PEMBELA TRADISI NENEK MOYANG

PEMBELA TRADISI NENEK MOYANG

Kalau soal ngotot dan melotot sepertinya para pembela bid’ah itu, merasa mereka saja yang paling punya otot. Padahal orang yang mudah ngeluarin otot kata orang tanda otaknya lemot, ngomong asal jeplak kata orang tanda otak cekak, asal ngebacot kata orang tanda idiot. Semua itu kata orang, bukan kata saya.

Orang yang otaknya kosong, kalo ngomong songong, tidak ada rasa malu dan tidak faham adab walau di dunia MABOK (maya dan facebook) sekalipun. Tatakrama dalam bertingkah dan berbicara sepertinya buat mereka jadi barang langka.

Salah ibu mengandung apa ayah yang punya burung ?

Kalau ada orang bicara bid’ah tersinggung tidak kepalang, bid’ah di bela habis-habisan, tapi kalau di katakan ahli bid’ah marah, meradang.

Mestinya mereka senang di katakan ahli bid’ah, bukankah mereka pembela bid’ah ?

Membela bid’ah segala macam syubhat dikeluarin, ngelantur tidak ketulungan model orang ngelindur.

Muka ente berarti bid’ah, karena tidak ada di jaman Nabi ?

Kantong kresek berarti bid’ah, karena tidak ada di jaman Nabi ?

Pergi haji naek onta saja, pesawat kan bid’ah karena tidak ada di jaman Nabi ?

Martabak bid’ah, karena tidak ada di jaman nabi ?

Dan banyak lagi, kata-kata konyol keluar dari mulutnya yang bau jengkol.

Ujung-ujungnya ngomel-ngomel, dasar wahabi, wahaboy, wahabrot.

Astagfirullah . . . Apakah mereka belum tahu, kalau wahabi itu asma Allah, Al-wahhab, yang artinya maha pemberi karunia. Apakah mereka tidak khawatir, karunia Allah yang berupa hidayah Allah ta’ala jauhkan dari mereka.

Asma Allah saja begitu beraninya mereka lecehkan, apalagi nama manusia. Makanya tidak heran nama-nama para Ulama ahlussunnah, mereka lecehkan sedemikian rupa.

Mengapa mereka sangat membenci dakwah sunnah, yang mengajak manusia kepada Tauhid, meninggalkan tahayul, bid’ah dan churofat (TBC).

Kalau kita baca sejarah dakwah para Rasul, maka kita akan dapati bahwa kelompok yang paling keras menentang dakwah Tauhid adalah mereka yang membela AJARAN LELUHURNYA, TRADISI NENEK MOYANGNYA. Dan mereka para MUQOLLID tukang ikut-ikutan.

Begitu pula sa’at ini, para penentang dakwah Tauhid adalah orang-orang yang mempertahankan tradisi leluhur, dan para muqollid.

Para muqollid, pembela tradisi nenek moyang sa’at ini, perinsip beragama mereka sama persis dengan umat-umat terdahulu ketika diseru para Rasul untuk bertauhid, mereka menjawab ;

بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا

”. . (Tidak), kami hanya mau mengikuti apa yang telah kami dapati dari bapak-bapak kami. nenek moyang kami . . ”. (Al Baqarah, 170).

Jawaban umat-umat terdahulu, sama persis jawabannya dengan para pembela bid’ah sa’at ini. Mereka berkata, pokoknya kita ikuti saja orang tua kita, guru-guru kita, mereka bukan orang-orang bodoh, masa mereka salah, masa mereka tidak faham permasalahan agama. Begitulah perkata’an mereka.

Bagi mereka, kiai, ajengan, ustadz dan habibnya adalah tuhan, mereka selalu ikuti apapun yang dikatakannya.

Persis orang-orang nasrani yang menuhankan pendeta-pendetanya, sebagaimana yang Rasulullah katakan kepada Adi bin Hatim.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. membaca ayat : Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. Maka Adi bin Hatim berkata, “Mereka tidak menyembahnya”. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ; “Memang, tapi bukankah mereka mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, lalu mereka itu mengikuti para ulama dan rahib-rahib mereka. Maka itulah penyembahan (Ibadah) mereka kepada rahib-rahibnya”.

Begitulah orang-orang nasrani selalu membenarkan dan mengikuti rahib-rahibnya. Sama persis para pembela bid’ah sa’at ini. Mereka selalu membenarkan dan mengikuti apa yang dikatakan kiai, habib dan ustadz-ustadznya. Bagi mereka, yang datang dari kiai, habib, dan ustadznya adalah kebenaran, adapun yang datang dari pihak lain, di matanya selalu salah.

• Sulitnya taubat bagi pelaku bid’ah

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berkata : “Ahlul bid’ah tidak akan bertaubat selama ia menilai bahwa itu merupakan amalan yang baik. Karena taubat berpijak dari adanya kesadaran bahwa perbuatan yang dilakukan itu buruk. Sehingga dengan itu ia bisa bertaubat darinya. Jadi, selama perbuatan itu dianggap baik padahal pada hakikatnya jelek, maka ia tidak akan bertaubat dari perbuatan tersebut. Akan tetapi taubat adalah sesuatu yang mungkin (dilakukan) dan terjadi, yaitu jika Allah Subhanahu wata’ala memberikan hidayah dan bimbingan kepadanya hingga ia dapat mengetahui kebenaran”. (At Tuhfatul Iraqiyyah, Syaikhul Islam ibnu Taimiyah).

Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata : “Rujuknya ahli bid’ah dari kesesatannya adalah hal yang paling sulit bagi mereka, karena mereka menganggap bahwa bid’ah yang mereka lakukan adalah bagian dari agama, mereka bertaqarrub kepada Allah dengan bid’ah tersebut”.

* Sulit bertaubat, mengapa demikian ?

Karena ahli bid’ah merasa, amalan yang di lakukannya sebagai ibadah.

Berbeda halnya dengan pelaku maksiat, ketika pelaku maksiat melakukan perbuatan maksiat, sebetulnya hatinya menolak dan tidak ingin mengulangi kembali perbuatan maksiatnya.

Bagaimana pelaku bid’ah punya keinginan untuk bertaubat, sementara dia merasa, bahwa apa yang di lakukanya (bid’ah) sebagai ibadah.

Bukankah taubat itu berawal dari kesadaran, bahwa apa yang dilakukannya sebagai perbuatan dosa ?

Bisa kita saksikan, bagaimana ahli bid’ah, berkelit, membela, mencari-cari hujah untuk membenarkan amalannya, tidak peduli hadits lemah, hadits palsu, bahkan cerita dusta sekalipun.

Allahul Musta’aan.

