MEMAKNAI KATA KULLU DENGAN BENAR

MEMAKNAI KATA KULLU DENGAN BENAR

Kata KULLU (كُلُّ) bisa bermakna SEBAGIAN juga bisa bermakna SETIAP / SEMUA.

Untuk bisa mengetahui kata KULLU (كُلُّ) apakah bermakna SEBAGIAN atau SEMUA, maka kita harus memperhatikan berbagai qarinah (petunjuk) yang ada, baik dari konteks kalimat itu sendiri, maupun dari dalil-dalil lain yang shahih, atau dengan realita yang ada, sehingga kita tidak salah memaknainya.

Adapun kata KULLU (كُلُّ) pada hadìst,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة
ٌ
Maka kata KULLU pada hadìst terebut bermakna SETIAP atau SEMUA.

Jadi arti yang benar dari hadits tersebut adalah :

”SETIAP atau SEMUA bid’ah adalah sesat”

Memaknai kata kullu (كُلُّ) pada hadits diatas dengan arti SETIAP atau SEMUA, bukan berdasarkan hawa nafsu. Tapi berdasarkan beberapa qarinah yang menunjukkan kata kullu (كُلُّ) pada hadits diatas memang menunjukkan arti SETIAP atau SEMUA.

Berikut beberapa qarinah yang menunjukkan kata kullu (كُلُّ) pada hadits diatas yang menunjukkan makna SETIAP atau SEMUA.

• Qarinah dari perkata’an para Salafus Shaalih

– Ibnu Umar berkata :

كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة

”Seluruh bid’ah itu sesat sekalipun manusia memandangnya baik”. (Al Lalika’i 11/50).

– Imam Malik berkata :

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا ﷺ خان الرسالة

“Siapa yang membuat bid’ah dalam agama, dan memandangnya sebagai sesuatu yang baik (hasanah), berarti dia telah menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhianati risalah”. (Al I’tishom 1/64-65).

Dari perkata’an lbmu Umar dan Imam Malik diatas, kita mendapatkan keterangan bahwa semua bid’ah sesat. Tidak ada pengecualian.

Jadi kata kullu (كُلُّ) dalam hadits كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ mengandung arti SETIAP atau SEMUA.

• Qarinah dari sikap para Sahabat

Kata kullu dalam hadits كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ bermakna SETIAP atau SEMUA juga bisa kita perhatikan dari sikap para Sahabat yang mengingkari praktek-praktek bid’ah yang di lakukan sebagian orang sa’at itu.

Perhatikan beberapa riwayat berikut ini :

(1) Sa’id bin Musayyib (tabi’in), Ia melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua raka’at, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Akhirnya Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata : “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku dengan sebab shalat ? Beliau menjawab : “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi As-Sunnah.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra, II/466).

(2) Shahabat yang mulia Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma, menceritakan, Bahwasannya ada seorang laki-laki yang bersin kemudian dia berkata, “Alhamdulillah wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah” (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasulullah). Maka Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata : Aku juga mengatakan, “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah” (maksudnya juga bershalawat). Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami untuk mengucapkan (ketika bersin) : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.” (Diriwayatkan olehAt-Tirmidzi, no. 2738).

(3) Terdapat kisah yang telah masyhur dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,

فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ.

“Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad !, Begitu cepat kebinasa’an kalian !, Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad ? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah) ?”

قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَه
ُ
Mereka menjawab, “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan”
Ibnu Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid).

Riwayat-riwayat diatas menunjukkan bahwa para Sahabat mengingkari praktek-praktek baru dalam urusan ibadah yang tidak ada tuntunannya (bid’ah).

Kalaulah bid’ah dalam urusan ibadah itu ada yang baik, tentu para Sahabat yang disebutkan dalam riwayat-riwayat diatas tidak akan menegur orang yang melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah tersebut. Karena bid’ah dalam urusan ibadah tidak ada yang baik.

Maka jelas kata kullu (كُلُّ) pada hadìst كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ terebut bermakna SETIAP atau SEMUA.

Menurut kaidah atau ketetapan ilmu usul jika sesuatu kalimah diulang berkali-kali di beberapa tempat sebagaimana diulang-ulangnya kalimah kullu (كُلُّ) dalam menetapkan bahawa “setiap (كل) bid’ah itu sesat”, maka apabila ia terdapat dalam dalil-dalil (al-Quran, al-Hadist dan atsar yang sahih) maka ia menjadi dalil syarii kulli (دليل شرعي كلي) yaitu : “Pasti setiap (كل) bid’ah itu sesat.”

• Menurut Imam Asy-Syatibhi seorang Ulama Shalaf dan pakar gramatika bahasa Arab (nahu-sharf).

Imam As-Sytibhi (wafat 790 H / 1388 M), adalah seorang Ulama ahlu sunnah, yang keilmuannya diakui oleh seluruh umat Islam di dunia.

Imam Asy Sytibhi juga dikenal sebagai seorang pakar atau ahlinya dalam gramatika bahasa arab (nahwu). Beliau menulis kitab-kitab tentang ilmu nahwu dan sharf, ini sebagai bukti bahwa Imam Asy Sytibhi ahlinya dalam ilmu tata bahasa arab nahwu dan sharf.

