TERBONGKARNYA KEJAHATAN PARA PENYESAT UMAT

TERBONGKARNYA KEJAHATAN PARA PENYESAT UMAT
.
Akhir-akhir ini ramai di beritakan di media masa, baik media elektronik maupun surat kabar seorang yang di panggil Kyai oleh para pengikut dan pemujanya membunuh dua santrinya.
.
“KYAI PENGGANDA UANG BUNUH DUA SANTRINYA”. Begitu diantara judul yang di tulis di media masa.
.
Sang Kyai yang menjadi otak pembunuhan bernama Dimas Kanjeng Ta’at Pribadi (46).
.
Motif pembunuhannya sebagaimana diberitakan di media masa, karena khawatir perbuatannya di bongkar oleh korban yang sudah mulai sadar bahwa yang di lakukan Kyainya adalah penipuan.
.
“Memang ada duga’an semacam ketidak nyamanan dari Ta’at Pribadi. Ada kekhawatiran dia terhadap dua orang ini,” kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar di Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Selasa (27/9/2016).
.
Nilai kerugian para korban sungguh fantastis. Diantaranya Hajjah Najmiah Muin yang menyerahkan uang sekitar Rp 200 miliar kepada Kyai Kanjeng Dimas Taat Pribadi, yang di janjikan akan berlipat ganda menjadi Rp 18 triliun.
.
Korban penipuan lainnya bernama Kasianto, warga Surabaya yang menyerahkan uang mahar Rp 300 juta hasil dari menjual perhiasan istrinya dan sebagian lagi hasil pinjaman.
.
Hajjah Najmiah Muin dan Kasianto belum sempat menikmati hasil yang mereka harapkan, karena maut sudah menjemput mereka. Dan memang tidak akan mendapatkan hasilnya, karena mereka adalah korban penipuan.
.
Korban penipuan Kyai Kanjeng Dimas Ta’at Pribadi bukan hanya satu dua orang, menurut pemberita’an di media masa korbannya mencapai puluhan orang dari berbagai tempat di Indonesia dengan jumlah uang yang di tipu bervariasi.
.
Berita di tangkapnya Kyai Dimas Kanjeng Ta’at Pribadi menjadi perhatian publik, padahal sebelumnya publik juga di hebohkan oleh pemberita’an di tangkapnya Gatot Brajamusti seorang guru spiritualnya artis.
.
Gatot Brajamusti di tangkap pada Minggu (28/8) malam di salah satu hotel di Lombok NTB bersama seorang wanita yang di kenal sebagai selebritis.
.
Berdasarkan informasi dari masyarakat, tersangka sang guru sepiritual dan pengikutnya sering melakukan pesta sabu dan narkoba.
.
Dari pengakuan wanita selebritis yang di tangkap bersama Gatot Brajamusti, polisi mendapatkan beberapa bukti baru. Salah satunya kebenaran mengenai pemerkosa’an yang dilakukan oleh sang guru spiritual Gatot Brajamusti.
.
Pihak kepolisian menyebutkan, sejauh ini, hanya ada satu korban yang baru melapor, yaitu wanita berinisial CT. Wanita itu mengaku disetubuhi oleh Gatot Brajamusti selama bertahun-tahun. Namun rupanya, polisi menemukan bukti-bukti baru.
.
Menurut penuturan dari keluarga seorang artis wanita yang sempat hampir 10 tahun akrab dengan sang guru spiritual Gatot Brajamusti, para penghuni padepokan sering menggunakan sabu-sabu. Gatot menyebutnya asmat, yaitu makanan jin. Yang gunanya untuk mendapatkan kekuatan dan ketenangan lahir batin.
.
Dalam penggeledahan di rumah sang guru spiritual para artis Gatot Brajamusti, polisi menemukan narkotika jenis sabu, sejumlah alat hisap, berbagai macam amunisi berikut senjata api, dan sejumlah hewan yang dilindungi.
.
Itulah diantara dua rangkaian berita menggegerkan yang di sajikan media masa pada tahun 2016.
.
Kasus penipuan oleh orang yang di anggap hebat oleh para korbannya yang di beritakan media masa, bukanlah berita baru.
.
Kita masih ingat dengan kasus Ustadz Guntur Bumi (UGB) pemilik Padepokan Silahturahmi, yang pernah tergabung dalam acara reality show televisi berjudul Pemburu Hantu, yang telah melakukan penipuan berkedok pengobatan alternatif.
.
Diantara korban penipuan UGB bernama Hj. Yarnelly yang menyetorkan 32 gram emas plus pembayaran 1 juta rupiah uang pendaftaran untuk mengobati sakit di kakinya yang menurut UGB terkena santet. Sebelumnya UGB memberikan syarat untuk menyembuhkan kaki Hj. Yarnelly dengan mengkhatamkan 30 juz Al-Quran sebelum bedug Subuh. Kalau tidak mampu, bisa dengan cara di wakili oleh para santri UGB dengan memberikan imbalan sejumlah uang Rp 25 juta.
.
Pelapor lainnya bernama Irfani yang di katakan UGB terkena gendam. Untuk menghilangkan penyakit aneh itu, UGB menganjurkan Irfani membersihkan rumah dan membayar mahar Rp 75 juta.
.
Pelapor lainnya lagi adalah Abdul Hakim, warga Balikpapan yang di minta UGB membeli seekor kerbau seharga Rp 250 juta. Untuk memindahkan penyakit ayahnya kepada kerbau. Total Abdul Hakim mengeluarkan uang Rp 950 juta kepada UGB. Selain itu, Guntur Bumi juga dituding Hakim mengambil 15 gelang dan 4 cincin emas dengan berat 250 gram milik istri Hakim yang sebelumnya diletakkan di kamar.
.
Dan pelapor lainnya lagi bernama Sri Suryami warga Bogor yang menyerahkan uang Rp 25 juta kepada UGB hasil menjual angkot anaknya untuk menyembuhkan penyakit jantung yang di deritanya.
.
