MENGAKU BERMADZHAB SYAFI’I TAPI MENYELISIHINYA

MENGAKU BERMADZHAB SYAFI’I TAPI MENYELISIHI IMAM SYAFI’I

Sungguh mengherankan dengan sikap sebagian kelompok dari umat Islam yang mengaku bermadzhab kepada Imam As-Syafi’i tapi realitanya justru tidak sesuai dengan ajaran Imam Syafi’i atau tidak sesuai dengan yang Imam Syafi’i sukai.

Berikut diantara sebagian contohnya,

• Mas’alah adzan jum’at

Diantara yang di perselisihkan diantara umat Islam adalah masalah adzan jum’at. Apakah adzan untuk sholat jum’at itu satu kali atau dua kali.

Apabila kita perhatikan dalam sebuah riwayat, adzan jum’at di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga di zaman Khalifah Abu Bakar dan di zaman Khalifah Umar bin Khattab, di sebutkan bahwa adzan jum’at dikumandangkan hanya satu kali.

Adapun adzan jum’at di kumandangkan dua kali ialah dimasa Khalifah Utsman bin Affan, dengan alasan karena sa’at itu umat Islam semakin banyak. Dan sa’at itu adzan jum’at pertama pun di kumandangkan di luar masjid, yaitu di sebuah pasar. Tidak seperti sebagian umat Islam sa’at ini yang mengumandangkan adzan jum’at dua kali. Adzan pertama dan kedua dikumandangkan di dalam masjid (tidak sama dengan yang di lakukan Utsman bin Affan).

Berikut riwayat adzan jum’at yang di maksud,

عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ الزَّوْرَاءُ مَوْضِعٌ بِالسُّوقِ بِالْمَدِينَةِ

Saib bin Yazid berkata, “Adalah azan pada hari Jumat, permulaannya adalah apabila imam duduk di atas mimbar, yakni pada masa Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar Radhiallohu ‘anhuma. Maka pada masa Utsman Radhiallohu ‘anhu dan orang-orang sudah banyak, ia menambahkan azan yang ketiga diatas Zaura’. Berkata Abu Abdillah, Zaura’ adalah suatu tempat di pasar di kota Madinah. (Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Ashqalani, kitab jumu’ah).

Itulah riwayat adzan jum’at dimasa Rasulullah sampai dimasa Khalifah Utsman bin Affan.

Lalu bagaimana dengan Imam Syafi’i dalam mas’alah adzan jum’at ini, apakah Imam Syafi’i menyukai adzan jum’at satu kali atau dua kali ?

Berikut perkata’an Imam Syafi’i dalam mas’alah ini di dalam kitabnya (Al-Umm),

(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَأُحِبُّ أَنْ يَكُونَ الْأَذَانُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ حِينَ يَدْخُلُ الْإِمَامُ الْمَسْجِدَ وَيَجْلِسُ عَلَى مَوْضِعِهِ الَّذِي يَخْطُبُ عَلَيْهِ خَشَبٌ، أَوْ جَرِيدٌ أَوْ مِنْبَرٌ، أَوْ شَيْءٌ مَرْفُوعٌ لَهُ، أَوْ الْأَرْضُ فَإِذَا فَعَلَ أَخَذَ الْمُؤَذِّنُ فِي الْأَذَانِ فَإِذَا فَرَغَ قَامَ فَخَطَبَ لاَ يَزِيدُ عَلَيْهِ

Imam Asy-Syafi’i berkata : “Dan aku sukai bahwa Adzan pada hari jum’at adalah ketika imam masuk kedalam masjid dan duduk diatas tempatnya yakni tempat ia hendak berkhutbah yang terbuat dari kayu, atau mimbar atau sesuatu yang dapat menjadikannya tinggi, atau tanah. Maka apabila telah selesai (imam naik keatas mimbar) hendaklah muadzin mengumandangkan adzan dan apabila selesai adzan tersebut hendaklah imam berkhutbah tanpa ada tambahan lain.

