Zakat fitrah dengan beras berarti bid’ah ?

ZAKAT FITRAH DENGAN BERAS BERARTI BID’AH ?

Zakat fitrah dengan beras berarti bid’ah, karena tidak di lakukan Rosululloh ?

Tanggapan :

Zakat fitrah dengan beras bukan bidah, walaupun tidak di lakukan oleh Rosululloh,

Dalam hadits disebutkan zakat fitrah dengan kurma, gandum, anggur atau keju, semua itu adalah makanan pokok, di tiap-tiap negri yang berbeda.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Dahulu kami mengeluarkan zakat fithri di masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada hari Idul Fithri dengan satu sho’ makanan.” Abu Sa’id berkata, Dahulu yang menjadi makanan kami adalah gandum, anggur, keju dan kurma.” (HR. Bukhari no. 1510).

Empat makanan yang disebutkan di atas bukanlah batasan. Makanan tersebut menjadi makanan orang banyak di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kata “makanan” maksudnya adalah makanan pokok penduduk suatu negeri, bisa berupa gandum, jagung, beras, atau lainnya.

Setiap yang menjadi makanan pokok di tiap-tiap negri, bisa digunakan untuk zakat fitrah, seperti di negeri kita dengan beras.

Yang mendukung pendapat ini adalah riwayat Abu Sa’id yang lain, beliau mengatakan : “Kami mengeluarkan (zakat fitrah) berupa makanan di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari ‘Idul Fitri.” Beliau mengatakan lagi, “dan makanan kami pada saat itu adalah gandum, kismis, susu kering, kurma.” (HR. Bukhari).

Inilah pendapat yang kuat yang dipilih jumhur (mayoritas) ulama. Di antaranya pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Mundzir, Ibnul Qayyim, Ibnu Bazz, dan lainnya.

Zakat fitrah bertujuan untuk memberikan makan bagi fakir dan miskin. Sehingga seandainya diberi sesuatu yang bukan dari makanan pokoknya, maka tujuan itu menjadi tidak tepat.

Jadi zakat fitrah dengan beras, bukanlah perkara yang di buat-buat dalam agama.

Kita mengeluarkan zakat fitrah dengan beras, karena beras sebagai makanan pokok di negri kita.

Wassalam

Agus Santosa Somantri

————————

Nasehat Ulama yordan

Ada nasihat yang indah dari Ulama Jordania yaitu Syaikh Ali Hasan Al-Halabi hafizhahullah, berikut nukilannya : “Setiap orang yang mengamalkan bid’ah beranggapan bahwa di dalamnya terkandung maslahat bagi kaum muslimin, maka kepadanya (orang tersebut) tidak ada manfa’atnya menerangkan tentang makna bid’ah atau mentahdzir (memperingatkan) dari bid’ah. Banyak hadits-hadits yang menerangkan cela’an terhadap bid’ah, jadi tidak berguna dan tidak ada manfa’at yang bisa diambil darinya. [‘Ilmu Ushuul Bida’, hlm.226 Daar Ar-Rayyah, cet.I,th.1413,H]

Syaikh Ali mengutarakan hal ini di dalam kitabnya dikarenakan sudah diketahui bahwa setiap orang yang selalu berkelit atau selalu mencari pembenaran maka sulit menjumpai kebenaran, mengapa demikian ? Karena ia sudah disibukkan dengan pencarian pembenarannya sehingga tidak ada lagi waktu untuk mencari kebenaran, Dengan demikian jika sudah diketahui kita menjumpai orang-orang yang berpegang teguh kepada pembenarannya maka semestinyalah kita menjauhinya, mengapa ? Karena hanya akan membuang-buang waktu dengannya, di samping itu pun dikhawatirkan ia akan menabur syubhat yang diluar kapasitas kita.

Allahul Musta’aan.

Membantah ahli bid’ah bukan berarti ghibah

Oleh Ustadz Abdurrahman Thayyib, Lc. hafizhahullahu ta’ala

Sering kita mendengar celotehan sebagian orang jika dia menyaksikan seseorang membantah/menyingkap kesesatan kelompok-kelompok/dai-dai yang menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah serta manhaj salaf (ahli sunnah wal jama’ah), dia mengatakan (entah dimimbar-mimbar jum’at atau dimajlis-majlisnya) : “Jagalah lisanmu, janganlah engkau mengghibah (ngrasani) saudaramu sendiri sesama muslim, bukankah Allah berfirman : ‘Janganlah sebagian kamu menghibah (menggunjing) sebagian yang lain sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?’”. (QS. Al-Hujurat : 12).

Apakah benar celotehan mereka ini??? Mari kita simak bersama sebagian ucapan-ucapan emas para ulama ahlus sunnah dalam masalah ini. Selamat menikmati -semoga Allah menampakkan yang benar itu benar dan memberi kita kekuatan untuk mengikutinya dan semoga Allah menampakkan yang batil itu batil serta memberi kita kekuatan untuk menjauhinya- :

1. Imam Nawawi –rahimahullah- (salah seorang ulama madzhab Syafi’i yang meninggal tahun 676 H) mengatakan dalam kitabnya “Riyadhus Shalihin” bab “penjelasan ghibah yang dibolehkan” :
“Ketahuilah bahwa ghibah dibolehkan untuk tujuan yang benar dan disyariatkan, yang tidak mungkin tujuan itu tercapai kecuali dengan ghibah tersebut. Hal ini ada dalam enam perkara :

a. Mengajukan kedzaliman orang lain. Dibolehkan bagi orang yang didzalimi untuk mengajukan yang mendzaliminya kepada penguasa atau hakim dan selain keduanya dari orang-orang yang memiliki kekuasaan atau kemampuan untuk mengadili sidzalim itu. Orang yang didzalimi itu boleh mengatakan si fulan itu telah mendzalimi/menganiaya diriku.

b. Meminta pertolongan untuk merubah kemungkaran dan mengembalikan orang yang berbuat dosa kepada kebenaran. Seseorang boleh mengatakan kepada yang memiliki kekuatan yang ia harapkan bisa merubah kemungkaran: si fulan itu berbuat kejahatan ini dan itu, maka nasehati dia dan larang dia berbuat jahat. Maksud ghibah disini adalah merubah kemungkaran/kejahatan, jika tidak bermaksud seperti ini maka ghibah tersebut haram.

