TIGA MACAM IKHTILAF

TIGA MACAM IKHTILAF

Oleh : Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu

Di antara manusia ada yang mengatakan bahwa perbedaan adalah rahmat ?

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu menjawab : Perbedaan (ikhtilaf) ada tiga macam :

1. Ikhtilaf Al-Afham (perbedaan pemahaman).

Para shababat pernah mengalami perbedaan yang seperti ini. Bahkan ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu tetap makan (sahur) hingga jelas baginya perbedaan antara benang yang putih dengan benang yang hitam. Dia menaruh di bawah bantalnya, benang putih dan benang hitam, dan tetap makan (sahur), berdasarkan apa yang dia pahami dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

ﻭﻛﻠﻮﺍ ﻭﺍﺷﺮﺑﻮﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﺘﺒﻴﻦ ﻟﻜﻢ ﺍﻟﺨﻴﻂﺍﻷﺑﻴﺾ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﻂ ﺍﻷﺳﻮﺩ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam”. (QS. Al-Baqarah: 187).

Sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan ayat :

ﻣﻦ ﺍﻟﻔﺠﺮ

“Yaitu fajar”. (QS. Al-Baqarah: 187).

Ikhtilaful afham insya Allah tidak mengapa.

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu :

ﺇﻥ ﻭﺳﺎﺩﻙ ﻟﻌﺮﻳﺾ

“Sesungguhnya bantalmu lebar.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengatakan kepadanya : “Ulangilah (puasamu) pada hari-hari yang engkau makan (sahur setelah lewatnya fajar)”.

2. Ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan/keaneka ragaman tata cara).

Yakni, diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihiwa sallam ada beberapa macam cara/ bacaan tasyahud dalam shalat, juga ada beberapa macam bacaan shalawat atas Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam.

Ikhtilaf jenis ini, kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang jahil (bodoh). Dan keadaannya memang seperti yang beliau rahimahullahu katakan, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang jahil.

3. Ikhtilaf tadhad (perbedaan kontradiktif).

Apa itu ikhtilaf tadhad ?

Yaitu seseorang menyelisihi suatu dalil yang jelas, tanpa alasan. Inilah yang di ingkari oleh para salaf, yaitu menyelisihi dalil yang shahih dan jelas tanpa alasan.

Adapun hadits yang menjadi sandaran merekaya itu :

ﺍﺧﺘﻠﺎﻑ ﺃﻣﺘﻲ ﺭﺣﻤﺔ

“Perbedaan umatku adalah rahmat”.

Ini adalah hadits yang tidak ada sanad dan matannya. Munqathi’ (terputus sanadnya). Kata As-Suyuthi rahimahullahu dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shaghir. Beliau rahimahullahu juga berkata : “Mungkin saja ada sanadnya, yang tidak kita ketahui”. Namun hal ini akan berakibat tersia-siakannya sebagian syariat, sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu. Adapun tentang matan hadits ini, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :

ﻭﻻ ﻳﺰﺍﻟﻮﻥ ﻣﺨﺘﻠﻔﻴﻦ. ﺇﻻ ﻣﻦ ﺭﺣﻢ ﺭﺑﻚ

“Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang yang dirahmati Rabbmu”. (QS.Hud: 118-119).

Mafhum dari ayat yang mulia ini, bahwa orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu waTa’ala tidaklah berselisih. Sedangkan orang-orang yang tidak dirahmati Allah Subhanahu waTa’ala akan berselisih.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Ash-Shahihain dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :

ﺫﺭﻭﻧﻲ ﻣﺎ ﺗﺮﻛﺘﻜﻢ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﺃﻫﻠﻚ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻠﻜﻢﻛﺜﺮﺓ ﻣﺴﺎﺋﻠﻬﻢ ﻭﺍﺧﺘﻠﺎﻓﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﺒﻴﺎﺋﻬﻢ

“Biarkanlah aku dan apa yang aku tinggalkan untuk kalian. Hanyalah yang membinasakan orang-orang yang sebelum kalian adalah banyaknya mereka bertanya, dan banyaknya penyelisihan terhadap nabi-nabi mereka.”

Ini merupakan dalil bahwa ikhtilaf (perselisihan/perbedaan) adalah kebinasaan, bukan rahmat.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, di mana Ibnu Mas’ud dan salah seorang temannya berselisih tentang qira`ah (bacaan Al-Qur`an) :

ﻟﺎ ﺗﺨﺘﻠﻔﻮﺍ ﻛﻤﺎ ﺍﺧﺘﻠﻒ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻠﻜﻢ ﻓﺘﻬﻠﻜﻮﺍﻛﻤﺎ ﻫﻠﻜﻮﺍ

“Janganlah kalian berselisih sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah berselisih, sehingga kalian binasa sebagaimana mereka telah binasa.

”Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Shahih Muslim dari hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu :

ﺍﺳﺘﻮﻭﺍ ﻭﻟﺎ ﺗﺨﺘﻠﻔﻮﺍ ﻓﺘﺨﺘﻠﻒ ﻗﻠﻮﺑﻜﻢ

“Luruskan (shaf kalian), dan janganlah berselisih, sehingga hati-hati kalian akan berselisih”.

Dalam sebuah riwayat :

ﻟﺎ ﺗﺨﺘﻠﻔﻮﺍ ﻓﺘﺨﺘﻠﻒ ﻭﺟﻮﻫﻜﻢ

“Janganlah kalian berselisih, sehingga akan berselisihlah wajah-wajah kalian”.

Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Sunan Abu Dawud, dari hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu, disebutkan ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat para shahabatnya berpencar. Mereka singgah disebuah lembah, lalu setiap kelompok pergi ketempat masing-masing. Maka Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda :

ﺇﻥ ﺗﻔﺮﻗﻜﻢ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ

“Sesungguhnya bercerai-berainya kalian ini adalah dari setan”.

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berkumpul. Bila hal ini (terjadi) dalam tercerai-berainya fisik, maka apa sangkaanmu terhadap tercerai-berainya hati ?

Hadits-hadits tentang hal ini banyak sekali. Saya telah mengumpulkan sebagiannya dalam tulisan pendek yang berjudul Nashihati li Ahlus Sunnah dan telah tercantum dalam Hadzihi Da’watuna wa ‘Aqidatuna. Yang saya inginkan dari penjelasan ini, bahwa ikhtilaf termasuk kebinasaan.

Hanya saja ikhtilaf yang mana ?

Yaitu ikhtilaf tadhad yang dahulu diingkari oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat. Ikhtilaf tadhad (misalnya) :

– Disebutkan dalam Shahih Muslim dari hadits Salamah ibnul Akwa’, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang makan dengan tangan kirinya. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya : “Makanlah dengan tangan kanan”. Orang itu menjawab : “Aku tidak bisa”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi : “Engkau tidak akan bisa”. Maka orang itu tidak bisa mengangkat tangannya ke mulutnya. Tidak ada yang menghalanginya kecuali kesombongan.

– Dalam Ash-Shahih dari hadits Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menjenguk seorang lelaki tua yang sedang sakit. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya : “Thahur (Sakit ini sebagai penyuci)”. Namun lelaki tua itu justru berkata : “Demam yang hebat, menimpa seorang lelaki tua, yang akan mengantarnya ke kubur”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab : “Kalau begitu, benar”. Akhirnya dia terhalangi dari barakah doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

– Juga kisah seorang laki-laki yang telah kita sebutkan. Yaitu ketika ada dua orang wanita berkelahi, lalu salah seorang memukul perut yang lain, sehingga gugurlah janinnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan agar wanita yang memukul membayar diyat berupa seorang budak. Maka datanglah Haml bin Malik An-Nabighah dan berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimana kami membayar diyat (atas kematian seseorang) yang tidak makan dan tidak minum, tidak bicara tidak pula menangis – atau kalimat yang semakna dengan ini –, yang seperti ini tidak di tuntut diyatnya”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam marah, karena lelaki itu hendak membatalkan hukum Allah dengan sajaknya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

ﺇﻧﻤﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺇﺧﻮﺍﻥ ﺍﻟﻜﻬﺎﻥ

“Orang ini termasuk teman-teman para dukun. ”Yaitu karena sajaknya. Adapun pengingkaran para ulama terhadap orang yang menolak Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan akalnya, merupakan perkara yang kesempatan ini tidaklah cukup untuk menyebutkannya.

Saya telah menyebutkan sebagiannya dalam akhir risalah Syar’iyyatu Ash-Shalati bin Ni’al, juga dalam Rudud Ahlil ‘Ilmi ‘ala Ath-Tha’inin fi HaditsAs-Sihr.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

[Diambil dari Ijabatus Sa`il, hal. 518-521].

_____________

Iklan

TOBATNYA SEORANG KUBURIYUN

TOBATNYA SEORANG KUBURIYUN

Aku dulu sering membayangkan dengan cara menghayal, ka’bah itu seperti apa, hanya gambaran dari imajinasiku, aku tahu ka’bah dari kata orang orang dan gambar gambar yang sudah ada.

Tobatku dari selama menjadi penganut Islam model aswaja, membuat aku yakin bahwa ajaran yang aku kenal sebelumnya salah. Tetapi pertentangan jiwaku menerima “Muhammadiyah” ketika itu juga berat, hingga timbul pertarungan batin antara tetap di aswaja atau hengkang menuju dunia baruku, yaitu “Muhammadiyah”.

Terkadang aku melirik kesyirikan-kesyirikan yang pernah aku kerjakan, seperti bertirakat dikuburan, membuang waktu malam dari kuburan ke kuburan orang sholeh (menurut keyakinan aswaja), memburu wangsit atau ilham dari para penghuni kuburan orang orang shaleh.

