KATA-KATAMU ADALAH KUALITAS DIRIMU

KATA-KATAMU ADALAH KUALITAS DIRIMU

Apa yang kita ucapkan, kita tulis di status-status, juga komentar-komentar kita di Facebook, semua itu secara tidak langsung mencerminkan kualitas diri kita.

Semua orang tentu ingin menjaga harga diri dan kehormatannya, kita akan marah ketika orang lain merendahkan kehormatan kita.

Tapi sering kita lihat, banyak dari mereka yang aktif di dunia MABOK (Maya & Facebook) justru menelanjangi diri mereka sendiri dengan status-status atau komentar-komentarnya yang rendah, dan jelek yng menunjukan pribadi yng kurang pendidikan atau terlahir dari keluarga berantakan.

Sebelum kita menulis di status atau membuat komentar, mestinya kita pikirkan, apakah bermanfa’at buat orang lain atau minimal untuk kita sendiri. Jangan sampai malah menghinakan, merendahkan dan merugikan diri kita sendiri.

Seorang Muslim yang percaya akan adanya hari akhirat dan hari perhitungan, harusnya kita ingat bahwa, apa yang kita lakukan akan di mintai tanggung jawabnya di yaumul hisab kelak.

Allah Ta’ala berfirman :

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadirs” [Qaf -18].

Allah ta’ala berfirman :

وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ

“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala urusan yang kecil maupun yang besar adalah tertulis”. ( Al Qamar: 53-54).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat”. (Shahih Bukhori, no. 6477).

Ikhwan wal Akhwat fillah . .

Kita tentu tidak ingin buku catatan kita di penuhi catatan buruk akibat menganggap enteng kejelekan yang kita lakukan.

Yakinlah, apapun yang kita tulis, akan ditanya dan kita pun harus mempertanggung jawabkannya.

Ketika aku menulis
Aku yakin bahwa tanganku akan binasa
Sedang tulisanku kekal
Dan aku tahu bahwa Allah pasti akan menanyaiku.
Aduhai, apakah nanti jawabnya.

Semoga bermanfaat.

Al Afwa minkum Wassalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

===================

ADA MALAIKAT, JIN DAN SYETAN BUKTI BAHWA KATA KULLU TIDAK BERARTI SEMUA

ADA MALAIKAT, JIN DAN SYETAN BUKTI BAHWA KATA KULLU TIDAK BERARTI SEMUA

Mereka yang meyakini ada bid’ah hasanah mengatakan, lafadz “KULLU” pada hadits ;

وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“. . . Dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867).

Lafadz “kullu” pada hadits tersebut, tidak menunjukkan berarti setiap atau semua.

Buktinya, lafadz “kullu” pada surat Al-Anbiyya ayat 30, menunjukkan bahwa lafadz “kullu” berarti hanya sebagian. Berikut ini ayatnya ;

Allah ta’ala berfirman ;

“وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ”

“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. (Al Anbiyya, 30).

Dalam ayat itu, ada lafadz “Kullu”.

Apakah lafadz Kullu di ayat itu, berarti setiap atau semua ?

Tentu saja keliru, kalau dalam ayat itu, lafadz “kullu” di artikan setiap atau semua.

Bukankah ada jin, malaikat dan Iblis atau syetan yang mereka tidak berasal dari air ?

* Tanggapan

Memang benar, bahwa kata-kata yang bernada umum dalam bahasa Arab seperti kata (كُلُّ), tidak harus diartikan umum tanpa kecuali.

Dengan memperhatikan konteks kalimat, realita, penalaran, dan nash-nash lainnya, seseorang bisa menyimpulkan apakah keumuman suatu ungkapan dalam bahasa Arab tadi masih berlaku mutlak, ataukah tidak.

Untuk memahami makna yng terkandung dari ayat yang sebenarnya, maka kita harus mengkaji ayat tersebut secara menyeluruh, tidak sepotong-sepotong.

Allah ta’ala berfirman ;

“وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ”

“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. (Al Anbiyya, 30).

Perhatikan ! !

Ayat tersebut sedang membicarakan tentang pencipta’an langit dan bumi,

Supaya tidak salah memahami ayat, Perhatikan detail ayatnya :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman ?”. (Al Anbiyya, 30).

Ayat itu berbicara tentang kebesaran ayat-ayat Allah dan menjabarkan bagaimana dahulunya langit dan Bumi itu bersatu kemudian di pisahkan keduanya dan air itu merupakan sumber kehidupan bagi yang hidup di bumi.

Sebagai bukti bahwa ayat dalam surat al Anbiyya ayat 30 itu sedang berbicara tentang bumi, maka bisa dilihat juga pada ayat berikutnya :

Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. (QS al An-Biyya : 31).

Ayat tersebut sedang membicarakan tentang pencipta’an langit dan bumi, dan lebih khusus tentang bumi dan makhluk yang hidup di dalamnya.

Memang benar malaikat, jin, iblis dan syetan juga ada di bumi, tapi mereka tidak termasuk penghuni bumi, mereka bukan makhluk nyata di alam bumi, mereka pun tidak hidup sebagaimana yang mendiami bumi ini pada umumnya.

Semua tahu bahwa malaikat, jin, iblis dan syetan adalah makhluk ghoib, bukan makhluk yang nyata tinggal di bumi.

Adapun ayat 30, dalam surat Al Anbiyya tersebut sedang berbicara pencipta’an langit dan bumi dan penghuninya yang semuanya adalah makhluk dhohir, makhluk nyata di bumi.

Wasallam

Ikhwan pecinta kue serabi

______