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
إِنِّي أُحِبُ مَنْ أُحَبَّهُمُ اللهُ وَهُمُ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُبْغِضُ مَنْ أَبْغَضَهُ اللهُ وَهُمْ أَصْحَابُ الْأَهْوَاءِ وَالْبِدَعِ
.
“Sesungguhnya aku mencintai orang-orang yang Allah cintai dan mereka adalah pengikut nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan aku membenci seseorang yang Allah benci dan mereka adalah pengikut hawa nafsu dan bid’ah”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
لَأَنْ آكُلَ عِنْدَ الْيَهُودِيِّ وَالنَّصْرَانِيِّ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ آكُلُ عِنْدَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ فَإِنِّي إِذَا أَكَلْتُ عِنْدَهُمَا لَا يُقْتَدَى بِي وَإِذَا أَكَلْتُ عِنْدَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ اقْتَدَى بِي النَّاسُ
.
“Makan berasama orang yahudi dan nashrani lebih aku cintai daripada makan bersama para pelaku bid’ah. Karena jika aku makan disisi yahudi dan nashrani, maka manusia jelas tidak akan mengikutiku. Dan jika aku makan bersama pelaku bid’ah maka manusia bisa mengikutiku”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
أُحِبُ أَنْ يَكُونَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حِصْنٌ مِنْ حَدِيدٍ
.
“Aku mencintai jika antara aku dan ahli bid’ah sebuah benteng dari besi”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
وَعَمَلٌ قَلِيلٌ فِي سُنَّةٍ خَيْرٌ مِنْ عَمِلِ صَاحِبِ بِدْعَةٍ
.
“Dan amalan yang sedikit tapi berada dalam koridor sunnah lebih baik dari pada amalan ahli bid’ah”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
وَمَنْ جَلَسَ مَعَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ لَمْ يُعْطَ الْحِكْمَةَ وَمَنْ جَلَسَ إِلَى صَاحِبِ بِدْعَةٍ فَاحْذَرْهُ
.
“Dan barangsiapa yang bermajlis bersama ahli bid’ah maka Allah tidak akan memberinya hikmah, dan barangsiapa yang bermqjlis bersama ahli bid’ah maka ingatilah dia”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
وَصَاحِبُ بِدْعَةٍ لَا تَأْمَنُهُ عَلَى دِينِكَ وَلَا تُشَاوَرْهُ فِي أَمْرِكَ وَلَا تَجْلِسْ إِلَيْهِ, فَمَنْ جَلَسَ إِلَيْهِ وَرَّثَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الْعَمَى
.
“Dan ahli bid’ah, maka kamu jangan merasa aman dengannya terhadap agamamu, dan janganlah kamu bermusyawarah dengannya dalam ursanmu, dan janganlah kamu bermajlis kepadanya, dan barangsiapa yang bermajlis dengannya maka Allah akan mewarisi kebutaan untuknya”
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يَطْلُبُونَ حِلَقَ الذِّكْرِ فَانْظُرُ مَعَ مَنْ يَكُونُ مَجْلِسُكَ لَا يَكُونُ مَعَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى لَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ
.
“Sesungguhnya Allah dan para malaiktaNya mencari halaqah-halaqah (majlis) dzikir, maka lihatlah bersama siapa kamu bermajlis, janganlah majlismu bersama para pelaku bid’ah. Karena sesungguhnya Allah tidak akan melihat mereka”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
وَعَلَامَةُ النِّفَاقِ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ وَيَقْعُدَ مَعَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ. وَأَدْرَكْتُ خِيَارَ النَّاسِ كُلُّهُمْ أَصْحَابُ سُنَّةٍ وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْ أَصْحَابِ الْبِدْعَةِ
.
“Dan tanda kemunafikan adalah seseorang berdiri dan duduk bersama ahli bid’ah, dan aku mendapati sebaik-sebaik manusia dan semuanya adalah pengikut sunnah dan mereka melarang untuk mendekati para pelaku bid’ah”.
.
(Perkataan-perkataan Fudhail bin Iyadh rahimahullah di atas terdapat dalam kitab Hilyah Al Auliya’ 8/103).
.
Imam Fudhail bin Iyad adalah seorang Ulama terkemuka, zuhud, wara’, khauf (takut) dan ahli ibadah. Beliau mendapat julukan ‘Abid Al-Haramain (Hamba yang tekun beribadah di Haram Makkah dan Haram Madinah). Berkat ketekunanya menjalankan ibadah, maka beliau mampu menuturkan bahasa hikmah dan mampu menjelaskan pesan-pesan teks agama ini. Beliau hidup semasa dengan Imam Malik.
.
.
sumber : http://www.alamiry.net/2014/02/fudhail-bin-iyadh-seorang-ulama-besar_10.html/
.
.
___________________