Itulah diantara para korban yang melaporkan UGB karena merasa tertipu. Dan menurut pemberita’an di media masa korban penipuan UGB mencapai puluhan orang.
.
Menurut para pelapor, sa’at berobat kepada UGB keluar dari tubuhnya, ulat besar, kecoa, kawat-kawat kecil, kayu-kayu kecil yang tajam dan lain-lain.
.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Rikwanto mengungkapkan, unsur tindak penipuan terhadap tersangka UGB terpenuhi karena binatang seperti ulat, kecoa dan lainnya tidak datang sendiri namun telah disiapkan.
.
Sungguh kejahatan yang besar yang di lakukan para penipu di atas yang layak mendapatkan sangsi hukum
yang berat.
.
Sungguh mengenaskan mereka yang menjadi korban penipuan. Padahal mereka semua adalah orang Islam. Yang seharusnya tidak tertipu dan terpedaya. Karena Islam menjamin keselamatan dunia dan akhirat.
.
Sa’at ini manusia hidup di abad 21, zamannya kemajuan sain dan teknologi. Bukan hidup di zaman batu, yang bisa di maklumi kalau ada manusia yang mudah tertipu.
.
Yang di ketahui dari pemberita’an, korban penipuan juga banyak dari kalangan orang-orang yang memiliki status sosial terhormat dan berpendidikan tinggi. Mereka seharusnya lebih cerdas dan rasional. Tidak tolol dan bisa di bodohi. Tidak seperti bebek yang mudah di giring-giring atau kerbau yang di cokok hidung, selalu nurut dibawa kemana pun pergi.
.
• Kebodohan terhadap ajaran agama adalah penyebab utamanya.
.
Yang menjadi penyebab banyaknya orang-orang tertipu sa’at ini juga di masa lalu, adalah karena kebodohan mereka terhadap ajaran Islam yang benar.
.
Mereka para korban kejahatan penipuan di atas, adalah karena jauhnya mereka dari bimbingan para Ulama yang membimbing umat dari kebodohan dan penyimpangan. Para Ulama yang menerangi umat dengan ajaran yang menyelamatkan bukan menyesatkan. Para Ulama yang menyeru umat untuk menghidupkan dan mencintai sunah Nabi dan meninggalkan aneka ragam ajaran bid’ah. Para Ulama yang mengajak umat untuk menegakkan Tauhid dan menjauhi ke syirikan.
.
Mereka para korban penipuan, adalah orang-orang-orang yang gemar melakukan ritual-ritual juga acara-acara dan amalan-amalan bid’ah.
.
Mereka para korban penipuan adalah orang-orang yang masih percaya dengan aneka macam takhayul dan ke syirikan.
.
Mereka para korban penipuan, adalah para muqollid yang selalu nurut apa yang di katakan atau di ajarkan kyainya, gurunya atau ustadznya. Bagi mereka, kyai, guru dan ustadznya adalah orang hebat yang mustahil berbuat salah.
.
Maka apabila demikian, sudah sepantasnya mereka mendapatkan kehina’an dan kehancuran di dunia dan akhirat kelak. Karena ajaran yang mereka ikuti, bukan ajaran Islam yang benar. Tapi ajaran para penyesat umat, ajaran yang datangnya dari setan yang mencelakakan.
.
• Ajaran Islam yang benar yang akan membawa keselamatan.
.
Dari sekian banyak korban penipuan di atas, TIDAK AKAN DI TEMUKAN SEORANG PUN PENGIKUT AJARAN ISLAM YANG BENAR, YANG MENJAUHI TAKHAYUL, BID’AH DAN KE SYIRIKAN yang menjadi korban penipuan.
.
Hanya yang mengikuti ajaran Islam yang benar, ajaran Islam yang murni, ajaran Islam yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya yang benar-benar akan selamat dunia dan akhirat kelak.
.
Adapun mereka para pelaku bid’ah dan ke syirikan akan menanggung kehina’an dan adzab serta laknat baik di dunia dan akhirat nanti.
.
Dan mereka para pelaku bid’ah akan semakin jauh dari Allah Ta’ala. Sebagaimana dikatakan oleh seorang tabi’in,
.
مَا ازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اِجْتِهَاداً، إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً {حلية الأولياء – (ج 1 / ص 392)}
.
“Semakin giat pelaku bid’ah dalam beribadah, semakin jauh pula ia dari Allah”. (Hilyatul Auliya’, 1/392).
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
مَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (متفق عليه)
.
“Barangsiapa berbuat bid’ah didalamnya, atau melindungi pelaku bid’ah, maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya”. (Muttafaq ‘Alaih).
.
Betapa besar kerugian yang akan di tanggung para pelaku bid’ah dan ke syirikan baik di dunia maupun di akhirat.
.
Semoga dengan terungkapnya kejahatan para penyesat umat. Bisa membuka mata hati mereka yang selama ini masih bergelimang dengan takhayul, bid’ah, khurafat dan kesyirikan dan segera meninggalkannya dan bertaubat, kemudian berpaling kepada ajaran Islam yang murni. Ajaran Islam yang menyelamatkan di dunia dan akhirat. Sebelum maut mendatangi mereka. Aamiin.
.
.
با رك الله فيكم.
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί.
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
HATI-HATI DARI PARA PENYESAT UMAT, SESUNGGUHNYA MEREKA ADALAH SETAN DARI JENIS MANUSIA.
.
.
Sumber berita :
.
http://nasional.kompas.com/read/2016/09/27/16153681/dimas.kanjeng.diduga.bunuh.santri.karena.khawatir.kejahatannya.dibongkar
.