Kitab-kitab nahwu sharf yang beliau tulis adalah :

– Al-Maqashid al-Syafiyah fi Syarhi Khulashoh al-Kafiyah, kitab bahasa tentang Ilmu nahwu yang merupakan syarah dari Alfiyah Ibnu Malik.

– Unwan al-Ittifaq fi ‘ilm al-isytiqaq, kitab bahasa tentang Ilmu sharf dan Fiqh Lughah.

– Ushul al-Nahw, kitab bahasa yang membahas tentang Qawaid Lughah dalam Ilmu sharf dan Ilmu nahwu.

Kitab karya Imam Asy Syatibhi terkenal lainnya adalah :

– Al-I’tisham, kitab manhaj yang menerangkan tentang bid’ah dan seluk beluknya.

Tentang lafadz ”KULLU” pada hadits ”Kullu bid’ati dholaalah” Imam Asy Syatibhi rahimahullaah berkata :

“PARA ULAMA MEMAKNAI HADITS DI ATAS SESUAI DENGAN KEUMUMANNYA, TIDAK BOLEH DIBUAT PENGECUALIAN SAMA SEKALI. OLEH KARENA ITU, TIDAK ADA DALAM HADITS TERSEBUT YANG MENUNJUKKAN ADA BID’AH YANG BAIK (HASANAH)”.

(Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 91, Darul Ar Royah).

Para pembela bid’ah hasanah yang memaknai lafadz ”Kullu” dengan membuat pengecualian ”ada bid’ah yang baik (hasanah)”, apakah lebih pintar dan lebih faham ilmu tata bahasa Arab nahwu sharf dibanding Imam Asy Syatibhi ?

Yang kredibilitasnya sebagai Ulama dikenal luas oleh umat Islam dan juga sebagai pakar / ahlinya tata bahasa Arab, nahwu sharf.

Perkata’an Imam Asy Syatibhi tentu patut diperhatikan.

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

===================

Iklan

TABAYYUN DAN TATSABUT

TABAYYUN DAN TATSABUT

Mencari kebenaran dari berita-berita yang sampai kepada kita, baik berita yang sampai dari mulut ke mulut atau berita dari media informasi sangatlah penting. Terlebih lagi di zaman penuh fitnah ini.

Fitnah, hasutan begitu mudah sampai ke tengah-tengah umat, akibat kecanggihan teknologi media informasi dan komunikasi.

Dan banyak dari manusia begitu mudah menelan mentah-mentah informasi, kabar, berita yang sampai kepada mereka tanpa mencari kebenarannya.

Sehingga tumbuh dan berkembang permusuhan diantara umat. Para Ulama di hinakan, di jadikan bahan olok-olokkan, golongan atau kelompok lain di jauhi di tahjir dan di musuhi diantaranya akibat dari kabar-kabar yang tidak benar.

Sa’at ini begitu mudah fitnah dan hasutan di lontarkan pihak-pihak tertentu yang tidak menghendaki kerukunan terbangun diantara sesama umat Islam. Yang ironis banyak dari kaum Muslimin mengambil informasi dari orang-orang kafir. Yang hakekatnya mereka selalu memusuhi umat Islam.

Syaikh Muhamad Al ‘Aqil hafizhahullah berkata : “Diantara keanehan keada’an umat di zaman ini, yaitu bahwa orang-orang yang menukil berita dan segera menyebarkannya tidak dapat membedakan siapa yang membawa berita itu. Engkau lihat ia meriwayatkan berita dari majalah atau media milik orang-orang kafir dan menjadikannya sebagai kabar yang menghasilkan keyakinan. Dengan itu ia membangun di atasnya masalah-masalah yang berbahaya yang berhubungan dengan mashlahat umat. APAKAH MEREKA TIDAK MENGETAHUI BAHWA ORANG KAFIR TIDAK LAYAK DIJADIKAN SEBAGAI RUJUKAN DALAM MENERIMA BERITA. Tidakkah mereka tahu bahwa orang-orang kafir itu menyebarkan kabar-kabar tersebut untuk memporak-porandakan barisan kaum muslimin dan menebarkan ketakutan, kelemahan, dan keraguan kepada umat ?!” (Al Fitnah, Hal. 75).

Pertikaian dan permusuhan bukan saja antara Muslim dengan kafir. Ahlu Sunnah dengan ahlu bid’ah. Bahkan juga terjadi diantara sesama ahlu Sunnah.

Banyak penyebabnya yang menjadikan sebuah informasi, kabar dan berita melahirkan pertikaian dan berujung jadi permusuhan. Diantaranya ; gagal faham menyerap informasi, fanatisme golongan, tuduhan serampangan, kedengkian dan rasa permusuhan, tergesa-gesa mengambil kesimpulan dan tidak mencari kejelasan.

Supaya tidak termakan hasutan, fitnah, provokasi dan kabar yang tidak benar, seorang Muslim hendaknya teliti dan tidak tergesa-gesa membuat kesimpulan. Dan pastikan kejelasannya dari kabar-kabar yang sampai kepadanya.

Allah Ta’ala berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوْا أَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلىَ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian orang fasiq dengan membawa berita, maka periksalah dahulu dengan teliti, agar kalian tidak menuduh suatu kaum dengan kebodohan, lalu kalian menyesal akibat perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al Hujurat : 6).

Kabar yang sampai kepada kita, belum tentu dijamin kebenarannya. maka seharusnya kita Tabayyun dan Tatsabut.

Apakah Tabayyun dan Tatsabbut ?