Malam bukan menghabiskan waktu di mesjid, tetapi disebuah mushallah tanah pekuburan kramat (ala aswaja).

Dipelataran kuburan itu memang tempat mangkir kalangan selebritis kuburiyun yang mencari berbagai ilmu, macam “ilmu kassyaf” dan “Ladunni”

Di Madura memang yang namanya kuburan kyai atau orang orang sholeh lebih dari sekedar ka’bah di mekkah. bahkan demi kuburan mereka melakukan apa saja, guna kuburan bisa tertarik memberikan aura kepandaian kepada peminatnya.

“Suluk” kuburiyun ini memang berbacam macam caranya, tergantung keilmuan yang bersangkutan di tentang bertirakat di areal kuburan.

Saya mengenal tokoh sesat waktu itu namanya “Umbar atmonosari”, rumahnya disekitar kota Sumenep, jalan trunoyo, dia seorang ahli kuburan yang tak pernah absen, bahkan tak pernah sembahyang, juga seorang tokoh dari anshor waktu itu.

Menurutnya “sembahyang”
itu hanya untuk orang awam, itulah sebabnya dia gak pernah shalat jum’at ke mesjid, dia juga jago wanita melalui cara ilmu pelet yang dimiliki si Umbar ini.

Gurunya yang terkenal namanya Amirul Khotib asal Saronggi Sumenep, dia tokoh sholawat Wahidiyah yang sangat terkenal, juga gak pernah sholat, kerjanya hanya muter muter baca sholawat wahidiyah, karang KH. Romo yai Abdul Majid Ma’ruf kedonglo kediri.

Sholawat ini dikenal sebaga “Mujahadah” yang datang bisa mencapai ribuan, tetapi terus terang saja, kalau baca sholawat ini kayak gasing memutar kekanan kekiri, kedepan kebelakang, sambil membaca Ya sayyidi Ya Rosulullah secara berjama’ah, biasanya gaya sholawat wahidiyah ini memang harus dilakukan dengan berteriak teriak memanggil Rasulullah, shalat atau tidak yang penting baca sholawat wahidiyah.

Itulah Umabar (tokoh Anshor Sumenet tahun 70 puluhan, saya kenal baik dengan dia, bagaimana hidupnya dihabiskan dengan wanita hasil peletannya, juga pengikut setia sholawat wahidiyah.

Aku yang merasa salah dan dosa ikut-ikutan sholawat tersebut bukan makin menemukan ketenangan, tetapi diburu rasa ragu, bahwa yang dikerjakan aku salah,

Aku mohon kepada Allah supaya diberi ilmu yang benar. Karena hidupku pada waktu itu hanya dihabiskan untuk ibadah ibadah bid’ah menyesatkan, aku belajar namanya Hizbul Bahar, dan bermacam macam hizib-hizb unggulan aswaja.

Tetapi yang ada justru aku makin ragu, bahkan gara gara petunjuk seorang kyai aswaja K. Dawi asal Lenteng Sumenep, aku pernah puasa selama 40 hari. Buka dan sahurnya hanya skepal nasi putih, tetapi justru makin menguatkan aku meninggalkan Aswaja.

Taun 1977 aku mulai meninggalkan aswaja, bergabung dengan pengajian Ashhabul Kahfi yang terdiri dari 7 pemuda.

Dari wadah ini aku mengenal dunia ilmu. aku di perkenalkan pada sebuah pustaka temanku Jufry namanya, di rak lemari buku Jusfry ini terdapat berbagai buku tua warisan Ustad-ustad tahun 50 hingga enam puluhan, aku baca semua buku buku itu,

Seperti buku Ustad A. Hassan, soal Jawab A. Hassan, Surat debat dengan Sukarno, berjilid-jilid Al muslimun, Panji Masyarakat, Kiblat, buku karangan KH. Bahauddin Mudhhari (Dialog Islam Kristen), Buku bruosur Darussalam oleh Ustad Usman Bahababazy dan ratusan buku lainnya yang kemudian membuat aku bertobat murni dari Aswaja.

Tetapi aku tidak puas hanya sampai disitu, aku mulai haus ilmu, aku mulai gila membaca, aku datangi semua perpustaka’an di Sumenep, aku bandingkan ilmu-ilmu yang kudapat.

