TOBATNYA SEORANG KUBURIYUN

TOBATNYA SEORANG KUBURIYUN

Aku dulu sering membayangkan dengan cara menghayal, ka’bah itu seperti apa, hanya gambaran dari imajinasiku, aku tahu ka’bah dari kata orang orang dan gambar gambar yang sudah ada.

Tobatku dari selama menjadi penganut Islam model aswaja, membuat aku yakin bahwa ajaran yang aku kenal sebelumnya salah. Tetapi pertentangan jiwaku menerima “Muhammadiyah” ketika itu juga berat, hingga timbul pertarungan batin antara tetap di aswaja atau hengkang menuju dunia baruku, yaitu “Muhammadiyah”.

Terkadang aku melirik kesyirikan-kesyirikan yang pernah aku kerjakan, seperti bertirakat dikuburan, membuang waktu malam dari kuburan ke kuburan orang sholeh (menurut keyakinan aswaja), memburu wangsit atau ilham dari para penghuni kuburan orang orang shaleh.

Malam bukan menghabiskan waktu di mesjid, tetapi disebuah mushallah tanah pekuburan kramat (ala aswaja).

Dipelataran kuburan itu memang tempat mangkir kalangan selebritis kuburiyun yang mencari berbagai ilmu, macam “ilmu kassyaf” dan “Ladunni”

Di Madura memang yang namanya kuburan kyai atau orang orang sholeh lebih dari sekedar ka’bah di mekkah. bahkan demi kuburan mereka melakukan apa saja, guna kuburan bisa tertarik memberikan aura kepandaian kepada peminatnya.

“Suluk” kuburiyun ini memang berbacam macam caranya, tergantung keilmuan yang bersangkutan di tentang bertirakat di areal kuburan.

Saya mengenal tokoh sesat waktu itu namanya “Umbar atmonosari”, rumahnya disekitar kota Sumenep, jalan trunoyo, dia seorang ahli kuburan yang tak pernah absen, bahkan tak pernah sembahyang, juga seorang tokoh dari anshor waktu itu.

Menurutnya “sembahyang”
itu hanya untuk orang awam, itulah sebabnya dia gak pernah shalat jum’at ke mesjid, dia juga jago wanita melalui cara ilmu pelet yang dimiliki si Umbar ini.

Gurunya yang terkenal namanya Amirul Khotib asal Saronggi Sumenep, dia tokoh sholawat Wahidiyah yang sangat terkenal, juga gak pernah sholat, kerjanya hanya muter muter baca sholawat wahidiyah, karang KH. Romo yai Abdul Majid Ma’ruf kedonglo kediri.

Sholawat ini dikenal sebaga “Mujahadah” yang datang bisa mencapai ribuan, tetapi terus terang saja, kalau baca sholawat ini kayak gasing memutar kekanan kekiri, kedepan kebelakang, sambil membaca Ya sayyidi Ya Rosulullah secara berjama’ah, biasanya gaya sholawat wahidiyah ini memang harus dilakukan dengan berteriak teriak memanggil Rasulullah, shalat atau tidak yang penting baca sholawat wahidiyah.

Itulah Umabar (tokoh Anshor Sumenet tahun 70 puluhan, saya kenal baik dengan dia, bagaimana hidupnya dihabiskan dengan wanita hasil peletannya, juga pengikut setia sholawat wahidiyah.

Aku yang merasa salah dan dosa ikut-ikutan sholawat tersebut bukan makin menemukan ketenangan, tetapi diburu rasa ragu, bahwa yang dikerjakan aku salah,

Aku mohon kepada Allah supaya diberi ilmu yang benar. Karena hidupku pada waktu itu hanya dihabiskan untuk ibadah ibadah bid’ah menyesatkan, aku belajar namanya Hizbul Bahar, dan bermacam macam hizib-hizb unggulan aswaja.

Tetapi yang ada justru aku makin ragu, bahkan gara gara petunjuk seorang kyai aswaja K. Dawi asal Lenteng Sumenep, aku pernah puasa selama 40 hari. Buka dan sahurnya hanya skepal nasi putih, tetapi justru makin menguatkan aku meninggalkan Aswaja.

