MANTAN WAKIL KETUA PG NU BERPALING KEPADA MANHAJ SALAF

MANTAN WAKIL KETUA PG NU BERPALING KEPADA MANHAJ SALAF

Sangat terlalu banyak apabila disebutkan satu persatu orang-orang yang tadinya gemar dengan beragam aneka ritual dan amalan-amalan bid’ah kemudian berpaling kepada manhaj Salaf.

Dan sosok yang satu ini salah satunya. Beliau adalah bernama Buchari seorang mantan anggota Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tahun 1965.

Sa’at kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah cabang Serang, dan Wakil Ketua Persatuan Guru NU Kabupaten Lebak 1969-1974.

Jabatan terakhirnya Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama, Serang, Banten (2008-2009).

Perubahan keyakinan Buchari berubah sejak ia dan istrinya berangkat haji pada 2007.

Selama di sana, ia membaca buku-buku karya ulama berpaham Wahabi, antara lain, Kasyfusy Syubuhat fit Tauhid (Menyingkap Kesalah pahaman dalam Tauhid) karya Muhammad bin Abdul Wahhab, Al-Aqidah ash-Shahihah wa Ma Yudladhuha (Aqidah Yang Benar dan Hal-Hal yang Membatalkannya) karya Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, dan Haji, Umrah, dan Ziarah Menurut Kitab dan Sunnah, juga karya Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.

Berdasarkan baca’annya dari buku-buku karya ulama Wahabi ini, Buchari menyatakan, seorang Muslim yang konsisten mengikuti Alquran dan as-Sunnah tidak akan mengikuti upacara peringatan ‘Maulid Nabi, Isra Miraj, dan Nuzulul Quran. Sebab, tradisi ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Ia juga menegaskan peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada 12 Rabiul Awal adalah meniru penganut agama Nasrani dalam merayakan Hari Natal (Hari Lahirnya Yesus Kristus) setiap 25 Desember

(Buku Mustasyar MWC NU Menggugat Maulid Nabi karya Buchari, hal 117 dan 211).

http://m.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/15/01/28/nivmw6-raja-abdullah-dan-wahabi