Aku ketemu dengan bukunya Sirajuddin Abbas 40 masalah dalam Islam. Buku ini sangat tidak ilmiah, bahkan isinya lebih standar emosi. Aku yang tak kenal “wahabi” waktu itu justru menjadi tahu wahabi dari caci maki sirajuddin Abbas terhadap wahabi, juga caci maki Sirajuddin abbas terhadap Ibnu Taimiyah. Sirajuddin abbas dalam memaki Ibnu Taimiyah hanya berpedoman pada seorag Ibnu batutah ketika berlayar di Aceh,

Dengan caci maki Sirajuddin Abbas tersebut justru membuat aku makin yakin ada tersembunyi di balik hujatannya terhadap Wahabi dan Ibnu Taimiyah,

Itulah yang mendorong aku membuka buku buku yang beraliran wahabi, aku pelajari buku buku wahabi, dan terus terang saja waktu itu tidak ada mulut paling jelek mencaci wahabi selain aswaja. Padahal waktu itu aku gak kenal wahabi, wahabi yang aku kenal waktu itu adalah Muhammadiyah, sebab kalau kyai kyai Madura lagi mencemooh Muhammadiyah selalu bilang “Muhammadiyah wahabi “. Itu dulu sebelum ada kasak kusuk dakwah salafi di Indonesia.

Jadi kebencian pada wahabi itu sudah ditanamkan sejak dini oleh para kyai di Madura, tetapi beda dengan aku, justru wahabi yang makin dibenci membuat aku terpanggil ingin tahu wahabi.

Siapa wahabi ?, ternyata maksudnya orang orang yang menjalankan Qur’an dan sunah, itulah yang dibenci mereka.

Muhammadiyah yang menjadi payung aku mempelajari Islam waktu membuat aku ingin menguji kebenaran lewat Muhammadiyah.

Tahun 1992 aku membayangkan Mekkah, menggambarkan ka’bah kayak apa, aku ingin melihat ka’bah, aku ingin tahu sendiri seperti apa mekkah, ka’bah dan Madina. Tetapi bagaimana Mungkin aku bisa ke ka’bah, pusat kiblat umat Islam itu, sedangkan yang mau dimakan waktu itu saja sering absen perharinya, apa mungkin bisa aku ke Mekkah ?

Aku tantang Allah dengan doa doaku : ”Ya Allah, Ya Allah, aku sudah meninggalkan alam sesat, dan aku berada dalam pangkuan Muhammadiyah, aku ingin ya Allah bukti, kalau aku masuk Muhammadiyah sebagai ormas yang benar membela agamamu, maka buktikan kebenaran-MU ya Allah, aku ingin merasakan nikmatnya Mekkah seperti apa, aku sekarang tak perduli aku menderta/ miskin, tetapi aku ingin bukti bahwa aku masuk bukan pada ormas yang salah ya Allah. Tetapi jika sekiranya aku gak benar, Ya Allah jangan kabulkan doaku, aku sudah sangat menderita ya Allah, kau ambil ayahku, engkau membuat lingkungannya benci padaku, karena aku berjalan diatas Quran dan sunah, ya Allah jika memang benar izinkan dan mudahkan aku menggapai ka’bah dengan tanganku sendiri.

Tahun 1993 menjelang Ramadhan saya bermimpi Nabi Muhammad datang kepadaku, beliau berada diantara pelangi yang menyambungkan ke Ka’bah, lalu beliau bersabda padaku : Kamu sudah menjalani empat perkara, tinggal satu, maka beliau memberikan yang satu itu padaku, aku terbangun, tenang hatiku, merasakan sesuatu ada yang hadir di dekatku.

Besoknya seorang tetanggaku bapak H Ghani bercanda denganku, ”Kapan ke mekkah ?”. jawabku : ”Isnsya Allah tahun ini.
Bapak Haji Ghani (tetanggaku hanya tersenyum, tapi aku tak su’uddzon pdanya).

Setelah H tinggal 10 hari, mendadak aku dikejutkan dengan telegram dari PP. Muhammadiyah Jakarta yang isinya : Zul secepatnya ke Jakarta, anda mendapat undangan dari Raja Fahd bin Abdul Aziz untuk menunaikan ibadah haji, bagaikan di sambar petir kegirangan, bulu kudukku merinding dan aku rebah ketanah sujud sambil menangis syukur, aku peluk Ibuku, aku cium ibuku, pamanku, semua menangis mendengar aku dipanggil menunaikan ibadah haji, hingga bibiku sendiri gak percaya kalau aku akan ketanah suci, bahkan mengatakan aku sinting……. Itulah bukti kebenaran Islam yang aku temukan di Muhammadiyah.
Tetanggapun menjadi gempar, bahkan ketika aku diliput RCTI di mekkah tahun 1993.

Saksi hidup dari orang orang PP. Muhammmadiyah masih hidup, beliau Ustad Goodwill Zubir (padang ), beliau juga sebagai ketua di PP. Muhammadiyah, juga saksi hidup lainnya adalah Buya Risman Mukhtar (padang) ketua PW Muhammadiyah DKI. Saksi meninggal adalah : Ustad Anhar Burhanuddin MA (Padang)…..Juga ketua Islam Tiongha (Ali Karim Oi, pemilik Mesjid Lautze jakarta).

