MENGAGUNGKAN KUBURAN

MENGAGUNGKAN KUBURAN

Diantara bid’ah yang Imam As-Suyuthi ingkari ialah pengagungan kepada kuburan.

Imam As-Suyuti berkata : “Adapun jika seseorang bertujuan untuk sholat di kuburan atau berdo’a untuk dirinya pada urusan-urusan pentingnya dan hajat kebutuhannya dengan mencari keberkahan dan mengharapkan dikabulkannya do’a di kuburan, maka ini jelas bentuk penentangan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta penyelisihan terhadap agama dan syari’at-Nya, DAN PERBUATAN BID’AH YANG TIDAK DIIZINKAN OLEH ALLAH DAN RASULNYA serta para imam kaum muslimin yang mengikuti atsar dan sunnah-sunnahnya. Karena bertujuan menuju kuburan untuk berdo’a mengharapkan untuk dikabulkan merupakan perkara yang dilarang, dan lebih dekat kepada keharaman. Para sahabat radhiallahu ‘anhum beberapa kali mendapati musim kemarau dan juga menghadapi masa-masa sulit setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas kenapa mereka tidak datang ke kuburan Nabi lalu beristighotsah dan meminta hujan di kuburan beliau ?, padahal beliau adalah manusia yang paling mulia di sisi Allah ?. Bahkan Umar bin Al-Khotthob membawa Al-‘Abbas paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke musholla lalu Umar meminta Abbas untuk berdo’a meminta hujan, dan mereka tidak meminta hujan di kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam”. (Al-Amru bil ittibaa’, 139).

Keterangan Imam Suyuthi diatas menjelaskan bahwa, orang yang shalat di kuburan atau berdo’a atau mencari keberkahan dari kuburan sebagai bentuk penentangan kepada Allah dan Rasulnya menyelisihi agama dan syari’atnya dan merupakan perbuatan bid’ah yang tidak diizinkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Pengagungan kepada kuburan, berdo’a kepada penghuni kubur dan mencari keberkahan dari penghuni kubur biasa dilakukan oleh ahli bid’ah. Mereka meyakininya sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan perantara penghuni kubur yang mereka anggap sebagai orang suci.

Apakah Imam As-Suyuthi tidak mengetahui ada bid’ah hasanah, sehingga pengagungan kepada kuburan, Imam Suyuthi menyebutnya sebagai bid’ah yang tidak diizinkan oleh Allah dan Rasul-Nya ?

Apakah mereka ahli bid’ah para pemuja pengagung kuburan lebih faham Islam dan lebih berilmu daripada Imam As-Suyuthi ?

_________

KEWAJIBAN SALING MENASEHATI

KEWAJIBAN SALING MENASEHATI

Memberi nasehat kepada sesama, terlebih lagi terhadap saudaranya sesama muslim adalah bentuk kecinta’an dan kepedulian, disamping karena memang diperintahkan dalam Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” [Al-‘Ashr : l-3].

Sebagian orang memang ada yang sulit untuk menerima nasehat, bahkan sesak dadanya.

Semakin sulit untuk menerima nasehat apabila orang yang menasehatinya dipandang tidak lebih baik dari dirinya atau lebih rendah, apakah lebih rendah setatus sosialnya, ilmunya, atau orang yang dinasehati beranggapan bahwa dirinya diatas kebenaran. Atau yang dinasehati memandang orang yang menasehatinya tidak lebih pintar dari guru-gurunya.

Memberi nasehat harus ikhlas semata-mata karena Allah ta’ala juga harus bijaksana dan sabar, karena terkadang orang yang diberi nasehat malah menunjukkan rasa tidak suka, sinis bahkan mencibir seakan-akan dirinya sedang disalahkan.

Padahal semestinya nasehat diterima dengan kerendahan hati dan lapang dada, apabila sebuah nasehat di sampaikannya dengan baik, karena setiap nasehat pasti ada hikmahnya.

• Nasehat adalah pokok dalam ajaran Islam

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjadikan nasehat sebagai pokok ajaran agama.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Agama itu adalah nasihat”. Kami berkata : “Kepada siapa wahai Rasulullah ?” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, dan para imam kaum Muslimin serta segenap kaum Muslimin”. (HR. Muslim (no. 55).

“AKU MENASEHATIMU BUKAN BERARTI AKU YANG TERBAIK”

Al-Imam Hasan Basri Rahimahullaah berkata : “Wahai manusia sesungguhnya aku tengah menasehati kalian dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shaleh di antara kalian. Sungguh aku pun telah banyak melampaui batas terhadap diriku aku tak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membencinya sesuai dengan kewajiban dalam menta’ati Rabbnya. Andai kata orang muslim tidak memberi Nasehat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang sempurna niscaya tidak akan ada pemberi nasehat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang yang berdakwah di jalan Allah ‘azza wa jalla tidak akan ada yang mengajak untuk ta’at kepada-Nya, tidak akan ada pula yang melarang dari perbuatan maksiat kepada-Nya, . .”

