DAUROH BERARTI BID’AH DAN TASYABUH DENGAN ORANG KAFIR ? ?

DAUROH BERARTI BID’AH DAN TASYABUH DENGAN ORANG KAFIR ? ?

Benarkah anggapan yang mengatakan dauroh itu bid’ah, karena tidak ada di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam ? ?

Sungguh sangat jahil apabila dauroh dikatakan bid’ah.

Secara etimologi (bahasa), dauroh berasal dari kata daara-yaduuru-dauroh. Artinya ; Mengelilingi, tempat atau acara.

Dauroh ilmiah, artinya ; Acara yang membahas dan mengkaji suatu permas’alahan dengan sudut pandang keilmuan.

Istilah dauroh memang tidak ada di zaman Nabi, tapi praktek dauroh tentu saja ada. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam rutin mengadakan dauroh dengan para Sahabatnya, namun tentu saja istilahnya bukan dauroh.

Istilah dauroh kita bisa menyebutnya dengan sebutan-sebutan yang lain, misalnya ; Majlis ta’lim, halaqah ilmi, pengajian ataupun yang lainnya.

Dauroh adalah bentuk pembina’an atau pendidikan agama kepada umat. Sehingga umat memahami setiap permas’alahan agama.

Pada hakekatnya dauroh adalah Majlis Ilmu.

Dan Majelis Ilmu yang pertama kali dalam sejarah islam adalah Rumah / Dar Al-Arqam bin Abi Al-Arqam. Di tempat itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkumpul dengan para Sahabatnya. Rasulullah membina, memberi pelajaran dan menyampaikan ilmu-ilmu. (Lihat : Manhaj Nabi dalam Dakwah : 150).

Rasulullah mengadakan halaqah dengan para Sahabatnya, tidak hanya di Dar Al-Arqam tapi juga di tempat lainnya. (Lihat : Manhaj Nabi dalam Dakwah : 148).

Apakah dauroh bid’ah karena diadakan hari minggu, karena Rasulullah tidak mengadakan dauroh di hari minggu ?

Harus di fahami bahwa, di tentukannya hari minggu atau hari apapun, tergantung kondisi umat.

Dipilihnya hari minggu karena kebanyakannya umat Islam libur kerja di hari minggu. Tidak ada alasan lain. Kalau libur kerja kebanyakan warga bukan hari minggu tentu saja dauroh pun tidak di adakan di hari minggu, tapi di hari yang kebanyakan warga libur kerja.

Bayangkan, jika dauroh di adakan di hari kebanyakan warga sedang kerja, lalu siapa yang bisa hadir dalam dauroh ? ?

Tidak ada keyakinan di adakannya dauroh di hari minggu karena ada keutama’an pada hari minggu dan mencela orang-orang yang mengadakan dauroh bukan pada hari minggu.

Berbeda dengan peraya’an bid’ah maulid Nabi misalnya. Dauroh di hari minggu dan maulid Nabi, sama-sama tidak ada di zaman Nabi.

Tapi orang yang merayakan maulid Nabi punya keyakinan bahwa merayakan maulid Nabi mengandung keutama’an. Sebagai bentuk kecinta’an kepada Nabi. Dan mencela orang yang tidak merayakan maulid Nabi.

Apakah orang yang dauroh di hari minggu punya keyakinan kalau di adakan dauroh di hari minggu mengandung keutama’an ?

Tentu saja tidak.

Apakah orang yang dauroh di hari minggu mencela orang yang dauroh tidak di hari minggu ?

Tentu saja tidak.

Dari perbeda’an yang di sebutkan di atas, maka jelaslah, dauroh tidak bisa di samakan dengan acara-acara bid’ah yang di adakan sebagian orang.

Apakah dauroh bisa di sebut tasyabuh (menyerupai) umat nasrani karena sama-sama beribadah di hari minggu ?

Kejahilan yang amat jahil apabila dauroh di katakan menyerupai (tasyabuh) dengan umat nasrani karena sama-sama berkumpul untuk beribadah di hari minggu.

Apakah kegiatan ibadah di hari minggu yang sudah baku di lakukan umat nasrani bisa di rubah waktunya jadi hari jum’at misalnya. Tentu saja tidak bisa.

Bandingkan dengan dauroh, apakah boleh dauroh di lakukan selain hari minggu ?

Tentu saja boleh. Karena penetapan hari minggu, bukan berdasarkan syari’at. Maksudnya tidak ada syari’atnya harus di adakan hari minggu. Akan tetapi berdasarkan kondisi seperti yang sudah di sebutkan di atas.