______________

Profil Ustadz Zulkarnain El-Madury

Tanggal Lahir, 6 Agustus 1963

Pendidikan :

– Institute of Bussiness Study Angkatan 1992
– Pesantren At-Taufiqiyah Sumenep Angkatan 1984

Tempat Tinggal :

Jakarta, Kota Asal Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur

Jabatan :

Da’i Pimpinan Pusat Muhammadiyah Januari 1990 hingga sekarang Membina masyarakat Islam Tertinggal

Kontak Facebook :

https://www.facebook.com/KomunitasMuslimAntiBidah

https://www.facebook.com/groups/zelmadury/(Group1000.000 Orang Menolak Aswaja Penyebar Bid’ah)

________________

SANG PEMBAHARU DAN PEMURNI ISLAM KETURUNAN WALI SONGO DARI TANAH JAWA

SANG PEMBAHARU DAN PEMURNI ISLAM KETURUNAN WALI SONGO DARI TANAH JAWA
.
Oleh : Ikhwan pecinta meong
.
Pada abad ke 18, umat Islam di Nusantara khususnya di pulau jawa sudah tidak mengenal lagi ajaran Islam yang murni, mereka lebih akrab dengan tahayul dan khurofat, juga dengan aneka macam bid’ah dan kesyirikan. Ajaran Hindu dan Budha yang di Islamisasikan menjadi ritual yang tidak bisa di tinggalkan oleh umat Islam sa’at itu. Pengaruh animisme, dinamisme, kebatinan dan kejawen sangat kental di tengah-tengah kaum muslimin. Di lingkungan keraton, benda-benda-pusaka seperti keris, kereta kuda, tombak dan lainnya di sembah dan di keramatkan. Umat Islam sa’at itu mengalami keterbelakangan (dekadensi), kolot (ortodoks), tidak ada kemajuan (stagnan) dan kaku (statis).
.
Dalam kondisi umat Islam yang demikian, muncul di tengah-tengah umat Islam seorang Ulama besar Nusantara di zamannya. Dia adalah KH. Ahmad Dahlan.
.
• Putra Seorang Ulama
.
K.H. Ahmad Dahlan bernama kecil Muhammad Darwisy. Lahir di Yogyakarta pada tgl 1 Agustus thn 1868 dan wafat pada usia 54 tahun di Yogyakarta pada tgl 23 Februari thn 1923. Lahir dari keluarga Ulama. Ayahnya, KH Abu Bakar adalah seorang Ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta, dan ibunya, Nyai Abu Bakar adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.
.
• Keturunan Wali Songo
.
KH. Ahmad Dahlan termasuk keturunan kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa. (Kutojo dan Safwan, 1991).
.
Silsilah lengkapnya ialah ; Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH Abu Bakar bin KH Muhammad Sulaiman bin Kiyai Murtadla bin Kiyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlul’llah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).
.
• Guru-guru KH. Ahmad Dahlan
.
Sebagaimana anak seorang kyai pada masa itu pemuda Darwis juga menimba ilmu ke banyak kyai. Ia belajar ilmu fikih kepada KH Muhammad Shaleh, ilmu Nahwu-Sharaf (tata bahasa) kepada KH. Muhsin, ilmu falak (astronomi) kepada KH. Raden Dahlan, ilmu hadis kepada kyai Mahfud dan Syekh KH. Ayyat, ilmu Al Qur-an kepada Syekh Amin dan Sayid Bakri Satock, dan ilmu pengobatan dan racun binatang kepada Syekh Hasan.
.
Salah seorang guru KH. Ahmad Dahlan di Makkah adalah Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Yang juga gurunya Haji Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka) dan Syekh Muhammad Djamil Djambek. Keduanya pendiri gerakan “Kaoem Moeda” (kaum pembaharu) di Sumatra Barat. Haji Agus Salim yang menjadi wakil ketua Sarekat Islam dan Pembina Jong Islamieten Bond juga berguru pada Syekh Ahmad Khatib. Jadi seluruh gerakan pembaharu (reformis) Islam di Indonesia yang menjadi mainstream sumbernya satu yaitu Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang menjadi Imam Masjidil Haram di Mekkah.
.
Dan dari Syekh Ahmad Khatib inilah Dahlan berkenalan dengan pemikiran trio pembaharu dan Reformis Islam dari Timur Tengah yaitu Sayid Jamaluddin Al-Afghani, Syekh Muhammad Abduh, dan Syekh Muhammad Rasyid Ridha.
.
Akhirnya KH. Ahmad Dahlan membawa gerakan Reformasi itu ke Indonesia. Dalam mengintrodusir cita-cita reformasinya itu mulanya dengan mencoba mengubah arah kiblat di Masjid Sultan di Keraton Yogyakarta ke arah yang sebenarnya yaitu Barat Laut (sebelumnya ke Barat). Walaupun di tolak pihak keraton. Dahlan juga memperbaiki kondisi higienis di daerah Kauman bersama sahabat-sahabatnya.
.
• Naik Haji Pada Usia 15 Tahun dan Menuntut Ilmu di Makkah
.
Sejak kecil Muhammad Darwisy (KH. Ahmad Dahlan) diasuh dalam lingkungan pesantren, yang membekalinya pengetahuan agama dan bahasa Arab. Pada usia 15 tahun (1883), ia sudah menunaikan ibadah haji, yang kemudian dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah selama lima tahun.
.
• Berinteraksi Dengan Pembaharu Islam
.
KH. Ahmad Dahlan intens berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah. Interaksi dengan tokoh-tokoh Islam pembaharu itu sangat berpengaruh pada semangat, jiwa dan pemikiran Darwisy. Semangat, jiwa dan pemikiran itulah kemudian diwujudkannya dengan menampilkan corak keagamaan melalui Muhammadiyah, organisasi Islam yang di dirikannya.
.
• Di Angkat Menjadi Khatib
.
Setelah lima tahun belajar di Makkah, pada tahun 1888, saat berusia 20 tahun, Darwisy kembali ke kampungnya. Ia pun berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Lalu, ia pun diangkat menjadi Khatib Amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta.
.
• Di Musuhi Kaum Kolot (Ortodoks)
.
