NABI PUN DAHULU DI TUDUH PEMECAH BELAH

NABI PUN DAHULU DI TUDUH PEMECAH BELAH
.
Seringkali orang yang menyeru umat untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni dan meninggalkan segala macam amalan-amalan bid’ah juga tradisi nenek moyang yang bertentangan dengan ajaran Islam sering dituduh sebagai pihak yang merusak kerukunan dan persatuan (pemecah belah) umat.
.
Tuduhan pemecah belah dan meruntuhkan persaudaraan itu, ternyata juga pernah dialamatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika pada masa dahulu menyeru umat untuk kembali kepada ajaran Tauhid yang benar yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan meninggalkan tradisi jahiliyah yang bertentangan dengan ajaran Tauhid.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dituduh merusak persatuan dan pemecah belah bisa kita ketahui dari riwayat ketika masuk Islamnya kepala kabilah Daus yaitu Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi, yang satu kabilah dengan Abu Hurairah, seorang Sahabat Nabi yang terkenal. Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi adalah salah seorang pemuka bangsa Arab yang memiliki kedudukan tinggi. Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi juga dikenal sebagai seorang sastrawan cerdik lagi ulung.
.
Dalam sebuah riwayat di sebutkan, Ath-Thufail meninggalkan kampung halamannya di Tihamah menuju Mekah yang pada saat itu di Mekah sedang terjadi pertentangan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan orang-orang kafir Quraisy yang menolak dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Ketika Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi sampai di Mekah, ia ditemui dan disambut dengan sangat baik dan disediakan tempat singgah yang terbagus oleh para pemuka dan pembesar bangsa Qurais.
.
Dan kepada Ath-Thufail bin Amru Ad-Dausi mereka berkata : “Wahai Thufail, sesungguhnya kamu telah datang ke negeri kami, dan laki-laki yang menyatakan dirinya sebagai Nabi itu telah mencela-cela urusan (peribadatan) kami DAN MEMECAH-BELAH PERSATUAN KAMI, SERTA MENCERAI-BERAIKAN PERSAUDARAAN KAMI. Kami khawatir apa yang menimpa kami ini akan menimpamu sehingga mengancam kepemimpinanmu atas kaummu. Oleh karena itu, jangan berbicara dengan laki-laki itu, jangan mendengar apa pun darinya, karena dia mempunyai kata-kata seperti sihir, memisahkan seorang anak dari bapaknya, seorang saudara dari saudaranya, seorang istri dari suaminya”.
.
Itulah kata-kata yang disampaikan para pembesar kafir Qurais kepada Ath-Thufail bin Amru Ad-Dausi. Namun ternyata Ath-Thufail bin Amru Ad-Dausi malah tertarik oleh dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu masuk Islam.
.
Kalau kita perhatikan kata-kata para pembesar kafir Qurais yang merasa terusik oleh dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menuduh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemecah belah persatuan dan mencerai beraikan persaudaraan tersebut, ternyata sama persis dengan tuduhan orang-orang yang menyimpang dan sesat sa’at ini yang merasa terusik amalan-amalan bid’ah mereka yang menuduh para penyeru umat untuk kembali kepada kemurnian Islam dan meninggalkan segalam macam bid’ah dalam urusan ibadah.
.
Mengapa para penyeru umat untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni sa’at ini mendapatkan perlakuan dan tuduhan yang sama dengan yang didapatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ?
.
Jawabannya :
.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata : “Siapa saja yang mengikuti para Nabi, maka akan mendapatkan seperti yang didapat oleh para Nabi”.
.
Semoga kita berada dalam barisan para Nabi dan Rasul, bukan berada dalam barisan Abu Jahal dan Abu Lahab walaupun konsekuensinya mendapatkan tuduhan pemecah belah umat, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dahulu dituduh pemecah belah.
.
SIAPA SESUNGGUHNYA PEMECAH BELAH UMAT ?
.
Sangat memprihatinkan perselisihan terjadi diantara umat Islam, yang seolah-olah mereka tidak akan bisa dipersatukan. Padahal kiblat mereka sama, Nabinya sama yang di ibadahi juga sama, yaitu Allah Ta’ala.
.
Apa yang menjadikan umat Islam terus berselisih ?
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَلَا تَتَّبِعُوۡا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ وَصّٰٮكُمۡ بِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ‏
.
“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain karena itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS.Al-An’am, 153).
.
Yang dimaksud jalan-jalan lain dalam ayat diatas yaitu, macam-macam bid’ah dan syubhat. Sebagaimana diterangkan oleh Imam Mujahid rahimahullah dalam tafsirnya, Beliau berkata : “Jalan-jalan dengan aneka macam bid’ah dan syubhat”. (Jami’ul Bayan V/88).
.
Setelah menyebutkan beberapa dalil-dalil bahwa bid’ah adalah pemecah belah ummat, Imam Asy-Syatibi rahimahullaahu ta’ala berkata : “Semua bukti dan dalil ini menunjukan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan.” (Al- I’tisham,I/157).
.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala pernah berkata : “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.” (al-Istiqamah, I/42).
.
Dari keterangan para Ulama diatas, maka jelaslah sesungguhnya terjadinya perselisihan sehingga umat terpecah belah dan saling bermusuhan adalah diakibatkan adanya orang-orang yang membuat bid’ah ditengah-tengah umat.
.
Apabila tidak ada yang membuat-buat perkara baru dalam agama (bid’ah), maka niscaya umat Islam pun akan utuh dalam persatuan diatas kemurnian Islam berdasarkan petunjuk Allah Ta’ala dan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
با رك الله فيكم
.
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏Mąŋţяί
.
.
Bid’ah hasanah yang di maksud Imam Syafi’i, silahkan baca di sini : https://agussantosa39.wordpress.com/category/11-bidah-hasanah/01-bidah-hasanah-yang-di-maksud-imam-syafii
.
– Bid’ah hasanah yang di maksud Umar bin Khatab, silahkan baca di sini : https://agussantosa39.wordpress.com/category/11-bidah-hasanah/02-memahami-perkataan-umar-bin-khatab
.
_______________

UMAT ISLAM AKAN MENGIKUTI JEJAK YAHUDI DAN NASRANI HINGGA MASUK LUBANG BIAWAK SEKALIPUN

UMAT ISLAM AKAN MENGIKUTI JEJAK YAHUDI DAN NASRANI HINGGA MASUK LUBANG BIAWAK SEKALIPUN
.
Kaum Yahudi dan kaum Nasrani adalah kaum yang di murkai oleh Allah Ta’ala dan kaum yang sesat. Sebagaimana Allah Ta’ala terangkan di dalam Al-Qur’an.
.
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ
.
“Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (QS. Al-Fatihah: 7).
.
Yang dimaksud ayat di atas adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebagaimana di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,
.
إن الْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمُ الْيَهُودُ وَإِنَّ الضَّالِّينَ النَّصَارَى
.
“Sesungguhnya orang-orang yang dimurkai itu adalah orang-orang Yahudi, dan sesungguhnya orang-orang yang sesat itu adalah orang-orang Nasrani”. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Fatihah, 7).
.
Dalam sejarah Islam di ketahui bahwa kaum Yahudi sangat memusuhi umat Islam, dan rasa permusuhan mereka Allah Ta’ala sebutkan dalam Firman-Nya,
.
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
.
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”. (QS. Al-Maidah: 82).
.
Begitu pula kaum Nasrani, mereka memiliki rasa permusuhan dan perasa’an tidak senang terhadap umat Islam. Sikap mereka demikian Allah Ta’ala sebutkan dalam Firman-Nya,
.
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
.
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka”. (QS. Al-Baqarah, 120).
.
Permusuhan dan makar kaum Yahudi dan juga kaum Nasrani begitu panjang tercatat dalam sejarah Islam. Semenjak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru manusia untuk kembali mentauhidkan Allah Ta’ala, tidak henti-hentinya makar kaum Yahudi dan Nasrani ditujukan kepada kaum muslimin hingga sampai sa’at ini.
.
Kaum Yahudi dan kaum Nasrani akan senang kepada umat Islam apabila kita mengikuti mereka, sebagaimana disebutkan dalam penghujung ayat di atas,
.
حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
.
“Hingga kamu mengikuti agama mereka”.
.
Mengikuti jejak langkah mereka maka sama artinya kita membenarkan kesesatan mereka, padahal karena kesesatan mereka itulah yang menjadikan mereka mendapatkan murka Allah Ta’ala.
.
Allah Ta’ala juga mengancam kepada orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka, tidak akan mendapatkan perlindungan dan pertolongannya,
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ
.
“Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. Al-Baqarah: 120).
.
Imam Ibnu Katsir terkait ayat di atas mengatakan, Di dalam ayat ini terkandung makna ancaman dan peringatan yang keras bagi umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar mereka jangan sekali-kali mengikuti jalan-jalan kaum Yahudi dan kaum Nasrani, sesudah mereka mempunyai pengetahuan dari Al-Qur’an dan sunnah, na’uzubillah min zalik. Khitab ayat ini ditujukan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi perintahnya ditujukan kepada umatnya.
.
Allah Ta’ala mengancam tidak akan memberikan pertolongan dan bantuannya kepada orang-orang yang mengikuti jejak langkah kaum Yahudi dan Nasrani.
.
Namun ternyata banyak umat Islam yang tidak menghiraukan ancaman Allah Ta’ala tersebut. Banyak dari umat Islam yang secara tidak sadar telah mengikuti jejak langkah mereka. Mengikuti jejak langkah (agama) mereka bukan berarti kaum muslimin keluar (murtad) dari agama Islam, lalu masuk ke dalam agama mereka, namun pengertiannya adalah mengikuti perilaku mereka.
.
Berikut ini diantara beberapa perilaku kaum Yahudi dan kaum Nasrani yang diikuti oleh sebagian umat Islam,
.
๏ Beribadah dengan alat musik
.
Dalam kitab “Perjanjian Lama” milik kaum Yahudi disebutkan, “Biarkan orang-orang zionis bergembira dengan kekuasan mereka. Hendaklah mereka memuji-Nya dengan bergoyang dan memukul rebana …Haliluyaa… pujilah Tuhan dalam kesuciannya. Pujilah Dia dengan gambus dan kecapi. Pujilah Dia dengan memukul rebana dan bergoyang. Pujilah Dia dengan gitar dan seruling. Pujilah Dia dengan berbagai warna sorak-sorai”. (Mazmûr, hlm. 149-150).
.
Cara-cara peribadahan kaum Yahudi di atas ternyata diikuti oleh kaum Sufi. Dalam ajaran sufi ada berbagai acara yang mereka anggap ibadah yang pelaksanaannya sama persis dengan cara beribadah orang-orang Yahudi yang kita sebutkan di atas. Ada acara bid’ah kaum Sufi yang disebut dengan zikir jamâ’i, duba’an, rajaban, manaqiban, salawatan dan maulidan.
.
Dalam acara-cara tersebut digunakan juga alat-alat pujian yang digunakan oleh orang-orang Yahudi dalam ibadah mereka. Seperti gambus, rebana, kadang-kadang dilengkapi dengan guitar dan seruling sambil berteriak-teriak dalam mengucapkan kalimat-kalimat pujian kepada Allâh Ta’âla dan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
.
Silakan dilihat peribadahan orang-orang Sufi yang mengikuti ajaran kaum Yahudi di bawah ini,
.
Tari Sufi full musik: https://youtu.be/u28vrj-zEh0
.
Tarekat hulahup kaum Sufi:

