NASEHAT EMAS BUYA HAMKA UNTUK PARA PEJUANG SUNNAH

NASEHAT EMAS BUYA HAMKA UNTUK PARA PEJUANG SUNNAH
.
Berjuanglah terus, wahai mubaligh menegakkan citamu, dan serahkanlah dirimu kepada Tuhan.
.
Terhadap sesama pemeluk Islam, ambillah satu sikap yang paling baik.
.
Jika engkau dipandang musuh, pandanglah mereka kawan.
.
Jika engkau dihina, muliakan mereka !
.
Jika engkau diinjak, angkat mereka ke atas agar sampai tersundak ke langit.
.
Adapun kemuliaan yang sejati hanyalah pada siapa yang lebih takwa kepada Allah !
.
Oleh karena itu, ketika orang-orang berebut keuntungan duniawi, mari kita merebut takwa !
.
(Buya HAMKA, Dari Hati Ke Hati, Hal. 78, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2016).
.
.
_____________

Iklan

MEMAHAMI PEMBAGIAN BID’AH YANG DI MAKSUD AL ‘IZ BIN ABDUS SALAM

MEMAHAMI PEMBAGIAN BID’AH YANG DI MAKSUD AL ‘IZ BIN ABDUS SALAM

Al ‘Iz-bin Abdus Salam rahimahullah berkata : “Bid’ah itu terbagi kepada bid’ah yang wajib, bid’ah yang haram, bid’ah yang sunnah bid’ah yang makruh dan bid’ah yang mubah. Dan cara untuk mengetahui hal tersebut, maka bid’ah tersebut harus dikembalikan kepada kaidah-kaidah syari’at. Maka jika bid’ah tersebut masuk dalam kaidah yang wajib, maka itulah yang dinamakan dengan bid’ah wajibah, apabila ia masuk pada kaidah yang haram, maka itulah bid’ah muharramah. Jika ia masuk dalam kaidah sunnah, maka itulah bid’ah mandubah (sunnah) dan jika ia masuk dalam kaidah mubah, maka itulah bidah yang mubah”. [Qawaa’idul Ahkaam, 2/173].

BANTAHAN :

1. Sesungguhnya kita tidak diperbolehkan untuk mempertentangkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan perkata’an siapapun.

2. Berkata Imam Asy-Syathibi rahimahullah : “Sesungguhnya pembagian tersebut adalah pembagian yang di ada-adakan, tidak ada satupun dalil syar’i yang mendukungnya, bahkan pembagian itu sendiri saling bertolak belakang, sebab hakikat bid’ah adalah jika sesuatu itu tidak memiliki dalil yang syar’i, tidak berupa dalil dari nas-nas syar’i, dan juga tidak terdapat dalam kaidah-kaidahnya. Sebab seandainya disana terdapat dalil syar’i tentang wajibnya, atau sunnahnya, atau bolehnya, niscaya tidak mungkin bid’ah itu ada, dan niscaya amalan tersebut masuk dalam amalan-amalan secara umum yang diperintahkan, atau yang diberikan pilihan. Karena itu maka mengumpulkan beberapa hal tersebut sebagai suatu bid’ah, dan antara keberadaan dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya, atau sunnahnya, atau bolehnya, maka semua itu merupakan pengumpulan antara dua hal yang saling menafikan”.[Al I’tisham, 1/246].

3. Bahwasanya bid’ah yang dimaksudkan oleh Al-’lzz bin Abdus Salam rahimahullah adalah bid’ah menurut pengertian bahasa, bukan menurut pengertian syara’. Dan yang menunjukan hal tersebut (bid’ah menurut bahasa) adalah contoh-contoh yang dipaparkan Al-’lzz bin Abdus Salam terhadap pembagian-pembagian tersebut.

Berikut ini pembagian bid’ah menurut Al-’lzz bin Abdus Salam dan contoh-contohnya :

• Bid’ah Wajib

Beliau contohkan dengan menekuni ilmu nahwu.

Tanggapan :

Apakah menekuni ilmu nahwu itu merupakan bid’ah menurut syari’at ?

Ataukah ia termasuk kepada kaidah yang mengatakan :

ما لا يتمّ الواجب إلا به فهو واجب

“Sesuatu yang tidak akan sempurna suatu kewajiban kecuali dengan adanya sesuatu tersebut, maka sesuatu itu hukumnya wajib”

Ketahuilah bahwasanya mungkin dapat kita katakan mengenai ilmu nahwu, bahwa ia merupakan bid’ah menurut tinjauan bahasa, akan tetapi hukum-hukum syar’i itu ditetapkan dengan pengertian-pengertian menurut syari’at, bukan dengan menggunakan pengertian-pengertian menurut bahasa.

