KAMI CIPTAKAN DARI AIR SEPERMA, SEBAGIAN MAKHLUK HIDUP ?

.
KAMI CIPTAKAN DARI AIR SEPERMA, SEBAGIAN MAKHLUK HIDUP ?
.
Menurut para pembela bid’ah hasanah, hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan,
.
وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
.
“Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (baru) dan “KULLU” perkara yang diada-adakan (baru) adalah bid’ah, dan “KULLU” bid’ah adalah kesesatan”, dan ‘KULLU” kesesatan tempatnya di neraka”. (HR. An Nasa’i).
.
Menurut para pembela bid’ah hasanah, Lafadz “KULLU” dalam hadits di atas bermakna “SEBAGIAN”, bukan “SEMUA”.
.
Untuk menguatkan pendapatnya, mereka menunjukkan ayat Al-Qur’an yang mereka ambil hanya sebagian atau sepotong, tidak mereka perhatikan secara keseluruhannya. Kemudian mencari ayat lain lalu di hubungkan dengan ayat yang sudah diambilnya secara sepotong. Kemudian ayat yang mereka potong tersebut mereka maknai sesukanya.
.
Berikut ini ayat yang mereka ambil secara sepotong.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
.
”Dan dari air Kami jadikan SEGALA sesuatu yang hidup”. (Q.S Al-Anbiyya ayat 30).
.
Para pembela bid’ah hasanah mengatakan : Lafadz “KULLA” pada ayat 30 surat al-Anbiyya tersebut haruslah di terjemahkan dengan arti : “SEBAGIAN” sehingga ayat itu berarti : “Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluk hidup”. Karena pada kenyata’annya tidak semua makhluk yang diciptakan Allah berasal dari air.
.
Itulah penafsiran mereka terhadap ayat Al-Qur’an di atas. Mereka pun tidak menunjukkan penafsiran para Ulama ahli tafsir yang memberikan penafsiran demikian. Karena memang tidak ada para Ulama ahli tafsir yang mengatakan seperti itu. Terlebih lagi para Ulama ahli tafsir terdahulu.
.
Dalam menguatkan penafsiran ayat di atas, mereka menunjukkan ayat lain yang terdapat dalam surat Al-A’raf ayat 12 berikut ini,
.
خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
.
“Engkau (Allah) telah menciptakan aku (iblis) dari api sedangkan engkau menciptakannya (adam) dari tanah liat”. (QS Al-A’raf : 12).
.
Para pembela bid’ah hasanah selanjutnya berkata, Dengan demikian, ternyata lafadz “KULLU” tidak dapat di terjemahkan secara mutlak dengan arti : “SETIAP/ SEMUA, sebagaimana umumnya jika merujuk ke dalam kamus bahasa Arab umum, karena hal itu tidak sesuai dengan kenyata’an.
.
Itulah perkata’an mereka akibat dari memotong-motong ayat dan menghubungkannya dengan ayat yang mereka kehendaki. Sehingga timbullah penafsiran yang mereka buat-buat sendiri.
.
Kita perhatikan kesalahan mereka !
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
.
”Dan dari air Kami jadikan SEGALA sesuatu yang hidup”. (Q.S Al-Anbiyya ayat 30).
.
Itulah arti dari ayat di atas yang sebenarnya. Lafadz “KULLU” pada ayat tersebut arti yang sebenarnya memang “SEGALA”, bukan “SEBAGIAN” sebagaimana menurut mereka.
.
Memang benar, bahwa kata-kata yang bernada umum dalam bahasa Arab seperti kata “KULLU” (كُلُّ), tidak harus diartikan umum tanpa kecuali.
.
Namun dengan memperhatikan konteks kalimat, realita, penalaran, dan nash-nash lainnya, maka kita bisa menyimpulkan apakah keumuman suatu ungkapan dalam bahasa Arab tadi masih berlaku mutlak, ataukah tidak.
.
Dan untuk memaknai dengan benar makna yang terkandung dari suatu ayat, maka diantaranya kita harus mengkaji ayat tersebut secara menyeluruh, tidak sepotong-sepotong.
.
Perhatikan kembali ayat yang mereka potong di atas sebagai berikut,
.
Allah ta’ala berfirman :
.
“وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ”
.