Mengembalikan umat Islam kepada ajaran Islam yang sebenarnya bukanlah perkara mudah, rintangan dan permusuhan dari orang-orang yang merasa terusik sudah menjadi sunnatullah, sebagaimana para Rasul dahulu ditentang dan diperangi oleh orang-orang sesat di zamannya. Begitu pula yang dihadapi oleh KH. Ahmad Dahlan. Karena gerakan reformasinya KH. Ahmad Dahlan sering diteror dan diancam akan dibunuh. Kediamannya dilempari batu dan kotoran binatang, tapi KH. Ahmad Dahlan maju terus pantang mundur.
.
Di awal berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan dianggap menyimpang oleh banyak orang yang merasa terusik keyakinannya. Sehingga KH. Ahmad Dahlan sering dijuluki sebagai Kiai Kafir, lantaran mendirikan Sekolahan Umum (yang dianggap berasal dari barat) dan merubah sistem Pendidikan Islam yang pada waktu itu identik dengan dunia Pesantren yang menggunakan metode pengajaran Sorogan, Bandongan atupun Wetonan (yaitu: Murid/Santri duduk melingkari Guru/Kiai yang duduk berada di tengah-tengahnya), menjadi sistem Klasikal Barat (yaitu: dengan menggunakan meja, kursi, dan papan tulis serta guru berdiri di depan untuk mengajar). Sistem pengajaran yang di terapkan KH. Ahmad Dahlan pada masa itu, dianggap asing bagi kalangan masyarakat santri, sehingga sistem Barat yang di terapkan KH. Ahmad Dahlan sering dikatakan sebagai Sekolah Kafir.
.
Namun aneh dan lucunya, kaum ortodoks yang mengejek dan memusuhi KH. Ahmad Dahlan ternyata mereka pun akhirnya mengikuti jejak KH. Ahmad Dahlan membentuk organisi Islam, begitu pula mengikuti jejak KH. Ahmad Dahlan dalam menerapkan sistem pendidikan yang menurut kaum kolot (ortodoks) sistem kafir.
.
• Di Ejek Guru Ngaji Kampungan (Ortodoks)
.
Suatu sa’at KH. Ahmad Dahlan kedatangan tamu seorang Guru Ngaji dari Magelang, yang mengejeknya dengan sebutan kiai kafir dan kiai palsu karena mengajar dengan menggunakan alat-alat sekolah seperti milik orang kafir. Karena ejekan guru ngaji tersebut, KH. Ahmad Dahlan bertanya,
.
“Ma’af saudara, saya ingin bertanya dulu. Saudara dari Magelang ke sini tadi berjalan kaki atau memakai kereta api ?”
.
“Pakai kereta api” Jawab guru ngaji.
.
“Kalau begitu, nanti Saudara pulang sebaiknya dengan berjalan kaki saja”. Ujar KH. Dahlan.
.
“Mengapa ?”. Tanya sang guru ngaji keheranan.
.
“Kalau saudara naik kereta api, bukankah itu perkakasnya orang kafir ?” Jawab KH. Ahmad Dahlan Telak.
.
“??????????????” Sang guru ngaji terbengong-bengong. Kemudian pergi tanpa pamit.
.
Demikianlah KH. Ahmad Dahlan dalam memberikan penjelasan kepada orang-orang yang meremehkan, mengejek dan memusuhinya.
.
Pada sa’at KH. Ahmad Dahlan melontarkan gagasan pendirian Muhammadiyah, ia mendapat tantangan bahkan fitnahan, tuduhan dan hasutan baik dari keluarga dekat maupun dari masyarakat sekitarnya. Ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.
.
• Di Ancam Akan Di Bunuh
.
Pada waktu berdakwah di Banyuwangi KH. Ahmad Dahlan diancam akan dibunuh karena tidak bersedia menjawab pertanya’an yang tidak ada hubungannya dengan Muhammadiyah. Para penantangnya berteriak-teriak, ”Dahlan kalah, Dahlan kyai palsu”.
.
KH. Ahmad Dahlan pun diancam akan dipancung dan isterinya akan dijadikan pelayan, kalau berani datang lagi ke Banyuwangi. Tapi KH. Ahmad Dahlan tidak gentar menghadapi tantangan orang-orang bodoh tersebut. Pada waktu yang sudah ditentukan beliau kembali ke Banyuwangi, walaupun teman-temannya meminta supaya niat itu dibatalkan. Polisi Banyuwangi pun menganjurkan agar kembali ke Yogya. KH. Ahmad Dahlan hanya menjawab, ”Kalau orang-orang yang durhaka sampai berani berbuat demikian, mengapa kita yang berkewajiban menyiarkan ajaran yang benar harus takut dan kurang berani ? Saya akan berbuat kebaikan dengan menerangkan agama yang benar, tetapi mereka akan berbuat jahat dengan membunuh saya. Mengapa orang yang berbuat kebaikan yang saudara larang, bukan mereka yang bermaksud jahat ?”.
.
• Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional
.
Atas jasa-jasa KH Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961.
.
Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional didasarkan pada empat pokok penting yakni :
.
1. KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.
.
2. Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan ummat, dengan dasar iman dan Islam.
.
3. Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam.
.
4. Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan.
.
Itulah riwayat hidup seorang Ulama besar di masanya dari Tanah Jawa yang masih keturunan Wali Songo. Seorang Ulama reformis yang membuka lebar-lebar pintu ijtihad. Seorang Ulama yang menjauhkan umat dari sifat taklid yang membutakan hati dan mengeluarkan umat Islam di Nusantara dari ke jumudan akal dan fikiran.
.
Semoga kita bisa melanjutkan langkah perjuangannya. Aamiin.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
sumber tulisan :
.
http://m.kompasiana.com/maspuguh/kh-ahmad-dahlan-dan-kiai-kereta-api_55004d71a33311d07551028a
.
http://metrotvnews.com/index.php/metromain/tajuk/2010/03/14/278/Fatwa-Rokok-Muhammadiyah
.
http://smujiono.blogspot.com/2011/05/metode-fatwa-muhammadiyah.html
.
https://putrahermanto.wordpress.com/2010/09/09/sang-pencerah-islam-kh-ahmad-dahlan-1868-1923-pendiri-muhammadiyah/?
.
http://sangpencerah.id/2015/01/kh-ahmad-dahlan-pernah-mau-dibunuh-saa.html
.
.
__________

