MANTAN WAKIL KETUA PG NU BERPALING KEPADA MANHAJ SALAF

MANTAN WAKIL KETUA PG NU BERPALING KEPADA MANHAJ SALAF

Sangat terlalu banyak apabila disebutkan satu persatu orang-orang yang tadinya gemar dengan beragam aneka ritual dan amalan-amalan bid’ah kemudian berpaling kepada manhaj Salaf.

Dan sosok yang satu ini salah satunya. Beliau adalah bernama Buchari seorang mantan anggota Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tahun 1965.

Sa’at kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah cabang Serang, dan Wakil Ketua Persatuan Guru NU Kabupaten Lebak 1969-1974.

Jabatan terakhirnya Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama, Serang, Banten (2008-2009).

Perubahan keyakinan Buchari berubah sejak ia dan istrinya berangkat haji pada 2007.

Selama di sana, ia membaca buku-buku karya ulama berpaham Wahabi, antara lain, Kasyfusy Syubuhat fit Tauhid (Menyingkap Kesalah pahaman dalam Tauhid) karya Muhammad bin Abdul Wahhab, Al-Aqidah ash-Shahihah wa Ma Yudladhuha (Aqidah Yang Benar dan Hal-Hal yang Membatalkannya) karya Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, dan Haji, Umrah, dan Ziarah Menurut Kitab dan Sunnah, juga karya Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.

Berdasarkan baca’annya dari buku-buku karya ulama Wahabi ini, Buchari menyatakan, seorang Muslim yang konsisten mengikuti Alquran dan as-Sunnah tidak akan mengikuti upacara peringatan ‘Maulid Nabi, Isra Miraj, dan Nuzulul Quran. Sebab, tradisi ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Ia juga menegaskan peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada 12 Rabiul Awal adalah meniru penganut agama Nasrani dalam merayakan Hari Natal (Hari Lahirnya Yesus Kristus) setiap 25 Desember

(Buku Mustasyar MWC NU Menggugat Maulid Nabi karya Buchari, hal 117 dan 211).

http://m.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/15/01/28/nivmw6-raja-abdullah-dan-wahabi

_________________

SUKSESNYA SEBUAH DAKWAH BUKAN DI UKUR DENGAN BANYAKNYA PENGIKUT

SUKSESNYA SEBUAH DAKWAH BUKAN DI UKUR DENGAN BANYAKNYA PENGIKUT

Apabila suksesnya sebuah dakwah dinilai dengan banyaknya jumlah manusia yang bisa menerimanya. Maka bisa diartikan para Nabi gagal dalam menyampaikan risalahnya. Bukankah yang mengikuti seruan para Rasul lebih sedikit dibanding yang menolaknya ?. Bahkan ada Nabi yang sama sekali tidak memiliki pengikut.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadis. “Tatkala Nabi diisra’kan Nabi melewati beberapa Nabi yang bersama mereka pengikut yang banyak, beberapa Nabi lainnya sedikit jumlah pengikutnya dan beberapa nabi lagi tidak mempunyai satu orang pengikut pun”. (Imam Tirmidzi ).

Nilai pahala dari sebuah usaha dakwah, dilihat bukan dari jumlah manusia yang bisa dijaring untuk mendengarkan seruannya. Akan tetapi dari kesungguhan dan kesabaran menghadapi berbagai ujian yang dihadapinya.

الأَجْرُ يَقَعُ بِمُجَرَّدِ الدَّعْوَةِ وَلَا يُتَوَقَّفُ عَلَى الاِسْتِجَابَةِ

“Pahala didapat karena melaksanakan dakwah, bukan tergantung kepada penerima’annya”

Nabi Nuh ‘alaihissalam yang mendakwahi kaumnya siang dan malam hingga memakan waktu beratus-ratus tahun lamanya, akan tetapi yang mengikuti seruannya hanyalah sedikit sekali. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an,

– Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلا خَمْسِينَ عَامًا

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun . .” (QS. Al Ankabut: 14).

– Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلا قَلِيلٌ

”. . Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit”. (QS. Huud: 40).

Kalaulah kesuksesan dakwah diukur dari jumlah orang yang mengikuti seruannya, maka bisa dikatakan Nabi Nuh telah gagal mengemban misinya, namun pada hakekatnya tidaklah demikian, karena para Nabi dan Rasul merupakan hamba pilihan yang mendapatkan tempat mulia di sisi Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itulah Allah Ta’ala memotivasi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam agar berdakwah secara optimal, tidak menakar kesuksesannya melalui jumlah yang didapat. Allah tegaskan bahwa kewajiban utusan Allah hanyalah menyampaikan risalah, tidak lebih dari itu.

Allah Ta’ala berfirman :

فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ

”Maka tidak ada kewajiban atas para Rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. An-nahl : 35).

• Hidayah milik Allah Ta’ala

Perkara hidayah, sesungguhnya itu semua adalah urusan Allah Ta’ala untuk memberikannya.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56).

Maka barangsiapa yang memahami kaidah ini, seorang da’i akan berdakwah tanpa beban, tidak kecewa karena sedikitnya orang yang bisa menerimanya, walaupun siang malam dia menyeru manusia.

Allah tidak mewajibkan untuk menjadikan manusia mendapatkan petunjuk, karena hidayah milik Allah yang akan diberikan kepada siapa yang dikehendakinya.

Allah Ta’ala berfirman :

لَّيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَن يَشَآءُ

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya”. (Al-Baqarah: 272).

Oleh karena itulah tidak sepantasnya seorang da’i mengeluh, gundah gulana karena kenyata’an melihat manusia hanya sedikit yang bisa menerima seruannya.

Allah Ta’ala berfirman :

فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ

“Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.” (QS. Faathir: 8).

Tidak layak seorang da’i menimbang-nimbang dakwahnya antara terus berdakwah atau menghentikannya, karena melihat sedikitnya respon dari manusia.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________

LEBIH BAIK BANYAK MENDENGAR DARIPADA BANYAK BICARA

LEBIH BAIK BANYAK MENDENGAR DARIPADA BANYAK BICARA

Allah Subhaanahu wa Ta’ala menciptakan manusia satu mulut, sedangkan mata dan telinga masing-masing dua. Orang bijak mengatakan, supaya kita lebih banyak melihat dan mendengar dibanding banyak berbicara.