Iklan

KELOMPOK BID’AH YANG PERTAMA KALI MUNCUL DI TENGAH-TENGAH UMAT ISLAM

KELOMPOK BID’AH YANG PERTAMA KALI MUNCUL DI TENGAH-TENGAH UMAT ISLAM
.
Sebagaimana umat-umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap kali mereka di tinggal wafat oleh Rasul yang di utus kepada mereka, maka kemudian mereka mengada-adakan perkara-perkara baru dalam urusan ibadah.
.
Umat Nabi Nuh ‘alaihis salam berbuat bid’ah dengan membuat patung wadd, suwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr yang tujuan awalnya menurut anggapan mereka baik, untuk mengenang orang-orang saleh supaya tidak melupakan kesalehan mereka yang kemudian oleh generasi selanjutnya patung-patung tersebut di sembah.
.
Umat Nabi Musa ‘alaihis salam berbuat bid’ah dengan membuat patung anak lembu yang menjadikan mereka sesat, sebagaimana di sebutkan dalam Al-Qur’an,
.
وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَى مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلا يَهْدِيهِمْ سَبِيلا اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ
.
“Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke Gunung Tur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka ?. Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-A’raf, 148).
.
Umat Nabi Isa ‘alaihis salam membuat rahbaniyah (kerahiban) yang mana Nabi Isa ‘alaihis salam tidak mengajarkannya. Perbuatan bid’ah yang di lakukan umat Nabi Isa tersebut di sebutkan dalam Al-Qur’an yang artinya, “Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah (kerahiban) padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhoan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemelihara’an yang semestinya”. (QS. Al-Hadid: 27).
.
Kaum Qurais, kaumnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada mulanya adalah pengikut ajaran Tauhid yang di bawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Namun akhirnya mereka pun menjadi umat yang sesat, karena segala macam bid’ah yang mereka lakukan. Lalu Allah Ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengembalikan mereka kepada ajaran yang benar.
.
Itulah bid’ah-bid’ah yang di lakukan umat-umat terdahulu sebelum di utusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kebid’ahan mereka itulah yang menjadikan agama terdahulu pada akhirnya mengalami penyimpangan (distorsi). Yang semula sebagai agama Tauhid akhirnya berubah menjadi agama penyembah berhala (pagan).
.
Membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah), tidak saja di lakukan oleh umat-umat terdahulu, tapi ternyata juga di lakukan oleh umat Islam. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
.
“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).
.
Walaupun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan umatnya untuk tidak melakukan kebid’ahan, tapi faktanya dapat kita saksikan, aneka macam bid’ah merebak di tengah-tengah umat.
.
Dan bid’ah yang pertama kali di lakukan umat Islam, ternyata muncul ketika para Sahabat masih hidup, yang di lakukan oleh sekolompok orang yang mengadakan dzikir berjama’ah yang di pimpin oleh seorang syaikh yang mendapatkan teguran dari Abullah bin Mas’ud.
.
Imaam Ad-Daarimi dalam sunannya, jilid 1 halaman 68, dengan sanad dari al-Hakam bin al-Mubarak dari ‘Amr bin Yahya dari ayahnya dari datuknya (Amr bin Salamah) meriwayatkan, Abu Musa Al As’ari radhiyallahu ‘anhu, di riwayatkan memasuki masjid Kufah, lalu di dapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling). Pada setiap halaqah terdapat seorang syaikh, dan di depan mereka ada tumpukan kerikil, lalu syaikh tersebut menyuruh mereka,
.
كَبِّرُوا مِئَةً، فَيُكَبِّرُوْنَ مِئَةً، فَيَقُوْلُ: هَلِّلُوا مِئَةً، فَيُهَلِّلُونَ مِئَةً، فَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِئَةً، فَيُسَبِّحُونَ مِئَةً
.
“Bertakbirlah seratus kali !” Lalu mereka pun bertakbir seratus kali (menghitung dengan kerikil). Lalu syaikh itu berkata lagi, “Bertahlil” seratus kali” Dan mereka pun bertahlil seratus kali, kemudian syaikh itu berkata lagi, “bertasbih seratus kali”, lalu mereka pun bertasbih seratus kali.
.
Ibnu Mas’ud bertanya :
.
فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ ؟َ
.
Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka ?
.
Abu Musa menjawab :
.
مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتِظَارَ أَمْرِكَ
.
Aku tidak berkata apa-apa hingga aku menunggu apa yang akan engkau katakan atau perintahkan.
.
Ibnu Mas’ud berkata :
.
أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ، وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِهِم
.
Tidakkah engkau katakan kepada mereka agar mereka menghitung kesalahan mereka dan kamu jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan disia-siakan.
.
ثَمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلَقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ
.
Lalu Ibnu Mas’ud berlalu menuju masjid tersebut dan kami pun mengikuti di belakangnya hingga sampai di tempat itu.
.
Ibnu Mas’ud bertanya kepada mereka :
.
فَقَالَ : مَا هَذا الَّذِيْ أَرَاكُمْ تَصْنَعُوْنَ ؟
.
Benda apa yang kalian gunakan ini ?
.
Mereka menjawab :
.
قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًا نَعُدَّ بِهِ التَّكْبِيْرَ والتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيْحَ
.
Kerikil wahai Abu ‘Abdirrahman. Kami bertakbir, bertahlil, dan bertasbih dengan mempergunakannya
.
Ibnu Mas’ud berkata :
.
فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ
.
Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sedikitpun.
.
وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتكُمْ !
.
Celaka kalian wahai umat Muhammad !, betapa cepat kebinasaan/penyimpangan yang kalian lakukan.
.
هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُوْنَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَر
.
Para shahabat Nabi kalian masih banyak yang hidup. Sementara baju beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga belum lagi usang, bejana beliau belum juga retak.
.
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ
.
Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya ! Apakah kalian merasa berada di atas agama yang lebih benar daripada agama Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ataukah kalian akan menjadi pembuka pintu kesesatan ?”
.
Mereka menjawab :
.
. قَالُوا : وَاللهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ.
.
Wahai Abu ‘Abdirrahman, kami tidaklah menghendaki kecuali kebaikan.
.
Ibnu Mas’ud menjawab :
.
وَكَمْ مِنْ مُرِيْدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ تُصِيْبَهُ
.
“BETAPA BANYAK ORANG YANG MENGHENDAKI KEBAIKAN NAMUN TIDAK MENDAPATKANNYA”.
.
إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، وَايْمُ اللهِ مَا أَدْرِيْ لَعَلَّ أَكْتَرَهُمْ مِنْكُمْ،
.
Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada kami : “Akan ada segolongan orang yang membaca Al-Qur’an, namun apa yang dibacanya itu tidak melewati kerongkongannya”. Demi Allah, aku tidak tahu, boleh jadi kebanyakan dari mereka adalah sebagian diantara kalian.
.
Itulah kelompok dari umat Islam yang pertama kali mengada-adakan perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah). Dan sampai sa’at ini kebid’ahan semakin merajalela sulit dibendung seiring dengan bermunculannya firqoh-firqoh menyimpang dan sesat yang bermunculan di tengah-tengah umat.
.
Ahli ‘bid’ah tentu saja, seribu argumen akan mereka bawa untuk membela kebid’ahannya. Mereka akan membawa banyak dalil yang di cari-cari.
.
Dzikir itu baik, di perintahkan dalam Islam, lebih baik berdzikir dari pada membuang-buang waktu dan banyak lagi alasan yang biasa mereka katakan.
.
Lalu mengapa Ibnu Mas’ud menegur mereka yang sedang mengadakan dzikir berjama’ah, bukankah apa yang mereka lakukan itu baik ?
.
Apakah Ibnu Mas’ud tidak faham jika berdzikir itu adalah perkara yang baik ?
.
Ibnu Mas’ud menegur mereka yang mengadakan dzikir berjama’ah, adalah karena dzikir dengan cara seperti itu tidak pernah di lakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Bagaimana pula sikap Ibnu Mas’ud apabila menyaksikan umat Islam sa’at ini (kaum sufi) yang mengadakan dzikir bukan saja berjama’ah tapi juga dengan loncat-loncat, berjingkrak, menari, berputar dan lainnya ?
.
Silakan di liat bagaimana kaum sufi berdzikir,
.
● Dzikir breakdance ala sufi, https://youtu.be/1RJyZGDZC9A
.
● Dzikir loncat katak ala sufi, https://youtu.be/5h6Cby1w5zE
.
Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari amalan-amalan bid’ah yang akan menjadikan pelakunya sulit untuk bertaubat.
.
.
با رك الله فيكم
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏Mąŋţяί (Pecinta meong dan pengamat prilaku orang-orang menyimpang).
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
_________

