BERJABAT TANGAN SETELAH SHALAT

BERJABAT TANGAN SETELAH SHALAT

Al-Izz bin Abdis Salam menjawab ketika ditanya hukumnya bersalaman setelah shalat.

Al-Izz bin Abdis Salam berkata : ”Berjabat tangan setelah sholat subuh dan ashar termasuk bid’ah kecuali bagi orang yang baru datang dan bertemu dengan orang yang dia berjabat tangan dengannya sebelum sholat, karena berjabat tangan disyari’atkan tatkala datang”. (Kittab Al-Fataawaa karya Imam Al-‘Izz bin Abdis Salaam hal 46-47, kitabnya bisa didownload di http://majles.alukah.net/showthread.php?t=39664).

https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
_________

ATRAKSI SANTRI PONPES MTS AL-KHOLIL MERENGGUT NYAWA

Hati-hati jangan menyekolahkan anak ke sekolah ahli bid’ah (Abwaja). Maksud orang tua supaya anaknya menuntut ilmu, tapi malah diajari ilmu debus. Harapan menjadi anak yang berilmu dan salih malah jadi anak sesat. Susah payah membesarkan anak malah diajari ilmu setan dan akhirnya mati konyol. Kalau sudah ada yang tewas apa yang bisa mereka lakukan ?
.
ATRAKSI SANTRI PONPES MTS AL-KHOLIL MERENGGUT NYAWA
.
FAJAR.CO.ID, BERAU – DPRD Berau Kalimantan Timur (kaltim), mengecam atraksi maut sejumlah siswa di MTs Al Kholil, Kelurahan Sambaliung. Akibat atraksi itu, satu orang peserta tewas dan satunya mengalami luka serius.
.
Anggota DPRD Berau, Najemuddin menyesalkan atraksi ekstrim tersebut yang dipertontonkan di lingkungan sekolah yang berafiliasi sebagai pondok pesantren (Ponpes) itu. Atraksi tersebut merenggut nyawa seorang siswa MTs Al-Kholil berinisial RA (16).
.
Menurut Najemuddin, pondok pesantren merupakan tempat menimba ilmu dan belajar agama, buka tempat mencari ilmu kebal atau kesaktian.
.
“Namanya lembaga pendidikan pondok pesantren, harus mendidik dan mengajarkan anak-anak untuk yang saleh dan paham tentang agama Islam. Tidak memperlihatkan (atraksi ekstrem, red) seperti itu,” katanya kepada Berau Post, Jumat (4/5).
.
Atraksi yang mempertontonkan kekuatan tersebut, disebutnya sebagai paradoks atau hal yang bertentangan dari sebuah lembaga pendidikan Islam.
.
Bahkan, Najemuddin menyebut suguhan itu merupakan tindakan konyol yang seharusnya bisa dihindarkan.
.
Terlebih, dalam dunia pesantren sudah semestinya memahamkan tentang agama yang kemudian dipraktikkan pada keseharian santrinya.
.
“Kalau atraksi seperti itu apa sih maunya ?. Mau unjuk kebolehan. Kalau begitu ujung-ujungnya malah ke arah ilmu kekebalan atau kesaktian. Memangnya ada manusia yang sakti atau hebat? Hal seperti itu hanya milik Tuhan,” tegasnya.
.
Karena itu, anggota Komisi I DPRD Berau ini meminta semua pihak, khususnya lembaga pendidikan agama untuk menghilangkan praktik-praktik yang menampilkan atraksi berbahaya.
.
Sebab menurutnya, tujuan dari orangtua memasukkan anaknya ke ponpes karena ingin anaknya mendalami dan memahami ajaran agama.
.
Lebih lanjut, Najemuddin berharap seluruh ponpes di Berau bisa menjadikan kejadian tersebut sebagai pelajaran dan fokus dalam mengajarkan santrinya tentang ilmu agama.
.
“Tapi kalau berbicara seperti pencak silat, silakan saja selama untuk keahlian fisik dan ketangkasan,” pungkasnya.
.
Komentar Ketua Panita Atraksi
.
Rohim, Ketua Panitia Perpisahan siswa kelas IX Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Kholil, mengaku tidak mengetahui insiden atraksi tersebut.
.
Rohim beralasan, saat kejadian, dirinya tengah menyambut seorang habib yang menjadi narasumber dalam acara perpisahan MTs Al-Kholil.
.
“Saat kejadian saya tengah menemui habib dari Bulungan, jadi saya tidak tahu kejadian tersebut. Itu saja dari saya,” singkat Rohim.
.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Berau AKP Andika Dharma Sena menyesalkan tindakan panitia karena terkesan menutup-nutupi kejadian tersebut.
.
“Pihak Ponpes Al-Kholil dan ketua bela diri berusaha menutupi kronologi kejadian yang sebenarnya, dengan mencantumkan kronologi palsu. Sehingga menyulitkan petugas dalam hal penyelidikan,” ucap Andika.
.
Videonya tonton disini, https://youtu.be/T9Bp7uTY3AE
.
https://fajar.co.id/2018/05/05/atraksi-santri-ponpes-mts-al-kholil-merenggut-nyawa-panitia-ngeles-begini/?
.
.
__________