Pepatah mengatakan, ”Diam itu adalah emas”. Diam yang dimaksud disini adalah ;

– Tidak bicara yang dusta
– Tidak bicara yang tidak bermanfa’at
– Tidak bicara karena tidak diperlukan
– Tidak bicara yang mengandung fitnah
– Tidak bicara yang hanya akan merendahkan kehormatan diri
– Tidak bicara yang sekiranya akan menyakiti orang lain.

Akan tetapi apabila bicara itu diperlukan untuk kebaikan, maka itu harus dilakukan walaupun bisa dibenci orang lain.

Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ; “Katakan yang benar walaupun pahit dan janganlah kamu gentar terhadap cerca’an orang yang mencerca”. (HR. al-Baihaqi).

Sungguh besar faedah dan akibatnya bagi orang yang bisa menahan sahwat lisannya, tidak selalu mengumbarnya. Karena setiap perkata’an yang diucapannya malaikat selalu mencatatnya.

Allah Ta’ala berfirman :

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [Qaf -18].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya (lisan) dan dua kakinya (kemaluan), maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga”. (Shahih Al-Bukhari no. 6474).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkata’an yang tidak dipikirkan dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat”. (Shahih Bukhori, no. 6477).

Betapa buruk akibat dari lisan yang tidak di jaga. Bukan saja merendahkan dirinya tapi juga mengundang murka Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Namun sungguh disayangkan, banyak orang yang tidak bisa tahan menjaga napsu bicaranya, padahal dengan banyaknya dia bicara malah bisa jadi menghilangkan kehormatannya, karena dari ucapan-ucapannya orang lain jadi bisa menakar dan menilai kwalitas dirinya.

Bukankah ada yang mengatakan ;

”KATA-KATAMU ADALAH KWALITAS DIRIMU”.

Menjaga kehormatan diri menunjukkan seseorang memiliki akhlak yang baik, menunjukkan lahir dan tumbuh berkembang dilingkungan keluarga yang baik. Namun sebaliknya seorang yang memiliki akhlak yang rendah umumnya mempunyai latar belakang masa kecil yang suram, masa kecil yang tidak tumbuh emosinya secara optimal. Dan tidak mendapatkan pendidikan yang baik dari orang tua.

• Lebih baik banyak mendengar daripada banyak bicara

Banyak mendengar dan menyimak akan menjadikan manusia nampak lebih terhormat dan berwibawa, seorang pribadi yang bijaksana lebih suka mendengarkan daripada pada banyak bicara (yang tidak berguna). Seorang yang terhormat dan bermartabat dia tahu benar kapan dia harus bicara.

Mendengarkan dapat membantu kita menjadi tenang dan konsentrasi. Betapa pentingnya diam untuk mempelajari sesuatu. Ketika kita bicara, sulit untuk mempelajari lebih banyak hal daripada apa yang telah kita ketahui.

Tapi ketika diam mendengarkan apa yang dikatakan orang lain, maka kita dapat mulai mengerti segala sesuatu dari sudut pandang orang lain, dan kita dapat mempunyai akses terhadap apa yang menurut pendapatnya tidak kita ketahui.

• Mendengarkan bisa mendatangkan hidayah

Anugerah yang paling besar bagi orang yang berusaha untuk mendengarkan adalah bisa menjadikan datangnya hidayah kepada dirinya.

Allah Ta’ala berfirman :

فَبَشِّرۡ عِبَادِ ۙ ﴿۱۷

الَّذِيۡنَ يَسۡتَمِعُوۡنَ الۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُوۡنَ اَحۡسَنَهٗ‌ ؕ اُولٰٓٮِٕكَ الَّذِيۡنَ هَدٰٮهُمُ اللّٰهُ‌ وَاُولٰٓٮِٕكَ هُمۡ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿۱۸

”. . Sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku”,

”Yaitu bagi orang yang mendengarkan perkata’an lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”. (Az-Zumar Ayat : 17 – 18).

Orang yang berusaha untuk mendengarkan dan berusaha untuk menyimak keterangan dari orang yang datang kepadanya, kemudian dia mengambilnya apabila keterangan yang disampaikannya itu berasal dari Allah dan Rasulnya, maka Allah menjaminnya memberinya hidayah. Dan Allah Ta’ala mengatakan orang demikian sebagai orang yang berakal.

Tapi kebanyakan manusia, ketika mendapatkan keterangan yang berbeda dari yang difahaminya selama ini, ada perasa’an tidak senang, kemudian mencari celah untuk bisa membantah dan mengolok-oloknya. Bukan bertanya dari mas’alah yang dia tidak fahami malah mencibir dengan kata-kata buruk hina dan kasar.

– Sahabat Mu’adz bertanya :

يَا نَبِّيَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَا خَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ

“Wahai Nabi Allah, apakah kita kelak akan dihisab atas apa yang kita katakan ?”

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَ مَنَا خِرِهِِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“Bukankah tidak ada yang menjerumuskan orang ke dalam neraka selain buah lisannya”.

– Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”. (Shahih Muslim no. 74).

– Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَشْرَةَ السُّؤَالِ

“Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa dasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah)”.

Mudah-mudahan kita bisa menjaga lisan dari ucapan-ucapan yang tidak berguna.

Wassalam

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

_____

Zakat fitrah dengan beras berarti bid’ah ?

ZAKAT FITRAH DENGAN BERAS BERARTI BID’AH ?

Zakat fitrah dengan beras berarti bid’ah, karena tidak di lakukan Rosululloh ?

Tanggapan :

Zakat fitrah dengan beras bukan bidah, walaupun tidak di lakukan oleh Rosululloh,

Dalam hadits disebutkan zakat fitrah dengan kurma, gandum, anggur atau keju, semua itu adalah makanan pokok, di tiap-tiap negri yang berbeda.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Dahulu kami mengeluarkan zakat fithri di masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada hari Idul Fithri dengan satu sho’ makanan.” Abu Sa’id berkata, Dahulu yang menjadi makanan kami adalah gandum, anggur, keju dan kurma.” (HR. Bukhari no. 1510).

Empat makanan yang disebutkan di atas bukanlah batasan. Makanan tersebut menjadi makanan orang banyak di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kata “makanan” maksudnya adalah makanan pokok penduduk suatu negeri, bisa berupa gandum, jagung, beras, atau lainnya.