• Manusia tidak luput dari salah dan dosa.

Sesungguhnya manusia tidak akan luput dari salah dan dosa, tidak terkecuali orang alim atau para Ulama, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun sering mendapatkan teguran dari Allah ta’ala karena melakukan kesalahan.

Teguran Allah ta’ala kepada Rasulullah salah satunya bisa kita lihat di Surah Ali-Imran ayat 128.

Allah ta’ala menegur Rasulullah :

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

”Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim”. (Ali-Imran ayat 128).

Imam Bukhari meriwayatkan daripada Humaid bin Tsabit daripada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terluka di kepalanya semasa Perang Uhud, maka beliau bersabda : ‘Bagaimana akan beruntung kepada kaum yang melukai nabi mereka ?’ Maka turunlah ayat “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka”.

Teguran Allah ta’ala kepada Rasulullah lainnya bisa kita lihat di surah Abasa ayat 1-10, surah al-Tahrim ayat 1, surah at-Taubah ayat 84, surah at-Taubah ayat 43, surah ali-Imran ayat 128, dan surah al-Anfal ayat 67.

Kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja bisa melakukan kesalahan lalu bagaimana dengan manusia biasa seperti para Ulama atau bahkan kita ? ?

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

===============

SULITNYA BERDEBAT DENGAN ORANG JAHIL

SULITNYA BERDEBAT DENGAN ORANG JAHIL

Berdebat dengan orang jahil bukan perkara mudah, permas’alahannya karena orang jahil tidak faham landasan ilmu (ilmu ushul).

Sulitnya berdebat dengan orang jahil, bahkan dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata :

“Aku mampu berdebat dengan sepuluh orang yang berilmu, tetapi aku pasti kalah dengan seorang yang jahil, karena orang yang jahil itu tidak pernah faham landasan ilmu”

Apabila Imam Asy-Syafi’i saja tidak mampu mengalahkan orang jahil dalam berdebat, apalagi kita ?

Padahal Imam Asy-Syafi’i adalah seorang ulama besar yang banyak melakukan dialogh dan pandai dalam berdebat. Sampai-sampai Harun bin Sa’id berkata :

“Seandainya Syafi’i berdebat untuk mempertahankan pendapat bahwa tiang yang pada aslinya terbuat dari besi adalah terbuat dari kayu niscaya dia akan menang, karena kepandaiannya dalam berdebat”. (Manaqib Aimmah Arbaah hlm. 109 oleh Ibnu Abdil Hadi).

Berdebat dengan orang jahil memang sulit, tapi adakalanya kita menemukan orang jahil yang besar kepala dan memancing-mancing kita untuk berdebat.

Maka kalau kita mau melayaninya berdebat, ada beberapa pertanya’an sebelum di mulainya perdebatan yang perlu di pertanyakan kepadanya.

Berikut ini pertanya’annya :

1. Sebutkan syarat diterimanya Ibadah !
2. Sebutkan Maslahah Mursalah dan perbeda’annya dengan bid’ah !
3. Sebutkan Al-Aadah dan Al-Ibaadah, dan kaidahnya masing-masing.

1. Syarat diterimanya Ibadah perlu di pertanyakan. Karena menurut orang jahil, ibadah cukup niatnya karena Allah, cukup niatnya Ikhlas, walaupun tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana amalan-amalan bid’ah mau diterima dan mendapatkan pahala, karena bid’ah itu tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Bagaimana mau sesuai dengan tuntunan Rasulullah, Karena bid’ah itu tidak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Penjelasan syarat diterimanya ibadah, silahkan baca di link berikut :

https://agussantosa39.wordpress.com/category/07-kaidah-dalam-ibadah/02-dua-syarat-diterimanya-ibadah/

2. Maslahah Mursalah perlu di tanyakan. Karena orang jahil sering menyebutkan perkara-perkara yang sebenarnya Maslahah Mursalah sebagai bid’ah hasanah.

Maslahah Mursalah dengan bid’ah banyak perbeda’annya. Dengan mengetahui perbeda’an diantara keduanya, maka kita bisa mengetahui, bahwa yang mereka katakan bid’ah hasanah, sebenarnya Maslahah Mursalah.

Contohnya ; Pesawat terbang, pengeras suara, membangun sekolah atau madrasah, ilmu nahu, kalender hijriyah, memberi titik dan harakat pada ayat-ayat Al-Qur’an, ilmu tajwid, berdakwah dengan facebook atau internet, daurah, dan banyak lagi.

Contoh-contoh diatas sering orang jahil katakan sebagai bid’ah hasanah. Maka perlu ditanyakan kepadanya, perbeda’an antara Maslahah Mursalah dengan bid’ah. Kalau dia tidak mampu menyebutkan perbeda’an antara Maslahah Mursalah dengan bid’ah, maka pantaslah kalau perkara-perkara yang Maslahah Mursalah mereka katakan bid’ah. Itulah bukti kejahilannya.