c. Meminta fatwa. Orang itu mengatakan kepada sang pemberi fatwa : ayahku atau saudaraku atau suamiku telah mendzalimi diriku, apakah hal ini boleh? Bagaimana jalan keluarnya?. Ghibah seperti ini boleh karena suatu kebutuhan/tujuan (yang syar’i-pent). Tapi yang lebih utama tidak disebutkan (personnya/namanya) semisal: Bagaimana pendapat Syaikh tentang seorang suami atau ayah yang begini dan begitu? Hal ini juga bisa dilakukan dan dapat mencapai tujuan yang diinginkan meskipun tanpa menyebut nama/personnya. Tapi menyebutkan nama/personnya dalam hal ini hukumnya boleh seperti yang akan disebutkan dalam hadits Hindun -insya Allah-

d. Memperingatkan kaum Muslimin dari bahaya kesesatan (seseorang/kelompok-pent) dan sekaligus dalam rangka saling menasehati. Yang demikian itu mencakup beberapa hal :

– Mencela para perawi-perawi (hadits) atau para saksi yang tidak memenuhi syarat. Hal ini dibolehkan secara ijma’ kaum muslimin bahkan bisa jadi hal tersebut wajib hukumnya.

– Meminta pendapat/musyawarah orang lain dalam hal menikahi seseorang atau bergaul dengannya atau meninggalkannya atau dalam hal bermuamalah dengannya. Maka wajib bagi yang diajak bermusyawarah untuk tidak menyembunyikan sesuatu apapun tentang keadaan orang tersebut bahkan dia harus menyebutkan semua kejelekannya dengan niat saling menasehati.

– Apabila seseorang melihat penuntut ilmu sering berkunjung kepada ahli bid’ah (dai penyesat-pent) atau fasik untuk mengambil ilmu darinya dan dia khawatir si penuntut ilmu itu akan terkena racun kesesatan orang tersebut maka wajib baginya untuk menasehati si penuntut ilmu dengan menjelaskan hakekat (kesesatan) sang guru/dai penyesat itu dengan syarat tujuannya untuk menasehati. Dalam hal ini ada sebagian orang yang salah mempraktekkannya, dia tujuannya bukan untuk menasehati tapi karena hasad/dengki dengan orang yang ditahdzir (dighibahi itu), yang telah dihiasi oleh syaitan seolah-olah dia menasehati tapi hakekatnya dia hasad dan dengki.

– Seseorang yang memiliki tanggung jawab/tugas tapi dia tidak menjalankannya dengan baik atau dia itu fasik dan lalai. Maka boleh bagi yang mengetahuinya untuk menyebutkan keadaan orang tersebut kepada atasannya agar memecatnya dan menggantinya dengan yang lebih baik atau agar hanya diketahui keadaannya saja lalu diambil tindakan hingga atasannya tidak tertipu dengannya atau agar atasannya tersebut menasehatinya kepada kebaikan

e. Menyebutkan aib orang yang menampakkan kefasikan dan bid’ahnya seperti orang yang bangga meminum khomer, menganiaya orang lain, merampas harta dan melakukan hal-hal yang batil. Boleh bagi orang yang mengetahui keadaan orang diatas untuk menyebutkan aib-aibnya (agar orang lain berhati-hati darinya-pent)

f. Mengenalkan orang lain dengan menyebut gelar (laqob) nya yang sudah terkenal, misalnya Al-A’masy (yang cacat matanya), Al-A’raj (yang pincang), Al-Ashom (yang tuli) dan selainnya. Boleh mengenalkan dengan julukan-julukan diatas tapi tidak untuk mencela/mengejeknya dan seandainya mengenalkan tanpa menyebutkan julukan-julukan tersebut ini lebih baik.

Inilah keenam perkara yang disebutkan oleh para ulama (dalam membolehkan ghibah-pent) kebanyakannya telah disepakati dan dalil-dalil keenam perkara tersebut ada dalam hadits-hadits shohih yang sudah masyhur/terkenal, diantaranya :

– Dari Aisyah –radhiallohu anha- beliau berkata :
“Bahwa ada seorang yang meminta ijin untuk (menemui) Nabi –shollallahu alaihi wa sallam-, maka beliau mengatakan : Ijinkanlah dia, dia adalah sejelek-jeleknya kerabat”. (HR. Bukhari 6054 dan Muslim 2591).
Imam Bukhari berdalil dengan hadits ini dalam membolehkan ghibah terhadap para perusak (penyesat)

– Dan dari beliau juga –radhiallohu anha- bahwa Rasulullah –shollallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda :
“Aku kira fulan dan fulan itu tidak mengetahui sesuatupun dari agama kita” (HR. Bukhari 6067). Laits bin Sa’ad (salah seorang perawi hadits ini) mengatakan : dua orang tersebut termasuk orang-orang munafik.

– Dari Fatimah binti Qois –radhiallohu anha- dia berkata :
“Aku pernah mendatangi Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- lalu aku berkata : Sesungguhnya Abu Jahm dan Mu’awiyah telah melamarku? Maka Rasulullah –shollallahu alaihi wa sallam- mengatakan : “Adapun Mu’awiyah dia itu miskin tidak punya harta dan adapun Abu Jahm maka dia itu tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya.” (HR. Muslim 1480).

Didalam riwayat Muslim yang lain disebutkan: “Adapun Abu Jahm maka dia sering memukul perempuan” ini adalah penjelasan atas ucapan beliau (dia itu tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya). Ada juga yang menjelaskan bahwa maksudnya adalah sering berpergian jauh/safar.