Selanjutnya Imam Syafi’i berkata :

وَأُحِبُّ أَنْ يُؤَذِّنَ مُؤَذِّنٌ وَاحِدٌ إذَا كَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ لاَ جَمَاعَةُ مُؤَذِّنِينَ أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ قَالَ: أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ قَالَ: أَخْبَرَنِي الثِّقَةُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ الْأَذَانَ كَانَ أَوَّلُهُ لِلْجُمُعَةِ حِينَ يَجْلِسُ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ فَلَمَّا كَانَتْ خِلاَفَةُ عُثْمَانَ وَكَثُرَ النَّاسُ أَمَرَ عُثْمَانَ بِأَذَانٍ ثَانٍ فَأُذِّنَ بِهِ فَثَبَتَ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ

“Dan aku sukai bahwa muadzin mengumandangkan adzan seorang diri apabila ia (imam) telah diatas mimbar, dan tidak boleh mengumpulkan dua muadzin. Telah mengabarkan kepada kami Ar-Rabi’ ia berkata : telah mengabarkan kepada kami Asy-Syafi’i ia berkata : telah mengabarkan kepada kami secara tsiqoh (terpercaya) dari Az-Zuhri dari Saib bin Yazid bahwa Adzan pertama kali untuk jum’at adalah ketika imam telah duduk diatas mimbar, ini pada masa Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam, dan Abu Bakar dan Umar, kemudian pada masa khalifah Utsman sedangkan saat itu manusia telah ramai (banyak) maka Utsman memerintahkan untuk mengadakan adzan kedua, maka terjadilah adzan (kedua) pada masa itu, dan menjadi tetaplah hal itu.

(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَقَدْ كَانَ عَطَاءٌ يُنْكِرُ أَنْ يَكُونَ عُثْمَانُ أَحْدَثَهُ وَيَقُولُ أَحْدَثَهُ مُعَاوِيَةُ، وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ

Berkata Asy-Syafi’ie : Dan sesungguhnya ‘Atha memungkiri (tidak menyetujui) perbuatan itu bahwa Utsman telah melakukan perbuatan muhdats (baru) akan tetapi ia (‘Atha) berkata bahwa Mu’awiyahlah yang melakukan perbuatan muhdats itu. Wallohu Ta’ala a’lam.

(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَأَيُّهُمَا كَانَ فَالْأَمْرُ الَّذِي عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَحَبُّ إلَيَّ

Berkata Asy-Syafi’ie : Dan manapun dari kedua hal itu (pada masa utsman atau muawiyah) maka Apa yang terjadi dimasa Rosululloh shallallohu’alaihi wasallam lebih aku sukai.

[Kitab Al-Umm Juz I, kitab Sholat Bab Kewajiban Jumat].

Dalam permas’alahan adzan jum’at ternyata Imam Syafi’i lebih menyukai adzan jum’at di kumanndangkan satu kali, tidak dua kali sebagaimana perkata’anya :

فَالْأَمْرُ الَّذِي عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَحَبُّ إلَيَّ

“Maka apa yang terjadi dimasa Rosululloh shallallohu ’alaihi wasallam lebih aku sukai”. (maksudnya adzan jum’at satu kali).

Kalau Imam Syafi’i menyukai adzan jum’at satu kali, lalu bagaimana dengan sebagian umat Islam yang mengumandangkan adzan jum’at dua kali, padahal mereka mengakunya bermadzhab Imam Syafi’i.

• Mas’alah dzikir setelah shalat berjama’ah.

Sebagian umat Islam berdzikir setelah shalat fardlu berjama’ah dengan mengeraskan suara secara bersama-sama di pimpin oleh imam shalat.

Bagaimana dengan Imam Syafi’i ?

Berikut perkata’an Imam Syafi’i dalam permasalahan ini, Imam Syafi’i rahimahullah berkata :

وأختار للامام والمأموم أن يذكرا الله بعد الانصراف من الصلاة ويخفيان الذكرَ إلا أن يكون إماما يُحِبُّ أن يتعلّم منه فيجهر حتى يَرى أنه قد تُعُلِّمَ منه ثم يُسِرّ.

Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berdzikir selepas selesai sholat. Hendaklah mereka memelankan (secara sir) dzikir kecuali jika imam ingin mengajar baca’an-baca’an zikir tersebut, maka ketika itu di keraskanlah dzikir, hingga dia menduga bahwa telah dipelajari darinya (baca’an-baca’an dzikir tersebut), lalu setelah itu ia memelankan kembali dzikirnya (Al-Umm, 2/288).

Adapun mengenai hadits-hadits yang menunjukkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi terdengar suara dzikirnya, maka Imam Syafi’i menjelaskan seperti berikut :

وأحسبه إنما جهر قليلا ليتعلّم الناس منه وذلك لأن عامة الروايات التي كتبناها مع هذا وغيرها ليس يُذكر فيها بعد التسليم تَهليلٌ ولا تكبير، وقد يذكر أنه ذكر بعد الصلاة بما وصَفْتُ، ويذكر انصرافه بلا ذكر، وذكرتْ أمُّ سلمةَ مُكْثَه ولم يذكر جهرا، وأحسبه لم يَمكُثْ إلاّ ليذكرَ ذكرا غير جهْرٍ.

