MAULID NABI ADALAH BID’AH MENURUT IMAM ASY-SYATHIBI

MAULID NABI ADALAH BID’AH MENURUT IMAM ASY-SYATHIBI
.

Imam Abu Ishaq Asy-Syathibi rahimahullah (790 H) berkata tentang peringatan Maulid Nabi :

.

أما الأولى: وهي الوصية بالثلث ليوقف على إقامة ليلة النبيء صلى الله عليه وسلم، فمعلوم أن إقامة المولد على الوصف المعهود بين الناس بدعة محدثة، وكل بدعة ضلالة

.

(Suatu perkara) yang seharusnya diketahui : “Bahwa pelaksanaan acara maulid dengan cara yang biasa dilakukan oleh masyarakat adalah perbuatan bid’ah muhdatsah (perkara bid’ah yang diada-adakan dalam agama). Padahal bid’ah itu semuanya sesat”. (Fatawa As-Syatiby, hlm. 203).

.

Penjelasan Imam Asy-Syathibi rahimahullah diatas, terkait pertanya’an yang menanyakan wasiat harta untuk diinfakkan guna memperingati Maulid Nabi.

.

Imam Asy-Syathibi rahimahullah menjawab :

.

فالإنفاق على إقامة البدعة لا يجوز والوصية به غير نافذة بل يجب على القاضي فسخه. ورُدَّ الثلث إلى البورثة يقتسمونه فيما بينهم …”

.

“Oleh karena itu, menginfakkan harta untuk pelaksanaan acara bid’ah tidak diperbolehkan. Sehingga wasiat untuk acara itu tidak perlu ditunaikan. Bahkan hakim (yang berwenang) wajib membatalkan wasiat tersebut. Serta mengembalikan sepertiga harta itu kepada ahli waris agar dibagikan diantara mereka…”.

.

❁ Profil Imam Imam Asy-Syathibi

.

Siapakh Imam As-Syatibhi ?

.

Imam As-Sytibhi (wafat 790 H / 1388 M), adalah seorang Ulama ahlu sunnah, yang keilmuannya diakui oleh seluruh umat Islam di dunia.

.

Imam Asy Sytibhi juga dikenal sebagai seorang pakar atau ahlinya dalam gramatika bahasa arab (nahwu). Beliau menulis kitab-kitab tentang ilmu nahwu dan sharf, ini sebagai bukti bahwa Imam Asy Sytibhi ahlinya dalam ilmu tata bahasa arab nahwu dan sharf.

.

Kitab-kitab nahwu sharf yang beliau tulis adalah :

.

• Al-Maqashid al-Syafiyah fi Syarhi Khulashoh al-Kafiyah, kitab bahasa tentang Ilmu nahwu yang merupakan syarah dari Alfiyah Ibnu Malik.

.

• Unwan al-Ittifaq fi ‘ilm al-isytiqaq, kitab bahasa tentang Ilmu sharf dan Fiqh Lughah.

.

• Ushul al-Nahw, kitab bahasa yang membahas tentang Qawaid Lughah dalam Ilmu sharf dan Ilmu nahwu.

.

Kitab karya Imam Asy Syatibhi terkenal lainnya adalah :

.

• Al-I’tisham, kitab manhaj yang menerangkan tentang bid’ah dan seluk beluknya.

.

Semua karya tulis yang di buat oleh Imam Asy Sytibhi menunjukkan bahwa Imam Asy Sytibhi sebagai seorang Ulama yang luas dan dalam keilmuannya. Dan memang Kredibibilitas Imam Asy Sytibhi sebagai Ulama diakui oleh dunia Islam.

.
.
_______________

NASIHAT EMAS IMAM SYAFI’I KEPADA MURIDNYA YUNUS BIN ABDIL A’LA

NASIHAT EMAS IMAM SYAFI’I KEPADA MURIDNYA YUNUS BIN ABDIL A’LA

يروى أن يونس بن عبد اﻷعلى – أحد طلاب اﻹمام الشافعي – اختلف مع اﻹمام محمد بن إدريس الشافعي في مسألة أثناء إلقائه درساً في المسجد. فقام يونس غاضباً وترك الدرس وذهب إلى بيته !!!

Diriwayatkan bahwa Yunus bin Abdi Al-‘Ala, berselisih pendapat dengan sang guru, yaitu Al-Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i (Imam Asy Syafi’i) sa’at beliau mengajar di Masjid. Hal ini membuat Yunus bangkit dan meninggalkan majelis itu dalam keada’an marah..

فلما أقبل الليل، سمع يونس صوتَ طرقٍ على باب منزله !!
فقال يونس: مَنْ بالباب ؟
قال الطارق: محمد بن إدريس
قال يونس: فتفكرتُ في كل مَنْ كان اسمه محمد بن إدريس إلا الشافعي !!! قال: فلما فتحتُ الباب، فوجئتُ به !!!

Kala malam menjelang, Yunus mendengar pintu rumahnya diketuk … Ia berkata : “Siapa di pintu..?”
Orang yang mengetuk menjawab : “Muhammad bin Idris.” Seketika Yunus berusaha untuk mengingat semua orang yang ia kenal dengan nama itu, hingga ia yakin tidak ada siapapun yang bernama Muhammad bin Idris yang ia kenal, kecuali Imam Asy Syafi’i..
Saat ia membuka pintu, ia sangat terkejut dengan kedatangan sang guru besar, yaitu Imam Syafi’i..