Taun 1977 aku mulai meninggalkan aswaja, bergabung dengan pengajian Ashhabul Kahfi yang terdiri dari 7 pemuda.

Dari wadah ini aku mengenal dunia ilmu. aku di perkenalkan pada sebuah pustaka temanku Jufry namanya, di rak lemari buku Jusfry ini terdapat berbagai buku tua warisan Ustad-ustad tahun 50 hingga enam puluhan, aku baca semua buku buku itu,

Seperti buku Ustad A. Hassan, soal Jawab A. Hassan, Surat debat dengan Sukarno, berjilid-jilid Al muslimun, Panji Masyarakat, Kiblat, buku karangan KH. Bahauddin Mudhhari (Dialog Islam Kristen), Buku bruosur Darussalam oleh Ustad Usman Bahababazy dan ratusan buku lainnya yang kemudian membuat aku bertobat murni dari Aswaja.

Tetapi aku tidak puas hanya sampai disitu, aku mulai haus ilmu, aku mulai gila membaca, aku datangi semua perpustaka’an di Sumenep, aku bandingkan ilmu-ilmu yang kudapat.

Aku ketemu dengan bukunya Sirajuddin Abbas 40 masalah dalam Islam. Buku ini sangat tidak ilmiah, bahkan isinya lebih standar emosi. Aku yang tak kenal “wahabi” waktu itu justru menjadi tahu wahabi dari caci maki sirajuddin Abbas terhadap wahabi, juga caci maki Sirajuddin abbas terhadap Ibnu Taimiyah. Sirajuddin abbas dalam memaki Ibnu Taimiyah hanya berpedoman pada seorag Ibnu batutah ketika berlayar di Aceh,

Dengan caci maki Sirajuddin Abbas tersebut justru membuat aku makin yakin ada tersembunyi di balik hujatannya terhadap Wahabi dan Ibnu Taimiyah,

Itulah yang mendorong aku membuka buku buku yang beraliran wahabi, aku pelajari buku buku wahabi, dan terus terang saja waktu itu tidak ada mulut paling jelek mencaci wahabi selain aswaja. Padahal waktu itu aku gak kenal wahabi, wahabi yang aku kenal waktu itu adalah Muhammadiyah, sebab kalau kyai kyai Madura lagi mencemooh Muhammadiyah selalu bilang “Muhammadiyah wahabi “. Itu dulu sebelum ada kasak kusuk dakwah salafi di Indonesia.

Jadi kebencian pada wahabi itu sudah ditanamkan sejak dini oleh para kyai di Madura, tetapi beda dengan aku, justru wahabi yang makin dibenci membuat aku terpanggil ingin tahu wahabi.

Siapa wahabi ?, ternyata maksudnya orang orang yang menjalankan Qur’an dan sunah, itulah yang dibenci mereka.

Muhammadiyah yang menjadi payung aku mempelajari Islam waktu membuat aku ingin menguji kebenaran lewat Muhammadiyah.

Tahun 1992 aku membayangkan Mekkah, menggambarkan ka’bah kayak apa, aku ingin melihat ka’bah, aku ingin tahu sendiri seperti apa mekkah, ka’bah dan Madina. Tetapi bagaimana Mungkin aku bisa ke ka’bah, pusat kiblat umat Islam itu, sedangkan yang mau dimakan waktu itu saja sering absen perharinya, apa mungkin bisa aku ke Mekkah ?

Aku tantang Allah dengan doa doaku : ”Ya Allah, Ya Allah, aku sudah meninggalkan alam sesat, dan aku berada dalam pangkuan Muhammadiyah, aku ingin ya Allah bukti, kalau aku masuk Muhammadiyah sebagai ormas yang benar membela agamamu, maka buktikan kebenaran-MU ya Allah, aku ingin merasakan nikmatnya Mekkah seperti apa, aku sekarang tak perduli aku menderta/ miskin, tetapi aku ingin bukti bahwa aku masuk bukan pada ormas yang salah ya Allah. Tetapi jika sekiranya aku gak benar, Ya Allah jangan kabulkan doaku, aku sudah sangat menderita ya Allah, kau ambil ayahku, engkau membuat lingkungannya benci padaku, karena aku berjalan diatas Quran dan sunah, ya Allah jika memang benar izinkan dan mudahkan aku menggapai ka’bah dengan tanganku sendiri.

