TIGA MACAM IKHTILAF

TIGA MACAM IKHTILAF

Oleh : Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu

Di antara manusia ada yang mengatakan bahwa perbedaan adalah rahmat ?

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu menjawab : Perbedaan (ikhtilaf) ada tiga macam :

1. Ikhtilaf Al-Afham (perbedaan pemahaman).

Para shababat pernah mengalami perbedaan yang seperti ini. Bahkan ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu tetap makan (sahur) hingga jelas baginya perbedaan antara benang yang putih dengan benang yang hitam. Dia menaruh di bawah bantalnya, benang putih dan benang hitam, dan tetap makan (sahur), berdasarkan apa yang dia pahami dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

ﻭﻛﻠﻮﺍ ﻭﺍﺷﺮﺑﻮﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﺘﺒﻴﻦ ﻟﻜﻢ ﺍﻟﺨﻴﻂﺍﻷﺑﻴﺾ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﻂ ﺍﻷﺳﻮﺩ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam”. (QS. Al-Baqarah: 187).

Sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan ayat :

ﻣﻦ ﺍﻟﻔﺠﺮ

“Yaitu fajar”. (QS. Al-Baqarah: 187).

Ikhtilaful afham insya Allah tidak mengapa.

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu :

ﺇﻥ ﻭﺳﺎﺩﻙ ﻟﻌﺮﻳﺾ

“Sesungguhnya bantalmu lebar.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengatakan kepadanya : “Ulangilah (puasamu) pada hari-hari yang engkau makan (sahur setelah lewatnya fajar)”.

2. Ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan/keaneka ragaman tata cara).

Yakni, diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihiwa sallam ada beberapa macam cara/ bacaan tasyahud dalam shalat, juga ada beberapa macam bacaan shalawat atas Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam.

Ikhtilaf jenis ini, kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang jahil (bodoh). Dan keadaannya memang seperti yang beliau rahimahullahu katakan, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang jahil.

3. Ikhtilaf tadhad (perbedaan kontradiktif).

Apa itu ikhtilaf tadhad ?

Yaitu seseorang menyelisihi suatu dalil yang jelas, tanpa alasan. Inilah yang di ingkari oleh para salaf, yaitu menyelisihi dalil yang shahih dan jelas tanpa alasan.

Adapun hadits yang menjadi sandaran merekaya itu :

ﺍﺧﺘﻠﺎﻑ ﺃﻣﺘﻲ ﺭﺣﻤﺔ

“Perbedaan umatku adalah rahmat”.

Ini adalah hadits yang tidak ada sanad dan matannya. Munqathi’ (terputus sanadnya). Kata As-Suyuthi rahimahullahu dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shaghir. Beliau rahimahullahu juga berkata : “Mungkin saja ada sanadnya, yang tidak kita ketahui”. Namun hal ini akan berakibat tersia-siakannya sebagian syariat, sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu. Adapun tentang matan hadits ini, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :

ﻭﻻ ﻳﺰﺍﻟﻮﻥ ﻣﺨﺘﻠﻔﻴﻦ. ﺇﻻ ﻣﻦ ﺭﺣﻢ ﺭﺑﻚ

“Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang yang dirahmati Rabbmu”. (QS.Hud: 118-119).

Mafhum dari ayat yang mulia ini, bahwa orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu waTa’ala tidaklah berselisih. Sedangkan orang-orang yang tidak dirahmati Allah Subhanahu waTa’ala akan berselisih.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Ash-Shahihain dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :

ﺫﺭﻭﻧﻲ ﻣﺎ ﺗﺮﻛﺘﻜﻢ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﺃﻫﻠﻚ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻠﻜﻢﻛﺜﺮﺓ ﻣﺴﺎﺋﻠﻬﻢ ﻭﺍﺧﺘﻠﺎﻓﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﺒﻴﺎﺋﻬﻢ

“Biarkanlah aku dan apa yang aku tinggalkan untuk kalian. Hanyalah yang membinasakan orang-orang yang sebelum kalian adalah banyaknya mereka bertanya, dan banyaknya penyelisihan terhadap nabi-nabi mereka.”

Ini merupakan dalil bahwa ikhtilaf (perselisihan/perbedaan) adalah kebinasaan, bukan rahmat.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, di mana Ibnu Mas’ud dan salah seorang temannya berselisih tentang qira`ah (bacaan Al-Qur`an) :

ﻟﺎ ﺗﺨﺘﻠﻔﻮﺍ ﻛﻤﺎ ﺍﺧﺘﻠﻒ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻠﻜﻢ ﻓﺘﻬﻠﻜﻮﺍﻛﻤﺎ ﻫﻠﻜﻮﺍ

“Janganlah kalian berselisih sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah berselisih, sehingga kalian binasa sebagaimana mereka telah binasa.

”Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Shahih Muslim dari hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu :

ﺍﺳﺘﻮﻭﺍ ﻭﻟﺎ ﺗﺨﺘﻠﻔﻮﺍ ﻓﺘﺨﺘﻠﻒ ﻗﻠﻮﺑﻜﻢ

“Luruskan (shaf kalian), dan janganlah berselisih, sehingga hati-hati kalian akan berselisih”.

Dalam sebuah riwayat :

ﻟﺎ ﺗﺨﺘﻠﻔﻮﺍ ﻓﺘﺨﺘﻠﻒ ﻭﺟﻮﻫﻜﻢ

“Janganlah kalian berselisih, sehingga akan berselisihlah wajah-wajah kalian”.

Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Sunan Abu Dawud, dari hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu, disebutkan ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat para shahabatnya berpencar. Mereka singgah disebuah lembah, lalu setiap kelompok pergi ketempat masing-masing. Maka Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda :

ﺇﻥ ﺗﻔﺮﻗﻜﻢ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ

“Sesungguhnya bercerai-berainya kalian ini adalah dari setan”.