.
Tarekat disco ahli bid’ah : https://youtu.be/pYLvgnUcQFA
.
Dzikir model dangdutan kaum Sufi: https://youtu.be/rCRbHvDcRK8
.
Yahana vs Yahudi: https://youtu.be/OYGor7wlvIQ
.
๏ Menggoyang-goyangkan kepala ketika beribadah
.
Disebutkan, diantara sebab muasal penamaan pengikut nabi Musa ’alaihissalam dari orang-orang Bani Israil dinamakan Yahudi adalah karena kebiasaan mereka ketika membaca Taurat mengangguk-anggukkan kepala. Hal ini dapat kita saksikan sendiri bagaimana orang-orang Yahudi ketika beribadah di depan Dinding Ratapan (tempat ibadah mereka) yang terdapat di masjid Aqsha.
.
Abu Bakar Tharthûsy mengatakan : “Bergoyang dalam berzikir dan berusaha agar pingsan, yang pertama sekali melakukannya adalah pengikut Samiri ketika mengajak mereka untuk menyembah ‘Ijil (anak sapi). Mereka bergoyang-goyang disekelilingnya dan pura-pura pingsan. Maka ia adalah agama para penyembah ‘Ijil. Barangsiapa menyerupai mereka berarti mereka termasuk golongan mereka”. (Tahrîmus Samâ’, hlm. 269-270, Tafsîr Qurtubi,10/366, 11/238).
.
Perilaku kaum Yahudi yang menggoyang-goyangkan kepala sa’at ibadah juga diikuti oleh kaum Sufi. Kebanyakan kaum Sufi ketika berzikir kepalanya digoyang kekanan dan kekiri. Bahkan ada yang benar-benar bergoyang sambil berdiri seperti dalam acara-acara sepesial mereka. Perbuatan tersebut mereka anggap sebagai ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allâh Ta’âla.
.
Itulah perilaku sebagian dari umat Islam yang mengikuti jejak langkah kaum Yahudi.
.
Selain mengikuti jejak langkah kaum Yahudi, orang-orang Sufi juga mengikuti jejak langkah kaum Nasrani.
.
Berikut ini diantarannya,
.
๏ Tarbiyah Ruhiyah
.
Diantara ajaran kaum Nasrani yang di adopsi oleh orang-orang Sufi diantaranya adalah Tarbiyah Ruhiyah.
.
Dalam agama Nasrani tarbiyah ruhiyah dilakukan dengan beberapa bentuk. Mulai dari menghindari segala kenikmatan dunia, seperti tidak mengkosumsi sesuatu yang enak dan lezat, tidak memakai pakaian bagus, menjauhi pernikahan sampai pada tinggkat bersemedi di gua-gua. Sa’at mereka menganggap telah mencapai puncak kesucian jiwa, mereka meyakini bahwa Zat Allâh Ta’âla menyatu dengan diri mereka. Yang mereka sebut dengan istilah : Menyatunya Lahût dengan Nasût. Hal serupa juga ditiru oleh orang-orang sufi dalam mentarbiyah dirinya untuk mencapai tingkat hakikat.
.
Tokoh Sufi Abu Tolib al-Makki menyatakan, terdapat empat perkara yang dapat membantu murid melaksanakan pembersihan hati iaitu: Berlapar, berjaga malam, berdiam diri (tidak bercakap), dan bersunyian diri (Khalwat/Uzlah). [Qutul Qulub, 1/132].
.
๏ Tidak menikah
.
Ajaran kaum Nasrani lainnya yang di adopsi oleh sebagian kaum Sufi adalah tidak menikah dengan alasan agar lebih fokus beribadah demi mendapatkan surga.
.
Ajaran kaum Nasrani ini terdapat dalam Injil Matius fasal 19 ayat 12, yang berbunyi : “Ada orang yang tidak kawin,… ia membuat dirinya demikian karena keraja’an surga. Barangsiapa yang dapat melakukan maka hendaklah ia melakukannya”. Dalam surat Paulus kepada penduduk Karnitus fasal 7 ayat 1, berbunyi : “Sangat baik bagi seorang lelaki untuk tidak menyentuh wanita”.
.
Berkata salah seorang tokoh sufi, Abu Sulaiman al-Darani : “Tiga perkara yang jika seseorang lakukan maka dia telah cenderung kepada dunia ; Mencari rezeki, menikah dan menulis hadits”. (Ihya’ Uludmuddin, 1/379).
.
Jika dibandingkan apa yang diajarkan oleh tokoh-tokoh Sufi di atas dengan apa yang terdapat dalam ajaran Nasrani ternyata tidak jauh berbeda. Dan sebetulnya memang kaum Sufi mengikuti ajaran mereka.
.
Perilaku lainnya dari kaum Nasrani yang diikuti oleh sebagian umat Islam diantaranya, peringatan bid’ah Maulid Nabi, yaitu memperingati kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal ini sama dengan peraya’an Natal, yaitu peraya’an kelahiran Yesus Kristus.
.
Perilaku lainnya dari kaum Nasrani yang diikuti sebagian umat Islam adalah peringatan Kenaikan Isa Al Masih, Naiknya Tuhan Yesus Kristus ke langit. Sebagian umat Islam pun ada yang ikut-ikutan membuat peringatan seperti itu, yaitu peringatan Isra’ Mi’raj, naiknya Nabi Muhammad ke langit.
.
Perilaku lainnya dari kaum Nasrani yang di ikuti sebagian umat Islam adalah peraya’an Tahun Baru Masehi, sebagian dari umat Islam pun ada yang membuat peraya’an bid’ah Tahun Baru Hijriyah.
.
Itulah beberapa perilaku sesat kaum Yahudi dan Nasrani yang di ikuti oleh sebagian umat Islam. Dan masih banyak lagi perilaku mereka yang diikuti.
.
Benarlah apa yang di sabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ
.
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya”. Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani ?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi ?”. (HR. Muslim no. 2669).
.
Ibnu Taimiyah menjelaskan, tidak diragukan lagi bahwa umat Islam ada yang kelak akan mengikuti jejak Yahudi dan Nashrani dalam sebagian perkara. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 27: 286.
.
Syaikhul Islam menerangkan pula bahwa dalam shalat ketika membaca Al Fatihah kita selalu meminta pada Allah agar diselamatkan dari jalan orang yang dimurkai dan sesat yaitu jalannya Yahudi dan Nashrani. Dan sebagian umat Islam ada yang sudah terjerumus mengikuti jejak kedua golongan tersebut. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 1: 65.
.
Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziroo’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal-hal kekafiran mereka yang diikuti. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini”. (Syarh Muslim, 16: 219).
.
با رك الله فيكم
.
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί (pecinta meong dan dan pengamat aliran menyimpang dan sesat).
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam–sudah-sempurna/
.
.
________

