SUPAYA TIDAK GAGAL FAHAM DENGAN BID’AH HASANAH

BID’AH HASANAH YANG DI MAKSUD IMAM SYAFI’I
.
Diantara musibah terbesar yang menimpa sebagian umat Islam, adalah keyakinan adanya bid’ah hasanah. Sehingga semua amalan atau acara-acara baru / yang di buat-buat dalam urusan agama (bid’ah) dianggapnya sebagai kebaikan atau perkara yang terpuji. Akibatnya, semakin marak bid’ah di tengah-tengah umat, dan menjadikannya sangat sulit untuk di bendung.
.
Adakah bid’ah hasanah ?
.
Tidak di pungkiri, bahwa bid’ah hasanah itu memang ada.
.
Sebagaimana di katakan Imam As-Syafi’i berikut ini :
.
البدعة بدعتان : بدعة محمودة، وبدعة مذمومة، فما وافق السنة، فهو محمود، وما خالف السنة، فهو مذموم
.
“Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah mahmudah (yang terpuji) dan bid’ah madzmumah (yang tercela). Jika suatu amalan bersesuaian dengan tuntunan Rasul, itu termasuk amalan terpuji. Namun jika menyelisihi tuntunan, itu termasuk amalan tercela”. (Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, 9: 113).
.
Namun demikian, bid’ah hasanah / mahmudah yang di katakan oleh Imam Syafi’i itu adalah bid’ah menurut pengertian secara bahasa.
.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Rajab rahimahullah, ketika menjelaskan bid’ah hasanah yang di katakan oleh Imam Syafi’i.
.
Ibnu Rajab rahimahullah berkata :
.
وأما البدعة المحمودة فما وافق السنة يعني ما كان لها أصل من السنة ترجع إليه وإنما هي بدعة لغة لا شرعا لموافقتها السنة .
.
Adapun bid’ah mahmudah (terpuji) adalah segala yang sesuai dengan sunnah, yakni sesuatu yang ada dasarnya dari sunnah yang kembali padanya, HANYA SAJA PEMAHAMAN INI BID’AH SECARA LUGHOH (BAHASA) BUKAN SECARA SYARI’AT, karena sesuai dengan sunnah. (Jaami’ul‘Ulum wal Hikam hadits no. 28).
.
Ibnu Rajab menjelaskan bahwa ”Bid’ah Mahmudah” yang dimaksud oleh Imam Syafi’i, adalah bid’ah menurut pengertian SECARA BAHASA. Bukan pengertian bid’ah menurut syari’at. Karena bid’ah menurut syari’at semuanya tercela. Tidak ada yang baik (hasanah / mahmudah).
.
Kesimpulannya, tidak ada bid’ah hasanah menurut syariat. Karena semua bid’ah menurut syari’at adalah tercela.
.
Bid’ah menurut syari’at tercela tidak ada yang baik, sebagaimana yang di katakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani sebagai berikut :
.
فَالْبِدْعَة فِي عُرْف الشَّرْع مَذْمُومَة
.
“Maka bid’ah menurut istilah syari’at adalah tercela.” (Fathul Bari, 13: 253).
.
Yang di maksudkan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani adalah, bahwa membuat-buat perkara baru dalam urusan ibadah, yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, namun tidak di lakukan juga tidak di perintahkan dan juga tidak di setujui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka menurut syari’at yang di tetapkan Allah dan Rasul-Nya, perkara tersebut tercela. .
Hal ini berdasarkan kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, Beliau bersabda :
.
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة
.
“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).
.
Dalam riwayat An-Nasa’i dikatakan,
.
وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّار

“Dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i, 1578).
.
• TIDAK ADA BID’AH HASANAH MENURUT PERKATA’AN SHALAFUS SHALIH.
.
Tidak adanya bid’ah hasanah dalam urusan ibadah, sudah di katakan oleh para Shalafus Shaleh sebagai berikut,
.
– Sahabat Nabi, Ibnu Umar berkata :
.
كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة
.
“Seluruh bid’ah itu sesat sekalipun manusia memandangnya baik”. (Al Lalika’i 11/50).
.
– Imam Malik, seorang Ulama besar gurunya Imam Syafi’i berkata :
.
من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا ﷺ خان الرسالة
.
“Siapa yang membuat bid’ah dalam agama, dan memandangnya sebagai sesuatu yang baik, berarti dia telah menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhianati risalah”. (Al I’tishom 1/64-65).
.
– Imam Syafi’i berkata :
.
من استحسن فقد شرع
.
“Barang siapa yang menganggap baik (bid’ah), maka ia telah membuat syariat”. (Syarh Tanqih Al Fushul: 452).
.
– Imam Syafi’i berkata :
.
إنما الاستحسان تلذذ
.
“Sesungguhnya istihsan (menganggap baik) itu hanyalah menuruti hawa nafsu”. (Ar-Risalah: 507).
.
Tidak adanya bid’ah hasanah dalam urusan agama juga di katakan oleh seorang Ulama besar ahli dan pakarnya tata bahasa arab yang menulis beberapa kitab nahu sharf. Kitab-kitab nahwu sharf yang beliau tulis adalah :
.
• Al-Maqashid al-Syafiyah fi Syarhi Khulashoh al-Kafiyah, kitab bahasa tentang Ilmu nahwu yang merupakan syarah dari Alfiyah Ibnu Malik.
.
• Unwan al-Ittifaq fi ‘ilm al-isytiqaq, kitab bahasa tentang Ilmu sharf dan Fiqh Lughah.
.
• Ushul al-Nahw, kitab bahasa yang membahas tentang Qawaid Lughah dalam Ilmu sharf dan Ilmu nahwu.
.
Kitab karya Imam Asy Syatibhi terkenal lainnya adalah :
.
• Al-I’tisham, kitab manhaj yang menerangkan tentang bid’ah dan seluk beluknya.
.
Imam As-Sytibhi (wafat 790 H / 1388 M), adalah seorang Ulama ahlu sunnah, yang keilmuannya diakui oleh seluruh umat Islam di dunia.
.
Imam Asy-Syathibi ketika memaknai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam,
.
وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
.
“. . Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.”,
.
Imam Asy-Syathibi berkata : “Para ulama memaknai hadits di atas sesuai dengan keumumannya, tidak boleh dibuat pengecualian sama sekali. OLEH KARENA ITU, TIDAK ADA DALAM HADITS TERSEBUT YANG MENUNJUKKAN ADA BID’AH HASANAH”.
.
(Disebutkan oleh Imam Asy Syatibi dalam fatawanya hal. 180-181. Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 91).
.
• PARA ULAMA SHALAF MENGINGKARI BID’AH
.
Tidak adanya bid’ah hasanah dalam urusan agama (ibadah), akan nampak lebih terang apabila kita perhatikan sikap Imam Syafi’i dan para ulama lainnya yang banyak mengingkari bid’ah-bid’ah yang dilakukan umat Islam di zamannya.
.
Berikut ini salah satu bid’ah dari banyak bid’ah yang di ingkari oleh Imam Syafi’i,
.
✔ Imam Asy-Syafi’i membenci seorang khatib mendo’akan seseorang ketika berkhutbah.
.
وقال الأمام الشافعي: إذا كان الأمام يصلي لشخص معين أو لشخص (أي شخص) ثم كرهت ذلك، ولكن ليست إلزامية لآلية القيام بتكرار
.
Imam As-Syafii berkata : “Jika sang imam berdo’a untuk seseorang tertentu atau kepada seseorang (siapa saja) maka aku membenci hal itu, namun tidak wajib baginya untuk mengulang khutbahnya”. (Al-Umm: 2/416-417).
.
Perhatikan perkata’an Iman Syafi’i diatas !
.
Imam Syafi’i membenci seorang khatib yang mendo’akan seseorang ketika sedang berkhutbah.
.
Apakah mungkin Iman Syafi’i mengatakan, bid’ah dalam urusan agama itu ada yang baik, terpuji (hasanah/mahmudah), sementara Imam Syafi’i sendiri membenci seorang khatib mendo’akan seseorang ketika khutbah ?
.
Apakah yang di lakukan khatib tersebut, yaitu mendo’akan seseorang itu tidak baik, tidak terpuji ?
.
Bukankah berdo’a atau mendo’akan itu ada dasarnya dari Qur’an dan Sunnah, selaras dengan tuntunan Qur’an dan Sunnah ?
.
Lalu mengapa Imam Syafi’i membencinya ?
.
Yang menjadi permas’alahan adalah, do’a yang di panjatkan seorang khatib tersebut di lakukan sa’at khutbah. Hal inilah yang tidak pernah di lakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya, tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Berdo’a atau mendo’akan itu, adalah amalan mulia, baik dan terpuji, ada dasarnya dari Qur’an dan Sunnah selaras dengan Qur’an dan Sunnah.
Namun apabila di lakukan tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi tidak pernah melakukan dan memerintahkannya, maka perbuatan tersebut jadi buruk atau tercela.
.
Karena itulah Imam Syafi’i membenci seorang khatib mendo’akan seseorang kita sedang khutbah.
.
Berikutnya, perhatikan bid’ah yang di ingkari oleh Imam Nawawi berikut ini,
.
Imam Nawawi lahir, 631 H /1233 M di Nawa, Damaskus. Beliau seorang Ulama besar bermadzhab Syafi’i.
.
• Pengingkaran Imam Nawawi terhadap bid’ah.
.
Imam Nawawi rahimahullah sering di tuduh sebagai Ulama yang mendukung adanya bid’ah hasanah, padahal bid’ah hasanah yang dimaksud Imam Nawawi adalah bid’ah secara bahasa.
.
Apakah mungkin Imam Nawawi mengatakan bid’ah menurut syari’at ada yang baik (hasanah) ?
.
Sementara Imam Nawawi banyak mengingkari bid’ah-bid’ah yang dilakukan sebagian umat Islam sa’at itu.
.
Berikut ini salah satu bid’ah dari banyak bid’ah yang di ingkari oleh Imam Nawawi,
.
✔ Berdo’a setiap kali mencuci anggota wudhu.
.
Sebagian umat Islam ada yang membaca do’a setiap kali membasuh anggota wudhu.
.
– Ketika berkumur-kumur membaca do’a,
.
اللَّهُمَّ اسْقِنِيْ مِنْ حَوْضِ نَبِيَّكَ كَأْسًا لاَ أَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدُا
.
“Ya Allah berilah saya minum dari telaga Nabi-Mu satu gelas yang saya tidak akan haus selama-lamanya.”
.
– Membasuh wajah membaca do’a,
.
اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَسْوَدُّ الْوُجُوْه
.
“Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari wajah-wajah menjadi hitam.”
.
– Mencuci tangan membaca do’a,
.
اللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِيَمِيْنِيْ وَلاَ تُعْطِنِيْ بِشِمَالِي
.
ْ“Ya Allah, berikanlah kitabku di tangan kananku dan janganlah engkau berikan di tangan kiriku.”
.
Begitu pula ketika mengusap kepala, mengusap telinga dan mencuci kaki membaca do’a.
.
Imam besar Ulama Syafi’iyah, Imam An-Nawawi menegaskan, bahwa do’a ini tidak ada asalnya dan tidak pernah disebutkan oleh orang-orang terdahulu di kalangan Syafi’iyah.
.
ثم، مع هذا، لا شك أنه يتم تضمين الصلاة في الوضوء بدعة المضللة التي ينبغي التخلي عنها
.
”MAKA, DENGAN INI, TIDAK DIRAGUKAN BAHWA DO’A INI TERMASUK BID’AH SESAT DALAM WUDHU YANG HARUS DITINGGALKAN”. (Lihat Al-Majmu’, 1: 487-489).
.
Perhatikan perkata’an Imam Nawawi di atas !
.
Imam Nawawi mengatakan, do’a-do’a yang di ucapkan ketika membasuh anggota wudlu adalah, “BID’AH SESAT DALAM WUDLU YANG HARUS DI TINGGALKAN”.
.
Mengapa Imam Nawawi mengingkari do’a-do’a tersebut, bukankan berdo’a itu baik ?
.
Bukankah berdo’a itu ada tuntunanya dalam Qur’an dan Sunnah ?
.
Bukankah berdo’a itu sesuai dan selaras dengan Qur’an dan Sunnah ?
.
Lalu mengapa Imam Nawawi mengatakan, do’a-doa tersebut BID’AH SESAT DALAM WUDLU YANG HARUS DI TINGGALKAN ?
.
Permas’alahannya do’a-do’a ketika membasuh anggota wudlu tersebut tidak di lakukan atau di perintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya, amalan tersebut sebagai perkara yang di ada-adakan dalam urusan ibadah (bid’ah).
.
Lalu bagaimana dengan keyakinan sebagian umat Islam, yang suka melakukan amalan-amalan baru yang di buat-buat dalam urusan ibadah (bid’ah) yang tidak pernah Rasulullah lakukan dan perintahkan, juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyetujuinya, apakah bisa dibenarkan ?
.
Benarkah bid’ah hasanah dalam urusan agama / ibadah itu ada ?
.
.
برك الله فيكم
.
Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
_______________________

BID’AH HASANAH MENURUT IMAM ASY-SYATIBHI

BID’AH HASANAH MENURUT IMAM ASY-SYATIBHI

Imam As-Sytibhi (wafat 790 H / 1388 M), adalah seorang Ulama ahlu sunnah, yang keilmuannya diakui oleh seluruh umat Islam di dunia.

Imam Asy Sytibhi juga dikenal sebagai seorang pakar atau ahlinya dalam gramatika bahasa arab (nahwu). Beliau menulis kitab-kitab tentang ilmu nahwu dan sharf, ini sebagai bukti bahwa Imam Asy Sytibhi ahlinya dalam ilmu tata bahasa arab nahwu dan sharf.

Kitab-kitab nahwu sharf yang beliau tulis adalah :

• Al-Maqashid al-Syafiyah fi Syarhi Khulashoh al-Kafiyah, kitab bahasa tentang Ilmu nahwu yang merupakan syarah dari Alfiyah Ibnu Malik.

• Unwan al-Ittifaq fi ‘ilm al-isytiqaq, kitab bahasa tentang Ilmu sharf dan Fiqh Lughah.

• Ushul al-Nahw, kitab bahasa yang membahas tentang Qawaid Lughah dalam Ilmu sharf dan Ilmu nahwu.

Kitab karya Imam Asy Syatibhi terkenal lainnya adalah :

• Al-I’tisham, kitab manhaj yang menerangkan tentang bid’ah dan seluk beluknya.

Tentang lafadz ”KULLU” pada hadits:

كل بدعة ظلالة

”Semua bid’ah sesat”

Imam Asy Syatibhi rahimahullaah berkata :

مَحْمُوْلٌ عِنْدَ الْعَلَمَاء عَلَى عَمُوْمِهِ ، لاَيُسْتِثْنَى مِنْهُ شَيْءٌ اَلْبَتَّة وَلَيْسَ فِيْهَا مَا هُوَا حَسَنٌ اَصْلا
ً
“MENURUT PARA ULAMA, HADITS INI DITERAPKAN PADA KE UMUMANNYA TANPA ADA PENGECUALIAN APAPUN DARINYA. PADA BID’AH (di hadist ini) SAMA SEKALI TIDAK ADA YANG DISEBUT (BID’AH) YANG BAIK (HASANAH)”.

(Al-Fatawaa Hal, 180-18 Syatibhi Lihat: علم اصول البدع hlm. 91 Ali Hasan).

Para pembela bid’ah hasanah yang memaknai lafadz ”Kullu” dengan membuat pengecualian ”ada bid’ah yang baik (hasanah)”, apakah lebih pintar dan lebih faham ilmu tata bahasa Arab nahwu sharf dibanding Imam Asy Syatibhi ?

Yang kredibilitasnya sebagai Ulama dikenal luas oleh umat Islam dan juga sebagai pakar / ahlinya tata bahasa Arab, nahwu sharf. Perkata’an Imam Asy Syatibhi tentu patut diperhatikan.