فقال اﻹمام الشافعي: يا يونس تجمعنا مئاتُ المسائل، أتُفرّقُنا مسألة ؟ فلا تحاول الانتصار في كل الاختلافات .. فكثيراً ما يكون كسبُ القلوب أوْلى من كسب المواقف، و لا تهدم جسوراً بنيْتَها و عبرتَ عليها، فربما تحتاجها للعودة يوماً ما !!!.

Imam Syafi’i berkata : “Wahai Yunus, selama ini kita disatukan dalam ratusan masalah, apakah karena satu masalah saja kita harus berpisah..?, Janganlah engkau berusaha untuk menjadi pemenang dalam setiap perbeda’an pendapat… Terkadang, meraih hati orang lain itu lebih utama daripada meraih kemenangan atasnya. Jangan pula engkau hancurkan jembatan yang telah kau bangun dan kau lewati di atasnya berulang kali, karena boleh jadi, kelak satu hari nanti engkau akan membutuhkannya kembali..”

حاول دوماً أن تكره الخطأ، و لا تكرهْ المخطئ، كنْ باغضاً للمعصية، و سامح العاصي،
انتقد القولَ، و لكن احترم قائله،
فمهمّتُنا في الحياة أن نقضي على الأمراض، لا على المرضى !!!

“Berusahalah dalam hidup ini agar engkau selalu membenci perilaku orang yang salah, tetapi jangan pernah engkau membenci orang yang melakukan kesalahan itu. Engkau harus marah sa’at melihat kemaksiatan, tapi berlapang dadalah atas para pelaku kemaksiatan. Engkau boleh mengkritik pendapat yang berbeda, namun tetap menghormati terhadap orang yang berbeda pendapat. Karena tugas kita dalam kehidupan ini adalah menghilangkan penyakit, dan bukan membunuh orang yang sakit..”

فإذا أتاك المعتذر … فاصفح، و إنْ جاءك المهمومُ … فأنصتْ له، وإنْ قصَدَك المحتاج … فأعطه مما أعطاك الله، و إذا أتاك الناصح … فاشكره، و حتى لو حصدتَ شوكاً يوماً ما، فكنْ للورد زارعاً ولا تتردد، فالجزاء عند الودودالكريم أجزل من جزاء البشر !!!

Maka apabila ada orang yang datang meminta ma’af kepadamu, maka segera maafkan… Apabila ada orang yang tertimpa kesedihan, maka dengarkanlah keluhannya… Apabila datang orang yang membutuhkan, maka penuhilah kebutuhannya sesuai dengan apa yang Allah berikan kepadamu.. Apabila datang orang yang menasehatimu, maka berterimakasihlah atas nasehat yang ia sampaikan kepadamu.. Bahkan seandainya satu hari nanti engkau hanya menuai duri, tetaplah engkau untuk senantiasa menanam bunga mawar… Karena sesungguhnya balasan yang di janjikan oleh Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Dermawan jauh lebih baik dari balasan apapun yang mampu diberikan oleh manusia..”

by Group Kajian WA Manhaj Salaf.

_____________

KAMI CIPTAKAN DARI AIR SEPERMA, SEBAGIAN MAKHLUK HIDUP ?