EKSISTENSI BID’AH DARI MASA KE MASA

EKSISTENSI BID’AH DARI MASA KE MASA
.
Oleh: Ikhwan pecinta meong
.
Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan manusia dan jin bukan tidak ada maksud dan tujuan, tapi mereka di ciptakan untuk beribadah.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).
.
Beribadah kepada Allah Ta’ala harus dilakukan sesuai dengan tuntunan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, tidak bisa dilakukan sekehendak hati. Oleh karena itu Allah Ta’ala mengutus para Rasul untuk membimbing manusia supaya beribadah dengan benar. Namun setelah setiap para Rasul wafat, umatnya membuat-buat bid’ah dalam agama mereka, yang akhirnya menjadikan mereka menyimpang dan sesat.
.
Semenjak Nabi Adam ‘alaihis salam sampai generasi ke 10 dari umat manusia, semua manusia sa’at itu beribadah hanya kepada Allah Ta’ala. Tidak ada yang melakukan ke musyrikan.
.
Ibnu Abbas mengatakan, “Antara masa Nabi Adam dengan Nabi Nuh terdapat sepuluh generasi. Mereka seluruhnya adalah orang-orang yang bertauhid. Baru setelah itu terjadilah kemusyrikan di tengah-tengah kaum Nuh”. (Ajwibah Mufidah an Masa-il Adidah karya Syaikh Abdul Aziz ar Rajihi hal 1-4).
.
❁ Bid’ah yang dilakukan pertama kali oleh manusia
.
Setelah lewat generasi ke sepuluh, manusia mulai membuat-buat cara-cara baru dalam peribadahan yang bukan berdasarkan petunjuk dari Allah Ta’ala. Tapi berdasarkan anggapan baik menurut perasa’an mereka (hawa nafsu). Dan pada akhirnya manusia pun melakukan penyimpangan dan ke syirikan kepada Allah Ta’ala.
.
Dalam Shahih Bukhari terdapat penjelasan tentang sebab terjadinya kemusyrikan tersebut. Di tengah-tengah kaum Nuh terdapat lima orang shalih yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Kelima orang itu meninggal dunia dalam waktu hampir bersama’an. Setelah mereka semua meninggal, kaum Nuh mengalami kesedihan yang sangat mendalam. Mereka lalu berkata, “Andai kita membuat patung lima orang tersebut tentu kita akan lebih semangat beribadah”. Akhirnya niatan itu mereka wujudkan. Pada generasi berikutnya setan memberi bisikan bahwa nenek moyang kalian membuat patung ini karena mereka berdo’a kepada patung dan memohon hujan kepada patung tersebut. Kemudian disembahlah patung tersebut. Maka terjadilah kemusyrikan yang pertama kali.
.
Itulah awal mula terjadinya kesesatan di tengah-tengah manusia. Pada mulanya manusia membuat cara-cara baru dalam peribadahan (bid’ah), yaitu membuat patung yang tujuan awalnya hanya untuk mengenang kesalihan orang-orang salih diantara mereka dan di maksudkan supaya menjadi motifasi untuk mengikuti kesalihan orang-orang salih tersebut. Namun pada masa berikutnya, perkara yang di ada-adakan dalam urusan agama (bid’ah) oleh mereka, menyeret generasi penerus mereka melakukan ke syirikan, yaitu berdo’a kepada patung-patung tersebut untuk memenuhi kebutuhan mereka. Setelah itu Allah Ta’ala pun mengutus Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk mengembalikan mereka kepada ajaran Tauhid.
.
Umat manusia berganti dari generasi ke generasi berikutnya. Yang awal mulanya manusia beribadah hanya kepada Allah Ta’ala, namun selanjutnya mereka menyimpang dan melakukan kesyirikan. Lalu Allah Ta’ala pun mengutus para Rasul untuk mengembalikan manusia kepada ajaran yang benar.
.
❁ Bid’ah yang di lakukan pengikut Nabi Musa ‘alaihis salam
.
Nabi Musa ‘alaihis salam, sebagaimana para Nabi sebelumnya membimbing umatnya untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala. Namun ketika Nabi Musa ‘alaihis salam pergi ke bukit Tur meninggalkan kaumnya, ternyata kaum Nabi Musa ‘alaihis salam melakukan penyimpangan dengan melakukan perkara yang tidak diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Mereka membuat-buat cara baru dalam peribadahan (bid’ah) dengan membuat patung anak lembu.
.
Allah Ta’ala dalam Firman-Nya :
.
وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَى مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلا يَهْدِيهِمْ سَبِيلا اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ
.
“Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke Gunung Tur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka ?. Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-A’raf, 148).
.
Itulah kesesatan Bani Israel ketika Nabi Musa masih hidup. Dan setelah Nabi Musa ‘alaihis salam wafat, mereka pun semakin menyimpang dan sesat.
.
❁ Bid’ah yang dilakukan pengikut Nabi Isa ‘alaihis salam
.
Setelah umat Nabi Musa ‘alaihis salam tidak lagi mentauhidkan Allah Ta’ala, lalu Allah Ta’ala mengutus kembali Nabi Isa ‘alaihis salam untuk mengembalikan kaum Bani Israil kepada jalan yang benar. Walaupun kebanyakan dari mereka menentang dan memerangi Nabi Isa ‘alaihis salam, namun sebagian dari mereka menerima seruan Nabi Isa dan mereka kembali mentauhidkan Allah Ta’ala.
.
Tapi setelah Nabi Isa wafat, sebagian besar dari mereka kembali menyimpang dan sesat. Dan pengikut Nabi Isa yang tetap memegang teguh ajaran Tauhid di buru dan di perangi. Lalu para pengikut ajaran Nabi Isa yang tetap memegang teguh ajaran Tauhid tersebut menyelamatkan diri dengan mengembara ke tempat-tempat yang jauh dan sebagiannya lagi mengasingkan diri di tempat-tempat sepi di muka bumi.
.
Diantara umat Nabi Isa ‘alaihis salam yang tetap memegang teguh ajaran Tauhid berkata kepada orang-orang yang memerangi mereka : “Bangunkan untuk kami sebuah biara di tempat terpencil, yang (ditempat itu) kami akan menggali sumur, menanam sayuran, dan kami tidak akan ikut campur urusan kalian”. Maka setelah itu setiap kabilah (kelompok orang beriman) memiliki keturunan dan kaum tersendiri. Dan atas merekalah turun ayat Allah Ta’ala yang artinya : “Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah (kerahiban) padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhoan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemelihara’an yang semestinya”. (QS. Al-Hadid: 27).
.
Untuk menyelamatkan keimanan mereka, umat Nabi Isa ‘alaihis salam membuat perkara baru dalam agama (bid’ah), yaitu rahbaniyah (kerahiban) yang tidak di perintahkan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana yang di terangkan dalam Firman Allah Ta’ala di atas.
.
Namun generasi selanjutnya menganggap rahbaniyah (kerahiban) sebagai ajaran dari Nabi Isa ‘alaihis salam, mereka berkata : “Dan kami juga akan membangun biara sebagaimana si fulan”. Padahal mereka ketika itu berada pada kesyirikan. Mereka tidak mengetahui keimanan orang-orang terdahulu yang mereka ikuti tersebut.
.
Itulah diantara perkara baru dalam agama (bid’ah) yang dilakukan umat Nabi Isa ‘alaihis salam. Yang awal mulanya bertujuan untuk menyelamatkan keimanan mereka. Namun menjadikan generasi penerusnya terjerumus kedalam penyimpangan dan akhirnya mereka menjadi orang-orang musyrik yang sesat.
.
❁ Bid’ah yang di lakukan bangsa Arab Qurais
.
Bangsa Arab yang tinggal di Makkah, sebagiannya adalah keturunan dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Pada mulanya bangsa Arab Makkah beribadah hanya kepada Allah Ta’ala, karena mereka mengikuti ajaran Nabi Ibrahim alaihis salam. Namun seiring berjalannya waktu, bangsa Arab Makkah sama seperti umat-umat terdahulu yang mengalami penyimpangan dan kesesatan setelah tidak adanya Nabi dan Rasul di tengah-tengah mereka.
.
Selain mengimani adanya Allah Ta’ala, pada akhirnya bangsa Arab Makkah pun mengagungkan dan menjadikan berhala sebagai perantara kepada Allah. Mereka berdo’a kepada berhala-berhala tersebut pada sa’at mereka ada kebutuhan.
.
Menurut Ibnu Al-Kalbi, yang menyebabkan bangsa Arab akhirnya menyembah berhala dan batu, ialah setiap mereka akan pergi meninggalkan kota Makkah, selalu membawa sebuah batu yang diambilnya dari beberapa tempat di sekitar ka’bah, dengan maksud untuk menghormati Ka’bah, dan untuk memperlihatkan kecinta’an mereka kepada Mekah. Kemudian batu-batu tersebut diletakan di tempat persinggahan atau tempat tinggal mereka. Mereka melakukan thawaf (mengelilingi) batu-batu itu. Layaknya orang melakukan thawaf waktu haji.
.
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata,
.
قَالَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتَ عَمْرٌو بِنْ عَامِرُ بِنْ لِحَيِّ الخزاعي يَجُرُّ قَصَبَهُ فِي النَّارِ وَكَانَ أَوَّلَ مَنْ سِيبَ السوائب
.
Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Aku melihat ‘Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i menarik-narik ususnya di neraka. Dia adalah orang pertama yang melepaskan onta-onta (untuk dipersembahkan kepada berhala)”. (HR. Bukhari no. 3333 dan Muslim no. 2856).
.
Ibnu Katsir menjelaskan sebagai berikut :
.
عَمْرٌو هَذَا هُوَ اِبْنٌ لِحَيِّ بِنْ قمعة، أَحَدٌ رُؤَسَاءَ خزاعة الَّذِينَ وَلَّوْا البَيْتَ بَعْدَ جَرِّهِمْ وَكَانَ أَوَّلُ مِنْ غَيْرِ دِينِ إِبْرَاهِيمَ الخليل، فَأَدْخَلَ الأَصْنَامَ إِلَى الحِجَازِ، وَدَعَا الرُّعَاعُ مِنْ النَّاسِ إِلَى عِبَادَتِهَا والتقرب بِهَا، وَشَرَّعَ لَهُمْ هَذِهِ الشَّرَائِعَ الجَاهِلِيَّةُ فِي الأنعام وَغَيْرِهَا
.
“Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuza’i merupakan salah satu pemimpin Khuza’ah yang memegang kekuasa’an atas Ka’bah setelah Kabilah Jurhum. Ia adalah orang yang pertama kali mengubah agama Ibrahim (atas bangsa Arab). Ia memasukkan berhala-berhala ke Hijaz, lalu menyeru kepada beberapa orang jahil untuk menyembahnya dan bertaqarrub dengannya, dan ia membuat beberapa ketentuan jahiliyyah ini bagi mereka yang berkena’an dengan binatang ternak dan lain-lain . .” (lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/148 QS. Al-Maidah ayat 103).
.
Itulah bid’ah yang di lakukan bangsa Arab Makkah. Mereka membuat perkara-perkara baru dalam peribadahan (bid’ah). Karena kecinta’annya kepada Makkah, kemana mereka pergi mereka membawa batu yang diambil di sekitar Ka’bah, kemudian di setiap tempat yang mereka singgahi, mereka melakukan tawaf layaknya orang melakukan thawaf waktu haji. Mereka juga meletakan berhala-berhala di dalam dan di luar Ka’bah dan di jadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
.
Itulah bid’ah-bid’ah yang di lakukan umat manusia di masa lalu. Yang pada akhirnya menjadikan mereka menyimpang dan tersesat dari ajaran yang benar.
.
❁ Nabi Muhammad di utus untuk memurnikan ajaran Tauhid
.
Rasulullah shallallahu ‘alawa salam di utus oleh Allah Ta’ala bukan saja hanya kepada bangsa Arab, akan tetapi untuk membimbing seluruh umat manusia.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ
.
“Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya”. (QS. Saba’: 28).
.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di lahirkan, keada’an bangsa Arab sudah tidak lagi memurnikan ajaran Tauhid. Lalu Allah Ta’ala mengangkatnya sebagai Nabi dan Rasul. Untuk mengembalikan mereka kepada ajaran Tauhid. Pada mulanya hanya sebagian kecil yang menerima seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun berkat perjuangan keras Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat setianya, akhirnya bangsa Arab dapat di kembalikan kepada ajaran yang benar.
.
Sebagaimana umat-umat para Rasulullah terdahulu, ketika Allah Ta’ala mewafatkan Rasul-Nya, maka umatnya menjadi menyimpang dan sesat, hal itu terjadi karena aneka rupa bid’ah yang mereka buat-buat. Dan ternyata umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sebagaimana umat-umat terdahulu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, bermunculan orang-orang yang menyimpang dan sesat di tengah-tengah umat Islam. Mereka mengadakan perkara-perkara dalam urusan agama (bid’ah) yang tidak pernah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya ajarkan. Benih-benih kebid’ahan sudah muncul sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup. Diantaranya ada tiga orang yang tujuannya ingin memperbanyak ibadah (taqorrub Ilallah).
.
Yang pertama dari mereka berkata,
.
فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا
.
“Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya”. (tanpa tidur).
.
Yang ke dua berkata,
.
أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ
.
“Aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan tidak akan berbuka”.
.
Dan yang ke tiganya berkata,
.
أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا
.
“Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya”.
.
Itulah benih-benih kebid’ahan yang muncul ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun segera mendatangi dan menegur mereka.
.
أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ
.
“Kalian berkata begini dan begitu. Adapun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa.
.
َلَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
.
“Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku”. (HR. Bukhari no.5063).
.
Itulah teguran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka.
.
Setelah umat Islam di tinggal wafat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kebid’ahan merajalela tidak dapat di bendung. Muncul di tengah-tengah umat Islam aneka macam bid’ah, peraya’an-peraya’an keagama’an yang tidak di syari’atkan oleh Islam, cara-cara berdzikir yang tidak ada tuntunannya, kuburan di hiasi, di keramatkan dan di jadikan tempat mendekatkan diri kepada Allah. Maka dapat kita saksikan sa’at ini, banyak umat Islam yang sudah tidak mengenal lagi ajaran Islam yang murni dan tidak mentauhidkan Allah Ta’ala dengan benar. Maka apabila tidak ada lagi yang memperingatkan mereka, maka keada’an umat Islam pun akan sama seperti umat-umat terdahulu, yang awalnya mengikuti petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya namun akhirnya menjadi penganut ajaran menyimpang dan sesat.
.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan keluarga kita dari segala macam bid’ah, yang akan menjadikan manusia terjerembab ke dalam gelapnya kubangan kesesatan dan memusuhi para penyeru kebenaran.
.
.
با رك الله فيكم
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏Mąŋţяί
.
(Pecinta meong dan pengamat ajaran sesat).
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
___________