Tongkat Emas Pemberian Kanjeng Dimas Bertahta Berlian

.
http://m.detik.com/news/berita/d-3312334/korban-penipuan-dimas-kanjeng-terus-bermunculan-kali-ini-warga-surabaya
.
https://m.detik.com/news/berita/3285583/polisi-tangkap-aa-gatot-brajamusti-terkait-narkoba
.
http://m.antaranews.com/berita/432712/ustad-guntur-bumi-ditangkap-tadi-pagi
.
http://www.sayangi.com/gayahidup1/selebriti/read/19628/puluhan-orang-geruduk-mui-saat-rapat-kasus-guntur-bumi
.
.
——————-

PEMECAH BELAH UMAT YANG SEBENARNYA

PEMECAH BELAH UMAT YANG SESUNGGUHNYA

Pemecah belah umat, anti persatuan, suka ngajak ribut, intoleran, biang kerok dan banyak lagi kata-kata semacam itu yang dituduhkan kepada pihak yang menyeru umat untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni, ajaran Islam yang tidak dinodai dengan beragam kepercaya’an takhayul, bid’ah dan kesyirikan.

Tidak aneh dengan tuduhan seperti itu, bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dahulu dikatakan pemecah belah oleh orang-orang yang menentangnya ?

Siapa sesungguhnya pemecah belah umat ?

Sangat memprihatinkan perselisihan terjadi diantara umat Islam, yang seolah-olah mereka tidak akan bisa dipersatukan. Padahal kiblat mereka sama, Nabinya sama yang di ibadahi juga sama, yaitu Allah Ta’ala.

Apa yang menjadikan umat Islam terus berselisih ?

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَا تَتَّبِعُوۡا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ وَصّٰٮكُمۡ بِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ‏

“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain karena itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS.Al-An’am, 153).

Yang dimaksud jalan-jalan lain dalam ayat diatas yaitu, macam-macam bid’ah dan syubhat. Sebagaimana di terangkan oleh Imam Mujahid rahimahullah dalam tafsirnya, Beliau berkata : “Jalan-jalan dengan aneka macam bid’ah dan syubhat”. (Jami’ul Bayan V/88).

Setelah menyebutkan beberapa dalil-dalil bahwa bid’ah adalah pemecah belah ummat, Imam Asy-Syatibi rahimahullaahu ta’ala berkata : “Semua bukti dan dalil ini menunjukan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan.” (Al- I’tisham,I/157).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala pernah berkata : “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.” (al-Istiqamah, I/42).

Dari keterangan para Ulama diatas, maka jelaslah sesungguhnya terjadinya perselisihan sehingga umat terpecah belah dan saling bermusuhan adalah diakibatkan adanya orang-orang yang membuat bid’ah ditengah-tengah umat.

Apabila tidak ada yang membuat-buat perkara baru dalam agama (bid’ah), maka niscaya umat Islam pun akan utuh dalam persatuan diatas kemurnian Islam berdasarkan petunjuk Allah Ta’ala dan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________

JANGAN MEMECAH BELAH PERSATUAN UMAT ?

JANGAN MEMECAH BELAH PERSATUAN UMAT ?

Ketika memperingatkan orang untuk menjauhi amalan-amalan baru dalam urusan agama (bid’ah), kadang mendapatkan ucapan misalnya ;

“JAGA PERSATUAN SESAMA MUSLIM, JANGAN MENGUSIK AMALAN ORANG LAIN“

Ucapan seperti itu sepertinya baik padahal batil. Apakah dengan alasan persatuan kita biarkan bid’ah merajalela, penyimpangan mewabah dimana-mana ?

Sebagian orang memandang persatuan sebagai sesuatu yang harus diutamakan dari mengingkari bid’ah yang mereka anggap akan memecah belah persatuan umat.

Perlu difahami !

Persatuan dalam pandangan islam tidaklah sama dengan persatuan ala demokrasi yang lebih mengutamakan persatuan tapi tidak memperhatikan keyakinan, demokrasi memandang bahwa jumlah mayoritaslah yang harus dijadikan pegangan, walaupun ternyata pendapat mayoritas tersebut berseberangan dengan Allah dan Rasul-Nya.

Pemahaman ini banyak menghinggapi pemikiran kaum muslimin, sehingga orang yang tidak mau mengikuti mayoritas dianggap telah merusak persatuan.

Bagi kaum muslimin untuk bersatu, maka ada beberapa hal yang harus dipertanyakan.

– Diatas apa kita bersatu ?
– Untuk apa kita bersatu ?

Masalah pertama, Cobalah kita renungkan ayat berikut ini :

وَ أَنَّ هَذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ

“Dan inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah dan jangan kamu ikuti jalan-jalan lainnya, niscaya (jalan-jalan lain tersebut) memecah belah kalian dari jalannya…”. (Al An’am : 153).

Rosulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam membuat garis lurus dan bersabda : ”ini adalah jalan yang lurus“. Kemudian Beliau membuat garis-garis disamping kiri dan kanannya dan bersabda : ”ini adalah jalan-jalan lainnya, disetiap jalan itu ada setan yang menyeru kepadanya“. Kemudian Beliau membaca ayat tadi diatas. (Muttafaq ‘alaihi dari hadits Ibnu Mas’ud).

Imam Mujahid seorang ahli tafsir di zaman Tabi’in menerangkan bahwa yang dimaksud dengan jalan-jalan lainnya adalah bid’ah dan Syubhat (tafsir Ibnu Katsir).

Maka ayat diatas sangat jelas menyatakan bahwa persatuan haruslah diatas satu jalan, yaitu jalan yang lurus. Dan jalan yang lurus itu adalah jalan Rosulullah dan para sahabatnya.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, ketika Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa umat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan, satu masuk surga dan yang lainnya masuk neraka, beliau menjelaskan tentang satu golongan yang selamat tersebut yaitu : “Apa-apa yang dipegang olehku dan para sahabatku pada hari ini“.

Jadi persatuan dalam islam maknanya bersatu diatas jalan Rosulullah dan para sahabatnya. Maka siapa saja yang berjalan diatas jalan yang lurus yaitu jalannya Rosulullah dan para sahabatnya maka ia telah bersatu padu walaupun jumlahnya sedikit, dan siapa saja yang menyimpang dari jalan tersebut dan mengikuti jalan-jalan lainnya maka ia telah berpecah belah walaupun jumlahnya banyak.

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman :

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai“. (QS Ali Imran : 103).

Apa yang dimaksud dengan tali Allah ?

Yang dimaksud dengan tali Allah adalah Al-Qur’an.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض

“Kitab Allah (Al-Qur’an) adalah tali Allah yang diturunkan dari langit ke bumi”. (Sunan Tirmidzi, 3788).

Maka ayat diatas memerintahkan untuk bersatu berdasarkan Al-Qur’an.

Masalah kedua, Untuk apa kita bersatu ?

Kita diperintahkan bersatu adalah untuk meninggikan Islam, bukan selainnya.

Bukan meninggikan jama’ah tertentu, partai, kiyai atau ustadz atau madzhab tertentu dan lainnya.

Karena hal itu hanya akan mencerai beraikan kaum muslimin dan menjadi terkotak-kotak, dan inilah yang dimaksud ayat :

وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنَ المُشْرِكِيْنَ مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang musyrikin. (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka sedangkan mereka berkelompok-kelompok setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka “. (Ar-Rum : 31-32).