Setiap yang menjadi makanan pokok di tiap-tiap negri, bisa digunakan untuk zakat fitrah, seperti di negeri kita dengan beras.

Yang mendukung pendapat ini adalah riwayat Abu Sa’id yang lain, beliau mengatakan : “Kami mengeluarkan (zakat fitrah) berupa makanan di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari ‘Idul Fitri.” Beliau mengatakan lagi, “dan makanan kami pada saat itu adalah gandum, kismis, susu kering, kurma.” (HR. Bukhari).

Inilah pendapat yang kuat yang dipilih jumhur (mayoritas) ulama. Di antaranya pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Mundzir, Ibnul Qayyim, Ibnu Bazz, dan lainnya.

Zakat fitrah bertujuan untuk memberikan makan bagi fakir dan miskin. Sehingga seandainya diberi sesuatu yang bukan dari makanan pokoknya, maka tujuan itu menjadi tidak tepat.

Jadi zakat fitrah dengan beras, bukanlah perkara yang di buat-buat dalam agama.

Kita mengeluarkan zakat fitrah dengan beras, karena beras sebagai makanan pokok di negri kita.

Wassalam

Agus Santosa Somantri

————————

Pesawat berarti bid’ah ?

PESAWAT TERBANG BERARTI BID’AH ?

Kadang-kadang ada orang yang karena tidak fahamnya arti bid’ah, dia mengatakan, pesawat terbang berarti bidah ? Karena tidak ada di zaman Nabi.

Orang yang tidak faham suatu masalah, memang suka asal bicara.

Orang yang pergi haji naik pesawat terbang, apakah ada dalam benaknya jika ibadah hajinya jadi lebih mabrur ?

Atau dia meyakini kalau kendara’an yang dia tumpanginya memberikan nilai tambah terhadap ibadah hajinya ?

Pesawat terbang yang orang gunakan untuk pergi ibadah haji, hanya sebagai sarana transfortasi.

Kalau dahulu kaum muslimin berangkat haji dengan mengendarai unta, kemudian terus berkembang hingga kira-kira di awal abad 20 mulai digunakan kendara’an bermotor dan kapal laut, maka sa’at ini mereka menggunakan pesawat terbang. Entah kendara’an apa yang akan di gunakan seabad kemudian ?

Pesawat terbang yang orang gunakan untuk pergi ibadah haji, bukanlah tujuan utama dari ibadah haji.

Orang yang menggunakan pesawat terbang untuk pergi ibadah haji, tidak menjadikannya jika pesawat terbang sebagai syarat dalam ibadah haji.

Pesawat terbang bisa di ganti atau bahkan tidak di gunakan apabila ada sarana transfortasi yang lebih baik.

Berbeda dengan syarat-syarat dan rukun-rukun dalam ibadah haji, tidak boleh ada yang di rubah, di tambah atau di kurangi, terlebih lagi di hilangkan.

Jadi jelas, pesawat terbang yang orang gunakan untuk pergi ibadah haji, hanyalah sarana transfortasi belaka. sama halnya dengan orang yang berangkat shalat jum’at naik becak, motor, mobil atau kendara’an lainnya.

Pesawat terbang, adalah termasuk kedalam perkara duniawi, yang kaidahnya :

الاصل في العاده حلال حتي يقوم الدليل علي النهي

Artinya :

“Asalnya urusan duniawi halal (boleh) kecuali ada dalil yng melarangnya”.

————————

JAUHI BID’AH WALAUPUN KECIL

JAUHILAH BI’DAH WALAUPUN KECIL

Imam Abu Muhammad Al Barbahaari menulis untaian kata dalam kitab beliau yang bernama Syarhus Sunnah :

“Hindarilah oleh kalian hal-hal yang bid’ah itu betapa pun kecilnya, sebab bid’ah yang kecil itu secara terus-menerus akan menjadi besar. Demikian pula setiap bid’ah yang di munculkan ditengah-tengah ummat, awalnya adalah kecil, lalu di anggap oleh orang bahwa itu kebaikan dan kebenaran, Sehingga orang itu tertipu seolah-olah itu kebenaran, kemudian ia tidak bisa keluar dari hal tersebut, sehingga semakin besar bid’ah itu. Akhirnya akan dianggap sebagai dien (syari’at) yang diyakini, lalu menyelisihi jalan yang lurus”.

https://agussantosa39.wordpress.com/category/bidah/jangan-sepelekan-bidah/

————————

Lebih baik bodoh di atas sunnah daripada pintar tapi bid’ah

LEBIH BAIK BODOH DI ATAS SUNNAH DARIPADA PINTAR DIATAS BID’AH

Al-Imam al-Qasim bin Muhammad rahimahullah berkata : “Seseorang hidup dalam keadaan jahil / bodoh, itu lebih baik daripada dia berkata atas nama agama Allah tanpa ilmu” (Thabaqat al-Hanabilah 1/70)

قال العلامة ربيع بن هادي حفظه الله : الجهل : أفضل من أخذ العلم عن أهل البدع
[ المجموع ١/٣٠١ ]

Berkata Al ‘Allamah Robi’ bin Hadiy hafizhohulloh : “Kejahilan (kebodohan) Lebih utama daripada mengambil ilmu dari ahlul bida’.” (Al Majmu’ 1/301)

Berkata As-Syaikh Hani’ bin Buraik hafidzahullah ; “Lebih baik engkau menjadi orang yang jahil (bodoh) tetapi di atas As-Sunnah, daripada engkau menjadi penuntut ilmu namun mubtadi’/ pelaku bid’ah !”

_____________________

Pengikut Nabi Isa Membuat Bid’ah Hasanah ?

PENGIKUT NABI ISA BERBUAT BID’AH ?

Allah berfirman : “Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkan nya kepada mereka tetapi utk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemelihara’an yang semestinya.” (Al-Hadid ayat 27)

Ayat 27 Surat Al-Hadid inilah di antara yng di jadikan hujjah oleh para pecintah bid’ah untuk membenarkan amalan-amalan bida’hnya.

Mereka berkata, bahwa bid’ah tidaklah selamanya tercela buktinya umat Nabi Isa juga berbuat bid’ah dan Allah tidak mencelanya.