Agus Santosa Somantri

______

MEMAHAMI LAFADZ “SANNA” DENGAN BENAR

MEMAHAMI LAFADZ “SANNA” DENGAN BENAR

Secara bahasa makna dari lafal “sanna” ( سَنَّ ) adalah memulai perbuatan lalu diikuti oleh orang lain, sebagaimana hal ini kita dapati di dalam kamus-kamus bahasa Arab

Al-Azhari rahimahullah (wafat tahun 370 H) dalam kitabnya Tadziib al-Lughoh berkata :

“Setiap orang yang memulai suatu perkara lalu dikerjakan setelahnya oleh orang-orang maka dikatakan dialah yang telah merintisnya” (Tahdziib al-Lughoh, karya al-Azhari, tahqiq Ahmad Abdul Halim, Ad-Daar Al-Mishriyah, 12/306).

Hal ini juga sebagaimana disampaikan oleh Az-Zabidi dalam kitabnya Taajul ‘Aruus min Jawahir al-Qoomuus, 35/234, Ibnul Manzhuur dalam kitabnya Lisaanul ‘Arob 13/220).

Oleh karena itu, lafal سَنَّ tidaklah berarti harus berkreasi amalan baru atau berbuat bid’ah yang tidak ada contoh sebelumnya.

Akan tetapi lafal سَنَّ bersifat umum yaitu setiap yang memulai suatu perbuatan lalu diikuti, baik perbuatan tersebut telah ada sebelumnya atau merupakan kreasinya sendiri.

Namun dengan melihat sebab kronologi hadits tersebut maka dipahami bahwa yang dimaksud oleh Nabi dengan سَنَّ adalah yang mendahului melakukan sunnah yang telah diajarkan dan dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu bersedekah.

Karenanya al-Azhari berkata tentang hadits ini : “Dalam hadits, “Barang siapa yang “sanna” sunnah yang baik baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya, dan barang siapa yang “sanna” sunnah yang buruk …”, Maksud Nabi adalah barang siapa yang mengamalkannya untuk diikuti”. (Tahdziib al-Lughoh 12/298).

Jadi bukan maknanya menciptakan suatu amalan ! !

Dari sini makna “sanna sunnah hasanah” bisa dibawakan kepada dua makna,

1. Mendahului atau memulai menjalankan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu diikuti oleh orang-orang lain. Bisa jadi sunnah tersebut bukanlah sunnah yang ditinggalkan atau dilupakan atau telah mati, akan tetapi dialah yang pertama kali mengingatkan orang-orang lain dalam mengerjakannya. Sebagaimana dalam kasus hadits Jarir bin Abdillah di atas, sunnah Nabi yang dikerjakan adalah sedekah. Tentunya sunnah ini bukanlah sunnah yang telah mati atau ditinggalkan para sahabat, akan tetapi pada waktu kasus datangnya orang-orang miskin maka sahabat anshori itulah yang pertama kali mengamalkannya sehingga diikuti oleh para sahabat yang lain.

Hal ini didukung dengan hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, ia berkata :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَحَثَّ عَلَيْهِ فَقَالَ رَجُلٌ عِنْدِي كَذَا وَكَذَا، قَالَ فَمَا بَقِيَ فِي الْمَجْلِسِ رَجُلٌ إِلاَّ تَصَدَّقَ عَلَيْهِ بِمَا قَلَّ أَوْ كَثُرَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَنِ اسْتَنَّ خَيْرًا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ كَامِلاً وَمِنْ أُجُوْرِ مَنِ اسْتَنَّ بِهِ وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنِ اسْتَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَاسْتُنَّ بِهِ فَعَلَيْهِ وِزْرُهُ كَامِلاً وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِي اسْتَنَّ بِهِ وَلاَ يُنْقَصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

“Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabipun memotivasi untuk bersedekah kepadanya. Maka ada seseorang yang berkata, “Saya bersedekah ini dan itu”. Maka tidak seorangpun yang ada di majelis kecuali bersedekah terhadap lelaki tersebut baik dengan sedikit maupun banyak. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Barang siapa yang “istanna”/ merintisi kebaikan lalu diikuti maka baginya pahalanya secara sempurna dan juga pahala orang-orang yang mengikutinya serta tidak berkurang pahala mereka sama sekali. Dan barang siapa yang merintis sunnah yang buruk lalu diikuti maka baginya dosanya secara sempurna dan dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sama sekali” (HR Ibnu Maajah no 204).

2. Bisa jadi makna “sanna sunnatan hasanah” kita artikan dengan menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mati atau ditinggalkan. Hal ini jika kita merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Amr bin ‘Auf Al-Muzani

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِل بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيِئًا . وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةً فَعَمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ أَوْزَارُ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِ مَنْ عَمِلَ بِهَا شَيْئًا

“Barang siapa yang menghidupkan sebuah sunnah dari sunnahku lalu dikerjakan atau diikuti oleh manusia maka baginya seperti pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka (yang mengikutinya) sama sekali. Dan barang siapa yang melakukan bid’ah lalu diikuti maka baginya dosa orang-orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa mereka sama sekali” (HR Ibnu Maajah, 209).

Akan tetapi hadits ini masih diperselisihkan tentang keshahihannya.

Kedua makna di atas ini adalah makna yang tepat dan sesuai dengan keumuman hadits “Seluruh bid’ah sesat”, yang tidak sesat hanyalah sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berbeda halnya jika kita mengartikan makna “sanna sunnatan hasanah” dengan makna berbuat bid’ah hasanah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka hal ini tidaklah tepat karena menyelisihi dua hal

1. Bertentangan dengan keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Seluruh bid’ah sesat”

2. Menyelisihi makna yang termaktub dalam kronologi hadits Jarir bin Abdillah, bahwa yang dimaksud dengan sunnah hasanah adalah bersedekah. Dan bersedekah bukanlah bid’ah.

KETIGA : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً

“Barang siapa yang merintis sunnah hasanah (baik)” tidaklah mungkin dibawakan pada makna kreasi amal ibadah yang baru.

Karena tidak mungkin diketahui itu baik atau buruk kecuali dari sisi syari’at. Akal tidak punya peran dalam menilai ibadah hasil kreasi baik atau buruk.

Terlebih lagi saudara-saudara kita yang suka berkreasi membuat bid’ah hasanah mengaku bahwa mereka bermadzhab Asyaa’iroh. Padahal diantara madzhab Asyaa’iroh adalah mereka menolak at-Tahsiin wa at-Taqbiih al-‘Aqliyaini, mereka hanya menerima at-Tahsiin wa at-Taqbiih as-Syar’iyaini.

Maksudnya yaitu bahwasanya menurut jumhur Asyaa’iroh bahwasanya suatu perbuatan tidak mungkin diketahui baik atau buruknya, terpuji atau tercela hanya dengan sekedar akal. Akan tetapi kebaikan atau keburukan suatu perbuatan hanyalah diketahui melalui syari’at atau dalil yang datang.