Pembahasan tentang Maslahah Mursalah silahkan baca di link berikut :

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-sunnah/%e2%80%a2-maslahah-mursalah/

3. Al-Aadah dan Al-Ibaadah, ini perlu di pertanyakan. Karena orang jahil tidak memahami permas’alahan ini.

Kita sering mendapatkan perkata’an mereka seperti :

“Mana larangannya di dalam Al-Qur’an dan hadist yang melarang tahlilan atau maulid Nabi ?”

Itulah bukti kejahilan mereka tidak mengenal ilmu ushul, tidak memahami Al-Aadah dan Al-Ibaadah dan kaidahnya masing-masing.

Perkara ibadah yang ditanyakan bukan dalil larangangannya, tapi dalil yang memerintahkannya. Karena urusan ibadah kaidahnya,

الاصل في العباده بطلان حتي يقوم الدليل علي الامر

“Asalnya urusan Ibadah batal / tidak sah kecuali ada dalil yang memerintahkannya”

Pembahasan tentang Al-Aadah dan Al-Ibaadah silahkan baca di link berikut :

https://agussantosa39.wordpress.com/category/08-bidah/%e2%80%a2-memahami-al-aadah-dan-al-ibaadah/

Semua pertanya’an diatas bisa dipastikan tidak akan mampu orang jahil jawab dengan benar. Karena mereka tidak memahami permas’alahan ini, yang termasuk ke dalam ilmu ushul.

Karena mereka tidak faham ilmu ushul, maka pantas lah kalau sulit berdebat dengan mereka. Berdebat dengan mereka pun akan sia-sia. Perdebatan hanya akan menjadi debat kusir yang tidak akan menemukan titik temunya. Debat kusir bukan tradisinya orang alim.

Maka apabila kita tidak menanggapi ajakan mereka untuk berdebat. Dan meninggalkan perdebatan dengan mereka, bukanlah suatu yang hina. Bahkan justru meninggalkan perdebatan dengan mereka adalah kemuliya’an.

Sebagaimana dikatakan Imam Syafi’i rahimahullah, Beliau berkata :

Apabila orang bodoh mengajak berdebat denganmu, maka sikap yang terbaik adalah diam, tidak menanggapi

ﻭﺍﻟﺼﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟﺼﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ

Sikap diam terhadap orang yang bodoh adalah suatu kemulia’an. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan

ﻓﺎِﻥْ ﻛَﻠِﻤَﺘَﻪُ ﻓَﺮَّﺟْﺖَ ﻋَﻨْﻬُﻮَﺍِﻥْ ﺧَﻠَّﻴْﺘُﻪُ ﻛَﻤَﺪًﺍ ﻳﻤُﻮْﺕُ

Apabila kamu melayani, maka kamu akan susah sendiri. Dan bila kamu berteman dengannya, maka ia akan selalu menyakiti hati

Apabila ada orang bertanya kepadaku, jika ditantang oleh musuh, apakah engkau diam ??

Jawabku kepadanya :

Sesungguhnya untuk menangkal pintu-pintu kejahatan itu ada kuncinya

Lalu Imam Syafi’i berkata :

ﻭﺍﻟﻜﻠﺐُ ﻳُﺨْﺴَﻰ ﻟﻌﻤْﺮِﻯْ ﻭَﻫُﻮَ ﻧَﺒَّﺎﺡُ

Apakah kamu tidak melihat bahwa seekor singa itu ditakuti lantaran ia pendiam ?? Sedangkan seekor anjing dibuat permainan karena ia suka menggonggong ??

[“Diwan As-Syafi’i” karya Yusuf Asy-Syekh Muhammad Al-Baqa’i].

Imam Asy-Syafi’i berkata :

يُخَاطِبُنِي السَّفِيْهُ بِكُلِّ قُبْحٍ

Orang jahil berbicara kepadaku dengan segenap kejelekan

فَأَكْرَهُ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ مُجِيْبًا

Akupun enggan untuk menjawabnya

يَزِيْدُ سَفَاهَةً فَأَزِيْدُ حُلْمًا

Dia semakin bertambah kejahilan dan aku semakin bertambah kesabaran

كَعُوْدٍ زَادَهُ الْإِحْرَاقُ طِيْبًا

Seperti gaharu dibakar, akan semakin menebar kewangian.

[Diwân Imam Asy-Syâfi’iy].

Imam Syafi’i rahimahullah berkata :

“Orang pandir mencercaku dengan kata-kata jelek. Maka aku tidak ingin untuk menjawabnya. Dia bertambah pandir dan aku bertambah lembut, seperti kayu wangi yang dibakar malah menambah wangi”

[Diwan Asy-Syafi’i hal. 156].

Imam Syafi’i juga berkata :

”Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku, toh diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas bagi Singa meladeni anjing”.

Berdebat bukanlah untuk mencari kemenangan, sebagaimana dikatakan Imam Syafi’i rahimahullah :

مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا قَطُّ عَلَى الْغَلَبَةِ

“Aku tidak pernah berdebat untuk mencari kemenangan”

[Tawali Ta’sis hlm.113 oleh Ibnu Hajar].

