BERJABAT TANGAN SETELAH SHALAT

BERJABAT TANGAN SETELAH SHALAT

Al-Izz bin Abdis Salam menjawab ketika ditanya hukumnya bersalaman setelah shalat.

Al-Izz bin Abdis Salam berkata : ”Berjabat tangan setelah sholat subuh dan ashar termasuk bid’ah kecuali bagi orang yang baru datang dan bertemu dengan orang yang dia berjabat tangan dengannya sebelum sholat, karena berjabat tangan disyari’atkan tatkala datang”. (Kittab Al-Fataawaa karya Imam Al-‘Izz bin Abdis Salaam hal 46-47, kitabnya bisa didownload di http://majles.alukah.net/showthread.php?t=39664).

https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
_________

MENGIRINGI JENAZAH SAMBIL MEMBACA DZIKIR DENGAN MENGERASKAN SUARA

MENGIRINGI JENAZAH SAMBIL MEMBACA DZIKIR DENGAN MENGERASKAN SUARA

Di dalam kitabnya al-Azkar, al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

واعلم أن الصواب المختار ما كان عليه السلف رضي الله عنهم : السكوت في حال السير مع الجنازة ، فلا يرفع صوتا بقراءة ، ولا ذكر ، ولا غير ذلك ، والحكمة فيه ظاهرة ، وهي أنه أسكن لخاطره ، وأجمع لفكره فيما يتعلق بالجنازة ، وهو المطلوب في هذا الحال ، فهذا هو الحق ، ولا تغترن بكثرة من يخالفه ، فقد قال أبو علي الفضيل بن عياض رضي الله عنه ما معناه : الزم طرق الهدى ، ولا يضرك قلة السالكين ، وإياك وطرق الضلالة ، ولا تغتر بكثرة الهالكين…

وأما ما يفعله الجهلة من القراءة على الجنازة بدمشق وغيرها من القراءة بالتمطيط ، وإخراج الكلام عن موضوعه ، فحرام بإجماع العلماء ، وقد أوضحت قبحه ، وغلظ تحريمه ، وفسق من تمكن من إنكاره ، فلم ينكره في كتاب ” آداب القراء

”Ketahui sesungguhnya yang betul lagi terpilih yang menjadi amalan al-Salaf al-Salih radhiallahu ‘anhum ialah diam ketika mengiringi jenazah. Maka janganlah diangkat suara dengan baca’an, zikir dan selainnya. Hikmahnya nyata, yaitu lebih menenangkan hati dan menghimpunkan fikiran mengenai apa yang berkaitan dengan jenazah. Itulah yang dituntut dalam keada’an tersebut. Inilah yang benar. Janganlah engkau terpengaruh dengan banyaknya orang yang menyanggahinya.

Sesungguhnya Abu ‘Ali al-Fudail bin ‘Iyad rahimahullah pernah berkata : “Berpegang dengan jalan kebenaran, tidak akan memudorotkanmu sedikitnya orang yang menempuh jalan kebenaran tersebut. Dan jauhilah jalan yang sesat. Jangan engkau terperdaya dengan banyaknya golongan yang binasa (yang melakukannya)”.

…… Adapun apa yang dilakukan oleh golongan jahil di Damaskus, YAITU MELANJUTKAN BACA’AN AL-QUR’AN DENGAN DIPANJANG-PANJANGKAN DAN BACA’AN YANG LAIN KEATAS JENAZAH, serta pembicaraan yang tiada kaitan, maka hukumnya adalah haram dengan ijma’ ulama. Sesungguhnya aku telah jelaskan dalam Kitab Adab al-Qurroo’ tentang keburukannya, besar keharamannya dan kefasikannya bagi siapa yang mampu mengingkarinya tetapi tidak mengingkarinya”. (Al-Adzkaar hal 160).

______

BERDO’A SETIAP KALI MENCUCI ANGGAUTA WUDHU

BERDO’A SETIAP KALI MENCUCI ANGGAUTA WUDHU

Sebagian umat Islam membaca do’a setiap kali membasuh anggota wudhu.