Berikut ini nukilan dari beberapa ulama besar madzhab Asyaairoh tentang hal ini.

Al-Baaqillaani rahimahullah (wafat 403 H) berkata :

“…Akan tetapi akal tidak memandang sesuatu perkarapun baik pada dzatnya yang dikarenakan sifat dan sisi, dan tidak pula memandang baik sesuatupun yang menyeru untuk melakukan perkara tersebut. Akal juga tidak menilai buruk sesuatupun pada dzatnya, dan juga tidak menilai buruk sesuatupun yang menyeru kepada melakukan perkara tersebut. Ini semua merupakan kebatilan, tidak ada asalnya. Yang wajib adalah mensifati perbuatan mukallaf (hamba) bahwasanya ia baik atau buruk hanyalah dengan hukum Allah yang menilainya baik atau buruk” (At-Taqrib wa al-Irsyaad as-Soghiir, karya al-Baaqilaani, tahqiq : DR Abdul Hamid, Muassasah ar-Risaalah, cetakan kedua, 1/279).

Al-Baqillaani juga menjelaskan bahwasanya sholat, haji, dan puasa tidak mungkin diketahui kebaikannya kecuali dari sisi syari’at, adapun akal tidak mungkin secara independent untuk mengetahui kebaikan atau keburukan perbuatan atau amalan seorang hamba.

Bahkan menurut beliau, keadilan, kejujuran, membalas budi, semuanya diketahui kebaikannya dengan dalil syari’at, bukan dengan akal. Sebaliknya zina, minum khomr, homoseksual, semuanya diketahui keburukannya dengan dalil sam’i (Al-Qur’an atau Al-Hadits) dan tidak diketahui dengan sekedar akal. (Lihat At-Taqriib wa al-Irsyaad 1/278-279).

Lihat juga perkata’an al-Baqillani dalam kitab beliau yang lain seperti at-Tamhiid fi ar-Rod ‘ala al-Mulhidah al-Mu’atthilah wa ar-Rofidho wa al-Khowaarij wa al-Qodariyah hal 97 dan 107, dan juga kitab al-Inshoof fi maa yajibu I’tiqooduhu wa laa yajuuzu al-jahlu bihi, tahqiq Al-Kautsari, AL-Maktabah al-Azhariyah, cetakan kedua, hal 46-47).

Abu Hamid Al-Gozali rahimahullah berkata :

“Tidak bisa diketahui baiknya perbuatan-perbuatan (hamba) dan juga keburukannya dengan melalui akal. Akan tetapi hanya bisa diketahui dengan syari’at yang dinukil. Maka sesuatu yang baik di sisi kami adalah apa yang dianggap baik oleh syari’at dimana syari’at memotivasi untuk melakukannya. Dan yang buruk adalah apa yang dinilai buruk oleh syari’at dengan melarangnya dan mencelanya” (Al-Mankhuul min Ta’liqoqt al-Ushuul, Tahqiq : DR Muhammad Hasan, Daarul Fikr, cetakan kedua, hal 8)

Imamul Haromain Al-Juwaini rahimahullah berkata :

لا يدرك بمجرد العقل حسن ولا قبح على مذهب أهل الحق وكيف يتحقق درك الحسن والقبح قبل ورود الشرائع مع ما قدمناه من أنه لا معنى للحسن والقبح سوى ورود الشرائع بالذم والمدح

“Dan tidaklah diketahui kebaikan atau keburukan hanya dengan berdasar akal, (hal ini) menurut madzhab ahlul haq (asya’iroh-pen). Bagaimana bisa diketahui kebaikan dan keburukan sebelum datangnya syari’at ?. Tidak ada makna kebaikan dan keburukan selain datangnya syari’at dengan pencelaan atau pemujian” (At-Talkhiis fi ushuul al-Fiqh, tahqiq : Abdullah julim An-Nebali, Daarul Basyaair al-Islaamiyah, 1/157).

Jika kebaikan tidak mungkin diketahui dengan akal menurut mereka, maka lantas bagaimana mereka bisa menilai bahwa bid’ah hasanah adalah baik ??.

Jangankan perkara ibadah, bahkan perkara mu’amalah menurut asyaa’iroh tidak bisa diketahui baik dan buruknya dengan akal, harus dengan dalil. Maka bagaimana lagi dengan perkara-perkara ibadah yang merupakan hasil kreasi ??

KEEMPAT : Kalau memang makna

مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سنَّةً حَسَنَةً

adalah membuat kreasi ibadah baru yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan kita untuk sering berkreasi membuat ibadah baru (bid’ah hasanah). Semakin banyak berkreasi maka semakin bagus.

Jika perkaranya demikian lantas apa faedahnya anjuran Nabi tatkala terjadi perselisihan dengan barkata ;

“فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي”

“Hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku”

“عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ”

“Gigitlah sunnahku dengan geraham kalian”

Apa faedahnya perkata’an Nabi ini jika ternyata setiap orang boleh berkreasi membuat sunnahnya sendiri-sendiri ? ?

Diambil dari sebagian tulisan Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

___________________

PENULISAN HADITS ADALAH BID’AH ?

PENULISAN HADITS ADALAH BID’AH ?

Apakah menulis hadits adalah bid’ah, karena tidak di lakukan dimasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup ?

Dimasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, menulis hadits memang sesuatu yang jarang dilakukan, karena sa’at itu alat tulis menulis tidak semudah seperti sa’at ini, di samping itu, juga belum ada para pemalsu hadits. Sa’at itu periwayatan hadits berada di tangan orang-orang yang jujur dan terpercaya.

Ketika terjadi fitnah antara Ali radhiyallahu ‘anhu dan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, para pendukung dari masing-masing golongan mulai berani memalsukan hadits atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tujuan mengunggulkan pemimpin masing-masing, tambah lagi periwayatan hadits pun semakin meluas dan mencakup setiap golongan, baik yang jujur dan kuat hafalannya, maupun yang pendusta dan sering lupa.

Disisi lain, sa’at itu terbilang sedikit para Sahabat yang punya kemampuan membaca dan menulis.

Tapi sa’at itu ada sekelompok kecil sahabat yang mencatat hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah Abdullah bin Amr bin ‘Ash.

Banyak sekali riwayat yang menunjukkan bahwasanya pencatatan hadits itu memang sudah terjadi di jaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan beliau sendiri yang memerintahkannya.

Di antara dalilnya ialah sabda Beliau pada sa’at khutbah di tahun pembuka’an kota Makkah ketika Abu Syah meminta kepada Beliau untuk dituliskan ceramah yang beliau sampaikan, “Tuliskanlah bagi Abu Syah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Juga hadits Abu Hurairah. Beliau menceritakan, “Sesungguhnya dia (Abdullah bin Amr) dahulu mencatat (hadits) sedangkan aku tidak mencatat.” (HR. Bukhari).