والله اعلم بالصواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

========================

TANGGAPAN IMAM ASY-SYATIBI DAN IMAM ASY-SYAUKANI TERHADAP PEMBAGIAN BID’AH YANG DIBUAT AL-’IZ BIN ABDUS SALAM

TANGGAPAN IMAM ASY-SYATIBI DAN IMAM ASY-SYAUKANI TERHADAP PEMBAGIAN BID’AH YANG DIBUAT AL-’IZ BIN ABDUS SALAM

Al ‘Iz-bin Abdus Salam rahimahullah berkata : “Bid’ah itu terbagi kepada bid’ah yang wajib, bid’ah yang haram, bid’ah yang sunnah bid’ah yang makruh dan bid’ah yang mubah. Dan cara untuk mengetahui hal tersebut, maka bid’ah tersebut harus dikembalikan kepada kaidah-kaidah syari’at. Maka jika bid’ah tersebut masuk dalam kaidah yang wajib, maka itulah yang dinamakan dengan bid’ah wajibah, apabila ia masuk pada kaidah yang haram, maka itulah bid’ah muharramah. Jika ia masuk dalam kaidah sunnah, maka itulah bid’ah mandubah (sunnah) dan jika ia masuk dalam kaidah mubah, maka itulah bidah yang mubah”. [Qawaa’idul Ahkaam, 2/173].

Tanggapan :

1. Sesungguhnya kita tidak diperbolehkan untuk mempertentangkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan perkata’an siapapun.

• TANGGAPAN IMAM ASY-SYATIBI

Tanggapan Imam Asy-Syathibi terhadap pembagian bid’ah yang dibuat Al ‘Iz-bin Abdus Salam.

Berkata Imam Asy-Syathibi rahimahullah : “Sesungguhnya pembagian tersebut adalah pembagian yang di ada-adakan, tidak ada satupun dalil syar’i yang mendukungnya, bahkan pembagian itu sendiri saling bertolak belakang, sebab hakikat bid’ah adalah jika sesuatu itu tidak memiliki dalil yang syar’i, tidak berupa dalil dari nas-nas syar’i, dan juga tidak terdapat dalam kaidah-kaidahnya. Sebab seandainya disana terdapat dalil syar’i tentang wajibnya, atau sunnahnya, atau bolehnya, niscaya tidak mungkin bid’ah itu ada, dan niscaya amalan tersebut masuk dalam amalan-amalan secara umum yang diperintahkan, atau yang diberikan pilihan. Karena itu maka mengumpulkan beberapa hal tersebut sebagai suatu bid’ah, dan antara keberadaan dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya, atau sunnahnya, atau bolehnya, maka semua itu merupakan pengumpulan antara dua hal yang saling menafikan”.[Al I’tisham, 1/246].

• TANGGAPAN IMAM ASY-SYAUKANI

Berikut jawaban Imam Asy Syaukani terhadap pembagian bid’ah menjadi lima.

Dalam penjelasan beliau mengenai hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha yang maknanya : “Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami yang bukan dari padanya, maka hal itu tertolak” (muttafaq alaih), Imam Asy Syaukani mengatakan :

وَهَذَا الْحَدِيثُ مِنْ قَوَاعِدِ الدِّينِ ؛ لِأَنَّهُ يَنْدَرِجُ تَحْتَهُ مِنْ الْأَحْكَامِ مَا لَا يَأْتِي عَلَيْهِ الْحَصْرُ . وَمَا أَصْرَحَهُ وَأَدَلَّهُ عَلَى إبْطَالِ مَا فَعَلَهُ الْفُقَهَاءُ مِنْ تَقْسِيمِ الْبِدَعِ إلَى أَقْسَامٍ وَتَخْصِيصِ الرَّدِّ بِبَعْضِهَا بِلَا مُخَصِّصٍ مِنْ عَقْلٍ وَلَا نَقْلٍ فَعَلَيْك إذَا سَمِعْت مَنْ يَقُولُ هَذِهِ بِدْعَةٌ حَسَنَةٌ بِالْقِيَامِ فِي مَقَامِ الْمَنْعِ مُسْنِدًا لَهُ بِهَذِهِ الْكُلِّيَّةِ وَمَا يُشَابِهُهَا مِنْ نَحْوِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ} طَالِبًا لِدَلِيلِ تَخْصِيصِ تِلْكَ الْبِدْعَةِ الَّتِي وَقَعَ النِّزَاعُ فِي شَأْنِهَا بَعْدَ الِاتِّفَاقِ عَلَى أَنَّهَا بِدْعَةٌ ، فَإِنْ جَاءَك بِهِ قَبِلْته ، وَإِنْ كَاعَ كُنْت قَدْ أَلْقَمْته حَجَرًا وَاسْتَرَحْت مِنْ الْمُجَادَلَةِ . (نيل الأوطار, كتاب الصلاة, باب: الصلاة في ثوب الحرير والمغصوب).

“Hadits ini merupakan salah satu pondasi agama, karena tak terhingga banyaknya hukum yang masuk ke dalamnya. ALANGKAH JELASNYA DALIL INI SEBAGAI PEMBATAL BAGI APA YANG DILAKUKAN SEBAGIAN FUQAHA’ KETIKA MEMBAGI BID’AH MENJADI MACAM-MACAM. Atau ketika mereka mengkhususkan jenis bid’ah tertentu yang tertolak, tanpa bersandar pada dalil baik secara logika maupun riwayat. KARENANYA, KETIKA MENDENGAR ADA ORANG MENGATAKAN, “INI BID’AH HASANAH”, WAJIB BAGI ANDA UNTUK MENOLAKNYA, YAITU DENGAN BERSANDAR PADA KEUMUMAN HADITS INI DAN HADITS-HADITS SENADA SEPERTI : “KULLU BID’ATIN DHOLAALAH”. Anda harus menanyakan dalil mana yang mengkhususkan bid’ah-bid’ah lain yang masih diperdebatkan, setelah disepakati bahwa hal itu merupakan bid’ah ? Kalau ia bisa mendatangkan dalilnya, kita akan terima. Namun jika tak mampu, maka anda telah membungkamnya seribu bahasa, dan tak perlu melanjutkan perdebatan” (Nailul Authar, 1/66 cet. Daarul Fikr).

================

PENGERAS SUARA BID’AH ?

PENGERAS SUARA BID’AH ?

Untuk memahami mas’alah ini maka harus diketahui bahwa pengertian bid’ah dibagi menjadi dua, bid’ah menurut bahasa dan bid’ah menurut syari’at.

Ibnu Katsir Rahimahullah, seorang ulama ahli tafsir paling terkemuka mengatakan, bahwa bid’ah ada dua macam ; Bid’ah menurut syari’at dan bid’ah menurut lughowiyah (bahasa).

Ibnu Katsir berkata : ”Bid’ah ada dua macam, bid’ah syari’at seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya setiap yang ada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” Dan bid’ah lughowiyah (bahasa) seperti perkata’an umar bin Khatab ketika mengumpulkan manusia untuk sholat tarawih : ”Inilah sebaik-baiknya bid’ah.” [Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anil ‘Adziem 1/223. Cet. Maktabah taufiqiyah, Tahqiq Hani Al-Haaj].

1. Bid’ah menurut bahasa

Bid’ah menurut bahasa adalah segala perkara baru apakah perkara tersebut terpuji atau tercela.

Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullaah berkata : “Bid’ah secara bahasa adalah segala sesuatu yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya baik terpuji maupun tercela”. [Fathul Bari, 13: 253].

2. Bid’ah menurut syari’at

Bid’ah menurut syari’at adalah, semua perkara baru dalam urusan ibadah (agama). Dan semua perkara baru (bid’ah) dalam urusan ibadah adalah tercela.

Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullaah berkata : “Maka bid’ah menurut istilah syari’at adalah tercela”. [Fathul Bari, 13: 253].

Pengeras suara adalah bid’ah yang baik (hasanah) kalau menurut bahasa.

Dikatakan bid’ah, karena pengeras suara memang perkara baru yang tidak ada di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dikatakan baik (hasanah), karena pengeras suara menjadikan suara muadzin bisa didengar oleh orang-orang yang tempatnya jauh dari masjid. Sehingga manusia bisa mengetahui panggilan shalat.

Pengeras suara untuk panggilan adzan bukan bid’ah menurut syari’at, artinya bukan bid’ah yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“. . Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

Maksud bid’ah yang Nabi peringatkan kepada umatnya adalah bid’ah dalam urusan AGAMA (ibadah).

Darimana kita bisa mengetahui bahwa yang Nabi maksudkan adalah bid’ah dalam urusan AGAMA ?