Tahun 1993 menjelang Ramadhan saya bermimpi Nabi Muhammad datang kepadaku, beliau berada diantara pelangi yang menyambungkan ke Ka’bah, lalu beliau bersabda padaku : Kamu sudah menjalani empat perkara, tinggal satu, maka beliau memberikan yang satu itu padaku, aku terbangun, tenang hatiku, merasakan sesuatu ada yang hadir di dekatku.

Besoknya seorang tetanggaku bapak H Ghani bercanda denganku, ”Kapan ke mekkah ?”. jawabku : ”Isnsya Allah tahun ini.
Bapak Haji Ghani (tetanggaku hanya tersenyum, tapi aku tak su’uddzon pdanya).

Setelah H tinggal 10 hari, mendadak aku dikejutkan dengan telegram dari PP. Muhammadiyah Jakarta yang isinya : Zul secepatnya ke Jakarta, anda mendapat undangan dari Raja Fahd bin Abdul Aziz untuk menunaikan ibadah haji, bagaikan di sambar petir kegirangan, bulu kudukku merinding dan aku rebah ketanah sujud sambil menangis syukur, aku peluk Ibuku, aku cium ibuku, pamanku, semua menangis mendengar aku dipanggil menunaikan ibadah haji, hingga bibiku sendiri gak percaya kalau aku akan ketanah suci, bahkan mengatakan aku sinting……. Itulah bukti kebenaran Islam yang aku temukan di Muhammadiyah.
Tetanggapun menjadi gempar, bahkan ketika aku diliput RCTI di mekkah tahun 1993.

Saksi hidup dari orang orang PP. Muhammmadiyah masih hidup, beliau Ustad Goodwill Zubir (padang ), beliau juga sebagai ketua di PP. Muhammadiyah, juga saksi hidup lainnya adalah Buya Risman Mukhtar (padang) ketua PW Muhammadiyah DKI. Saksi meninggal adalah : Ustad Anhar Burhanuddin MA (Padang)…..Juga ketua Islam Tiongha (Ali Karim Oi, pemilik Mesjid Lautze jakarta).

______________

Profil Ustadz Zulkarnain El-Madury

Tanggal Lahir, 6 Agustus 1963

Pendidikan :

– Institute of Bussiness Study Angkatan 1992
– Pesantren At-Taufiqiyah Sumenep Angkatan 1984

Tempat Tinggal :

Jakarta, Kota Asal Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur

Jabatan :

Da’i Pimpinan Pusat Muhammadiyah Januari 1990 hingga sekarang Membina masyarakat Islam Tertinggal

Kontak Facebook :

https://www.facebook.com/KomunitasMuslimAntiBidah

https://www.facebook.com/groups/zelmadury/(Group1000.000 Orang Menolak Aswaja Penyebar Bid’ah)

________________

Iklan

MATI TERLAKNAT AKIBAT KEBODOHAN DAN TA’ASHUB

MATI TERLAKNAT AKIBAT KEBODOHAN DAN TA’ASHUB

Meninggal dalam keada’an husnul khatimah (akhir hidup yang baik) adalah damba’an setiap orang muslim, apakah dia seorang yang ta’at atau tidak.

Sebaliknya tidak ada seorang muslim pun, apakah seorang pelaku kemaksiatan sekali pun yang ingin mati dalam keada’an su’ul khatimah. Terlebih lagi mati dalam keada’an mendapatkan laknat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mati dalam keada’an di laknat Allah Ta’ala pernah terjadi menimpa seorang yang jahil namun sangat fanatik terhadap seorang tokoh penyesat umat.

Orang jahil tersebut sangat mengagumi Ibnu ‘Arabi tokoh sufi yang diantara kesesatannya pernah berkata : “Seorang hamba adalah Rabb dan Rabb adalah hamba. Duhai kiranya, siapakah yang diberi kewajiban beramal ? Jika engkau katakan hamba, maka ia adalah Rabb. Atau engkau katakan Rabb, kalau begitu siapa yang di beri kewajiban ?” (Al-Futuhat Al- Makkiyyah dinukil dari Firaq Al-Mu’ashirah, hal. 601).