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berkumpul. Bila hal ini (terjadi) dalam tercerai-berainya fisik, maka apa sangkaanmu terhadap tercerai-berainya hati ?

Hadits-hadits tentang hal ini banyak sekali. Saya telah mengumpulkan sebagiannya dalam tulisan pendek yang berjudul Nashihati li Ahlus Sunnah dan telah tercantum dalam Hadzihi Da’watuna wa ‘Aqidatuna. Yang saya inginkan dari penjelasan ini, bahwa ikhtilaf termasuk kebinasaan.

Hanya saja ikhtilaf yang mana ?

Yaitu ikhtilaf tadhad yang dahulu diingkari oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat. Ikhtilaf tadhad (misalnya) :

– Disebutkan dalam Shahih Muslim dari hadits Salamah ibnul Akwa’, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang makan dengan tangan kirinya. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya : “Makanlah dengan tangan kanan”. Orang itu menjawab : “Aku tidak bisa”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi : “Engkau tidak akan bisa”. Maka orang itu tidak bisa mengangkat tangannya ke mulutnya. Tidak ada yang menghalanginya kecuali kesombongan.

– Dalam Ash-Shahih dari hadits Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menjenguk seorang lelaki tua yang sedang sakit. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya : “Thahur (Sakit ini sebagai penyuci)”. Namun lelaki tua itu justru berkata : “Demam yang hebat, menimpa seorang lelaki tua, yang akan mengantarnya ke kubur”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab : “Kalau begitu, benar”. Akhirnya dia terhalangi dari barakah doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

– Juga kisah seorang laki-laki yang telah kita sebutkan. Yaitu ketika ada dua orang wanita berkelahi, lalu salah seorang memukul perut yang lain, sehingga gugurlah janinnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan agar wanita yang memukul membayar diyat berupa seorang budak. Maka datanglah Haml bin Malik An-Nabighah dan berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimana kami membayar diyat (atas kematian seseorang) yang tidak makan dan tidak minum, tidak bicara tidak pula menangis – atau kalimat yang semakna dengan ini –, yang seperti ini tidak di tuntut diyatnya”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam marah, karena lelaki itu hendak membatalkan hukum Allah dengan sajaknya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

ﺇﻧﻤﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺇﺧﻮﺍﻥ ﺍﻟﻜﻬﺎﻥ

“Orang ini termasuk teman-teman para dukun. ”Yaitu karena sajaknya. Adapun pengingkaran para ulama terhadap orang yang menolak Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan akalnya, merupakan perkara yang kesempatan ini tidaklah cukup untuk menyebutkannya.

Saya telah menyebutkan sebagiannya dalam akhir risalah Syar’iyyatu Ash-Shalati bin Ni’al, juga dalam Rudud Ahlil ‘Ilmi ‘ala Ath-Tha’inin fi HaditsAs-Sihr.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

[Diambil dari Ijabatus Sa`il, hal. 518-521].

_____________

Iklan

MANTAN WAKIL KETUA PG NU BERPALING KEPADA MANHAJ SALAF

MANTAN WAKIL KETUA PG NU BERPALING KEPADA MANHAJ SALAF

Sangat terlalu banyak apabila disebutkan satu persatu orang-orang yang tadinya gemar dengan beragam aneka ritual dan amalan-amalan bid’ah kemudian berpaling kepada manhaj Salaf.

Dan sosok yang satu ini salah satunya. Beliau adalah bernama Buchari seorang mantan anggota Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tahun 1965.

Sa’at kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah cabang Serang, dan Wakil Ketua Persatuan Guru NU Kabupaten Lebak 1969-1974.

Jabatan terakhirnya Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama, Serang, Banten (2008-2009).

Perubahan keyakinan Buchari berubah sejak ia dan istrinya berangkat haji pada 2007.

Selama di sana, ia membaca buku-buku karya ulama berpaham Wahabi, antara lain, Kasyfusy Syubuhat fit Tauhid (Menyingkap Kesalah pahaman dalam Tauhid) karya Muhammad bin Abdul Wahhab, Al-Aqidah ash-Shahihah wa Ma Yudladhuha (Aqidah Yang Benar dan Hal-Hal yang Membatalkannya) karya Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, dan Haji, Umrah, dan Ziarah Menurut Kitab dan Sunnah, juga karya Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.

Berdasarkan baca’annya dari buku-buku karya ulama Wahabi ini, Buchari menyatakan, seorang Muslim yang konsisten mengikuti Alquran dan as-Sunnah tidak akan mengikuti upacara peringatan ‘Maulid Nabi, Isra Miraj, dan Nuzulul Quran. Sebab, tradisi ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Ia juga menegaskan peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada 12 Rabiul Awal adalah meniru penganut agama Nasrani dalam merayakan Hari Natal (Hari Lahirnya Yesus Kristus) setiap 25 Desember

(Buku Mustasyar MWC NU Menggugat Maulid Nabi karya Buchari, hal 117 dan 211).

http://m.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/15/01/28/nivmw6-raja-abdullah-dan-wahabi

_________________

TOBATNYA SEORANG KUBURIYUN

TOBATNYA SEORANG KUBURIYUN

Aku dulu sering membayangkan dengan cara menghayal, ka’bah itu seperti apa, hanya gambaran dari imajinasiku, aku tahu ka’bah dari kata orang orang dan gambar gambar yang sudah ada.

Tobatku dari selama menjadi penganut Islam model aswaja, membuat aku yakin bahwa ajaran yang aku kenal sebelumnya salah. Tetapi pertentangan jiwaku menerima “Muhammadiyah” ketika itu juga berat, hingga timbul pertarungan batin antara tetap di aswaja atau hengkang menuju dunia baruku, yaitu “Muhammadiyah”.

Terkadang aku melirik kesyirikan-kesyirikan yang pernah aku kerjakan, seperti bertirakat dikuburan, membuang waktu malam dari kuburan ke kuburan orang sholeh (menurut keyakinan aswaja), memburu wangsit atau ilham dari para penghuni kuburan orang orang shaleh.