.
KAMI CIPTAKAN DARI AIR SEPERMA, SEBAGIAN MAKHLUK HIDUP ?
.
Menurut para pembela bid’ah hasanah, hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan,
.
وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
.
“Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (baru) dan “KULLU” perkara yang diada-adakan (baru) adalah bid’ah, dan “KULLU” bid’ah adalah kesesatan”, dan ‘KULLU” kesesatan tempatnya di neraka”. (HR. An Nasa’i).
.
Menurut para pembela bid’ah hasanah, Lafadz “KULLU” dalam hadits di atas bermakna “SEBAGIAN”, bukan “SEMUA”.
.
Untuk menguatkan pendapatnya, mereka menunjukkan ayat Al-Qur’an yang mereka ambil hanya sebagian atau sepotong, tidak mereka perhatikan secara keseluruhannya. Kemudian mencari ayat lain lalu di hubungkan dengan ayat yang sudah diambilnya secara sepotong. Kemudian ayat yang mereka potong tersebut mereka maknai sesukanya.
.
Berikut ini ayat yang mereka ambil secara sepotong.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
.
”Dan dari air Kami jadikan SEGALA sesuatu yang hidup”. (Q.S Al-Anbiyya ayat 30).
.
Para pembela bid’ah hasanah mengatakan : Lafadz “KULLA” pada ayat 30 surat al-Anbiyya tersebut haruslah di terjemahkan dengan arti : “SEBAGIAN” sehingga ayat itu berarti : “Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluk hidup”. Karena pada kenyata’annya tidak semua makhluk yang diciptakan Allah berasal dari air.
.
Itulah penafsiran mereka terhadap ayat Al-Qur’an di atas. Mereka pun tidak menunjukkan penafsiran para Ulama ahli tafsir yang memberikan penafsiran demikian. Karena memang tidak ada para Ulama ahli tafsir yang mengatakan seperti itu. Terlebih lagi para Ulama ahli tafsir terdahulu.
.
Dalam menguatkan penafsiran ayat di atas, mereka menunjukkan ayat lain yang terdapat dalam surat Al-A’raf ayat 12 berikut ini,
.
خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
.
“Engkau (Allah) telah menciptakan aku (iblis) dari api sedangkan engkau menciptakannya (adam) dari tanah liat”. (QS Al-A’raf : 12).
.
Para pembela bid’ah hasanah selanjutnya berkata, Dengan demikian, ternyata lafadz “KULLU” tidak dapat di terjemahkan secara mutlak dengan arti : “SETIAP/ SEMUA, sebagaimana umumnya jika merujuk ke dalam kamus bahasa Arab umum, karena hal itu tidak sesuai dengan kenyata’an.
.
Itulah perkata’an mereka akibat dari memotong-motong ayat dan menghubungkannya dengan ayat yang mereka kehendaki. Sehingga timbullah penafsiran yang mereka buat-buat sendiri.
.
Kita perhatikan kesalahan mereka !
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
.
”Dan dari air Kami jadikan SEGALA sesuatu yang hidup”. (Q.S Al-Anbiyya ayat 30).
.
Itulah arti dari ayat di atas yang sebenarnya. Lafadz “KULLU” pada ayat tersebut arti yang sebenarnya memang “SEGALA”, bukan “SEBAGIAN” sebagaimana menurut mereka.
.
Memang benar, bahwa kata-kata yang bernada umum dalam bahasa Arab seperti kata “KULLU” (كُلُّ), tidak harus diartikan umum tanpa kecuali.
.
Namun dengan memperhatikan konteks kalimat, realita, penalaran, dan nash-nash lainnya, maka kita bisa menyimpulkan apakah keumuman suatu ungkapan dalam bahasa Arab tadi masih berlaku mutlak, ataukah tidak.
.
Dan untuk memaknai dengan benar makna yang terkandung dari suatu ayat, maka diantaranya kita harus mengkaji ayat tersebut secara menyeluruh, tidak sepotong-sepotong.
.
Perhatikan kembali ayat yang mereka potong di atas sebagai berikut,
.
Allah ta’ala berfirman :
.
“وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ”
.
“Dan dari air Kami jadikan SEGALA sesuatu yang hidup”. (QS. Al-Anbiyya, 30).
.
Lafadz “KULLU” pada ayat di atas artinya : “SEGALA”, namun mereka para pembela bid’ah hasanah mengartikannya : “SEBAGIAN”.
.
Lalu arti yang benar yang mana, “SEGALA” atau “SEBAGIAN” ?
.
Perhatikan ! !
.
Supaya tidak salah memaknai ayat di atas, maka perlu di perhatikan ayat tersebut secara keseluruhannya, tidak hanya sepotong.
.
Perhatikan ayat tersebut secara keseluruhannya berikut ini :
.
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ
.
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. DAN DARI AIR KAMI JADIKAN SEGALA SESUATU YANG HIDUP. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman ?”. (QS. Al-Anbiyya, 30).
.
Jika kita perhatikan ayat tersebut secara keseluruhannya, maka kini kita bisa mengetahui bahwa ayat tersebut sedang menyebutkan tentang kebesaran Allah, yaitu menerangkan bagaimana dahulunya langit dan bumi itu bersatu kemudian di pisahkan keduanya. Dan ayat itu menerangkan bahwa AIR SEBAGAI SUMBER DARI SEGALA YANG HIDUP DI BUMI.
.
Sebagai bukti bahwa ayat dalam surat al-Anbiyya ayat 30 itu sedang berbicara tentang bumi, maka bisa dilihat juga pada ayat berikutnya yang artinya :
.
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk”. (QS. al An-Biyya : 31).
.
Kita perhatikan juga penafsiran para Ulama ahli tafsir tentang air yang di sebutkan dalam ayat di atas,
.
Berikut ini dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan,
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
.
‘Dan dari air Kami jadikan “SEGALA” sesuatu yang hidup” (QS. Al-Anbiya: 30).
.