MENGIRINGI JENAZAH SAMBIL MEMBACA DZIKIR DENGAN MENGERASKAN SUARA

MENGIRINGI JENAZAH SAMBIL MEMBACA DZIKIR DENGAN MENGERASKAN SUARA

Di dalam kitabnya al-Azkar, al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

واعلم أن الصواب المختار ما كان عليه السلف رضي الله عنهم : السكوت في حال السير مع الجنازة ، فلا يرفع صوتا بقراءة ، ولا ذكر ، ولا غير ذلك ، والحكمة فيه ظاهرة ، وهي أنه أسكن لخاطره ، وأجمع لفكره فيما يتعلق بالجنازة ، وهو المطلوب في هذا الحال ، فهذا هو الحق ، ولا تغترن بكثرة من يخالفه ، فقد قال أبو علي الفضيل بن عياض رضي الله عنه ما معناه : الزم طرق الهدى ، ولا يضرك قلة السالكين ، وإياك وطرق الضلالة ، ولا تغتر بكثرة الهالكين…

وأما ما يفعله الجهلة من القراءة على الجنازة بدمشق وغيرها من القراءة بالتمطيط ، وإخراج الكلام عن موضوعه ، فحرام بإجماع العلماء ، وقد أوضحت قبحه ، وغلظ تحريمه ، وفسق من تمكن من إنكاره ، فلم ينكره في كتاب ” آداب القراء

”Ketahui sesungguhnya yang betul lagi terpilih yang menjadi amalan al-Salaf al-Salih radhiallahu ‘anhum ialah diam ketika mengiringi jenazah. Maka janganlah diangkat suara dengan baca’an, zikir dan selainnya. Hikmahnya nyata, yaitu lebih menenangkan hati dan menghimpunkan fikiran mengenai apa yang berkaitan dengan jenazah. Itulah yang dituntut dalam keada’an tersebut. Inilah yang benar. Janganlah engkau terpengaruh dengan banyaknya orang yang menyanggahinya.

Sesungguhnya Abu ‘Ali al-Fudail bin ‘Iyad rahimahullah pernah berkata : “Berpegang dengan jalan kebenaran, tidak akan memudorotkanmu sedikitnya orang yang menempuh jalan kebenaran tersebut. Dan jauhilah jalan yang sesat. Jangan engkau terperdaya dengan banyaknya golongan yang binasa (yang melakukannya)”.

…… Adapun apa yang dilakukan oleh golongan jahil di Damaskus, YAITU MELANJUTKAN BACA’AN AL-QUR’AN DENGAN DIPANJANG-PANJANGKAN DAN BACA’AN YANG LAIN KEATAS JENAZAH, serta pembicaraan yang tiada kaitan, maka hukumnya adalah haram dengan ijma’ ulama. Sesungguhnya aku telah jelaskan dalam Kitab Adab al-Qurroo’ tentang keburukannya, besar keharamannya dan kefasikannya bagi siapa yang mampu mengingkarinya tetapi tidak mengingkarinya”. (Al-Adzkaar hal 160).