Di dalam At Tafsiirul muyassar (hal 407) diterangkan makna ayat tersebut :
”(maksudnya) janganlah kalian seperti kaum musyrikin, ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu yang merubah-rubah agama, mereka mengambil sebagian agama dan meninggalkan sebagian lainnya karena mengikuti hawa nafsu, sehingga merekapun berkelompok-kelompok (hizbiy) karena mengikuti dan membela tokoh dan pendapat kelompok mereka, sebagian mereka membantu sebagian lainnya didalam kebatilan…”.

Kesimpulan :

Islam memerintahkan untuk bersatu dan melarang bercerai-berai. Tapi persatuan yang dikehendaki Islam adalah :

“Persatuan yang dibangun diatas petunjuk Allah dan Rasulul-Nya. Dan persatuan untuk meninggikan kalimatullah“.

Bukan persatuan yang jadi harus mendiamkan kemungkaran dan kemaksiatan.

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

================

PENYEBAB PERPECAHAN DIANTARA UMAT ISLAM

PENYEBAB PERPECAHAN DIANTARA UMAT ISLAM

Sangat memprihatinkan perselisihan terjadi diantara umat Islam, yang seolah-olah mereka tidak bisa dipersatukan. Padahal perpecahan diantara umat menghilangkan kekuatan dan mencerai-beraikan persatuan.

Apa yang menjadikan umat Islam terus berselisih dan berpecah-belah ?

Diantara penyebab terjadinya perpecahan diantara umat Islam adalah :

1. Memaknai Al-Qur’an tidak sesuai dengan pemahaman para Sahabat
2. Tidak meneladani para Sahabat dalam beragama
3. Bid’ah (perkara baru dalam urusan agama)

(1). MEMAKNAI AL-QUR’AN TIDAK SESUAI DENGAN PEMAHAMAN PARA SAHABAT

Penyebab pertama terjadinya perpecahan diantara umat Islam adalah karena tidak memaknai Al-Qur’an sebagaimana para sahabat fahami, mereka membuat penafsiran-penafsiran sesuai hawa nafsunya, mereka menafsirkan Al-Qur’an untuk membenarkan kesesatannya.

Dalam sebuah kisah disebutkan. Pada satu hari, Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu menyendiri. Dia berkata dalam hatinya, mengapakah umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu ? Lalu ia memanggil Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu. Umar bertanya kepadanya : “Mengapa umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu. Kiblat mereka juga satu dan Kitab suci mereka juga satu ?” Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan kepada kita. Kita membacanya dan mengetahui maksudnya. Lalu datanglah sejumlah kaum yang membaca Al-Qur’an, namun mereka tidak mengerti maksudnya. Maka setiap kaum punya pendapat masing-masing. Jika demikian realitanya, maka wajarlah mereka saling berselisih. Dan jika telah saling berselisih, mereka akan saling menumpahkan darah.” [kitab Al I’tisham, karya Asy Syathibi, (II/691)].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hidup ditengah-tengah para Sahabatnya. Ketika Al-Qur’an diturunkan, kemudian disampaikan kepada para Sahabat, lalu para Sahabat mencatat dan menghafalnya, para Sahabatlah yang paling memahami makna dari Al-Qur’an yang di wahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka apabila kita menghendaki beragama dengan benar hendaknya kita maknai Al-Qur’an sebagaimana yang difahami oleh para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum.

2. TIDAK MENELADANI PARA SAHABAT DALAM BERAGAMA

Penyebab terjadinya perpecahan yang kedua yaitu, tidak menjadikan para Sahabat sebagai teladan dalam beragama. Padahal para Sahabat adalah generasi terbaik umat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

خَيْرَ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku (para Sahabat)”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).

Para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat dan paling mengetahui dalam memahami Islam. Mereka adalah para pendahulu yang memiliki keshalihan yang tertinggi. Maka apabila ingin selamat dalam beragama hendaknya meneladani para Sahabat bukan malah menyelisihinya.

Karenanya, wajib bagi kita untuk mengikuti jalan (manhaj) yang ditempuh para Sahabat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ

“Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman: 15).

Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam I’lam Al-Muwaqqi’in, terkait ayat di atas menyebutkan, bahwa setiap sahabat adalah orang yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka wajib mengikuti jalannya, perkata’an-perkata’annya dan keyakinan-keyakinan (i’tiqad) mereka.

Oleh karena itu, merupakan keharusan bila menghendaki pemahaman dan pengamalan Islam yang benar merujuk kepada para Sahabat. Mereka adalah orang-orang yang telah mendapat keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

– Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100).

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan untuk mengikuti para sahabat. Berjalan di atas jalan yang mereka tempuh. Berperilaku selaras apa yang telah mereka perbuat. Menapaki manhaj (cara pandang hidup) sesuai manhaj mereka.

Sesungguhnya kesesatan dan penyimpangan dalam agama yang tumbuh subur ibarat cendawan dimusim hujan ditengah-tengah umat Islam semenjak dahulu hingga kini adalah akibat dari tidak dijadikannya para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan dalam beragama.

Padahal Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam berwasiat supaya mengikuti sunnahnya para Sahabat yang mendapatkan bimbingan langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْن

”Berpegang teguhlah kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk”. (al-Arba’in an-Nawawiyyah (no. 28).

Mengikuti pemahaman dan pengamalan para Shahabat Radhiallahu’anhum dalam beragama adalah diantara cara supaya selamat dan bisa menjauhi perpecahan diantara umat Islam.

Allah Ta’ala berfirman :

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ

“Jika mereka beriman seperti keimanan yang kalian miliki, maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perpecahan”. (QS al-Baqarah: 137).

Ayat ini menunjukkan kewajiban mengikuti pemahaman para Shahabat Radhiallahu’anhum dalam keimanan, ibadah, akhlak dan semua perkara agama lainnya, karena inilah sebab untuk mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala. Dan Allah Subhaanahu wa Ta’ala menyebutkan apabila berpaling dari mereka (para Sahabat) tidak meneladani dan mengikutinya maka akan timbul perpecahan diantara kaum muslimin akibat timbulnya banyak kelompok dan tiap-tiap kelompok memiliki paham yang berbeda. Akibat perbeda’an faham kemudian muncul perselisihan yang berujung permusuhan diantara umat Islam.