– Dari Aisyah –radhiallohu anha- beliau berkata :
Hindun (istri Abu Sufyan) berkata kepada Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- : Sesungguhnya Abu Sufyan seorang lelaki yang bakhil dia tidak memberiku dan anak-anakku nafkah yang cukup melainkan jika aku mengambil uangnya tanpa sepengetahuannya? Maka beliau bersabda : “Ambillah apa yang mencukupimu dan anak-anakmu dengan cara yang baik” (HR. Bukhari 5359 dan Muslim 1714)

2. Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin -Rahimahullah- mengatakan dalam Syarah Riyadhus Shalihin 4/99-101 ketika menjelaskan ucapan Imam Nawawi diatas :
“Imam Nawawi –rahimahullah- menyebutkan dalam bab ini hal-hal yang dibolehkan ghibah didalamnya yaitu ada enam perkara. Ucapan beliau ini sangat baik sekali, semuanya benar dan baik” kemudian beliau menjelaskan hadits pertama yang dibawakan oleh Imam Nawawi –rahimahullah- : Sabda Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- : (ijinkanlah dia, dia itu sejelek-jeleknya kerabat) orang tersebut memang perusak dan penyesat. Maka hal ini menjelaskan bolehnya mengghibah para penyesat umat agar manusia lari dari kesesatannya dan agar mereka tidak tertipu. Jika anda mengetahui ada seseorang yang sesat (dan menyesatkan) tapi dia memiliki keistimewaan gaya bahasa dan retorika dalam menyampaikan (ceramah) serta menarik manusia hingga mereka tidak sadar sudah terjerumus kedalam jaring-jaring kesesatan maka wajib bagimu untuk menjelaskan hakekat orang yang sesat tersebut dan sebutkan kejelekannya (saja) agar manusia tidak tertipu dengannya. Berapa banyak para dai-dai/penceramah-penceramah yang sangat indah dan fasih bahasanya, jika anda melihatnya anda akan terpesona dan jika dia berbicara anda akan dengan seksama mendengarkannya akan tetapi dia itu hakekatnya (penyesat umat). Maka yang wajib adalah menyingkap hakekat dan kedoknya.”

3. Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah yang terkenal dengan sebutan Ibnu Abi Zamanain rahimahullah (meninggal tahun 399 H) berkata :

“Senantiasa ahlus sunnah mencela ahlul ahwa/bid’ah yang menyesatkan (umat), mereka melarang bermajlis dengan ahli bid’ah, mengkhawatirkan fitnah mereka serta menjelaskan akibat buruk mereka. Dan ahlussunnah tidak menganggap hal tersebut sebagai suatu ghibah.” (Ushulus Sunnah oleh Ibnu Abi Zamanain hal. 293)
Sungguh ahlus sunnah telah sepakat sejak dahulu hingga sekarang dalam menyikapi ahli bid’ah (para penyesat umat-pent). Yang demikian itu dengan mencela dan memperingatkan umat akan bahaya mereka serta memboikot dan melarang bermajlis dengan mereka dalam rangka membendung bahaya dan fitnah para ahli bid’ah tersebut.
Ahlu sunnah menganggap bahwa menyingkap kedok mereka bukanlah ghibah yang haram. Para ulama telah mengecualikan 6 perkara dari ghibah yang diharamkan, seperti yang dikatakan dalam bait-bait ini:

Mencela bukan termasuk ghibah dalam 6 perkara
Orang yang terdholimi, yang memperkenalkan, yang memperingatkan
Orang yang terang-terangan berbuat kefasikan, orang yang meminta fatwa
Dan orang yang meminta bantuan untuk memberantas kemungkaran
(Keenam hal ini sama dengan apa yang dijelaskan oleh Imam Nawawi diatas. “Ijma ulama ‘ala hajr wat tahdzir min ahlil ahwa’” oleh Kholid bin Dhohawi hal. 121)

4. Imam Ahmad –rahimahullah- (Imam Ahlu sunnah) mengatakan :
“Tidak ada istilah ghibah untuk (membantah) ahli bid’ah” (Thobaqoh Al-Hanabilah 2/274)

5. Imam Ibnu Rajab Al-Hambali –rahimahullah- mengatakan dalam kitab “Syarh ‘ilal At-Tirmidzi” 1/43-44 :
(Imam Abu Isa (At-Tirmidzi) –rahimahullah- berkata: “Sebagian orang yang tidak paham akan (agama ini) mencela para ahli hadits dalam ucapan mereka tentang perawi-perawi hadits.

Sungguh kita telah mendapati banyak dari para Imam dari kalangan tabi’in membicarakan (menggunjing/mencela) para perowi diantara mereka adalah Hasan Al-Bashri & Thowus mereka berdua mencela Ma’bad al-Juhani, Sa’id bin Jubeir membicarakan Tholq bin Habib, Ibrahim an-Nakho’i dan Amir asy-Sya’bi membicarakan a l-Harits al-A’war.

Demikian pula yang diriwayatkan dari Ayyub as-Sakhtiyani, Abdullah bin ‘Aun, Sulaiman at-Taimi, Syu’bah bin Hajjaj, Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas, al-’Auza’i, Abdullah bin Mubarak, Yahya bin Sa’id al-Qoththon, Waki’ bin Jarrah, Abdurrohman bin Mahdi dan selain mereka dari para ahli ilmu, mereka semua pernah membicarakan para perawi-perawi dan mendhoifkannya.

Tidaklah yang mendorong mereka dalam hal ini (membicarakan/menghibah para perawi) melainkan untuk menasehati kaum muslimin, tidak mungkin mereka hanya ingin mencela dan menghibah saja, akan tetapi mereka ingin menjelaskan kelemahan para perawi tersebut agar diketahui kaum muslimin, karena sebagian perawi yang lemah tersebut adalah ahli bid’ah, sebagian lagi tertuduh memalsukan hadits dan sebagian lagi ada yang banyak kesalahannya. Maka para imam-imam tersebut ingin menjelaskan hakekat mereka (para perawi) dengan sebenarnya, dalam rangka menjaga agama ini dan menjelaskan hakekat sebenarnya. Karena persaksian dalam agama (tentang hadits-pent) lebih utama untuk diteliti dari pada persaksian dalam masalah hak pribadi dan harta”. Ibnu Rajab berkata: “Disini Imam Tirmidzi ingin menjelaskan bahwa membicarakan/mengunjing para perowi (Jarh wa Ta’dil) itu boleh. Hal ini telah disepakati oleh para salaf/pendahulu umat ini dan para imam-imam mereka. Demikian itu untuk membedakan mana perowi/hadits yang bisa diterima dan mana yang tidak. Sebagian orang yang tidak memiliki ilmu mengira itu adalah ghibah (yang diharamkan), padahal tidak demikian, sebab membicarakan aib seseorang jika ada maslahatnya -meskipun pribadi- dibolehkan (dalam agama) tanpa ada perselisihan lagi seperti mencela para saksi yang dusta, maka kalau maslahatnya umum untuk muslimin ini lebih dibolehkan lagi”