Berdebat harus diniatkan untuk mencari kebenaran, maka seseorang yang akan melakukan perdebatan harus cukup ilmu dan mengenal adab. Tanpa memiliki ilmu dan adab, maka hindari perdebatan, karena hanya akan melahirkan keburukan, saling menghinakan sebagai bentuk keburukan akhlak. Dan akhirnya meruntuhkan ukhuwah islamiyyah.

بَارَكَ اللهُ فِيْكُم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

=====================

TAMBAHAN KATA DHOLALAH (SESAT), BERARTI TIDAK SEMUA BID’AH SESAT

TAMBAHAN KATA DHOLALAH (SESAT), BERARTI TIDAK SEMUA BID’AH SESAT

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ;

إِنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنْ الأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلَالَةٍ لاَ تُرْضِي اللَّهَ وَرَسُولَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا (رواه الترمذي وقَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ)

“Ketahuilah, barangsiapa menghidupkan salah satu sunnahku yang telah mati sepeninggalku, maka baginya pahala seperti pahala orang yang ikut mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa melakukan bid’ah dholalah yang tidak mendapatkan ridha Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan memikul dosa orang-orang yang mengamalkan bid’ah itu, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. (H.R. Tirmidzi, dan beliau menghasankannya).

Mereka berkata ;

Andaikata semua bid’ah itu sesat, tentu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan langsung berkata : “Barangsiapa mengadakan sebuah bid’ah” tanpa harus menambahkan kata ‘dholalah’ dalam sabdanya tersebut. Dengan menyebut bid’ah dholalah (yang sesat), maka logikanya ada bid’ah yang tidak dholalah (tidak sesat)).

Bantahan :

Al ‘Allaamah Al Muhaddits Abdurrahman Al Mubarakfury dalam penjelasannya terhadap hadits di atas mengatakan (mengutip ucapan Shiddiq Hasan Khan) ; “Penulis kitab Mirqaatul Mafaatieh mengatakan, “Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam membatasi bid’ah disini dengan bid’ah yang dholalah untuk mengecuali-kan bid’ah hasanah”.

Pendapat senada juga diungkapkan oleh penulis kitab Asyi’atul Lama’aat dengan menambahkan ; “Karena bid’ah hasanah mengandung kemaslahatan bagi agama, sekaligus menguatkan dan melariskannya (di masyarakat)”. Saya katakan ; “Kedua pendapat tersebut salah besar ! Karena Allah dan Rasul-Nya tak pernah meridhai bid’ah, apa pun bentuknya. Seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mengecualikan bid’ah hasanah, niscaya beliau tidak akan menjelaskan dalam haditsnya bahwa : “Semua bid’ah itu sesat…” atau : “Semua hal yang baru itu bid’ah, dan semua yang sesat itu di neraka…” sebagaimana yang tersebut dalam salah satu riwayat. Ucapan beliau tadi pada dasarnya bukanlah qaid (pembatas) akan bid’ah. Namun merupakan bentuk pengkabaran beliau dalam mengingkari segala macam bid’ah, dan menjelaskan bahwa semua bid’ah adalah tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya. Dalil yang menguatkan pendapat ini ialah firman Allah : { وَرَهْبَانِيَّةً اِبْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ } yang maknanya : “…Dan mereka mengada-adakan bid’ah rahbaniyyah (kependeta’an) padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka…”. (Al Hadid: 27).

Lihat, bagaimana Allah menyifati bid’ah kependetaan tadi dengan kata-kata: ‘padahal kami tidak mewajibkannya atas mereka’. Maknanya cukup jelas, bahwa bid’ah mereka adalah sama sekali tidak Allah perintahkan, karena jika Allah perintahkan tidak akan menjadi bid’ah.

Adapun prasangka bahwa bid’ah itu ada kemaslahatannya bagi agama, sekaligus menguatkan dan melariskannya, bantahannya ialah firman Allah Ta’ala : { إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ } yang artinya : “Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa” (Al Hujurat: 12).

Saya tidak habis pikir, apa maknanya ayat ; “Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa”, dan ayat : “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku cukupkan bagimu nikmat Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu” (Al Ma’idah: 3), Kalaulah maslahat yang dimaksud ialah melariskan bid’ah..!?, Ya Allah, alangkah anehnya pendapat semacam ini… Adakah mereka tidak tahu bahwa dengan menyemarak-kan bid’ah berarti mematikan sunnah ? Dan dengan mematikan bid’ah berarti menghidupkan sunnah ?? Sungguh demi Allah, agama Islam itu lengkap, sempurna, dan tak kurang sedikit pun. Ia tak butuh sedikit pun terhadap bid’ah sebagai pelengkap. Nash-nash (dalil-dalil) yang dikandungnya cukup banyak dan meliputi setiap perkara atau problematika baru yang akan muncul hingga hari kiamat”.

Demikian sanggahan beliau dalam kitabnya Ad-Dienul Khalish secara ringkas.