• Bid’ah Mandub (sunnah)

Beliau mencontohkannya dengan shalat tarawih, pembangunan sekolah-sekolah, dan pembicara’an mengenai tasawuf yang terpuji.

Tanggapan :

Semua itu bukanlah merupakan bid’ah di dalam agama. Shalat tarawih telah ada contohnya dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sedangkan pembangunan sekolah-sekolah adalah wasilah (sarana) untuk menuntut ilmu dan keutamaan ilmu serta mengajarkannya tidak dapat kita pungkiri, serta pembicara’an tentang tasawwuf terpuji telah diketahui sebagai bagian dari nasihat.

• Bid’ah Mubah

Beliau memberikan contoh yang banyak terhadap kelezatan-kelezatan.

Tanggapan :

Hal ini bukanlah merupakan bid’ah menurut agama, bahkan jika ia sampai kepada derajat israf (berlebih-lebihan), maka ia termasuk kepada hal yang diharamkan, yang masuk dalam suatu bentuk kemaksiatan, bukan termasuk bid’ah. Dan ada perbedaan antara kemaksiatan dan bid’ah. Imam Asy-Syathibiy telah membahas contoh-contoh tersebut dalam pembahasan yang panjang. [Al I’tisham, 1/246].

AL-‘IZ BIN ABDUS SALAM DIKENAL ANTI BID’AH

Bahwasanya telah ada riwayat mengenai Al-’Izz bin Salam Rahinahullah bahwa beliau adalah orang yang dikenal sebagai pemberantas bid’ah dan orang yang sangat melarang hal tersebut serta mentahdzir (memperingati) dan bahaya bid’ah. Sungguh beliau pernah melarang beberapa hal yang dinamakan oleh ahli bid’ah dengan bid’ah hasanah.

Berikut ini sebagian bid’ah yang diingkari oleh Al-’lzz bin Abdus Salam.

Syihabuddin Abu Syaamah, salah seorang murid dari Al-’lzz- berkata : “Beliau adalah orang yang paling berhak menjadi khathib dan imam, beliau telah menyingkirkan banyak bid’ah yang pernah dilakukan oleh para khatib dengan pukulan pedang di atas mimbar, dan lain-lain, beliau pernah mengungkapkan kebathilan dua shalat pada pertengahan bulan sya’ban (nishfu sya’ban), dan beliau melarang keduanya”. [Thabaqaat Asy Syafi’iyyah oleh Imam As Subki, 8/210)].

Dan berikut ini perkata’an Al-’lzz bin Abdus Salam yang menujukkan bahwa beliau adalah orang yang memerangi dan melarang bid’ah, yang di antaranya adalah apa yang dinamakan orang dengan “bid’ah hasanah”, namun demikian Al-’lzz bin Salam tetap mengingkarinya.

Di antaranya adalah :

Bahwasanya beliau pernah ditanya tentang bersalam-salaman setelah selesai shalat shubuh dan ashar, maka beliaupun berkata :

“Bersalam-salaman setelah shalat subuh dan ashar adalah merupakan salah satu dari bid’ah, kecuali bagi orang yang baru datang yang belum sempat bertemu dan berjabatan tangan dengannya sebelum shalat, sebab bersalam-salaman disyari’atkan oleh agama ketika baru bertemu. Dan adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya setelah shalat berdzikir dengan dzikir-dzikir yang syar’i dan beristighfar 3 x kemudian bubar dari shalatnya. Dan diriwayatkan bahwa beliau membaca, (yang artinya) “Wahai Tuhanku jauhkanlah dari adzab-Mu di hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” Dan segala kebaikan hanyalah dengan mengikuti Rasulullah. [Fataawaa Al ‘Izz Ibnu Abdissalaam, hal. 46, no. 15, Cet. Daarulbaaz].

Dan Al-’lzz bin Abdus Salam juga pernah berkata :

و لا يستحبّ رفع اليدين فى الدعاء إلا فى المواطن الّتى رفع فيها رسول الله صلّى الله عليه و سلّم يديه و لا يمسح وحهه بيديه عقب الدعاء إلاّ جاهل

“Dan tidaklah disukai (disunnahkan mengangkat kedua tangan ketika berdo’a, kecuali pada tempat-tempat yang padanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, dan tidak ada orang yang mengusapkan kedua tangannya kewajahnya setelah berdo’a melainkan orang yang jahil”. [Ibid, hal. 47].