______

BERDO’A SETIAP KALI MENCUCI ANGGAUTA WUDHU

BERDO’A SETIAP KALI MENCUCI ANGGAUTA WUDHU

Sebagian umat Islam membaca do’a setiap kali membasuh anggota wudhu.

Ketika berkumur-kumur membaca do’a,

اللَّهُمَّ اسْقِنِيْ مِنْ حَوْضِ نَبِيَّكَ كَأْسًا لاَ أَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدُا

“Ya Allah berilah saya minum dari telaga Nabi-Mu satu gelas yang saya tidak akan haus selama-lamanya.”

Membasuh wajah membaca do’a,

اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَسْوَدُّ الْوُجُوْهُ

“Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari wajah-wajah menjadi hitam.”

Mencuci tangan membaca do’a,

اللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِيَمِيْنِيْ وَلاَ تُعْطِنِيْ بِشِمَالِيْ

“Ya Allah, berikanlah kitabku di tangan kananku dan janganlah engkau berikan di tangan kiriku.”

Begitu pula ketika mengusap kepala, mengusap telinga dan mencuci kaki membaca do’a.

Do’a-do’a tersebut tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Artinya do’a-do’a tersebut adalah perkara baru dalam agama yang dibuat-buat (bid’ah).

Imam besar Ulama Syafi’iyah, Imam An-Nawawi menegaskan, bahwa do’a ini tidak ada asalnya dan tidak pernah disebutkan oleh orang-orang terdahulu di kalangan Syafi’iyah.

ثم، مع هذا، لا شك أنه يتم تضمين الصلاة في الوضوء بدعة المضللة التي ينبغي التخلي عنها

”MAKA, DENGAN INI, TIDAK DIRAGUKAN BAHWA DO’A INI TERMASUK BID’AH SESAT DALAM WUDHU YANG HARUS DITINGGALKAN”. (Lihat Al-Majmu’, 1: 487-489).

______

MENJADIKAN KUBURAN SEBGAI TEMPAT IBADAH

MENJADIKAN KUBURAN SEBGAI TEMPAT IBADAH

Imam As-Syafi’i rahimahullah berkata :

وأكره أن يعظم مخلوق حتى يُجعل قبره مسجداً مخافة الفتنة عليه وعلى من بعده من الناس

“Dan aku benci diagungkannya seorang makhluq hingga kuburannya dijadikan masjid, khawatir fitnah atasnya dan atas orang-orang setelahnya”. (Al-Muhadzdzab 1/140, Al-Majmuu’ syarhul Muhadzdzab 5/280).

_______

KHATIB JUM’AT MENDO’AKAN SESEORANG KETIKA KHUTBAH

KHATIB JUM’AT MENDO’AKAN SESEORANG KETIKA KHUTBAH

Imam As-Syafii berkata :

إذا كان الأمام يصلي لشخص معين أو لشخص (أي شخص) ثم كرهت ذلك، ولكن ليست إلزامية لآلية القيام بتكرار

“Jika sang imam berdo’a untuk seseorang tertentu atau kepada seseorang (siapa saja) maka aku membenci hal itu, namun tidak wajib baginya untuk mengulang khutbahnya”. (Al-Umm: 2/416-417).

_____

MAULID NABI ADALAH BID’AH MENURUT IMAM ASY-SYATHIBI

MAULID NABI ADALAH BID’AH MENURUT IMAM ASY-SYATHIBI
.

Imam Abu Ishaq Asy-Syathibi rahimahullah (790 H) berkata tentang peringatan Maulid Nabi :

.

أما الأولى: وهي الوصية بالثلث ليوقف على إقامة ليلة النبيء صلى الله عليه وسلم، فمعلوم أن إقامة المولد على الوصف المعهود بين الناس بدعة محدثة، وكل بدعة ضلالة

.

(Suatu perkara) yang seharusnya diketahui : “Bahwa pelaksanaan acara maulid dengan cara yang biasa dilakukan oleh masyarakat adalah perbuatan bid’ah muhdatsah (perkara bid’ah yang diada-adakan dalam agama). Padahal bid’ah itu semuanya sesat”. (Fatawa As-Syatiby, hlm. 203).