Bantahan :

Ayat ini bercerita tentang kisah umat sebelum kita (Nashara). Apa yng di lakukan mereka tentu saja bukanlah harus menjadi syari’at buat kita, apabila bertentangan dgn dalil-dalil yang datang dlm syari’at agama kita. Karena sangat banyak dalil-dalil akan larangan dan ancaman berbuat bid’ah dlm agama kita, bahwa semua bentuk bid’ah adalah tertolak.

Kita juga mengetahui syari’at umat-umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah sama dengan syari’at yng di bawa oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contohnya ;

– Umat Nabi Isa menghadap Baitul Maqdis ketika shalat, sementara kita menghadap Ka’bah di Mekkah.

– Umat Nabi Musa harus menggunting kain yang terkena najis sedangkan kita cukup hanya mencucinya.

– Umat Nabi Musa harus melakukan bunuh diri apabila bertobat, lihat (QS Al-Baqarah: 54). tetapi kita cukup hanya memohon ampun Kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Jadi apabila ayat ini di jadikan alasan untuk menunjukan bolehnya kita berbuat bid’ah karena umat Nabi Isa berbuat bidah, tentu saja keliru. Karena apa yng mereka lakukan bertentangan dengan syariat yng di bawa oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi yng di utus untuk kita.

Kita mau ikut siapa ?, mengikuti mereka pengikut Nabi Isa yang berbuat bid’ah ? atau mengikuti Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yng melarang berbuat bid’ah ?

Berikut larangan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perbuatan bidah.

قال رسول الله ص م اما بعد فأن خيرالحديث كتاب الله وخيرالهدي هدي محمد ص م وشرالامورمحدثة وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Amma ba’du, Sesungguhnya sebaik-baik perkata’an adalah Kitabullah dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek jelek perkara adalah yang diada adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867).

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan :

كل ضلالة في النار

“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i no.1578.)

Wasallam

Agus Santosa Somantri

_______________

Apa saja yang dipandang baik menurut kaum muslimin maka baik pula menurut pandangan Alloh

Pemahaman mereka terhadap atsar:

ما رءاه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن

“Apa saja yang dipandang baik menurut kaum muslimin, maka baik pula menurut pandangan Alloh”

BANTAHAN:

Pertama: Bahwasanya tidak benar kalau atsar tersebut marfu’ sampai kepada Nabi صلى الله عليه و سلم, itu hanyalah perkataan Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه yang mauquf dari Ibnu Mas’ud saja.

Ibnul Qayyim berkata: “Sesungguhnya atsar ini bukanlah dari sabda Rasulullah صلى الله عليه و سلم, hanya orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan tentang ilmu hadits sajalah yang menyandarkan perkataan tersebut kepada beliau صلى الله عليه و سلم. Atsar itu hanya merupakan perkataan Ibnu Mas’ud” [Al Furuusiyyah, oleh Ibnul Qayyim, hal. 167]

Berkata Ibnu ‘Abdil Hadiy: “Perkataan tersebut diriwayatkan secara marfu’ dari Anas dengan sanad yang sangat lemah sakali, dan yang benar adalah bahwa atsar tersebut hanya mauquf sampai pada Ibnu Mas’ud.” [Kasyful Khafaa’ oleh Al ‘Ajaluuny, (2/245)]

Az Zaila’iy berkata: “Atsar tersebut gharib marfu’, dan saya belum mendapatkan jalur riwayat kecuali secara mauquf dari Ibnu Mas’ud”. [Nashbur Raayah, (4/133)]

Berkata Al Albaniy: “Ia tidak punya dasar riwayat secara marfu’, riwayat itu hanyalah mauquf kepada Ibnu Mas’ud”. [As Silsilah Adh Dha’iifah, no. 533 (2/17)]

Saya katakan: Dan sebelum ini telah diperingatkan bahwa tidak boleh sabda Rasulullah صلى الله عليه و سلم dikonfrontasikan dengan perkataan seorang manusiapun, siapapun orangnya.

Kedua: Bahwasanay huruf “ال” pada perkataan “المسلمون” berfungsi sebagai Al ‘Ahd (yang harus dikembalikan kepada sosok yang jelas), dan dalam hal ini kembali kepada para Shahabat sendiri, merekalah yang dimaksud oleh atsar tersebut sebagai “المسلمون” (kaum muslimin), sebagaimana yang bisa difahami dari alur kalimat atsar tersebut, yang berbunyi:

إن الله نظر في قلوب العباد فوجد قلب محمد صلى الله عليه وسلم خير قلوب العباد فاصطفاه لنفسه فابتعثه برسالته ثم نظر في قلوب العباد بعد قلب محمد فوجد قلوب أصحابه خير قلوب العباد فجعلهم وزراء نبيه يقاتلون على دينه فما رأى المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رأوا سيئا فهو عند الله سيءإن الله نظر في قلوب العباد فوجد قلب محمد صلى الله عليه وسلم خير قلوب العباد فاصطفاه لنفسه فابتعثه برسالته ثم نظر في قلوب العباد بعد قلب محمد فوجد قلوب أصحابه خير قلوب العباد فجعلهم وزراء نبيه يقاتلون على دينه فما رأى المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رأوا سيئا فهو عند الله سيء

“Sesungguhnya Alloh memandang hati para hambaNya lalu Dia dapati hati Muhammad صلى الله عليه و سلم sebagai hati yang terbaik dari para hambaNya lalu beliau dipilihNya dan diutuslah beliau sebagai RasulNya. Kemudian Alloh melihat hati hamba-hambaNya setelah hati Muhammad صلى الله عليه و سلم lalu Alloh dapati hati para Shahabat sebagai hati yang terbaik, maka mereka dijadikan sebagai menteri-menteri NabiNya. Mereka berperang dan berjuang diatas agamaNya. Maka apa saja yang dipandang baik menurut kaum muslimin (para shahabat tersebut) maka baik pula menurut Alloh, dan apa saja yang buruk menurut mereka maka buruk pula menurut Alloh”

Dalam riwayat lain ada tambahan:

و قد رءاى الصحابة جميعا أن يستخلفوا أبا بكر

“Dan seluruh Shahabat telah bersatu pendapat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai Khalifah”.

Dengan demikian maka jelaslah bahwa yang dimaksud dengan “kaum muslimin” dalam atsar tersebut adalah para shahabat.