Jawabannya :

Kita harus melihat hadits-hadits Nabi yang lainnya, karena antara satu hadits dengan hadits yang lainnya saling menjelaskan.

Perhatikan hadist-hadist berikut ini :

– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

من احدث في امرنا هد ما ليس منه فهو رد

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (agama / ibadah) yang tidak ada asalnya (tidak Rosululloh lakukan / perintahkan), maka perkara tersebut tertolak”. (HR.Bukhari, no.20).

– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Ajarkan orang-orang tentang sunnahku walaupun mereka membencinya, dan bila kamu suka, janganlah berhenti walau sekejap matapun di tengah jalan, hingga kamu masuk ke dalamnya serta (Falaa tahditsu fii diinillah hadatsan bi ro’yika) Janganlah membuat perkara baru dalam diinullah (agama Allah) menurut pendapatmu sendiri)”. (H.R.Imam Asy-Syatibi dalam I’tisham hal 50).

Perhatikan Kalimat íni :

فلاتحدث في دين الله برأيك

“Falaa tahditsu fii diinillah hadatsan bi ro’yika”

Artinya :

“Janganlah membuat perkara baru dalam diinullah (agama Allah) menurut pendapatmu sendiri”

Apabila kita perhatikan hadist-hadist tersebut, maka kita akan mendapatkan penjelasan dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri, bahwa yang di maksud dengan jangan berbuat bid’ah itu, adalah bid’ah dalam urusan AGAMA / fii diinillah (agama Allah) atau urusan IBADAH.

Pengeras suara hanya sarana atau alat untuk mencapai tujuan yang di syari’atkan. Pengeras suara bukan ibadah yang berdiri sendiri. Sehingga tidak menjadi dosa apabila pengeras suara dihilangkan.

Berbeda masalahnya dengan syari’at adzan yang sudah ditentukan syari’atnya tidak boleh ditambah atau dikurangi terlebih lagi dihilangkan, maka tentu saja tidak boleh, karena adzan adalah syari’at Islam yang berdiri sendiri, yang memiliki aturan-aturan sendiri. Maka syari’at adzan harus sesuai tuntutan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Menurut syari’at, adzan diperintahkan dikumandangkan dengan suara keras. Dalilnya adalah hadits berikut,

Dari Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahamn bin Abu Sha’sha’ah Al Anshari Al Mazini dari bapaknya bahwa ia mengabarkan kepadanya, bahwa Abu Sa’id Al Khudri berkata kepadanya : “Aku lihat kamu suka kambing dan lembah (pengembala’an). Jika kamu sedang menggembala kambingmu atau berada di lembah, lalu kamu mengumandangkan adzan shalat, maka keraskanlah suaramu. Karena tidak ada yang mendengar suara mu’adzin, baik manusia, jin atau apapun dia, kecuali akan menjadi saksi pada hari kiamat”. Abu Sa’id berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (H.R. Bukhari).

Lafadz “Maka keraskanlah suaramu” menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan adzan dikumandangkan dengan suara keras agar bisa didengar banyak orang.

Di zaman Rasulullah, mu’adzin sengaja memilih tempat yang tinggi agar suara yang dikumandangkan bisa didengar banyak orang dari tempat yang jauh.

Abu Dawud meriwayatkan, Dari Urwah bin Az-Zubair dari seorang wanita dari Bani Najjar dia berkata : ”Rumahku adalah rumah yang paling tinggi di antara rumah-rumah yang lain di sekitar masjid, dan Bilal mengumandangkan adzan subuh di atasnya”. (H.R. Abu Dawud).

Makna dari hadits tersebut adalah, Bilal sengaja memilih naik rumah salah seorang wanita Anshar yang paling tinggi untuk mengumandangkan adzan. Pemilihan tempat yang paling tinggi oleh Bilal, dimaksudkan supaya suara adzan yang dikumandangkan dengan keras bisa menjangkau tempat jauh sehingga suara adzan bisa didengar banyak orang.

Pengguna’an pengeras suara untuk panggilan adzan sangat tepat, karena memang adzan di syari’atkan supaya dikumandangkan dengan keras. Supaya didengar banyak manusia.

Dizaman modern dimana teknologi berkembang pesat, banyak inovasi yang dibuat manusia, tentu saja tidak diharamkan dalam Islam. Selama peralatan yang dibuat tersebut tidak menimbulkan kerusakan. Terlebih lagi berbagai macam inovasi yang manusia ciptakan tersebut mendatangkan kemaslahatan untuk berbagai macam urusan manusia, maka inovasi tersebut perkara yang terpuji dipandang baik dalam timbangan syari’at Islam. Sebagaimana halnya pengeras suara untuk panggilan adzan, pesawat terbang untuk pergi menunaikan ibadah haji, dan banyak lagi. Tentu saja semua inovasi tersebut bermanfa’at untuk kepentingan manusia apakah untuk urusan mu’amalah ataupun urusan ibadah.

Kesimpulan :

Pengeras suara untuk panggilan adzan bukan bid’ah yang diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pengeras suara hanya sarana untuk tercapainya tujuan adzan yaitu supaya bisa di dengar oleh orang banyak dan dari tempat yang jauh.

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

=======================

PENJELASAN IMAM IBNU KATSIR & IBNU RAJAB TENTANG BID’AH HASANAH YANG DIKATAKAN UMAR BIN KHATAB

PENJELASAN IMAM IBNU KATSIR & IBNU RAJAB TENTANG BID’AH HASANAH YANG DIKATAKAN UMAR BIN KHATAB

Perkata’an Umar bin Khatab yang mengatakan : (الْبِدْعَةُ هَذِهِ), “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, seringkali dijadikan senjata andalan oleh para pembela bid’ah hasanah untuk membela keyakinannya bahwa bid’ah ada yang baik (terpuji).

Untuk memahami perkata’an Umar bin Khatab dengan benar, maka kita harus memahami perkata’an Umar bin Khatab tersebut sebagaimana yang dijelaskan oleh para Ulama mu’tabar yang diakui keilmuannya oleh umat Islam. Bukan menurut pemahaman para pengikut hawa nafsu yang kebiasa’annya mencari-cari dalil untuk membela amalan-amalan bid’ahnya.

Berikut penjelasan Imam Ibnu Katsir seorang ulama ahli tafsir dan Ibnu Rajab, semoga Allah merahmati mereka berdua.

1. Penjelasan Imam Ibnu Katsir Rahimahullah

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata :
”Bid’ah ada dua macam, bid’ah menurut syari’at seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya setiap yang ada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. Dan bid’ah lughowiyah (bahasa) seperti perkata’an Umar bin Khatab ketika mengumpulkan manusia untuk sholat tarawih : “Inilah sebaik-baiknya bid’ah”.” [Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anil ‘Adziem 1/223. Cet. Maktabah taufiqiyah, Tahqiq Hani Al Haaj].

2. Penjelasan Al-Hafidz Ibnu Rajab Rahimahullah

Ibnu Rajab Rahimahullah berkata : ”Jadi ucapan Umar, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Adalah bid’ah secara lughowi (bid’ah secara bahasa)”. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2:128).

Dari penjelasan Imam Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab tersebut maka bisa diketahui bahwa perkata’an Umar bin Khatab yang mengatakan ; ”Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Adalah bid’ah secara bahasa. Bukan bid’ah secara syari’at.

Shalat teraweh dipimpin oleh satu imam yang diprakarsai oleh Umar bin Khatab benar bahwa hal itu adalah bid’ah hasanah secara bahasa (lughowi), tapi bukan bid’ah secara syari’at, karena bid’ah secara syari’at semuanya tercela.

Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullaah. Beliau berkata : “Maka bid’ah menurut istilah syari’at adalah tercela, . .”. [Lihat Fathul Bari, 13: 253].

Tidak mungkin Umar bin Khatab seorang Sahabat yang mendapatkan jaminan surga melakukan perbuatan tercela dalam agama yaitu berbuat bid’ah.

yang salah bukan perkata’an Umar bin Khatab, tapi orang-orang yang salah memahami perkata’an Umar bin Khatab.