_________________

PENGINGKARAN PARA SAHABAT KEPADA BID’AH

PENGINGKARAN PARA SAHABAT KEPADA BID’AH
.
Para Sahabat Nabi adalah generasi terbaik umat, mereka adalah orang-orang yang paling baik paling selamat paling mengetahui dan paling benar dalam memahami Islam. Mereka juga adalah para pendahulu dari umat Islam yang memiliki keshalihan yang paling tinggi.
.
Para Sahabat sebagai generasi terbaik umat di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :
.
خَيْرَ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku (para Sahabat)”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).
.
Para Sahabat sebagai generasi terbaik umat dan paling memahami ajaran Islam, maka tentu saja para Sahabat tidak akan pernah mendiamkan sekecil apapun dan dengan alasan apapun terjadi penyimpangan dalam agama.
.
• Perkata’an para Sahabat tentang bid’ah
.
Perkara bid’ah, tentu saja mendapatkan perhatian dari para Sahabat. Karena para Sahabat sangat mengetahui dampak buruk dari bid’ah. Berikut peringatan para Sahabat tentang bid’ah,
.
– Umar radhiyallahu ‘anhu berkata :
.
إِنَّ أَصْدَقَ القيل قيل الله و إِنَّ أَصْدَقَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّد و إِنَّ شَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، ألا و إِنَّ كل مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
.
“Sesungguhnya perkata’an yang paling benar adalah firman Alloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wasalam dan sesungguhnya seburuk-buruk perkara adalah yang dibuat-buat (dalam agama). Ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap perkara yang dibuat-buat (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan dan setiap kesesatan itu (tempatnya di neraka)”. (Dikeluarkan oleh Ibnul Wudhah dalam al Bida’, hal. 31 dan al Laalikaa’iy, hadits no. 100 [1/84]).
.
– Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : “Hendaknya engkau bertakwa kepada Allah dan istiqomah, ikutilah (Sunnah Nabi) jangan berbuat bid’ah”. (diriwayatkan oleh ad-Daarimi).
.
– Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :
.
اتبَّعِوُا وَلاَ تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
.
“Berittiba’lah kamu kepada Rasululloh dan janganlah berbuat bid’ah (perkara baru dalam agama), karena sesungguhnya agama ini telah di jadikan cukup buat kalian, dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan”. (Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Al Ibaanah, no. 175 (1/327-328) dan Al Laalikaa’iy, no. 104 [1/86]).
.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga berkata :
.
الْإِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ أَحْسَنُ مِنَ الْاِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ
.
“Sederhana di dalam Sunnah lebih baik dibandingkan bersungguh-sungguh di dalam bid’ah”. (riwayat al-Hakim).
.
Maksudnya, sedikit amalan namun di atas Sunnah (sesuai bimbingan Nabi) lebih baik dibandingkan banyak beramal dan bersungguh-sungguh, namun di atas kebid’ahan.
.
– Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata :
.
كلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
.
“Setiap bid’ah itu adalah kesesatan, sekalipun manusia menganggapnya baik (hasanah)”. (Al Ibaanah, no. 205 (1/339) Al Laalikaa’iy, no. 126 [1/92]).
.
– Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata :
.
فَإِياَّكُمْ وَمَا يُبْتَدَعُ فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلَالَة
.
“Berhati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan, karena perkara yang diada-adakan (dalam agama) adalah sesat”. (Hilyatul Awliyaa’ [1/233]).
.
– Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata :
.
كُلُّ عِبَادَةٍ لَمْ يَتَعَبَّدْ بِهَا أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فلاَ تَتَعَبَّدُوْا بِهَا؛ فَإِنَّ الأَوَّلَ لَمْ يَدَعْ لِلآخِرِ مَقَالا؛ فَاتَّقُوا اللهَ يَا مَعْشَرَ القُرَّاءِ، خُذُوْا طَرِيْقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
.