Imam Ibnu Katsir mengatakan . . “Dari Ibnu Umar, bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepadanya menanyakan langit dan bumi yang dahulunya suatu yang padu, lalu Allah memisahkan keduanya. Ibnu Umar berkata, “Pergilah kepada syekh itu, lalu tanyakanlah kepadanya, kemudian datanglah kamu kemari dan ceritakanlah kepadaku apa yang telah dikatakannya.” Lelaki itu pergi menemui Ibnu Abbas dan menanyakan masalah itu kepadanya. Ibnu Abbas menjawab, “Ya, memang dahulunya langit itu terpadu, tidak dapat menurunkan hujan, dan bumi terpadu (dengannya) sehingga tidak dapat menumbuhkan tetumbuhan. Setelah Allah menciptakan bagi bumi orang yang menghuninya, maka Dia memisahkan langit dari bumi dengan menurunkan hujan, dan memisahkan bumi dari langit dengan menumbuhkan tetumbuhan.” (Tafsir Ibnu Katsir QS Al-Anbiya: 30).
.
Dan berikut ini keterangan tentang air yang dimaksudkan dalam ayat ke 30 dalam Surat Al-Anbiya dalam Tafsir Jalalain.
.
Dalam Tafsir Jalalain disebutkan : “Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. Maksudnya AIR LAH YANG MENJADIKAN PENYEBAB BAGI SELURUH KEHIDUPAN BAIK MANUSIA, HEWAN, MAUPUN TUMBUH-TUMBUHAN. Namun mengapalah orang-orang kafir tiada juga beriman terhadap ke esaan Allah”. (Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2, [Bandung: Sinar Baru Algensindo], 2008, hlm. 126-127).
.
Setelah kita mengetahui ayat di atas secara utuh, tidak membacanya secara sepotong dan juga kita perhatikan keterangan dari para Ulama ahli tafsir, maka jelaslah lafadz “KULLU’ pada ayat tersebut maknanya : SETIAP, SEMUA, SEGALA, SELURUH. Bukan SEBAGIAN.
.
Jadi ayat di atas bunyinya :
.
“وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ”
.
“Dan dari air Kami jadikan SEGALA sesuatu yang hidup”. (QS. Al-Anbiyya, 30).
.
Itulah pengertian dari ayat tersebut yang sebenarnya.
.
SEGALA sesuatu yang hidup yang di maksudkan dalam ayat di atas artinya, SEMUA YANG HIDUP DI MUKA BUMI BERSUMBER DARI AIR. Tidak akan ada kehidupan di muka bumi apabila tidak ada air.
.
Perhatikan keterangan dalam Tafsir Jalalain di atas sekali lagi,
.
Dalam Tafsir Jalalain disebutkan : “Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. Maksudnya AIR LAH YANG MENJADIKAN PENYEBAB BAGI SELURUH KEHIDUPAN BAIK MANUSIA, HEWAN, MAUPUN TUMBUH-TUMBUHAN.
.
Apakah ada makhluk hidup di muka bumi yang bisa hidup tanpa air ?
.
Dengan melihat ayat di atas secara utuh tidak sepotong, maka jelas sangat keliru apabila air yang disebutkan dalam ayat tersebut di maknai air sperma. Namun air dalam ayat tersebut air yang sesungguhnya. Air yang menjadi sumber kehidupan bagi makhluk hidup yang ada di permuka’an bumi. Karena ayat tersebut sedang menerangkan tentang bumi. Dan kata “KULLU” dalam ayat tersebut juga bermakna “SEGALA” bukan “SEBAGIAN”.
.
Kita kembali kepada hadits Nabi yang menyebutkan,
.
وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
.
“Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (baru) dan “KULLU” perkara yang diada-adakan (baru) adalah bid’ah, dan “KULLU” bid’ah adalah kesesatan”, dan “KULLU” kesesatan tempatnya di neraka”. (HR. An Nasa’i).
.
Kata “KULLU” dalam hadits tersebut memang artinya “SEGALA”, “SETIAP” atau “SEMUA”. Bukan “SEBAGIAN”.
.
Apabila kata “KULLU” dalam hadits tersebut di artikan “SEBAGIAN”, maka akan menimbulkan pertanya’an yang tidak akan bisa di jawab.
.
Coba kita artikan kata “KULLU” dalam hadits di atas dengan arti “”SEBAGIAN sebagaimana yang di artikan oleh para pembela bid’ah hasanah.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
.
Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (baru) dan “SEBAGIAN” perkara yang diada-adakan (baru) adalah bid’ah, dan “SEBAGIAN” bid’ah adalah kesesatan” dan “SEBAGIAN” kesesatan tempatnya di neraka”. (HR. An Nasa’i).
.
Karena lafadz “KULLU” dalam hadits di atas diartikan “SEBAGIAN”. Jadi akhir dari hadits tersebut berbunyi “SEBAGIAN” kesesatan tempatnya di neraka.
.
Apabila dalam hadits tersebut di sebutkan “SEBAGIAN” kesesatan tempatnya di neraka.
.
Maka ada “SEBAGIAN” kesesatan lagi yang tempatnya di surga.
.
Maka kini timbul pertanya’an, “SEBAGIAN” kesesatan apa yang tempatnya di surga ?
.
Pertanya’an itu perlu di pertanyakan, karena di akhirat tempat itu hanya ada dua, yaitu surga dan neraka.
.
Berbeda halnya apabila lafadz “KULLU” dalam hadits di atas di maknai SETIAP, SEMUA atau SEGALA.
.
Kita perhatikan apabila hadits di atas dengan lafadz “KULLU” dimaknai “SETIAP/SEMUA”.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
.
Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (baru) dan “SETIAP/SEMUA” perkara yang diada-adakan (baru) adalah bid’ah, dan “SETIAP/SEMUA” bid’ah adalah kesesatan” dan “SETIAP/SEMUA” kesesatan tempatnya di neraka”. (HR. An Nasa’i).
.
Perhatikan lafadz hadits di atas dengan lafadz “KULLU” dimaknai SETIAP/SEMUA. Tidak menimbulkan kerancuan sebagaimana halnya di maknai SEBAGIAN.
.
Maka jelaslah lafadz “KULLU” dalam hadits tersebut bermakna SETIAP/SEMUA. Bukan “SEBAGIAN”
.
Dan inilah yang di fahami oleh para Sahabat.
.
Ibnu Umar berkata :
.
كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة
.
“Seluruh bid’ah itu sesat sekalipun manusia memandangnya baik”. (Al Lalika’i 11/50).
.
Semoga bisa di fahami.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
__________________