6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- berkata dalam “majmu’ fatawa” 28/225-232 :
Menyebut manusia dengan apa-apa yang mereka benci ada dua macam :

1. Menyebut jenis (golongan), setiap golongan yang dicela Allah dan Rasul-Nya maka wajib untuk mencela mereka, hal ini bukan termasuk ghibah.

2. Menyebut perorangan baik yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Boleh menyebutkan kejelekan orang tersebut dalam beberapa keadaan, diantaranya: dalam rangka menasehati kaum muslimin tentang agama dan dunia mereka. Menasehati umat dalam kemaslahatan agama yang khusus dan umum adalah suatu kewajiban. Seperti menjelaskan perowi hadits yang salah atau berdusta sebagaimana yang dikatakan oleh Yahya bin Said serta Al-Auza’i tentang seseorang yang tertuduh (memalsukan) hadits dan dia tidak hafal, maka mereka mengatakan: “jelaskan hakekat dan jati dirinya!”. Pernah seseorang berkata kepada Imam Ahmad rahimahullah : “Aku merasa berat jika mengatakan si fulan itu demikian dan demikian (dari kesesatannya-pent). Maka Imam Ahmad mengatakan: “jika engkau diam dan akupun juga diam maka kapan orang bodoh/awam tahu mana yang benar dan mana yang salah!!!
Seperti imam-imam ahli bid’ah yang memiliki pendapat-pendapat yang menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah atau beribadah tapi menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah maka mereka ini wajib (menurut ijma kaum muslimin) dijelaskan kesesatannya dan diperingatkan umat dari bahayanya. Sampai-sampai pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad rahimahullah : “Ada seseorang yang puasa, sholat, I’tikaf dan ada orang lain yang membantah ahli bid’ah, manakah yang lebih anda sukai? Beliau menjawab : apabila orang itu sholat, i’tikaf maka hal itu manfaatnya untuk dia sendiri tapi apabila dia membantah ahli bid’ah maka manfaatnya bagi kaum muslimin dan inilah yang lebih afdhol/lebih utama.

Beliau menjelaskan bahwa manfaatnya lebih luas bagi kaum muslimin di dalam agama mereka, yang hal tersebut termasuk jihad fi sabilillah. Menjernihkan jalan Allah, agama, manhaj serta syari’at-Nya dari kesesatan dan permusuhan mereka (ahli bid’ah) merupakan suatu kewajiban yang kifayah menurut kesepakatan kaum muslimin
Seandainya tidak ada yang menolak/membantah bahaya (bid’ah) nya mereka maka akan rusaklah agama ini. Dan kerusakan yang ditumbuhkan nya (bid’ah) lebih dahsyat daripada penjajahan. Karena mereka (para penjajah) jika merusak tidaklah merusak hati pertama kali tapi mereka (ahli bid’ah) pertama kali yang dilakukan adalah merusak hati

7. Imam Hasan Al-Bashri –rahimahullah- mengatakan :
“Tidak ada istilah ghibah dalam membantah ahli bid’ah”. Beliau mengatakan : “Tiga golongan manusia yang tidak ada larangan dalam mengghibah mereka, salah satunya adalah ahli bid’ah yang extrim dalam bid’ahnya”. Beliau juga pernah berkata: “tidak ada istilah ghibah dalam mencela pelaku bid’ah dan orang fasik yang menampakkan kefasikannya”. (ucapan-ucapan ini diriwayatkan oleh Al-Lalika’I dalam “Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah” 1/140)

8. Ibrahim An-Nakho’i –rahimahullah- mengatakan :
“Tidak ada ghibah dalam membantah ahli bid’ah” (lihat Sunan Darimi 1/120)

9. Sufyan bin Uyainah –rahimahullah- berkata :
“Pengekor hawa nafsu dalam agama ini tidak ada larangan dalam mengghibahnya” (lihat “Mukhtashor Hujjah” oleh Nashr Al-Maqdisy hal.538 )

10. Abu Hamid Al-Ghozali setelah membahas masalah ghibah dalam kitabnya “Ihya’ Ulumuddin” beliau berkata :
“Ketahuilah bahwa ghibah itu dibolehkan selama untuk tujuan yang disyari’atkan yang tidak mungkin sampai kepadanya kecuali dengan ghibah tersebut, maka tidak ada dosa didalamnya. Hal tersebut ada pada 6 keadaan”. (Ihya’ Ulumuddin 3/152)

Dari ucapan para ulama salaf ahli sunnah diatas telah jelas bagi kita akan bolehnya mengghibah para penyesat umat dengan tujuan menjelaskan/menyikap hakekat kesesatan mereka kepada umat ini. Bahkan bisa jadi hal tersebut wajib, tapi perlu diketahui bahwa mengghibah ahli bid’ah itu dibolehkan dengan syarat-syarat berikut ini :

1. Ikhlas karena Allah dan tujuan dari mencela/membantah ahli bid’ah adalah menasehati kaum muslimin dan memperingatkan mereka akan bahaya bid’ah mereka. Selain untuk tujuan ini maka ghibah itu diharamkan, seperti karena permusuhan pribadi, hasad terhadap ahli bid’ah dll

2. Pelaku bid’ah tersebut menyebarkan bid’ahnya. Jika pelaku bid’ah tersebut menyembunyikan/tidak menyebarkan bid’ahnya maka tidak boleh mengghibahnya. Karena mengghibah pelaku bid’ah (penyesat umat) tujuannya untuk amar ma’ruf nahi mungkar dan hal ini tidak bisa dilakukan kecuali kalau bid’ahnya itu ditampakkan/disebarkan ditengah masyarakat

3. Ahli bid’ah tersebut masih hidup dan belum meninggal. Jika orang tersebut (penyesat umat) sudah meninggal dunia maka tidak boleh mengghibahnya, kecuali jika dia memiliki buku-buku (tulisan-tulisan) dan pengikut yang memuat dan menyebarkan bid’ahnya maka wajib untuk memperingatkan umat darinya.