Imam Asy Syaukani rahimahullah berkata ; “Yang dimaksud dengan tabayyun adalah memeriksa dengan teliti dan yang dimaksud dengan tatsabbut adalah berhati-hati dan tidak tergesa-gesa, melihat dengan keilmuan yang dalam terhadap sebuah peristiwa dan kabar yang datang, sampai menjadi jelas dan terang baginya.” (Fathul Qadir, 5:65)

Orang fasiq yang disebutkan di dalam ayat diatas, adalah kefasikan kecil, yaitu orang-orang yang suka melakukan dosa besar tetapi tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam. Seperti suka berbohong, mengadu domba dan memutuskan perkara tanpa melakukan tabayyun (meneliti kebenarannya).

Tidak Tabayyun, memeriksa dengan teliti untuk mencari kebenarannya dari berita yang sampai kepada kita juga Tatsabbut, tergesa-gesa menerima sebuah informasi. Dapat meruntuhkan persaudara’an diantara sesama umat Islam. Sehingga akan saling menjauhi dan saling mentahjir (memboikot). Dan parahnya akan menolak seruan, nasehat, keterangan dan pelajaran dari orang atau pihak yang sudah kita tuduh melakukan kesalahan.

Jika demikian, maka akan mendatangkan kerugian dan penyesalan kelak.

فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Kemudian kalian menyesal atas perlakuan kalian”.

Allah Ta’ala menyebutkan penyesalan ini akan menimpa seseorang yang salah dalam membuat tuduhan karena tanpa tabayyun kepada orang atau pihak yang dituduh. Dan apabila tuduhannya tersebut keliru, maka artinya dia telah membuat kedzaliman.

Padahal Rasulullah bersabda :

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

“Dan hindarilah do’a orang yang terzhalimi. Sesungguh-nya tidak ada tabir penghalang antara do’a orang yang terzhalimi dengan Allah”. (Shahîh al-Bukhâri, al-Mazhâlim (9, 3/99).

Bijaksanalah dalam menerima kabar atau tuduhan yang di alamatkan kepada sesama umat Islam. Perhatikan bantahan dan kejelasan dari orang atau pihak yang tertuduh. Supaya kita tidak menyesal pada akhirnya.

Semoga kita dihjauhkan dari fitnah dan kabar-kabar yang tidak benar.

الله المستعان

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

===================

BID’AH HASANAH MENURUT IMAM ASY-SYATIBHI

BID’AH HASANAH MENURUT IMAM ASY-SYATIBHI

Imam As-Sytibhi (wafat 790 H / 1388 M), adalah seorang Ulama ahlu sunnah, yang keilmuannya diakui oleh seluruh umat Islam di dunia.

Imam Asy Sytibhi juga dikenal sebagai seorang pakar atau ahlinya dalam gramatika bahasa arab (nahwu). Beliau menulis kitab-kitab tentang ilmu nahwu dan sharf, ini sebagai bukti bahwa Imam Asy Sytibhi ahlinya dalam ilmu tata bahasa arab nahwu dan sharf.

Kitab-kitab nahwu sharf yang beliau tulis adalah :

• Al-Maqashid al-Syafiyah fi Syarhi Khulashoh al-Kafiyah, kitab bahasa tentang Ilmu nahwu yang merupakan syarah dari Alfiyah Ibnu Malik.

• Unwan al-Ittifaq fi ‘ilm al-isytiqaq, kitab bahasa tentang Ilmu sharf dan Fiqh Lughah.

• Ushul al-Nahw, kitab bahasa yang membahas tentang Qawaid Lughah dalam Ilmu sharf dan Ilmu nahwu.

Kitab karya Imam Asy Syatibhi terkenal lainnya adalah :

• Al-I’tisham, kitab manhaj yang menerangkan tentang bid’ah dan seluk beluknya.

Tentang lafadz ”KULLU” pada hadits:

كل بدعة ظلالة

”Semua bid’ah sesat”

Imam Asy Syatibhi rahimahullaah berkata :

مَحْمُوْلٌ عِنْدَ الْعَلَمَاء عَلَى عَمُوْمِهِ ، لاَيُسْتِثْنَى مِنْهُ شَيْءٌ اَلْبَتَّة وَلَيْسَ فِيْهَا مَا هُوَا حَسَنٌ اَصْلا
ً
“MENURUT PARA ULAMA, HADITS INI DITERAPKAN PADA KE UMUMANNYA TANPA ADA PENGECUALIAN APAPUN DARINYA. PADA BID’AH (di hadist ini) SAMA SEKALI TIDAK ADA YANG DISEBUT (BID’AH) YANG BAIK (HASANAH)”.

(Al-Fatawaa Hal, 180-18 Syatibhi Lihat: علم اصول البدع hlm. 91 Ali Hasan).

Para pembela bid’ah hasanah yang memaknai lafadz ”Kullu” dengan membuat pengecualian ”ada bid’ah yang baik (hasanah)”, apakah lebih pintar dan lebih faham ilmu tata bahasa Arab nahwu sharf dibanding Imam Asy Syatibhi ?

Yang kredibilitasnya sebagai Ulama dikenal luas oleh umat Islam dan juga sebagai pakar / ahlinya tata bahasa Arab, nahwu sharf. Perkata’an Imam Asy Syatibhi tentu patut diperhatikan.

والله اعلم بالصواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

========================

MEWASPADAI SYUBHAT

MEWASPADAI SYUBHAT

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُوْنُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6).