.

Penjelasan Imam Asy-Syathibi rahimahullah diatas, terkait pertanya’an yang menanyakan wasiat harta untuk diinfakkan guna memperingati Maulid Nabi.

.

Imam Asy-Syathibi rahimahullah menjawab :

.

فالإنفاق على إقامة البدعة لا يجوز والوصية به غير نافذة بل يجب على القاضي فسخه. ورُدَّ الثلث إلى البورثة يقتسمونه فيما بينهم …”

.

“Oleh karena itu, menginfakkan harta untuk pelaksanaan acara bid’ah tidak diperbolehkan. Sehingga wasiat untuk acara itu tidak perlu ditunaikan. Bahkan hakim (yang berwenang) wajib membatalkan wasiat tersebut. Serta mengembalikan sepertiga harta itu kepada ahli waris agar dibagikan diantara mereka…”.

.

❁ Profil Imam Imam Asy-Syathibi

.

Siapakh Imam As-Syatibhi ?

.

Imam As-Sytibhi (wafat 790 H / 1388 M), adalah seorang Ulama ahlu sunnah, yang keilmuannya diakui oleh seluruh umat Islam di dunia.

.

Imam Asy Sytibhi juga dikenal sebagai seorang pakar atau ahlinya dalam gramatika bahasa arab (nahwu). Beliau menulis kitab-kitab tentang ilmu nahwu dan sharf, ini sebagai bukti bahwa Imam Asy Sytibhi ahlinya dalam ilmu tata bahasa arab nahwu dan sharf.

.

Kitab-kitab nahwu sharf yang beliau tulis adalah :

.

• Al-Maqashid al-Syafiyah fi Syarhi Khulashoh al-Kafiyah, kitab bahasa tentang Ilmu nahwu yang merupakan syarah dari Alfiyah Ibnu Malik.

.

• Unwan al-Ittifaq fi ‘ilm al-isytiqaq, kitab bahasa tentang Ilmu sharf dan Fiqh Lughah.

.

• Ushul al-Nahw, kitab bahasa yang membahas tentang Qawaid Lughah dalam Ilmu sharf dan Ilmu nahwu.

.

Kitab karya Imam Asy Syatibhi terkenal lainnya adalah :

.

• Al-I’tisham, kitab manhaj yang menerangkan tentang bid’ah dan seluk beluknya.

.

Semua karya tulis yang di buat oleh Imam Asy Sytibhi menunjukkan bahwa Imam Asy Sytibhi sebagai seorang Ulama yang luas dan dalam keilmuannya. Dan memang Kredibibilitas Imam Asy Sytibhi sebagai Ulama diakui oleh dunia Islam.