PEMBELA TRADISI NENEK MOYANG

PEMBELA TRADISI NENEK MOYANG

Kalau soal ngotot dan melotot sepertinya para pembela bid’ah itu, merasa mereka saja yang paling punya otot. Padahal orang yang mudah ngeluarin otot kata orang tanda otaknya lemot, ngomong asal jeplak kata orang tanda otak cekak, asal ngebacot kata orang tanda idiot. Semua itu kata orang, bukan kata saya.

Orang yang otaknya kosong, kalo ngomong songong, tidak ada rasa malu dan tidak faham adab walau di dunia MABOK (maya dan facebook) sekalipun. Tatakrama dalam bertingkah dan berbicara sepertinya buat mereka jadi barang langka.

Salah ibu mengandung apa ayah yang punya burung ?

Kalau ada orang bicara bid’ah tersinggung tidak kepalang, bid’ah di bela habis-habisan, tapi kalau di katakan ahli bid’ah marah, meradang.

Mestinya mereka senang di katakan ahli bid’ah, bukankah mereka pembela bid’ah ?

Membela bid’ah segala macam syubhat dikeluarin, ngelantur tidak ketulungan model orang ngelindur.

Muka ente berarti bid’ah, karena tidak ada di jaman Nabi ?

Kantong kresek berarti bid’ah, karena tidak ada di jaman Nabi ?

Pergi haji naek onta saja, pesawat kan bid’ah karena tidak ada di jaman Nabi ?

Martabak bid’ah, karena tidak ada di jaman nabi ?

Dan banyak lagi, kata-kata konyol keluar dari mulutnya yang bau jengkol.

Ujung-ujungnya ngomel-ngomel, dasar wahabi, wahaboy, wahabrot.

Astagfirullah . . . Apakah mereka belum tahu, kalau wahabi itu asma Allah, Al-wahhab, yang artinya maha pemberi karunia. Apakah mereka tidak khawatir, karunia Allah yang berupa hidayah Allah ta’ala jauhkan dari mereka.

Asma Allah saja begitu beraninya mereka lecehkan, apalagi nama manusia. Makanya tidak heran nama-nama para Ulama ahlussunnah, mereka lecehkan sedemikian rupa.

Mengapa mereka sangat membenci dakwah sunnah, yang mengajak manusia kepada Tauhid, meninggalkan tahayul, bid’ah dan churofat (TBC).

Kalau kita baca sejarah dakwah para Rasul, maka kita akan dapati bahwa kelompok yang paling keras menentang dakwah Tauhid adalah mereka yang membela AJARAN LELUHURNYA, TRADISI NENEK MOYANGNYA. Dan mereka para MUQOLLID tukang ikut-ikutan.

Begitu pula sa’at ini, para penentang dakwah Tauhid adalah orang-orang yang mempertahankan tradisi leluhur, dan para muqollid.

Para muqollid, pembela tradisi nenek moyang sa’at ini, perinsip beragama mereka sama persis dengan umat-umat terdahulu ketika diseru para Rasul untuk bertauhid, mereka menjawab ;

بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا

”. . (Tidak), kami hanya mau mengikuti apa yang telah kami dapati dari bapak-bapak kami. nenek moyang kami . . ”. (Al Baqarah, 170).

Jawaban umat-umat terdahulu, sama persis jawabannya dengan para pembela bid’ah sa’at ini. Mereka berkata, pokoknya kita ikuti saja orang tua kita, guru-guru kita, mereka bukan orang-orang bodoh, masa mereka salah, masa mereka tidak faham permasalahan agama. Begitulah perkata’an mereka.

Bagi mereka, kiai, ajengan, ustadz dan habibnya adalah tuhan, mereka selalu ikuti apapun yang dikatakannya.

Persis orang-orang nasrani yang menuhankan pendeta-pendetanya, sebagaimana yang Rasulullah katakan kepada Adi bin Hatim.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. membaca ayat : Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. Maka Adi bin Hatim berkata, “Mereka tidak menyembahnya”. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ; “Memang, tapi bukankah mereka mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, lalu mereka itu mengikuti para ulama dan rahib-rahib mereka. Maka itulah penyembahan (Ibadah) mereka kepada rahib-rahibnya”.

Begitulah orang-orang nasrani selalu membenarkan dan mengikuti rahib-rahibnya. Sama persis para pembela bid’ah sa’at ini. Mereka selalu membenarkan dan mengikuti apa yang dikatakan kiai, habib dan ustadz-ustadznya. Bagi mereka, yang datang dari kiai, habib, dan ustadznya adalah kebenaran, adapun yang datang dari pihak lain, di matanya selalu salah.

• Sulitnya taubat bagi pelaku bid’ah

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berkata : “Ahlul bid’ah tidak akan bertaubat selama ia menilai bahwa itu merupakan amalan yang baik. Karena taubat berpijak dari adanya kesadaran bahwa perbuatan yang dilakukan itu buruk. Sehingga dengan itu ia bisa bertaubat darinya. Jadi, selama perbuatan itu dianggap baik padahal pada hakikatnya jelek, maka ia tidak akan bertaubat dari perbuatan tersebut. Akan tetapi taubat adalah sesuatu yang mungkin (dilakukan) dan terjadi, yaitu jika Allah Subhanahu wata’ala memberikan hidayah dan bimbingan kepadanya hingga ia dapat mengetahui kebenaran”. (At Tuhfatul Iraqiyyah, Syaikhul Islam ibnu Taimiyah).

Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata : “Rujuknya ahli bid’ah dari kesesatannya adalah hal yang paling sulit bagi mereka, karena mereka menganggap bahwa bid’ah yang mereka lakukan adalah bagian dari agama, mereka bertaqarrub kepada Allah dengan bid’ah tersebut”.

* Sulit bertaubat, mengapa demikian ?

Karena ahli bid’ah merasa, amalan yang di lakukannya sebagai ibadah.

Berbeda halnya dengan pelaku maksiat, ketika pelaku maksiat melakukan perbuatan maksiat, sebetulnya hatinya menolak dan tidak ingin mengulangi kembali perbuatan maksiatnya.