Dan diantara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah bahwa para imam pengarang kitab-kitab hadits memuat hadits (atsar tersebut) pada “Kitabus Shahabah”, sebagaimana yang dilakukan oleh  Al Hakim dalam kitab beliau “Al Mustadrak”. [Al Mustadrak (3/78)]. Beliau telah memuat atsar tersebut dalam kitab “Ma’rifatus Shahaabah”, dan beliau tidak mencantumkan redaksi awalnya akan tetapi beliau memulai dari potongan atsar yang artinya : “Maka apa saja yang dipandang baik… dst.”

Ini menunjukkan bahwasanya Abu Adillah Al Hakim رحمه الله memahami bahwa yang dimaksud dengan “kaum muslimin” pada atsar tersebut adalah para shahabat.

Kalau memang demikian, maka telah diketahui secara pasti bahwa para shahabat seluruhnya telah bersepakat mencela dan memandang buruk setiap “bid’ah”. Dan tidak pernah diriwayatkan dari salah seorangpun dari mereka yang menganggap baik salah satu dari bid’ah tersebut.

Ketiga: Berdasarkan perkataan bahwa huruf ال disini bukan Alif Lam al’ahd yakni kembali kepada sosok tertentu, akan berfungsi sebagai ‘istighraq’, yakni meliputi keseluruhan kaum muslimin, maka yang dimaksudkan adalah ijma’ (para ulama), dan ijma’ itu adalah hujjah.

Al ‘Izz bin Abdus Salam berkata: ‘Jika hadits tersebut shahih, maka yang dimaksudkan dengan kata “المسلمون” tersebut adalah ahlul ijma’. Wallohu a’lam. [Fatawa Al ‘izz bin Abdis Salaam, hal. 42 no. 39]

Disini kami ajukan pertanyaan kepada orang yang berdalil dengan atsar tersebut bahwa ada yang dinamakan “bid’ah hasanah”: “Apakah anda dapat mendatangkan suatu bid’ah yang disepakati oleh kaum muslimin bahwa ia adalah bid’ah hasanah?”

Itu merupakan kemustahilan tanpa diragukan lagi, sebab tidak ada satupun bid’ah yang telah disepakati oleh kaum muslimin bahwa ia adalah bid’ah hasanah, bahkan ijma’ kaum muslimin pada generasi awal menegaskan bahwa setiap bid’ah itu adalah sesat, pendapat itu masih tetap demikian hingga saat ini. Walhamdu lillah.

Keempat: Bagaimana mereka berdalil dengan perkataan shahabat yang mulia ini tentang adanya suatu bid’ah hasanah padahal beliau adalah salah seorang diantara para shahabat yang paling tegas melarang dan memperingatkan tentang bid’ah.

Pada pembahasan sebelumnya telah kami nukilkan dari beliau ucapan beliau yang berbunyi:

إتبعوا و لا تبتدعوا فقد كفيتم و كل بدعة ضلالة

Ber-ittiba’lah kamu kepada Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم dan janganlah kamu ber-ibtida’ (mengada-ada tanpa dalil), sesungguhnya kamu telah dicukupi dengan ittiba’ itu, dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan. [Dikeluarkan oleh Ibnu Biththah dalam al Ibaanah, no. 175 (1/327-328) dan al Laalikaa’i, no. 104 (1/86).]

Dan perkataan beliau tentang larangan terhadap bid’ah sangat banyak sekali.

[Disalin dari buku “Mengapa Anda Menolak Bid’ah Hasanah?” penerbit Pustaka At-Tibyan]

Membantah ahli bid’ah bukan berarti ghibah

Oleh Ustadz Abdurrahman Thayyib, Lc. hafizhahullahu ta’ala

Sering kita mendengar celotehan sebagian orang jika dia menyaksikan seseorang membantah/menyingkap kesesatan kelompok-kelompok/dai-dai yang menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah serta manhaj salaf (ahli sunnah wal jama’ah), dia mengatakan (entah dimimbar-mimbar jum’at atau dimajlis-majlisnya) : “Jagalah lisanmu, janganlah engkau mengghibah (ngrasani) saudaramu sendiri sesama muslim, bukankah Allah berfirman : ‘Janganlah sebagian kamu menghibah (menggunjing) sebagian yang lain sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?’”. (QS. Al-Hujurat : 12).

Apakah benar celotehan mereka ini??? Mari kita simak bersama sebagian ucapan-ucapan emas para ulama ahlus sunnah dalam masalah ini. Selamat menikmati -semoga Allah menampakkan yang benar itu benar dan memberi kita kekuatan untuk mengikutinya dan semoga Allah menampakkan yang batil itu batil serta memberi kita kekuatan untuk menjauhinya- :

1. Imam Nawawi –rahimahullah- (salah seorang ulama madzhab Syafi’i yang meninggal tahun 676 H) mengatakan dalam kitabnya “Riyadhus Shalihin” bab “penjelasan ghibah yang dibolehkan” :
“Ketahuilah bahwa ghibah dibolehkan untuk tujuan yang benar dan disyariatkan, yang tidak mungkin tujuan itu tercapai kecuali dengan ghibah tersebut. Hal ini ada dalam enam perkara :

a. Mengajukan kedzaliman orang lain. Dibolehkan bagi orang yang didzalimi untuk mengajukan yang mendzaliminya kepada penguasa atau hakim dan selain keduanya dari orang-orang yang memiliki kekuasaan atau kemampuan untuk mengadili sidzalim itu. Orang yang didzalimi itu boleh mengatakan si fulan itu telah mendzalimi/menganiaya diriku.

b. Meminta pertolongan untuk merubah kemungkaran dan mengembalikan orang yang berbuat dosa kepada kebenaran. Seseorang boleh mengatakan kepada yang memiliki kekuatan yang ia harapkan bisa merubah kemungkaran: si fulan itu berbuat kejahatan ini dan itu, maka nasehati dia dan larang dia berbuat jahat. Maksud ghibah disini adalah merubah kemungkaran/kejahatan, jika tidak bermaksud seperti ini maka ghibah tersebut haram.