Ketika berkumur-kumur membaca do’a,

اللَّهُمَّ اسْقِنِيْ مِنْ حَوْضِ نَبِيَّكَ كَأْسًا لاَ أَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدُا

“Ya Allah berilah saya minum dari telaga Nabi-Mu satu gelas yang saya tidak akan haus selama-lamanya.”

Membasuh wajah membaca do’a,

اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَسْوَدُّ الْوُجُوْهُ

“Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari wajah-wajah menjadi hitam.”

Mencuci tangan membaca do’a,

اللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِيَمِيْنِيْ وَلاَ تُعْطِنِيْ بِشِمَالِيْ

“Ya Allah, berikanlah kitabku di tangan kananku dan janganlah engkau berikan di tangan kiriku.”

Begitu pula ketika mengusap kepala, mengusap telinga dan mencuci kaki membaca do’a.

Do’a-do’a tersebut tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Artinya do’a-do’a tersebut adalah perkara baru dalam agama yang dibuat-buat (bid’ah).

Imam besar Ulama Syafi’iyah, Imam An-Nawawi menegaskan, bahwa do’a ini tidak ada asalnya dan tidak pernah disebutkan oleh orang-orang terdahulu di kalangan Syafi’iyah.

ثم، مع هذا، لا شك أنه يتم تضمين الصلاة في الوضوء بدعة المضللة التي ينبغي التخلي عنها

”MAKA, DENGAN INI, TIDAK DIRAGUKAN BAHWA DO’A INI TERMASUK BID’AH SESAT DALAM WUDHU YANG HARUS DITINGGALKAN”. (Lihat Al-Majmu’, 1: 487-489).

______

MENGIRIM PAHALA BACA’AN AL-QUR’AN KEPADA MAYAT

MENGIRIM PAHALA BACA’AN AL-QUR’AN KEPADA MAYAT

Masyhuur dari madzhab Imam Asy-Syafii bahwasanya beliau memandang tidak sampainya pengiriman pahala baca qur’an bagi mayat.

Imam An-Nawawi berkata : “Dan adapun sholat dan puasa maka madzhab As-Syafi’i dan mayoritas ulama adalah tidak sampainya pahalanya kepada si mayat…adapun qiroah (membaca) Al-Qur’an maka yang masyhuur dari madzhab As-Syafi’i adalah tidak sampai pahalanya kepada si mayat…” (Al-Minhaaj syarh shahih Muslim 1/90).

______

SULITNYA BERDEBAT DENGAN ORANG JAHIL

SULITNYA BERDEBAT DENGAN ORANG JAHIL

Berdebat dengan orang jahil bukan perkara mudah, permas’alahannya karena orang jahil tidak faham landasan ilmu (ilmu ushul).

Sulitnya berdebat dengan orang jahil, bahkan dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata :

“Aku mampu berdebat dengan sepuluh orang yang berilmu, tetapi aku pasti kalah dengan seorang yang jahil, karena orang yang jahil itu tidak pernah faham landasan ilmu”

Apabila Imam Asy-Syafi’i saja tidak mampu mengalahkan orang jahil dalam berdebat, apalagi kita ?

Padahal Imam Asy-Syafi’i adalah seorang ulama besar yang banyak melakukan dialogh dan pandai dalam berdebat. Sampai-sampai Harun bin Sa’id berkata :

“Seandainya Syafi’i berdebat untuk mempertahankan pendapat bahwa tiang yang pada aslinya terbuat dari besi adalah terbuat dari kayu niscaya dia akan menang, karena kepandaiannya dalam berdebat”. (Manaqib Aimmah Arbaah hlm. 109 oleh Ibnu Abdil Hadi).

Berdebat dengan orang jahil memang sulit, tapi adakalanya kita menemukan orang jahil yang besar kepala dan memancing-mancing kita untuk berdebat.

Maka kalau kita mau melayaninya berdebat, ada beberapa pertanya’an sebelum di mulainya perdebatan yang perlu di pertanyakan kepadanya.