Bagaimana pelaku bid’ah punya keinginan untuk bertaubat, sementara dia merasa, bahwa apa yang di lakukanya (bid’ah) sebagai ibadah.

Bukankah taubat itu berawal dari kesadaran, bahwa apa yang dilakukannya sebagai perbuatan dosa ?

Bisa kita saksikan, bagaimana ahli bid’ah, berkelit, membela, mencari-cari hujah untuk membenarkan amalannya, tidak peduli hadits lemah, hadits palsu, bahkan cerita dusta sekalipun.

Allahul Musta’aan.

Agus Santosa Somantri

______

Nasehat Ulama yordan

Ada nasihat yang indah dari Ulama Jordania yaitu Syaikh Ali Hasan Al-Halabi hafizhahullah, berikut nukilannya : “Setiap orang yang mengamalkan bid’ah beranggapan bahwa di dalamnya terkandung maslahat bagi kaum muslimin, maka kepadanya (orang tersebut) tidak ada manfa’atnya menerangkan tentang makna bid’ah atau mentahdzir (memperingatkan) dari bid’ah. Banyak hadits-hadits yang menerangkan cela’an terhadap bid’ah, jadi tidak berguna dan tidak ada manfa’at yang bisa diambil darinya. [‘Ilmu Ushuul Bida’, hlm.226 Daar Ar-Rayyah, cet.I,th.1413,H]

Syaikh Ali mengutarakan hal ini di dalam kitabnya dikarenakan sudah diketahui bahwa setiap orang yang selalu berkelit atau selalu mencari pembenaran maka sulit menjumpai kebenaran, mengapa demikian ? Karena ia sudah disibukkan dengan pencarian pembenarannya sehingga tidak ada lagi waktu untuk mencari kebenaran, Dengan demikian jika sudah diketahui kita menjumpai orang-orang yang berpegang teguh kepada pembenarannya maka semestinyalah kita menjauhinya, mengapa ? Karena hanya akan membuang-buang waktu dengannya, di samping itu pun dikhawatirkan ia akan menabur syubhat yang diluar kapasitas kita.

Allahul Musta’aan.

JAUHI BID’AH WALAUPUN KECIL

JAUHILAH BI’DAH WALAUPUN KECIL

Imam Abu Muhammad Al Barbahaari menulis untaian kata dalam kitab beliau yang bernama Syarhus Sunnah :

“Hindarilah oleh kalian hal-hal yang bid’ah itu betapa pun kecilnya, sebab bid’ah yang kecil itu secara terus-menerus akan menjadi besar. Demikian pula setiap bid’ah yang di munculkan ditengah-tengah ummat, awalnya adalah kecil, lalu di anggap oleh orang bahwa itu kebaikan dan kebenaran, Sehingga orang itu tertipu seolah-olah itu kebenaran, kemudian ia tidak bisa keluar dari hal tersebut, sehingga semakin besar bid’ah itu. Akhirnya akan dianggap sebagai dien (syari’at) yang diyakini, lalu menyelisihi jalan yang lurus”.

https://agussantosa39.wordpress.com/category/bidah/jangan-sepelekan-bidah/

————————

Hukum menghadiri peraya’an / acara bid’ah

HUKUM MENGHADIRI ACARA / PERAYA’AN BID’AH

Pertanya’an :

Apakah diperbolehkan menghadiri berbagai peraya’an atau acara-acara bid’ah ?

Jawaban :

Hukum menghadiri peraya’an-peraya’an tersebut perlu dibagi dua :

1. mendatangi dan menghadiri acara-acara tersebut untuk menginkarinya, menjelaskan kebenaran terkait dengan acara tersebut dan menjelaskan bahwa acara tersebut adalah amalan yang mengada-ada (bid’ah) yang tidak boleh dilakukan adalah perbuatan yang dituntunkan terutama untuk orang yang mampu memberikan penjelasan dengan baik dan dia berprasangka kuat bahwa dirinya terbebas dari marabahaya karena memberikan penjelasan tentang hal ini.

2. Menghadiri acara-acara di atas dengan tujuan sekedar nonton, cari hiburan, ingin tahu karena penasaran maka hukumnya adalah tidak boleh karena dengan hadir berarti turut berperan serta dalam kemungkaran yang dilakukan oleh pihak penyelenggara, memperbanyak jumlah pelaku kemungkaran, menjadi sebab semakin larisnya bid’ah tersebut.

Fatwa Lajnah Daimah no. 6524.
oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

majmu-fatawa.blogspot.com/2011/10/hukum-menghadiri-perayaan-bidah.html?m=1

————————

Lebih baik bodoh di atas sunnah daripada pintar tapi bid’ah

LEBIH BAIK BODOH DI ATAS SUNNAH DARIPADA PINTAR DIATAS BID’AH

Al-Imam al-Qasim bin Muhammad rahimahullah berkata : “Seseorang hidup dalam keadaan jahil / bodoh, itu lebih baik daripada dia berkata atas nama agama Allah tanpa ilmu” (Thabaqat al-Hanabilah 1/70)

قال العلامة ربيع بن هادي حفظه الله : الجهل : أفضل من أخذ العلم عن أهل البدع
[ المجموع ١/٣٠١ ]

Berkata Al ‘Allamah Robi’ bin Hadiy hafizhohulloh : “Kejahilan (kebodohan) Lebih utama daripada mengambil ilmu dari ahlul bida’.” (Al Majmu’ 1/301)

Berkata As-Syaikh Hani’ bin Buraik hafidzahullah ; “Lebih baik engkau menjadi orang yang jahil (bodoh) tetapi di atas As-Sunnah, daripada engkau menjadi penuntut ilmu namun mubtadi’/ pelaku bid’ah !”