MENYIMPANG SETELAH MENDAPAT HIDAYAH

MENYIMPANG SETELAH MENDAPAT HIDAYAH

لماذا ينتكس البعض بعد استقامته على طريق الهداية ؟؟؟

Mengapa ada sebagian orang yang justru berbalik (menyimpang) setelah ia konsisten di atas jalan hidayah (bahkan sebelumnya ia mendakwahkan sunnah)…??

قيل للشيخ ابن باز :

Syaikh Bin Baz pernah ditanya :

ياشيخ، فلان انتكس

Wahai Syaikh; si fulan berbalik (menyimpang)

قال الشيخ :

Syaikh berkata :

(لعل انتكاسته من أمرين :

Boleh jadi dia berbalik menyimpang karena dua hal :

إما أنه لم يسأل الله الثبات، أو أنه لم يشكر الله على الإستقامة)

Pertama, dia mungkin tidak pernah meminta kepada Allah agar diteguhkan (di atas alhaq), atau yang kedua, ia tidak bersyukur setelah diberikan keteguhan dan keistiqomahan oleh Allah.

فحين اختارك الله لطريق هدايته

Maka tatkala Allah telah memilihmu berjalan di atas jalan hidayah-Nya,

ليس لأنك مميز أو لطاعةٍ منك

camkanlah bahwa itu bukan karena keistimewaanmu atau karena ketaatanmu,

بل هي رحمة منه شملتك

melainkan itu adalah rahmat dari-Nya yang meliputimu

قد ينزعها منك في أي لحظة

Allah bisa saja mencabut rahmat tersebut kapan saja darimu

لذلك لا تغتر بعملك ولا بعبادتك

Oleh karena itu, jangan engkau tertipu dengan amalanmu, jangan pula disilaukan oleh ibadahmu

ولا تنظر باستصغار لمن ضلّ عن سبيله

Jangan engkau memandang remeh orang yang tersesat dari jalan-Nya

فلولا رحمة الله بك لكنت مكانه

Kalau bukan karena rahmat Allah padamu, niscaya engkau akan tersesat pula, posisimu akan sama dengan orang yang tersesat itu.

أعيدوا قراءة هذه الآية بتأنٍّ

Ulang-ulang lah membaca ayat berikut ini dengan penuh penghayatan

﴿ولوﻵ أن ثبتناك لقد كدت تركن إليهم شيئا قليلا﴾

“Andai Kami tidak meneguhkanmu (wahai Muhammad ﷺ), sungguh engkau hampir-hampir saja akan sedikit condong kepada mereka (orang-orang yang tersesat itu).”