• Pembagian makna bid’ah

Pengertian / makna bid’ah terbagi menjadi dua :

1. Makna bid’ah secara bahasa (lughowi).
2. Makna bid’ah secara syari’at.

Sebagaimana dikatakan Imam Ibnu Katsir Rahimahullah, Imam Ibnu Katsir seorang ahli tafsir paling terkemuka mengatakan bahwa bid’ah ada dua macam. Bid’ah secara syari’at dan bid’ah secara lughowiyah (bahasa).

Imam Ibnu Katsir berkata : ”Bid’ah ada dua macam, bid’ah syari’at seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya setiap yang ada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” Dan bid’ah lughowiyah (bahasa) seperti perkata’an umar bin Khatab ketika mengumpulkan manusia untuk sholat tarawih : ”Inilah sebaik-baiknya bid’ah”. [Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anil ‘Adziem 1/223. Cet. Maktabah taufiqiyah, Tahqiq Hani Al Haaj].

Kesimpulan :

Perkata’an Umar bin Khatab yang mengatakan : (الْبِدْعَةُ هَذِهِ), “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Adalah bid’ah secara bahasa. Bukan bid’ah menurut syari’at. Jadi bid’ah hasanah yang dikatakan Umar bin Khatab bukan bid’ah hasanah sebagaimana yang difahami oleh para pembela bid’ah. Dan hujjah para pembela bid’ah dengan perkata’an Umar bin Khatab diatas, adalah hujjah akibat salah faham memahami perkataan Umar bin Khatab.

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/10-memahami-bidah/

=========================

BID’AH HASANAH MENURUT SALAFUS SHALIH

BID’AH HASANAH MENURUT SALAFUS SHALIH

Keyakinan tentang adanya bid’ah hasanah adalah musibah terbesar dari berbagai macam musibah yang menimpa ummat ini. Keyakinan ini pada akhirnya akan menghalalkan semua bentuk bid’ah yang pada gilirannya akan memunculkan syariat-syariat baru dalam agama.

Shalafus Shalih adalah generasi terbaik umat. Mereka adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat dan paling mengetahui dalam memahami Islam. Mereka adalah para pendahulu yang memiliki keshalihan yang tertinggi. Bagaimana tentang bid’ah hasanah menurut mereka ?

Berikut ini perkata’an mereka tentang bid’ah hasanah,

1. Ibnu Umar berkata :

كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة

“Seluruh bid’ah itu sesat sekalipun manusia memandangnya baik”. (Al Lalika’i 11/50).

2. Al-‘Allamah Abu Syammah Al-Maqdisi Asy-Syafi’iy (seorang pembesar ulama Syafi’iyyah) berkata :

ولا يستَحْسِنُ؛ فإنَّ (مَن استحسن فقد شَرَعَ)

”Dan janganlah dia menyatakan baik menurut pendapatnya. Barangsiapa yang menganggap baik menurut pendapatnya (istihsan), maka sesungguhnya dia telah membuat syari’at (baru)”. [Al-Ba’its ‘alaa Inkaaril-Bida’ wal-Hawadits oleh Abu Syaammah, hal. 50].

3. Imam Malik berkata :

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا ﷺ خان الرسالة

“Siapa yang membuat bid’ah dalam agama, dan memandangnya sebagai sesuatu yang baik, berarti dia telah menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhianati risalah”. (Al I’tishom 1/64-65).

4. Imam Syafi’i berkata :

من استحسن فقد شرع

“Barang siapa yang menganggap baik (bid’ah), maka ia telah membuat syariat”. (Syarh Tanqih Al Fushul: 452).

5. Imam Syafi’i berkata :

ولو جاز لأحد الاستحسان في الدين : لجاز ذلك لأهل العقول من غير أهل العلم, ولجاز أن يشرع في الدين في كل باب, وأن يخرج كل أحد لنفسه شرعا !

”Andai seseorang boleh melakukan istihsan dalam agama, niscaya hal tersebut menjadi boleh bagi setiap siapa saja yang cerdas sekalipun bukan dari ahli ilmu, dan boleh baginya membuat syariat pada setiap bab dalam agama, juga boleh bagi setiap orang membuat syariat untuk dirinya sendiri”. (Syarh Tanqih Al Fushul: 452).

6. Imam Syafi’i berkata :

إنما الاستحسان تلذذ

“Sesungguhnya istihsan (menganggap baik) itu hanyalah menuruti hawa nafsu”. (Ar-Risalah: 507).

7. Imam Asy Syathibi ketika memaknai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam,

وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“. . Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.”, Imam Asy Syathibi berkata : “Para ulama memaknai hadits di atas sesuai dengan keumumannya, tidak boleh dibuat pengecualian sama sekali. Oleh karena itu, tidak ada dalam hadits tersebut yang menunjukkan ada bid’ah hasanah”
(Disebutkan oleh Asy Syatibi dalam fatawanya hal. 180-181. Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 91).

بَارَكَ اللهُ فِيْكُم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/10-memahami-bidah/

================

UTSMAN BIN AFFAN MEMBUAT BID’AH ?

UTSMAN BIN AFFAN MEMBUAT BID’AH ?

Para pembela bid’ah hasanah, seringkali membawakan riwayat Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, yang membuat adzan dua kali, sebagai hujjah bagi mereka untuk membenarkan keyakinan adanya bid’ah hasanah.

Para pembela bid’ah hasanah mengatakan bahwa Utsman bin Affan membuat bid’ah hasanah, sehingga dengan riwayat Utsman bin Affan itu, mereka meyakini adanya bid’ah hasanah.

Adzan dua kali yang dibuat oleh Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu merupakan IJTIHADNYA, akan tetapi ternyata ada Sahabat lainnya yang tidak mengikutinya, yaitu Ali bin abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Kalau yang dilakukan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu itu mau dijadikan hujjah, maka hujjah itu bukan merupakan hujjah yang mutlak. Karena tidak semua Sahabat, sepakat, setuju dengan yang dilakukan Utsman bin Affan.

Ali bin abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika berada di kuffah, Beliau hanya mengamalkan yang disunahkan Rasulullah dan meninggalkan ijtihadnya Utsman bin Affan. Demikian pula Abdullah bin Umar (Lihat kitab Al-Ajwibah An-Nafi’ah).

Karena bukan hujjah yang mutlak inilah, maka Imam As-Syafi’i lebih menyukai apa yang dilakukan Sahabat Ali bin abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, daripada yang dilakukan oleh Utsman bin Affan radhiyallahu.

Imam as-Syafi’i rahimahullah berkata ; “Dan saya menyukai adzan pada hari jum’at dikumandangkan ketika imam masuk masjid dan duduk di atas mimbar. Apabila imam telah melakukan hal itu, maka muadzin memulai adzan. Bila telah usai, maka imam berdiri dan menyampaikan khutbahnya, dan tidak boleh ditambah-tambahi (adzan lain) lagi”. (al-Umm, jilid 1, hlm. 172-173).

• SEBABNYA UTSMAN BIN AFFAN MEMBUAT ADZAN DUA KALI

Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu membuat adzan dua kali, disebabkan semakin banyaknya umat Islam dan berjauhan rumah mereka dari masjid. Utsman bin Affan membuat adzan yang pertama, dimaksudkan untuk memberi tahukan kepada orang-orang supaya segera bersiap-siap untuk shalat jum’at. Adzan yang pertama tersebut dikumandangkan di sbuah pasar yang bernama Zaura (sebuah pasar di Madinah).

Berikut ini keterangannya :

فَلَمَّا كَانَ زَمَانُ عُثْمَانَ وَحَدَثَتِ الْحَاجَّةُ بِكَثْرَةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَدَمِ تَبْكِيْرِهِمْ إِلَى الْمَسْجِدِ عَلَى نَحْوِ مَاكَانُوا يَفْعَلُونَ فِي زَمَنِ مَنْ قَبْلَهُ ، أَمَرَ أَنْ يُؤَذِّنَ بِهِمْ لِلْجُمُعَهِ عَلَى الزَّوْرَاءِ . – الإبداع ، ۱ : ٦٤ –

“Maka ketika masa Utsman ibn Affan dan adanya kebutuhan karena bertambahnya kaum muslimin dan ketidakadaan sikap bersegera menuju ke masjid sebagaimana yang terjadi pada zaman sebelumnya, maka Utsman menyuruh untuk mengumandangkan adzan (pertama) untuk (mengingatkan) shalat Jum’at di Zaura (sebuah pasar di Madinah)”. (Lihat kitab al-Ibda’, Vol. I, hlm. 64).