_____________________

Pengikut Nabi Isa Membuat Bid’ah Hasanah ?

PENGIKUT NABI ISA BERBUAT BID’AH ?

Allah berfirman : “Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkan nya kepada mereka tetapi utk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemelihara’an yang semestinya.” (Al-Hadid ayat 27)

Ayat 27 Surat Al-Hadid inilah di antara yng di jadikan hujjah oleh para pecintah bid’ah untuk membenarkan amalan-amalan bida’hnya.

Mereka berkata, bahwa bid’ah tidaklah selamanya tercela buktinya umat Nabi Isa juga berbuat bid’ah dan Allah tidak mencelanya.

Bantahan :

Ayat ini bercerita tentang kisah umat sebelum kita (Nashara). Apa yng di lakukan mereka tentu saja bukanlah harus menjadi syari’at buat kita, apabila bertentangan dgn dalil-dalil yang datang dlm syari’at agama kita. Karena sangat banyak dalil-dalil akan larangan dan ancaman berbuat bid’ah dlm agama kita, bahwa semua bentuk bid’ah adalah tertolak.

Kita juga mengetahui syari’at umat-umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah sama dengan syari’at yng di bawa oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contohnya ;

– Umat Nabi Isa menghadap Baitul Maqdis ketika shalat, sementara kita menghadap Ka’bah di Mekkah.

– Umat Nabi Musa harus menggunting kain yang terkena najis sedangkan kita cukup hanya mencucinya.

– Umat Nabi Musa harus melakukan bunuh diri apabila bertobat, lihat (QS Al-Baqarah: 54). tetapi kita cukup hanya memohon ampun Kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Jadi apabila ayat ini di jadikan alasan untuk menunjukan bolehnya kita berbuat bid’ah karena umat Nabi Isa berbuat bidah, tentu saja keliru. Karena apa yng mereka lakukan bertentangan dengan syariat yng di bawa oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi yng di utus untuk kita.

Kita mau ikut siapa ?, mengikuti mereka pengikut Nabi Isa yang berbuat bid’ah ? atau mengikuti Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yng melarang berbuat bid’ah ?

Berikut larangan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perbuatan bidah.

قال رسول الله ص م اما بعد فأن خيرالحديث كتاب الله وخيرالهدي هدي محمد ص م وشرالامورمحدثة وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Amma ba’du, Sesungguhnya sebaik-baik perkata’an adalah Kitabullah dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek jelek perkara adalah yang diada adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867).

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan :

كل ضلالة في النار

“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i no.1578.)

Wasallam

Agus Santosa Somantri

_______________

Apa saja yang dipandang baik menurut kaum muslimin maka baik pula menurut pandangan Alloh

Pemahaman mereka terhadap atsar:

ما رءاه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن

“Apa saja yang dipandang baik menurut kaum muslimin, maka baik pula menurut pandangan Alloh”

BANTAHAN:

Pertama: Bahwasanya tidak benar kalau atsar tersebut marfu’ sampai kepada Nabi صلى الله عليه و سلم, itu hanyalah perkataan Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه yang mauquf dari Ibnu Mas’ud saja.

Ibnul Qayyim berkata: “Sesungguhnya atsar ini bukanlah dari sabda Rasulullah صلى الله عليه و سلم, hanya orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan tentang ilmu hadits sajalah yang menyandarkan perkataan tersebut kepada beliau صلى الله عليه و سلم. Atsar itu hanya merupakan perkataan Ibnu Mas’ud” [Al Furuusiyyah, oleh Ibnul Qayyim, hal. 167]

Berkata Ibnu ‘Abdil Hadiy: “Perkataan tersebut diriwayatkan secara marfu’ dari Anas dengan sanad yang sangat lemah sakali, dan yang benar adalah bahwa atsar tersebut hanya mauquf sampai pada Ibnu Mas’ud.” [Kasyful Khafaa’ oleh Al ‘Ajaluuny, (2/245)]

Az Zaila’iy berkata: “Atsar tersebut gharib marfu’, dan saya belum mendapatkan jalur riwayat kecuali secara mauquf dari Ibnu Mas’ud”. [Nashbur Raayah, (4/133)]

Berkata Al Albaniy: “Ia tidak punya dasar riwayat secara marfu’, riwayat itu hanyalah mauquf kepada Ibnu Mas’ud”. [As Silsilah Adh Dha’iifah, no. 533 (2/17)]

Saya katakan: Dan sebelum ini telah diperingatkan bahwa tidak boleh sabda Rasulullah صلى الله عليه و سلم dikonfrontasikan dengan perkataan seorang manusiapun, siapapun orangnya.