CELA’AN IMAM FUDHAIL BIN IYADH TERHADAP PELAKU BID’AH

CELA’AN IMAM FUDHAIL BIN IYADH TERHADAP PARA PELAKU BID’AH
.
Berikut beberapa perkata’an salah seorang Ulama besar dari kalangan tabi’ut tabi’in, yakni Fudhail bin Iyadh rahimahullah yang sangat mencela ahli bid’ah dan para pengikutnya.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
مَنْ أَحَبَّ صَاحِبَ بِدْعَةٍ أَحْبَطَ اللهُ عَمَلُهُ , وَأَخْرَجَ نُورَ الْإِسْلَامِ مِنْ قَلْبِهِ
.
“Barangsiapa yang mencintai ahli bid’ah maka Allah telah membatalkan amalannya, dan Allah telah mengeluarkan cahaya islam dari hatinya”
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
إِذَا رَأَيْتَ مُبْتَدِعًا فِي طَرِيقٍ فَخُذْ فِي طَرِيقٍ آخَرَ
.
“Jika kamu melihat seorang pelaku bid’ah sedang berada dalam suatu jalan, maka carilah jalan yang lain”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
لَا يَرْتَفِعُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَمَلٌ
.
“Amal perbuatan ahli bidah tidak akan naik menuju Allah azza wa jalla”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
مَنْ أَعَانَ صَاحِبَ بِدْعَةٍ فَقَدْ أَعَانَ عَلَى هَدْمِ الْإِسْلَامِ
.
“Barangsiapa yang menolong ahli bid’ah maka dia telah menolongnya untuk menghancurkan islam”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
نَظَرَ الْمُؤْمِنُ إِلَى الْمُؤْمِنِ جَلَاءُ الْقَلْبِ , وَنَظَرُ الرَّجُلِ إِلَى صَاحِبِ الْبِدْعَةِ يُورِثُ الْعَمَى
.
“Seorang mu’min melihat mu’min lainnya maka itu adalah cahaya hati, dan seseorang melihat kepada ahli bid’ah maka akan mewariskan kebutaan”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
إِنِّي أُحِبُ مَنْ أُحَبَّهُمُ اللهُ وَهُمُ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُبْغِضُ مَنْ أَبْغَضَهُ اللهُ وَهُمْ أَصْحَابُ الْأَهْوَاءِ وَالْبِدَعِ
.
“Sesungguhnya aku mencintai orang-orang yang Allah cintai dan mereka adalah pengikut nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan aku membenci seseorang yang Allah benci dan mereka adalah pengikut hawa nafsu dan bid’ah”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
لَأَنْ آكُلَ عِنْدَ الْيَهُودِيِّ وَالنَّصْرَانِيِّ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ آكُلُ عِنْدَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ فَإِنِّي إِذَا أَكَلْتُ عِنْدَهُمَا لَا يُقْتَدَى بِي وَإِذَا أَكَلْتُ عِنْدَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ اقْتَدَى بِي النَّاسُ
.
“Makan berasama orang yahudi dan nashrani lebih aku cintai daripada makan bersama para pelaku bid’ah. Karena jika aku makan disisi yahudi dan nashrani, maka manusia jelas tidak akan mengikutiku. Dan jika aku makan bersama pelaku bid’ah maka manusia bisa mengikutiku”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
أُحِبُ أَنْ يَكُونَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حِصْنٌ مِنْ حَدِيدٍ
.
“Aku mencintai jika antara aku dan ahli bid’ah sebuah benteng dari besi”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
وَعَمَلٌ قَلِيلٌ فِي سُنَّةٍ خَيْرٌ مِنْ عَمِلِ صَاحِبِ بِدْعَةٍ
.
“Dan amalan yang sedikit tapi berada dalam koridor sunnah lebih baik dari pada amalan ahli bid’ah”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
وَمَنْ جَلَسَ مَعَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ لَمْ يُعْطَ الْحِكْمَةَ وَمَنْ جَلَسَ إِلَى صَاحِبِ بِدْعَةٍ فَاحْذَرْهُ
.
“Dan barangsiapa yang bermajlis bersama ahli bid’ah maka Allah tidak akan memberinya hikmah, dan barangsiapa yang bermqjlis bersama ahli bid’ah maka ingatilah dia”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
وَصَاحِبُ بِدْعَةٍ لَا تَأْمَنُهُ عَلَى دِينِكَ وَلَا تُشَاوَرْهُ فِي أَمْرِكَ وَلَا تَجْلِسْ إِلَيْهِ, فَمَنْ جَلَسَ إِلَيْهِ وَرَّثَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الْعَمَى
.
“Dan ahli bid’ah, maka kamu jangan merasa aman dengannya terhadap agamamu, dan janganlah kamu bermusyawarah dengannya dalam ursanmu, dan janganlah kamu bermajlis kepadanya, dan barangsiapa yang bermajlis dengannya maka Allah akan mewarisi kebutaan untuknya”
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يَطْلُبُونَ حِلَقَ الذِّكْرِ فَانْظُرُ مَعَ مَنْ يَكُونُ مَجْلِسُكَ لَا يَكُونُ مَعَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى لَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ
.
“Sesungguhnya Allah dan para malaiktaNya mencari halaqah-halaqah (majlis) dzikir, maka lihatlah bersama siapa kamu bermajlis, janganlah majlismu bersama para pelaku bid’ah. Karena sesungguhnya Allah tidak akan melihat mereka”.
.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
.
وَعَلَامَةُ النِّفَاقِ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ وَيَقْعُدَ مَعَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ. وَأَدْرَكْتُ خِيَارَ النَّاسِ كُلُّهُمْ أَصْحَابُ سُنَّةٍ وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْ أَصْحَابِ الْبِدْعَةِ
.
“Dan tanda kemunafikan adalah seseorang berdiri dan duduk bersama ahli bid’ah, dan aku mendapati sebaik-sebaik manusia dan semuanya adalah pengikut sunnah dan mereka melarang untuk mendekati para pelaku bid’ah”.
.
(Perkataan-perkataan Fudhail bin Iyadh rahimahullah di atas terdapat dalam kitab Hilyah Al Auliya’ 8/103).
.
Imam Fudhail bin Iyad adalah seorang Ulama terkemuka, zuhud, wara’, khauf (takut) dan ahli ibadah. Beliau mendapat julukan ‘Abid Al-Haramain (Hamba yang tekun beribadah di Haram Makkah dan Haram Madinah). Berkat ketekunanya menjalankan ibadah, maka beliau mampu menuturkan bahasa hikmah dan mampu menjelaskan pesan-pesan teks agama ini. Beliau hidup semasa dengan Imam Malik.
.
.
sumber : http://www.alamiry.net/2014/02/fudhail-bin-iyadh-seorang-ulama-besar_10.html/
.
.
___________________