Dari riwayat tersebut bisa kita ketahui, bahwa Utsman bin Affan membuat adzan dua adalah karena ada sebab. Kalau tidak ada sebab, tentu Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu tidak akan membuat adzan dua kali, tetapi mengamalkan atas sunnah yang ada, sebagaimana yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lakukan.

• APAKAH UTSMAN MEMBUAT BID’AH ?

Apakah Utsman bin ‘Affan bisa disebut membuat bid’ah, karena membuat adzan dua kali, berbeda dengan yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ?

PERHATIKAN INI BAIK-BAIK ! ! !

Utsman bin ‘Affan membuat adzan dua kali adalah ;

“BERIJTIHAD” bukan “BERBUAT BID’AH”

Adzan dua kali merupakan IJTIHAD Utsman bin Affan, juga dikatakan Imam Asqotolani dalam Syarah Bukhorinya.

Imam Asqotolani dalam Syarah Bukhorinya berkata ;

وكان هذا الأذان لما كثر المسلمون فزاده عثمان رضي الله عنه اجتهاداً منه

“. . Dan adzan (tambahan) ini ditambakan oleh Sayyidina Utsman sa’at kaum muslimin menjadi banyak, hal seperti ini merupakan IJTIHAD dari beliau . . .”.

Jelaslah, adzan dua kali merupakan IJTIHAD Utsman bin Affan, bukan BID’AH sebagaimana para pembela bid’ah hasanah katakan.

Apakah itu IJTIHAD ?

IJTIHAD (Arab: اجتهاد) adalah usaha yang sungguh-sungguh, yang hanya boleh dilakukan oleh orang tertentu, untuk memutuskan suatu perkara yang tidak terdapat dalam Al Quran maupun hadits.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata ;

وهو أن يرى المجتهد أن هذا الفعل يجلب منفعة راجحة ، وليس في الشرع ما ينفيه

“Dia, seorang mujtahid melihat bahwa perbuatan tersebut mendatangkan manfa’at yang sangat jelas, dan tidak ada dalam Syari’at perkara yang menafikan-nya atau menolaknya”. (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmû’ Fatâwâ, XI/342-343).

IJTIHAD merupakan dinamika Islam untuk menjawab tantangan zaman. Ia adalah “semangat rasionalitas Islam” dalam rangka hidup dan kehidupan modern yang kian kompleks permasalahannya. Banyak masalah baru yang muncul yang tidak ada semasa hayat Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam.

IJTIHAD diperlukan untuk merealisasikan ajaran Islam dalam segala situasi dan kondisi. Dan sebuah produk idjtihad, bisa ditinggalkan apabila di suatu masa sudah tidak dibutuhkan.

IJTIHAD ditempatkan sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Quran dan As-Sunnah, jadi IJTIHAD dalam Islam di akui sebagai sebuah legalitas hukum.

Dan berikut ini macam-macam bentuk ijtihad ; Ijma’, Qiyas, Istihsân, Maslahah murshalah, Sududz, Dzariah, Istishab, Urf.

Dan IJTIHAD yang dilakukan Utsman bin Affan termasuk kedalam bentuk Idjtihad MASLAHAH MURSALAH .

• APAKAH BEDA BERIJTIHAD DENGAN BERBUAT BID’AH ?

BERIJTIHAD dan BERBUAT BID’AH tentu saja bebeda, BERIJTIHAD mendapatkan pahala walaupun ijtihadnya salah.

Sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ.

“Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala”. (H.R Al-Bukhaariy 13/268 dan Muslim no. 1716).

Adapun BERBUAT BID’AH adalah tercela.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;

وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“. . . Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i, 1578).

• UTSMAN BIN AFFAN BERIJTIHAD BUKAN BERBUAT BID’AH

Dari mana kita bisa mengetahui bahwa Utsman bin Affan BERIJTIHAD bukan BERBUAT BID’AH ?

Untuk bisa mengetahui Utsman bin Affan BERIJTIHAD dan bukan BERBUAT BID’AH adalah dari perbeda’an antara IJTIHAD dan BID’AH.

Sebagaimana yang tadi disebutkan, bahwa IJTIHAD yang dilakukan Utsman bin Affan termasuk kedalam bentuk Ijtihad MASLAHAH MURSALAH .

Dan berikut ini, beda MASLAHAH MURSALAH dengan BID’AH.

Perbeda’an MASLAHAH MURSALAH. dengan BID’AH diantaranya ;

1. MASLAHAH MURSALAH dilakukan, bukan diniatkan untuk menambah atau mendapatkan nilai pahala dan keutama’an (mubalaghah) dari ibadah yang dilakukan. Adapun BID’AH, tujuannya sangat jelas, ingin mendapatkan pahala dan keutama’an (mubalaghah) dari amalan yang dibuatnya.

Adzan dua kali yang di lakukan Utsman bin Affan ini, tujuan Utsman, bukan untuk mendapatkan tambahan nilai pahala atau keutama’an (mubalaghah) dari shalat jum’at, melainkan karena disebabkan semakin banyaknya umat Islam dan berjauhan rumah mereka dari masjid. Sehingga banyak dari mereka, tidak dapat mendengar adzan tersebut.

Tujuan Utsman bin Affan, sangat berbeda dengan orang-orang yang berbuat BID’AH.

Orang yang berbuat bid’ah, tujuannya sangat jelas, ingin mendapatkan pahala dan keutama’an (mubalaghah) dari amalan yang dibuatnya.

Contohnya, orang yang mebuat bid’ah Maulid Nabi. Mereka yang membuat Maulid Nabi, tentu saja ingin mendapatkan pahala, dan keutama’an (mubalaghah) dari amalan yang dibuatnya.

2. MASLAHAH MURSALAH, bisa ditinggalkan apabila sudah tidak dibutuhkan. Adapun BID’AH, para pelakunya tidak bisa meninggalkannya, karena mereka menganggap bid’ah yang dilakukannya sebagai ibadah.

Adzan dua kali yang dibuat Utsman bin Affan, bisa ditinggalkan. Dan adzan jum’at kembali seperti yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lakukan, yaltu satu kali, Karena kondisi sa’at ini suara adzan dari masjid bisa didengar dari tempat jauh, dengan adanya speaker.

Berbeda dengan pelaku bid’ah, seperti mereka yang merayakan maulid nabi atau tahlilan, mereka tidak bisa meninggalkannya karena mereka melihatnya sebagai ibadah.

3. MASLAHAH MURSALAH, mendatangkan kemaslahatan buat umat dalam beribadah. Adapun BID’AH, memberatkan dan menambah kesulitan pelakunya dalam beribadah.

Adzan dua kali yang dibuat Utsman bin Affan, menjadikan orang yang jauh dari masjid jadi bisa mengetahui waktu shalat jum’at tiba. Adzan dua kali yang dibuat Utsman mendatangkan kebaikan (maslahat).

Adapun BID’AH menambah berat dan kesulitan buat umat, contohnya selamatan kematian Tahlilan, banyak orang yang memaksakan diri, berutang kepada saudara atau tetangga, untuk biaya tahlilan tersebut.

Setelah kita mengetahui perbeda’an antara IJTIHAD dengan BID’AH.

Maka nampak jelas sekali, adzan dua kali yang dilakukan Utsman bin Affan adalah sebuah IJTIHAD bukan BID’AH..

Jadi kalau ada yang mengatakan Utsman bin Affan berbuat BID’AH, Sebagaimana yang dituduhkan para pembela bid’ah, ini adalah sebuah kekeliruan, dan nampak sekali para pembela bid’ah tidak mengerti dan membedakan antara BID’AH dan IJTIHAD.

Wasallam

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

=========

BARANGSIAPA MERINTIS PERKARA BARU (BID’AH)

BARANGSIAPA MERINTIS PERKARA BARU (BID’AH) . .

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (Riwayat Muslim).

Mereka menyimpulkan, dengan hadist ini dibolehkannya membuat suatu cara baru (bid’ah) dalam Islam, dan akan mendapatkan pahala.

Jawabannya :

Untuk menyimpulkan suatu hadist, maka diantaranya kita harus mengetahui sebab turun (asbabul wurud) atau kronologi dari hadist tersebut.