إياك أن تظن أن الثبات على الإستقامة أحد إنجازاتك الشخصية …

Jangan pernah engkau menyangka, bahwa keteguhan di atas istiqomah, merupakan salah satu hasil jerih payahmu pribadi.

تأمل قوله تعالى لسيد البشر..

Perhatikan firman Allah kepada Pemimpin segenap manusia (Muhammad ﷺ) :

“ولولا أن ثبتناك”

“Kalau bukan Kami yang meneguhkanmu (wahai Muhammad ﷺ)…”

فكيف بك !!؟

Maka apalagi engkau…!!?

نحنُ مخطئون عندما نتجاهل أذكارنا

Kita sering keliru, manakala kita melupakan dzikir-dzikir kita

نعتقد أنها شيء غير مهم وننسى

Kita menyangka bahwa dzikir-dzikir itu tidak penting, sehingga kita pun melupakannya.

بأن الله يحفظنا بها، وربما تقلب الأقدار..

Kita lupa bahwa Allah akan menjaga kita karena dzikir-dzikir tersebut. Boleh jadi takdir Allah akan berbalik.

يقول ابن القيم :

Ibnu al-Qayyim berkata :

حاجة العبد للمعوذات أشدُ من حاجته للطعام واللباس..!

Kebutuhan hamba akan doa dan dzikir (agar Allah memberikan perlindungan), melebihi kebutuhannya akan makanan dan pakaian.

داوموا على أذكاركم لتُدركوا معنى :

Maka rutinkanlah membaca doa dan dzikir kalian, agar kalian meraih apa yang dijanjikan dalam sabda Rasulullah ﷺ :

احفظ الله يحفظك..

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjaga kalian”

تحصنوا كل صباح ومساء ؛

Niscaya kalian akan mendapatkan perlindungan pagi dan petang.

فالدنيا مخيفة .. وفي جوفها مفاجأت .. والله هو الحافظ لعباده

Dunia ini benar-benar menakutkan…. di lorongnya ada banyak hal yang menyentakkan… Allah, Dialah yang Maha Menjaga hamba-hamba-Nya.

Zainal Abidin bin Syamsuddin Lc, حفظه الله تعالى

_________________

TIGA MACAM IKHTILAF

TIGA MACAM IKHTILAF

Oleh : Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu

Di antara manusia ada yang mengatakan bahwa perbedaan adalah rahmat ?

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu menjawab : Perbedaan (ikhtilaf) ada tiga macam :

1. Ikhtilaf Al-Afham (perbedaan pemahaman).

Para shababat pernah mengalami perbedaan yang seperti ini. Bahkan ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu tetap makan (sahur) hingga jelas baginya perbedaan antara benang yang putih dengan benang yang hitam. Dia menaruh di bawah bantalnya, benang putih dan benang hitam, dan tetap makan (sahur), berdasarkan apa yang dia pahami dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

ﻭﻛﻠﻮﺍ ﻭﺍﺷﺮﺑﻮﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﺘﺒﻴﻦ ﻟﻜﻢ ﺍﻟﺨﻴﻂﺍﻷﺑﻴﺾ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﻂ ﺍﻷﺳﻮﺩ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam”. (QS. Al-Baqarah: 187).

Sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan ayat :

ﻣﻦ ﺍﻟﻔﺠﺮ

“Yaitu fajar”. (QS. Al-Baqarah: 187).

Ikhtilaful afham insya Allah tidak mengapa.

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu :

ﺇﻥ ﻭﺳﺎﺩﻙ ﻟﻌﺮﻳﺾ

“Sesungguhnya bantalmu lebar.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengatakan kepadanya : “Ulangilah (puasamu) pada hari-hari yang engkau makan (sahur setelah lewatnya fajar)”.

2. Ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan/keaneka ragaman tata cara).

Yakni, diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihiwa sallam ada beberapa macam cara/ bacaan tasyahud dalam shalat, juga ada beberapa macam bacaan shalawat atas Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam.

Ikhtilaf jenis ini, kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang jahil (bodoh). Dan keadaannya memang seperti yang beliau rahimahullahu katakan, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang jahil.

3. Ikhtilaf tadhad (perbedaan kontradiktif).

Apa itu ikhtilaf tadhad ?

Yaitu seseorang menyelisihi suatu dalil yang jelas, tanpa alasan. Inilah yang di ingkari oleh para salaf, yaitu menyelisihi dalil yang shahih dan jelas tanpa alasan.

Adapun hadits yang menjadi sandaran merekaya itu :

ﺍﺧﺘﻠﺎﻑ ﺃﻣﺘﻲ ﺭﺣﻤﺔ

“Perbedaan umatku adalah rahmat”.

Ini adalah hadits yang tidak ada sanad dan matannya. Munqathi’ (terputus sanadnya). Kata As-Suyuthi rahimahullahu dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shaghir. Beliau rahimahullahu juga berkata : “Mungkin saja ada sanadnya, yang tidak kita ketahui”. Namun hal ini akan berakibat tersia-siakannya sebagian syariat, sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu. Adapun tentang matan hadits ini, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :

ﻭﻻ ﻳﺰﺍﻟﻮﻥ ﻣﺨﺘﻠﻔﻴﻦ. ﺇﻻ ﻣﻦ ﺭﺣﻢ ﺭﺑﻚ

“Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang yang dirahmati Rabbmu”. (QS.Hud: 118-119).