KELOMPOK BID’AH YANG PERTAMA KALI MUNCUL DI TENGAH-TENGAH UMAT ISLAM

KELOMPOK BID’AH YANG PERTAMA KALI MUNCUL DI TENGAH-TENGAH UMAT ISLAM
.
Sebagaimana umat-umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap kali mereka di tinggal wafat oleh Rasul yang di utus kepada mereka, maka kemudian mereka mengada-adakan perkara-perkara baru dalam urusan ibadah.
.
Umat Nabi Nuh ‘alaihis salam berbuat bid’ah dengan membuat patung wadd, suwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr yang tujuan awalnya menurut anggapan mereka baik, untuk mengenang orang-orang saleh supaya tidak melupakan kesalehan mereka yang kemudian oleh generasi selanjutnya patung-patung tersebut di sembah.
.
Umat Nabi Musa ‘alaihis salam berbuat bid’ah dengan membuat patung anak lembu yang menjadikan mereka sesat, sebagaimana di sebutkan dalam Al-Qur’an,
.
وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَى مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلا يَهْدِيهِمْ سَبِيلا اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ
.
“Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke Gunung Tur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka ?. Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-A’raf, 148).
.
Umat Nabi Isa ‘alaihis salam membuat rahbaniyah (kerahiban) yang mana Nabi Isa ‘alaihis salam tidak mengajarkannya. Perbuatan bid’ah yang di lakukan umat Nabi Isa tersebut di sebutkan dalam Al-Qur’an yang artinya, “Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah (kerahiban) padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhoan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemelihara’an yang semestinya”. (QS. Al-Hadid: 27).
.
Kaum Qurais, kaumnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada mulanya adalah pengikut ajaran Tauhid yang di bawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Namun akhirnya mereka pun menjadi umat yang sesat, karena segala macam bid’ah yang mereka lakukan. Lalu Allah Ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengembalikan mereka kepada ajaran yang benar.
.
Itulah bid’ah-bid’ah yang di lakukan umat-umat terdahulu sebelum di utusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kebid’ahan mereka itulah yang menjadikan agama terdahulu pada akhirnya mengalami penyimpangan (distorsi). Yang semula sebagai agama Tauhid akhirnya berubah menjadi agama penyembah berhala (pagan).
.
Membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah), tidak saja di lakukan oleh umat-umat terdahulu, tapi ternyata juga di lakukan oleh umat Islam. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
.
“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).
.
Walaupun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan umatnya untuk tidak melakukan kebid’ahan, tapi faktanya dapat kita saksikan, aneka macam bid’ah merebak di tengah-tengah umat.
.
Dan bid’ah yang pertama kali di lakukan umat Islam, ternyata muncul ketika para Sahabat masih hidup, yang di lakukan oleh sekolompok orang yang mengadakan dzikir berjama’ah yang di pimpin oleh seorang syaikh yang mendapatkan teguran dari Abullah bin Mas’ud.
.
Imaam Ad-Daarimi dalam sunannya, jilid 1 halaman 68, dengan sanad dari al-Hakam bin al-Mubarak dari ‘Amr bin Yahya dari ayahnya dari datuknya (Amr bin Salamah) meriwayatkan, Abu Musa Al As’ari radhiyallahu ‘anhu, di riwayatkan memasuki masjid Kufah, lalu di dapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling). Pada setiap halaqah terdapat seorang syaikh, dan di depan mereka ada tumpukan kerikil, lalu syaikh tersebut menyuruh mereka,
.
كَبِّرُوا مِئَةً، فَيُكَبِّرُوْنَ مِئَةً، فَيَقُوْلُ: هَلِّلُوا مِئَةً، فَيُهَلِّلُونَ مِئَةً، فَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِئَةً، فَيُسَبِّحُونَ مِئَةً
.
“Bertakbirlah seratus kali !” Lalu mereka pun bertakbir seratus kali (menghitung dengan kerikil). Lalu syaikh itu berkata lagi, “Bertahlil” seratus kali” Dan mereka pun bertahlil seratus kali, kemudian syaikh itu berkata lagi, “bertasbih seratus kali”, lalu mereka pun bertasbih seratus kali.
.
Ibnu Mas’ud bertanya :
.
فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ ؟َ
.
Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka ?
.
Abu Musa menjawab :
.
مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتِظَارَ أَمْرِكَ
.
Aku tidak berkata apa-apa hingga aku menunggu apa yang akan engkau katakan atau perintahkan.
.
Ibnu Mas’ud berkata :
.
أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ، وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِهِم
.
Tidakkah engkau katakan kepada mereka agar mereka menghitung kesalahan mereka dan kamu jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan disia-siakan.
.
ثَمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلَقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ
.
Lalu Ibnu Mas’ud berlalu menuju masjid tersebut dan kami pun mengikuti di belakangnya hingga sampai di tempat itu.
.
Ibnu Mas’ud bertanya kepada mereka :
.
فَقَالَ : مَا هَذا الَّذِيْ أَرَاكُمْ تَصْنَعُوْنَ ؟
.
Benda apa yang kalian gunakan ini ?
.
Mereka menjawab :
.
قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًا نَعُدَّ بِهِ التَّكْبِيْرَ والتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيْحَ
.
Kerikil wahai Abu ‘Abdirrahman. Kami bertakbir, bertahlil, dan bertasbih dengan mempergunakannya
.
Ibnu Mas’ud berkata :
.
فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ
.
Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sedikitpun.
.
وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتكُمْ !
.
Celaka kalian wahai umat Muhammad !, betapa cepat kebinasaan/penyimpangan yang kalian lakukan.
.
هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُوْنَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَر
.
Para shahabat Nabi kalian masih banyak yang hidup. Sementara baju beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga belum lagi usang, bejana beliau belum juga retak.
.
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ
.
Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya ! Apakah kalian merasa berada di atas agama yang lebih benar daripada agama Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ataukah kalian akan menjadi pembuka pintu kesesatan ?”
.
Mereka menjawab :
.
. قَالُوا : وَاللهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ.
.
Wahai Abu ‘Abdirrahman, kami tidaklah menghendaki kecuali kebaikan.
.
Ibnu Mas’ud menjawab :
.
وَكَمْ مِنْ مُرِيْدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ تُصِيْبَهُ
.
“BETAPA BANYAK ORANG YANG MENGHENDAKI KEBAIKAN NAMUN TIDAK MENDAPATKANNYA”.
.
إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، وَايْمُ اللهِ مَا أَدْرِيْ لَعَلَّ أَكْتَرَهُمْ مِنْكُمْ،
.
Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada kami : “Akan ada segolongan orang yang membaca Al-Qur’an, namun apa yang dibacanya itu tidak melewati kerongkongannya”. Demi Allah, aku tidak tahu, boleh jadi kebanyakan dari mereka adalah sebagian diantara kalian.
.
Itulah kelompok dari umat Islam yang pertama kali mengada-adakan perkara baru dalam urusan ibadah (bid’ah). Dan sampai sa’at ini kebid’ahan semakin merajalela sulit dibendung seiring dengan bermunculannya firqoh-firqoh menyimpang dan sesat yang bermunculan di tengah-tengah umat.
.
Ahli ‘bid’ah tentu saja, seribu argumen akan mereka bawa untuk membela kebid’ahannya. Mereka akan membawa banyak dalil yang di cari-cari.
.
Dzikir itu baik, di perintahkan dalam Islam, lebih baik berdzikir dari pada membuang-buang waktu dan banyak lagi alasan yang biasa mereka katakan.
.
Lalu mengapa Ibnu Mas’ud menegur mereka yang sedang mengadakan dzikir berjama’ah, bukankah apa yang mereka lakukan itu baik ?
.
Apakah Ibnu Mas’ud tidak faham jika berdzikir itu adalah perkara yang baik ?
.
Ibnu Mas’ud menegur mereka yang mengadakan dzikir berjama’ah, adalah karena dzikir dengan cara seperti itu tidak pernah di lakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Bagaimana pula sikap Ibnu Mas’ud apabila menyaksikan umat Islam sa’at ini (kaum sufi) yang mengadakan dzikir bukan saja berjama’ah tapi juga dengan loncat-loncat, berjingkrak, menari, berputar dan lainnya ?
.
Silakan di liat bagaimana kaum sufi berdzikir,
.
● Dzikir breakdance ala sufi, https://youtu.be/1RJyZGDZC9A
.
● Dzikir loncat katak ala sufi, https://youtu.be/5h6Cby1w5zE
.
Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari amalan-amalan bid’ah yang akan menjadikan pelakunya sulit untuk bertaubat.
.
.
با رك الله فيكم
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏Mąŋţяί (Pecinta meong dan pengamat prilaku orang-orang menyimpang).
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
_________

MENYIMPANG SETELAH MENDAPAT HIDAYAH

MENYIMPANG SETELAH MENDAPAT HIDAYAH

لماذا ينتكس البعض بعد استقامته على طريق الهداية ؟؟؟

Mengapa ada sebagian orang yang justru berbalik (menyimpang) setelah ia konsisten di atas jalan hidayah (bahkan sebelumnya ia mendakwahkan sunnah)…??