4. Bersikap adil dalam membantah ahli bid’ah, menjelaskan kesesatan/kebid’ahannya tanpa berdusta/tanpa mengada-ada. (Lihat “Mauqif ahlis sunnah wal jama’ah min ahlil ahwa’ wal bid’ah” oleh DR. Ibrahim Ar-Ruhaily 2/506-509)

(adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah Ed 15, hal. 30-34)

BALASAN BAGI YANG MENYEPELEKAN DAN MENGOLOK-OLOK SUNNAH NABI

BALASAN BAGI YANG MENYEPELEKAN DAN MENGOLOK-OLOK SUNNAH NABI
.
Sunnah berasal dari kata,
.
(سن) -> (يسن) -> (سنة)
.
Secara bahasa (etimologi) arti sunnah adalah : ”Cara atau disebut juga jalan (yang ditempuh)”. (An-Nihayah/ Ibnu Atsir, Lisanul ‘Arab/ Ibnu Manzhur).
.
Arti sunnah secara bahasa lainnya adalah : Peraturan atau ketetatapan, tradisi atau kebiasa’an juga bisa berarti keterangan.
.
Menjadi kewajiban bagi setiap kaum muslimin untuk mengagungkan sunnah Nabi, menghidupkan, mendakwahkan dan membelanya dari orang-orang yang membenci dan memusuhinya.
.
Sangat memperihatinkan jika ada sebagian orang yang mengaku sebagai seorang muslim, namun enggan untuk menerapkan sunnah Nabi, terlebih lagi menjadikan sunnah Nabi sebagai bahan olok-olokkan.
.
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam,
.
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى
.
“Barangsiapa yang membenci Sunnahku maka dia bukan dari golonganku”. (Muttafaqun ‘alaih).
.
• Beberapa kasus yang menimpa orang yang menyepelekan dan mengolok-olok sunnah Nabi
.
Berikut ini, beberapa riwayat yang menimpa orang-orang yang menyepelekan dan mengolok-olok sunnah Nabi. Mereka mendapatkan balasan dari Allah Ta’ala ketika masih hidup di dunia.
.
Kisah Pertama
.
قَالَ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ: أَنَّ رَجُلًا أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِمَالِهِ، فَقَالَ: «كُلْ بِيَمِينِكَ» ، قَالَ: لَا أَسْتَطِيعُ، قَالَ: «لَا اسْتَطَعْتَ» ، مَا مَنَعَهُ إِلَّا الْكِبْرُ، قَالَ: فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ
.
Salamah bin Akwa’ berkata, “Pernah ada seorang lelaki makan di dekat Rasulullah dengan tangan kiri. Beliau lantas berkata : “Makanlah dengan tangan kananmu”. Lelaki itu menjawab, “Aku tidak bisa”. Rasulullah berkata : “Mudah-mudahan engkau benar-benar tidak bisa. Tidak ada yang menghalanginya untuk melakukannya kecuali kesombongan”. Salamah berkata, “Kemudian dia tidak bisa mengangkat tangannya untuk menyantap makanan”. (HR. Muslim no. 2021).
.
Riwayat di atas menyebutkan, seorang yang tidak menuruti perintah Nabi dan menyepelekannya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendo’akan keburukan baginya, hal ini harus di jadikan pelajaran bahwa tidak mematuhi perintah Nabi adalah merupakan bentuk kedurhaka’an kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Sehingga pelakunya pantas mendapatkan hukuman.
.
Kisah Kedua
.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُشْرَبَ مِنْ فِي السِّقَاءِ»
.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ’anhu bahwasanya Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam melarang seorang minum langsung dari lubang kendi. (HR. Bukhari 5628).
.
قَالَ أَيُّوبُ: “فَأُنْبِئْتُ أَنَّ رَجُلًا شَرِبَ مِنْ فِي السِّقَاءِ، فَخَرَجَتْ حَيَّةٌ”
.
Ayyub berkata, “Sampai sebuah berita kepadaku bahwa seorang lelaki langsung minum dari lubang kendi, tiba-tiba seekor ular keluar dari lubangnya”. (HR. Ahmad no. 7153).
.
Tidak ada syari’at dalam Islam, kecuali akan mendatangkan kebaikan dan keselamatan. Dalam riwayat diatas terdapat larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum langsung dari lubang kendi. Dan ternyata terjadi sesuatu yang buruk, ketika seorang minum langsung dari lubang kendi. Dan itu sebagai balasan dari perbuatannya yang tidak mengindahkan larangan Nabi.
.
Kisah Ketiga
.
عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ حَرْمَلَةَ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ يُوَدِّعُهُ بِحَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ فَقَالَ لَهُ: لَا تَبْرَحْ حَتَّى تُصَلِّيَ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
.
Dari Abdurrahman bin Harmalah, dia berkata, “Seorang lelaki datang kepada Sa’id bin Musayyib mengucapkan salam perpisahan untuk haji atau umroh. Sa’id berkata kepadanya, “Jangan pergi dulu sampai engkau Sholat. Sesungguhnya Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda :
.
«لَا يَخْرُجُ بَعْدَ النِّدَاءِ مِنَ الْمَسْجِدِ إِلَّا، مُنَافِقٌ، إِلَّا رَجُلٌ أَخْرَجَتْهُ حاجةُ، وَهُوَ يُرِيدُ الرَّجْعَةَ إِلَى الْمَسْجِدِ»
.
“Tidaklah keluar dari masjid setelah adzan kecuali seorang munafiq. Kecuali seorang lelaki yang dipaksa keluar oleh suatu keperluan dan berniat untuk kembali ke masjid”.
.
فَقَالَ: إِنَّ أَصْحَابِي بِالْحَرَّةِ قَالَ: فَخَرَجَ، قَالَ: فَلَمْ يَزَلْ سَعِيدٌ يَوْلَعُ بِذِكْرِهِ، حَتَّى أُخْبِرَ أَنَّهُ وَقَعَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَانْكَسَرَتْ فَخِذُهُ
.