Malam bukan menghabiskan waktu di mesjid, tetapi disebuah mushallah tanah pekuburan kramat (ala aswaja).

Dipelataran kuburan itu memang tempat mangkir kalangan selebritis kuburiyun yang mencari berbagai ilmu, macam “ilmu kassyaf” dan “Ladunni”

Di Madura memang yang namanya kuburan kyai atau orang orang sholeh lebih dari sekedar ka’bah di mekkah. bahkan demi kuburan mereka melakukan apa saja, guna kuburan bisa tertarik memberikan aura kepandaian kepada peminatnya.

“Suluk” kuburiyun ini memang berbacam macam caranya, tergantung keilmuan yang bersangkutan di tentang bertirakat di areal kuburan.

Saya mengenal tokoh sesat waktu itu namanya “Umbar atmonosari”, rumahnya disekitar kota Sumenep, jalan trunoyo, dia seorang ahli kuburan yang tak pernah absen, bahkan tak pernah sembahyang, juga seorang tokoh dari anshor waktu itu.

Menurutnya “sembahyang”
itu hanya untuk orang awam, itulah sebabnya dia gak pernah shalat jum’at ke mesjid, dia juga jago wanita melalui cara ilmu pelet yang dimiliki si Umbar ini.

Gurunya yang terkenal namanya Amirul Khotib asal Saronggi Sumenep, dia tokoh sholawat Wahidiyah yang sangat terkenal, juga gak pernah sholat, kerjanya hanya muter muter baca sholawat wahidiyah, karang KH. Romo yai Abdul Majid Ma’ruf kedonglo kediri.

Sholawat ini dikenal sebaga “Mujahadah” yang datang bisa mencapai ribuan, tetapi terus terang saja, kalau baca sholawat ini kayak gasing memutar kekanan kekiri, kedepan kebelakang, sambil membaca Ya sayyidi Ya Rosulullah secara berjama’ah, biasanya gaya sholawat wahidiyah ini memang harus dilakukan dengan berteriak teriak memanggil Rasulullah, shalat atau tidak yang penting baca sholawat wahidiyah.

Itulah Umabar (tokoh Anshor Sumenet tahun 70 puluhan, saya kenal baik dengan dia, bagaimana hidupnya dihabiskan dengan wanita hasil peletannya, juga pengikut setia sholawat wahidiyah.

Aku yang merasa salah dan dosa ikut-ikutan sholawat tersebut bukan makin menemukan ketenangan, tetapi diburu rasa ragu, bahwa yang dikerjakan aku salah,

Aku mohon kepada Allah supaya diberi ilmu yang benar. Karena hidupku pada waktu itu hanya dihabiskan untuk ibadah ibadah bid’ah menyesatkan, aku belajar namanya Hizbul Bahar, dan bermacam macam hizib-hizb unggulan aswaja.

Tetapi yang ada justru aku makin ragu, bahkan gara gara petunjuk seorang kyai aswaja K. Dawi asal Lenteng Sumenep, aku pernah puasa selama 40 hari. Buka dan sahurnya hanya skepal nasi putih, tetapi justru makin menguatkan aku meninggalkan Aswaja.

Taun 1977 aku mulai meninggalkan aswaja, bergabung dengan pengajian Ashhabul Kahfi yang terdiri dari 7 pemuda.

Dari wadah ini aku mengenal dunia ilmu. aku di perkenalkan pada sebuah pustaka temanku Jufry namanya, di rak lemari buku Jusfry ini terdapat berbagai buku tua warisan Ustad-ustad tahun 50 hingga enam puluhan, aku baca semua buku buku itu,

Seperti buku Ustad A. Hassan, soal Jawab A. Hassan, Surat debat dengan Sukarno, berjilid-jilid Al muslimun, Panji Masyarakat, Kiblat, buku karangan KH. Bahauddin Mudhhari (Dialog Islam Kristen), Buku bruosur Darussalam oleh Ustad Usman Bahababazy dan ratusan buku lainnya yang kemudian membuat aku bertobat murni dari Aswaja.

Tetapi aku tidak puas hanya sampai disitu, aku mulai haus ilmu, aku mulai gila membaca, aku datangi semua perpustaka’an di Sumenep, aku bandingkan ilmu-ilmu yang kudapat.

Aku ketemu dengan bukunya Sirajuddin Abbas 40 masalah dalam Islam. Buku ini sangat tidak ilmiah, bahkan isinya lebih standar emosi. Aku yang tak kenal “wahabi” waktu itu justru menjadi tahu wahabi dari caci maki sirajuddin Abbas terhadap wahabi, juga caci maki Sirajuddin abbas terhadap Ibnu Taimiyah. Sirajuddin abbas dalam memaki Ibnu Taimiyah hanya berpedoman pada seorag Ibnu batutah ketika berlayar di Aceh,

Dengan caci maki Sirajuddin Abbas tersebut justru membuat aku makin yakin ada tersembunyi di balik hujatannya terhadap Wahabi dan Ibnu Taimiyah,

Itulah yang mendorong aku membuka buku buku yang beraliran wahabi, aku pelajari buku buku wahabi, dan terus terang saja waktu itu tidak ada mulut paling jelek mencaci wahabi selain aswaja. Padahal waktu itu aku gak kenal wahabi, wahabi yang aku kenal waktu itu adalah Muhammadiyah, sebab kalau kyai kyai Madura lagi mencemooh Muhammadiyah selalu bilang “Muhammadiyah wahabi “. Itu dulu sebelum ada kasak kusuk dakwah salafi di Indonesia.

Jadi kebencian pada wahabi itu sudah ditanamkan sejak dini oleh para kyai di Madura, tetapi beda dengan aku, justru wahabi yang makin dibenci membuat aku terpanggil ingin tahu wahabi.

Siapa wahabi ?, ternyata maksudnya orang orang yang menjalankan Qur’an dan sunah, itulah yang dibenci mereka.