Mafhum dari ayat yang mulia ini, bahwa orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu waTa’ala tidaklah berselisih. Sedangkan orang-orang yang tidak dirahmati Allah Subhanahu waTa’ala akan berselisih.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Ash-Shahihain dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :

ﺫﺭﻭﻧﻲ ﻣﺎ ﺗﺮﻛﺘﻜﻢ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﺃﻫﻠﻚ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻠﻜﻢﻛﺜﺮﺓ ﻣﺴﺎﺋﻠﻬﻢ ﻭﺍﺧﺘﻠﺎﻓﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﺒﻴﺎﺋﻬﻢ

“Biarkanlah aku dan apa yang aku tinggalkan untuk kalian. Hanyalah yang membinasakan orang-orang yang sebelum kalian adalah banyaknya mereka bertanya, dan banyaknya penyelisihan terhadap nabi-nabi mereka.”

Ini merupakan dalil bahwa ikhtilaf (perselisihan/perbedaan) adalah kebinasaan, bukan rahmat.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, di mana Ibnu Mas’ud dan salah seorang temannya berselisih tentang qira`ah (bacaan Al-Qur`an) :

ﻟﺎ ﺗﺨﺘﻠﻔﻮﺍ ﻛﻤﺎ ﺍﺧﺘﻠﻒ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻠﻜﻢ ﻓﺘﻬﻠﻜﻮﺍﻛﻤﺎ ﻫﻠﻜﻮﺍ

“Janganlah kalian berselisih sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah berselisih, sehingga kalian binasa sebagaimana mereka telah binasa.

”Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Shahih Muslim dari hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu :

ﺍﺳﺘﻮﻭﺍ ﻭﻟﺎ ﺗﺨﺘﻠﻔﻮﺍ ﻓﺘﺨﺘﻠﻒ ﻗﻠﻮﺑﻜﻢ

“Luruskan (shaf kalian), dan janganlah berselisih, sehingga hati-hati kalian akan berselisih”.

Dalam sebuah riwayat :

ﻟﺎ ﺗﺨﺘﻠﻔﻮﺍ ﻓﺘﺨﺘﻠﻒ ﻭﺟﻮﻫﻜﻢ

“Janganlah kalian berselisih, sehingga akan berselisihlah wajah-wajah kalian”.

Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Sunan Abu Dawud, dari hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu, disebutkan ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat para shahabatnya berpencar. Mereka singgah disebuah lembah, lalu setiap kelompok pergi ketempat masing-masing. Maka Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda :

ﺇﻥ ﺗﻔﺮﻗﻜﻢ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ

“Sesungguhnya bercerai-berainya kalian ini adalah dari setan”.

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berkumpul. Bila hal ini (terjadi) dalam tercerai-berainya fisik, maka apa sangkaanmu terhadap tercerai-berainya hati ?

Hadits-hadits tentang hal ini banyak sekali. Saya telah mengumpulkan sebagiannya dalam tulisan pendek yang berjudul Nashihati li Ahlus Sunnah dan telah tercantum dalam Hadzihi Da’watuna wa ‘Aqidatuna. Yang saya inginkan dari penjelasan ini, bahwa ikhtilaf termasuk kebinasaan.

Hanya saja ikhtilaf yang mana ?

Yaitu ikhtilaf tadhad yang dahulu diingkari oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat. Ikhtilaf tadhad (misalnya) :

– Disebutkan dalam Shahih Muslim dari hadits Salamah ibnul Akwa’, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang makan dengan tangan kirinya. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya : “Makanlah dengan tangan kanan”. Orang itu menjawab : “Aku tidak bisa”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi : “Engkau tidak akan bisa”. Maka orang itu tidak bisa mengangkat tangannya ke mulutnya. Tidak ada yang menghalanginya kecuali kesombongan.

– Dalam Ash-Shahih dari hadits Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menjenguk seorang lelaki tua yang sedang sakit. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya : “Thahur (Sakit ini sebagai penyuci)”. Namun lelaki tua itu justru berkata : “Demam yang hebat, menimpa seorang lelaki tua, yang akan mengantarnya ke kubur”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab : “Kalau begitu, benar”. Akhirnya dia terhalangi dari barakah doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

– Juga kisah seorang laki-laki yang telah kita sebutkan. Yaitu ketika ada dua orang wanita berkelahi, lalu salah seorang memukul perut yang lain, sehingga gugurlah janinnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan agar wanita yang memukul membayar diyat berupa seorang budak. Maka datanglah Haml bin Malik An-Nabighah dan berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimana kami membayar diyat (atas kematian seseorang) yang tidak makan dan tidak minum, tidak bicara tidak pula menangis – atau kalimat yang semakna dengan ini –, yang seperti ini tidak di tuntut diyatnya”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam marah, karena lelaki itu hendak membatalkan hukum Allah dengan sajaknya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

ﺇﻧﻤﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺇﺧﻮﺍﻥ ﺍﻟﻜﻬﺎﻥ

“Orang ini termasuk teman-teman para dukun. ”Yaitu karena sajaknya. Adapun pengingkaran para ulama terhadap orang yang menolak Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan akalnya, merupakan perkara yang kesempatan ini tidaklah cukup untuk menyebutkannya.