c. Meminta fatwa. Orang itu mengatakan kepada sang pemberi fatwa : ayahku atau saudaraku atau suamiku telah mendzalimi diriku, apakah hal ini boleh? Bagaimana jalan keluarnya?. Ghibah seperti ini boleh karena suatu kebutuhan/tujuan (yang syar’i-pent). Tapi yang lebih utama tidak disebutkan (personnya/namanya) semisal: Bagaimana pendapat Syaikh tentang seorang suami atau ayah yang begini dan begitu? Hal ini juga bisa dilakukan dan dapat mencapai tujuan yang diinginkan meskipun tanpa menyebut nama/personnya. Tapi menyebutkan nama/personnya dalam hal ini hukumnya boleh seperti yang akan disebutkan dalam hadits Hindun -insya Allah-

d. Memperingatkan kaum Muslimin dari bahaya kesesatan (seseorang/kelompok-pent) dan sekaligus dalam rangka saling menasehati. Yang demikian itu mencakup beberapa hal :

– Mencela para perawi-perawi (hadits) atau para saksi yang tidak memenuhi syarat. Hal ini dibolehkan secara ijma’ kaum muslimin bahkan bisa jadi hal tersebut wajib hukumnya.

– Meminta pendapat/musyawarah orang lain dalam hal menikahi seseorang atau bergaul dengannya atau meninggalkannya atau dalam hal bermuamalah dengannya. Maka wajib bagi yang diajak bermusyawarah untuk tidak menyembunyikan sesuatu apapun tentang keadaan orang tersebut bahkan dia harus menyebutkan semua kejelekannya dengan niat saling menasehati.

– Apabila seseorang melihat penuntut ilmu sering berkunjung kepada ahli bid’ah (dai penyesat-pent) atau fasik untuk mengambil ilmu darinya dan dia khawatir si penuntut ilmu itu akan terkena racun kesesatan orang tersebut maka wajib baginya untuk menasehati si penuntut ilmu dengan menjelaskan hakekat (kesesatan) sang guru/dai penyesat itu dengan syarat tujuannya untuk menasehati. Dalam hal ini ada sebagian orang yang salah mempraktekkannya, dia tujuannya bukan untuk menasehati tapi karena hasad/dengki dengan orang yang ditahdzir (dighibahi itu), yang telah dihiasi oleh syaitan seolah-olah dia menasehati tapi hakekatnya dia hasad dan dengki.

– Seseorang yang memiliki tanggung jawab/tugas tapi dia tidak menjalankannya dengan baik atau dia itu fasik dan lalai. Maka boleh bagi yang mengetahuinya untuk menyebutkan keadaan orang tersebut kepada atasannya agar memecatnya dan menggantinya dengan yang lebih baik atau agar hanya diketahui keadaannya saja lalu diambil tindakan hingga atasannya tidak tertipu dengannya atau agar atasannya tersebut menasehatinya kepada kebaikan

e. Menyebutkan aib orang yang menampakkan kefasikan dan bid’ahnya seperti orang yang bangga meminum khomer, menganiaya orang lain, merampas harta dan melakukan hal-hal yang batil. Boleh bagi orang yang mengetahui keadaan orang diatas untuk menyebutkan aib-aibnya (agar orang lain berhati-hati darinya-pent)

f. Mengenalkan orang lain dengan menyebut gelar (laqob) nya yang sudah terkenal, misalnya Al-A’masy (yang cacat matanya), Al-A’raj (yang pincang), Al-Ashom (yang tuli) dan selainnya. Boleh mengenalkan dengan julukan-julukan diatas tapi tidak untuk mencela/mengejeknya dan seandainya mengenalkan tanpa menyebutkan julukan-julukan tersebut ini lebih baik.

Inilah keenam perkara yang disebutkan oleh para ulama (dalam membolehkan ghibah-pent) kebanyakannya telah disepakati dan dalil-dalil keenam perkara tersebut ada dalam hadits-hadits shohih yang sudah masyhur/terkenal, diantaranya :

– Dari Aisyah –radhiallohu anha- beliau berkata :
“Bahwa ada seorang yang meminta ijin untuk (menemui) Nabi –shollallahu alaihi wa sallam-, maka beliau mengatakan : Ijinkanlah dia, dia adalah sejelek-jeleknya kerabat”. (HR. Bukhari 6054 dan Muslim 2591).
Imam Bukhari berdalil dengan hadits ini dalam membolehkan ghibah terhadap para perusak (penyesat)

– Dan dari beliau juga –radhiallohu anha- bahwa Rasulullah –shollallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda :
“Aku kira fulan dan fulan itu tidak mengetahui sesuatupun dari agama kita” (HR. Bukhari 6067). Laits bin Sa’ad (salah seorang perawi hadits ini) mengatakan : dua orang tersebut termasuk orang-orang munafik.

– Dari Fatimah binti Qois –radhiallohu anha- dia berkata :
“Aku pernah mendatangi Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- lalu aku berkata : Sesungguhnya Abu Jahm dan Mu’awiyah telah melamarku? Maka Rasulullah –shollallahu alaihi wa sallam- mengatakan : “Adapun Mu’awiyah dia itu miskin tidak punya harta dan adapun Abu Jahm maka dia itu tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya.” (HR. Muslim 1480).

Didalam riwayat Muslim yang lain disebutkan: “Adapun Abu Jahm maka dia sering memukul perempuan” ini adalah penjelasan atas ucapan beliau (dia itu tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya). Ada juga yang menjelaskan bahwa maksudnya adalah sering berpergian jauh/safar.