Begitu pula ketika Nabi ditanya oleh Abdullah bin Amr, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengar sabdamu dan akupun mencatatnya.” Maka beliau mengatakan, “Ya, (silakan).” Abdullah berkata, “Baik pada saat marah maupun ridha ?” Beliau menjawab, “Iya, karena sesungguhnya aku tidak berkata kecuali haq.” (HR. Ahmad, sanadnya shahih kata Syaikh Ahmad Syakir) (lihat Al Hadits An Nabawi, Mushthalahuhu, Balaghatuhu, Kutubuhu, hal. 40-49).

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr bin ‘Ash menulis hadits yang beliau dengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ada orang yang berkata, “Sesungguhnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kadang berbicara sambil marah. Karena itu, jangan ditulis.” Hal ini dilaporkan oleh Abdullah bin Amr kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tulis saja! Demi Allah, tidaklah keluar dari dua bibir ini kecuali kebenaran.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 18:8).

Al-Zahrani dalam bukunya “Tadwin al-Sunnah al-Nabawiyah” menyatakan bahwa penulisan hadits telah di mulai sejak masa Rasulullah. Dengan adanya hadits-hadits yang mengandung perintah untuk menulis, yang berarti penulisan hadits sesungguhnya tersebut dimulai sejak masa Rasulullah, sekalipun yang diperioritaskan adalah wahyu yang turun.

Juga ada riwayat beberapa ungkapan para sahabat. Salah satunya adalah Abu Hurairah, yang menyatakan bahwa hafalannya tidak ada yang melindungi kecuali ‘Abdullah ibn ‘Amr, karena ia tidak menulis sedangkan Ibnu ‘Amr menulis hadits.

Bukti lain yang serupa adalah bentuk shahifah. Misalnya ada shahifah Abu Bakr, Shahifah ‘Ali ibn Abi Tahlib, dan shahifah ‘Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash, semua itu merupakan bukti bahwa telah banyak pembukuan hadits pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pada awalnya hadits-hadits Nabi memang belum boleh dicatat, karena ketika itu kaum muslimin masih di awal-awal turunnya al-Qur’an dan khawatir akan tercampur dengan catatan ayat. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka untuk mencatat selain al-Qur’an.

Akan tetapi kemudian larangan itu Beliau hapus sesudah al-Qur’an banyak dihafal dan dicatat dengan baik oleh para sahabat. Sehingga tidak dikhawatirkan lagi catatan atau hafalan hadits tercampur dengan al-Qur’an.

Wasallam

Dirangkum dari berbagai sumber

_____________

TAMBAHAN KATA DHOLALAH (SESAT), BERARTI TIDAK SEMUA BID’AH SESAT

TAMBAHAN KATA DHOLALAH (SESAT), BERARTI TIDAK SEMUA BID’AH SESAT

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ;

إِنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنْ الأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلَالَةٍ لاَ تُرْضِي اللَّهَ وَرَسُولَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا (رواه الترمذي وقَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ)

“Ketahuilah, barangsiapa menghidupkan salah satu sunnahku yang telah mati sepeninggalku, maka baginya pahala seperti pahala orang yang ikut mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa melakukan bid’ah dholalah yang tidak mendapatkan ridha Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan memikul dosa orang-orang yang mengamalkan bid’ah itu, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. (H.R. Tirmidzi, dan beliau menghasankannya).

Mereka berkata ;

Andaikata semua bid’ah itu sesat, tentu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan langsung berkata : “Barangsiapa mengadakan sebuah bid’ah” tanpa harus menambahkan kata ‘dholalah’ dalam sabdanya tersebut. Dengan menyebut bid’ah dholalah (yang sesat), maka logikanya ada bid’ah yang tidak dholalah (tidak sesat)).

Bantahan :

Al ‘Allaamah Al Muhaddits Abdurrahman Al Mubarakfury dalam penjelasannya terhadap hadits di atas mengatakan (mengutip ucapan Shiddiq Hasan Khan) ; “Penulis kitab Mirqaatul Mafaatieh mengatakan, “Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam membatasi bid’ah disini dengan bid’ah yang dholalah untuk mengecuali-kan bid’ah hasanah”.

Pendapat senada juga diungkapkan oleh penulis kitab Asyi’atul Lama’aat dengan menambahkan ; “Karena bid’ah hasanah mengandung kemaslahatan bagi agama, sekaligus menguatkan dan melariskannya (di masyarakat)”. Saya katakan ; “Kedua pendapat tersebut salah besar ! Karena Allah dan Rasul-Nya tak pernah meridhai bid’ah, apa pun bentuknya. Seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mengecualikan bid’ah hasanah, niscaya beliau tidak akan menjelaskan dalam haditsnya bahwa : “Semua bid’ah itu sesat…” atau : “Semua hal yang baru itu bid’ah, dan semua yang sesat itu di neraka…” sebagaimana yang tersebut dalam salah satu riwayat. Ucapan beliau tadi pada dasarnya bukanlah qaid (pembatas) akan bid’ah. Namun merupakan bentuk pengkabaran beliau dalam mengingkari segala macam bid’ah, dan menjelaskan bahwa semua bid’ah adalah tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya. Dalil yang menguatkan pendapat ini ialah firman Allah : { وَرَهْبَانِيَّةً اِبْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ } yang maknanya : “…Dan mereka mengada-adakan bid’ah rahbaniyyah (kependeta’an) padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka…”. (Al Hadid: 27).

Lihat, bagaimana Allah menyifati bid’ah kependetaan tadi dengan kata-kata: ‘padahal kami tidak mewajibkannya atas mereka’. Maknanya cukup jelas, bahwa bid’ah mereka adalah sama sekali tidak Allah perintahkan, karena jika Allah perintahkan tidak akan menjadi bid’ah.

Adapun prasangka bahwa bid’ah itu ada kemaslahatannya bagi agama, sekaligus menguatkan dan melariskannya, bantahannya ialah firman Allah Ta’ala : { إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ } yang artinya : “Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa” (Al Hujurat: 12).

Saya tidak habis pikir, apa maknanya ayat ; “Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa”, dan ayat : “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku cukupkan bagimu nikmat Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu” (Al Ma’idah: 3), Kalaulah maslahat yang dimaksud ialah melariskan bid’ah..!?, Ya Allah, alangkah anehnya pendapat semacam ini… Adakah mereka tidak tahu bahwa dengan menyemarak-kan bid’ah berarti mematikan sunnah ? Dan dengan mematikan bid’ah berarti menghidupkan sunnah ?? Sungguh demi Allah, agama Islam itu lengkap, sempurna, dan tak kurang sedikit pun. Ia tak butuh sedikit pun terhadap bid’ah sebagai pelengkap. Nash-nash (dalil-dalil) yang dikandungnya cukup banyak dan meliputi setiap perkara atau problematika baru yang akan muncul hingga hari kiamat”.