.
.
_______________

SABAR DALAM DAKWAH KETIKA MENDAPATKAN CACIAN

.
SABAR DALAM DAKWAH KETIKA MENDAPATKAN CACIAN
.
Oleh : Abu Meong.
.
Mendakwahkan Al-Hak, menyeru manusia untuk kembali kepada ajaran yang datangnya dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, memperingatkan umat untuk meninggalkan segala macam tahayul, bid’ah dan kesyirikan, sudah menjadi sunnatullah apabila mendapatkan caci-maki dari orang-orang yang merasa terusik keyakinannya. Bukankah para Nabi dan Rasul berikut para Sahabatnya pada masa lalu juga mendapatkan cacian dan makian setiap harinya.
.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, pernah datang seorang laki-laki menemui Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, tiba-tiba lelaki tersebut mencaci-maki sahabat Nabi yang mulia tersebut.
.
Rasulullah salallaahu ‘alaihi wassalam yang saat itu tengah duduk di sampingnya tampak terheran-heran sambil tersenyum melihat Abu Bakar diam saja. Namun ketika kata makian semakin banyak dan Abu Bakar pun meladeninya, maka Rasulullah bangkit dengan wajah tidak suka dengan sikap Abu Bakar tersebut.
.
Beliau berdiri dan Abu Bakar mengikutinya.
.
Lalu Abu Bakar bertanya, “Ya Rasulullah, tadi dia mencaci makiku namun engkau tetap duduk. Tapi ketika kuladeni sebagian kata-katanya, engkau marah dan berdiri. Mengapa demikian ya Rasulullah ?”. Tanya Abu Bakar.
.
Rasulullah salallaahu ‘alaihi wassalam pun menjawab, “Sesungguhnya bersamamu ada malaikat, kemudian dia berpaling daripadamu. Ketika engkau meladeni perkataannya, datanglah syaitan dan aku tidak sudi duduk bersama syaitan itu”. Jawab Rasulullah.
.
Kemudian Rasulullah salallaahu ‘alaihi wassalam meneruskan nasihatnya : “Tidak teraniaya seseorang karena penganiayaan yang ia sabar memikulnya kecuali Allah akan menambahkan kepadanya kemuliaan dan kebesaran”. (HR. Imam Ahmad dari Abu Kabsyah Al Anmari).
.
Nasihat Rasulullah salallaahu ‘alaihi wassalam kepada Abu Bakar di atas harus kita terapkan dalam sikap kita ketika menghadapi caci maki orang-orang yang tidak mau menerima dan memusuhi seruan kita. Tidak perlu caci maki mereka kita balas dengan caci maki pula. Karena tindakan tersebut akan menjadikan setan senang dengan yang kita lakukan.
.
Sabar ketika mendapatkan sikap kebencian dalam menyeru manusia untuk berjalan diatas jalan yang benar adalah sikap yang tepat. Bukankah segala sesuatu yang terjadi sudah Allah Ta’ala tetapkan. Seorang mukmin harus lapang dada dan ridha ketika menghadapi kejadian (musibah) yang menimpanya, karena hal itu merupakan ujian dari Allah Ta’ala, sejauh mana dia bersabar. Sehingga Allah Ta’ala mencintainya dan memberikan balasan pahala atas kesabarannya.
.
Allah ta’ala berfirman :
.
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
.
“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”. (QS. Ali Imran, 146).
.
Allah ta’ala berfirman :
.
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
.
“Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”. (QS. An-Nahl : 96).
.
Selain dicintai Allah Ta’ala dan mendapatkan pahala, orang yang sabar juga akan mendapatkan ampunan.
.
Allah ta’ala berfirman :
.
إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
.
“Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itu mendapatkan ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Hud: 11).
.
Dan diatas semua itu, orang yang sabar akan mendapatkan Surga ‘Adn.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
.
“Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu, maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu (Surga Adn)”. (QS Ar-Ra’d : 24).
.
Semoga kita bisa semakin bersabar dalam menyeru manusia untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni, ajaran yang tidak mengandung kebatilan yang dibuat-buat oleh para penyesat umat, Karena besarnya pahala yang akan kita dapatkan.
.
❁ MENELADANI IMAM SYAFI’I KETIKA MENGHADAPI ORANG BODOH
.
Imam Syafi’i adalah seorang Ulama besar yang banyak melakukan dialog dan pandai dalam berdebat dalam permas’alahan agama.
.
Sampai-sampai Harun bin Sa’id berkata : “Seandainya Syafi’i berdebat untuk mempertahankan pendapat bahwa tiang yang pada aslinya terbuat dari besi adalah terbuat dari kayu niscaya dia akan menang, karena kepandainnya dalam berdebat”. (Manaqib Aimmah Arbaah hlm. 109 oleh Ibnu Abdil Hadi).
.
Imam Syafi’i adalah seorang Ulama pembela sunnah, sehingga tentu saja pada waktu itu banyak orang sesat yang memusuhinya, karena cela’an Imam Syafi’i terhadap kesesatan mereka.
.
Berikut perkata’an Imam Syafi’i terhadap mereka.
.
Imam Syafi’i berkata :
.
يُخَاطِبُنِي السَّفِيْهُ بِكُلِّ قُبْحٍ
.
Orang jahil berbicara kepadaku dengan segenap kejelekan
.
فَأَكْرَهُ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ مُجِيْبًا
.
Akupun enggan untuk menjawabnya
.
يَزِيْدُ سَفَاهَةً فَأَزِيْدُ حُلْمًا
.
Dia semakin bertambah kejahilan dan aku semakin bertambah kesabaran
.
كَعُوْدٍ زَادَهُ الْإِحْرَاقُ طِيْبًا
.
“Seperti gaharu dibakar, akan semakin menebar kewangian”. (Diwân Imam Asy-Syâfi’iy).
.
Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Orang pandir mencercaku dengan kata-kata jelek. Maka aku tidak ingin untuk menjawabnya. Dia bertambah pandir dan aku bertambah lembut, seperti kayu wangi yang dibakar malah menambah wangi”. (Diwan Asy-Syafi’i, hal. 156).
.
Imam Syafi’i juga berkata : ”Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku, diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas bagi singa meladeni anjing”.
.
Itulah sikap dari Imam Syafi’i ketika menghadapi orang-orang sesat yang memusuhinya. Semoga kita bisa meneladaninya. Aamiin.
.
Semoga bermanfa’at.
.
Alhamdulilllah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.
.
با رك الله فيكم
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏Mąŋţяί
.
(Pecinta meong, pengamat perilaku cacat mental).
.
Kunjungi blog pribadi di : https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah
.
.
Peringatan !
.
Komentar oot (out of topic) atau oon, tidak ilmiah dan tidak menggunakan bahasa yang baik, atau pertanya’an dengan tujuan memancing adu omongan akan di hapus. Tidak ada waktu untuk menanggapi !
.
.
_____