Berikut ini pertanya’annya :

1. Sebutkan syarat diterimanya Ibadah !
2. Sebutkan Maslahah Mursalah dan perbeda’annya dengan bid’ah !
3. Sebutkan Al-Aadah dan Al-Ibaadah, dan kaidahnya masing-masing.

1. Syarat diterimanya Ibadah perlu di pertanyakan. Karena menurut orang jahil, ibadah cukup niatnya karena Allah, cukup niatnya Ikhlas, walaupun tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana amalan-amalan bid’ah mau diterima dan mendapatkan pahala, karena bid’ah itu tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Bagaimana mau sesuai dengan tuntunan Rasulullah, Karena bid’ah itu tidak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Penjelasan syarat diterimanya ibadah, silahkan baca di link berikut :

https://agussantosa39.wordpress.com/category/07-kaidah-dalam-ibadah/02-dua-syarat-diterimanya-ibadah/

2. Maslahah Mursalah perlu di tanyakan. Karena orang jahil sering menyebutkan perkara-perkara yang sebenarnya Maslahah Mursalah sebagai bid’ah hasanah.

Maslahah Mursalah dengan bid’ah banyak perbeda’annya. Dengan mengetahui perbeda’an diantara keduanya, maka kita bisa mengetahui, bahwa yang mereka katakan bid’ah hasanah, sebenarnya Maslahah Mursalah.

Contohnya ; Pesawat terbang, pengeras suara, membangun sekolah atau madrasah, ilmu nahu, kalender hijriyah, memberi titik dan harakat pada ayat-ayat Al-Qur’an, ilmu tajwid, berdakwah dengan facebook atau internet, daurah, dan banyak lagi.

Contoh-contoh diatas sering orang jahil katakan sebagai bid’ah hasanah. Maka perlu ditanyakan kepadanya, perbeda’an antara Maslahah Mursalah dengan bid’ah. Kalau dia tidak mampu menyebutkan perbeda’an antara Maslahah Mursalah dengan bid’ah, maka pantaslah kalau perkara-perkara yang Maslahah Mursalah mereka katakan bid’ah. Itulah bukti kejahilannya.

Pembahasan tentang Maslahah Mursalah silahkan baca di link berikut :

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-sunnah/%e2%80%a2-maslahah-mursalah/

3. Al-Aadah dan Al-Ibaadah, ini perlu di pertanyakan. Karena orang jahil tidak memahami permas’alahan ini.

Kita sering mendapatkan perkata’an mereka seperti :

“Mana larangannya di dalam Al-Qur’an dan hadist yang melarang tahlilan atau maulid Nabi ?”

Itulah bukti kejahilan mereka tidak mengenal ilmu ushul, tidak memahami Al-Aadah dan Al-Ibaadah dan kaidahnya masing-masing.

Perkara ibadah yang ditanyakan bukan dalil larangangannya, tapi dalil yang memerintahkannya. Karena urusan ibadah kaidahnya,

الاصل في العباده بطلان حتي يقوم الدليل علي الامر

“Asalnya urusan Ibadah batal / tidak sah kecuali ada dalil yang memerintahkannya”

Pembahasan tentang Al-Aadah dan Al-Ibaadah silahkan baca di link berikut :

https://agussantosa39.wordpress.com/category/08-bidah/%e2%80%a2-memahami-al-aadah-dan-al-ibaadah/

Semua pertanya’an diatas bisa dipastikan tidak akan mampu orang jahil jawab dengan benar. Karena mereka tidak memahami permas’alahan ini, yang termasuk ke dalam ilmu ushul.

Karena mereka tidak faham ilmu ushul, maka pantas lah kalau sulit berdebat dengan mereka. Berdebat dengan mereka pun akan sia-sia. Perdebatan hanya akan menjadi debat kusir yang tidak akan menemukan titik temunya. Debat kusir bukan tradisinya orang alim.