Abdurrahman Al Mubarakfury rahimahullah berkata ; “Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi (بِدْعَةَ ضَلاَلَةٍ) diriwayatkan dengan idhafah, yaitu dibaca : Bid’ata dhalalatin, atau bisa juga dengan manshub (بِدْعَةً ضَلاَلَةً) dibaca : Bid’atan dhalalatan sebagai sifah wa mausuf.

Jadi, ‘Dholalah’ merupakan sifat bagi bid’ah tersebut. Sedangkan kata sifat ini termasuk sifatun kaasyifah (sifat yang menyingkap hakekat sesuatu), bukan sifatun muqayyidah yang mengecualikan bid’ah hasanah (dari bid’ah yang menyesatkan). Dalilnya ialah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya yang berbunyi : (كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ) “Semua bid’ah itu sesat” (H.R. Abu Dawud, dari ‘Irbadh bin Sariyah).

Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi (لاَ تُرْضِي اللهَ وَرَسُولَهُ) “Tidak mendapatkan ridha Allah dan Rasul-Nya”, merupakan sifatun kaasyifah yang kedua bagi bid’ah tadi. (Lihat : Tuhfatul Ahwadzi Bisyarh Jaami’ At Tirmidzi karya Al Mubarakfury, syarah hadits no 2601).

Lebih dari itu, hadits ini masih diperselisihkan keshahihannya. Meski At Tirmidzi menganggapnya hasan, dan beliau memang terkenal gampang menghasankan hadits, namun salah satu perawi hadits ini ialah Katsier bin Abdillah bin Amru bin ‘Auf Al Muzani.

Berikut ini nukilkan sanad hadits diatas selengkapnya ;

Imam At Tirmidzi rahimahullah berkata :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ مَرْوَانَ بْنِ مُعَاوِيَةَ الْفَزَارِيِّ عَنْ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ هُوَ ابْنُ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ الْمُزَنِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالِ بْنِ الْحَارِثِ … الحديث (جامع الترمذي, كتاب العلم, باب: ما جاء في الأخذ بالسنة واجتناب البدع, حديث رقم 2601).

Abdullah bin Abdirrahman mengabarkan kepada kami, katanya, Muhammad bin ‘Uyainah mengabarkan kepada kami, dari Mirwan bin Mu’awiyah Al Fazary, dari Katsir bin ‘Abdillah, yaitu : bin ‘Amru bin ‘Auf Al Muzany, dari Ayahnya, dari Kakeknya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal ibnul Harits :…. Al hadits”. (H.R. Tirmidzi, no 2601).

Cacat hadits ini ialah pada silsilah rawi yang bercetak tebal di atas. Untuk lebih jelasnya, berikut nukilkan komentar para ahli hadits mengenai riwayat mereka :

1. Al Imam Ibnu Hibban rahimahullah mengatakan :

كثير بن عبد الله بن عمرو بن عوف المزني: يروي عن أبيه عن جده، روى عنه مروان بن معاوية وإسماعيل بن أبى أويس، منكر الحديث جدا، يروي عن أبيه عن جده نسخة موضوعة لا يحل ذكرها في الكتب ولا الرواية عنه (كتاب المجروحين 2/221).

Katsir bin Abdillah bin ‘Amru bin ‘Auf Al Muzany, Ia meriwayatkan dari Ayahnya dari kakeknya. Sedang yang meriwayatkan dari Katsir ialah Marwan bin Mu’awiyah dan Isma’il bin Abi Uwais. (Katsir ini) munkarul hadits jiddan [16]). Ia meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya sekumpulan hadits maudhu’ (palsu) yang tidak halal untuk disebutkan dalam kitab-kitab dan tidak halal untuk diriwayatkan. (Kitabul Majruhien 2/221).

[16] Keduanya merupakan jarhun syadied (kritikan pedas), yang menjatuhkan hadits orang itu ke tingkat dha’if jiddan (lemah sekali) bahkan maudhu’ (palsu).

2. Imam An Nasa’i rahimahullah berkata :

كثير بن عبد الله بن عمرو بن عوف: متروك الحديث (الكامل لابن عدي 6 / 58).

Katsir bin Abdillah bin ‘Amru bin ‘Auf ; matruukul hadits. (Al Kamil, oleh Ibnu ‘Adiy 6/58).

3. Imam Syafi’i dan Abu Dawud rahimahumallah menyifatinya dengan kata-kata :

ركن من أركان الكذب (ميزان الاعتدال 3 / 407)

Salah satu tiang daripada tiang-tiang kedusta’an. (Mizanul I’tidal, 3/407). [Maksudnya ia salah seorang pembohong besar].

4. Ibnu Hajar Al ‘Asqalany rahimahullah berkata :

كثير بن عبد الله بن عمرو بن عوف المزني المدني ضعيف أفرط من نسبه إلى الكذب (تقريب التهذيب – 2 / 39)

Katsir bin Abdillah bin ‘Amru bin ‘Auf Al Muzany Al Madany : “Dha’if”, namun orang yang menuduhnya sebagai pendusta agak berlebihan. (Taqribut Tahdzieb, 2/39).