Muhammadiyah yang menjadi payung aku mempelajari Islam waktu membuat aku ingin menguji kebenaran lewat Muhammadiyah.

Tahun 1992 aku membayangkan Mekkah, menggambarkan ka’bah kayak apa, aku ingin melihat ka’bah, aku ingin tahu sendiri seperti apa mekkah, ka’bah dan Madina. Tetapi bagaimana Mungkin aku bisa ke ka’bah, pusat kiblat umat Islam itu, sedangkan yang mau dimakan waktu itu saja sering absen perharinya, apa mungkin bisa aku ke Mekkah ?

Aku tantang Allah dengan doa doaku : ”Ya Allah, Ya Allah, aku sudah meninggalkan alam sesat, dan aku berada dalam pangkuan Muhammadiyah, aku ingin ya Allah bukti, kalau aku masuk Muhammadiyah sebagai ormas yang benar membela agamamu, maka buktikan kebenaran-MU ya Allah, aku ingin merasakan nikmatnya Mekkah seperti apa, aku sekarang tak perduli aku menderta/ miskin, tetapi aku ingin bukti bahwa aku masuk bukan pada ormas yang salah ya Allah. Tetapi jika sekiranya aku gak benar, Ya Allah jangan kabulkan doaku, aku sudah sangat menderita ya Allah, kau ambil ayahku, engkau membuat lingkungannya benci padaku, karena aku berjalan diatas Quran dan sunah, ya Allah jika memang benar izinkan dan mudahkan aku menggapai ka’bah dengan tanganku sendiri.

Tahun 1993 menjelang Ramadhan saya bermimpi Nabi Muhammad datang kepadaku, beliau berada diantara pelangi yang menyambungkan ke Ka’bah, lalu beliau bersabda padaku : Kamu sudah menjalani empat perkara, tinggal satu, maka beliau memberikan yang satu itu padaku, aku terbangun, tenang hatiku, merasakan sesuatu ada yang hadir di dekatku.

Besoknya seorang tetanggaku bapak H Ghani bercanda denganku, ”Kapan ke mekkah ?”. jawabku : ”Isnsya Allah tahun ini.
Bapak Haji Ghani (tetanggaku hanya tersenyum, tapi aku tak su’uddzon pdanya).

Setelah H tinggal 10 hari, mendadak aku dikejutkan dengan telegram dari PP. Muhammadiyah Jakarta yang isinya : Zul secepatnya ke Jakarta, anda mendapat undangan dari Raja Fahd bin Abdul Aziz untuk menunaikan ibadah haji, bagaikan di sambar petir kegirangan, bulu kudukku merinding dan aku rebah ketanah sujud sambil menangis syukur, aku peluk Ibuku, aku cium ibuku, pamanku, semua menangis mendengar aku dipanggil menunaikan ibadah haji, hingga bibiku sendiri gak percaya kalau aku akan ketanah suci, bahkan mengatakan aku sinting……. Itulah bukti kebenaran Islam yang aku temukan di Muhammadiyah.
Tetanggapun menjadi gempar, bahkan ketika aku diliput RCTI di mekkah tahun 1993.

Saksi hidup dari orang orang PP. Muhammmadiyah masih hidup, beliau Ustad Goodwill Zubir (padang ), beliau juga sebagai ketua di PP. Muhammadiyah, juga saksi hidup lainnya adalah Buya Risman Mukhtar (padang) ketua PW Muhammadiyah DKI. Saksi meninggal adalah : Ustad Anhar Burhanuddin MA (Padang)…..Juga ketua Islam Tiongha (Ali Karim Oi, pemilik Mesjid Lautze jakarta).

______________

Profil Ustadz Zulkarnain El-Madury

Tanggal Lahir, 6 Agustus 1963

Pendidikan :

– Institute of Bussiness Study Angkatan 1992
– Pesantren At-Taufiqiyah Sumenep Angkatan 1984

Tempat Tinggal :

Jakarta, Kota Asal Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur

Jabatan :

Da’i Pimpinan Pusat Muhammadiyah Januari 1990 hingga sekarang Membina masyarakat Islam Tertinggal

Kontak Facebook :

https://www.facebook.com/KomunitasMuslimAntiBidah

https://www.facebook.com/groups/zelmadury/(Group1000.000 Orang Menolak Aswaja Penyebar Bid’ah)

________________

KYAI NU BERTAUBAT KEMUDIAN MENGIKUTI MANHAJ SALAF

KYAI NU BERTAUBAT KEMUDIAN MENGIKUTI MANHAJ SALAF

Beliau adalah Kiai Syamsuddin rahimahullah, pimpinan sebuah Pondok Pesantren NU di Salopa Tasikmalaya dan sekaligus anggota Syuriah NU Kecamatan Salopa Tasikmalaya. Alhamdulillah dengan hidayah-Nya beliau telah meninggalkan ajaran-ajaran SYIRIK dan BID’AH kepada TAUHID dan SUNNAH.

Bagaimana ceritanya ?

Berawal dari kepergian anaknya ke Arab Saudi untuk menjadi TKI sambil menuntut ilmu di Masjidil Haram Makkah. Dari situlah sang anak mengenal ajaran Islam yang sebenarnya dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang hakiki dari para ulama Salafi. Sang anak sangat menginginkan agar bapaknya juga mendapatkan hidayah, sehingga dari Makkah beliau mengirim kitab-kitab Ahlus Sunnah wal Jama’ah kepada bapaknya di Tasik. Kitab-kitab yang dikirim diantaranya karya-karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Syarah Al-Bukhari, Syarah Muslim rahimahumullah dan lain-lain.