“Setiap ibadah yang tidak pernah diamalkan oleh para Sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, janganlah kalian beribadah dengannya. Karena generasi pertama tak menyisakan komentar bagi yang belakangan. Maka bertakwalah kalian kepada Allah wahai para pembaca al-Qur’an (orang-orang alim dan yang suka beribadah) dan ikutilah jalan orang-orang sebelummu”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah).
.
Selain memperingatkan kesesatannya bid’ah, para Sahabat juga mengingkari orang-orang yang melakukan kebid’ahan. Ada beberapa atsar para Sahabat yang menunjukkan pengingkaran mereka kepada orang-orang yang melakukan kebid’ahan.
.
1. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma
.
Shahabat yang mulia Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma menceritakan, Bahwasannya ada seorang laki-laki yang bersin kemudian dia berkata, “Alhamdulillah was salaamu ‘alaa Rasuulillaah” (segala puji bagi Allah dan kesejahtera’an bagi Rasulullah). Maka Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata : Aku juga mengatakan, “Alhamdulillah was salaamu ‘alaa Rasuulillah”. Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami untuk mengucapkan (ketika bersin) : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal”. (At-Tirmidzi, no. 2738).
.
Seorang laki-laki dalam riwayat di atas bersin kemudian mengucapkan, “Alhamdulillah” lalu menambahkan lafadz shalawat “Wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah”.
.
Penambahan lafadz “Shalawat” setelah mengucapkan “Alhamdulillah” yang di lakukan laki-laki tersebut ternyata mendapatkan teguran dari Ibnu Umar. Ibnu Umar kemudian mengajarkan kepada lelaki tersebut ucapan ketika bersin yang sesuai dengan yang di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu ucapan : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal”.
.
Kenapa Ibnu Umar menegurnya, bukankah tambahan “shalawat” yang diucapkan seorang lelaki tersebut baik ?
.
Begitulah sikap para Sahabat selalu berhati-hati terhadap perkara yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
2. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
.
Imaam Ad-Daarimi dalam sunannya, jilid 1 halaman 68, dengan sanad dari al-Hakam bin al-Mubarak dari ‘Amr bin Yahya dari ayahnya dari datuknya (Amr bin Salamah) meriwayatkan, Abu Musa Al As’ari radhiyallahu ‘anhu, di riwayatkan memasuki masjid Kufah, lalu di dapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling). Pada setiap halaqah terdapat seorang syaikh, dan di depan mereka ada tumpukan kerikil, lalu syaikh tersebut menyuruh mereka,
.
كَبِّرُوا مِئَةً، فَيُكَبِّرُوْنَ مِئَةً، فَيَقُوْلُ: هَلِّلُوا مِئَةً، فَيُهَلِّلُونَ مِئَةً، فَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِئَةً، فَيُسَبِّحُونَ مِئَةً
.
“Bertakbirlah seratus kali !” Lalu mereka pun bertakbir seratus kali (menghitung dengan kerikil). Lalu syaikh itu berkata lagi, “Bertahlil” seratus kali” Dan mereka pun bertahlil seratus kali, kemudian syaikh itu berkata lagi, “bertasbih seratus kali”, lalu mereka pun bertasbih seratus kali.
.
– Ibnu Mas’ud bertanya :
.
فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ ؟َ
.
Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka ?
.
– Abu Musa menjawab :
.
مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتِظَارَ أَمْرِكَ
.
Aku tidak berkata apa-apa hingga aku menunggu apa yang akan engkau katakan atau perintahkan.
.
– Ibnu Mas’ud berkata :
.
أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ، وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِهِم
.
Tidakkah engkau katakan kepada mereka agar mereka menghitung kesalahan mereka dan kamu jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan disia-siakan.
.
ثَمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلَقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ
.
Lalu Ibnu Mas’ud berlalu menuju masjid tersebut dan kami pun mengikuti di belakangnya hingga sampai di tempat itu.
.
– Ibnu Mas’ud bertanya kepada mereka :
.
فَقَالَ : مَا هَذا الَّذِيْ أَرَاكُمْ تَصْنَعُوْنَ ؟
.
Benda apa yang kalian pergunakan ini ?
.
– Mereka menjawab :
.
قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًا نَعُدَّ بِهِ التَّكْبِيْرَ والتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيْحَ
.
Kerikil wahai Abu ‘Abdirrahman. Kami bertakbir, bertahlil, dan bertasbih dengan mempergunakannya
.
– Ibnu Mas’ud berkata :
.
فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ
.
Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sedikitpun.
.
وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتكُمْ !
.
Celaka kalian wahai umat Muhammad ! Betapa cepat kebinasaan/penyimpangan yang kalian lakukan.
.
هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُوْنَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَر
.
Para shahabat Nabi kalian masih banyak yang hidup. Sementara baju beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga belum lagi usang, bejana beliau belum juga retak.
.
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ
.
Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya ! Apakah kalian merasa berada di atas agama yang lebih benar daripada agama Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ataukah kalian akan menjadi pembuka pintu kesesatan ?”
.
– Mereka menjawab :
.
. قَالُوا : وَاللهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ.
.
Wahai Abu ‘Abdirrahman, kami tidaklah menghendaki kecuali kebaikan.
.
– Ibnu Mas’ud menjawab :
.
وَكَمْ مِنْ مُرِيْدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ تُصِيْبَهُ
.
Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun ia tidak mendapatkannya.
.
إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، وَايْمُ اللهِ مَا أَدْرِيْ لَعَلَّ أَكْتَرَهُمْ مِنْكُمْ،
.
Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada kami : “Akan ada segolongan orang yang membaca Al-Qur’an, namun apa yang dibacanya itu tidak melewati kerongkongannya”. Demi Allah, aku tidak tahu, boleh jadi kebanyakan dari mereka adalah sebagian di antara kalian.
.
Itulah teguran Ibnu Mas’ud kepada orang-orang yang beribadah tidak sesuai dengan yang di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Dan ternyata sebagian dari mereka yang di tegur oleh Ibnu Mas’ud di ketahui bergabung dengan kelompok sesat khawarij, sebagaimana di sebutkan oleh Umar bin Salamah,
.
رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ
.
Kami melihat sebagian besar dari orang-orang yang ikut dalam halaqah itu adalah orang yang menyerang kami dalam Perang Nahrawaan yang bergabung bersama orang-orang khawarij.
.
Mengapa Ibnu Mas’ud menegur orang-orang yang sedang berdzikir, Bukankah dzikir itu baik ?
.
Yang jadi permas’alahan, model dzikir yang mereka lakukan tersebut tidak di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Ibnu Mas’ud pun menegur mereka.
.
3. Sa’id bin Musayyib (Tabi’in)
.
Pengingkaran terhadap penyimpangan dalam ibadah, juga di lakukan oleh generasi Tabi’in.
.
Sa’id bin Musayyib melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua raka’at, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Akhirnya Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata : “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku dengan sebab shalat ? Beliau menjawab : “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi As-Sunnah”. (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra, II/466).
.
Shalat adalah amalan yang utama, tetapi ternyata apabila dilakukan menyelisihi sunnah Nabi, tidak ada tuntutannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah yang di ingkari dan ditegur oleh Sa’id bin Musayyib.
.
Itulah beberapa atsar para Sahabat dan Tabi’in yang mengingkari orang-orang yang menyelisihi Sunnah Nabi. Lalu bagaimana sekiranya para Sahabat menyaksikan sa’at ini begitu maraknya penyimpangan dalam agama. Bahkan penyimpangannya sa’at ini jauh melebihi dari yang di lakukan oleh orang-orang yang di tegur oleh para Sahabat di atas.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
Ada pihak yang mendha’ifkan riwayat Ibnu Mas’ud di atas. Bantahannya silahkan kunjungi blog di bawah ini: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/02/hadits-riwayat-ibnu-masud-yang-melarang.html?m=1
.
.
______