Dan Al-’lzz bin Abdus Salam juga berkata : “Dan tidak disyari’atkan membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam do’a Qunut, dan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak boleh ditambah atau dikurangi sedikitpun”. [1]

Ketika mengornentari perkata’an beliau ini, Syaikh Al-Albany berkata : “Di dalam perkatan beliau ini terdapat isyarat bahwasanya kita tidak memperluas istilah bid’ah hasanah, sebagaimana yang dilakukan dan dikatakan oleh orang-orang disaat ini.

Saya katakan : “Dari apa yang telah dibahas, maka menjadi jelaslah bahawasanya yang dimaksudkan oleh Ai-’lzz bin Abdus Salam dalam pembagian beliau terhadap bid’ah adalah bid’ah secara bahasa, bukan merupakan pengertian bid’ah menurut agama.”

Disana masih ada lagi nash yang shahih dari beliau mengenai apa yang beliau maksudkan dengan bid’ah hasanah, dimana beliau berkata ketika membantah Ibnu Shalah mengenai shalat ragha’ib: “Kemudian beliau, ibnu Shalah mengaku bahwasanya shalat ragha’ib itu merupakan bid’ah yang dibuat-buat, maka kami berhujjah kepada beliau kalau begitu dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

و شر الأمور محدثاتها و كلّ بدعة ضلالة

“Dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru (dalam agama), dan setiap bid’ah itu sesat.”

Dan telah dikecualikan dalam hadits tersebut bid’ah hasanah dari bid’ah dhalalah, yakni semua bid’ah yang tidak menyelisihi As-Sunnah, bahkan ia sesuai dengan sunnah maka jenis bid’ah yang lain masuk pada keumuman Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

و شر الأمور محدثاتها و كلّ بدعة ضلالة

“Dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru (dalam agama), dan setiap bid’ah itu sesat.”

[Musaajalatu “Amaliyyah Bainal Imaamain Al Jaliilain Al ‘Izz bin Abdissalaam dan Ibnu Shalah, hal. 31].

Di sini kami katakan : Perkara yang ada kesesuaian dengan As-Sunnah, apakah boleh kita katakan sebagai bid’ah menurut agama ?

Maka perhatikanlah perkataan Al-’Izz mengenai pengertian bid’ah hasanah, yakni : “Tidak menyelisihi Sunnah, bahkan sejalan dengan As-Sunnah itu sendiri.” !!, maka apa saja yang sesuai dengan As-Sunnah sudah pasti tidak ternasuk dalam kategori bid’ah menurut syari’at, namun terkadang merupakan bid’ah menurut pengertian secara bahasa. Maka sudah sangat jelas apa yang dimaksudkan oleh Al-’Izz dengan bid’ah hasanah, bid’ah wajibah, bid’ah mustahabbah (sunnah) dan bid’ah mubahah (boleh) adalah bid’ah secara makna bahasa.

Adapun secara syari’at, maka semua bid’ah itu sesat.

Dari sini jelaslah bahwa perkataan bid’ah hasanah dalam agama merupakan salah satu di antara sebab-sebab utama terjadinya pembauran antara makna secara bahasa dan istilah agama terhadap makna bid’ah yang terdapat di dalam atsar-atsar, serta perkataan sebagian ahli ilmu.

Maka barangsiapa yang diberi taufiq untuk dapat membedakan antara ini dan itu, maka syubbhat-syubhat tersebut akan hilang dari dirinya dan menjadi jelaslah baginya permasalahan tersebut.

Footnote :

[1] Mungkin yang beliau maksudkan adalah qunut di shalat subuh, sebab beliau bermadzhab Syafi’i, sedangkan mereka mengatakan bahwa hal tersebut disyari’atkan. Kalau tidak, maka sesungguhnya shalawat dalam do’a qunut pada shalat witir merupakan perbuatan Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه . (Ditakhrij oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahihnya, hal. 1100. Lihat pula Shifat Shalat Nabi صلى الله عليه و سلم oleh Al Albani, hal. 160 pada catatan kaki.