Alhamdulillah, setelah menelaah satu demi satu kitab-kitab tersebut Kiai Syamsuddin rahimahullah menemukan kebenaran, yaitu ajaran yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman generasi Salaf. Kiai Syamsuddin rahimahullah juga tidak tinggal diam setelah mengetahui ajaran yang benar, beliau segera membacakan kitab-kitab tersebut kepada para murid dan masyarakat sekitar. Walaupun mendapat penentangan dari sebagian orang namun alhamdulillah banyak santri dan masyarakat yang mengikuti dakwah beliau rahimahullah.

Kini beliau rahimahullah telah meninggal dunia, kepemimpinan Pondok Pesantrennya dilanjutkan oleh anaknya. Dalam kesempatan kajian bulanan pada hari Kamis kemarin, salah seorang Ustadz dari Ma’had An-Nur Al-Atsari mendapat kesempatan untuk ikut mengisi bersama Pak Kiai. Dan dalam kesempatan tersebut Pak Kiai mengajarkan kitab MADARIJUS SALIKIN karya Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah, dan menjelaskan makna SYAHADAT MUHAMMAD RASULULLAH dari kitab TSALATSATUL USHUL karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dari HAPALAN beliau:

ومعنى شهادة أن محمدا رسول الله طاعته فيما أمر وتصديقه فيما أخبر واجتناب ما عنه نهى وزجر وأن لا يعبد الله إلا بما شرع

“Dan makna syahadat Muhammad Rasulullah adalah mentaati perintah beliau, membenarkan apa yang beliau kabarkan, menjauhi apa yang beliau larang dan beliau peringatkan darinya, dan tidak boleh beribadah kepada Allah ta’ala kecuali dengan petunjuk beliau”.

Bagian akhir, “Dan tidak boleh beribadah kepada Allah ta’ala kecuali dengan petunjuk beliau (Nabi shallallahu’alaihi wa sallam)” adalah perkara yang paling sulit bagi orang-orang Sufi / Tarekat / Tasawuf / NU. Sebab mereka berpendapat bolehnya berbuat BID’AH dalam agama dengan SYARAT: Bid’ah tersebut dalam PANDANGAN mereka adalah BID’AH HASANAH (kebaikan).

Sehingga tidak berlaku bagi mereka sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, “SEMUA BID’AH ITU SESAT.” Maka ketika kesesatan telah dianggap sebagai kebaikan sulit sekali mereka bertaubat dan meninggalkan bid’ah tersebut. Akan tetapi dengan HIDAYAH Allah jalla wa ‘ala hal itu mudah bagi Pak Kiai Syamsuddin rahimahullah. Dan hal itu beliau dapatkan setelah berusaha menelaah satu demi satu kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dipenuhi dengan argumentasi ilmiah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salaf.

Demikianlah, berdakwah melalui sebuah buku, dengan menghadiahkan buku tersebut kepada orang-orang yang kita cintai, bisa jadi termasuk sebab mereka mendapatkan hidayah. Terlebih lagi jika didukung dengan akhlak yang baik maka insya Allah semakin mudah mereka menerima kebenaran.

Semoga dapat menjadi pelajaran. Baarokallahu fiykum.