Nasehat Ulama yordan

Ada nasihat yang indah dari Ulama Jordania yaitu Syaikh Ali Hasan Al-Halabi hafizhahullah, berikut nukilannya : “Setiap orang yang mengamalkan bid’ah beranggapan bahwa di dalamnya terkandung maslahat bagi kaum muslimin, maka kepadanya (orang tersebut) tidak ada manfa’atnya menerangkan tentang makna bid’ah atau mentahdzir (memperingatkan) dari bid’ah. Banyak hadits-hadits yang menerangkan cela’an terhadap bid’ah, jadi tidak berguna dan tidak ada manfa’at yang bisa diambil darinya. [‘Ilmu Ushuul Bida’, hlm.226 Daar Ar-Rayyah, cet.I,th.1413,H]

Syaikh Ali mengutarakan hal ini di dalam kitabnya dikarenakan sudah diketahui bahwa setiap orang yang selalu berkelit atau selalu mencari pembenaran maka sulit menjumpai kebenaran, mengapa demikian ? Karena ia sudah disibukkan dengan pencarian pembenarannya sehingga tidak ada lagi waktu untuk mencari kebenaran, Dengan demikian jika sudah diketahui kita menjumpai orang-orang yang berpegang teguh kepada pembenarannya maka semestinyalah kita menjauhinya, mengapa ? Karena hanya akan membuang-buang waktu dengannya, di samping itu pun dikhawatirkan ia akan menabur syubhat yang diluar kapasitas kita.

Allahul Musta’aan.