Dalam ayat diatas dinyatakan bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Maka selayaknya manusia selalu waspada terhadap segala tipu dayanya. Dengan segala cara dan upayanya, setan menyeru dan merayu manusia sehingga terjerumus ke dalam jurang kehancuran.

Dan diantara cara yang paling ampuh untuk menjerumuskan manusia adalah dengan menanamkan syubhat di hati manusia. Sehingga betapa banyak manusia yang mati dengan membawa serta kekafiran, kemunafikan, kesyirikan, kebid’ahan dan kesesatan lainnya. Yang ketika hidup mereka merasa kebatilan yang mereka yakini sebagai Al-Haq.

Fitnah syubhat telah dikhawatirkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap umatnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ

”Sesungguhnya diantara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan”. [HR. Ahmad].

Yang dimaksud dengan fitnah-fitnah yang menyesatkan adalah fitnah syubhat.

Syubhat artinya samar, kabur, atau tidak jelas. Syubhat yang tertanam di hati manusia akan membuat seseorang samar memandang kebenaran. Sehingga jadilah kebenaran dipandang sebagai kebatilan. Dan sebaliknya kebatilan akan di pandang sebagai kebenaran. Itulah tujuan syetan menanamkan syubhat di hati manusia.

Para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kebanyakan bukanlah orang-orang yang pandai membaca dan menulis. Namun mereka selamat akidahnya, mereka tidak terkena syubhat. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada di tengah-tengah mereka. Namun sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada jaminan umatnya bisa terbebas dari fitnah syubhat.

• Kebodohan penyebab syubhat tertanam di hati manusia.

Yang menjadikan syubhat tertanam di hati manusia adalah karena kebodohan. Bodoh terhadap ilmu agama menimbulkan banyak keburukan, diantaranya : Sifat taqlid, ta’ashub dan sombong.

Sifat Taqlid dan ta’ashub menumbuhkan pengkultusan individu dan fanatisme golongan secara berlebihan. Pengkultusan individu menjadikan seseorang selalu mengikuti apapun yang dikatakan oleh orang yang di kultuskannya. Seolah-olah malaikat yang pasti selalu benar. Dan fanatisme golongan menjadikan manusia buta terhadap kebenaran. Sehingga apapun yang datang dari golongannya di telannya mentah-mentah.

Seorang yang sudah terkena sifat taqlid dan ta’ashub tidak mengenal tabayyun dan tarjih. Tabayyun artinya mencari kejelasan dan tarjih artinya mencari dalil yang lebih kuat. Bagi seorang yang sudah terkena penyakit taqlid dan ta’ashub, apapun yang datang dari orang yang di pujanya atau dari golongannya akan selalu dibenarkan dan di ikutinya. Adapun yang datang dari pihak lain akan selalu diingkari dan di tolaknya. Sifat taqlid dan ta’ashub inilah yang menjadikan syubhat merasuki hati seseorang.

Keburukan lainnya akibat kebodohan adalah kesombongan. Sombong adalah merasa dirinya atau golongannya paling benar, maka sifat ini menjadikan dirinya menutup diri dari pihak luar. Keterangan dan seruan yang datang dari pihak lain akan di tolaknya mentah-mentah. Keterangan dari kelompok lain dianggapnya sebagai omong kosong yang tidak perlu di hiraukan. Maka akibat kesombongan seseorang terkena syubhat.

• Membentengi dengan ilmu.

Karena begitu merusaknya syubhat kepada keyakinan manusia. Menjadikan manusia samar melihat kebenaran. Maka dibutuhkan cara untuk membentenginya.

Adapun cara untuk terhindar dari fitnah syubhat, yaitu dengan membentengi diri dengan ilmu yang benar. Ilmu yang disampaikan oleh para Ulama yang membimbing umat kepada manhaj yang lurus. Para Ulama yang menyeru umat untuk berpegang taguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah, maka manusia bisa selamat terhindar dari kesesatan.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah”. (HR. Muslim).

Para Ulama yang menyeru umat untuk meneladani para Sahabat yang telah mendapatkan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Sesungguhnya sepeninggalku akan terjadi banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa Ar-Rasyidin. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian”. (HR. Abu Daud 4607).

Mendatangi majlis ilmu, dekat dengan para Ulama, berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dan meneladani para Sahabat dalam beragama, maka insya Allah kita bisa selamat dari fitnah syubhat dan terhindar dari kesesatan.

الله المستعان

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

=======================

PERSATUAN YANG SESUNGGUHNYA

PERSATUAN YANG SESUNGGUHNYA

HARI GINI MASIH BAHAS BID’AH, KUNO, ORANG KAFIR SUDAH KEBULAN, ZIONIS DAN SALIBIS MENGANCAM !

Kadangkala mendapatkan celotehan, kenapa masih saling menyalahkan amalan sesama muslim. Kita harus merapatkan barisan bukan saling hantam. Kita lupakan perbeda’an dan kita cari sisi persama’an.

Musuh kita semakin kuat ! !

Zionis, salibis dan antek-anteknya semakin mengancam menunjukkan kekuatannya didepan mata kita. Kenapa umat Islam masih terus ribut saling membid’ahkan saling menyesatkan ! !

Begitu kira-kira celotehan sebagian orang, entah orang awam atau orang yang terusik keyakinannya.