3. PERKARA YANG DIBUAT-BUAT DALAM URUSAN AGAMA (BID’AH)

Penyebab perpecahan diantara umat Islam yang ketiga yaitu, perkara baru yang dibua-buat dalam urusan agama (bid’ah).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَا تَتَّبِعُوۡا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ وَصّٰٮكُمۡ بِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ‏

“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain karena itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS.Al-An’am, 153).

Mujahid rahimahullaahu ta’ala ketika menafsirkan ayat diatas (Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain) berkata ; “Jalan-jalan dengan aneka macam bid’ah dan syubhat”. (Jami’ul Bayan V/88).

Setelah menyebutkan beberapa dalil-dalil bahwa bid’ah adalah pemecah belah ummat, Imam Asy-Syatibi rahimahullaahu ta’ala berkata : “Semua bukti dan dalil ini menunjukan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan.” (Al- I’tisham,I/157).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala berkata : “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.” (al-Istiqamah, I/42).

Itulah tiga penyebab perpecahan diantara umat Islam. Perpecahan diantara umat tentu saja merugikan dan melemahkan kekuatan umat Islam. Maka sudah selayaknya umat Islam sadar akan hal ini. Bukankah perpecahan diantara umat Islam dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala ?

Allah Ta’ala berfirman :

واَعْتصِمُواْ بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقوُا

“Berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah belah”. (Q.S. Ali Imron: 103).

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

Silahkan bagi yang hendak membagikan semua tulisan yang ada di blog ini tanpa perlu izin, dengan syarat di sertakan linknya.

___________________

PERPECAHAN DIANTARA UMAT ISLAM SEBAGAI UJIAN

PERPECAHAN DIANTARA UMAT ISLAM SEBAGAI UJIAN

Segala sesuatu di balik pencipta’an Allah Ta’ala pasti ada hikmahnya. Apa yang Allah Ta’ala cintai dan benci pasti mengandung hikmah yang kadang tidak dapat manusia selami.

Begitu pula dibalik perselisihan diantara umat Islam ada hikmah yang terkandung didalamnya.

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.” (Ali Imran: 191).

Hikmah terjadinya perselisihan yang sampai menimbulkan perpecahan diantara umat Islam dan berujung permusuhan adalah sebagai bentuk ujian dari Allah Ta’ala, siapa diantara hambanya yang mencari kebenaran dan siapa diantara hambanya yang mengikuti hawa napsu. Hal ini sebagaimana dikatakan Syaikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullahu,

Beliau berkata : “Perpecahan dan perselisihan merupakan hikmah dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala guna menguji hamba-hambaNya hingga nampaklah siapa yang mencari kebenaran dan siapa yang lebih mementingkan hawa nafsu dan sikap fanatisme. (Kitab Lumhatun ‘Anil Firaq cet. Darus Salaf hal. 23-24).

Seandainya Allah Ta’ala menghendaki umat Islam ini sebagai umat yang utuh tidak ada perselisihan dan permusuhan tentu saja Allah Ta’ala kuasa untuk menyatukannya. Sebagaimana dalam sebuah firmannya,

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman :

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (١١٨) إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu”. (QS. Hud: 118-119).

Pada ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman :

وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى ٱلْهُدَىٰ ۚ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْجَٰهِلِينَ

“Dan kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil”. (QS. Al-‘An’ am, 6 : 35).

Firman Allah Ta’ala pada surat Hud: 118 maksudnya perselisihan akan tetap ada di kalangan manusia dalam masalah agama, dan akidah mereka menjadi terbagi ke dalam berbagai mazhab dan pendapat.

Dan firman Allah Ta’ala :

إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ

”Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu”. (Hud: 119).

Qatadah mengatakan bahwa orang-orang yang dirahmati oleh Allah adalah ahlul jama’ah, sekalipun tempat tinggal dan kebangsa’an mereka berbeda-beda. Dan orang-orang yang ahli maksiat adalah ahli dalam perpecahan, sekalipun tempat tinggal dan kebangsa’an mereka sama.

والله أعلمُ بالصواب

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

Silahkan bagi yang hendak membagikan semua tulisan yang ada di blog ini tanpa perlu izin, dengan syarat di sertakan linknya.

===================

ALLAH MELARANG PERPECAHAN

ALLAH TA’ALA MELARANG PERPECAHAN

Perpecahan ditengah-tengah umat Islam sungguh sangat disesalkan, dan kenyata’an ini (perpecahan) menyelisihi prinsip Islam yaitu pentingnya persatuan.

Perpecahan diantara umat Islam yang menjadikan umat saling bermusuhan, sungguh meruntuhkan persatuan dan melemahkan kekuatan kaum muslimin dan juga menodai kehormatan agama Islam sebagai agama yang mulia, agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan persaudara’an.

Perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin sudah bukan menjadi rahasia lagi. Perpecahan bukan saja dikalangan awam tapi juga dikalangan orang-orang alimnya.

Perpecahan nampak nyata baik dalam bentuk bentrokan fisik maupun dalam bentuk perang adu argumentasi di kalangan para tokohnya.

Dampak buruk dari perpecahan adalah sikap apatis umat untuk mendalami agama islam, atau mereka tidak tertarik untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah berbasis agama, karena mereka melihat perselisihan yang sengit diantara para tokoh agama yang seharusnya bisa dijadikan panutan. Dan mereka tidak ingin anak-anaknya terlibat dalam perselisihan.

Dampak buruk lainnya adalah, umat Islam menjadi lemah karena hilangnya rasa persaudara’an diantara kaum muslimin. Padahal umat Islam menghadapi berbagai macam problamatika sosial.

Dampak buruk lainya lagi adalah, lemahnya kaum muslim dalam menghadapi makar musuh-musuh Islam yang selalu membuat makar untuk menghancurkan Islam dan umatnya.

Kalau sudah seperti itu, siapa yang dirugikan ?

Tentu saja agama Islam itu sendiri dan umatnya.

Karena perpecahan diantara umat Islam itu merugikan, maka umat Islam semestinya segera sadar akan ruginya akibat dari perpecahan. Bukankah perpecahan itu dilarang oleh Allah Ta’ala, sebagaimana firmannya :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, . .” (QS Ali Imran: 103).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Dia (Allah) memerintahkan mereka (umat Islam) untuk berjama’ah dan melarang perpecahan. Dan telah datang banyak hadits, yang (berisi) larangan perpecahan dan perintah persatuan“. (Tafsir Al Qur’anil ‘Azhim, surat Ali Imran: 103).