_____

JAUHI BID’AH WALAUPUN KECIL

JAUHILAH BI’DAH WALAUPUN KECIL

Imam Abu Muhammad Al Barbahaari menulis untaian kata dalam kitab beliau yang bernama Syarhus Sunnah :

“Hindarilah oleh kalian hal-hal yang bid’ah itu betapa pun kecilnya, sebab bid’ah yang kecil itu secara terus-menerus akan menjadi besar. Demikian pula setiap bid’ah yang di munculkan ditengah-tengah ummat, awalnya adalah kecil, lalu di anggap oleh orang bahwa itu kebaikan dan kebenaran, Sehingga orang itu tertipu seolah-olah itu kebenaran, kemudian ia tidak bisa keluar dari hal tersebut, sehingga semakin besar bid’ah itu. Akhirnya akan dianggap sebagai dien (syari’at) yang diyakini, lalu menyelisihi jalan yang lurus”.

https://agussantosa39.wordpress.com/category/bidah/jangan-sepelekan-bidah/

————————

Hukum menghadiri peraya’an / acara bid’ah

HUKUM MENGHADIRI ACARA / PERAYA’AN BID’AH

Pertanya’an :

Apakah diperbolehkan menghadiri berbagai peraya’an atau acara-acara bid’ah ?

Jawaban :

Hukum menghadiri peraya’an-peraya’an tersebut perlu dibagi dua :

1. mendatangi dan menghadiri acara-acara tersebut untuk menginkarinya, menjelaskan kebenaran terkait dengan acara tersebut dan menjelaskan bahwa acara tersebut adalah amalan yang mengada-ada (bid’ah) yang tidak boleh dilakukan adalah perbuatan yang dituntunkan terutama untuk orang yang mampu memberikan penjelasan dengan baik dan dia berprasangka kuat bahwa dirinya terbebas dari marabahaya karena memberikan penjelasan tentang hal ini.

2. Menghadiri acara-acara di atas dengan tujuan sekedar nonton, cari hiburan, ingin tahu karena penasaran maka hukumnya adalah tidak boleh karena dengan hadir berarti turut berperan serta dalam kemungkaran yang dilakukan oleh pihak penyelenggara, memperbanyak jumlah pelaku kemungkaran, menjadi sebab semakin larisnya bid’ah tersebut.

Fatwa Lajnah Daimah no. 6524.
oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

majmu-fatawa.blogspot.com/2011/10/hukum-menghadiri-perayaan-bidah.html?m=1

————————

Lebih baik bodoh di atas sunnah daripada pintar tapi bid’ah

LEBIH BAIK BODOH DI ATAS SUNNAH DARIPADA PINTAR DIATAS BID’AH

Al-Imam al-Qasim bin Muhammad rahimahullah berkata : “Seseorang hidup dalam keadaan jahil / bodoh, itu lebih baik daripada dia berkata atas nama agama Allah tanpa ilmu” (Thabaqat al-Hanabilah 1/70)

قال العلامة ربيع بن هادي حفظه الله : الجهل : أفضل من أخذ العلم عن أهل البدع
[ المجموع ١/٣٠١ ]

Berkata Al ‘Allamah Robi’ bin Hadiy hafizhohulloh : “Kejahilan (kebodohan) Lebih utama daripada mengambil ilmu dari ahlul bida’.” (Al Majmu’ 1/301)

Berkata As-Syaikh Hani’ bin Buraik hafidzahullah ; “Lebih baik engkau menjadi orang yang jahil (bodoh) tetapi di atas As-Sunnah, daripada engkau menjadi penuntut ilmu namun mubtadi’/ pelaku bid’ah !”

_____________________

Nasehat Sunan Bonang

NASEHAT SUNAN BONANG UNTUK MENJAUHI BID’AH

Berikut ini adalah dialog sunan Ampel dengan sunan Bonang yang di catat dalam buku “Het Book Van Bonang”

Dialog tersebut terdapat pada sebuah dokumen yang bisa di pertanggung jawabkan kebenarannya sehubungan dengan kisah-kisah Walisongo.

* BUKU HET BOOK VAN BONANG

Buku ini ada di perpustakaan Heiden Belanda, yang menjadi salah satu dokumen langka dari jaman Walisongo. Kalau tidak dibawa Belanda, mungkin dokumen yang amat penting itu sudah lenyap.

Buku ini ditulis oleh Sunan Bonang pada abad 15 yang berisi tentang ajaran-ajaran Islam.

NASEHAT SUNAN BONANG

Salah satu catatan menarik yang terdapat dalam dokumen “Het Book van Mbonang” itu adalah peringatan dari sunan Mbonang kepada umat untuk selalu bersikap saling membantu dalam suasana cinta kasih, dan mencegah diri dari kesesatan dan BID’AH.

Bunyinya sebagai berikut :

“Ee..mitraningsun ! Karana sira iki apapasihana sami-saminira Islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah“.