Mereka yang mengatakan, dauroh di hari minggu tasyabuh (menyerupai) umat nasrani, apakah mereka juga bisa dikatakan (tasyabuh) menyerupai umat nasrani, karena pergi ke masjid untuk beribadah shalat berjama’ah di hari minggu ? ?

Sebagian orang jahil mengatakan, istilah dauroh tidak ada di zaman Nabi, berarti istilah dauroh adalah bid’ah ?

Istilah dauroh memang tidak dikenal di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat. Apakah karena istilah itu tidak ada di masa Nabi lalu dianggap bid’ah ?

Banyak sekali istilah-istilah dalam Islam yang tidak ada di zaman Nabi dan para Sahabat.

Dalam ilmu Sharaf ada istilah ; isim, fi’il, sighat, bina, isim mutamakkin, masdar, fi’il Madhi, fi’il mudhori’, fi’il amr, isim fa’il, isim maf’ul, dan lain-lain.

Dalam ilmu tajwid, ada istilah ; Idzhar, idgham, ikhfa, iqlab, qolqolah, waqof dan banyak lagi.

Dalam ilmu hadits ada istilah ; Taqrir, atsar, rawi, matan, sanad dan banyak lagi.

Sungguh jahil murokab, apabila istilah-istilah yang di sebutkan di atas di katakan sebagai bid’ah.

Kalau di katakan bid’ah secara bahasa memang benar. Tapi bukan bid’ah menurut syari’at. Maksudnya bukan bid’ah yang di larang oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Menamakan acara kajian ilmu dengan istilah dauroh, hanyalah membuat sebutan untuk suatu yang hakikatnya sudah di praktekan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

الله يهدك

Дδµ$ $ąŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/08-bidah/02-memahami-bidah/