AHLUS SUNNAH BERHUJJAH DENGAN KITABULLAH, SUNNAH NABI DAN SUNNAH PARA SAHABAT

AHLUS SUNNAH BERHUJJAH DENGAN KITABULLAH, SUNNAH NABI DAN SUNNAH PARA SAHABAT

Agama ini telah tegak pada masa-masa yang lalu, sejak zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, era sahabat dan para tabi’in. Apa yang menjadi agama pada masa itu, maka pada sekarang ini hal tersebut juga merupakan bagian dari agama.

Dan jika pada zaman mereka ada satu hal yang bukan dari agama, maka sekarang ini, hal tersebut juga bukan termasuk dari agama yang dicintai dan diridhai Allah.

Agama ini adalah Kitab Allah, dan Kitab Allah memerintahkan agar kita mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Rasulullah memerintahkan kita untuk mengikuti sahabat Rasulullah. Ini semua dicintai dan diridhai Allah.

Begitulah yang difahami Imam Syafi’i dan ulama lainnya.

(Suatu waktu), Imam Syafi’i datang ke Masjidil Haram di Mekkah untuk menunaikkan ibadah haji. Beliau duduk dan berkata kepada orang-orang yang ada : “Tanyakanlah kepadaku. Tidak ada orang yang bertanya tentang sesuatu kepadaku, kecuali aku akan menjawabnya dengan Kitabullah”.

Maka ada orang awam berdiri dan bertanya : “Wahai, imam. Ketika aku masuk Masjidil Haram, aku menginjak dan membunuh satu serangga. Padahal orang yang dalam keadaan ihram tidak boleh membunuh sesuatu. Akan tetapi, aku telah membunuh seekor serangga. Apa jawabannya dari Kitabullah ?”.

Setelah memuji Allah dan shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Imam Syafi’i berkata, Allah berfirman : “Apa-apa yang telah diperintahkan Rasul, maka haruslah kalian mengambilnya”. (QS. Al Hasyr: 8). Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِي

“Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan Sunnah-ku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk”. (HR. Abu Daud).

Dan diantara Khulafaur Rasyidin adalah Umar bin Khaththab. Kemudian beliau membawakan sebuah riwayat bahwa ada seseorang bertanya kepada Umar bin Khaththab tentang seseorang yang membunuh seekor serangga dalam keadaan ihram. Maka Umar menjawab, ”Tidak ada denda (sangsi) apa pun atas kamu”.

Maka Imam Syafi’i berkata : “Jawabanku dari Kitabullah, wahai orang yang berbuat (seperti) itu, sesungguhnya engkau tidak mendapat sangsi apapun. Itulah jawaban dari kitab Allah.”

(Dari ceramah Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman di Universitas Islam Negeri Malang, pada tanggal 7 Desember 2004).

________