Lelaki itu berkata, “Teman-teman saya berada di Hurrah”. Kemudian dia pergi. Sa’id masih saja menyebut lelaki tersebut hingga datang berita bahwa lelaki tersebut terjatuh dari kendara’annya dan pahanya patah”. (Kisah ini terdapat dalam Sunan Ad-Darimi, hadits no. 460).
.
Kisah Keempat
.
قال القاضي أبا الطيب: كنا في مجلس النظر بجامع المنصور فجاء شاب خراساني فسأل عن مسألة المصراة فطالب بالدليل حتى استدل بحديث أبي هريرة الوارد فيها
.
Al-Qadhi Abu Thoyyib berkata, “Suatu ketika kami berada di sebuah majlis di Jami’ Al-Manshur. Datanglah seorang pemuda dari Khurasan. Kemudian dia bertanya tentang masalah ternak yang tidak diperah beberapa hari hingga kambing susunya penuh, dan dia meminta dalilnya. Kemudian disampaikan kepadanya hadits Abu Hurairah yang menyebutkan hal tersebut.
.
فقال وكان حنفيا أبو هريرة غير مقبول الحديث فما استتم كلامه حتى سقط عليه حية عظيمة من سقف الجامع فوثب الناس من أجلها وهرب الشاب منها وهي تتبعه فقيل له تب تب فقال تبت فغابت الحية فلم ير لها أثر إسنادها أئمة
.
Pemuda itu (kebetulan seorang penganut madzhab Hanafi) lantas berkata, “Abu Hurairah tidak diterima haditsnya”. Belum selesai dia berucap demikian hingga muncullah seekor ular besar dari atap masjid. Orang-orang berhamburan karenanya. Pemuda tersebut lari namun ular tersebut terus mengejarnya. Orang-orang berkata padanya, “Bertobatlah !! Bertobatlah !!”. Dia lantas berkata, “Saya bertobat !”. Lalu ular tersebut hilang tanpa bekas”. (Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi).
.
Kisah Kelima
.
قطب الدين اليونيني قال بلغنا أن رجلا يدعى أبا سلامة من ناحية بصرى كان فيه مجون واستهتار
.
Quthbuddin Al-Yunani berkata, “Telah sampai kepada kami berita seorang lelaki yang dipanggil Abu Salamah dari salah satu daerah Bashrah (Seorang yang suka melawak dan membual).
.
فذكر عنده السواك وما فيه من الفضيلة فقال والله لا استاك إلا في المخرج يعني دبره فأخذ سواكا فوضعه في مخرجه ثم أخرجه
.
Ada seseorang menyebut tentang siwak dan keutamaannya di dekatnya. Lelaki tersebut berkata, “Demi Allah, aku hanya memakai siwak pada duburku”. Kemudian dia mengambil siwak dan meletakkannya pada duburnya lalu mengeluarkannya lagi.
.
فذكر عنده السواك وما فيه من الفضيلة فقال والله لا استاك إلا في المخرج يعني دبره فأخذ سواكا فوضعه في مخرجه ثم أخرجه فمكث بعده تسعة أشهر وهو يشكو من الم البطن والمخرج فوضع ولدا على صفة الجرذان له أربعة قوائم ورأسه كراس السمكة وله أربعة انياب بارزة وذنب طويل مثل شبر وأربع اصابع وله دبر كدبر الارنب ولما وصعه صاح ذلك الحيوان ثلاث صيحات فقامت ابنة ذلك الرجل فرضخت رأ سه فمات
.
Setelah itu dia mengeluhkan rasa sakit pada perut dan anusnya selama Sembilan bulan. Kemudian dia melahirkan sejenis tikus dengan empat kaki, kepalanya seperti kepala ikan dan pantatnya seperti pantat kelinci. Setelah keluar, hewan tersebut mengeluarkan suara keras sebanyak tiga kali. Anak perempuan lelaki tersebut bangun dan memukul kepala hewan tersebut hingga mati.
.
وعاش ذلك الرجل بعد وضعه له يومين ومات في الثالث وكان يقول هذا الحيوان قتلني وقطع امعائي
.
Dan lelaki itu tetap hidup setelah melahirkan hewan tersebut selama dua hari, dan pada hari ketiga dia meninggal dunia. Dia pernah berkata, “Hewan ini telah membunuhku dan memotong-motong ususku”.
.
وقد شاهد ذلك جماعة من أهل تلك الناحية وخطباء ذلك المكان ومنهم من رأى ذلك الحيوان حيا ومنهم من رآه بعد موته وممن توفي فيها من الاعيان
.
Hewan tersebut sempat dilihat oleh banyak orang dari penduduk daerah tersebut dan para khatib tempat itu. Ada yang melihatnya ketika hewan itu masih hidup dan ada yang melihatnya setelah hewan itu mati”. (Al-Bidayah Wa Nihayah, Al-Hafizh Ibnu Katsir).
.
Itulah beberapa kisah yang pernah terjadi menimpa orang-orang yang menyepelekan dan menyelisihi sunnah Nabi dan bahkan menjadikan sunnah Nabi sebagai bahan olok-olokan.
.
Hendaknya kita takut apabila menyepelekan sunnah Nabi menyelisihi terlebih lagi menjadikan sunnah Nabi sebagai bahan olok-olokan.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
.
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul, takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa ‘adzab yang pedih”. (QS. An-Nuur: 63).
.
Dalam ayat lain, Allah memerintahkan untuk selalu mengikuti sunnah Nabi apabila mencintai Allah Ta’ala.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
.
“Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk) ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah maha pengampun lagi maha penyayang”. (Qs. Ali ‘Imran: 31).
.
Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat tersebut berkata : “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tidak mengikuti jalan (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia adalah orang yang berdusta dalam pengakuan tersebut dalam masalah ini, sampai dia mau mengikuti syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keada’annya”. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/477).
.
Semoga bermanfa’at.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
________________