Menurutku Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan (dzikir) sedikit agar orang-orang bisa belajar dari beliau. Karena kebanyakan riwayat yang telah kami tulis bersama ini atau selainnya, tidak menyebut selepas salam terdapat tahlil dan takbir. Kadangkala riwayat menyebut Nabi berdzikir selepas sholat seperti yang aku nyatakan, kadangkala disebut bahwa Nabi pergi tanpa berdzikir. Ummu Salamah menyebutkan bahwa Nabi selepas sholat menetap di tempat sholatnya akan tetapi tidak menyebutkan bahwa Nabi berdzikir dengan jahr (keras). Aku rasa beliau tidaklah menetap kecuali untuk berdzikir dengan tidak dijaharkan.

فإن قال قائل: ومثل ماذا؟ قلت: مثل أنه صلّى على المنبر يكون قيامُه وركوعُه عليه وتَقهْقَرَ حتى يسجدَ على الأرض، وأكثر عمره لم يصلّ عليه، ولكنه فيما أرى أحب أن يعلم من لم يكن يراه ممن بَعُد عنه كيف القيامُ والركوعُ والرفع. يُعلّمهم أن في ذلك كله سعة. وأستحبُّ أن يذكر الإمام الله شيئا في مجلسه قدر ما يَتقدم من انصرف من النساء قليلا كما قالت أم سلمة ثم يقوم وإن قام قبل ذلك أو جلس أطولَ من ذلك فلا شيء عليه، وللمأموم أن ينصرفَ إذا قضى الإمام السلامَ قبل قيام الإمام وأن يؤخر ذلك حتى ينصرف بعد انصرافِ الإمام أو معه أَحَبُّ إلي له.

Jika seseorang berkata: “Seperti apa ?” (maksudnya permasalahan ini seperti permasalahan apa yang lain ?-pen). Aku katakan, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersholat di atas mimbar, dimana beliau berdiri dan rukuk di atasnya, kemudian beliau mundur belakang untuk sujud di atas tanah. Nabi tidaklah sholat di atas mimbar pada kebanyakan usia beliau. Akan tetapi menurutku beliau ingin agar orang yang jauh yang tidak melihat beliau, dapat mengetahui bagaimana cara berdiri (dalam solat), rukuk dan bangun (dari rukuk). Beliau ingin mengajarkan mereka keluasan dalam itu semua.

Aku suka sekiranya imam berzikir nama Allah di tempat duduknya sebentar dengan kadar hingga perginya jama’ah wanita sebagaimana yang dikatakan oleh Ummu Salamah. Kemudian imam boleh bangun. Jika dia bangun sebelum itu, atau duduk lebih lama dari itu, tidak mengapa. Makmum boleh pula pergi setelah imam selesai memberi salam, sebelum imam bangun. Jika dia tunda/ akhirkan sehingga imam pergi, atau ia pergi bersama imam, maka itu lebih aku sukai untuknya. ” (Al-Umm, 2/288-289).

Penjelasan :

Dari keterangan yang Imam As-Syafi’i sampaikan, maka dzikir yang di lakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam setelah shalat fardu, adalah tidak mengeraskannya, imam dan makmum masing-masing berdzikir secara pelan, akan tetapi kadang-kadang ada kalanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengeraskannya sedikit, agar orang-orang bisa belajar lafadz-lafadz do’a dan dzikir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bagaiman Imam Syafi’i dalam permas’alahan ini ?

Dalam permas’alahan dzikir setelah shalat, apakah makmum dan imam masing-masing berdzikr secara pelan atau makmum dan imam berdzikir secara bersama-sama ?

Ternyata Imam Syafi’i berpendapat,

وأختار للامام والمأموم أن يذكرا الله بعد الانصراف من الصلاة ويخفيان الذكرَ

Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berdzikir selepas selesai sholat. Dan hendaklah mereka memelankan (secara sir) dzikir.

إلا أن يكون إماما يُحِبُّ أن يتعلّم منه فيجهر حتى يَرى أنه قد تُعُلِّمَ منه ثم يُسِرّ.

Kecuali jika imam ingin mengajar baca’an-baca’an zikir tersebut, maka ketika itu di keraskanlah dzikir.