• PERSATUAN ADALAH IDAMAN

Persatuan adalah damba’an umat Islam sepanjang masa. Tapi persatuan yang hakiki, bukan persatuan semu. Persatuan yang dibangun diatas bimbingan dan petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Bukan persatuan syubhat perangkap dan jerat syetan.

Persatuan yang benar menurut Islam. Persatuan yang jelas arahnya. Bukan persatuan menuju jurang kebinasa’an.

Kita bukanlah penyeru persatuan. Tapi tidak faham penyebab runtuhnya bangunan Islam. Kita bukan penyeru persatuan tapi tidak faham dengan konsep apa kita bisa bersatu dan kuat.

Bagaimana Umat Islam bisa bersatu kalau kita membiarkan tumbuh suburnya firqah-firqah yang saling membanggakan firqahnya masing-masing.

Bagaimana Umat Islam bisa bersatu, kalau kita membiarkan bid’ah merajalela.

Bukankah bid’ah itu pemecah belah persatuan !

Imam Asy-Syatibi rahimahullaahu ta’ala berkata : “Semua bukti dan dalil ini menunjukan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan.” (Al- I’tisham,I/157).

Bagaimana Umat Islam bisa bersatu, kalau kita membiarkan umat menyelisihi sunnah ! !

Padahal dengan ittiba’ kepada Sunnah kita bisa bersatu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala berkata : “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.” (al-Istiqamah, I/42).

Berjama’ah lah, karena dengan berjama’ah kita bisa kuat.

Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Dia (Allah) memerintahkan mereka (umat Islam) untuk berjama’ah dan melarang perpecahan“. [Tafsir Al Qur’anil ‘Azhim, surat Ali Imran: 103.]

Jama’ah yang dimaksud adalah :

مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَك

“Apa-apa yang mencocoki kebenaran walaupun engkau sendiri”. (Abdullah bin Mas’ud).

Al Qurthubi berkata : ”Karena sesungguhnya perpecahan merupakan kebinasa’an dan al jama’ah (persatuan) merupakan keselamatan.” [Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 4/159].

Ikutilah para Sahabat sebagai generasi terbaik umat. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

خَيْرَ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku (para Sahabat)”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).

Para Sahabat yang paling faham tentang Islam. Meninggalkan mereka, maka akan muncul berbagai pertikaian.

Allah Ta’ala berfirman :

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ

“Jika mereka beriman seperti keimanan yang kalian miliki, maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perpecahan”. (QS al-Baqarah: 137).

Raih dan genggam kuat tali Allah, jika ingin selamat dan tidak ada perpecahan.

Allah Ta’ala berfirman :

وَاِعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ

“Berpeganglah kalian semua pada tali Allah . .” (Q.S. Ali Imron: 103).

Apa yang dimaksud dengan tali Allah ?

Yang dimaksud dengan tali Allah adalah Al-Qur’an.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كِتَابُ اللهِ حَبْلٌ مَمْدُودٌ مِنْ السَّمَاءِ إِلَى الأَرْضِ

“Kitab Allah (Al-Qur’an) adalah tali Allah yang diturunkan dari langit ke bumi”. (Sunan Tirmidzi, 3788).

Fahami Al-Qur’an mengikuti pemahaman para Sahabat, karena para Sahabat yang menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika wahyu turun. Para Sahabatlah yang paling memahami makna dari Al-Qur’an. Apabila kita menghendaki beragama dengan benar hendaknya kita maknai Al-Qur’an sebagaimana yang difahami oleh para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum.

Itulah konsep kita bila ingin bersatu !

Persatuan yang sesungguhnya, bukan persatuan yang menipu.

Memperingatkan umat untuk meninggalkan bid’ah menyeru ittiba’ kepada sunnah, itulah sesungguhnya yang menyeru kepada persatuan.

Adapun mereka yang membiarkan bid’ah merajalela, toleran dengan kesesatan. Maka hakekatnya mereka tidak menghendaki Umat Islam bersatu.

برك الله فيكم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/06-syubuhat/17-sahabat-utsman-membuat-bidah/

===========================

AHLUL BID’AH MEMAKNAI AL-QUR’AN SESUKA HATI

AHLUL BID’AH MEMAKNAI AL-QUR’AN SESUKA HATI

Para pengikut hawa nafsu dalam memaknai al qur’an ataupun hadits, mereka maknai sesuka hati, dengan tujuan untuk membela dan membenarkan amalan-amalan batilnya.

Berikut ini dari sekian banyak tafsiran mereka yang menyimpang,

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ

“Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluq hidup” ? ? ? ?

Sampai sebegitu jauhnya mereka artikan lafazh Ayat, padahal itu adalah Firman Allah ta’ala yang tidak seharusnya di pelitir semena-mena.

Apakah ada Ulama salaf yang memiliki penafsiran seperti itu ? ? ?

Pengertian ini adalah batil dan menyimpang dari maksud Firman Allah yang sebenarnya, karena :

1. Ayat itu berbicara mengenai kebesaran ayat-ayat Allah dan menyebutkan Air merupakan sumber kehidupan dan Allah menjadikan dari air itu segala sesuatu yang hidup.

2. Ayat itu tidak sedang berbicara mengenai pencipta’an manusia.

Sebagai bukti bahwa ayat 30 dari surat al Anbiyya ini bukan berbicara masalah sperma, maka bisa dilihat juga pada ayat selanjutnya :

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk”. (QS al Anbiyya : 31).