“Dan dari air Kami jadikan SEGALA sesuatu yang hidup”. (QS. Al-Anbiyya, 30).
.
Lafadz “KULLU” pada ayat di atas artinya : “SEGALA”, namun mereka para pembela bid’ah hasanah mengartikannya : “SEBAGIAN”.
.
Lalu arti yang benar yang mana, “SEGALA” atau “SEBAGIAN” ?
.
Perhatikan ! !
.
Supaya tidak salah memaknai ayat di atas, maka perlu di perhatikan ayat tersebut secara keseluruhannya, tidak hanya sepotong.
.
Perhatikan ayat tersebut secara keseluruhannya berikut ini :
.
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ
.
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. DAN DARI AIR KAMI JADIKAN SEGALA SESUATU YANG HIDUP. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman ?”. (QS. Al-Anbiyya, 30).
.
Jika kita perhatikan ayat tersebut secara keseluruhannya, maka kini kita bisa mengetahui bahwa ayat tersebut sedang menyebutkan tentang kebesaran Allah, yaitu menerangkan bagaimana dahulunya langit dan bumi itu bersatu kemudian di pisahkan keduanya. Dan ayat itu menerangkan bahwa AIR SEBAGAI SUMBER DARI SEGALA YANG HIDUP DI BUMI.
.
Sebagai bukti bahwa ayat dalam surat al-Anbiyya ayat 30 itu sedang berbicara tentang bumi, maka bisa dilihat juga pada ayat berikutnya yang artinya :
.
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk”. (QS. al An-Biyya : 31).
.
Kita perhatikan juga penafsiran para Ulama ahli tafsir tentang air yang di sebutkan dalam ayat di atas,
.
Berikut ini dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan,
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
.
‘Dan dari air Kami jadikan “SEGALA” sesuatu yang hidup” (QS. Al-Anbiya: 30).
.
Imam Ibnu Katsir mengatakan . . “Dari Ibnu Umar, bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepadanya menanyakan langit dan bumi yang dahulunya suatu yang padu, lalu Allah memisahkan keduanya. Ibnu Umar berkata, “Pergilah kepada syekh itu, lalu tanyakanlah kepadanya, kemudian datanglah kamu kemari dan ceritakanlah kepadaku apa yang telah dikatakannya.” Lelaki itu pergi menemui Ibnu Abbas dan menanyakan masalah itu kepadanya. Ibnu Abbas menjawab, “Ya, memang dahulunya langit itu terpadu, tidak dapat menurunkan hujan, dan bumi terpadu (dengannya) sehingga tidak dapat menumbuhkan tetumbuhan. Setelah Allah menciptakan bagi bumi orang yang menghuninya, maka Dia memisahkan langit dari bumi dengan menurunkan hujan, dan memisahkan bumi dari langit dengan menumbuhkan tetumbuhan.” (Tafsir Ibnu Katsir QS Al-Anbiya: 30).
.
Dan berikut ini keterangan tentang air yang dimaksudkan dalam ayat ke 30 dalam Surat Al-Anbiya dalam Tafsir Jalalain.
.
Dalam Tafsir Jalalain disebutkan : “Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. Maksudnya AIR LAH YANG MENJADIKAN PENYEBAB BAGI SELURUH KEHIDUPAN BAIK MANUSIA, HEWAN, MAUPUN TUMBUH-TUMBUHAN. Namun mengapalah orang-orang kafir tiada juga beriman terhadap ke esaan Allah”. (Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2, [Bandung: Sinar Baru Algensindo], 2008, hlm. 126-127).
.
Setelah kita mengetahui ayat di atas secara utuh, tidak membacanya secara sepotong dan juga kita perhatikan keterangan dari para Ulama ahli tafsir, maka jelaslah lafadz “KULLU’ pada ayat tersebut maknanya : SETIAP, SEMUA, SEGALA, SELURUH. Bukan SEBAGIAN.
.
Jadi ayat di atas bunyinya :
.
“وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ”
.
“Dan dari air Kami jadikan SEGALA sesuatu yang hidup”. (QS. Al-Anbiyya, 30).
.
Itulah pengertian dari ayat tersebut yang sebenarnya.
.