Demikian sanggahan beliau dalam kitabnya Ad-Dienul Khalish secara ringkas.

Abdurrahman Al Mubarakfury rahimahullah berkata ; “Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi (بِدْعَةَ ضَلاَلَةٍ) diriwayatkan dengan idhafah, yaitu dibaca : Bid’ata dhalalatin, atau bisa juga dengan manshub (بِدْعَةً ضَلاَلَةً) dibaca : Bid’atan dhalalatan sebagai sifah wa mausuf.

Jadi, ‘Dholalah’ merupakan sifat bagi bid’ah tersebut. Sedangkan kata sifat ini termasuk sifatun kaasyifah (sifat yang menyingkap hakekat sesuatu), bukan sifatun muqayyidah yang mengecualikan bid’ah hasanah (dari bid’ah yang menyesatkan). Dalilnya ialah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya yang berbunyi : (كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ) “Semua bid’ah itu sesat” (H.R. Abu Dawud, dari ‘Irbadh bin Sariyah).

Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi (لاَ تُرْضِي اللهَ وَرَسُولَهُ) “Tidak mendapatkan ridha Allah dan Rasul-Nya”, merupakan sifatun kaasyifah yang kedua bagi bid’ah tadi. (Lihat : Tuhfatul Ahwadzi Bisyarh Jaami’ At Tirmidzi karya Al Mubarakfury, syarah hadits no 2601).

Lebih dari itu, hadits ini masih diperselisihkan keshahihannya. Meski At Tirmidzi menganggapnya hasan, dan beliau memang terkenal gampang menghasankan hadits, namun salah satu perawi hadits ini ialah Katsier bin Abdillah bin Amru bin ‘Auf Al Muzani.

Berikut ini nukilkan sanad hadits diatas selengkapnya ;

Imam At Tirmidzi rahimahullah berkata :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ مَرْوَانَ بْنِ مُعَاوِيَةَ الْفَزَارِيِّ عَنْ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ هُوَ ابْنُ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ الْمُزَنِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالِ بْنِ الْحَارِثِ … الحديث (جامع الترمذي, كتاب العلم, باب: ما جاء في الأخذ بالسنة واجتناب البدع, حديث رقم 2601).

Abdullah bin Abdirrahman mengabarkan kepada kami, katanya, Muhammad bin ‘Uyainah mengabarkan kepada kami, dari Mirwan bin Mu’awiyah Al Fazary, dari Katsir bin ‘Abdillah, yaitu : bin ‘Amru bin ‘Auf Al Muzany, dari Ayahnya, dari Kakeknya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal ibnul Harits :…. Al hadits”. (H.R. Tirmidzi, no 2601).

Cacat hadits ini ialah pada silsilah rawi yang bercetak tebal di atas. Untuk lebih jelasnya, berikut nukilkan komentar para ahli hadits mengenai riwayat mereka :

1. Al Imam Ibnu Hibban rahimahullah mengatakan :

كثير بن عبد الله بن عمرو بن عوف المزني: يروي عن أبيه عن جده، روى عنه مروان بن معاوية وإسماعيل بن أبى أويس، منكر الحديث جدا، يروي عن أبيه عن جده نسخة موضوعة لا يحل ذكرها في الكتب ولا الرواية عنه (كتاب المجروحين 2/221).

Katsir bin Abdillah bin ‘Amru bin ‘Auf Al Muzany, Ia meriwayatkan dari Ayahnya dari kakeknya. Sedang yang meriwayatkan dari Katsir ialah Marwan bin Mu’awiyah dan Isma’il bin Abi Uwais. (Katsir ini) munkarul hadits jiddan [16]). Ia meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya sekumpulan hadits maudhu’ (palsu) yang tidak halal untuk disebutkan dalam kitab-kitab dan tidak halal untuk diriwayatkan. (Kitabul Majruhien 2/221).

[16] Keduanya merupakan jarhun syadied (kritikan pedas), yang menjatuhkan hadits orang itu ke tingkat dha’if jiddan (lemah sekali) bahkan maudhu’ (palsu).

2. Imam An Nasa’i rahimahullah berkata :

كثير بن عبد الله بن عمرو بن عوف: متروك الحديث (الكامل لابن عدي 6 / 58).

Katsir bin Abdillah bin ‘Amru bin ‘Auf ; matruukul hadits. (Al Kamil, oleh Ibnu ‘Adiy 6/58).

3. Imam Syafi’i dan Abu Dawud rahimahumallah menyifatinya dengan kata-kata :

ركن من أركان الكذب (ميزان الاعتدال 3 / 407)

Salah satu tiang daripada tiang-tiang kedusta’an. (Mizanul I’tidal, 3/407). [Maksudnya ia salah seorang pembohong besar].

4. Ibnu Hajar Al ‘Asqalany rahimahullah berkata :

كثير بن عبد الله بن عمرو بن عوف المزني المدني ضعيف أفرط من نسبه إلى الكذب (تقريب التهذيب – 2 / 39)

Katsir bin Abdillah bin ‘Amru bin ‘Auf Al Muzany Al Madany : “Dha’if”, namun orang yang menuduhnya sebagai pendusta agak berlebihan. (Taqribut Tahdzieb, 2/39).

Kesimpulannya, hadits di atas derajatnya dha’if jiddan atau minimal dha’if, sehingga tidak bisa dijadikan landasan dalam berdalil. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan At Tirmdzi, hadits no 2677.

Penulis : Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc

Artikel ; http://www.muslim.or.id

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

_______________________

TAMBAHAN KATA YANG BUKAN DARINYA, BERARTI TIDAK SEMUA BID’AH TERTOLAK

TAMBAHAN KATA YANG BUKAN DARINYA, BERARTI TIDAK SEMUA BID’AH TERTOLAK

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ;

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ، وفي لفظ: مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
(رواه مسلم)

“Barangsiapa mengada-adakan dalam agama kami, yang bukan berasal darinya (agama), maka ia tertolak”. (H.R. Muslim, hadits no 1718).

Mereka mengatakan :

Penambahan kalimat ‘yang bukan darinya’ (agama), merupakan bukti bahwa tidak semua yang baru berarti tertolak dan sesat. Hanya yang baru yang tidak bersumber dari agama sajalah yang tertolak dan sesat. Andaikata semua hal baru adalah sesat, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menambahkan kalimat tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan langsung berkata ; “Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam agama kami ini, maka ia tertolak”, tetapi hal ini tidak beliau katakan.