Sungguh fatal penafsiran mereka. Apakah belum sampai ancaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka ?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار

“Barangsiapa berkata tentang al-Qur’an tanpa ilmu, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka”. [HR. Tirmidzi No.2874].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَمَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa mengatakan tentang al-Qur’an dgn akalnya, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka”. [HR. Tirmidzi No.2875].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ

“Barangsiapa mengatakan tentang Al Qur`an dgn pendapatnya, maka dia tetap salah walaupun pendapatnya benar”. [HR. Tirmidzi No.2875].

Kesalahan fatal penafsiran mereka adalah :

Ayat ini berbicara tentang masalah kebesaran ayat-ayat Allah dan menjabarkan bagaimana dahulunya langit dan Bumi itu bersatu kemudian di pisahkan keduanya dan air itu merupakan sumber kehidupan bagi SEGALA SESUATU yang hidup.

Berikut adalah detail ayatnya :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖوَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖأَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman ?”.

Perhatikan keterangan Ibnu Katsir, menjelaskan sebuah Hadist yang menerangkan bahwa segala sesuatu tercipta dari air.

Dari Imam Ahmad, sebagai berikut :

الْإِمَام أَحْمَد عَنْ أَبِي هُرَيْرَة قَالَ قُلْت يَا رَسُول اللَّه وَقَالَ
إِنِّي إِذَا رَأَيْتُك طَابَتْ نَفْسِي وَقَرَّتْ عَيْنِي فَأَنْبِئْنِي
عَنْ كُلّ شَيْء قَالَ ” كُلّ شَيْء خُلِقَ مِنْ مَاء

Berkata Imam Ahmad, diriwayatkan dari Abu Hurairah, Aku bertanya kepada Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasallam, Sesungguhnya jika aku melihatmu maka tenanglah jiwaku dan segarlah pandanganku. Beritahukalah kami tentang segala sesuatu. Beliau menjawab : “Segala sesuatu telah diciptakan dari air.”

Ayat ini menerangkan bahwa segala yang hidup membutuhkan air atau pemelihara’an kehidupan segala sesuatu adalah dengan air.

Sitologi (Ilmu tentang susunan dan fungsi sel) misalnya, menyatakan bahwa air adalah komponen terpenting dlam pembentukan sel yang merupakan satuan banggunan pada setiap makhluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan. Sedang biokimia menyatakan bahwa air adalah unsure yang sangat penting pada setiap interaksi dan perubahan yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup. Air berfungsi sebagai media, factor pembantu, bagian dari proses interaksi, atau bahkan hasil dari sebuah proses interaksi itu sendiri. Sedangkan fisiologi menyatakan bahwa air sangat dibutuhkan agar masing-masing organ dapat berfungsi dengan baik. Hilangnya fungsi itu akan berarti kematian.

Tafsir Jalalain

Menurut Tafsir Jalalain, apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu. Kemudian Allah telah menjadikan langit tujuh lapis dan bumi tujuh lapis pula. Kemudian langit itu dibuka sehingga dapat menurunkan hujan yang sebelumnya tidak dapat menurunkan hujan. Kami buka pula bumi itu sehingga dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, yang sebelumnya tidak dapat menumbuhkannya.

“Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. Maksudnya airlah yang menjadi penyebab bagi seluruh kehidupan baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Namun mengapalah orang-orang kafir tiada juga beriman terhadap keesaan Allah. [Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2, (Bandung: Sinar Baru Algensindo), 2008, hlm. 126-127]

Qatadah mengatakan: “Kami menciptakan setiap yang tumbuh dari air”. Maka setiap yang tumbuh itu ialah hewan dan tumbuhan. Sebagian kaum cendekia dewasa kini berpendapat bahwa setiap hewan pada mulanya diciptakan di laut. Maka seluruh jenis burung, binatang melata dan binatang darat itu berasal dari laut. Kemudian setelah melalui masa yang sangat panjang, hewan-hewan itu mempunyai karakter sebagai hewan darat, dan menjadi berjenis-jenis. Untuk membuktikan hal itu, mereka mempunyai banyak bukti.

Apakah mereka tidak beriman dengan jalan memikirkan dalil-dalil ini, sehingga mereka mengetahui Pencipta yang tidak ada sesuatu pun menyerupai-Nya, dan mereka meninggalkan jalan kemusyrikan.[5]

Jadi penafsiran mereka yang mengatakan :

“Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluq hidup”.

Sudah jauh dari kebenaran sama sekali, ayat itu TIDAK BERBICARA masalah sperma, atau pencipta’an manusia dari sperma.

Maka Makna “Kulla” pada ayat 30 surat al anbiya tersebut artinya adalah : “Segala/ Setiap/ Semua” bukan SEBAGIAN..

Wallahu A’lam.

Dari berbagai sumber :

http://www.mutiarahadits.com/61/49/75/yang-menafsirkan-alquran-dengan-logikanya.htm

http://khansa.heck.in/kulla-syaiin-hayi.xhtml

___________________

“Setiap bid’ah adalah sesat . .”