Ibnu Arabi seorang tokoh sufi yang memiliki faham akidah wihdatul wujûd (keyakinan seorang makhluk yang dapat bersatu dengan Khalik / Sang Pencipta).

Diantara kerusakan akidah Ibnu Arabi sebagai berikut :

• Ibnu Arabi mengaku, bahwa tulisan dan kitab yang ia sebarkan telah mendapatkan izin dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika ia bertemu dengan Rasulullah dalam mimpinya.

• Meyakini bahwa Rabb adalah hamba dan hamba adalah Rabb.

• Mengatakan bahwa hewan-hewan tertentu adalah Rabb.

• Mengatakan bahwa Rabb adalah pendeta yang ada di gereja.

• Bahwa Allah al-Haq al-Munazzah (suci dari segala aib dan kekurangan) adalah hamba yang diserupakan.

• Ia berkata tentang kaum Nabi Nuh, andai saja mereka meninggalkan peribadatan kepada Wadd, Suwâ’, Yaghûts, Ya’ûq dan Nasr, sungguh mereka akan menjadi jauh lebih bodoh tentang Allah al-Haq.

• Allah Al-Haq memiliki wajah pada setiap hamba-Nya.

(Silahkan baca kitab; Aqidah Ibn Arabi wa Hayatuhu, karya Syaikh Taqyuddin al-Farisi (wafat 832 H).

Walaupun Ibnu Arabi memiliki akidah yang sesat dan menyesatkan, akan tetapi banyak orang yang mengagumi dan memujanya.

Diantara pengagum Ibnu Arabi bahkan sampai ada yang bermubahalah dengan seorang Ulama besar Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani.

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani adalah seorang Ulama besar bermadzhab Syafi’i, seorang Ulama terkemuka ahli hadits (lahir, 773 H/1372 M-wafat 852 H/1449 M). Lahir dan wafat di Mesir.

Diantara kitab Ibnu Hajar al-‘Asqalani yang terkenal adalah, Fathul Bari dan Bulughul Maram.

Tentang mubahalah Ibnu Hajar Al-Asqalani di sebutkan oleh beliau, dalam kitabnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Dan dari pengalaman bahwa orang yang melakukan mubahalah dan dia itu orang yang salah, maka dia tidak akan hidup sampai satu tahun dari sa’at dia bermubahalah. Dan saya pun pernah mengalaminya bermubahalah dengan seorang yang ta’ashub dengan kelompok batil, akhirnya setelah itu dia hanya hidup dua bulan.” (Fathul Bari 7/697).

Mubahalah Ibnu Hajar Al-Asqolani diceritakan pula oleh Al-Hafizh as-Sakhowi rahimahullah dalam kitab al-jawahir wad Duror, “Biografi Syaikh Islam Ibnu Hajar” (I/1001).

As-Sakhawi menyebutkan : “Berkali-kali aku pernah mendengar Ibnu Hajar terlibat perdebatan serius dengan salah seorang pengagum Ibnu Arabi tentang diri Ibnu Arabi (dedengkot sufi) sehingga mendorongnya mengeluarkan ucapan yang dianggap tidak etis terhadap Ibnu Arabi.

Tentu saja pengagum Ibnu Arabi tadi tidak bisa terima. Ia mengancam akan melaporkan Ibnu Hajar dan kawan-kawannya kepada sang sultan. Tetapi, ancaman itu ditanggapi oleh Ibnu Hajar dengan tenang. Ia mengatakan : “Jangan bawa-bawa sang sultan ikut campur dalam masalah ini. Mari kita mengadakan mubahalah saja”.

Jarang sekali dua orang yang mengadakan mubahalah, lalu pihak yang berdusta akan selamat dari musibah.

Tantangan Ibnu Hajar ini disetujui oleh pengagum Ibnu Arabi tersebut.

Lalu, Ia mengatakan : “Ya Allah, jika Ibnu Arabi dalam kesesatan, laknatilah aku dengan laknat-Mu”.

Lalu, Ibnu Hajar mengatakan : “Ya Allah, jika Ibnu Arabi dalam kebenaran, laknatilah aku dengan laknat-Mu”.

Setelah itu, keduanya berpisah.