============

MEMURNIKAN ISLAM BUKAN BERARTI ANTI TRADISI

MEMURNIKAN ISLAM BUKAN BERARTI ANTI TRADISI
.
Oleh: Ikhwan pecinta meong
.
Menyeru umat untuk ke kembali kepada ajaran Islam yang murni, ajaran Islam yang berasal dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dan menyeru umat untuk meninggalkan amalan-amalan atau acara-acara yang di buat-buat dalam urusan agama (bid’ah), juga menyeru umat untuk meninggalkan tradisi-tradisi nenek moyang sering di tuduh sebagai pihak yang anti tradisi.
.
Sangat keliru apabila menyeru umat untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni di tuduh sebagai pihak yang anti kepada tradisi.
.
Memurnikan Islam dari noda-noda penyimpangan dan kesesatan, bukan berarti anti tradisi. Karena Islam itu sendiri sesungguhnya melanjutkan tradisi umat sebelumnya.
.
Perlu di ketahui bahwa ajaran lslam yang di bawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hakekatnya hanyalah merupakan kelanjutan dari ajaran yang di bawa oleh Abul Anbiya’ (bapak para Nabi) Ibrahim ‘alaihis salam. Hakekat ini secara tegas dinyatakan oleh Allah Ta’ala dalam beberapa Firman-Nya.
.
Diantaranya Allah Ta’ala berfirman :
.
مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ
.
“(Ikutilah) agama orang tua kalian Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu . . ” (QS. Al-Hajj: 78).
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
.
“Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus (hanif), dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Ali Imran: 95).
.
Bangsa Arab Ismailiyyah atau Arab Adnaniyyah atau di sebut juga bangsa Arab al-Musta’ribah, mereka adalah keturunan dari Nabi Ismail ‘alaihis salam. Mereka mewarisi millah dan minhaj Tauhidullah yang di serukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bapaknya Nabi Ismail ‘alaihis salam.
.
Namun setelah melalui beberapa kurun, ajaran mereka terkontaminasi oleh ajaran-ajara baru (bid’ah) yang di ada-adakan oleh orang-orang yang di anggap alim diantara mereka.
.
Dan yang pertama kalinya memasukkan pemikiran-pemikiran sesat dan menyesatkan adalah Amr bin Luhayy, yang mensyariatkan penyembahan berhala dan kepercayaan-kepercayaan lainnya. Maka sejak itulah ajaran Tauhid yang di serukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengalami penyimpangan (distorsi), dan akhirnya bangsa Arab diliputi kebodohan, kerusakan, dan kemusyrikan. Maka kemudian Allah Ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengembalikan mereka kepada ajaran yang benar.
.
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan atau membuang tradisi-tradisi yang sebelumnya telah berkembang dan berlaku di kalangan bangsa Arab.
.
Menjaga dan memuliakan Ka’bah, pelaksana’an thawaf, haji, umrah, wuquf di Arafah dan berqurban, semua itu merupakan tradisi yang sudah berlaku semenjak Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Maka artinya ajaran Islam yang di bawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah ajaran baru, namun ajaran nenek moyang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan tradisi-tradisi yang sudah berlaku karena memang tradisi tersebut sebagai ajaran yang di wariskan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Adapun tradisi-tradisi yang di buang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam adalah tradisi-tradisi buah dari penyimpangan mereka.
.
Tradisi-tradisi yang menyimpang dan di buang oleh Nabi diantaranya ucapan orang-orang jahiliah terdahulu dalam talbiah “Labbaik la syariika laka illa syariikan huwa laka tamlikuhu wa ma malak” yang ditujukan kepada berhala-berhala orang jahiliah. Juga thawaf yang dilakukan oleh mereka sambil telanjang.
.
Melalui sirah Nabawiyah kita juga mengetahui, bahwa Islam bisa menerima tradisi-tradisi yang sudah berlaku di masyarakat. Misalnya dalam riwayat Bukhari dalam kitab Al-Libas diuraikan, ketika sebagian sahabat mengusulkan kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam agar beliau membuat stempel seperti yang dibuat para pemimpin-pemimpin dunia untuk mencap buku-buku dan surat-surat mereka, karena mereka tidak mau menerima surat ataupun tulisan kecuali jika ada stempelnya, maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pun mengabulkan usul tersebut. Kemudian Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam membuatnya dari perak dengan bertuliskan Muhammad Rasulullah.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengambil keputusan, apakah tradisi itu dibolehkan untuk di tetapkan, dipertahankan atau di hilangkan tentu saja berdasarkan wahyu dari Allah Ta’ala.
.
Dan kita kaum muslimin sebagai pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam boleh menjadikan tradisi-tradisi warisan nenek moyang itu dihilangkan atau dipertahankan, tapi tentu saja harus berdasarkan petunjuk Alah Ta’ala dan Rasul-Nya. Bukan hanya berdasarkan hawa nafsu atau anggapan baik. Jadi ada syarat-syarat yang harus di perhatikan bukan sesuka hati.
.
Adapun syarat-syaratnya itu adalah :
.
1. Tidak menjadikan syari’at Islam bertambah atau berkurang.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
.
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu”. (Al-Maidah: 3).
.
Karena syari’at Islam sudah sempurna sebagaimana yang di sebutkan dalam ayat di atas, maka tidak dibenarkan syari’at Islam jadi bertambah atau berkurang dari yang sudah di tetapkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Apabila kita menetapkan tradisi-tradisi nenek moyang untuk di ikuti tapi menjadikan syari’at Islam bertambah, maka hal ini tidak di benarkan dalam syari’at Islam.
.
Tidak dibenarkan menambah-nambah syari’at Islam di sabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
.
“Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Muslim no. 867).
.
Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,
.
وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ
.
“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i, 1578).
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
.
“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).
.
Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata :
.
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
.
“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik”.
.
2. Bukan termasuk dalam urusan agama
.
Tradisi-tradisi nenek moyang yang boleh ditetapkan untuk lestarikan dan di ikuti hanya tradisi-tradisi yang menyangkut perkara duniawi (العادة) tidak menyangkut urusan ibadah. Karena urusan duniawi (العادة) hukum asalnya di bolehkan. Sebagaimana kaidah yang di buat oleh para Ulama ushul fiqih,
.
الأَصْلُ فِي العَادَةِ حَلَالٌ حَتَّى يَقُومَ الدَّلِيلُ عَلَى النَهْيِ
.
“Asalnya urusan duniawi halal (boleh) kecuali ada dalil yang melarangnya”.
.
Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
.
وَالْأَصْلُ فِي الْعَادَاتِ لَا يُحْظَرُ مِنْهَا إلَّا مَا حَظَرَهُ اللَّهُ
.
“Hukum asal tradisi (kebiasaan masyarakat) adalah tidak masalah (boleh), selama tidak ada yang dilarang oleh Allah di dalamnya”. (Dinukil dari kitab Majmu’ Al-Fatawa, 4: 196).
.
Itulah diantara syarat-syarat apabila sebuah tradisi hendak kita ikuti atau kita tetapkan. Apabila sebuah tradisi tidak memenuhi syarat-syarat di atas, maka tradisi tersebut wajib kita tinggalkan. Namun demikian ada juga Ulama yang berpendapat apabila adat istiadat tersebut bukan dalam masalah aqidah namun jika tidak dilakukan akan berdampak buruk bagi agama dan kehormatan dirinya, maka mendahulukan adat-istiadat adalah diharuskan. Wallahu a’lam bishawab.
.
.
با رك الله فيكم
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
______________