Hadits inilah yang secara matia-matian ditolak oleh pembel bid’ah.. Sampai2 mereka membuat permisalan2 dari ayat maupun hadits lainnya. Misal.. Lafazh “Kulla” pada Surah Al Anbiyya ayat 30 :

“وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ”

Yang diplintir “artinya” oleh sebagian pembela bid’ah menjadi : “Kami Ciptakan dari air Sperma, Sebagian Makluk Hidup”

SubhanAllah…, sampai sebegitu jauhnya mengartika lafazh Ayat, padahal hal itu adalah Firman Allah yang tidak seharusnya di pelitir artinya.

Berikut adalah detail ayatnya :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman ?”

Kesalahan fatal para ahli bid’ah ADALAH :

Ayat ini berbicara tentang masalah kebesaran ayat-ayat Allah dan menjabarkan bagaimana dahulunya langit dan Bumi itu bersatu kemudian di pisahkan keduanya dan air itu merupakan sumber kehidupan bagi SEGALA SESUATU yang hidup.

Kesalahan fatal para ahli bid’ah ADALAH :

Ayat ini berbicara tentang masalah kebesaran ayat-ayat Allah dan menjabarkan bagaimana dahulunya langit dan Bumi itu bersatu kemudian di pisahkan keduanya dan air itu merupakan sumber kehidupan bagi SEGALA SESUATU yang hidup.

Ibnu Katsir, menjelaskan sebuah Hadist dari Imam Ahmad, sebagai berikut :

وَقَالَ
الْإِمَام أَحْمَد عَنْ أَبِي هُرَيْرَة قَالَ قُلْت يَا رَسُول اللَّه
إِنِّي إِذَا رَأَيْتُك طَابَتْ نَفْسِي وَقَرَّتْ عَيْنِي فَأَنْبِئْنِي
عَنْ كُلّ شَيْء قَالَ ” كُلّ شَيْء خُلِقَ مِنْ مَاء
” قَالَ قُلْت أَنْبِئْنِي عَنْ أَمْر إِذَا عَمِلْت بِهِ دَخَلْت
الْجَنَّة قَالَ ” أَفْشِ السَّلَام وَأَطْعِمْ الطَّعَام وَصِلْ
الْأَرْحَام وَقُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّاس نِيَام ثُمَّ اُدْخُلْ الْجَنَّة
بِسَلَامٍ”

Berkata Imam Ahmad, diriwayatkan dari Abu Hurairah : “Aku bertanya kepada Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya jika aku melihatmu maka tenanglah jiwaku dan segarlah pandanganku. Beritahukalah kami tentang segala sesuatu .”Beliau menjawab, “Segala sesuatu telah diciptakan dari air.” Aku bertanya, “Beritahu kami tentang sesuatu, jika aku mengerjakannya maka aku akan masuk surga”. Beliau bersabda. “Sampaikan salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi (persaudaraan), dan bangunlah di tengah malam tatkala manusia sedang tidur, kemudian masuklah ke surga dengan damai.”

Jadi, pemahaman para ahli bid’ah sudah jauh dari kebenaran sama sekali, ayat itu TIDAK BERBICARA masalah Sperma, atapun air..

Sebagai bukti bahwa ayat al Anbiyya ayat 30 ini bukan berbicara masalah sperma, maka bisa dilihat juga pada ayat berikutnya :

Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. (QS al An Biyya : 31)

Jadi Jika ayat

” وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ”

diartikan “Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluq hidup” maka pengertian ini adalah batil dan menyimpang dari maksud Firman Allah yang sebenarnya, karena :

1. Ayat itu berbicara mengenai kebesaran ayat-ayat Allah dan Air merupakan sumber kehidupan dan Allah menjadikan air itu segal sesuatu yang hidup.

2. Ayat itu tidak sedang berbicara mengenai penciptaan manusia dari sperma.

Dan Makna “Kulla” masih tetap diartikan “Segala/Setiap/Semua” dan tidak bisa diartikan SEBAGIAN..

Wallahu A’lam.
Ibnu Katsir, menjelaskan sebuah Hadist dari Imam Ahmad, sebagai berikut :

وَقَالَ
الْإِمَام أَحْمَد عَنْ أَبِي هُرَيْرَة قَالَ قُلْت يَا رَسُول اللَّه
إِنِّي إِذَا رَأَيْتُك طَابَتْ نَفْسِي وَقَرَّتْ عَيْنِي فَأَنْبِئْنِي
عَنْ كُلّ شَيْء قَالَ ” كُلّ شَيْء خُلِقَ مِنْ مَاء
” قَالَ قُلْت أَنْبِئْنِي عَنْ أَمْر إِذَا عَمِلْت بِهِ دَخَلْت
الْجَنَّة قَالَ ” أَفْشِ السَّلَام وَأَطْعِمْ الطَّعَام وَصِلْ
الْأَرْحَام وَقُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّاس نِيَام ثُمَّ اُدْخُلْ الْجَنَّة
بِسَلَامٍ”

Berkata Imam Ahmad, diriwayatkan dari Abu Hurairah : “Aku bertanya kepada Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya jika aku melihatmu maka tenanglah jiwaku dan segarlah pandanganku. Beritahukalah kami tentang segala sesuatu .”Beliau menjawab, “Segala sesuatu telah diciptakan dari air.” Aku bertanya, “Beritahu kami tentang sesuatu, jika aku mengerjakannya maka aku akan masuk surga”. Beliau bersabda. “Sampaikan salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi (persaudaraan), dan bangunlah di tengah malam tatkala manusia sedang tidur, kemudian masuklah ke surga dengan damai.”