Jika Imam Syafi’i berpendapat hendaknya makmum dan imam memelankan suara ketika berdzikir setelah shalat.

Lalu bagaimana dengan kebiasa’an orang-orang yang mengaku bermadzhab Syafi’i, setiap selesai shalat selalu mengeraskan dzikirnya bersama-sama dengan imam ?

Pendapat siapa yang mereka ikuti ?

Benarkah mereka yang mengaku bermadzhab Syafi’i itu benar-benar mengikuti Imam Syafi’i, atau pengakuan di bibir saja ?

Sebenarnya masih banyak lagi amalan-amalan mereka yang mengaku bermadzhab Syafi’i yang tidak sesuai dengan ajaran Imam Syafi’i.

Jangan-jangan mereka yang mengaku bermadzhab Syafi’i ajarannya tidak sesuai juga dengan yang di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ?

Semoga tidak demikian.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

=========

ِ

TINGGALKAN PERKATA’AN SIAPAPUN YANG BERTENTANGAN DENGAN SABDA RASULULLAH

• SEMUA BID’AH SESAT

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ;

وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“. . Dan setiap / semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867).

• TIDAK SEMUA BID’AH SESAT

Mereka yang meyakini ada bid’ah hasanah, membawakan perkata’an ‘Umar Ibnul Khatab dan perkata’an Imam As Syafi’i.

Mereka mengatakan, ‘Umar ibnu Al Khatab radhiyallahu ‘anhu ketika menghidupkan shalat tarawih secara berjama’ah, Beliau berkata,

الْبِدْعَةُ هَذِهِ

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. (HR. Bukhari no. 2010)

Dan Imam As Syafi’i rahimahullah berkata,

البدعة بدعتان: بدعة محمودة، وبدعة مذمومة، فما وافق السنة، فهو محمود، وما خالف السنة، فهو مذموم

“Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah mahmudah (yang terpuji) dan bid’ah madzmumah (yang tercela). Jika suatu amalan bersesuaian dengan tuntunan Rasul, itu termasuk amalan terpuji. Namun jika menyelisihi tuntunan, itu termasuk amalan tercela”. (Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, 9: 113).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ; “SEMUA BID’AH SESAT” tetapi Umar ibnul Khatab dan Imam As Syafi’i mengatakan; “BID’AH ADA YANG BAIK”.

