MANTAN WAKIL KETUA PG NU BERPALING KEPADA MANHAJ SALAF

MANTAN WAKIL KETUA PG NU BERPALING KEPADA MANHAJ SALAF

Sangat terlalu banyak apabila disebutkan satu persatu orang-orang yang tadinya gemar dengan beragam aneka ritual dan amalan-amalan bid’ah kemudian berpaling kepada manhaj Salaf.

Dan sosok yang satu ini salah satunya. Beliau adalah bernama Buchari seorang mantan anggota Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tahun 1965.

Sa’at kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah cabang Serang, dan Wakil Ketua Persatuan Guru NU Kabupaten Lebak 1969-1974.

Jabatan terakhirnya Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama, Serang, Banten (2008-2009).

Perubahan keyakinan Buchari berubah sejak ia dan istrinya berangkat haji pada 2007.

Selama di sana, ia membaca buku-buku karya ulama berpaham Wahabi, antara lain, Kasyfusy Syubuhat fit Tauhid (Menyingkap Kesalah pahaman dalam Tauhid) karya Muhammad bin Abdul Wahhab, Al-Aqidah ash-Shahihah wa Ma Yudladhuha (Aqidah Yang Benar dan Hal-Hal yang Membatalkannya) karya Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, dan Haji, Umrah, dan Ziarah Menurut Kitab dan Sunnah, juga karya Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.

Berdasarkan baca’annya dari buku-buku karya ulama Wahabi ini, Buchari menyatakan, seorang Muslim yang konsisten mengikuti Alquran dan as-Sunnah tidak akan mengikuti upacara peringatan ‘Maulid Nabi, Isra Miraj, dan Nuzulul Quran. Sebab, tradisi ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Ia juga menegaskan peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada 12 Rabiul Awal adalah meniru penganut agama Nasrani dalam merayakan Hari Natal (Hari Lahirnya Yesus Kristus) setiap 25 Desember

(Buku Mustasyar MWC NU Menggugat Maulid Nabi karya Buchari, hal 117 dan 211).

http://m.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/15/01/28/nivmw6-raja-abdullah-dan-wahabi

_________________

SUKSESNYA SEBUAH DAKWAH BUKAN DI UKUR DENGAN BANYAKNYA PENGIKUT

SUKSESNYA SEBUAH DAKWAH BUKAN DI UKUR DENGAN BANYAKNYA PENGIKUT

Apabila suksesnya sebuah dakwah dinilai dengan banyaknya jumlah manusia yang bisa menerimanya. Maka bisa diartikan para Nabi gagal dalam menyampaikan risalahnya. Bukankah yang mengikuti seruan para Rasul lebih sedikit dibanding yang menolaknya ?. Bahkan ada Nabi yang sama sekali tidak memiliki pengikut.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadis. “Tatkala Nabi diisra’kan Nabi melewati beberapa Nabi yang bersama mereka pengikut yang banyak, beberapa Nabi lainnya sedikit jumlah pengikutnya dan beberapa nabi lagi tidak mempunyai satu orang pengikut pun”. (Imam Tirmidzi ).

Nilai pahala dari sebuah usaha dakwah, dilihat bukan dari jumlah manusia yang bisa dijaring untuk mendengarkan seruannya. Akan tetapi dari kesungguhan dan kesabaran menghadapi berbagai ujian yang dihadapinya.

الأَجْرُ يَقَعُ بِمُجَرَّدِ الدَّعْوَةِ وَلَا يُتَوَقَّفُ عَلَى الاِسْتِجَابَةِ

“Pahala didapat karena melaksanakan dakwah, bukan tergantung kepada penerima’annya”

Nabi Nuh ‘alaihissalam yang mendakwahi kaumnya siang dan malam hingga memakan waktu beratus-ratus tahun lamanya, akan tetapi yang mengikuti seruannya hanyalah sedikit sekali. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an,

– Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلا خَمْسِينَ عَامًا

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun . .” (QS. Al Ankabut: 14).

– Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلا قَلِيلٌ

”. . Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit”. (QS. Huud: 40).

Kalaulah kesuksesan dakwah diukur dari jumlah orang yang mengikuti seruannya, maka bisa dikatakan Nabi Nuh telah gagal mengemban misinya, namun pada hakekatnya tidaklah demikian, karena para Nabi dan Rasul merupakan hamba pilihan yang mendapatkan tempat mulia di sisi Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itulah Allah Ta’ala memotivasi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam agar berdakwah secara optimal, tidak menakar kesuksesannya melalui jumlah yang didapat. Allah tegaskan bahwa kewajiban utusan Allah hanyalah menyampaikan risalah, tidak lebih dari itu.

Allah Ta’ala berfirman :

فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ

”Maka tidak ada kewajiban atas para Rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. An-nahl : 35).

• Hidayah milik Allah Ta’ala

Perkara hidayah, sesungguhnya itu semua adalah urusan Allah Ta’ala untuk memberikannya.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56).

Maka barangsiapa yang memahami kaidah ini, seorang da’i akan berdakwah tanpa beban, tidak kecewa karena sedikitnya orang yang bisa menerimanya, walaupun siang malam dia menyeru manusia.

Allah tidak mewajibkan untuk menjadikan manusia mendapatkan petunjuk, karena hidayah milik Allah yang akan diberikan kepada siapa yang dikehendakinya.