Saya telah menyebutkan sebagiannya dalam akhir risalah Syar’iyyatu Ash-Shalati bin Ni’al, juga dalam Rudud Ahlil ‘Ilmi ‘ala Ath-Tha’inin fi HaditsAs-Sihr.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

[Diambil dari Ijabatus Sa`il, hal. 518-521].

_____________

6 PENYEBAB PERBEDA’AN PENDAPAT ULAMA

6 PENYEBAB PERBEDA’AN PENDAPAT ULAMA

Perbedaan pendapat ulama dalam menetapkan hukum syar’iyah tidak hanya terjadi antar madzhab, perbedaan pendapat ulama ini juga terjadi dalam lingkungan madzhab mereka. Banyak orang mengingkari perbedaan pendapat ulama ini, disebabkan keyakinannya yang menyatakan bahwa agama ini satu, syariat juga satu, kebenaran itu satu tidak bermacam-macam dan sumber hukum hanya satu yaitu wahyu ilahi. Selanjutnya mereka mengatakan, mengapa harus ada perbedaan pendapat, dan mengapa madzhab-madzhab fiqh tidak menyatu ?.

Mereka menyangka bahwa perbedaan pendapat ulama akan berakibat terjadinya benturan-benturan dalam syariah dan perpecahan, dan menyamakan perbedaan pendapat ini sama seperti perpecahan yang terjadi dalam tubuh agama Kristen yang terpecah menjadi Ortodoks, Katolik dan Protestan. Semuannya ini adalah kesalah pahaman yang batil.

Perlu diketahui bahwa perbedaan pendapat ulama merupakan rahmat yang memberikan kemudahan bagi umat Islam, menjadi kekayaan intelektual yang besar yang dapat dibanggakan. Perbedaan pendapat ini hanya sebatas perbedaan far’iyah (cabang) dan metode ilmiah, bukan dalam ushul, pondasi agama dan i’tikad. Dalam sejarah Islam, tidak ditemukan bahwa perbedaan pendapat ini menjadi biang perpecahan, permusuhan dan pengoyak kesatuan muslimin.

Perlu dijelaskan bahwa perbedaan ulama hanya sebatas akibat dari perbedaan metode pengambilan hukum yang menjadi kebutuhan pasti dalam dalam memahami hukum dari dalil-dalil syariah, seperti perbedaan dalam masalah penafsiran nash-nash hukum berikut penjelasan-penjelasan yang dilakukan. Hal ini disebabkan karakter bahasa Arab yang terkadang mempunyai makna lebih dari satu, juga disebabkan riwayat hadits, kwalitas keilmuan ulama, atau disebabkan adanya upaya ulama tertentu dalam menjaga kemaslahatan dan kebutuhan secara umum.

Semua penyebab perbedaan tidak menafikan sumber hukum syariah yang satu dan kesatuan syariah itu sendiri, karena pada dasarnya perbedaan dalam syariah itu tidak ada. Perbedaan pendapat hanya disebabkan oleh kelemahan manusia. Akan tetapi kita boleh mengamalkan satu hukum dari pendapat-pendapat yang bebeda, untuk menghilangkan kesulitan dalam umat dimana tidak ada jalan lain setelah terputusnya wahyu, kecuali mengambil apa yang terkuat dari sebuah dugaan para ulama terhadap apa yang mereka pahami dari dalil-dalil syara’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إذا اجتهد الحاكم فأصاب فله أجران، وإن أخطأ فله أجر واحد

“JIka seorang hakim berijtihad lalu benar, maka baginya dua pahala. Dan jika salah maka baginya satu pahala”. (Hadits Muttafaq Alaih).

Berikut adalah enam penyebab penting perbedaan pendapat ulama dalam mengambil hukum syariah :

1. Perbedaan Dalam Memaknai lafadz-lafadz Arabiah.

Perbedaan dalam memberikan makna ini disebabkan oleh bentuk lafadz yang global (mujmal), mempunyai banyak makna (musytarak), mempunyai makna yang tidak bisa dipastikan khusus atau umumnya, haqiqah dan majaznya, haqiqah dan ‘urufnya, atau disebabkan mutlaq atau muqayyadnya, atau perbedaan I’rab. Contoh simpel dari penyebab ini adalah pemaknaan lafadz “al-Qur’u”, apakah dimaknai suci atau haid. Juga seperti lafaz amr (perintah), apakah menunjukkan wajib atau sunat. Dan masih banyak contoh yang lain.

2. Perbedaan Riwayat

Perbedaan riwayat hadits yang menjadi rujukan hukum diakibatkan oleh beberapa hal.

Pertama : Adalah adanya hadits yang hanya sampai kepada satu mujtahid dan tidak sampai pada mujtahid yang lain.

Kedua : Adalah sampainya satu hadits kepada seorang mujtahid dengan sanad yang dla’if, sementara hadits tersebut sampai kepada mujtahid yang lain dengan sanad yang shahih.

Ketiga : Seorang mujtahid berpendapat bahwa terdapatnya perawi dhaif dalam riwayat sabuah hadits membuat hadits tidak dapat diterima, sedangkan mujtahid yang lain tidak demikian.