Adapun sebab turun dari hadist tadi yaitu, Di riwayatkan suatu ketika Rosululloh kedatangan suatu kaum dari Mudlor dengan kondisi yang memprihatinkan, mereka bertelanjang kaki. Maka Rosululloh memerintahkan kepada para sahabat yang ada untuk memberikan bantuan atau sodaqoh. Lalu datanglah seseorang dari kalangan anshor dengan membawa kantung yang tangannya hampir tidak bisa membawanya bahkan tidak mampu, kemudian orang-orang pun mengikuti sehingga aku melihat dua tumpukan besar dari makanan dan pakaian, maka aku melihat wajah Rosulullah berseri-seri bagaikan perak bersepuh emas.

Lalu beliau bersabda ;

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”.

Apabila hadis ini dijadikan dalil untuk membenarkan adanya bid’ah hasanah, adalah sungguh leliru, karena hadist tadi tidak menunjukan adanya perintah Nabi untuk membuat-buat amalan baru.

Hadist tadi sebagai tanggapan baik atau apresiasi Rosululloh kepada seorang sahabat yang mendahului memberikan sodaqoh atau bantuan.

Dari kisah di atas juga jelas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memotivasi para sahabat untuk bersedekah. Lalu sahabat anshorlah yang pertama kali bersedekah, lalu diikuti oleh para sahabat yang lain.

Apakah sodaqoh atau bantuan seorang Sahabat dari ansor tersebut mau di katakan bid’ah (perkara baru) ?

Tentunya kita semua mengetahui, bahwa shodaqoh bukanlah perkara yang diada-adakan.

Dari riwayat itu juga nampak jelas, bahwa yang dimaksud dengan sunnah hasanah adalah sunnah yang valid dari Nabi, dalam kasus ini adalah sedekah yang dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam riwayat itu tidak menunjukkan ada seorang Sahabat yang membuat amalan baru atau suatu cara yang baru dalam Islam. Sodaqoh atau bantuan yang dilakukan Sahabat anshor bukan cara atau kreasi baru yang di buat seorang Sahabat.

Maka berdalil dengan hadits tersebut untuk menyatakan adanya bid’ah hasanah adalah cara pendalilan yang di cari-cari.

Mereka juga berkata ;

Dalam hadits ini dengan sangat jelas Rasulullah mengatakan : “Barangsiapa merintis sunnah hasanah…”. Pernyata’an Rasulullah ini harus dibedakan dengan pengertian anjuran beliau untuk berpegang teguh dengan sunnah (at-Tamassuk Bis-Sunnah) atau pengertian menghidupkan sunnah yang ditinggalkan orang (Ihya’ as-Sunnah). Karena tentang perintah untuk berpegang teguh dengan sunnah atau menghidupkan sunnah ada hadits-hadits tersendiri yang menjelaskan tentang itu. Sedangkan hadits riwayat Imam Muslim ini berbicara tentang merintis sesuatu yang baru yang baik yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Karena secara bahasa makna “sanna” tidak lain adalah merintis perkara baru, bukan menghidupkan perkara yang sudah ada atau berpegang teguh dengannya”

Bantahan ;

Yang dimaksud Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً

“Barang siapa yang merintis sunnah hasanah (baik)”.

Adalah mendahului dalam mengamalkan sunnah yang telah valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan membuat atau merekayasa atau berkreasi dalam membuat suatu ibadah yang baru. Hal ini sangat jelas dari beberapa sisi ;

PERTAMA : Kronologi dari hadits tersebut menunjukkan akan hal itu.

Di riwayatkan dari Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, Suatu ketika Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam kedatangan suatu kaum dari Mudlor dengan kondisi yang memprihatinkan, mereka bertelanjang kaki. Maka Rosululloh memerintahkan kepada para sahabat yang ada untuk memberikan bantuan atau sodaqoh. Lalu datanglah seseorang dari kalangan anshor dengan membawa kantung yang tangannya hampir tidak bisa membawanya bahkan tidak mampu, kemudian orang-orang pun mengikuti sehingga aku melihat dua tumpukan besar dari makanan dan pakaian, maka aku melihat wajah Rosulullah berseri-seri bagaikan perak bersepuh emas.

Lalu beliau bersabda ;

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”. (HR Muslim).

Dari kisah di atas jelas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaulah yang memotivasi para sahabat untuk bersedekah. Lalu sahabat anshor lah yang pertama kali bersedekah, lalu diikuti oleh para sahabat yang lain.

Lalu setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً

“Barang siapa yang merintis sunnah hasanah (baik)”.

Dari kronologi ini jelas bahwa yang dimaksud dengan sunnah hasanah adalah sunnah yang valid dari Nabi, dalam kasus ini adalah sedekah yang dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

KEDUA : Secara bahasa bahwa makna dari lafal سَنَّ adalah memulai perbuatan lalu diikuti oleh orang lain, sebagaimana hal ini kita dapati di dalam kamus-kamus bahasa Arab

Al-Azhari rahimahullah (wafat tahun 370 H) dalam kitabnya Tadziib al-Lughoh berkata :

“Setiap orang yang memulai suatu perkara lalu dikerjakan setelahnya oleh orang-orang maka dikatakan dialah yang telah merintisnya” (Tahdziib al-Lughoh, karya al-Azhari, tahqiq Ahmad Abdul Halim, Ad-Daar Al-Mishriyah, 12/306).

Hal ini juga sebagaimana disampaikan oleh Az-Zabidi dalam kitabnya Taajul ‘Aruus min Jawahir al-Qoomuus, 35/234, Ibnul Manzhuur dalam kitabnya Lisaanul ‘Arob 13/220).

Oleh karenanya lafal سَنَّ tidaklah berarti harus berkreasi amalan baru atau berbuat bid’ah yang tidak ada contoh sebelumnya.

Akan tetapi lafal سَنَّ bersifat umum yaitu setiap yang memulai suatu perbuatan lalu diikuti, baik perbuatan tersebut telah ada sebelumnya atau merupakan kreasinya sendiri.

Namun dengan melihat sebab kronologi hadits tersebut maka dipahami bahwa yang dimaksud oleh Nabi dengan سَنَّ adalah yang mendahului melakukan sunnah yang telah diajarkan dan dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu bersedekah.

Karenanya al-Azhari berkata tentang hadits ini : “Dalam hadits “Barang siapa yang “sanna” sunnah yang baik baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya, dan barang siapa yang “sanna” sunnah yang buruk …”, Maksud Nabi adalah barang siapa yang mengamalkannya untuk diikuti”. (Tahdziib al-Lughoh 12/298).

Jadi bukan maknanya menciptakan suatu amalan ! !

Dari sini makna “sanna sunnah hasanah” bisa dibawakan kepada dua makna,

1. Mendahului atau memulai menjalankan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu diikuti oleh orang-orang lain. Bisa jadi sunnah tersebut bukanlah sunnah yang ditinggalkan atau dilupakan atau telah mati, akan tetapi dialah yang pertama kali mengingatkan orang-orang lain dalam mengerjakannya. Sebagaimana dalam kasus hadits Jarir bin Abdillah di atas, sunnah Nabi yang dikerjakan adalah sedekah. Tentunya sunnah ini bukanlah sunnah yang telah mati atau ditinggalkan para sahabat, akan tetapi pada waktu kasus datangnya orang-orang miskin maka sahabat anshori itulah yang pertama kali mengamalkannya sehingga diikuti oleh para sahabat yang lain.

Hal ini didukung dengan hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, ia berkata :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَحَثَّ عَلَيْهِ فَقَالَ رَجُلٌ عِنْدِي كَذَا وَكَذَا، قَالَ فَمَا بَقِيَ فِي الْمَجْلِسِ رَجُلٌ إِلاَّ تَصَدَّقَ عَلَيْهِ بِمَا قَلَّ أَوْ كَثُرَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَنِ اسْتَنَّ خَيْرًا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ كَامِلاً وَمِنْ أُجُوْرِ مَنِ اسْتَنَّ بِهِ وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنِ اسْتَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَاسْتُنَّ بِهِ فَعَلَيْهِ وِزْرُهُ كَامِلاً وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِي اسْتَنَّ بِهِ وَلاَ يُنْقَصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

“Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabipun memotivasi untuk bersedekah kepadanya. Maka ada seseorang yang berkata, “Saya bersedekah ini dan itu”. Maka tidak seorangpun yang ada di majelis kecuali bersedekah terhadap lelaki tersebut baik dengan sedikit maupun banyak. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Barang siapa yang “istanna”/ merintisi kebaikan lalu diikuti maka baginya pahalanya secara sempurna dan juga pahala orang-orang yang mengikutinya serta tidak berkurang pahala mereka sama sekali. Dan barang siapa yang merintis sunnah yang buruk lalu diikuti maka baginya dosanya secara sempurna dan dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sama sekali” (HR Ibnu Maajah no 204).