قيل للشيخ ابن باز :

Syaikh Bin Baz pernah ditanya :

ياشيخ، فلان انتكس

Wahai Syaikh; si fulan berbalik (menyimpang)

قال الشيخ :

Syaikh berkata :

(لعل انتكاسته من أمرين :

Boleh jadi dia berbalik menyimpang karena dua hal :

إما أنه لم يسأل الله الثبات، أو أنه لم يشكر الله على الإستقامة)

Pertama, dia mungkin tidak pernah meminta kepada Allah agar diteguhkan (di atas alhaq), atau yang kedua, ia tidak bersyukur setelah diberikan keteguhan dan keistiqomahan oleh Allah.

فحين اختارك الله لطريق هدايته

Maka tatkala Allah telah memilihmu berjalan di atas jalan hidayah-Nya,

ليس لأنك مميز أو لطاعةٍ منك

camkanlah bahwa itu bukan karena keistimewaanmu atau karena ketaatanmu,

بل هي رحمة منه شملتك

melainkan itu adalah rahmat dari-Nya yang meliputimu

قد ينزعها منك في أي لحظة

Allah bisa saja mencabut rahmat tersebut kapan saja darimu

لذلك لا تغتر بعملك ولا بعبادتك

Oleh karena itu, jangan engkau tertipu dengan amalanmu, jangan pula disilaukan oleh ibadahmu

ولا تنظر باستصغار لمن ضلّ عن سبيله

Jangan engkau memandang remeh orang yang tersesat dari jalan-Nya

فلولا رحمة الله بك لكنت مكانه

Kalau bukan karena rahmat Allah padamu, niscaya engkau akan tersesat pula, posisimu akan sama dengan orang yang tersesat itu.

أعيدوا قراءة هذه الآية بتأنٍّ

Ulang-ulang lah membaca ayat berikut ini dengan penuh penghayatan

﴿ولوﻵ أن ثبتناك لقد كدت تركن إليهم شيئا قليلا﴾

“Andai Kami tidak meneguhkanmu (wahai Muhammad ﷺ), sungguh engkau hampir-hampir saja akan sedikit condong kepada mereka (orang-orang yang tersesat itu).”

إياك أن تظن أن الثبات على الإستقامة أحد إنجازاتك الشخصية …

Jangan pernah engkau menyangka, bahwa keteguhan di atas istiqomah, merupakan salah satu hasil jerih payahmu pribadi.

تأمل قوله تعالى لسيد البشر..

Perhatikan firman Allah kepada Pemimpin segenap manusia (Muhammad ﷺ) :

“ولولا أن ثبتناك”

“Kalau bukan Kami yang meneguhkanmu (wahai Muhammad ﷺ)…”

فكيف بك !!؟

Maka apalagi engkau…!!?

نحنُ مخطئون عندما نتجاهل أذكارنا

Kita sering keliru, manakala kita melupakan dzikir-dzikir kita

نعتقد أنها شيء غير مهم وننسى

Kita menyangka bahwa dzikir-dzikir itu tidak penting, sehingga kita pun melupakannya.

بأن الله يحفظنا بها، وربما تقلب الأقدار..

Kita lupa bahwa Allah akan menjaga kita karena dzikir-dzikir tersebut. Boleh jadi takdir Allah akan berbalik.

يقول ابن القيم :

Ibnu al-Qayyim berkata :

حاجة العبد للمعوذات أشدُ من حاجته للطعام واللباس..!

Kebutuhan hamba akan doa dan dzikir (agar Allah memberikan perlindungan), melebihi kebutuhannya akan makanan dan pakaian.

داوموا على أذكاركم لتُدركوا معنى :

Maka rutinkanlah membaca doa dan dzikir kalian, agar kalian meraih apa yang dijanjikan dalam sabda Rasulullah ﷺ :

احفظ الله يحفظك..

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjaga kalian”

تحصنوا كل صباح ومساء ؛

Niscaya kalian akan mendapatkan perlindungan pagi dan petang.

فالدنيا مخيفة .. وفي جوفها مفاجأت .. والله هو الحافظ لعباده

Dunia ini benar-benar menakutkan…. di lorongnya ada banyak hal yang menyentakkan… Allah, Dialah yang Maha Menjaga hamba-hamba-Nya.

Zainal Abidin bin Syamsuddin Lc, حفظه الله تعالى

_________________

TIGA MACAM IKHTILAF

TIGA MACAM IKHTILAF

Oleh : Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu

Di antara manusia ada yang mengatakan bahwa perbedaan adalah rahmat ?

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu menjawab : Perbedaan (ikhtilaf) ada tiga macam :

1. Ikhtilaf Al-Afham (perbedaan pemahaman).

Para shababat pernah mengalami perbedaan yang seperti ini. Bahkan ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu tetap makan (sahur) hingga jelas baginya perbedaan antara benang yang putih dengan benang yang hitam. Dia menaruh di bawah bantalnya, benang putih dan benang hitam, dan tetap makan (sahur), berdasarkan apa yang dia pahami dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

ﻭﻛﻠﻮﺍ ﻭﺍﺷﺮﺑﻮﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﺘﺒﻴﻦ ﻟﻜﻢ ﺍﻟﺨﻴﻂﺍﻷﺑﻴﺾ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﻂ ﺍﻷﺳﻮﺩ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam”. (QS. Al-Baqarah: 187).

Sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan ayat :

ﻣﻦ ﺍﻟﻔﺠﺮ

“Yaitu fajar”. (QS. Al-Baqarah: 187).

Ikhtilaful afham insya Allah tidak mengapa.

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu :

ﺇﻥ ﻭﺳﺎﺩﻙ ﻟﻌﺮﻳﺾ

“Sesungguhnya bantalmu lebar.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengatakan kepadanya : “Ulangilah (puasamu) pada hari-hari yang engkau makan (sahur setelah lewatnya fajar)”.

2. Ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan/keaneka ragaman tata cara).

Yakni, diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihiwa sallam ada beberapa macam cara/ bacaan tasyahud dalam shalat, juga ada beberapa macam bacaan shalawat atas Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam.

Ikhtilaf jenis ini, kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang jahil (bodoh). Dan keadaannya memang seperti yang beliau rahimahullahu katakan, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang jahil.

3. Ikhtilaf tadhad (perbedaan kontradiktif).

Apa itu ikhtilaf tadhad ?

Yaitu seseorang menyelisihi suatu dalil yang jelas, tanpa alasan. Inilah yang di ingkari oleh para salaf, yaitu menyelisihi dalil yang shahih dan jelas tanpa alasan.

Adapun hadits yang menjadi sandaran merekaya itu :

ﺍﺧﺘﻠﺎﻑ ﺃﻣﺘﻲ ﺭﺣﻤﺔ

“Perbedaan umatku adalah rahmat”.

Ini adalah hadits yang tidak ada sanad dan matannya. Munqathi’ (terputus sanadnya). Kata As-Suyuthi rahimahullahu dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shaghir. Beliau rahimahullahu juga berkata : “Mungkin saja ada sanadnya, yang tidak kita ketahui”. Namun hal ini akan berakibat tersia-siakannya sebagian syariat, sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu. Adapun tentang matan hadits ini, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :

ﻭﻻ ﻳﺰﺍﻟﻮﻥ ﻣﺨﺘﻠﻔﻴﻦ. ﺇﻻ ﻣﻦ ﺭﺣﻢ ﺭﺑﻚ

“Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang yang dirahmati Rabbmu”. (QS.Hud: 118-119).

Mafhum dari ayat yang mulia ini, bahwa orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu waTa’ala tidaklah berselisih. Sedangkan orang-orang yang tidak dirahmati Allah Subhanahu waTa’ala akan berselisih.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Ash-Shahihain dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :

ﺫﺭﻭﻧﻲ ﻣﺎ ﺗﺮﻛﺘﻜﻢ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﺃﻫﻠﻚ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻠﻜﻢﻛﺜﺮﺓ ﻣﺴﺎﺋﻠﻬﻢ ﻭﺍﺧﺘﻠﺎﻓﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﺒﻴﺎﺋﻬﻢ

“Biarkanlah aku dan apa yang aku tinggalkan untuk kalian. Hanyalah yang membinasakan orang-orang yang sebelum kalian adalah banyaknya mereka bertanya, dan banyaknya penyelisihan terhadap nabi-nabi mereka.”

Ini merupakan dalil bahwa ikhtilaf (perselisihan/perbedaan) adalah kebinasaan, bukan rahmat.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, di mana Ibnu Mas’ud dan salah seorang temannya berselisih tentang qira`ah (bacaan Al-Qur`an) :

ﻟﺎ ﺗﺨﺘﻠﻔﻮﺍ ﻛﻤﺎ ﺍﺧﺘﻠﻒ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻠﻜﻢ ﻓﺘﻬﻠﻜﻮﺍﻛﻤﺎ ﻫﻠﻜﻮﺍ

“Janganlah kalian berselisih sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah berselisih, sehingga kalian binasa sebagaimana mereka telah binasa.

”Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Shahih Muslim dari hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu :

ﺍﺳﺘﻮﻭﺍ ﻭﻟﺎ ﺗﺨﺘﻠﻔﻮﺍ ﻓﺘﺨﺘﻠﻒ ﻗﻠﻮﺑﻜﻢ

“Luruskan (shaf kalian), dan janganlah berselisih, sehingga hati-hati kalian akan berselisih”.