ANTARA IKHTILAF YANG HARUS DI TOLERIR DAN YANG HARUS DI INGKARI

ANTARA IKHTILAF YANG HARUS DI TOLERIR DAN YANG HARUS DI INGKARI
.
Perbeda’an pendapat diantara umat Islam bukanlah hal baru. Semenjak zamannya para Sahabat, Tabi’i dan Tabiut Tabi’in begitu pula di masa para Ulama Salaf, perbeda’an pendapat sudah ada.
.
Banyak kitab yang ditulis para Ulama yang disusun khusus untuk membandingkan berbagai pendapat yang berbeda dengan mengkaji argumentasinya masing-masing.
.
Perlu diketahui bahwa setiap pendapat dari masing-masing pihak, ada pendapat yang harus di tolelir (di hormati), tapi ada pula pendapat yang harus di ingkari.
.
Contoh perbeda’an pendapat yang harus saling menghargai diantaranya : Cara turun ketika hendak sujud dalam sholat. Apakah tangan atau lutut terlebih dahulu, baca’an do’a iftitah, baca’an tasyahud, mengeraskan baca’an basmalah ketika shalat, atau tidak mengeraskannya, baca’an qunut subuh, jumlah takbir shalat jenazah dan takbir sholat ‘ied, jumlah shalat teraweh dan banyak lagi.
.
Berbeda pendapat dalam mas’alah-mas’alah yang di sebutkan di atas, diantara sesama Muslim tidak dibenarkan saling menjauhi dan saling bermusuhan. Karena masing-masing dari pendapat yang berbeda memiliki dalil yang sarih (jelas).
.
Dan bagi mereka yang mau mendiskusikan permas’alahan yang berbeda, maka harus memiliki pengetahuan yang cukup, mutaba’ah dan adab yang baik. Sehingga tidak mencederai ukhuwah Islamiyah.
.
Namun perlu di ketahui sikap menghargai (toleransi) hanyalah berlaku kepada pihak-pihak yang memiliki pendapat yang di akui oleh umat Islam sebagai bagian dari ikhtilaf dalam khazanah ke Islaman.
.
Dan sikap menghormati (toleransi) tidak berlaku kepada pihak-pihak yang memiliki pemahaman yang menyimpang atau ajaran yang sesat. Karena penyimpangan dan kesesatan bukan bagian dari Islam.
.
Kelompok, firqoh atau sekte-sekte sesat yang harus di ingkari diantaranya, Ahmadiyah yang mengakui adanya Nabi setelah Nabi Muhammad, Jahmiyah yang mengingkari Allah di atas ‘Arsy dan meyakini Allah ada di mana-mana, Khowarij yang mudah mengkafirkan umat Islam, Syi’ah rofidhoh yang menghujat dan mengkafirkan para Sahabat serta Ahli bid’ah lainnya yang gemar membuat-buat ajaran, acara atau amalan-amalan yang tidak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan.
.
Banyak aneka macam ajaran baru yang di buat-buat dalam urusan ibadah (bid’ah) yang di jajakan para pelaku bid’ah di tengah-tengah umat. Dan beragam ke bid’ahan tersebut harus di ingkari dan tidak boleh ada toleransi (menghormati) kepada mereka.
.
Banyak riwayat yang menunjukkan para Ulama mengingkari keberada’an sekte-sekte sesat dan menyingkap serta menampakakkan kepada umat penyimpangan dan kesesatan mereka. Juga para Ulama semenjak dahulu sampai hari ini mengingkari bid’ah-bid’ah yang merebak di tengah-tengah umat.
.
Bagi umat Islam yang ittiba’ kepada petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dan menapaki manhajnya para Sahabat, maka tidak akan pernah toleransi kepada Ahli bid’ah dan juga terhadap segala rupa bentuk ajaran bid’ah yang merebak di tengah-tengah umat Islam. Karena bid’ah mengotori kemurnian Islam dan meruntuhkan bangunan persaudara’an diantara umat Islam.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
———————

PERTANYA’AN PALING MEMATIKAN BUAT PARA PEMBELA BID’AH

PERTANYA’AN PALING MEMATIKAN BUAT PARA PEMBELA BID’AH

Di tulis oleh Ikwan pecinta serabi

Kalau soal ngotot-ngototan para pembela bid’ah jagonya. Tidak ada dalil, mimpi dan cerita dusta pun di keluarkan.

Baiklah, Tidak usah banyak kalam, coba kita tanya mereka dengan pertanya’an di bawah ini.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ;

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“. . SEMUA bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim, 867).

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“Dan SEMUA kesesatan tempatnya di neraka”. (HR. An Nasa’i, 1578).

Kata “KULLU” pada hadits tersebut, bermakna SETIAP atau SEMUA.

Ahli bid’ah menolak dengan keras memaknai kata “KULLU” dengan SETIAP atau SEMUA.

Menurut mereka, kata “KULLU” di situ bermakna SEBAGIAN.

Yah sudah, yang waras ngalah.

Kita coba artikan kata “KULLU” dengan makna, sebagaimana mereka inginkan, yaitu bermakna SEBAGIAN.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda ;

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“. . SEBAGIAN bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim, 867).

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“Dan SEBAGIAN kesesatan tempatnya di neraka”. (HR. An Nasa).

SEBAGIAN kesesatan tempatnya dineraka ?

Kalau SEBAGIAN kesesatan tempatnya di neraka, berarti SEBAGIAN kesesatan lagi tempatnya di surga.

Bukankah di akhirat itu hanya ada dua tempat, kalau tidak masuk surga, ya masuk neraka.