JAUHI BID’AH WALAUPUN KECIL

JAUHILAH BI’DAH WALAUPUN KECIL

Imam Abu Muhammad Al Barbahaari menulis untaian kata dalam kitab beliau yang bernama Syarhus Sunnah :

“Hindarilah oleh kalian hal-hal yang bid’ah itu betapa pun kecilnya, sebab bid’ah yang kecil itu secara terus-menerus akan menjadi besar. Demikian pula setiap bid’ah yang di munculkan ditengah-tengah ummat, awalnya adalah kecil, lalu di anggap oleh orang bahwa itu kebaikan dan kebenaran, Sehingga orang itu tertipu seolah-olah itu kebenaran, kemudian ia tidak bisa keluar dari hal tersebut, sehingga semakin besar bid’ah itu. Akhirnya akan dianggap sebagai dien (syari’at) yang diyakini, lalu menyelisihi jalan yang lurus”.

https://agussantosa39.wordpress.com/category/bidah/jangan-sepelekan-bidah/

————————

Lebih baik bodoh di atas sunnah daripada pintar tapi bid’ah

LEBIH BAIK BODOH DI ATAS SUNNAH DARIPADA PINTAR DIATAS BID’AH

Al-Imam al-Qasim bin Muhammad rahimahullah berkata : “Seseorang hidup dalam keadaan jahil / bodoh, itu lebih baik daripada dia berkata atas nama agama Allah tanpa ilmu” (Thabaqat al-Hanabilah 1/70)

قال العلامة ربيع بن هادي حفظه الله : الجهل : أفضل من أخذ العلم عن أهل البدع
[ المجموع ١/٣٠١ ]

Berkata Al ‘Allamah Robi’ bin Hadiy hafizhohulloh : “Kejahilan (kebodohan) Lebih utama daripada mengambil ilmu dari ahlul bida’.” (Al Majmu’ 1/301)

Berkata As-Syaikh Hani’ bin Buraik hafidzahullah ; “Lebih baik engkau menjadi orang yang jahil (bodoh) tetapi di atas As-Sunnah, daripada engkau menjadi penuntut ilmu namun mubtadi’/ pelaku bid’ah !”

_____________________

Nasehat Sunan Bonang

NASEHAT SUNAN BONANG UNTUK MENJAUHI BID’AH

Berikut ini adalah dialog sunan Ampel dengan sunan Bonang yang di catat dalam buku “Het Book Van Bonang”

Dialog tersebut terdapat pada sebuah dokumen yang bisa di pertanggung jawabkan kebenarannya sehubungan dengan kisah-kisah Walisongo.

* BUKU HET BOOK VAN BONANG

Buku ini ada di perpustakaan Heiden Belanda, yang menjadi salah satu dokumen langka dari jaman Walisongo. Kalau tidak dibawa Belanda, mungkin dokumen yang amat penting itu sudah lenyap.

Buku ini ditulis oleh Sunan Bonang pada abad 15 yang berisi tentang ajaran-ajaran Islam.

NASEHAT SUNAN BONANG

Salah satu catatan menarik yang terdapat dalam dokumen “Het Book van Mbonang” itu adalah peringatan dari sunan Mbonang kepada umat untuk selalu bersikap saling membantu dalam suasana cinta kasih, dan mencegah diri dari kesesatan dan BID’AH.

Bunyinya sebagai berikut :

“Ee..mitraningsun ! Karana sira iki apapasihana sami-saminira Islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah“.

Artinya :

“Wahai saudaraku ! Karena kalian semua adalah sama-sama pemeluk Islam maka hendaklah saling mengasihi dengan saudaramu yang mengasihimu. Kalian semua hendaklah mencegah dari perbuatan sesat dan BIDA’H”.

Dokumen ini adalah sumber tentang walisongo yang dipercayai sebagai dokumen asli dan valid, yang tersimpan di Museum Leiden, Belanda.

Dari dokumen ini telah dilakukan beberapa kajian oleh beberapa peneliti. Diantaranya thesis Dr. Bjo Schrieke tahun 1816, dan Thesis Dr. Jgh

Dalam dokumen tersebut Sunan Kalijogo, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati dan Sunan Muria (kaum abangan) berbeda pandangan mengenai adat istiadat dengan Sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Drajat (kaum putihan).

Sunan Kalijogo mengusulkan agar adat istiadat lama seperti selamatan, bersaji, wayang dan gamelan dimasuki rasa keislaman.

Sunan Ampel berpandangan lain.

“Apakah tidak mengkhawatirkannya di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam ? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi BID’AH ? Sunan kudus menjawabnya bahwa ia mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari ada yang menyempurnakannya (hal 41, 64).

Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Gunung Jati dan terutama Sunan Giri berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan ajaran Islam secara murni, baik tentang aqidah maupun ibadah.

Dan mereka menghindarkan diri dari bentuk singkretisme / mencampurkan, memadukan ajaran Hindu dan Budha dngn Islam.

Tetapi sebaliknya Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Kalijaga mencoba menerima sisa-sisa ajaran Hindu dan Budha di dalam menyampaikan ajaran Islam.

(Abdul Qadir Jailani , Peran Ulama dan Santri Dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia], hal. 22-23, Penerbit PT. Bina Ilmu)

rusmanhaji.wordpress.com/2013/05/03/artikel-sinkretisme/

————————