Pengikut Sunnah Pengikut Kebenaran

Ibnul Qayyim berkata :

Sesungguhnya jika pada suatu jaman ada seorang yang memahami sunnah Rasulullah mengamalkannya dan menyeru manusia untuk mengikutinya, maka dialah hujjah (argumentasi penegak kebenaran di jamannya), dialah ijma’ (kesepakatan/­ konsensus para ulama Ahlus sunnah), dialah as-sawaadul a’zham (kelompok terbesar/Ahlus sunnah), dan dialah sabilul mu’minin (jalannya orang-orang yang beriman), yang barangsiapa memisahkan diri darinya dan mengikuti selainnya, maka Allah akan membiarkan dia (dalam kesesatan) yang diinginkannya dan Allah akan masukkan dia ke dalam neraka Jahannam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali” .                                   

Sebagaimana yang diisyaratkan dalam firman Allah QS an-Nisaa’:115 .

bagaimana dengan hadist dari Ghudhaif bin Al Harits ?

Dari Ghudhaif bin Al Harits berkata: “Abdul Malik bin Marwan menulis surat kepadaku. Dalam suratnya beliau berkata (kepadaku): “Wahai Abu Asma’, sesungguhnya kami telah mengumpulkan manusia untuk memesyarakatkan dua perkara”. Ghudhaif bertanya: “Apa itu?” Beliau menjawab: “Yakni mengangkat tangan di atas mimbar pada hari Jum’at dan menceritakan kisah-kisah pada setiap selesai shalat shubuh dan ashar.” Maka Ghudhaif berkata: “Ketahuilah bahwa kedua hal tersebut merupakan bid’ah yang terbaik menurutku namun aku tidak dapat menyambut perintah Anda untuk memasyarakatkan kedua budaya tersebut”. Ibnu Marwan bertanya: “Mengapa demikian ?” Jawab Ghudhaif : “Sebab Nabi صلّى الله عليه و سلّم bersabda:

ما أحدث قوم بدعة إلا رفع مثلها من السنة

“Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah melainkan akan dihilangkan satu sunnah yang setara dengannya pula”[Dikeluarkan oleh Ahmad (4/105)]

Maka berpegang teguh dengan sunnah itu lebih baik daripada membuat suatu bid’ah”.

BANTAHAN:

Pertama: Bahwasanya riwayat tersebut tidak kuat bahkan lemah. Dalam sanadnya terdapat dua cacat:

1.    Ada perawi yang bernama Abu Bakar bin Abdullah bin Abi Maryam, ia dha’if (lemah), dilemahkan oleh Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Abu Zur’ah, Abu Hatim, An Nasaa-I dan Daruquthniy. [Lihat Tahdzibul Kamal, (33/108)]

Berkata Ibnu Hajar dalam “at Taqriib” : (dia) dha’if. [At Taqriib, no. 7974]

2.    Ada perawi bernama Baqiyyah bin Al Walid dan dia telah melakukan ‘an-anah (meriwayatkan dengan lafazh عن pent). Kata Ibnu Hajar: “Ia banyak meriwayatkan hadits dengan tadlis (manipulasi sanad) dari para perawi yang dha’if dan majhul”. [Ta’riif Ahlut Taqdiis, hal. 121]

Dan Ibnu Hajar telah menyebutkan namanya dalam peringkat ke-empat dari orang-orang yang suka melakukan tadlis, sedangkan mereka (orang-orang  pada peringkat ini –pent) sedikitpun hadits-hadits mereka tidak dapat dipakai sebagai hujjah, kecuali bila secara tegas mengatakan bahwa mereka mendengar langsung riwayat yang mereka sebutkan, karena mereka telah banyak melakukan tadlis terhadap perawi-perawi yang lemah dan majhul. Dan tadlis yang dilakukan oleh Baqiyyah tersebut merupakan salah satu dari bentuk tadlis yang paling buruk, yakni “tadlis taswiyah”. Karena itulah maka periwayatannya tidak diterima kecuali jika didapati adanay pernyataan tegas dari masing-masing perawi mendengar dari perawi lain dari pertama sampai ke perawi yang terakhir, makanya tidak cukup jika ia sendiri yang mengatakan bahwa ia mendengar langung dalam periwayatannya, sebab perawi yang dia sembunyikan (namanya) terkadang terjadi dari arah isnad yang lain. Bagaimana tidak, dalam riwayat ini justru dia sendirilah yang (meriwayatkan dengan) lafazh عن !?

Kedua: Seandainya riwayat tersebut dianggap shahih, maka sesungguhnya telah kami sebutkan berulang-ulang bahwasanya tidak boleh perkataan Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم dikonfrontasikan dengan perkataan seorang manusiapun siapapun dia.

Ketiga: Bahwasanya Ghudhaif bin Al Harits ini diperselisihkan statusnya sebagai shahabat. Sebagian ulama menghitungnya dalam kelompok shahabat dan yang lain menghitungnya dalam kelompok tabi’in. [Lihat Asadul Ghaabah (4/340), Siyaru A’laamin Nubalaa’ (3/453) dan Al Ishaabah (3/453)]

Keempat: Bahwasanya Ghudhaif bin Al Harits menolak penerimaan terhadap bid’ah tersebut, beliau membantahnya sekalipun ia hasanah (baik), dimana beliau tidak mau mengambil bid’ah tersebut.

Kelima: Bahwasanya perkataan beliau (yang artinya) “ini adalah sebaik-baik bid’ah kalian”, merupakan suatu hal yang nisbiy (relative), yakni dia lebih ringan keburukannya dan lebih sedikit pelanggarannya (terhadap syari’at –pent).