Jadi, pemahaman para ahli bid’ah sudah jauh dari kebenaran sama sekali, ayat itu TIDAK BERBICARA masalah Sperma, atapun air..

Sebagai bukti bahwa ayat al Anbiyya ayat 30 ini bukan berbicara masalah sperma, maka bisa dilihat juga pada ayat berikutnya :

Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. (QS al An Biyya : 31)

Jadi Jika ayat

” وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ”

diartikan “Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluq hidup” maka pengertian ini adalah batil dan menyimpang dari maksud Firman Allah yang sebenarnya, karena :

1. Ayat itu berbicara mengenai kebesaran ayat-ayat Allah dan Air merupakan sumber kehidupan dan Allah menjadikan air itu segal sesuatu yang hidup.

2. Ayat itu tidak sedang berbicara mengenai penciptaan manusia dari sperma.

Dan Makna “Kulla” masih tetap diartikan “Segala/Setiap/Semua” dan tidak bisa diartikan SEBAGIAN..

Wallahu A’lam.

http://khansa.heck.in/kulla-syaiin-hayi.xhtml

_______________________

BID’AH YANG DI MAKSUD UMAR BIN KHOTOB

Ucapan Umar bin khotob : “Sebaik baik bid’ah adalah ini” Maka yang di maksud adalah bid’ah menurut lughowi (bid’ah secara bahasa) dan bukan bid’ah menurut istilah syar’i.

Sebagai mana yng di jelaskan oleh ibnu Rajab. Ibnu Rajab mengatakan : Bahwa shalat tarawih yang dihidupkan kembali oleh Umar tetap sah dan bukan bid’ah. karena itu adalah bagian dari sunnah. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam,2:128).

Kita lihat riwayat shalat taraweh. Imam Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahihain meriwayatkan hadis dari Aisyah Rodiyalloha Anha. “Bahwa pada suatu malam di bulan Ramadan, Rasulullah Sallallohu ‘Alaihi Wasallam keluar menuju masjid untuk mendirikan shalat malam sendirian. Lalu datanglah beberapa sahabat dan bermakmum di belakang beliau. Ketika Shubuh tiba, orang orang berbincang-bincang mengenai hal tersebut. Pada malam selanjutnya, jumlah jama’ah semakin bertambah dari pada sebelumnya, Demikianlah seterus nya pada malam-malam berikutnya. Hal itu berlanjut hingga tiga malam. Pada malam ke empat, masjid menjadi sesak dan tak mampu menampung seluruh jama’ah. Namun Rasulullah Sallallohu ‘Alaihi Wasallam tak kunjung keluar dari kamarnya. Hingga fajar menyingsing, Rasulullah Sollallohu ‘Alaihi Wasallam baru keluar untuk menunaikan shalat Shubuh. Selepas itu beliau berkhutbah, Amma Ba’du. Saya telah mengetahui kejadian semalam, Akan tetapi saya khawatir shalat itu (taraweh) akan diwajibkan atas kalian, sehingga kalian tidak mampu melakukannya. Untuk selanjutnya shalat tarawih tidak dikerjakan secara berjama’ah”.

Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam mendirikan shalat tarawih bersama para sahabatnya di malam ganjil di sepuluh hari terakhir dari Ramadhan.

Dari riwayat itu bisa kita ketahui, bahwa shalat taraweh berjama’ah bukanlah BID’AH, karena pernah di lakukan oleh Nabi bersama para Sahabat.

Adapun akhirnya taraweh berjama’ah di tinggalkan, karena Rosululloh khawatir kalau shalat taraweh akan di wajibkan kepada umatnya.

Jadi ucapan Umar : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. adalah bid’ah secara lughowi (bid’ah secara bahasa) Demikan menurut ibnu Rajab. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2:128).

Ibnu Katsir Rahimahullah, seorang ulama ahlu sunnah dan juga seorang ahli tafsir paling terkemuka di dunia, mengata- kan bahwa bid’ah ada dua macam. Bid’ah secara syari’at dan bid’ah secara lughowiyah (bahasa).

Beliau berkata : ”Bid’ah ada dua macam, bid’ah syari’at seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya setiap yang ada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” Dan bid’ah lughowiyah (bahasa) seperti perkataan umar bin Khatab ketika mengumpulkan manusia untuk sholat tarawih : ”Inilah sebaik-baiknya bid’ah.” [Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anil ‘Adziem 1/223. Cet. Maktabah taufiqiyah, Tahqiq Hani Al Haaj].

Menurut Ibnu Katsir perkataan Umar bin Khaththab, ”Inilah sebaik-baiknya bid’ah”. adalah bidah secara bahasa. Karena shalat taraweh berjama’ah pernah di lakukan oleh Rosululloh.

Ibnu Hajar Al Asqolani, seorang ulama besar bermadzhab Syafi’iy, beliau rahimahullaah juga menjelaskan : “Maka bid’ah menurut istilah syari’at adalah tercela, berbeda dengan pengertian bahasa karena bid’ah secara bahasa adalah segala sesuatu yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya baik terpuji maupun tercela.” [Lihat Fathul Bari,13:253].

Jadi bagaimana mungkin Umar mengatakan shalat taraweh berjama’ah adalah bid’ah (secara syar’i), Bukankah bidah itu artinya : Suatu yng tdk di pernah di lakukan oleh Nabi ?

Sedangkan shalat taraweh berjama’ah, pernah di lakukan Rosululloh bersama-sama para Sahabat.

——————–