Imam Al Qurthubi berkata tentang tafsir ayat ini : “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan. Karena sesungguhnya perpecahan merupakan kebinasa’an dan al jama’ah (persatuan) merupakan keselamatan”. (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 4/159).

Beliau juga mengatakan : “Boleh juga maknanya, janganlah kamu berpecah-belah karena mengikuti hawa nafsu dan tujuan-tujuan yang bermacam-macam. Jadilah kamu saudara-saudara di dalam agama Allah, sehingga hal itu menghalangi dari (sikap) saling memutuskan dan membelakangi”. (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 4/159).

Imam Asy-Syaukani berkata tentang tafsir ayat ini : “Allah memerintahkan mereka bersatu di atas landasan agama Islam, atau kepada Al Qur’an. Dan melarang mereka dari perpecahan yang muncul akibat perselisihan di dalam agama”. (Fahul Qadir 1/367).

Tidaklah Allah Ta’ala melarang umat-Nya berpecah belah, kalau tidak perpecahan itu berdampak buruk terhadap Islam sebagai agama yang sempurna dan umat Islam sebagai penganutnya.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

Silahkan di share semua tulisan yang ada blog ini dengan syarat selalu mencantumkan linknya.

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________

SOLUSI UNTUK MENYATUKAN PERPECAHAN DIANTARA UMAT ISLAM

SOLUSI UNTUK MENYATUKAN PERPECAHAN DIANTARA UMAT ISLAM
.
Setiap kaum muslimin pasti mengharapkan persatuan diantara umat Islam bukan perpecahan. Karena perpecahan itu merugikan dan menghilangkan kekuatan kaum muslimin.
.
Walaupun persatuan umat Islam seolah-olah sulit di bangun, mengingat fakta banyaknya faham dan golongan yang berbeda satu sama lain, dan masing-masing golongan membanggakan kelompoknya juga diantara masing-masing kelompok saling berselisih bahkan bermusuhan. Namun bukan suatu yang mustahil persatuan diantara umat Islam bisa di bangun, karena Islam sudah memberikan petunjuk supaya kaum muslimin bersatu tidak berpecah belah.
.
Berikut beberapa hal yang bisa menyatukan kaum muslimin :
.
1. Berpegang Dengan Tali Allah (Al-Qur’an)
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا
.
“Berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah belah”. (Q.S. Ali Imron: 103).
.
Dalam ayat di atas, Allah melarang kita untuk bercerai-berai. Namun dalam ayat itu sebelumnya Allah memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan tali Allah terlebih dahulu.
.
Tali Allah yang di maksud dalam ayat di atas adalah Al-Qur’an. Sebagaimana di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :
.
كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض
.
“Kitab Allah (Al-Qur’an) adalah tali Allah yang diturunkan dari langit ke bumi”. (Sunan Tirmidzi, 3788).
.
Semua umat Islam mengimani bahwa Al-Qur’an adalah pedoman dalam segala urusan. Termasuk pedoman untuk menyatukan umat Islam ketika berselisih. Maka apabila umat Islam berselisih hendaknya kembali kepada petunjuk Al-Qur’an (Kitab Allah).
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ
.
“Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah”. (QS. Asy Syura: 10).
.
Maksudnya, manakala kalian berselisih dalam urusan apa pun. Hal ini mengandung pengertian yang menyeluruh mencakup segala sesuatu. (Tafsi Ibnu Katsir QS. Asy Syura: 10).
.
Jalan menuju persatuan bisa terwujud hanya dengan mengikuti petunjuk Allah Ta’ala. Dan barangsiapa yang tidak mau mengikuti petunjuk-Nya, maka Allah Ta’ala akan menimbulkan permusuhan.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وألقينا بينهم العداوة والبغضاء إلى يوم القيامة
.
“Dan Kami timbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka sampai hari kiamat”. (Q.S. Maidah: 64).
.
Ayat di atas di tujukan kepada orang-orang Yahudi, namun hakekatnya di tujukan kepada siapapun yang tidak mau mengikuti petunjuk Allah Ta’ala.
.
2. Berpegang Teguh Kepada Al-Jama’ah
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
عليكم بالجماعة وإياكم والفرقة
.
“(Berpegang teguhlah) kalian dengan Al-Jama’ah dan menjauhlah dari perpecahan”. (H.R Imam At-Tirmidzi dalam sunannya pada kitabul fitan).
.
Apa yang dimaksud Al-Jama’ah ?
.
Al-Jama’ah secara bahasa berasal dari kata Al-Jama’ yang mengandung makna : “Menyatukan sesuatu yang terpecah”. Maka kata jama’ah adalah lawan kata dari perpecahan.
.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 2/157 : “Dan mereka di namakan Ahlul Jama’ah karena Al-Jama’ah adalah persatuan dan lawannya adalah perpecahan”.
.
Adapun makna Al-Jama’ah menurut syar’iat adalah, “Yang mencocoki kebenaran walaupun sendirian”.
.
Berkata ‘Abdullah bin Mas’ud tentang Al-Jama’ah :
.
الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَك
.
“Al-Jama’ah adalah apa yang mencocoki kebenaran walaupun engkau sendiri”.
.
3. Fahami Al-Qur’an Dengan Pemahaman Para Sahabat
.
Dalam sebuah kisah disebutkan. Pada satu hari, Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu menyendiri. Dia berkata dalam hatinya, mengapakah umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu ? Lalu ia memanggil Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu. Umar bertanya kepadanya : “Mengapa umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu. Kiblat mereka juga satu dan Kitab suci mereka juga satu ?” Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Al-Qur’an itu di turunkan kepada kita. Kita membacanya dan mengetahui maksudnya. Lalu datanglah sejumlah kaum yang membaca Al Qur’an, namun mereka tidak mengerti maksudnya. Maka setiap kaum punya pendapat masing-masing. Jika demikian realitanya, maka wajarlah mereka saling berselisih. Dan jika telah saling berselisih, mereka akan saling menumpahkan darah”. (kitab Al I’tisham, karya Asy Syathibi, [II/691]).
.
Al-Qur’an turun di masa Nabi ketika beliau hidup di tengah-tengah para Sahabatnya yang mulia. Oleh karena itu, para Sahabatlah yang paling mengerti makna Al-Qur’an, karena merekalah yang mendengar langsung bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka apabila memaknai Al-Qur’an tidak sesuai dengan pemahaman para Sahabat timbullah perselisihan dan perpecahan bahkan sampai berujung permusuhan.
.
Itulah tiga perkara yang dapat menyatukan umat Islam. Apabila umat Islam tidak berpegang teguh kepada tiga perkara yang sudah di sebutkan di atas, yaitu Tali Allah (Al-Qur’an) dan tidak berpegang kepada Jama’ah juga tidak memahami Al-Qur’an sebagaimana para Sahabat, maka perpecahan yang akan timbul diantara umat Islam sepanjang masa.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
————————