– Dari Aisyah –radhiallohu anha- beliau berkata :
Hindun (istri Abu Sufyan) berkata kepada Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- : Sesungguhnya Abu Sufyan seorang lelaki yang bakhil dia tidak memberiku dan anak-anakku nafkah yang cukup melainkan jika aku mengambil uangnya tanpa sepengetahuannya? Maka beliau bersabda : “Ambillah apa yang mencukupimu dan anak-anakmu dengan cara yang baik” (HR. Bukhari 5359 dan Muslim 1714)

2. Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin -Rahimahullah- mengatakan dalam Syarah Riyadhus Shalihin 4/99-101 ketika menjelaskan ucapan Imam Nawawi diatas :
“Imam Nawawi –rahimahullah- menyebutkan dalam bab ini hal-hal yang dibolehkan ghibah didalamnya yaitu ada enam perkara. Ucapan beliau ini sangat baik sekali, semuanya benar dan baik” kemudian beliau menjelaskan hadits pertama yang dibawakan oleh Imam Nawawi –rahimahullah- : Sabda Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- : (ijinkanlah dia, dia itu sejelek-jeleknya kerabat) orang tersebut memang perusak dan penyesat. Maka hal ini menjelaskan bolehnya mengghibah para penyesat umat agar manusia lari dari kesesatannya dan agar mereka tidak tertipu. Jika anda mengetahui ada seseorang yang sesat (dan menyesatkan) tapi dia memiliki keistimewaan gaya bahasa dan retorika dalam menyampaikan (ceramah) serta menarik manusia hingga mereka tidak sadar sudah terjerumus kedalam jaring-jaring kesesatan maka wajib bagimu untuk menjelaskan hakekat orang yang sesat tersebut dan sebutkan kejelekannya (saja) agar manusia tidak tertipu dengannya. Berapa banyak para dai-dai/penceramah-penceramah yang sangat indah dan fasih bahasanya, jika anda melihatnya anda akan terpesona dan jika dia berbicara anda akan dengan seksama mendengarkannya akan tetapi dia itu hakekatnya (penyesat umat). Maka yang wajib adalah menyingkap hakekat dan kedoknya.”

3. Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah yang terkenal dengan sebutan Ibnu Abi Zamanain rahimahullah (meninggal tahun 399 H) berkata :

“Senantiasa ahlus sunnah mencela ahlul ahwa/bid’ah yang menyesatkan (umat), mereka melarang bermajlis dengan ahli bid’ah, mengkhawatirkan fitnah mereka serta menjelaskan akibat buruk mereka. Dan ahlussunnah tidak menganggap hal tersebut sebagai suatu ghibah.” (Ushulus Sunnah oleh Ibnu Abi Zamanain hal. 293)
Sungguh ahlus sunnah telah sepakat sejak dahulu hingga sekarang dalam menyikapi ahli bid’ah (para penyesat umat-pent). Yang demikian itu dengan mencela dan memperingatkan umat akan bahaya mereka serta memboikot dan melarang bermajlis dengan mereka dalam rangka membendung bahaya dan fitnah para ahli bid’ah tersebut.
Ahlu sunnah menganggap bahwa menyingkap kedok mereka bukanlah ghibah yang haram. Para ulama telah mengecualikan 6 perkara dari ghibah yang diharamkan, seperti yang dikatakan dalam bait-bait ini:

Mencela bukan termasuk ghibah dalam 6 perkara
Orang yang terdholimi, yang memperkenalkan, yang memperingatkan
Orang yang terang-terangan berbuat kefasikan, orang yang meminta fatwa
Dan orang yang meminta bantuan untuk memberantas kemungkaran
(Keenam hal ini sama dengan apa yang dijelaskan oleh Imam Nawawi diatas. “Ijma ulama ‘ala hajr wat tahdzir min ahlil ahwa’” oleh Kholid bin Dhohawi hal. 121)

4. Imam Ahmad –rahimahullah- (Imam Ahlu sunnah) mengatakan :
“Tidak ada istilah ghibah untuk (membantah) ahli bid’ah” (Thobaqoh Al-Hanabilah 2/274)

5. Imam Ibnu Rajab Al-Hambali –rahimahullah- mengatakan dalam kitab “Syarh ‘ilal At-Tirmidzi” 1/43-44 :
(Imam Abu Isa (At-Tirmidzi) –rahimahullah- berkata: “Sebagian orang yang tidak paham akan (agama ini) mencela para ahli hadits dalam ucapan mereka tentang perawi-perawi hadits.

Sungguh kita telah mendapati banyak dari para Imam dari kalangan tabi’in membicarakan (menggunjing/mencela) para perowi diantara mereka adalah Hasan Al-Bashri & Thowus mereka berdua mencela Ma’bad al-Juhani, Sa’id bin Jubeir membicarakan Tholq bin Habib, Ibrahim an-Nakho’i dan Amir asy-Sya’bi membicarakan a l-Harits al-A’war.

Demikian pula yang diriwayatkan dari Ayyub as-Sakhtiyani, Abdullah bin ‘Aun, Sulaiman at-Taimi, Syu’bah bin Hajjaj, Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas, al-’Auza’i, Abdullah bin Mubarak, Yahya bin Sa’id al-Qoththon, Waki’ bin Jarrah, Abdurrohman bin Mahdi dan selain mereka dari para ahli ilmu, mereka semua pernah membicarakan para perawi-perawi dan mendhoifkannya.

Tidaklah yang mendorong mereka dalam hal ini (membicarakan/menghibah para perawi) melainkan untuk menasehati kaum muslimin, tidak mungkin mereka hanya ingin mencela dan menghibah saja, akan tetapi mereka ingin menjelaskan kelemahan para perawi tersebut agar diketahui kaum muslimin, karena sebagian perawi yang lemah tersebut adalah ahli bid’ah, sebagian lagi tertuduh memalsukan hadits dan sebagian lagi ada yang banyak kesalahannya. Maka para imam-imam tersebut ingin menjelaskan hakekat mereka (para perawi) dengan sebenarnya, dalam rangka menjaga agama ini dan menjelaskan hakekat sebenarnya. Karena persaksian dalam agama (tentang hadits-pent) lebih utama untuk diteliti dari pada persaksian dalam masalah hak pribadi dan harta”. Ibnu Rajab berkata: “Disini Imam Tirmidzi ingin menjelaskan bahwa membicarakan/mengunjing para perowi (Jarh wa Ta’dil) itu boleh. Hal ini telah disepakati oleh para salaf/pendahulu umat ini dan para imam-imam mereka. Demikian itu untuk membedakan mana perowi/hadits yang bisa diterima dan mana yang tidak. Sebagian orang yang tidak memiliki ilmu mengira itu adalah ghibah (yang diharamkan), padahal tidak demikian, sebab membicarakan aib seseorang jika ada maslahatnya -meskipun pribadi- dibolehkan (dalam agama) tanpa ada perselisihan lagi seperti mencela para saksi yang dusta, maka kalau maslahatnya umum untuk muslimin ini lebih dibolehkan lagi”

6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- berkata dalam “majmu’ fatawa” 28/225-232 :
Menyebut manusia dengan apa-apa yang mereka benci ada dua macam :

1. Menyebut jenis (golongan), setiap golongan yang dicela Allah dan Rasul-Nya maka wajib untuk mencela mereka, hal ini bukan termasuk ghibah.