Perkata’an siapa yang mau di ikuti, perkata’an Umar ibnul Khatab dan Imam Syafi’i atau sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam ?

~~~~~~~~~~~~~~~

Anggaplah perkata’an Umar bin khatab dan perkata’an Imam As Syafi’i itu benar, sebagaimana mereka yang meyakini ada bid’ah hasanah inginkan.

• KEMBALIKAN KEPADA QUR’AN DAN SUNNAH

Ketika ada perselisihan di kalangan umat, maka Allah dan Rasulnya memerintahkan untuk mengembalikannya kepada Allah dan Rasulnya.

– Allah Ta’ala berfirman ;

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An Nisa: 59).

– Allâh Ta’ala berfirman :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allâh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allâh dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. [Al-Ahzab, 36]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat ini umum (mencakup) segala perkara, yaitu jika Allâh dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu, maka tidak ada hak bagi siapapun untuk menyelisihinya, dan di sini tidak ada pilihan (yang lain) bagi siapapun, tidak ada juga pendapat dan perkataan.” [Tafsîr Ibnu Katsîr, surat al-Ahzâb/ 33:36]

– Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ;

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah dan sunnah Rasulullah”. (HR. Muslim).

– Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ;

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Sesungguhnya sepeninggalku akan terjadi banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Abu Daud 4607)

• TINGGALKAN PERKATA’AN SIAPAPUN YANG BERTENTANGAN DENGAN SABDA RASULULLAH

Berikut ini petunjuk dari para Shalafus Shalih, untuk meninggalkan perkata’an atau pendapat siapapun yang bertentangan dengan Allah dan Rasulnya.

– Abdullah ibnu Abbas berkata : “Tidak ada seorang pun boleh diambil perkata’an nya atau di tolak, kecuali perkata’an Rasulullah Sallallohu ‘alaihi wasallam (Rowahu Thobroni). Dan juga berkata : “Aku khawatir akan datang hujan batu dari langit , ketika aku mengatakan Rasulullah berkata . . , engkau mengatakan Abu Bakar berkata . . , atau Umar berkata . . .

– Imam Abu Hanifah berkata : “Apabila saya mengucapkan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits Rasulullah, maka tinggalkanlah perkata’anku .

– Imam Malik bin Annas berkata : “Saya ini hanya seorang manusia, bisa salah dan bisa benar, maka telitilah pendapatku. Setiap pendapatku yang sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah, maka ambillah pendapatku tersebut, dan setiap pendapatku yang bertentangan
dengan Al-Qur’an dan sunnah, maka tinggalkanlah pendapatku tersebut”. Beliau juga berkata : “Tidak ada seorangpun sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali pendapatnya bisa diambil atau juga bisa ditolak.

– Imam Ahmad berkata ;

ليس أحد إلا ويؤخذ من رأيه ويترك ؛ ما خلا النبي

“Pendapat seseorang bisa diambil atau ditinggalkan selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”

Dan berikut ini beberapa perkata’an Imam As Syafi’i, yang melarang umat, mengikuti pendapat orang lain, padahal sudah jelas ada hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

– Imam As Syafi’i berkata ;

إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ

“Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku. Dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang”. (Al Majmu’ syarh Al Muhadzdzab, 1: 63).

– Imam As Syafi’i berkata ;

كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ

“Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku”. (Tarikh Dimasyq, 51: 389).

– Imam As Syafi’i berkata ;

كُلُّ مَا قُلْتُ فَكَانَ عَنِ النَّبِيِّ خِلاَفُ قَوْلِي مِمَّا يَصِحُّ فَحَدِيثُ النَّبِيِّ أَوْلىَ فَلاَ تُقَلِّدُونِي

“Semua yang pernah kukatakan jika ternyata berseberangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hadits Nabi lebih utama untuk diikuti dan janganlah kalian taqlid kepadaku”. (Tarikh Dimasyq, Ibnu ‘Asakir, 2: 9: 15).

– Imam As Syafi’i berkata ;

كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللهِ عِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا قُلْتُ فَأَناَ رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي

“Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku”. (Hilyatul Auliya’, 9: 107).

– Imam As Syafi’i berkata ;

إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي وَإِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ

“Kalau ada hadits shahih, maka itulah mazhabku, dan kalau ada hadits shahih maka campakkanlah pendapatku ke (balik) tembok”. (Siyar A’laamin Nubala’, 3: 3284-3285).

– Imam As Syafi’i berkata ;

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلىَ أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللهِ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena mengikuti pendapat siapa pun”. (I’lamul Muwaqi’in, 2: 282).

Juga ada riwayat tentang Imam Syafi’i yang sangat marah ketika ada seseorang yang mendapatkan hadits dari Rasulullah tapi masih mencari pendapat orang lain.

Berikut riwayatnya, Ar Rabie’ (murid Imam Syafi’i) bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Syafi’i tentang sebuah hadits, kemudian (setelah dijawab) orang itu bertanya, “Lalu bagaimana pendapatmu ?”, maka gemetar dan marahlah Imam Syafi’i. Beliau berkata kepadanya,

أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي إِذَا رَوَيْتُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ وَقُلْتُ بِغَيْرِهِ

“Langit mana yang akan menaungiku, dan bumi mana yang akan kupijak kalau sampai kuriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku berpendapat lain…!?”. (Hilyatul Auliya’, 9: 107).

• SIAPA YANG MAU DI IKUTI ?

– Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ;

وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“. . Dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

Tetapi Umar bin Khatab dan Imam As Syafi’i mengatakan, ada bid’ah hasanah, artinya tidak semua bid’ah sesat.

Ibnu Taimiyah berkata, “Perkata’an sahabat bukanlah argumen. Bagaimana perkata’an sahabat bisa sebagai alasan di sa’at bertentangan dengan sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam ?”. (Iqtidho’ Shirothil Mustaqim, 1: 95).

Setelah kita mendapatkan keterangan dari Allah dan Rasulnya, juga pesan dari para Shalafus Shalih, apabila ada perselisihan di kalangan umat, maka harus di kembalikan kepada Allah dan Rasulnya, bukan kepada siapapun.

PERKATA’AN SIAPA YANG MAU KITA IKUTI, PERKATA’AN UMAR BIN KHATAB DAN PERKATA’AN IMAM AS SYAFI’I ATAU SABDA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM ?

Perhatikan sekali lagi firman Allah ta’ala ;

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An Nisa: 59).

Juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ;

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah dan sunnah Rasulullah”. (HR. Muslim).

Wasallam

Agus Santosa Somantri

__________