Ketika pengagum Ibnu Arabi tadi sedang berada di sebuah taman, ia kedatangan rombongan tamu seorang putra serdadu yang sangat tampan. Tidak lama kemudian tamu itu bermaksud minta pamit meninggalkannya dan teman-temannya, tanpa bersedia menginap. Selepas isya’ tamu itu beranjak pergi. Ia dan teman-temannya ikut mengantarkannya sampai di daerah perbatasan.

Sepulang dari mengantarkan tamu, ia merasakan ada sesuatu yang bergerak pada kakinya. Ia mengeluhkan hal itu kepada teman-temannya. Setelah diperiksa, mereka tidak melihat apa-apa. Ia kemudian pulang ke rumahnya. Begitu sampai di rumah tiba-tiba ia menjadi buta, dan paginya ia meninggal dunia.

Peristiwa itu terjadi pada bulan Dzul Qa’dah tahun 97 Hijriyah. Sedangkan peristiwa mubahalah terjadi pada bulan Ramadhan tahun yang sama.

Ketika berlangsung mubahalah, Ibnu Hajar tahu bahwa siapa yang bersalah akan mendapat celaka kurang dari waktu setahun”.

الله المستعان

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

================

BELAJAR TANPA GURU SYAITAN LAH GURUNYA

BELAJAR TANPA GURU SYAITAN LAH GURU MU

Sering kita mendengar perkata’an

“مَن لا شيخَ له؛ فشيخُه الشيطان”

”Barangsiapa yang tidak punya guru, maka gurunya adalah setan”.

Perkata’an diatas bukan hadits, bukan perkata’an Sahabat, dan bukan pula perkata’an para Imam madzhab. Perkata’an tersebut tidak diketahui asalnya, dan siapa yang mengatakannya. Perkata’an tersebut biasa di kata orang-orang sufi.

Belajar yang paling baik tentu saja dengan berguru kepada seseorang (baik ulama, ustadz, atau orang yang berilmu lainnya) yang tentunya bermanhaj salaf. Para ulama dulu bahkan mencela orang-orang yang tidak keluar mencari ilmu dan mendatangi para ulama. Belajar dari guru lebih praktis dan lebih terhindar dari kekeliruan.

Namun jika kemudian dimutlakkan bahwa orang yang tidak punya guru, maka gurunya adalah setan sebagaimana perkataan ini beredar di kalangan sufi ini juga tidak benar.

Perkata’an ini sebenarnya lebih di latar belakangi agar orang memegang dan menyandarkan ilmu pada orang-orang tertentu dan berfanatik kepadanya. Bukan di latar belakangi oleh dorongan dan anjuran untuk menuntut ilmu.

Menuntut ilmu melalui perantara’an kitab itu tidaklah mutlak mesti keliru hasil akhirnya. Meskipun tetap harus kita katakan, belajar kitab pada ulama / ustadz / ahli ilmu lebih baik daripada belajar secara otodidak.

Yang jadi tolok ukur kebenaran tetaplah kesesuaian terhadap kebenaran itu sendiri (yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah ‘alaa fahmis-salaf).

Betapa banyak orang yang berguru namun ternyata malah sesat ?

Apakah Bisyr Al-Maarisiy itu tidak punya guru ?

Apakah Al-Khomeiniy itu tidak punya guru ?

Apakah Ibnu Arabi itu tidak punya guru ?

Betapa banyak pula orang yang berbangga dengan sanad, namun ilmu dan amal mereka ternyata menyelisihi sunnah ?

Punya silsilah sanad guru itu tidaklah jaminan bahwa ilmu yang didapat itu benar.

Dalam ilmu sanad, bukankah kita mengenal rantai periwayatan lemah atau bahkan palsu, karena ternyata perawinya ada yang pendusta, pembuat bid’ah, dan lemah.

Belajar dari buku, kaset/rekaman, internet, atau sumber-sumber lain itu boleh dan tetap mempunyai keutama’an. Allah akan memahamkan siapapun yang dikehendaki-Nya melalui media apapun.

Namun hanya menyandarkan ilmu dari media-media tersebut tanpa mendatangi guru, sementara kita mampu mendatanginya adalah kerugian yang sangat besar.

Allahu a’lam

========================