SEJARAH TAUHID PRA ISLAM SAMPAI DIUTUSNYA RASULULLAH

SEJARAH TAUHID PRA ISLAM SAMPAI DIUTUSNYA RASULULLAH

Tauhid secara etimologis berarti keesa’an. Maksudnya, ittikad atau keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Esa, Tunggal, Satu.

Semua Nabi dari mulai Nabi Adam ‘alaihissalam sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya bahwa yang menciptakan dan mengatur alam semesta adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang maha esa. Dan semua Nabi mengajarkan kepada umatnya untuk beribadah hanya kepada Nya.

Dari mulai Nabi Adam ‘alaihissalam sampai Nabi Nuh ‘alaihissalam umat manusia tidak ada yang melakukan kesyirikan. Akan tetapi semenjak Nabi Nuh ‘alaihissalam, manusia mulai melakukan kesyirikan yang akhirnya dibinasakan oleh Allah Ta’ala. Dan Masa berikutnya Allah mengutus Nabi Ibrahim.

Sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Musa dan mengajarkan kepada umatnya untuk mentauhidkan Allah Ta’ala.

Kepada Nabi Musa ‘alaihissalam Allah Ta’ala menurunkan kitab taurat yang mengandung syari’at atau peraturan-peraturan untuk diamalkan dan berpegang teguh padanya.

Syari’at yang terdapat dalam taurat itu dijalankan oleh bani Israel semasa nabi Musa masih hidup. Akan tetapi Setelah Nabi Musa wafat umatnya berselisih dan melakukan perubahan-perubahan dan penyimpangan-peyimpangan yang dilakukan oleh sebagian mereka, sehingga ajaran yang dibawa Nabi Musa mengalami penyimpangan (distorsi).

Kemudian masa selanjutnya Allah Ta’ala mengutus Nabi Isa ‘alaihissalam juga menurunkan kitab yaitu Injil untuk mengembalikan bani Israel kepada ajaran yang semula, yaitu mentauhidkan Allah.

Namun setelah ditinggalkan Nabi Isa sedikit demi sedikit ajaran yang dibawa Nabi Isa mulai berubah, sehingga umatnya menyimpang dari ajaran semula dan terlepas dari dasar-dasar ketuhidan yang murni.

• Sejarah tauhid pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam diutus, sa’at itu bangsa Arab sudah tidak lagi mentauhidkan Allah ta’ala, mereka banyak menyembah berhala yang mereka jadikan sebagai sesembahan selain juga beriman kepada Allah. Tiga berhala yang terkenal sa’at itu yaitu ; manat, al-lata dan al-uzza.

Dengan perjuangan yang gigih yang dilakukan Rasulullah dan para Sahabatnya dengan melalui banyak rintangan sangat berat akhirnya bangsa Arab dapat dikembalikan kepada ajaran yang benar yaitu mentauhidkan Allah.

Dimasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup, umat Islam mendapatkan bimbingan langsung dari Rasulullah. Setiap permasalahan dalam urusan agama yang muncul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengembalikannya kepada Allah dan Rasulnya. Sebagaimana diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59).

Dari sejarah yang kita baca maka bisa kita ketahui, bahwa sebelum Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam diutus, Allah sudah mengutus beberapa Rasul untuk mengajarkan kepada umatnya utuk beribadah hanya kepada satu Tuhan, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun setelah umatnya itu ditinggal wafat oleh Rasulnya, sebagian dari mereka membuat perkara-perkara yang tidak diajarkan oleh Rasulnya. Dan akibatnya syari’at yang mereka lakukan sudah tidak sesuai lagi dengan syari’at yang diajarkan oleh Rasulnya. Dan akhirnya mereka sudah tidak lagi menganut agama yang benar yaitu agama Tauhid melainkan agama batil yang menyimpang dari tuntunan Allah dan Rasulnya.

Kita mengetahui bahwa agamanya orang-orang yahudi asalnya agama Tauhid yang di bawa oleh Nabi Musa ‘alaihissalam, begitu pula agama nasrani awalnya agama Tauhid yang dibawa oleh Nabi Isa ‘alaihissalam, akan tetapi kita bisa mengetahui, sa’at ini orang-orang yahudi dan pengikut agama nasrani sudah bukan lagi penganut agama Tauhid melainkan penganut agama syirik yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kenapa agama orang-orang yahudi dan agama nasrani bisa jadi berubah dari agama Tauhid menjadi agama syirik ?

Penyebabnya karena mereka merubah-rubah, menambah, mengurangi bahkan menghilangkan syari’at yang ada pada mereka.

• Islam menggantikan agama-agama yang terdahulu

Setelah agama-agama yang terdahulu sebelum Islam mengalami kerusakan (distorsi) kemudian Allah Ta’ala mengutus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengembalikan manusia kepada agama yang benar (Tauhid) untuk beribadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Namun fakta bisa kita lihat, ternyata pemeluk agama Islam pun ada yang memiliki sifat seperti pemeluk agama yang terdahulu yang mengikuti hawa napsu, mereka tidak cukup dengan syari’at yang diajarkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mereka membuat-buat ajaran yang tidak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Padahal Islam sudah sempurna. Sebagaimana Allah Ta’ala firmankan,

Allah Azza wa Jalla berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3].