Oleh : Ustadz Sofyan Chalid Ruray

______________

AMALAN BID’AH TIDAK AKAN MENDATANGKAN KETAQWA’AN

AMALAN BID’AH TIDAK AKAN MENDATANGKAN KETAQWA’AN
.
Oleh : ikhwan pecinta meong
.
Banyak umat Islam yang giat mengerjakan amal-amalan dan merayakan peraya’an-peraya’an bid’ah, tapi ternyata tidak menjadikan mereka semakin dekat kepada Allah Ta’ala.
.
Faktanya di negeri kita Indonesia, merajalela kebid’ahan di tengah-tengah umat dan sulit di bendung, karena para pelaku bid’ah menjadi mayoritas di negeri ini. Amalan-amalan bid’ah dan peraya’an-peraya’an bid’ah begitu semarak di negeri ini, tapi ternyata umat Islam di negeri ini jauh dari nilai-nilai Islam yang luhur juga mengalami keterpurukan dalam segala bidang.
.
Korupsi, kerusuhan antar suku atau kelompok, perzinahan, pelacuran, pembunuhan, pencurian, perampokan, penipuan, pemalsuan, mengambil keuntungan yang banyak tanpa peduli orang lain di rugikan, menganiaya serta menindas sesama muslim dan kejahatan lainnya menjadi berita yang menghiasi media masa sehari-hari. Umat Islam di negeri ini pun menjadi seperti buih busa di lautan, nampak besar namun lemah tidak mempunyai kekuatan, termarjinalkan di negeri sendiri yang seharusnya umat Islam mengendalikan negeri ini yang mayoritasnya muslim, dan kemerdeka’an negeri ini dari cengkraman penjajah di perjuangkan oleh para pahlawan yang hampir semuanya muslim.
.
Mungkin ada orang yang berkata, negeri ini tidak akan hancur karena masih semarak ‘syi’ar Islam’.
.
Ya, di negeri ini memang begitu semarak ‘syiar Islam’, tapi sesungguhnya bukan syi’ar Islam, tapi syiar bid’ah yang di buat-buat para penyesat umat. Dan inilah yang menjadi sebab negeri ini terpuruk jauh dari keberkahan dan tidak mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala.
.
Syi’ar bid’ah tidak akan menjadikan umat Islam menjadi lebih bertaqwa namun sebaliknya akan semakin menjauhkan para pelakunya dari Allah Ta’ala.
.
Ayyub As-Sikhtiyani salah seorang tokoh tabi’in berkata,
.
مَا ازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اِجْتِهَاداً، إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً {حلية الأولياء – (ج 1 / ص 392)}.
.
“Semakin giat pelaku bid’ah dalam bid’ahnya, semakin jauh pula ia dari Allah”. (Hilyatul Auliya’, 1/392).
.
Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah dari Al Hasan, ia berkata, “Pelaku bid’ah tidaklah bertambah kesungguhannya, baik shalat maupun puasa, melainkan dirinya bertambah jauh dari Allah”. (Talbis Iblis, hal. 22).
.
Apa yang dikatakan oleh tokoh tabi’in di atas, kebenarannya didukung oleh hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyifati orang-orang sesat khawarij.
.
يَخْرُجُ فِيكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ … الحديث)متفق عليه(
.
“Akan muncul diantara kalian (para sahabat) suatu kaum yang kalian akan meremehkan shalat kalian, puasa kalian, dan amal kalian di samping shalat mereka (orang-orang khawarij), puasa mereka, dan amal mereka. Mereka rajin membaca Al Qur’an akan tetapi (pengaruhnya) tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti anak panah yang keluar menembus sasarannya”. (Muttafaq Alaih).
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyifati mereka (khawarij) sebagai kaum yang amat giat beribadah, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan betapa jauhnya mereka dari Allah Ta’ala.
.
Imam Ibnul Jauzi (508 – 597 H/1114 – 1200 M) dalam kitab Talbis Iblis mengatakan,
.
وقد لبس إبليس على خلق كثير من العوام يحضرون مجالس الذكر ويبكونويكتفون بذلك ظنا منهم أن المقصود إنما هو العمل وإذا لم يعمل بما يسمع كان زيادة في الحجة عليه
.
Iblis memberikan talbis (bisikan) kepada banyak orang awam, yang mereka menghadiri majelis-majelis dzikir yang di sana mereka menangis dan merasa cukup dengannya. Mereka menyangka bahwa yang jadi tujuan adalah amal (yaitu dzikir), jika seseorang tidak mengamalkan amalan-amalan tersebut maka itu akan menjadi hujjah atasnya kelak di hari kiamat
.
وإني لأعرف خلقا يحضرون المجلس منذ سنين ويبكون ويخشعون ولا يتغير أحدهم عما قد اعتاده من المعاملة في الربا والغش في البيع والجهل بأركان الصلاة والغيبة للمسلمين والعقوق للوالدين
.
Dan sungguh aku (Ibnul Jauzi) sangat mengetahui bahwa ada orang yang menghadiri majelis-majelis seperti itu BERTAHUN-TAHUN, mereka menangis dan khusyuk di dalamnya. Namun tidak ada perubahan pada kebiasaan mereka dalam BERMUAMALAH DENGAN RIBA, CURANG DALAM JUAL BELI, TIDAK PAHAM RUKUN SHALAT, GHIBAH, DURHAKA PADA ORANG TUA.
.
وهؤلاء قد لبس عليهم إبليس فأراهم أن حضور المجلس والبكاء يدفع عنه ما يلابس من الذنوب
.
Mereka ini telah terkena bisikan iblis. Maka Iblis menampakkan kepada mereka, bahwa menghadiri majelis-majelis dzikir itu dan menangis di dalamnya akan menghapuskan dosa-dosanya (yang biasa mereka lakukan).
.
Begitulah para pelaku bid’ah yang di sebutkan Imam Ibnul Jauzi, mereka rajin menghadiri majlis dzikir bid’ah, mereka berdzikir dengan cara-cara yang tidak pernah di ajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka meraung menangis dalam majlis dzikir bid’ah mereka, namun dalam kehidupan sehari-hari mereka jauh dari nilai-nilai Islam.
.
Kita pun dapat menyaksikan tiap tahun di negeri ini sebagian umat Islam memperingati bid’ah hari kelahiran Nabi yang asalnya di adakan oleh orang-orang syi’ah yang kemudian di adopsi oleh orang-orang sufi. .
Apakah dengan tiap tahun mereka memperingati kelahiran Nabi tersebut menjadikan mereka semakin ittiba’ dan semakin cinta kepada Nabi ?
.
Bagaimana bisa di katakan semakin ittiba’ kepada Nabi, sementara amalan-amalan ibadah mereka tidak sesuai bahkan menyelisihi tuntunan Nabi.
.
Bagaimana bisa di katakan mereka semakin cinta kepada Nabi, sementara mereka tidak menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan dalam kehidupan mereka sehari-hari.
.
Bukti cinta kepada Nabi itu adalah dengan menerima apapun yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi segala rupa yang di larangnya.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُفَانْتَهُوا
.
“Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. (QS. Al-Hasyr: 7).
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
________________________