Artinya :

“Wahai saudaraku ! Karena kalian semua adalah sama-sama pemeluk Islam maka hendaklah saling mengasihi dengan saudaramu yang mengasihimu. Kalian semua hendaklah mencegah dari perbuatan sesat dan BIDA’H”.

Dokumen ini adalah sumber tentang walisongo yang dipercayai sebagai dokumen asli dan valid, yang tersimpan di Museum Leiden, Belanda.

Dari dokumen ini telah dilakukan beberapa kajian oleh beberapa peneliti. Diantaranya thesis Dr. Bjo Schrieke tahun 1816, dan Thesis Dr. Jgh

Dalam dokumen tersebut Sunan Kalijogo, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati dan Sunan Muria (kaum abangan) berbeda pandangan mengenai adat istiadat dengan Sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Drajat (kaum putihan).

Sunan Kalijogo mengusulkan agar adat istiadat lama seperti selamatan, bersaji, wayang dan gamelan dimasuki rasa keislaman.

Sunan Ampel berpandangan lain.

“Apakah tidak mengkhawatirkannya di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam ? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi BID’AH ? Sunan kudus menjawabnya bahwa ia mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari ada yang menyempurnakannya (hal 41, 64).

Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Gunung Jati dan terutama Sunan Giri berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan ajaran Islam secara murni, baik tentang aqidah maupun ibadah.

Dan mereka menghindarkan diri dari bentuk singkretisme / mencampurkan, memadukan ajaran Hindu dan Budha dngn Islam.

Tetapi sebaliknya Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Kalijaga mencoba menerima sisa-sisa ajaran Hindu dan Budha di dalam menyampaikan ajaran Islam.

(Abdul Qadir Jailani , Peran Ulama dan Santri Dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia], hal. 22-23, Penerbit PT. Bina Ilmu)

rusmanhaji.wordpress.com/2013/05/03/artikel-sinkretisme/

————————

Pengikut Nabi Isa Membuat Bid’ah Hasanah ?

PENGIKUT NABI ISA BERBUAT BID’AH ?

Allah berfirman : “Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkan nya kepada mereka tetapi utk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemelihara’an yang semestinya.” (Al-Hadid ayat 27)

Ayat 27 Surat Al-Hadid inilah di antara yng di jadikan hujjah oleh para pecintah bid’ah untuk membenarkan amalan-amalan bida’hnya.

Mereka berkata, bahwa bid’ah tidaklah selamanya tercela buktinya umat Nabi Isa juga berbuat bid’ah dan Allah tidak mencelanya.

Bantahan :

Ayat ini bercerita tentang kisah umat sebelum kita (Nashara). Apa yng di lakukan mereka tentu saja bukanlah harus menjadi syari’at buat kita, apabila bertentangan dgn dalil-dalil yang datang dlm syari’at agama kita. Karena sangat banyak dalil-dalil akan larangan dan ancaman berbuat bid’ah dlm agama kita, bahwa semua bentuk bid’ah adalah tertolak.

Kita juga mengetahui syari’at umat-umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah sama dengan syari’at yng di bawa oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contohnya ;

– Umat Nabi Isa menghadap Baitul Maqdis ketika shalat, sementara kita menghadap Ka’bah di Mekkah.

– Umat Nabi Musa harus menggunting kain yang terkena najis sedangkan kita cukup hanya mencucinya.

– Umat Nabi Musa harus melakukan bunuh diri apabila bertobat, lihat (QS Al-Baqarah: 54). tetapi kita cukup hanya memohon ampun Kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Jadi apabila ayat ini di jadikan alasan untuk menunjukan bolehnya kita berbuat bid’ah karena umat Nabi Isa berbuat bidah, tentu saja keliru. Karena apa yng mereka lakukan bertentangan dengan syariat yng di bawa oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi yng di utus untuk kita.

Kita mau ikut siapa ?, mengikuti mereka pengikut Nabi Isa yang berbuat bid’ah ? atau mengikuti Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yng melarang berbuat bid’ah ?

Berikut larangan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perbuatan bidah.

قال رسول الله ص م اما بعد فأن خيرالحديث كتاب الله وخيرالهدي هدي محمد ص م وشرالامورمحدثة وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Amma ba’du, Sesungguhnya sebaik-baik perkata’an adalah Kitabullah dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek jelek perkara adalah yang diada adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867).

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan :

كل ضلالة في النار

“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i no.1578.)

Wasallam

Agus Santosa Somantri

_______________