Sekarang para pembela bid’ah harus bisa menjawab dengan benar ! ! !

“SEBAGIAN” KESESATAN APA YANG MASUK SURGA ? ? ?

Wasallam . . .

Mangga di jawab wilujeng puyeng

___________

JAUHI BID’AH WALAUPUN KECIL

JAUHILAH BI’DAH WALAUPUN KECIL

Imam Abu Muhammad Al Barbahaari menulis untaian kata dalam kitab beliau yang bernama Syarhus Sunnah :

“Hindarilah oleh kalian hal-hal yang bid’ah itu betapa pun kecilnya, sebab bid’ah yang kecil itu secara terus-menerus akan menjadi besar. Demikian pula setiap bid’ah yang di munculkan ditengah-tengah ummat, awalnya adalah kecil, lalu di anggap oleh orang bahwa itu kebaikan dan kebenaran, Sehingga orang itu tertipu seolah-olah itu kebenaran, kemudian ia tidak bisa keluar dari hal tersebut, sehingga semakin besar bid’ah itu. Akhirnya akan dianggap sebagai dien (syari’at) yang diyakini, lalu menyelisihi jalan yang lurus”.

https://agussantosa39.wordpress.com/category/bidah/jangan-sepelekan-bidah/

————————

Hukum menghadiri peraya’an / acara bid’ah

HUKUM MENGHADIRI ACARA / PERAYA’AN BID’AH

Pertanya’an :

Apakah diperbolehkan menghadiri berbagai peraya’an atau acara-acara bid’ah ?

Jawaban :

Hukum menghadiri peraya’an-peraya’an tersebut perlu dibagi dua :

1. mendatangi dan menghadiri acara-acara tersebut untuk menginkarinya, menjelaskan kebenaran terkait dengan acara tersebut dan menjelaskan bahwa acara tersebut adalah amalan yang mengada-ada (bid’ah) yang tidak boleh dilakukan adalah perbuatan yang dituntunkan terutama untuk orang yang mampu memberikan penjelasan dengan baik dan dia berprasangka kuat bahwa dirinya terbebas dari marabahaya karena memberikan penjelasan tentang hal ini.

2. Menghadiri acara-acara di atas dengan tujuan sekedar nonton, cari hiburan, ingin tahu karena penasaran maka hukumnya adalah tidak boleh karena dengan hadir berarti turut berperan serta dalam kemungkaran yang dilakukan oleh pihak penyelenggara, memperbanyak jumlah pelaku kemungkaran, menjadi sebab semakin larisnya bid’ah tersebut.

Fatwa Lajnah Daimah no. 6524.
oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

majmu-fatawa.blogspot.com/2011/10/hukum-menghadiri-perayaan-bidah.html?m=1

————————

Lebih baik bodoh di atas sunnah daripada pintar tapi bid’ah

LEBIH BAIK BODOH DI ATAS SUNNAH DARIPADA PINTAR DIATAS BID’AH

Al-Imam al-Qasim bin Muhammad rahimahullah berkata : “Seseorang hidup dalam keadaan jahil / bodoh, itu lebih baik daripada dia berkata atas nama agama Allah tanpa ilmu” (Thabaqat al-Hanabilah 1/70)

قال العلامة ربيع بن هادي حفظه الله : الجهل : أفضل من أخذ العلم عن أهل البدع
[ المجموع ١/٣٠١ ]

Berkata Al ‘Allamah Robi’ bin Hadiy hafizhohulloh : “Kejahilan (kebodohan) Lebih utama daripada mengambil ilmu dari ahlul bida’.” (Al Majmu’ 1/301)

Berkata As-Syaikh Hani’ bin Buraik hafidzahullah ; “Lebih baik engkau menjadi orang yang jahil (bodoh) tetapi di atas As-Sunnah, daripada engkau menjadi penuntut ilmu namun mubtadi’/ pelaku bid’ah !”

_____________________