DAMPAK BURUK DARI KEBODOHAN

DAMPAK BURUK DARI KEBODOHAN
.
Pepatah Arab mengatakan :
.
العلم نور والجهل ظلام
.
”Ilmu itu cahaya dan bodoh itu kegelapan”.
.
Dalam pepatah di atas di sebutkan bahwa ilmu adalah cahaya.
.
Memang benar, ilmu adalah cahaya sebagai penerang bagi manusia dalam menapaki kehidupan. Tanpa ilmu seorang manusia akan hidup di liputi kegelapan.
.
Ilmu adalah perkara yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Dengan ilmu manusia akan bisa membedakan mana yang salah mana yang benar, mana yang baik mana yang buruk, mana yang merugikan dan mana yang menguntungkan, mana yang mencelakakan dan mana yang akan menyelamatkan.
.
Dengan ilmu seorang manusia bisa mengeksplorasi akalnya sehingga tercipta berbagai inovasi yang berguna bagi kehidupan. Manusia bisa menjelajahi ruang angkasa, mengarungi samudra dan menembus bumi. Semua itu karena ilmu yang di milikinya.
.
Namun sebaliknya tanpa memiliki ilmu, seorang manusia akan hidup dalam kebodohan. Sehingga menjadikan manusia mudah di doktrin, di tindas, di perdaya, mudah di adu domba, di provokasi, mudah di tipu dan lainnya.
.
Dan akibat lebih buruk dari semua itu, kebodohan menjadikan manusia tidak bisa mengenal Allah Ta’ala penguasa alam semesta.
.
Akibat buruk dari kebodohan, manusia tidak akan bisa membedakan mana ajaran benar yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya dengan ajaran sesat yang datangnya dari setan. Akibatnya banyak manusia berbondong-bondong terjerumus kedalam ajaran dan faham sesat. Taklid buta (fanatisme), ta’ashub (bangga golongan), ghuluw (melampaui batas), semua itu dampak buruk dari kebodohan.
.
Kepercaya’an kepada takhayul menjamur, bid’ah merajalela, ke syirikan sulit di basmi, kebenaran di tentang, Ulama pewaris Nabi di dustakan dan di hinakan, tapi sebaliknya para penyesat umat di dewakan semua itu akibat buruk dari kebodohan.
.
Pada akhirnya, dampak buruk dari kebodohan adalah sengsara di dunia dan celaka di akhirat.
.
Ibnul Qayyim rohimahulloh berkata : “Tidaklah diragukan bahwa kebodohan adalah pokok dari segala kerusakan dan kejelekan yang didapatkan oleh seorang hamba di dunia dan di akhirat adalah dampak dari kebodohan”. (Miftaah Daaris Sa’adah, 1/87).
.
Fenomena sa’at ini, banyak manusia tertipu oleh para penyesat umat. Mereka di giring dengan keyakinan-keyakinan batil, di tipu dengan janji palsu, mereka dengan mudahnya percaya dengan ajaran menyesatkan yang datangnya dari setan.
.
Di media masa di beritakan seorang yang di panggil kyai oleh para pengikutnya membunuh dua santrinya. Motif pembunuhannya karena khawatir perbuatannya di bongkar oleh korban yang sudah mulai sadar bahwa yang di lakukan kyainya adalah penipuan.
.
Kejahatan lainnya terungkap, sang kyai mekakukan penipuan uang kepada banyak orang dengan jumlah penipuan yang sangat fantastis. Modus penipuannya melipat gandakan uang. Diantara korban ada yang tertipu 200 milyar. Kepada korban sang kyai menjanjikan akan menggandakan uangnya menjadi 18 trilyun. Selain di dakwa membunuh dan menipu, terungkap juga sang kyai mengajarkan kepada para pengikutnya amalan-amalan yang tidak di ajarkan oleh Islam. Para pengikut sang kyai di ajarkan mengamalkan shalawat fulus dan shalawat sulaiman yang tujuannya meminta kekaya’an. Selain di ajarkan shalawat-shalawat bid’ah, para pengikutnya juga di ajarkan shalat riyadul qubri. Shalat ini terdiri dari beberapa raka’at. Dalam tiap raka’atnya, sehabis membaca shalat al-Fatihah, diharuskan melafalkan baca’an huw (dari kata huwa yang berarti dia (sang kyai) sebanyak 44 kali. Dan bid’ah lainnya yang di ajarkan sang kyai adalah zikir yang bermuatan keyakinan sesat wihdatul wujud, seperti paham al-Hallaj. Zikir itu berbunyi : “Ya ingsun sejatine Allah ya wujud ingsun sejatine Allah”. Artinya : “Hakikat saya adalah Allah dan wujud saya sejatinyanya adalah Allah”.
.
Itulah kesesatan yang di ajarkan sang kyai kepada para pengikutnya.
.
Bagi orang-orang yang memiliki ilmu, tentu saja tidak akan mudah di tipu dan di perdaya. Karena orang-orang yang berilmu dapat mengetahui mana ajaran benar dan mana ajaran yang sesat. Beda halnya dengan orang-orang bodoh, mereka tidak akan mampu membedakan kebenaran dengan kesesatan. Maka akibatnya kerugian yang mereka alami di dunia dan di akhirat kelak.
.
Terungkapnya banyak kasus kejahatan yang di lakukan para penyesat umat, semestinya manusia bisa mengambil pelajaran, sehingga tidak akan pernah terulang kembali kejahatan serupa ataupun bentuk kejahatan lainnya menimpa umat. Jangan sampai kita di golongkan oleh Allah Ta’ala sebagai orang-orang yang tidak mempunyai akal karena tidak menjadikan pelajaran dari kejadian buruk yang menimpa.
.
Allah ta’ala berfirman :
.
إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
.
“Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”. (QS: Ar-Ra’d: 19).
.
Semoga bermanfa’at.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
______

KESAMA’AN DALIH PARA PENENTANG DAKWAH TAUHID

KESAMA’AN DALIH (ARGUMEN) PARA PENENTANG DAKWAH TAUHID

Sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus para Rasul dengan tujuan yang sama, yaitu membumikan Tauhid. Menjadikan Allah Ta’ala satu-satunya yang berhak di ibadahi.

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut”. (An-Nahl: 36).

Para Rasul yang diutus Allah Ta’ala untuk menegakkan Tauhid, mendapatkan penolakan dan pengingkaran dari orang-orang sesat yang buta mata hatinya.

Penolakan mereka kepada dakwah Tauhid dari semenjak dahulu hingga hari ini ternyata dalih (argumen) mereka sama. Yakni tidak relanya mereka meninggalkan adat istiadat, tradisi yang sudah turun temurun mereka dapatkan dari nenek moyang mereka yang dengan setianya sudah mereka amalkan. Dan mereka enggan untuk meninggalkannya.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan risalah kepada kaumnya, orang-orang Quraisy. Mereka yang menolak seruan Rasulullah berkata sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ

Dan apabila dikatakan kepada mereka : “Ikutilah apa yang diturunkan Allah” Mereka menjawab : “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. (Q.S Luqman: 21).

Perkata’an orang-orang kafir Quraisy yang menolak dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama persis dengan perkata’an kaum-kaum terdahulu yang menolak dakwah Tauhid yang diserukan para Rasul yang di utus kepada mereka. Mereka berkata sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an,

إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ

”Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu tradisi, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka (nenek moyang)”. (Az-Zukhruf: 22).

Perkata’an mereka juga sama dengan perkata’an kaum Nabi Nuh, kaum Nabi Hud, kaum Nabi Shalih, kaum Nabi Ibrahim, kaum Nabi Syu’aib juga kaum Nabi Musa ‘alaihi salam ketika mereka menolak dakwah Tauhid yang diserukan kepada mereka.