Dalam sebuah riwayat :

ﻟﺎ ﺗﺨﺘﻠﻔﻮﺍ ﻓﺘﺨﺘﻠﻒ ﻭﺟﻮﻫﻜﻢ

“Janganlah kalian berselisih, sehingga akan berselisihlah wajah-wajah kalian”.

Dalam Musnad Al-Imam Ahmad, Sunan Abu Dawud, dari hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu, disebutkan ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat para shahabatnya berpencar. Mereka singgah disebuah lembah, lalu setiap kelompok pergi ketempat masing-masing. Maka Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda :

ﺇﻥ ﺗﻔﺮﻗﻜﻢ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ

“Sesungguhnya bercerai-berainya kalian ini adalah dari setan”.

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berkumpul. Bila hal ini (terjadi) dalam tercerai-berainya fisik, maka apa sangkaanmu terhadap tercerai-berainya hati ?

Hadits-hadits tentang hal ini banyak sekali. Saya telah mengumpulkan sebagiannya dalam tulisan pendek yang berjudul Nashihati li Ahlus Sunnah dan telah tercantum dalam Hadzihi Da’watuna wa ‘Aqidatuna. Yang saya inginkan dari penjelasan ini, bahwa ikhtilaf termasuk kebinasaan.

Hanya saja ikhtilaf yang mana ?

Yaitu ikhtilaf tadhad yang dahulu diingkari oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat. Ikhtilaf tadhad (misalnya) :

– Disebutkan dalam Shahih Muslim dari hadits Salamah ibnul Akwa’, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang makan dengan tangan kirinya. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya : “Makanlah dengan tangan kanan”. Orang itu menjawab : “Aku tidak bisa”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi : “Engkau tidak akan bisa”. Maka orang itu tidak bisa mengangkat tangannya ke mulutnya. Tidak ada yang menghalanginya kecuali kesombongan.

– Dalam Ash-Shahih dari hadits Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menjenguk seorang lelaki tua yang sedang sakit. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya : “Thahur (Sakit ini sebagai penyuci)”. Namun lelaki tua itu justru berkata : “Demam yang hebat, menimpa seorang lelaki tua, yang akan mengantarnya ke kubur”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab : “Kalau begitu, benar”. Akhirnya dia terhalangi dari barakah doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

– Juga kisah seorang laki-laki yang telah kita sebutkan. Yaitu ketika ada dua orang wanita berkelahi, lalu salah seorang memukul perut yang lain, sehingga gugurlah janinnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan agar wanita yang memukul membayar diyat berupa seorang budak. Maka datanglah Haml bin Malik An-Nabighah dan berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimana kami membayar diyat (atas kematian seseorang) yang tidak makan dan tidak minum, tidak bicara tidak pula menangis – atau kalimat yang semakna dengan ini –, yang seperti ini tidak di tuntut diyatnya”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam marah, karena lelaki itu hendak membatalkan hukum Allah dengan sajaknya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

ﺇﻧﻤﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺇﺧﻮﺍﻥ ﺍﻟﻜﻬﺎﻥ

“Orang ini termasuk teman-teman para dukun. ”Yaitu karena sajaknya. Adapun pengingkaran para ulama terhadap orang yang menolak Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan akalnya, merupakan perkara yang kesempatan ini tidaklah cukup untuk menyebutkannya.

Saya telah menyebutkan sebagiannya dalam akhir risalah Syar’iyyatu Ash-Shalati bin Ni’al, juga dalam Rudud Ahlil ‘Ilmi ‘ala Ath-Tha’inin fi HaditsAs-Sihr.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

[Diambil dari Ijabatus Sa`il, hal. 518-521].

_____________

6 PENYEBAB PERBEDA’AN PENDAPAT ULAMA

6 PENYEBAB PERBEDA’AN PENDAPAT ULAMA

Perbedaan pendapat ulama dalam menetapkan hukum syar’iyah tidak hanya terjadi antar madzhab, perbedaan pendapat ulama ini juga terjadi dalam lingkungan madzhab mereka. Banyak orang mengingkari perbedaan pendapat ulama ini, disebabkan keyakinannya yang menyatakan bahwa agama ini satu, syariat juga satu, kebenaran itu satu tidak bermacam-macam dan sumber hukum hanya satu yaitu wahyu ilahi. Selanjutnya mereka mengatakan, mengapa harus ada perbedaan pendapat, dan mengapa madzhab-madzhab fiqh tidak menyatu ?.

Mereka menyangka bahwa perbedaan pendapat ulama akan berakibat terjadinya benturan-benturan dalam syariah dan perpecahan, dan menyamakan perbedaan pendapat ini sama seperti perpecahan yang terjadi dalam tubuh agama Kristen yang terpecah menjadi Ortodoks, Katolik dan Protestan. Semuannya ini adalah kesalah pahaman yang batil.

Perlu diketahui bahwa perbedaan pendapat ulama merupakan rahmat yang memberikan kemudahan bagi umat Islam, menjadi kekayaan intelektual yang besar yang dapat dibanggakan. Perbedaan pendapat ini hanya sebatas perbedaan far’iyah (cabang) dan metode ilmiah, bukan dalam ushul, pondasi agama dan i’tikad. Dalam sejarah Islam, tidak ditemukan bahwa perbedaan pendapat ini menjadi biang perpecahan, permusuhan dan pengoyak kesatuan muslimin.

Perlu dijelaskan bahwa perbedaan ulama hanya sebatas akibat dari perbedaan metode pengambilan hukum yang menjadi kebutuhan pasti dalam dalam memahami hukum dari dalil-dalil syariah, seperti perbedaan dalam masalah penafsiran nash-nash hukum berikut penjelasan-penjelasan yang dilakukan. Hal ini disebabkan karakter bahasa Arab yang terkadang mempunyai makna lebih dari satu, juga disebabkan riwayat hadits, kwalitas keilmuan ulama, atau disebabkan adanya upaya ulama tertentu dalam menjaga kemaslahatan dan kebutuhan secara umum.

Semua penyebab perbedaan tidak menafikan sumber hukum syariah yang satu dan kesatuan syariah itu sendiri, karena pada dasarnya perbedaan dalam syariah itu tidak ada. Perbedaan pendapat hanya disebabkan oleh kelemahan manusia. Akan tetapi kita boleh mengamalkan satu hukum dari pendapat-pendapat yang bebeda, untuk menghilangkan kesulitan dalam umat dimana tidak ada jalan lain setelah terputusnya wahyu, kecuali mengambil apa yang terkuat dari sebuah dugaan para ulama terhadap apa yang mereka pahami dari dalil-dalil syara’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إذا اجتهد الحاكم فأصاب فله أجران، وإن أخطأ فله أجر واحد

“JIka seorang hakim berijtihad lalu benar, maka baginya dua pahala. Dan jika salah maka baginya satu pahala”. (Hadits Muttafaq Alaih).

Berikut adalah enam penyebab penting perbedaan pendapat ulama dalam mengambil hukum syariah :

1. Perbedaan Dalam Memaknai lafadz-lafadz Arabiah.

Perbedaan dalam memberikan makna ini disebabkan oleh bentuk lafadz yang global (mujmal), mempunyai banyak makna (musytarak), mempunyai makna yang tidak bisa dipastikan khusus atau umumnya, haqiqah dan majaznya, haqiqah dan ‘urufnya, atau disebabkan mutlaq atau muqayyadnya, atau perbedaan I’rab. Contoh simpel dari penyebab ini adalah pemaknaan lafadz “al-Qur’u”, apakah dimaknai suci atau haid. Juga seperti lafaz amr (perintah), apakah menunjukkan wajib atau sunat. Dan masih banyak contoh yang lain.

2. Perbedaan Riwayat

Perbedaan riwayat hadits yang menjadi rujukan hukum diakibatkan oleh beberapa hal.

Pertama : Adalah adanya hadits yang hanya sampai kepada satu mujtahid dan tidak sampai pada mujtahid yang lain.

Kedua : Adalah sampainya satu hadits kepada seorang mujtahid dengan sanad yang dla’if, sementara hadits tersebut sampai kepada mujtahid yang lain dengan sanad yang shahih.

Ketiga : Seorang mujtahid berpendapat bahwa terdapatnya perawi dhaif dalam riwayat sabuah hadits membuat hadits tidak dapat diterima, sedangkan mujtahid yang lain tidak demikian.

3. Adanya Perbedaan Dasar hukum

Perbedaan dasar hukum yang dimaksud ialah dasar hukum selain al-Quran, hadits dan ijma’, seperti Istihsan, mashalih mursalah, qaul shahabi, istishab dan sadd al-dzariah

4. Perbedaan dalam Kaidah-kaidah usul

Perbedaan ini seperti perbedaan pendapat tentang digunakannya kaidah “al-‘am al-makhsush laisa bihujjah/lafadz yang bermakna khusus yang dikhususkan tidak dapat dijadikan hujjah”, “Al-mafmun laisa bi hujjah/kepahaman konteks tidak bisa dijadikan hujjah” dan lain-lain.

5. Ijtihad Menggunakan Qiyas.

Ini adalah penyebab yang paling luas, dimana ia mempuyai dasar, syarat dan illat. Illat pun juga mempunyai syarat dan tata cara dalam mengaplikasikannya. Semua ini menjadi potensi bagi timbulnya perbedaan.

6. Pertentangan Dasar Hukum berikut Tarjihnya

Masalah ini sangat luas yang menjadi perbedaan pandangan dan menimbulkann banyak perdebatan. Masalah ini membutuhkan ta’wil, ta’lil, kompromi (jam’u), taufiq, naskh dan lain-lain.