Berkata Ibnu Hajar: “Maka jika model inilah jawaban seorang shahabat terhadap suatu perkara yang ada asalnya dalam sunnah, lalu bagaimana lagi (dengan penolakan beliau terhadap perkara) yang tidak ada asalnya sama sekali dalam sunnah, dan bagaimana pula jika (bid’ah yang dilakukan itu) mengandung hal-hal yang bertentangan dengan sunnah…!?” [Fathul Baariy, (13/254)]

Keenam: Ghudhaif bin Al Harits berdalil untuk meninggalkan bid’ah tersebut dengan hadits

ما أحدث قوم بدعة إلا رفع مثلها من السنة

“Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah melainkan akan dihilangkan satu sunnah yang setara dengannya pula”[Dikeluarkan oleh Ahmad (4/105)]

Oleh karena itu jika sekiranya bid’ah tersebut “hasanah”, maka tidak mungkin dengan keberadaannya akan menghilangkan suatu sunnah yang semisalnya, sebab terangkatnya suatu sunnah itu merupakan suatu bencana sedangkan tidak mungkin kita akan dihukum dengan bencana dikarenakan terjadinya suatu kebaikan.

[Disalin dari buku “Mengapa Anda Menolak Bid’ah Hasanah?” penerbit Pustaka At-Tibyan]

HP, KOMPUTER, FACEBOOK, MOBIL, PESAWAT BERARTI BID’AH ?

Sering kali kita mendengar ucapaan atau membaca komentar seperti ini : Dakwah di facebook berarti bid’ah dong, di jaman Nabi kan tidak ada facebook ?

Sangatlah keliru apabila berbagai kemajuan teknologi sa’at ini, seperti : mobil, speker, komputer, hp, internet, pesawat, mobil dll dianggap sebagai BID’AH.

Di antara mereka mengatakan : “Kalau memang bid’ah itu terlarang, kita seharusnya memakai unta saja sebagaimana di zaman Nabi”.

Ucapan seperti itu tidaklah keluar kecuali dari lisan orang orang yng tidak faham tentang BID’AH.

Perlu di ketahui bahwa mobil, pesawat, internet, hp, tv, radio, speker itu semua adalah urusan DUNIA. Masalah urusan dunia Rosululloh menyerahkan kepada Umatnya selama tidak melanggar syariat.

Kita perhatika riwayat berikut ini :

Ketika para sahabat hendak melakukan penyerbukan silang pada kurma yang merupakan perkara duniawi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila itu adalah perkara dunia, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama, maka kembalikanlah ke padaku”. (HR.Ahmad.)

Adapun BID’AH yang Rosululloh melarang umatnya untuk tidak melakukannya adalah berbuat bid’ah dalam urusan AGAMA.

Darimana kita mengetahui bahwa yang Rosululloh larang adalah urusan agama ?

Kita perhatikan hadist hadist berikut ini :

من احدث في امرنا هد ما ليس منه فهو رد

“Man ahdasa fii amrinaa hadzaa maa laesa minhu fahua roddun”.

Artinya :

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (agama / ibadah) yang tidak ada asalnya (tidak Rosululloh lakukan / perintahkan), maka perkara tersebut tertolak”. (HR.Bukhari no.20).

Dari Thahir As-Shilfi dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah sallalloohu alaihi wasallam bersabda : “Ajarkan orang-orang tentang sunnahku walaupun mereka membencinya, dan bila kamu suka janganlah berhenti walau sekejap matapun di tengah jalan hingga kamu masuk ke dalamnya serta Falaa tahditsu fii diinillah hadatsan bi ro’yika (Janganlah membuat perkara baru dalam diinullah (agama Allah) menurut pendapatmu sendiri)”. (H.R.Imam Asy-Syatibi dalam I’tisham:50).

Perhatikan Kalimat ini ;

فلا تحدث في دين الله حدثا برأيك

“Janganlah membuat perkara baru dalam diinullah (agama Allah), menurut pendapatmu sendiri”.

Apabila kita memperhatikan hadis hadist tersebut, maka kita akan mendapatkan penjalasan dari lisan Rosululloh, bahwa yng di maksud jangan berbuat bid’ah itu adalah bid’ah dalam urusan AGAMA / fii diinillah (agama Allah) atau urusan ibadah bukan urusan dunia.

Urusan DUNIAWI ataupun urusan AGAMA/ IBADAH, para Ulama membuat kaidahnya yang berbeda.

Berikut qa’idah-qa’idahnya :

– URUSAN DUNIAWI :

الاصل في العاده حلال حتي يقوم الدليل علي النهي

Artinya :

“Asalnya urusan dunia halal (boleh) kecuali ada dalil yng melarangnya”.

– URUSAN IBADAH :

الاصل في العباده بطلان حتي يقوم الدليل علي الامر

Artinya :

“Asalnya urusan Ibadah batal / tidak sah kecuali ada dalil yang memerintahkannya”

Kaidah-kaidah di atas perlu di pahami, sehingga tidak rancu dalam memahami bidah.

* * * * * * * * * * * * * * * * * *

Perlu kita ketahui bahwa aktifitas kita di dunia, terbagi menjadi dua bagian,

– Pertama, Urusan IBADAH.
Contohnya : Syahadat, shalat, puasa, zakat, haji, dzikir, berdo’a dll.

– Ke dua, Urusan DUNIA.
Contohnya : Makan, minum, naik kendara’an, nonton televisi, menggunakan internet, facebook, komputer, berolahraga dll.

Walaupun urusan dunia, misalnya mencari nafkah, berolah raga, facebookan, tapi kita akan mendapatkan pahala dan bernilai ibadah dimata Allah, apabila yang kita lakukan untuk mencari ridho Allah. Untuk kemaslahatan diri, keluarga dan Umat.

Sayyidina Ali bin Abi Tholib berkata :

حيتنا كلها عباده

“Hidup kita seluruhnya ibadah”.

Tapi sebaliknya, urusan ibadah seperti shalat, dzikir, puasa dll, tidak akan berpahala, apabila niatnya tidak ikhlas karena Allah.

Sebagaimana dalam sebuah hadits disebutkan :

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه “- متفق عليه –

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya . . .”. (Muttafaq ‘alaihi).

Wallohu ‘alamu bishowab . .

__________________