Berikut perkata’an mereka ;

• Perkata’an kaum Nabi Nuh ‘alaihi salam

Nabi Nuh ‘alaihi salam berkata :

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

“Hai kaumku, sembahlah Allah, (karena) sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain Dia”. (Q.S Al Mukminun: 23).

Mereka berkata :

مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ

”Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu”. (Q.S Al Mukminun: 24).

• Perkata’an kaum Nabi Hud ‘alaihi salam

Nabi Hud ‘alaihi salam berkata :

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

”Hai kaumku, sembahlah Allah Azza wa Jalla , sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya”. (Q.S Al-A’raf: 65).

Mereka berkata :

أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا

”Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah Azza wa Jalla saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami ?”. (Al-A’râf: 70).

• Perkata’an kaum Nabi Shalih ‘alaihi salam

Nabi Shalih ‘alaihi salam berkata :

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

”Hai kaumku, sembahlah Allah Azza wa Jalla , sekali-kali tidak ada bagimu tuhan selain Dia”. (Hud: 61).

Mereka berkata :

أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا

”Apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami ?”. (Q.S Hud: 62).

• Perkata’an kaum Nabi Ibrahim ‘alaihi salam

Nabi Ibrahim ‘alaihi salam berkata :

مَا هَٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

”Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya ?”. (Q.S Al Anbiya’: 52).

Mereka berkata :

قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ

”Sungguh kami mendapati bapak-bapak kami (nenek moyang) menyembahnya”. (Q.S Al Anbiya’: 53).

• Perkata’an kaum Nabi Syu’aib ‘alaihi salam

Nabi Syu’aib ‘alaihi salam berkata :

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

”Hai kaumku, sembahlah Allah Azza wa Jalla, sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia”. (Q.S Hud: 84).

Mereka berkata :

يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا

”Hai Syu’aib, apakah shalatmu (agamamu) menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami ?”. (Q.S Hud: 87).

• Perkata’an fir’aun

Fir’aun berkata kepada Nabi Musa ‘alaihi salam ketika diseru untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala

أَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا

”Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya ?”. (Q.S Yunus: 78).

Nenek moyang kami biasa melakukannya, ini adalah tradisi nenek moyang.

Itulah alasan klasik para penentang dakwah Tauhid ketika diseru untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala. Ketika mereka diajak untuk mengamalkan apa-apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Mereka enggan, tidak berani meninggalkan kebiasa’an, adat istiadat, tradisi yang sudah mereka dapatkan dari nenek moyang (leluhur) mereka.

Begitu pula hari ini, mereka yang menentang dakwah Tauhid beralasan, bahwa apa yang mereka lakukan adalah mengamalkan adat-istiadat nenek moyang dalam rangka melestarikan budaya daerah, menjaga ke’arifan lokal sebagai pusaka warisan nenek moyang (leluhur) yang harus dijaga, di pertahankan dan dilestarikan.

Banyak kaum muslimin sa’at ini yang masih setia dengan adat istiadat nenek moyang. Dan dijadikannya sebagai pedoman hidup.

Mereka percaya hari baik hari buruk, mereka menghitung-hitung hari, kapan hari baik untuk melakukan urusan mereka, dan mereka tidak melakukan urusannya pada hari yang mereka anggap tidak baik. Mereka khawatir tidak mendapatkan keberuntungan apabila melanggar adat istiadat tersebut.

Banyak ritual-ritual peninggalan nenek moyang yang masih dilakukan sa’at ini. Seperti : Mitoni / telonan dan tingkepan (tujuh bulanan) yaitu upacara memohon keselamatan anak yang ada dalam rahim (kandungan). Upacara ini biasa disebut garba wedana. Garba artinya perut, Wedana artinya yang lagi mengandung. Mereka khawatir apabila tidak melakukan ritual tersebut terjadi sesuatu yang buruk menimpa kepada janin yang dikandungnya.

Ritual lainnya seperti : Sedekah bumi, sedekah laut dan banyak lagi. Mereka takut apabila ritual-ritual tersebut tidak di lakukan akan mendapatkan bencana akibat kutukan dari penguasa tempat-tempat tersebut.

Kepercaya’an lainnya seperti mengkeramatkan pohon, kuburan, sumber mata air dan lain-lain. Di tempat tersebut mereka memberikan sesajian dan melakukan ritual penyembahan.

Juga kepercaya’an kepada mitos-mitos yang mereka yakini melebihi keyakinan mereka kepada tuntunan yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.

Sa’at ini adat-istiadat warisan nenek moyang tersebut dimasukkan kedalamnya nilai-nilai Islam seperti do’a-doa yang berasal dari Islam sehingga tanpa disadari oleh masyarakat awam bahwa tradisi yang mereka lakoni sebagai tradisi warisan jahiliyah yang tidak sesuai dan bertentangan dengan syari’at islam.

Adat, tradisi dan kebiasa’an warisan nenek moyang, mereka lakukan tidak saja dalam acara seremonial berbentuk ritual-ritual tetapi juga dalam sikap hidup mereka sehari-hari.

Tradisi leluhur yang mereka laksanakan sebagai perwujudan pemberian penghormatan kepada tradisi dan budaya nenek moyang yang diwarisi secara turun temurun dari generasi kegenerasi.

Bahkan sa’at ini semakin digalakkan dengan dukungan dan peran aktif pemerintah daerah dengan dalih melestarikan budaya bangsa serta motif ekonomi sebagai obyek tujuan wisata.

Islam tidak mempermasalahkan umatnya melestarikan tradisi-tradisi, adat-istiadat yang berasal dari nenek moyang, selama tidak melanggar syari’at yaitu tidak mengandung kesyirikan dan bebagai macam bid’ah didalamnya.

الله المستعان

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

=======================