SEGALA sesuatu yang hidup yang di maksudkan dalam ayat di atas artinya, SEMUA YANG HIDUP DI MUKA BUMI BERSUMBER DARI AIR. Tidak akan ada kehidupan di muka bumi apabila tidak ada air.
.
Perhatikan keterangan dalam Tafsir Jalalain di atas sekali lagi,
.
Dalam Tafsir Jalalain disebutkan : “Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. Maksudnya AIR LAH YANG MENJADIKAN PENYEBAB BAGI SELURUH KEHIDUPAN BAIK MANUSIA, HEWAN, MAUPUN TUMBUH-TUMBUHAN.
.
Apakah ada makhluk hidup di muka bumi yang bisa hidup tanpa air ?
.
Dengan melihat ayat di atas secara utuh tidak sepotong, maka jelas sangat keliru apabila air yang disebutkan dalam ayat tersebut di maknai air sperma. Namun air dalam ayat tersebut air yang sesungguhnya. Air yang menjadi sumber kehidupan bagi makhluk hidup yang ada di permuka’an bumi. Karena ayat tersebut sedang menerangkan tentang bumi. Dan kata “KULLU” dalam ayat tersebut juga bermakna “SEGALA” bukan “SEBAGIAN”.
.
Kita kembali kepada hadits Nabi yang menyebutkan,
.
وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
.
“Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (baru) dan “KULLU” perkara yang diada-adakan (baru) adalah bid’ah, dan “KULLU” bid’ah adalah kesesatan”, dan “KULLU” kesesatan tempatnya di neraka”. (HR. An Nasa’i).
.
Kata “KULLU” dalam hadits tersebut memang artinya “SEGALA”, “SETIAP” atau “SEMUA”. Bukan “SEBAGIAN”.
.
Apabila kata “KULLU” dalam hadits tersebut di artikan “SEBAGIAN”, maka akan menimbulkan pertanya’an yang tidak akan bisa di jawab.
.
Coba kita artikan kata “KULLU” dalam hadits di atas dengan arti “”SEBAGIAN sebagaimana yang di artikan oleh para pembela bid’ah hasanah.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
.
Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (baru) dan “SEBAGIAN” perkara yang diada-adakan (baru) adalah bid’ah, dan “SEBAGIAN” bid’ah adalah kesesatan” dan “SEBAGIAN” kesesatan tempatnya di neraka”. (HR. An Nasa’i).
.
Karena lafadz “KULLU” dalam hadits di atas diartikan “SEBAGIAN”. Jadi akhir dari hadits tersebut berbunyi “SEBAGIAN” kesesatan tempatnya di neraka.
.
Apabila dalam hadits tersebut di sebutkan “SEBAGIAN” kesesatan tempatnya di neraka.
.
Maka ada “SEBAGIAN” kesesatan lagi yang tempatnya di surga.
.
Maka kini timbul pertanya’an, “SEBAGIAN” kesesatan apa yang tempatnya di surga ?
.
Pertanya’an itu perlu di pertanyakan, karena di akhirat tempat itu hanya ada dua, yaitu surga dan neraka.
.
Berbeda halnya apabila lafadz “KULLU” dalam hadits di atas di maknai SETIAP, SEMUA atau SEGALA.
.
Kita perhatikan apabila hadits di atas dengan lafadz “KULLU” dimaknai “SETIAP/SEMUA”.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
.
Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (baru) dan “SETIAP/SEMUA” perkara yang diada-adakan (baru) adalah bid’ah, dan “SETIAP/SEMUA” bid’ah adalah kesesatan” dan “SETIAP/SEMUA” kesesatan tempatnya di neraka”. (HR. An Nasa’i).
.
Perhatikan lafadz hadits di atas dengan lafadz “KULLU” dimaknai SETIAP/SEMUA. Tidak menimbulkan kerancuan sebagaimana halnya di maknai SEBAGIAN.
.
Maka jelaslah lafadz “KULLU” dalam hadits tersebut bermakna SETIAP/SEMUA. Bukan “SEBAGIAN”
.
Dan inilah yang di fahami oleh para Sahabat.
.
Ibnu Umar berkata :
.
كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة
.
“Seluruh bid’ah itu sesat sekalipun manusia memandangnya baik”. (Al Lalika’i 11/50).
.
Semoga bisa di fahami.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
__________________

Iklan