Maka apabila kita tidak menanggapi ajakan mereka untuk berdebat. Dan meninggalkan perdebatan dengan mereka, bukanlah suatu yang hina. Bahkan justru meninggalkan perdebatan dengan mereka adalah kemuliya’an.

Sebagaimana dikatakan Imam Syafi’i rahimahullah, Beliau berkata :

Apabila orang bodoh mengajak berdebat denganmu, maka sikap yang terbaik adalah diam, tidak menanggapi

ﻭﺍﻟﺼﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟﺼﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ

Sikap diam terhadap orang yang bodoh adalah suatu kemulia’an. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan

ﻓﺎِﻥْ ﻛَﻠِﻤَﺘَﻪُ ﻓَﺮَّﺟْﺖَ ﻋَﻨْﻬُﻮَﺍِﻥْ ﺧَﻠَّﻴْﺘُﻪُ ﻛَﻤَﺪًﺍ ﻳﻤُﻮْﺕُ

Apabila kamu melayani, maka kamu akan susah sendiri. Dan bila kamu berteman dengannya, maka ia akan selalu menyakiti hati

Apabila ada orang bertanya kepadaku, jika ditantang oleh musuh, apakah engkau diam ??

Jawabku kepadanya :

Sesungguhnya untuk menangkal pintu-pintu kejahatan itu ada kuncinya

Lalu Imam Syafi’i berkata :

ﻭﺍﻟﻜﻠﺐُ ﻳُﺨْﺴَﻰ ﻟﻌﻤْﺮِﻯْ ﻭَﻫُﻮَ ﻧَﺒَّﺎﺡُ

Apakah kamu tidak melihat bahwa seekor singa itu ditakuti lantaran ia pendiam ?? Sedangkan seekor anjing dibuat permainan karena ia suka menggonggong ??

[“Diwan As-Syafi’i” karya Yusuf Asy-Syekh Muhammad Al-Baqa’i].

Imam Asy-Syafi’i berkata :

يُخَاطِبُنِي السَّفِيْهُ بِكُلِّ قُبْحٍ

Orang jahil berbicara kepadaku dengan segenap kejelekan

فَأَكْرَهُ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ مُجِيْبًا

Akupun enggan untuk menjawabnya

يَزِيْدُ سَفَاهَةً فَأَزِيْدُ حُلْمًا

Dia semakin bertambah kejahilan dan aku semakin bertambah kesabaran

كَعُوْدٍ زَادَهُ الْإِحْرَاقُ طِيْبًا

Seperti gaharu dibakar, akan semakin menebar kewangian.

[Diwân Imam Asy-Syâfi’iy].

Imam Syafi’i rahimahullah berkata :

“Orang pandir mencercaku dengan kata-kata jelek. Maka aku tidak ingin untuk menjawabnya. Dia bertambah pandir dan aku bertambah lembut, seperti kayu wangi yang dibakar malah menambah wangi”

[Diwan Asy-Syafi’i hal. 156].

Imam Syafi’i juga berkata :

”Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku, toh diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas bagi Singa meladeni anjing”.

Berdebat bukanlah untuk mencari kemenangan, sebagaimana dikatakan Imam Syafi’i rahimahullah :

مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا قَطُّ عَلَى الْغَلَبَةِ

“Aku tidak pernah berdebat untuk mencari kemenangan”

[Tawali Ta’sis hlm.113 oleh Ibnu Hajar].

Berdebat harus diniatkan untuk mencari kebenaran, maka seseorang yang akan melakukan perdebatan harus cukup ilmu dan mengenal adab. Tanpa memiliki ilmu dan adab, maka hindari perdebatan, karena hanya akan melahirkan keburukan, saling menghinakan sebagai bentuk keburukan akhlak. Dan akhirnya meruntuhkan ukhuwah islamiyyah.

بَارَكَ اللهُ فِيْكُم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

=====================

MEWASPADAI PARA DA’I PENYERU KE NERAKA JAHANAM

MEWASPADAI PARA DA’I PENYERU KE NERAKA JAHANAM

Akan muncul dari umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu para da’i yang menyeru umat kedalam neraka jahannam.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sabdakan :

دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا

”Akan muncul para dai yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka”

Adapun ciri mereka sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut :

قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا

“Mereka dari golongan kita dan berbicara dengan lisan-lisan kita”.