Kesimpulannya, selama hal baru tersebut bersumber dari Al Qur’an dan Hadits, maka ia dapat diterima oleh agama, diterima oleh Allah, dan diterima oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bantahannya ;

1. Al Jurjani mengatakan : “Bid’ah ialah perbuatan yang menyelisihi As Sunnah (ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Dinamakan bid’ah karena pelakunya mengada-adakannya tanpa berlandaskan pendapat seorang Imam. Bid’ah juga berarti perkara baru yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat dan tabi’in, dan tidak merupakan sesuatu yang selaras dengan dalil syar’i”. (At Ta’riefaat 1/13. Oleh Al Jurjani).

Dari definisi di atas, dapat kita fahami bahwa yang namanya bid’ah itu harus menyelisihi ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak selaras dengan dalil syar’i (Al Qur’an dan Sunnah). Berangkat dari sini, perkataan bahwa jika sesuatu yang baru (bid’ah) itu bersumber dari Al Qur’an dan Hadits, maka ia dapat diterima oleh agama, diterima oleh Allah, dan diterima oleh Rasul-Nya, adalah kesalahan fatal yang ujung-ujungnya menyamakan antara bid’ah dengan syari’at itu sendiri, sebab menurutnya keduanya berasal dari Al Qur’an dan hadits, dan ini jelas batil.

2. Kata-kata ‘yang bukan berasal darinya (agama)’ dalam hadits di atas bukanlah sifat yang membatasi, akan tetapi sifat yang menyingkap bahwa semua bid’ah hakikatnya bukanlah berasal dari agama. Karena bila sesuatu itu berasal dari Al Qur’an dan Hadits maka hal tersbut telah ada sejak adanya Islam itu sendiri, dan bukan dianggap baru. Jelas sekali bahwa perkata’an ini mengandung kontradiksi yang tidak mungkin diucapkan oleh orang yang berakal, apalagi seorang Rasul yang paling fasih berbahasa Arab dan menerima wahyu dari Allah Ta’ala.

Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

___________

BARANGSIAPA MERINTIS PERKARA BARU (BID’AH)

BARANGSIAPA MERINTIS PERKARA BARU (BID’AH) . .

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (Riwayat Muslim).

Mereka menyimpulkan, dengan hadist ini dibolehkannya membuat suatu cara baru (bid’ah) dalam Islam, dan akan mendapatkan pahala.

Jawabannya :

Untuk menyimpulkan suatu hadist, maka diantaranya kita harus mengetahui sebab turun (asbabul wurud) atau kronologi dari hadist tersebut.

Adapun sebab turun dari hadist tadi yaitu, Di riwayatkan suatu ketika Rosululloh kedatangan suatu kaum dari Mudlor dengan kondisi yang memprihatinkan, mereka bertelanjang kaki. Maka Rosululloh memerintahkan kepada para sahabat yang ada untuk memberikan bantuan atau sodaqoh. Lalu datanglah seseorang dari kalangan anshor dengan membawa kantung yang tangannya hampir tidak bisa membawanya bahkan tidak mampu, kemudian orang-orang pun mengikuti sehingga aku melihat dua tumpukan besar dari makanan dan pakaian, maka aku melihat wajah Rosulullah berseri-seri bagaikan perak bersepuh emas.

Lalu beliau bersabda ;

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”.

Apabila hadis ini dijadikan dalil untuk membenarkan adanya bid’ah hasanah, adalah sungguh leliru, karena hadist tadi tidak menunjukan adanya perintah Nabi untuk membuat-buat amalan baru.

Hadist tadi sebagai tanggapan baik atau apresiasi Rosululloh kepada seorang sahabat yang mendahului memberikan sodaqoh atau bantuan.

Dari kisah di atas juga jelas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memotivasi para sahabat untuk bersedekah. Lalu sahabat anshorlah yang pertama kali bersedekah, lalu diikuti oleh para sahabat yang lain.

Apakah sodaqoh atau bantuan seorang Sahabat dari ansor tersebut mau di katakan bid’ah (perkara baru) ?

Tentunya kita semua mengetahui, bahwa shodaqoh bukanlah perkara yang diada-adakan.

Dari riwayat itu juga nampak jelas, bahwa yang dimaksud dengan sunnah hasanah adalah sunnah yang valid dari Nabi, dalam kasus ini adalah sedekah yang dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam riwayat itu tidak menunjukkan ada seorang Sahabat yang membuat amalan baru atau suatu cara yang baru dalam Islam. Sodaqoh atau bantuan yang dilakukan Sahabat anshor bukan cara atau kreasi baru yang di buat seorang Sahabat.

Maka berdalil dengan hadits tersebut untuk menyatakan adanya bid’ah hasanah adalah cara pendalilan yang di cari-cari.

Mereka juga berkata ;

Dalam hadits ini dengan sangat jelas Rasulullah mengatakan : “Barangsiapa merintis sunnah hasanah…”. Pernyata’an Rasulullah ini harus dibedakan dengan pengertian anjuran beliau untuk berpegang teguh dengan sunnah (at-Tamassuk Bis-Sunnah) atau pengertian menghidupkan sunnah yang ditinggalkan orang (Ihya’ as-Sunnah). Karena tentang perintah untuk berpegang teguh dengan sunnah atau menghidupkan sunnah ada hadits-hadits tersendiri yang menjelaskan tentang itu. Sedangkan hadits riwayat Imam Muslim ini berbicara tentang merintis sesuatu yang baru yang baik yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Karena secara bahasa makna “sanna” tidak lain adalah merintis perkara baru, bukan menghidupkan perkara yang sudah ada atau berpegang teguh dengannya”

Bantahan ;

Yang dimaksud Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً

“Barang siapa yang merintis sunnah hasanah (baik)”.

Adalah mendahului dalam mengamalkan sunnah yang telah valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan membuat atau merekayasa atau berkreasi dalam membuat suatu ibadah yang baru. Hal ini sangat jelas dari beberapa sisi ;

PERTAMA : Kronologi dari hadits tersebut menunjukkan akan hal itu.

Di riwayatkan dari Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, Suatu ketika Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam kedatangan suatu kaum dari Mudlor dengan kondisi yang memprihatinkan, mereka bertelanjang kaki. Maka Rosululloh memerintahkan kepada para sahabat yang ada untuk memberikan bantuan atau sodaqoh. Lalu datanglah seseorang dari kalangan anshor dengan membawa kantung yang tangannya hampir tidak bisa membawanya bahkan tidak mampu, kemudian orang-orang pun mengikuti sehingga aku melihat dua tumpukan besar dari makanan dan pakaian, maka aku melihat wajah Rosulullah berseri-seri bagaikan perak bersepuh emas.

Lalu beliau bersabda ;

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”. (HR Muslim).

Dari kisah di atas jelas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaulah yang memotivasi para sahabat untuk bersedekah. Lalu sahabat anshor lah yang pertama kali bersedekah, lalu diikuti oleh para sahabat yang lain.

Lalu setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً

“Barang siapa yang merintis sunnah hasanah (baik)”.