Dengan penjelasan ini dapat diketahui bahwa hasil ijtihad para imam madzhab tidak mungkin untuk diikuti semua, meskipun boleh dan wajib mengamalkan salah satunya. Semua perbedaan adalah masalah ijthadiyah, dan pendapat-pendapat yang bersifat dzanni (dugaan), yang harus dihormati dan dianggap sama. Amatlah salah jika perbedaan tersebut menjadi pintu timbulnya fanatisme, permusuhan dan perpecahan diantara kaum muslimin yang telah disifati dalam al-Qur’an sebagai umat yang bersaudara dan diperintah untuk berpegang teguh kepada tali Allah.

Wallahul Musta’an

Sumber : Al-Fiqh Al-Islamy Wa Adillatuh, Wahbah Zuhaili, Juz. 1 hlm: 83-88

_____________

MENELADANI SHALAFUS SHALIH DALAM MENJAGA KEIKHLASAN DALAM BERAMAL

MENELADANI SHALAFUS SHALIH DALAM MENJAGA KEIKHLASAN DALAM BERAMAL

Semua umat Islam tentu berharap, apabila amal ibadah yang dilakukannya diterima oleh Allah Ta’ala. Karena diantara tujuan dari ibadah adalah mengharap ridho dan pahala, tidak mengharapkan kesia-sia’an. Namun ternyata tidak semua amal ibadah yang dilakukan manusia akan di terima, karena syarat di terimanya amal ibadah adalah ikhlas, semata-mata mengharap ridho Allah Ta’ala. Tidak mengharapkan pujian dan sanjungan dari manusia di samping sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perlunya keikhlasan dalam ibadah di sebutkan Allah Ta’ala dalam Firman-nya :

الَّذِي خلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“(Allah-lah) yang menciptakan kematian dan kehidupan supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalannya”. (QS Al-Mulk: 2).

Fudhail bin ‘Iyaad rahimahullah seorang Tabi’in yang agung mengatakan ketika menafsirkan Firman Allah, (yang artinya) “yang lebih baik amal ibadahnya” maksudnya adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar (paling mencocoki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan showab. Amalan dikatakan ikhlas apabila dikerjakan semata-mata karena Allah. Amalan dikatakan showab apabila mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Ma’alimut Tanziil [Tafsir Al-Baghowi] terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh).

Para Shalaf sebagai generasi terbaik umat Islam, mereka benar-benar memahami pentingnnya ikhlas dalam beramal. Mereka sangat khawatir terselip perasa’an riya yang dapat menghanguskan nilai amal salih. Para Shalaf sekuat tenaga menyembunyikan amal soleh mereka dari perhatian manusia.

Berikut ini beberapa riwayat para Shalafus Shalih dalam menyembunyikan amal soleh mereka yang patut kita teladani.

۞ Ar Robi bin Khutsaim murid ‘Abdullah bin Mas’ud tidak pernah mengerjakan shalat sunnah di masjid kaumnya kecuali hanya sekali saja. (Az Zuhud, Imam Ahmad, 5/60, Mawqi’ Jami’ Al Hadits).

Ar Robi bin Khutsaim khawatir orang-orang mengenalnya sebagai ahli ibadah, kemudian mereka menyanjungnya.

۞ Ayub As Sikhtiyaniy memiliki kebiasaan bangun setiap malam. Ia pun selalu berusaha menyembunyikan amalannya. Jika waktu shubuh telah tiba, ia pura-pura mengeraskan suaranya seakan-akan ia baru bangun ketika itu. (Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim Al Ash-bahaniy, 3/8, Darul Kutub Al ‘Arobiy, Beirut).

۞ Ali bin Al Husain bin ‘Ali biasa memikul karung berisi roti setiap malam hari. Beliau pun membagi roti-roti tersebut ke rumah-rumah secara sembunyi-sembunyi. Beliau mengatakan,

إِنَّ صَدَقَةَ السِّرِّ تُطْفِىءُ غَضَبَ الرَّبِّ عَزَّ وَ جَلَّ

“Sesungguhnya sedekah secara sembunyi-sembunyi akan meredam kemarahan Rabb ‘azza wa jalla”.

Penduduk Madinah tidak mengetahui siapa yang biasa memberi mereka makanan. Ketika Ali bin Al Husain meninggal dunia, mereka tidak lagi mendapatkan kiriman makanan setiap malamnya. Penduduk Madinah baru mengetahui yang memberi mereka makanan adalah Ali bin Al Husain setelah mengetahui di punggung Ali bin Al Husain terlihat bekas hitam karena seringnya memikul karung yang dibagikan kepada orang miskin Madinah di malam hari. (Hilyatul Auliya’, 3/135-136).

۞ Daud bin Abi Hindi berpuasa selama 40 tahun dan tidak ada satupun orang, termasuk keluarganya yang mengetahuinya. Ia adalah seorang pedagang kain di pasar. Di pagi hari, ia keluar ke pasar sambil membawa sarapan pagi. Dan di tengah jalan menuju pasar, ia pun menyedekahkannya. Kemudian ia pun kembali ke rumahnya pada sore hari, sekaligus berbuka dan makan malam bersama keluarganya. (Shifatus Shofwah, Ibnul Jauziy, 3/300, Darul Ma’rifah, Beirut, cetakan kedua, 1399 H).

۞ Ibrahim bin Ad-ham diajak makan (padahal ia sedang puasa), ia pun ikut makan dan ia tidak mengatakan, “Maaf, saya sedang puasa”. (Ta’thirul Anfas, hal. 246).

Ibrahim bin Ad-ham sampai membatalkan puasa sunnahnya karena khawatir orang-orang mengetahui kalau ia sedang berpuasa. Ibrahim bin Ad-ham tidak ingin di kenal sebagai ahli ibadah yang rajin puasa, dan orang-orang memujinya.

۞ Ar-Robi’ bin Khutsaim tidak suka apabila sedang membaca Al-Qur’an ada orang yang mengetahuinya. Jika ada orang yang akan menemuinya, dan Ar Robi’ bin Khutsaim sedang membaca mushaf Al-Qur’an, ia pun segera menutupi mushaf Al-Qur’an yang sedang ia baca dengan bajunya. (Hilyatul Awliya’, 2/107, Darul Kutub ‘Arobiy, cetakan keempat, 1405 H).

۞ Begitu pula halnya dengan Ibrahim An-Nakho’i. Jika ia sedang membaca Al-Qur’an, lalu ada yang masuk menemuinya, ia pun segera menyembunyikan Al-Qur’annya. (Ta’thirul Anfas, hal. 246).

Para Shalaf di masa lalu sampai berpura-pura sedang terkena pilek untuk menutupi tangisannya apabila mendapati ayat-ayat Allah Ta’ala yang mengandung ancaman.

۞ Ayub As-Sikhtiyaniy mengusap wajahnya, lalu ia berkata, “Aku mungkin sedang pilek berat.” Tetapi sebenarnya ia tidak pilek, namun ia hanya ingin menyembunyikan tangisannya (karena takut kepada Allah Ta’ala). (Ta’thirul Anfas, hal. 248).

۞ Abu As-Sa ib menampakkan senyumannya di hadapan manusia. Padahal ia sedang menangis ketika mendengar baca’an Al-Qur’an atau hadits. Ia tidak ingin tangisannya di ketahui manusia. (Ta’thirul Anfas, hal. 251).

Itulah beberapa riwayat para Shalafus Shalih dalam menyembunyikan amal soleh. Mereka sangat khawatir amal-amal soleh yang mereka lakukan hangus tidak ada nilainya di hadapan Allah Ta’ala karena terselip perasa’an riya di dalam hati.

Apabila kita perhatikan pada sa’at ini, banyak manusia yang senang mempublikasikan ibadah-ibadah atau amal soleh mereka, sungguh jauh berbeda dengan para Shalafus Shaleh. Perbeda’an ini akibat pemahaman mereka yang jauh berbeda. Para Shalafus Shaleh sangat memahami pentingnya ke ikhlasan dalam ibadah.

Sungguh rugi mereka yang beramal saleh tapi mengharapkan puja-puji dan sanjungan manusia.

با رك الله فيكم

By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/01-islam-dakwah-tauhid/01-islam-sudah-sempurna

_________________

SETAN MENANAMKAN PERASA’AN KHUSYU’ KEPADA AHLI BID’AH

SETAN MENANAMKAN PERASA’AN KHUSYU’ KEPADA AHLI BID’AH
.
Tidak perlu heran apabila kita melihat para pelaku bid’ah, mereka begitu khusyu’ dalam mengerjakan amalan-amalan bid’ahnya. Menangis dalam dzikir-dzikir bid’ahnya dan suka cita dalam nyanyian dan tarian-tarian bid’ahnya. Mereka juga begitu bersemangat dalam acara-acara dan peraya’an-peraya’an bid’ahnya. Sehingga segala rupa amalan dan peraya’an bid’ah yang merebak di tengah-tengah umat sulit di bendung. Bahkan mereka melakukan perlawanan dan menunjukkan permusuhannya dengan caci-maki ketika di nasehati dan di peringatkan.
.
Nabila Dzaki Al-Imam Al Auzaa’iy rahimahullah berkata : “Telah sampai kepadaku bahwa, siapa yang membuat buat bid’ah sesat, maka syaithan akan membuat dirinya senang beribadah, dan menanamkan didalam hatinya kekhusyuan dan tangisan agar syaithan bisa lebih menanamkan bid’ah pada dirinya”. (Al’-Itishaam 1/125 ).
.
Silahkan di lihat bagaimana para pelaku bid’ah begitu khusyu dalam kebid’ahannya.
.
https://youtu.be/BkW1dQyzyl0
.
.
____________________