3. Adanya Perbedaan Dasar hukum

Perbedaan dasar hukum yang dimaksud ialah dasar hukum selain al-Quran, hadits dan ijma’, seperti Istihsan, mashalih mursalah, qaul shahabi, istishab dan sadd al-dzariah

4. Perbedaan dalam Kaidah-kaidah usul

Perbedaan ini seperti perbedaan pendapat tentang digunakannya kaidah “al-‘am al-makhsush laisa bihujjah/lafadz yang bermakna khusus yang dikhususkan tidak dapat dijadikan hujjah”, “Al-mafmun laisa bi hujjah/kepahaman konteks tidak bisa dijadikan hujjah” dan lain-lain.

5. Ijtihad Menggunakan Qiyas.

Ini adalah penyebab yang paling luas, dimana ia mempuyai dasar, syarat dan illat. Illat pun juga mempunyai syarat dan tata cara dalam mengaplikasikannya. Semua ini menjadi potensi bagi timbulnya perbedaan.

6. Pertentangan Dasar Hukum berikut Tarjihnya

Masalah ini sangat luas yang menjadi perbedaan pandangan dan menimbulkann banyak perdebatan. Masalah ini membutuhkan ta’wil, ta’lil, kompromi (jam’u), taufiq, naskh dan lain-lain.

Dengan penjelasan ini dapat diketahui bahwa hasil ijtihad para imam madzhab tidak mungkin untuk diikuti semua, meskipun boleh dan wajib mengamalkan salah satunya. Semua perbedaan adalah masalah ijthadiyah, dan pendapat-pendapat yang bersifat dzanni (dugaan), yang harus dihormati dan dianggap sama. Amatlah salah jika perbedaan tersebut menjadi pintu timbulnya fanatisme, permusuhan dan perpecahan diantara kaum muslimin yang telah disifati dalam al-Qur’an sebagai umat yang bersaudara dan diperintah untuk berpegang teguh kepada tali Allah.

Wallahul Musta’an

Sumber : Al-Fiqh Al-Islamy Wa Adillatuh, Wahbah Zuhaili, Juz. 1 hlm: 83-88

_____________

MENELADANI SHALAFUS SHALIH DALAM MENJAGA KEIKHLASAN DALAM BERAMAL

MENELADANI SHALAFUS SHALIH DALAM MENJAGA KEIKHLASAN DALAM BERAMAL

Semua umat Islam tentu berharap, apabila amal ibadah yang dilakukannya diterima oleh Allah Ta’ala. Karena diantara tujuan dari ibadah adalah mengharap ridho dan pahala, tidak mengharapkan kesia-sia’an. Namun ternyata tidak semua amal ibadah yang dilakukan manusia akan di terima, karena syarat di terimanya amal ibadah adalah ikhlas, semata-mata mengharap ridho Allah Ta’ala. Tidak mengharapkan pujian dan sanjungan dari manusia di samping sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perlunya keikhlasan dalam ibadah di sebutkan Allah Ta’ala dalam Firman-nya :

الَّذِي خلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“(Allah-lah) yang menciptakan kematian dan kehidupan supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalannya”. (QS Al-Mulk: 2).

Fudhail bin ‘Iyaad rahimahullah seorang Tabi’in yang agung mengatakan ketika menafsirkan Firman Allah, (yang artinya) “yang lebih baik amal ibadahnya” maksudnya adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar (paling mencocoki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan showab. Amalan dikatakan ikhlas apabila dikerjakan semata-mata karena Allah. Amalan dikatakan showab apabila mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Ma’alimut Tanziil [Tafsir Al-Baghowi] terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh).

Para Shalaf sebagai generasi terbaik umat Islam, mereka benar-benar memahami pentingnnya ikhlas dalam beramal. Mereka sangat khawatir terselip perasa’an riya yang dapat menghanguskan nilai amal salih. Para Shalaf sekuat tenaga menyembunyikan amal soleh mereka dari perhatian manusia.

Berikut ini beberapa riwayat para Shalafus Shalih dalam menyembunyikan amal soleh mereka yang patut kita teladani.

۞ Ar Robi bin Khutsaim murid ‘Abdullah bin Mas’ud tidak pernah mengerjakan shalat sunnah di masjid kaumnya kecuali hanya sekali saja. (Az Zuhud, Imam Ahmad, 5/60, Mawqi’ Jami’ Al Hadits).

Ar Robi bin Khutsaim khawatir orang-orang mengenalnya sebagai ahli ibadah, kemudian mereka menyanjungnya.

۞ Ayub As Sikhtiyaniy memiliki kebiasaan bangun setiap malam. Ia pun selalu berusaha menyembunyikan amalannya. Jika waktu shubuh telah tiba, ia pura-pura mengeraskan suaranya seakan-akan ia baru bangun ketika itu. (Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim Al Ash-bahaniy, 3/8, Darul Kutub Al ‘Arobiy, Beirut).

۞ Ali bin Al Husain bin ‘Ali biasa memikul karung berisi roti setiap malam hari. Beliau pun membagi roti-roti tersebut ke rumah-rumah secara sembunyi-sembunyi. Beliau mengatakan,

إِنَّ صَدَقَةَ السِّرِّ تُطْفِىءُ غَضَبَ الرَّبِّ عَزَّ وَ جَلَّ

“Sesungguhnya sedekah secara sembunyi-sembunyi akan meredam kemarahan Rabb ‘azza wa jalla”.