Dari kronologi ini jelas bahwa yang dimaksud dengan sunnah hasanah adalah sunnah yang valid dari Nabi, dalam kasus ini adalah sedekah yang dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

KEDUA : Secara bahasa bahwa makna dari lafal سَنَّ adalah memulai perbuatan lalu diikuti oleh orang lain, sebagaimana hal ini kita dapati di dalam kamus-kamus bahasa Arab

Al-Azhari rahimahullah (wafat tahun 370 H) dalam kitabnya Tadziib al-Lughoh berkata :

“Setiap orang yang memulai suatu perkara lalu dikerjakan setelahnya oleh orang-orang maka dikatakan dialah yang telah merintisnya” (Tahdziib al-Lughoh, karya al-Azhari, tahqiq Ahmad Abdul Halim, Ad-Daar Al-Mishriyah, 12/306).

Hal ini juga sebagaimana disampaikan oleh Az-Zabidi dalam kitabnya Taajul ‘Aruus min Jawahir al-Qoomuus, 35/234, Ibnul Manzhuur dalam kitabnya Lisaanul ‘Arob 13/220).

Oleh karenanya lafal سَنَّ tidaklah berarti harus berkreasi amalan baru atau berbuat bid’ah yang tidak ada contoh sebelumnya.

Akan tetapi lafal سَنَّ bersifat umum yaitu setiap yang memulai suatu perbuatan lalu diikuti, baik perbuatan tersebut telah ada sebelumnya atau merupakan kreasinya sendiri.

Namun dengan melihat sebab kronologi hadits tersebut maka dipahami bahwa yang dimaksud oleh Nabi dengan سَنَّ adalah yang mendahului melakukan sunnah yang telah diajarkan dan dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu bersedekah.

Karenanya al-Azhari berkata tentang hadits ini : “Dalam hadits “Barang siapa yang “sanna” sunnah yang baik baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya, dan barang siapa yang “sanna” sunnah yang buruk …”, Maksud Nabi adalah barang siapa yang mengamalkannya untuk diikuti”. (Tahdziib al-Lughoh 12/298).

Jadi bukan maknanya menciptakan suatu amalan ! !

Dari sini makna “sanna sunnah hasanah” bisa dibawakan kepada dua makna,

1. Mendahului atau memulai menjalankan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu diikuti oleh orang-orang lain. Bisa jadi sunnah tersebut bukanlah sunnah yang ditinggalkan atau dilupakan atau telah mati, akan tetapi dialah yang pertama kali mengingatkan orang-orang lain dalam mengerjakannya. Sebagaimana dalam kasus hadits Jarir bin Abdillah di atas, sunnah Nabi yang dikerjakan adalah sedekah. Tentunya sunnah ini bukanlah sunnah yang telah mati atau ditinggalkan para sahabat, akan tetapi pada waktu kasus datangnya orang-orang miskin maka sahabat anshori itulah yang pertama kali mengamalkannya sehingga diikuti oleh para sahabat yang lain.

Hal ini didukung dengan hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, ia berkata :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَحَثَّ عَلَيْهِ فَقَالَ رَجُلٌ عِنْدِي كَذَا وَكَذَا، قَالَ فَمَا بَقِيَ فِي الْمَجْلِسِ رَجُلٌ إِلاَّ تَصَدَّقَ عَلَيْهِ بِمَا قَلَّ أَوْ كَثُرَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَنِ اسْتَنَّ خَيْرًا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ كَامِلاً وَمِنْ أُجُوْرِ مَنِ اسْتَنَّ بِهِ وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنِ اسْتَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَاسْتُنَّ بِهِ فَعَلَيْهِ وِزْرُهُ كَامِلاً وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِي اسْتَنَّ بِهِ وَلاَ يُنْقَصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

“Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabipun memotivasi untuk bersedekah kepadanya. Maka ada seseorang yang berkata, “Saya bersedekah ini dan itu”. Maka tidak seorangpun yang ada di majelis kecuali bersedekah terhadap lelaki tersebut baik dengan sedikit maupun banyak. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Barang siapa yang “istanna”/ merintisi kebaikan lalu diikuti maka baginya pahalanya secara sempurna dan juga pahala orang-orang yang mengikutinya serta tidak berkurang pahala mereka sama sekali. Dan barang siapa yang merintis sunnah yang buruk lalu diikuti maka baginya dosanya secara sempurna dan dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sama sekali” (HR Ibnu Maajah no 204).

2. Bisa jadi makna “sanna sunnatan hasanah” kita artikan dengan menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mati atau ditinggalkan. Hal ini jika kita merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Amr bin ‘Auf Al-Muzani

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِل بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيِئًا . وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةً فَعَمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ أَوْزَارُ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِ مَنْ عَمِلَ بِهَا شَيْئًا

“Barang siapa yang menghidupkan sebuah sunnah dari sunnahku lalu dikerjakan atau diikuti oleh manusia maka baginya seperti pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka (yang mengikutinya) sama sekali. Dan barang siapa yang melakukan bid’ah lalu diikuti maka baginya dosa orang-orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa mereka sama sekali” (HR Ibnu Maajah, 209).

Akan tetapi hadits ini masih diperselisihkan tentang keshahihannya.

Kedua makna di atas ini adalah makna yang tepat dan sesuai dengan keumuman hadits “Seluruh bid’ah sesat”, yang tidak sesat hanyalah sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berbeda halnya jika kita mengartikan makna “sanna sunnatan hasanah” dengan makna berbuat bid’ah hasanah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka hal ini tidaklah tepat karena menyelisihi dua hal

1. Bertentangan dengan keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Seluruh bid’ah sesat”

2. Menyelisihi makna yang termaktub dalam kronologi hadits Jarir bin Abdillah, bahwa yang dimaksud dengan sunnah hasanah adalah bersedekah. Dan bersedekah bukanlah bid’ah.

KETIGA : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً

“Barang siapa yang merintis sunnah hasanah (baik)” tidaklah mungkin dibawakan pada makna kreasi amal ibadah yang baru. Karena tidak mungkin diketahui itu baik atau buruk kecuali dari sisi syari’at. Akal tidak punya peran dalam menilai ibadah hasil kreasi baik atau buruk.

Terlebih lagi saudara-saudara kita yang suka berkreasi membuat bid’ah hasanah mengaku bahwa mereka bermadzhab Asyaa’iroh. Padahal diantara madzhab Asyaa’iroh adalah mereka menolak at-Tahsiin wa at-Taqbiih al-‘Aqliyaini, mereka hanya menerima at-Tahsiin wa at-Taqbiih as-Syar’iyaini.

Maksudnya yaitu bahwasanya menurut jumhur Asyaa’iroh bahwasanya suatu perbuatan tidak mungkin diketahui baik atau buruknya, terpuji atau tercela hanya dengan sekedar akal. Akan tetapi kebaikan atau keburukan suatu perbuatan hanyalah diketahui melalui syari’at atau dalil yang datang.