Kedua: Bahwasanay huruf “ال” pada perkataan “المسلمون” berfungsi sebagai Al ‘Ahd (yang harus dikembalikan kepada sosok yang jelas), dan dalam hal ini kembali kepada para Shahabat sendiri, merekalah yang dimaksud oleh atsar tersebut sebagai “المسلمون” (kaum muslimin), sebagaimana yang bisa difahami dari alur kalimat atsar tersebut, yang berbunyi:

إن الله نظر في قلوب العباد فوجد قلب محمد صلى الله عليه وسلم خير قلوب العباد فاصطفاه لنفسه فابتعثه برسالته ثم نظر في قلوب العباد بعد قلب محمد فوجد قلوب أصحابه خير قلوب العباد فجعلهم وزراء نبيه يقاتلون على دينه فما رأى المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رأوا سيئا فهو عند الله سيءإن الله نظر في قلوب العباد فوجد قلب محمد صلى الله عليه وسلم خير قلوب العباد فاصطفاه لنفسه فابتعثه برسالته ثم نظر في قلوب العباد بعد قلب محمد فوجد قلوب أصحابه خير قلوب العباد فجعلهم وزراء نبيه يقاتلون على دينه فما رأى المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رأوا سيئا فهو عند الله سيء

“Sesungguhnya Alloh memandang hati para hambaNya lalu Dia dapati hati Muhammad صلى الله عليه و سلم sebagai hati yang terbaik dari para hambaNya lalu beliau dipilihNya dan diutuslah beliau sebagai RasulNya. Kemudian Alloh melihat hati hamba-hambaNya setelah hati Muhammad صلى الله عليه و سلم lalu Alloh dapati hati para Shahabat sebagai hati yang terbaik, maka mereka dijadikan sebagai menteri-menteri NabiNya. Mereka berperang dan berjuang diatas agamaNya. Maka apa saja yang dipandang baik menurut kaum muslimin (para shahabat tersebut) maka baik pula menurut Alloh, dan apa saja yang buruk menurut mereka maka buruk pula menurut Alloh”

Dalam riwayat lain ada tambahan:

و قد رءاى الصحابة جميعا أن يستخلفوا أبا بكر

“Dan seluruh Shahabat telah bersatu pendapat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai Khalifah”.

Dengan demikian maka jelaslah bahwa yang dimaksud dengan “kaum muslimin” dalam atsar tersebut adalah para shahabat.

Dan diantara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah bahwa para imam pengarang kitab-kitab hadits memuat hadits (atsar tersebut) pada “Kitabus Shahabah”, sebagaimana yang dilakukan oleh  Al Hakim dalam kitab beliau “Al Mustadrak”. [Al Mustadrak (3/78)]. Beliau telah memuat atsar tersebut dalam kitab “Ma’rifatus Shahaabah”, dan beliau tidak mencantumkan redaksi awalnya akan tetapi beliau memulai dari potongan atsar yang artinya : “Maka apa saja yang dipandang baik… dst.”

Ini menunjukkan bahwasanya Abu Adillah Al Hakim رحمه الله memahami bahwa yang dimaksud dengan “kaum muslimin” pada atsar tersebut adalah para shahabat.

Kalau memang demikian, maka telah diketahui secara pasti bahwa para shahabat seluruhnya telah bersepakat mencela dan memandang buruk setiap “bid’ah”. Dan tidak pernah diriwayatkan dari salah seorangpun dari mereka yang menganggap baik salah satu dari bid’ah tersebut.

Ketiga: Berdasarkan perkataan bahwa huruf ال disini bukan Alif Lam al’ahd yakni kembali kepada sosok tertentu, akan berfungsi sebagai ‘istighraq’, yakni meliputi keseluruhan kaum muslimin, maka yang dimaksudkan adalah ijma’ (para ulama), dan ijma’ itu adalah hujjah.

Al ‘Izz bin Abdus Salam berkata: ‘Jika hadits tersebut shahih, maka yang dimaksudkan dengan kata “المسلمون” tersebut adalah ahlul ijma’. Wallohu a’lam. [Fatawa Al ‘izz bin Abdis Salaam, hal. 42 no. 39]

Disini kami ajukan pertanyaan kepada orang yang berdalil dengan atsar tersebut bahwa ada yang dinamakan “bid’ah hasanah”: “Apakah anda dapat mendatangkan suatu bid’ah yang disepakati oleh kaum muslimin bahwa ia adalah bid’ah hasanah?”

Itu merupakan kemustahilan tanpa diragukan lagi, sebab tidak ada satupun bid’ah yang telah disepakati oleh kaum muslimin bahwa ia adalah bid’ah hasanah, bahkan ijma’ kaum muslimin pada generasi awal menegaskan bahwa setiap bid’ah itu adalah sesat, pendapat itu masih tetap demikian hingga saat ini. Walhamdu lillah.

Keempat: Bagaimana mereka berdalil dengan perkataan shahabat yang mulia ini tentang adanya suatu bid’ah hasanah padahal beliau adalah salah seorang diantara para shahabat yang paling tegas melarang dan memperingatkan tentang bid’ah.

Pada pembahasan sebelumnya telah kami nukilkan dari beliau ucapan beliau yang berbunyi:

إتبعوا و لا تبتدعوا فقد كفيتم و كل بدعة ضلالة

Ber-ittiba’lah kamu kepada Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم dan janganlah kamu ber-ibtida’ (mengada-ada tanpa dalil), sesungguhnya kamu telah dicukupi dengan ittiba’ itu, dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan. [Dikeluarkan oleh Ibnu Biththah dalam al Ibaanah, no. 175 (1/327-328) dan al Laalikaa’i, no. 104 (1/86).]

Dan perkataan beliau tentang larangan terhadap bid’ah sangat banyak sekali.

[Disalin dari buku “Mengapa Anda Menolak Bid’ah Hasanah?” penerbit Pustaka At-Tibyan]