Kesimpulannya, hadits di atas derajatnya dha’if jiddan atau minimal dha’if, sehingga tidak bisa dijadikan landasan dalam berdalil. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan At Tirmdzi, hadits no 2677.

Penulis : Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc

Artikel ; http://www.muslim.or.id

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

_______________________

TAMBAHAN KATA YANG BUKAN DARINYA, BERARTI TIDAK SEMUA BID’AH TERTOLAK

TAMBAHAN KATA YANG BUKAN DARINYA, BERARTI TIDAK SEMUA BID’AH TERTOLAK

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ;

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ، وفي لفظ: مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
(رواه مسلم)

“Barangsiapa mengada-adakan dalam agama kami, yang bukan berasal darinya (agama), maka ia tertolak”. (H.R. Muslim, hadits no 1718).

Mereka mengatakan :

Penambahan kalimat ‘yang bukan darinya’ (agama), merupakan bukti bahwa tidak semua yang baru berarti tertolak dan sesat. Hanya yang baru yang tidak bersumber dari agama sajalah yang tertolak dan sesat. Andaikata semua hal baru adalah sesat, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menambahkan kalimat tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan langsung berkata ; “Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam agama kami ini, maka ia tertolak”, tetapi hal ini tidak beliau katakan.

Kesimpulannya, selama hal baru tersebut bersumber dari Al Qur’an dan Hadits, maka ia dapat diterima oleh agama, diterima oleh Allah, dan diterima oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bantahannya ;

1. Al Jurjani mengatakan : “Bid’ah ialah perbuatan yang menyelisihi As Sunnah (ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Dinamakan bid’ah karena pelakunya mengada-adakannya tanpa berlandaskan pendapat seorang Imam. Bid’ah juga berarti perkara baru yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat dan tabi’in, dan tidak merupakan sesuatu yang selaras dengan dalil syar’i”. (At Ta’riefaat 1/13. Oleh Al Jurjani).

Dari definisi di atas, dapat kita fahami bahwa yang namanya bid’ah itu harus menyelisihi ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak selaras dengan dalil syar’i (Al Qur’an dan Sunnah). Berangkat dari sini, perkataan bahwa jika sesuatu yang baru (bid’ah) itu bersumber dari Al Qur’an dan Hadits, maka ia dapat diterima oleh agama, diterima oleh Allah, dan diterima oleh Rasul-Nya, adalah kesalahan fatal yang ujung-ujungnya menyamakan antara bid’ah dengan syari’at itu sendiri, sebab menurutnya keduanya berasal dari Al Qur’an dan hadits, dan ini jelas batil.

2. Kata-kata ‘yang bukan berasal darinya (agama)’ dalam hadits di atas bukanlah sifat yang membatasi, akan tetapi sifat yang menyingkap bahwa semua bid’ah hakikatnya bukanlah berasal dari agama. Karena bila sesuatu itu berasal dari Al Qur’an dan Hadits maka hal tersbut telah ada sejak adanya Islam itu sendiri, dan bukan dianggap baru. Jelas sekali bahwa perkata’an ini mengandung kontradiksi yang tidak mungkin diucapkan oleh orang yang berakal, apalagi seorang Rasul yang paling fasih berbahasa Arab dan menerima wahyu dari Allah Ta’ala.

Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

___________

BALASAN BAGI YANG MENYEPELEKAN DAN MENGOLOK-OLOK SUNNAH NABI

BALASAN BAGI YANG MENYEPELEKAN DAN MENGOLOK-OLOK SUNNAH NABI
.
Sunnah berasal dari kata,
.
(سن) -> (يسن) -> (سنة)
.
Secara bahasa (etimologi) arti sunnah adalah : ”Cara atau disebut juga jalan (yang ditempuh)”. (An-Nihayah/ Ibnu Atsir, Lisanul ‘Arab/ Ibnu Manzhur).
.
Arti sunnah secara bahasa lainnya adalah : Peraturan atau ketetatapan, tradisi atau kebiasa’an juga bisa berarti keterangan.
.
Menjadi kewajiban bagi setiap kaum muslimin untuk mengagungkan sunnah Nabi, menghidupkan, mendakwahkan dan membelanya dari orang-orang yang membenci dan memusuhinya.
.
Sangat memperihatinkan jika ada sebagian orang yang mengaku sebagai seorang muslim, namun enggan untuk menerapkan sunnah Nabi, terlebih lagi menjadikan sunnah Nabi sebagai bahan olok-olokkan.
.
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam,
.
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى
.
“Barangsiapa yang membenci Sunnahku maka dia bukan dari golonganku”. (Muttafaqun ‘alaih).
.
• Beberapa kasus yang menimpa orang yang menyepelekan dan mengolok-olok sunnah Nabi
.
Berikut ini, beberapa riwayat yang menimpa orang-orang yang menyepelekan dan mengolok-olok sunnah Nabi. Mereka mendapatkan balasan dari Allah Ta’ala ketika masih hidup di dunia.
.
Kisah Pertama
.
قَالَ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ: أَنَّ رَجُلًا أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِمَالِهِ، فَقَالَ: «كُلْ بِيَمِينِكَ» ، قَالَ: لَا أَسْتَطِيعُ، قَالَ: «لَا اسْتَطَعْتَ» ، مَا مَنَعَهُ إِلَّا الْكِبْرُ، قَالَ: فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ
.
Salamah bin Akwa’ berkata, “Pernah ada seorang lelaki makan di dekat Rasulullah dengan tangan kiri. Beliau lantas berkata : “Makanlah dengan tangan kananmu”. Lelaki itu menjawab, “Aku tidak bisa”. Rasulullah berkata : “Mudah-mudahan engkau benar-benar tidak bisa. Tidak ada yang menghalanginya untuk melakukannya kecuali kesombongan”. Salamah berkata, “Kemudian dia tidak bisa mengangkat tangannya untuk menyantap makanan”. (HR. Muslim no. 2021).
.
Riwayat di atas menyebutkan, seorang yang tidak menuruti perintah Nabi dan menyepelekannya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendo’akan keburukan baginya, hal ini harus di jadikan pelajaran bahwa tidak mematuhi perintah Nabi adalah merupakan bentuk kedurhaka’an kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Sehingga pelakunya pantas mendapatkan hukuman.
.
Kisah Kedua
.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُشْرَبَ مِنْ فِي السِّقَاءِ»
.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ’anhu bahwasanya Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam melarang seorang minum langsung dari lubang kendi. (HR. Bukhari 5628).
.
قَالَ أَيُّوبُ: “فَأُنْبِئْتُ أَنَّ رَجُلًا شَرِبَ مِنْ فِي السِّقَاءِ، فَخَرَجَتْ حَيَّةٌ”
.
Ayyub berkata, “Sampai sebuah berita kepadaku bahwa seorang lelaki langsung minum dari lubang kendi, tiba-tiba seekor ular keluar dari lubangnya”. (HR. Ahmad no. 7153).
.
Tidak ada syari’at dalam Islam, kecuali akan mendatangkan kebaikan dan keselamatan. Dalam riwayat diatas terdapat larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum langsung dari lubang kendi. Dan ternyata terjadi sesuatu yang buruk, ketika seorang minum langsung dari lubang kendi. Dan itu sebagai balasan dari perbuatannya yang tidak mengindahkan larangan Nabi.
.
Kisah Ketiga
.
عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ حَرْمَلَةَ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ يُوَدِّعُهُ بِحَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ فَقَالَ لَهُ: لَا تَبْرَحْ حَتَّى تُصَلِّيَ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
.
Dari Abdurrahman bin Harmalah, dia berkata, “Seorang lelaki datang kepada Sa’id bin Musayyib mengucapkan salam perpisahan untuk haji atau umroh. Sa’id berkata kepadanya, “Jangan pergi dulu sampai engkau Sholat. Sesungguhnya Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda :
.
«لَا يَخْرُجُ بَعْدَ النِّدَاءِ مِنَ الْمَسْجِدِ إِلَّا، مُنَافِقٌ، إِلَّا رَجُلٌ أَخْرَجَتْهُ حاجةُ، وَهُوَ يُرِيدُ الرَّجْعَةَ إِلَى الْمَسْجِدِ»
.
“Tidaklah keluar dari masjid setelah adzan kecuali seorang munafiq. Kecuali seorang lelaki yang dipaksa keluar oleh suatu keperluan dan berniat untuk kembali ke masjid”.
.
فَقَالَ: إِنَّ أَصْحَابِي بِالْحَرَّةِ قَالَ: فَخَرَجَ، قَالَ: فَلَمْ يَزَلْ سَعِيدٌ يَوْلَعُ بِذِكْرِهِ، حَتَّى أُخْبِرَ أَنَّهُ وَقَعَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَانْكَسَرَتْ فَخِذُهُ
.
Lelaki itu berkata, “Teman-teman saya berada di Hurrah”. Kemudian dia pergi. Sa’id masih saja menyebut lelaki tersebut hingga datang berita bahwa lelaki tersebut terjatuh dari kendara’annya dan pahanya patah”. (Kisah ini terdapat dalam Sunan Ad-Darimi, hadits no. 460).