Ad-Dawudi berkata : “Mereka itu dari keturunan Adam”.

Al-Qoobisy berkata : Maknanya, secara dhohir mereka itu dari agama kita tapi secara batin mereka menyelisihi (agama kita)”.

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata :

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي

Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku

فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرِّ فَجَاءَنَااللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرِّ

Aku bertanya : Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keada’an jahiliyah dan kejelekan lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam) ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan ?

قَالَ نَعَمْ

Beliau berkata : Ya

فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْر

Aku bertanya : Dan apakah setelah kejelekan ini akan datang kebaikan ?

قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ

Beliau menjawab : Ya, tetapi didalamnya ada asap

قَلْتُ وَمَادَخَنُهُ

Aku bertanya : Apa asapnya itu ?

قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ

Beliau menjawab : “SUATU KAUM YANG MEMBUAT AJARAN YANG BUKAN DARI AJARANKU DAN MEMBERIKAN PETUNJUK YANG BUKAN DARI PETUNJUKKU. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan memungkirinya”

فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرِّ

Aku bertanya : Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan lagi ?

قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا

Beliau menjawab : Ya, akan muncul para dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka

فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا

Aku bertanya : Ya Rasulullah, sebutkan cirri-ciri mereka kepada kami

قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا

Beliau menjawab : Mereka dari golongan kita, dan berbicara dengan bahasa kita

قثلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ فَمَاتَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ

Aku bertanya : Apa yang anda perintahkan kepadaku jika aku temui keada’an seperti ini ?

قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ

Beliau menjawab : Pegang erat-erat jama’ah kaum muslimin dan imam mereka

فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ

Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada imam dan jama’ah kaum muslimin ?”

قَالَ فَاعْتَزِلُ تِلكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Beliau menjawab : Tinggalkan semua kelompok-kelompok sempalan itu, walaupun kau menggigit akar pohon hingga ajal mendatangimu.

(HR Bukhari 6/615-616 dan 13/35 beserta Fathul Baari. Muslim 12/235-236 beserta Syarh Nawawi. Baghowi dalam Syarhus Sunnah 14/14. Dan Ibnu Majah 2979) – (HR Ahmad dalam musnad 5/399).

Asap yang dimaksudkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu : Merupakan kiasan dari penyimpangan yang akan membuat kabur ajaran Islam (Sunnah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallaam) yang terang benderang malamnya bagaikan siang.

Bukankah asap dapat mengaburkan pandangan ?, yang jelas jadi nampak samar.

Ketika pandangan samar, maka yang baik bisa jadi dipandang buruk. Yang benar bisa jadi dipandang salah. Dan sebaliknya yang salah jadi dipandang benar, yang buruk dan membinasakan malah bisa jadi dipandang indah.

Para da’ yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebutkan diatas, menyeret umat kedalam kebinasa’an. Menjadikan umat menyimpang dan bergelimang kesesatan, menyeret umat kepada kesyirikan, bid’ah dan kebatilan lainnya.

Para da’i yang menyeru umat kedalam neraka jahanam modelnya sebagaimana layaknya Ulama Rabbani nampak alim, santun, lembut, tutur katanya memikat. Fasih dan pandai berdalil yang mampu menyihir orang awam. Dengan kemahirannya berbicara masalah agama, membuat orang awam kagum terpesona, menjadikan umat semakin jauh dari Allah Ta’ala, jauh sejauh-jauhnya.

Dalam hadits diatas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan untuk menggigit akar pohon ketika terjadi perpecahan sambil menjauhi semua kelompok sesat. menggigit akar pohon dalam hadits diatas maknanya adalah berusaha istiqomah dan sabar dalam memegang kebenaran dan dalam meninggalkan semua kelompok sesat yang menyelisihi kebenaran

الله المستعان

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

=================