Berikut ini nukilan dari beberapa ulama besar madzhab Asyaairoh tentang hal ini.

Al-Baaqillaani rahimahullah (wafat 403 H) berkata :

“…Akan tetapi akal tidak memandang sesuatu perkarapun baik pada dzatnya yang dikarenakan sifat dan sisi, dan tidak pula memandang baik sesuatupun yang menyeru untuk melakukan perkara tersebut. Akal juga tidak menilai buruk sesuatupun pada dzatnya, dan juga tidak menilai buruk sesuatupun yang menyeru kepada melakukan perkara tersebut. Ini semua merupakan kebatilan, tidak ada asalnya. Yang wajib adalah mensifati perbuatan mukallaf (hamba) bahwasanya ia baik atau buruk hanyalah dengan hukum Allah yang menilainya baik atau buruk” (At-Taqrib wa al-Irsyaad as-Soghiir, karya al-Baaqilaani, tahqiq : DR Abdul Hamid, Muassasah ar-Risaalah, cetakan kedua, 1/279).

Al-Baqillaani juga menjelaskan bahwasanya sholat, haji, dan puasa tidak mungkin diketahui kebaikannya kecuali dari sisi syari’at, adapun akal tidak mungkin secara independent untuk mengetahui kebaikan atau keburukan perbuatan atau amalan seorang hamba.

Bahkan menurut beliau, keadilan, kejujuran, membalas budi, semuanya diketahui kebaikannya dengan dalil syari’at, bukan dengan akal. Sebaliknya zina, minum khomr, homoseksual, semuanya diketahui keburukannya dengan dalil sam’i (Al-Qur’an atau Al-Hadits) dan tidak diketahui dengan sekedar akal. (Lihat At-Taqriib wa al-Irsyaad 1/278-279).

Lihat juga perkata’an al-Baqillani dalam kitab beliau yang lain seperti at-Tamhiid fi ar-Rod ‘ala al-Mulhidah al-Mu’atthilah wa ar-Rofidho wa al-Khowaarij wa al-Qodariyah hal 97 dan 107, dan juga kitab al-Inshoof fi maa yajibu I’tiqooduhu wa laa yajuuzu al-jahlu bihi, tahqiq Al-Kautsari, AL-Maktabah al-Azhariyah, cetakan kedua, hal 46-47).

Abu Hamid Al-Gozali rahimahullah berkata :

“Tidak bisa diketahui baiknya perbuatan-perbuatan (hamba) dan juga keburukannya dengan melalui akal. Akan tetapi hanya bisa diketahui dengan syari’at yang dinukil. Maka sesuatu yang baik di sisi kami adalah apa yang dianggap baik oleh syari’at dimana syari’at memotivasi untuk melakukannya. Dan yang buruk adalah apa yang dinilai buruk oleh syari’at dengan melarangnya dan mencelanya” (Al-Mankhuul min Ta’liqoqt al-Ushuul, Tahqiq : DR Muhammad Hasan, Daarul Fikr, cetakan kedua, hal 8)

Imamul Haromain Al-Juwaini rahimahullah berkata :

لا يدرك بمجرد العقل حسن ولا قبح على مذهب أهل الحق وكيف يتحقق درك الحسن والقبح قبل ورود الشرائع مع ما قدمناه من أنه لا معنى للحسن والقبح سوى ورود الشرائع بالذم والمدح

“Dan tidaklah diketahui kebaikan atau keburukan hanya dengan berdasar akal, (hal ini) menurut madzhab ahlul haq (asya’iroh-pen). Bagaimana bisa diketahui kebaikan dan keburukan sebelum datangnya syari’at ?. Tidak ada makna kebaikan dan keburukan selain datangnya syari’at dengan pencelaan atau pemujian” (At-Talkhiis fi ushuul al-Fiqh, tahqiq : Abdullah julim An-Nebali, Daarul Basyaair al-Islaamiyah, 1/157).

Jika kebaikan tidak mungkin diketahui dengan akal menurut mereka, maka lantas bagaimana mereka bisa menilai bahwa bid’ah hasanah adalah baik ??.

Jangankan perkara ibadah, bahkan perkara mu’amalah menurut asyaa’iroh tidak bisa diketahui baik dan buruknya dengan akal, harus dengan dalil. Maka bagaimana lagi dengan perkara-perkara ibadah yang merupakan hasil kreasi ??

KEEMPAT : Kalau memang makna

مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سنَّةً حَسَنَةً

adalah membuat kreasi ibadah baru yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan kita untuk sering berkreasi membuat ibadah baru (bid’ah hasanah). Semakin banyak berkreasi maka semakin bagus.

Jika perkaranya demikian lantas apa faedahnya anjuran Nabi tatkala terjadi perselisihan dengan barkata ;

“فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي”

“Hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku”

“عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ”

“Gigitlah sunnahku dengan geraham kalian”

Apa faedahnya perkata’an Nabi ini jika ternyata setiap orang boleh berkreasi membuat sunnahnya sendiri-sendiri ? ?

Diambil dari sebagian tulisan Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja & Abu Hudzaefah.

___________________

CELA’AN PARA SAHABAT TERHADAP BID’AH

1. Dari Abdullah bin ‘Ukaim bahwasanya ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata ;

إن أصدق القيل قيل الله و إن أصدق الهدى هدى محمد و إن شر الأمور محدثاتها، ألا و إن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة و كل ضلالة فى النار

“Sesungguhnya perkata’an yang paling benar adalah firman Alloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wasalam dan sesungguhnya seburuk-buruk perkara adalah yang dibuat-buat (dalam agama). Ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap perkara yang dibuat-buat (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan dan setiap kesesatan itu (tempatnya dineraka). [Dikeluarkan oleh Ibnul Wudhah dalam al Bida’, hal. 31 dan al Laalikaa’iy, hadits no. 100 (1/84).

2. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata ;

إتبعو و لا تبتدعوا فقد كفيتم و كل بدعة ضلالة

“Ber-ittiba’lah kamu kepada Rosululloh dan janganlah berbuat bid’ah (perkara baru dalam agama), karena sesungguhnya agama ini telah dijadikan cukup buat kalian, dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan” [Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Al Ibaanah, no. 175 (1/327-328) dan Al Laalikaa’iy, no. 104 (1/86).

3. Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata ;

كل بدعة ضلالة و إن رأها الناس حسنة

“Setiap bid’ah itu adalah kesesatan, sekalipun manusia menganggapnya baik (hasanah)”. [Al Ibaanah, no. 205 (1/339) Al Laalikaa’iy, no. 126 (1/92)

[Disalin dari buku “Mengapa Anda Menolak Bid’ah Hasanah?” terbitan Pustaka At-Tibyan]

_________