2. Bisa jadi makna “sanna sunnatan hasanah” kita artikan dengan menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mati atau ditinggalkan. Hal ini jika kita merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Amr bin ‘Auf Al-Muzani

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِل بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيِئًا . وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةً فَعَمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ أَوْزَارُ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِ مَنْ عَمِلَ بِهَا شَيْئًا

“Barang siapa yang menghidupkan sebuah sunnah dari sunnahku lalu dikerjakan atau diikuti oleh manusia maka baginya seperti pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka (yang mengikutinya) sama sekali. Dan barang siapa yang melakukan bid’ah lalu diikuti maka baginya dosa orang-orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa mereka sama sekali” (HR Ibnu Maajah, 209).

Akan tetapi hadits ini masih diperselisihkan tentang keshahihannya.

Kedua makna di atas ini adalah makna yang tepat dan sesuai dengan keumuman hadits “Seluruh bid’ah sesat”, yang tidak sesat hanyalah sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berbeda halnya jika kita mengartikan makna “sanna sunnatan hasanah” dengan makna berbuat bid’ah hasanah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka hal ini tidaklah tepat karena menyelisihi dua hal

1. Bertentangan dengan keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Seluruh bid’ah sesat”

2. Menyelisihi makna yang termaktub dalam kronologi hadits Jarir bin Abdillah, bahwa yang dimaksud dengan sunnah hasanah adalah bersedekah. Dan bersedekah bukanlah bid’ah.

KETIGA : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً

“Barang siapa yang merintis sunnah hasanah (baik)” tidaklah mungkin dibawakan pada makna kreasi amal ibadah yang baru. Karena tidak mungkin diketahui itu baik atau buruk kecuali dari sisi syari’at. Akal tidak punya peran dalam menilai ibadah hasil kreasi baik atau buruk.

Terlebih lagi saudara-saudara kita yang suka berkreasi membuat bid’ah hasanah mengaku bahwa mereka bermadzhab Asyaa’iroh. Padahal diantara madzhab Asyaa’iroh adalah mereka menolak at-Tahsiin wa at-Taqbiih al-‘Aqliyaini, mereka hanya menerima at-Tahsiin wa at-Taqbiih as-Syar’iyaini.

Maksudnya yaitu bahwasanya menurut jumhur Asyaa’iroh bahwasanya suatu perbuatan tidak mungkin diketahui baik atau buruknya, terpuji atau tercela hanya dengan sekedar akal. Akan tetapi kebaikan atau keburukan suatu perbuatan hanyalah diketahui melalui syari’at atau dalil yang datang.

Berikut ini nukilan dari beberapa ulama besar madzhab Asyaairoh tentang hal ini.

Al-Baaqillaani rahimahullah (wafat 403 H) berkata :

“…Akan tetapi akal tidak memandang sesuatu perkarapun baik pada dzatnya yang dikarenakan sifat dan sisi, dan tidak pula memandang baik sesuatupun yang menyeru untuk melakukan perkara tersebut. Akal juga tidak menilai buruk sesuatupun pada dzatnya, dan juga tidak menilai buruk sesuatupun yang menyeru kepada melakukan perkara tersebut. Ini semua merupakan kebatilan, tidak ada asalnya. Yang wajib adalah mensifati perbuatan mukallaf (hamba) bahwasanya ia baik atau buruk hanyalah dengan hukum Allah yang menilainya baik atau buruk” (At-Taqrib wa al-Irsyaad as-Soghiir, karya al-Baaqilaani, tahqiq : DR Abdul Hamid, Muassasah ar-Risaalah, cetakan kedua, 1/279).

Al-Baqillaani juga menjelaskan bahwasanya sholat, haji, dan puasa tidak mungkin diketahui kebaikannya kecuali dari sisi syari’at, adapun akal tidak mungkin secara independent untuk mengetahui kebaikan atau keburukan perbuatan atau amalan seorang hamba.

Bahkan menurut beliau, keadilan, kejujuran, membalas budi, semuanya diketahui kebaikannya dengan dalil syari’at, bukan dengan akal. Sebaliknya zina, minum khomr, homoseksual, semuanya diketahui keburukannya dengan dalil sam’i (Al-Qur’an atau Al-Hadits) dan tidak diketahui dengan sekedar akal. (Lihat At-Taqriib wa al-Irsyaad 1/278-279).

Lihat juga perkata’an al-Baqillani dalam kitab beliau yang lain seperti at-Tamhiid fi ar-Rod ‘ala al-Mulhidah al-Mu’atthilah wa ar-Rofidho wa al-Khowaarij wa al-Qodariyah hal 97 dan 107, dan juga kitab al-Inshoof fi maa yajibu I’tiqooduhu wa laa yajuuzu al-jahlu bihi, tahqiq Al-Kautsari, AL-Maktabah al-Azhariyah, cetakan kedua, hal 46-47).

Abu Hamid Al-Gozali rahimahullah berkata :

“Tidak bisa diketahui baiknya perbuatan-perbuatan (hamba) dan juga keburukannya dengan melalui akal. Akan tetapi hanya bisa diketahui dengan syari’at yang dinukil. Maka sesuatu yang baik di sisi kami adalah apa yang dianggap baik oleh syari’at dimana syari’at memotivasi untuk melakukannya. Dan yang buruk adalah apa yang dinilai buruk oleh syari’at dengan melarangnya dan mencelanya” (Al-Mankhuul min Ta’liqoqt al-Ushuul, Tahqiq : DR Muhammad Hasan, Daarul Fikr, cetakan kedua, hal 8)

Imamul Haromain Al-Juwaini rahimahullah berkata :

لا يدرك بمجرد العقل حسن ولا قبح على مذهب أهل الحق وكيف يتحقق درك الحسن والقبح قبل ورود الشرائع مع ما قدمناه من أنه لا معنى للحسن والقبح سوى ورود الشرائع بالذم والمدح

“Dan tidaklah diketahui kebaikan atau keburukan hanya dengan berdasar akal, (hal ini) menurut madzhab ahlul haq (asya’iroh-pen). Bagaimana bisa diketahui kebaikan dan keburukan sebelum datangnya syari’at ?. Tidak ada makna kebaikan dan keburukan selain datangnya syari’at dengan pencelaan atau pemujian” (At-Talkhiis fi ushuul al-Fiqh, tahqiq : Abdullah julim An-Nebali, Daarul Basyaair al-Islaamiyah, 1/157).

Jika kebaikan tidak mungkin diketahui dengan akal menurut mereka, maka lantas bagaimana mereka bisa menilai bahwa bid’ah hasanah adalah baik ??.

Jangankan perkara ibadah, bahkan perkara mu’amalah menurut asyaa’iroh tidak bisa diketahui baik dan buruknya dengan akal, harus dengan dalil. Maka bagaimana lagi dengan perkara-perkara ibadah yang merupakan hasil kreasi ??

KEEMPAT : Kalau memang makna

مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سنَّةً حَسَنَةً

adalah membuat kreasi ibadah baru yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan kita untuk sering berkreasi membuat ibadah baru (bid’ah hasanah). Semakin banyak berkreasi maka semakin bagus.

Jika perkaranya demikian lantas apa faedahnya anjuran Nabi tatkala terjadi perselisihan dengan barkata ;

“فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي”

“Hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku”

“عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ”

“Gigitlah sunnahku dengan geraham kalian”

Apa faedahnya perkata’an Nabi ini jika ternyata setiap orang boleh berkreasi membuat sunnahnya sendiri-sendiri ? ?

Diambil dari sebagian tulisan Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja & Abu Hudzaefah.

___________________