2. Menyebut perorangan baik yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Boleh menyebutkan kejelekan orang tersebut dalam beberapa keadaan, diantaranya: dalam rangka menasehati kaum muslimin tentang agama dan dunia mereka. Menasehati umat dalam kemaslahatan agama yang khusus dan umum adalah suatu kewajiban. Seperti menjelaskan perowi hadits yang salah atau berdusta sebagaimana yang dikatakan oleh Yahya bin Said serta Al-Auza’i tentang seseorang yang tertuduh (memalsukan) hadits dan dia tidak hafal, maka mereka mengatakan: “jelaskan hakekat dan jati dirinya!”. Pernah seseorang berkata kepada Imam Ahmad rahimahullah : “Aku merasa berat jika mengatakan si fulan itu demikian dan demikian (dari kesesatannya-pent). Maka Imam Ahmad mengatakan: “jika engkau diam dan akupun juga diam maka kapan orang bodoh/awam tahu mana yang benar dan mana yang salah!!!
Seperti imam-imam ahli bid’ah yang memiliki pendapat-pendapat yang menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah atau beribadah tapi menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah maka mereka ini wajib (menurut ijma kaum muslimin) dijelaskan kesesatannya dan diperingatkan umat dari bahayanya. Sampai-sampai pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad rahimahullah : “Ada seseorang yang puasa, sholat, I’tikaf dan ada orang lain yang membantah ahli bid’ah, manakah yang lebih anda sukai? Beliau menjawab : apabila orang itu sholat, i’tikaf maka hal itu manfaatnya untuk dia sendiri tapi apabila dia membantah ahli bid’ah maka manfaatnya bagi kaum muslimin dan inilah yang lebih afdhol/lebih utama.

Beliau menjelaskan bahwa manfaatnya lebih luas bagi kaum muslimin di dalam agama mereka, yang hal tersebut termasuk jihad fi sabilillah. Menjernihkan jalan Allah, agama, manhaj serta syari’at-Nya dari kesesatan dan permusuhan mereka (ahli bid’ah) merupakan suatu kewajiban yang kifayah menurut kesepakatan kaum muslimin
Seandainya tidak ada yang menolak/membantah bahaya (bid’ah) nya mereka maka akan rusaklah agama ini. Dan kerusakan yang ditumbuhkan nya (bid’ah) lebih dahsyat daripada penjajahan. Karena mereka (para penjajah) jika merusak tidaklah merusak hati pertama kali tapi mereka (ahli bid’ah) pertama kali yang dilakukan adalah merusak hati

7. Imam Hasan Al-Bashri –rahimahullah- mengatakan :
“Tidak ada istilah ghibah dalam membantah ahli bid’ah”. Beliau mengatakan : “Tiga golongan manusia yang tidak ada larangan dalam mengghibah mereka, salah satunya adalah ahli bid’ah yang extrim dalam bid’ahnya”. Beliau juga pernah berkata: “tidak ada istilah ghibah dalam mencela pelaku bid’ah dan orang fasik yang menampakkan kefasikannya”. (ucapan-ucapan ini diriwayatkan oleh Al-Lalika’I dalam “Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah” 1/140)

8. Ibrahim An-Nakho’i –rahimahullah- mengatakan :
“Tidak ada ghibah dalam membantah ahli bid’ah” (lihat Sunan Darimi 1/120)

9. Sufyan bin Uyainah –rahimahullah- berkata :
“Pengekor hawa nafsu dalam agama ini tidak ada larangan dalam mengghibahnya” (lihat “Mukhtashor Hujjah” oleh Nashr Al-Maqdisy hal.538 )

10. Abu Hamid Al-Ghozali setelah membahas masalah ghibah dalam kitabnya “Ihya’ Ulumuddin” beliau berkata :
“Ketahuilah bahwa ghibah itu dibolehkan selama untuk tujuan yang disyari’atkan yang tidak mungkin sampai kepadanya kecuali dengan ghibah tersebut, maka tidak ada dosa didalamnya. Hal tersebut ada pada 6 keadaan”. (Ihya’ Ulumuddin 3/152)

Dari ucapan para ulama salaf ahli sunnah diatas telah jelas bagi kita akan bolehnya mengghibah para penyesat umat dengan tujuan menjelaskan/menyikap hakekat kesesatan mereka kepada umat ini. Bahkan bisa jadi hal tersebut wajib, tapi perlu diketahui bahwa mengghibah ahli bid’ah itu dibolehkan dengan syarat-syarat berikut ini :

1. Ikhlas karena Allah dan tujuan dari mencela/membantah ahli bid’ah adalah menasehati kaum muslimin dan memperingatkan mereka akan bahaya bid’ah mereka. Selain untuk tujuan ini maka ghibah itu diharamkan, seperti karena permusuhan pribadi, hasad terhadap ahli bid’ah dll

2. Pelaku bid’ah tersebut menyebarkan bid’ahnya. Jika pelaku bid’ah tersebut menyembunyikan/tidak menyebarkan bid’ahnya maka tidak boleh mengghibahnya. Karena mengghibah pelaku bid’ah (penyesat umat) tujuannya untuk amar ma’ruf nahi mungkar dan hal ini tidak bisa dilakukan kecuali kalau bid’ahnya itu ditampakkan/disebarkan ditengah masyarakat

3. Ahli bid’ah tersebut masih hidup dan belum meninggal. Jika orang tersebut (penyesat umat) sudah meninggal dunia maka tidak boleh mengghibahnya, kecuali jika dia memiliki buku-buku (tulisan-tulisan) dan pengikut yang memuat dan menyebarkan bid’ahnya maka wajib untuk memperingatkan umat darinya.

4. Bersikap adil dalam membantah ahli bid’ah, menjelaskan kesesatan/kebid’ahannya tanpa berdusta/tanpa mengada-ada. (Lihat “Mauqif ahlis sunnah wal jama’ah min ahlil ahwa’ wal bid’ah” oleh DR. Ibrahim Ar-Ruhaily 2/506-509)

(adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah Ed 15, hal. 30-34)