Penduduk Madinah tidak mengetahui siapa yang biasa memberi mereka makanan. Ketika Ali bin Al Husain meninggal dunia, mereka tidak lagi mendapatkan kiriman makanan setiap malamnya. Penduduk Madinah baru mengetahui yang memberi mereka makanan adalah Ali bin Al Husain setelah mengetahui di punggung Ali bin Al Husain terlihat bekas hitam karena seringnya memikul karung yang dibagikan kepada orang miskin Madinah di malam hari. (Hilyatul Auliya’, 3/135-136).

۞ Daud bin Abi Hindi berpuasa selama 40 tahun dan tidak ada satupun orang, termasuk keluarganya yang mengetahuinya. Ia adalah seorang pedagang kain di pasar. Di pagi hari, ia keluar ke pasar sambil membawa sarapan pagi. Dan di tengah jalan menuju pasar, ia pun menyedekahkannya. Kemudian ia pun kembali ke rumahnya pada sore hari, sekaligus berbuka dan makan malam bersama keluarganya. (Shifatus Shofwah, Ibnul Jauziy, 3/300, Darul Ma’rifah, Beirut, cetakan kedua, 1399 H).

۞ Ibrahim bin Ad-ham diajak makan (padahal ia sedang puasa), ia pun ikut makan dan ia tidak mengatakan, “Maaf, saya sedang puasa”. (Ta’thirul Anfas, hal. 246).

Ibrahim bin Ad-ham sampai membatalkan puasa sunnahnya karena khawatir orang-orang mengetahui kalau ia sedang berpuasa. Ibrahim bin Ad-ham tidak ingin di kenal sebagai ahli ibadah yang rajin puasa, dan orang-orang memujinya.

۞ Ar-Robi’ bin Khutsaim tidak suka apabila sedang membaca Al-Qur’an ada orang yang mengetahuinya. Jika ada orang yang akan menemuinya, dan Ar Robi’ bin Khutsaim sedang membaca mushaf Al-Qur’an, ia pun segera menutupi mushaf Al-Qur’an yang sedang ia baca dengan bajunya. (Hilyatul Awliya’, 2/107, Darul Kutub ‘Arobiy, cetakan keempat, 1405 H).

۞ Begitu pula halnya dengan Ibrahim An-Nakho’i. Jika ia sedang membaca Al-Qur’an, lalu ada yang masuk menemuinya, ia pun segera menyembunyikan Al-Qur’annya. (Ta’thirul Anfas, hal. 246).

Para Shalaf di masa lalu sampai berpura-pura sedang terkena pilek untuk menutupi tangisannya apabila mendapati ayat-ayat Allah Ta’ala yang mengandung ancaman.

۞ Ayub As-Sikhtiyaniy mengusap wajahnya, lalu ia berkata, “Aku mungkin sedang pilek berat.” Tetapi sebenarnya ia tidak pilek, namun ia hanya ingin menyembunyikan tangisannya (karena takut kepada Allah Ta’ala). (Ta’thirul Anfas, hal. 248).

۞ Abu As-Sa ib menampakkan senyumannya di hadapan manusia. Padahal ia sedang menangis ketika mendengar baca’an Al-Qur’an atau hadits. Ia tidak ingin tangisannya di ketahui manusia. (Ta’thirul Anfas, hal. 251).

Itulah beberapa riwayat para Shalafus Shalih dalam menyembunyikan amal soleh. Mereka sangat khawatir amal-amal soleh yang mereka lakukan hangus tidak ada nilainya di hadapan Allah Ta’ala karena terselip perasa’an riya di dalam hati.

Apabila kita perhatikan pada sa’at ini, banyak manusia yang senang mempublikasikan ibadah-ibadah atau amal soleh mereka, sungguh jauh berbeda dengan para Shalafus Shaleh. Perbeda’an ini akibat pemahaman mereka yang jauh berbeda. Para Shalafus Shaleh sangat memahami pentingnya ke ikhlasan dalam ibadah.

Sungguh rugi mereka yang beramal saleh tapi mengharapkan puja-puji dan sanjungan manusia.

با رك الله فيكم

By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam-sudah-sempurna

_________________

SETAN MENANAMKAN PERASA’AN KHUSYU’ KEPADA AHLI BID’AH

SETAN MENANAMKAN PERASA’AN KHUSYU’ KEPADA AHLI BID’AH
.
Tidak perlu heran apabila kita melihat para pelaku bid’ah, mereka begitu khusyu’ dalam mengerjakan amalan-amalan bid’ahnya. Menangis dalam dzikir-dzikir bid’ahnya dan suka cita dalam nyanyian dan tarian-tarian bid’ahnya. Mereka juga begitu bersemangat dalam acara-acara dan peraya’an-peraya’an bid’ahnya. Sehingga segala rupa amalan dan peraya’an bid’ah yang merebak di tengah-tengah umat sulit di bendung. Bahkan mereka melakukan perlawanan dan menunjukkan permusuhannya dengan caci-maki ketika di nasehati dan di peringatkan.
.
Nabila Dzaki Al-Imam Al Auzaa’iy rahimahullah berkata : “Telah sampai kepadaku bahwa, siapa yang membuat buat bid’ah sesat, maka syaithan akan membuat dirinya senang beribadah, dan menanamkan didalam hatinya kekhusyuan dan tangisan agar syaithan bisa lebih menanamkan bid’ah pada dirinya”. (Al’-Itishaam 1/125 ).
.
Silahkan di lihat bagaimana para pelaku bid’ah begitu khusyu dalam kebid’ahannya.
.
https://youtu.be/BkW1dQyzyl0
.
.
____________________