HAKEKAT KEMURNIAN

HAKEKAT KEMURNIAN

Semua orang, kecuali orang yang sudah hilang akal sehatnya, pasti akan suka dengan yang murni, karena murni mengandung pengertian : Tidak bercampur dengan unsur lain, belum ternoda atau bisa juga di sebut jernih, bersih atau masih asli.

Emas murni artinya, emas yg belum dicampur dengan logam lain, emas yang memiliki kadar 24 karat. Inilah emas yang di sukai orang. Emas yang sempurna yang memiliki nilai tinggi. Kalau ada orang yang tidak suka dengan emas murni ini, tapi lebih memilih emas campuran, maka akan menjadi sesuatu yang mengherankan. Kemungkinan besar orang tersebut tidak faham arti dari sebuah kesempurna’an.

Kalau ada kain yang sudah kena noda, maka artinya kain tersebut sudah tidak bersih.

Kalau ada air yang sudah tercemar dengan kotoran, maka air tersebut sudah tidak jernih.

Semua orang yang berakal walaupun anak kecil sekalipun, tidak akan suka dengan noda dan kotoran.

Bagi orang yang masih sehat pikirannya (waras), dia pasti suka dengan yang bersih dan jernih. Ketika memakai pakaian dia akan memilih pakaian yang bersih, ketika minum dia akan minum air yang jernih.

Lalu bagaimana sekiranya ada orang yang suka memakai pakaian tidak bersih dan kalau minum sembarangan, tidak peduli tercampur racun atau air comberan ?

Orang yang senang dengan pakaian tidak bersih dan sembarangan minum, bisa di pastikan orang tersebut ada kelainan mental, terkena gangguan jiwa atau mengalami kerusakan otak. Atau mungkin juga kerasukan setan.

Orang sehat akalnya, pasti akan suka yang bersih dan jernih. Karena bersih dan jernih pertanda baik dan bagus.

Kalau urusan pakaian dan minum saja kita memilih yang bersih dan jernih, lalu bagaimana dengan urusan agama ?

Padahal agama sangat penting, menyangkut keselamatan di akhirat nanti ?

Semenjak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pertama kalinya menerima wahyu sampai hari ini, adalah rentang waktu yang cukup panjang. Hal inilah diantara penyebab jauhnya umat dari kemurnian ajaran Islam. Umat Islam berganti generasi ke generasi berikutnya. Menjadikan Islam makin bercorak berwarna-warni. Baik amalan dan pemahamannya.

Ibarat aliran sungai yang telah melewati ribuan kilometer meninggalkan mata airnya, semakin jauh, semakin berubah baik warna, rasa maupun baunya.

Akan ternodanya kemurnian Islam, sudah Rasulullah shallallahu kabarkan dalam sabdanya :

فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ يَوْمٌ أَوْ زَمَانٌ إِلَّا وَالَّذِي بِعَدِّهِ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تُلْقُوا رَبَّكُمْ

“Tidaklah datang kepada kalian suatu hari atau suatu zaman melainkan sesudahnya lebih buruk dari sebelumnya, hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian”. (HR. Ibnu Hibban (XIII/282 no. 5952).

Namun demikian, walaupun meluasnya penyimpangan dan kesesatan di tengah-tengah umat. Merebaknya kepercaya’an kepada tahayul dan mitos, sulit di bendungnya bid’ah dan ke syirikan, akan tetapi akan tetap ada sekelompok orang yang berdiri di atas ilmu, walaupun jumlah mereka sangat sedikit.

Sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar, Beliau berkata :

وَلَا يُمْنَعْ مِنْ ذَلِكَ وُجُودُ طَائِفَةً مِنْ أَهْلِ العِلْمِ، لِأَنَهُمُّ يَكُونُونَ حِينَئِذٍ مَغْمُورِينَ فِي أُولَئِكَ

”Namun hal itu tidaklah menghalangi untuk tetap adanya sekelompok ahli ilmu (ulama) di tengah umat, karena pada waktu itu mereka tertutup oleh dominasi masyarakat yang bodoh akan ilmu agama”. (Fathul-Baariy, [13/16]).

Sudah menjadi ketetapan Allah Ta’ala, disa’at kesesatan merajalela, yang menodai kemurnian Islam, akan tetap ada sekelompok orang yang berdiri diatas risalah Nabi, sekelompok orang yang menjaga aqidah dan manhajnya dari kerusakan akibat tipu daya para penyeru kesesatan yang mengemas syubhat dan kebatilan dengan kepandaian lisan mereka memainkan dalil yang membuat orang-orang bodoh tersihir dan terkecoh. Maka mereka inilah benteng Islam, yang akan menjadikan Islam tetap terjaga kemurniannya.

برك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://­agussantosa39.wordpre­ss.com/category/­04-bidah/­02-memahami-bidah/

___________________

SUDAH TRADISI

SUDAH TRADISI

Ketika diperingatkan untuk menjauhi perkara-perkara atau amalan-amalan yang tidak ada perintahnya dari Allah dan Rasulnya, ada sebagian dari orang awam yang berkata : ”Ini sudah tradisi”.

Ucapan seperti itu sama dengan perkata’an orang-orang musyrik di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mereka diperintahkan untuk meninggalkan tradisi-tradisi nenek moyangnya. Mereka berkata, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an :

إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (QS. Az Zukhruf: 22).

Begitulah jawaban mereka orang-orang musyrik yang menolak seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika diperingatkan untuk meninggalkan ajaran-ajaran nenek moyangnya.

• ISLAM TIDAK ANTI TRADISI

Islam tidak anti budaya dan tradisi, hal ini bisa kita perhatikan, misalnya dalam riwayat Bukhari di kitab Al-Libas diuraikan ketika sebagian sahabat mengusulkan kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam agar beliau membuat stempel seperti yang diperbuat para pemimpin-pemimpin dunia untuk mencap buku-buku dan surat-surat mereka, karena mereka tidak mau menerima surat ataupun tulisan kecuali jika ada stempelnya, maka Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam pun mengabulkan usul tersebut.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam membuatnya dari perak dengan bertuliskan Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Melalui sirah dan sunnahnya juga, kita dapat mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak melenyapkan semua tradisi atau adat bangsa Arab sebelum Islam (jahiliah). Tetapi yang Rasulullah lenyapkan hanyalah yang batil dan yang buruknya saja.

Bahkan dalam ibadah haji misalnya, kebanyakan tata caranya dipertahankan oleh Islam padahal ia telah dijalankan secara turun-temurun oleh bangsa Arab dari ajaran Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, seperti thawaf, sa’i dari Shafa ke Marwa, dan lainnya.

Sementara yang tidak sesuai dengan akidah Islam dihapus, seperti ucapan orang-orang jahiliah terdahulu dalam talbiah “Labbaik la syariika laka illa syariikan huwa laka tamlikuhu wa ma malak” yang ditujukan kepada berhala-berhala orang jahiliah. Kemudian yang dihapuskan adalah thawaf yang dilakukan sambil telanjang oleh mereka. Mereka beralasan bahwasannya mereka melakukan thawaf mengelilingi Baitullah dengan tidak mengenakan pakaian yang digunakan untuk maksiat.

Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika mempertahankan atau meninggalkan tradisi leluhur tentu saja berdasarkan wahyu. Dan kita pun umatnya boleh menjadikan tradisi itu dihilangkan atau dipertahankan, dengan syarat tradisi tersebut tidak melanggar atau bertentangan dengan syari’at Islam yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

بَارَكَ اللهُ فِيْكُم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/10-memahami-bidah/

================