.
Kisah Keempat
.
قال القاضي أبا الطيب: كنا في مجلس النظر بجامع المنصور فجاء شاب خراساني فسأل عن مسألة المصراة فطالب بالدليل حتى استدل بحديث أبي هريرة الوارد فيها
.
Al-Qadhi Abu Thoyyib berkata, “Suatu ketika kami berada di sebuah majlis di Jami’ Al-Manshur. Datanglah seorang pemuda dari Khurasan. Kemudian dia bertanya tentang masalah ternak yang tidak diperah beberapa hari hingga kambing susunya penuh, dan dia meminta dalilnya. Kemudian disampaikan kepadanya hadits Abu Hurairah yang menyebutkan hal tersebut.
.
فقال وكان حنفيا أبو هريرة غير مقبول الحديث فما استتم كلامه حتى سقط عليه حية عظيمة من سقف الجامع فوثب الناس من أجلها وهرب الشاب منها وهي تتبعه فقيل له تب تب فقال تبت فغابت الحية فلم ير لها أثر إسنادها أئمة
.
Pemuda itu (kebetulan seorang penganut madzhab Hanafi) lantas berkata, “Abu Hurairah tidak diterima haditsnya”. Belum selesai dia berucap demikian hingga muncullah seekor ular besar dari atap masjid. Orang-orang berhamburan karenanya. Pemuda tersebut lari namun ular tersebut terus mengejarnya. Orang-orang berkata padanya, “Bertobatlah !! Bertobatlah !!”. Dia lantas berkata, “Saya bertobat !”. Lalu ular tersebut hilang tanpa bekas”. (Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi).
.
Kisah Kelima
.
قطب الدين اليونيني قال بلغنا أن رجلا يدعى أبا سلامة من ناحية بصرى كان فيه مجون واستهتار
.
Quthbuddin Al-Yunani berkata, “Telah sampai kepada kami berita seorang lelaki yang dipanggil Abu Salamah dari salah satu daerah Bashrah (Seorang yang suka melawak dan membual).
.
فذكر عنده السواك وما فيه من الفضيلة فقال والله لا استاك إلا في المخرج يعني دبره فأخذ سواكا فوضعه في مخرجه ثم أخرجه
.
Ada seseorang menyebut tentang siwak dan keutamaannya di dekatnya. Lelaki tersebut berkata, “Demi Allah, aku hanya memakai siwak pada duburku”. Kemudian dia mengambil siwak dan meletakkannya pada duburnya lalu mengeluarkannya lagi.
.
فذكر عنده السواك وما فيه من الفضيلة فقال والله لا استاك إلا في المخرج يعني دبره فأخذ سواكا فوضعه في مخرجه ثم أخرجه فمكث بعده تسعة أشهر وهو يشكو من الم البطن والمخرج فوضع ولدا على صفة الجرذان له أربعة قوائم ورأسه كراس السمكة وله أربعة انياب بارزة وذنب طويل مثل شبر وأربع اصابع وله دبر كدبر الارنب ولما وصعه صاح ذلك الحيوان ثلاث صيحات فقامت ابنة ذلك الرجل فرضخت رأ سه فمات
.
Setelah itu dia mengeluhkan rasa sakit pada perut dan anusnya selama Sembilan bulan. Kemudian dia melahirkan sejenis tikus dengan empat kaki, kepalanya seperti kepala ikan dan pantatnya seperti pantat kelinci. Setelah keluar, hewan tersebut mengeluarkan suara keras sebanyak tiga kali. Anak perempuan lelaki tersebut bangun dan memukul kepala hewan tersebut hingga mati.
.
وعاش ذلك الرجل بعد وضعه له يومين ومات في الثالث وكان يقول هذا الحيوان قتلني وقطع امعائي
.
Dan lelaki itu tetap hidup setelah melahirkan hewan tersebut selama dua hari, dan pada hari ketiga dia meninggal dunia. Dia pernah berkata, “Hewan ini telah membunuhku dan memotong-motong ususku”.
.
وقد شاهد ذلك جماعة من أهل تلك الناحية وخطباء ذلك المكان ومنهم من رأى ذلك الحيوان حيا ومنهم من رآه بعد موته وممن توفي فيها من الاعيان
.
Hewan tersebut sempat dilihat oleh banyak orang dari penduduk daerah tersebut dan para khatib tempat itu. Ada yang melihatnya ketika hewan itu masih hidup dan ada yang melihatnya setelah hewan itu mati”. (Al-Bidayah Wa Nihayah, Al-Hafizh Ibnu Katsir).
.
Itulah beberapa kisah yang pernah terjadi menimpa orang-orang yang menyepelekan dan menyelisihi sunnah Nabi dan bahkan menjadikan sunnah Nabi sebagai bahan olok-olokan.
.
Hendaknya kita takut apabila menyepelekan sunnah Nabi menyelisihi terlebih lagi menjadikan sunnah Nabi sebagai bahan olok-olokan.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
.
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul, takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa ‘adzab yang pedih”. (QS. An-Nuur: 63).
.
Dalam ayat lain, Allah memerintahkan untuk selalu mengikuti sunnah Nabi apabila mencintai Allah Ta’ala.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
.
“Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk) ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah maha pengampun lagi maha penyayang”. (Qs. Ali ‘Imran: 31).
.
Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat tersebut berkata : “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tidak mengikuti jalan (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia adalah orang yang berdusta dalam pengakuan tersebut dalam masalah ini, sampai dia mau mengikuti syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keada’annya”. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/477).
.
Semoga bermanfa’at.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
________________