Kesempurna’an Islam sebagaimana di sebutkan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam Al-Qur’an surah Al Maidah ayat 3 tersebut, maka artinya ; Tidaklah diperlukan lagi adanya penambahan-penambahan atau mengada-adakan hal-hal yang baru berdasarkan hawa nafsu dan pemikiran yang menganggap apa saja yang baik itu boleh saja dilakukan dalam agama meskipun tidak pernah diperintahkan dilakukan atau pernah disetujui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apabila ada orang-orang yang memandang perlu memberikan penambahan atau mengada-adakan lagi hal-hal yang baru diluar syari’at yang telah ada, meskipun sekecil apapun dan alasan apapun, maka hal itu sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi sebaliknya sangat dicintai oleh iblis dan bala tentaranya. Dan pelakunya secara sengaja atau tidak sengaja, secara tidak langsung telah menuduh Rasulullah shalallahu’alahi wa sallam telah berhianat dan menyembunyikan risalah Islam.

Inilah yang pernah diperingatkan oleh Imam Malik bin Anas rahimahullah ta’ala di dalam salah satu perkata’annya yang sangat terkenal sekali yaitu :

“Barang siapa yang membuat bid’ah (perkara baru dalam urusan agama) di dalam islam, yang dia mengangpnya sebagai bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), maka sesungguhnya dia telah menuduh bahwa Muhammad shallahu’alahi wa sallam telah berhianat di dalam (menyampaikan) risalah. Karena sesungguhnya Allah telah berfirman : “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu”. Maka apa-apa yang tidak menjadi (bagian dari) agama pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi (bagian dari) agama pada hari ini”. (Al-I’tisham juz 1 hal.49).

Alangkah bagus dan indahnya perkata’an Imam Malik diatas dan ini merupakan kaidah besar yang sangat agung sekali di dalam agama Allah, bahwa “Apa-apa yang tidak menjadi agama pada hari itu, yakni ketika turunnya ayat diatas, maka tidak akan menjadi agama pada hari ini, Yakni, apa-apa yang bukan ajaran islam pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi ajaran islam pada hari ini.

• Para Ulama Ahlu Sunnah menjaga Islam dari para penyesat umat

Terjaganya keutuhan Islam bukan berarti tidak ada rongrongan dari orang-orang yang melakukan penyimpangan dalam Islam, akan tetapi karena adanya orang-orang yang selalu berjuang keras berusaha menjaga kemurnian Islam, walaupun mereka mendapatkan perlawanan yang hebat, dari mulai cacian, permusuhan, fitnah bahkan sampai serangan fisik.

Dengan adanya orang-orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka keutuhan Islam pun terjaga dan tidak terjadi distorsi (rusak) sebagaimana yang terjadi kepada agama-agama sebelum Islam.

Sungguh tercela para pengikut hawa napsu, yang merasa baik apa yang mereka lakukan membuat perkara-perkara baru dalam agama, padahal Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasalam tidak mengajarkannya.

Apabila mereka para pelaku bid’ah sesuka hatinya membuat perkara-perkara baru dalam urusan agama dibiarkan tidak dicegah maka yang terjadi agama Islam pun keada’annya akan mengalami kerusakan sebagaimana yang terjadi kepada agama-agama terdahulu sebelum Islam.

Sebagaimana yang dikatakan Dr. Yusuf Qardhawi dalam Kitabnya As Sunnah wal Bid’ah, Dr. Yusuf Qardhawi berkata :

”Apabila bid’ah dapat dibenarkan dalam Islam maka bukan tidak mungkin bila kemudian Islam akan menjadi agama yang sama dengan agama-agama sebelumnya, yang ahli-ahli agamanya menambahkan hal-hal baru dalam agamanya dengan hawa nafsunya sehingga pada akhirnya agama tersebut berubah sama sekali dari yang aslinya”.

با رك الله فيكم

By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________

KEWAJIBAN MENGINGATKAN UMAT DARI KESESATAN

.

KEWAJIBAN MENGINGATKAN UMAT DARI KESESATAN
.
“Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya, apa yang dia cintai untuk dirinya”. (Hr. Bukhari, dan Muslim).
.
Karena dasar inilah para imam kaum muslimin sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai hari ini berdiri di hadapan umat, menghalau setiap bahaya kesesatan yang akan menimpa mereka.
.
Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Seseorang berpuasa, shalat dan i’tikaf, itu lebih anda sukai atau orang yang berbicara menjelaskan kesesatan ahli bid’ah ?, Imam Ahmad rahimahullah menjawab, “Jika dia menegakkan shalat, i’tikaf dan ibadah lainnya, maka itu (pahala, dan kemaslahatannya) hanya untuk dirinya sendiri. Sedangkan kalau dia berbicara (menjelaskan kesesatan ahli bid’ah) maka itu adalah untuk kepentingan kaum muslimin, maka ini lebih utama”. (I’lamul Muwaqqi’in).
.
Allah subhanahu wata’la berfirman,
.
وَلتَكُن مِنكُم أُمَّةٌ يَدعونَ إِلَى الخَيرِ وَيَأمُرونَ بِالمَعروفِ وَيَنهَونَ عَنِ المُنكَرِ ۚ وَأُولٰئِكَ هُمُ المُفلِحونَ
.
”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (Qs. Ali-‘Imran: 104).
.
Rasulullah sallalloohu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Bukan dari golongan kami mereka yang tidak menyayangi anak-anak kami dan tidak menghargai orang tua kami, serta tidak menyerukan kema’rufan dan tidak pula mencegah kemunkaran”. (Sunan Al-Im, 9).
.
Memurnikan agama Allah, manhaj serta syari’at-Nya dari kesesatan dan permusuhan mereka (ahli bid’ah) merupakan suatu fardu kifayah menurut kesepakatan kaum muslimin. Seandainya tidak ada yang menolak/membantah bahaya (bid’ah)nya para pelaku bid’ah, maka akan rusaklah agama ini.
.
Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidak akan datang suatu zaman kepada manusia, kecuali pada zaman itu semua orang mematikan sunnah dan menghidupkan bid’ah, hingga matilah sunnah dan hiduplah bid’ah. tidak akan ada orang yang berusaha mengamalkan sunnah dan mengingkari bid’ah, kecuali orang tersebut diberi kemudahan oleh Allah di dalam menghadapi segala kecaman manusia yang diakibatkan karena perbuatannya yang tidak sesuai dengan keinginan mereka serta karena ia berusaha melarang mereka melakukan apa yang sudah dibiasakan oleh mereka, dan barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka Allah akan membalasnya dengan berlipat kebaikan di alam Akhirat”. (al- Aqrimany: 315, al-Mawa’idz).
.
Kunjungi blog pribadi di : https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah
.
.
_________________