Allah Ta’ala berfirman :

لَّيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَن يَشَآءُ

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya”. (Al-Baqarah: 272).

Oleh karena itulah tidak sepantasnya seorang da’i mengeluh, gundah gulana karena kenyata’an melihat manusia hanya sedikit yang bisa menerima seruannya.

Allah Ta’ala berfirman :

فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ

“Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.” (QS. Faathir: 8).

Tidak layak seorang da’i menimbang-nimbang dakwahnya antara terus berdakwah atau menghentikannya, karena melihat sedikitnya respon dari manusia.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________

LEBIH BAIK BANYAK MENDENGAR DARIPADA BANYAK BICARA

LEBIH BAIK BANYAK MENDENGAR DARIPADA BANYAK BICARA

Allah Subhaanahu wa Ta’ala menciptakan manusia satu mulut, sedangkan mata dan telinga masing-masing dua. Orang bijak mengatakan, supaya kita lebih banyak melihat dan mendengar dibanding banyak berbicara.

Pepatah mengatakan, ”Diam itu adalah emas”. Diam yang dimaksud disini adalah ;

– Tidak bicara yang dusta
– Tidak bicara yang tidak bermanfa’at
– Tidak bicara karena tidak diperlukan
– Tidak bicara yang mengandung fitnah
– Tidak bicara yang hanya akan merendahkan kehormatan diri
– Tidak bicara yang sekiranya akan menyakiti orang lain.

Akan tetapi apabila bicara itu diperlukan untuk kebaikan, maka itu harus dilakukan walaupun bisa dibenci orang lain.

Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ; “Katakan yang benar walaupun pahit dan janganlah kamu gentar terhadap cerca’an orang yang mencerca”. (HR. al-Baihaqi).

Sungguh besar faedah dan akibatnya bagi orang yang bisa menahan sahwat lisannya, tidak selalu mengumbarnya. Karena setiap perkata’an yang diucapannya malaikat selalu mencatatnya.

Allah Ta’ala berfirman :

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [Qaf -18].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya (lisan) dan dua kakinya (kemaluan), maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga”. (Shahih Al-Bukhari no. 6474).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkata’an yang tidak dipikirkan dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat”. (Shahih Bukhori, no. 6477).

Betapa buruk akibat dari lisan yang tidak di jaga. Bukan saja merendahkan dirinya tapi juga mengundang murka Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Namun sungguh disayangkan, banyak orang yang tidak bisa tahan menjaga napsu bicaranya, padahal dengan banyaknya dia bicara malah bisa jadi menghilangkan kehormatannya, karena dari ucapan-ucapannya orang lain jadi bisa menakar dan menilai kwalitas dirinya.

Bukankah ada yang mengatakan ;

”KATA-KATAMU ADALAH KWALITAS DIRIMU”.

Menjaga kehormatan diri menunjukkan seseorang memiliki akhlak yang baik, menunjukkan lahir dan tumbuh berkembang dilingkungan keluarga yang baik. Namun sebaliknya seorang yang memiliki akhlak yang rendah umumnya mempunyai latar belakang masa kecil yang suram, masa kecil yang tidak tumbuh emosinya secara optimal. Dan tidak mendapatkan pendidikan yang baik dari orang tua.

• Lebih baik banyak mendengar daripada banyak bicara

Banyak mendengar dan menyimak akan menjadikan manusia nampak lebih terhormat dan berwibawa, seorang pribadi yang bijaksana lebih suka mendengarkan daripada pada banyak bicara (yang tidak berguna). Seorang yang terhormat dan bermartabat dia tahu benar kapan dia harus bicara.

Mendengarkan dapat membantu kita menjadi tenang dan konsentrasi. Betapa pentingnya diam untuk mempelajari sesuatu. Ketika kita bicara, sulit untuk mempelajari lebih banyak hal daripada apa yang telah kita ketahui.

Tapi ketika diam mendengarkan apa yang dikatakan orang lain, maka kita dapat mulai mengerti segala sesuatu dari sudut pandang orang lain, dan kita dapat mempunyai akses terhadap apa yang menurut pendapatnya tidak kita ketahui.

• Mendengarkan bisa mendatangkan hidayah

Anugerah yang paling besar bagi orang yang berusaha untuk mendengarkan adalah bisa menjadikan datangnya hidayah kepada dirinya.

Allah Ta’ala berfirman :

فَبَشِّرۡ عِبَادِ ۙ ﴿۱۷

الَّذِيۡنَ يَسۡتَمِعُوۡنَ الۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُوۡنَ اَحۡسَنَهٗ‌ ؕ اُولٰٓٮِٕكَ الَّذِيۡنَ هَدٰٮهُمُ اللّٰهُ‌ وَاُولٰٓٮِٕكَ هُمۡ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿۱۸

”. . Sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku”,

”Yaitu bagi orang yang mendengarkan perkata’an lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”. (Az-Zumar Ayat : 17 – 18).

Orang yang berusaha untuk mendengarkan dan berusaha untuk menyimak keterangan dari orang yang datang kepadanya, kemudian dia mengambilnya apabila keterangan yang disampaikannya itu berasal dari Allah dan Rasulnya, maka Allah menjaminnya memberinya hidayah. Dan Allah Ta’ala mengatakan orang demikian sebagai orang yang berakal.

Tapi kebanyakan manusia, ketika mendapatkan keterangan yang berbeda dari yang difahaminya selama ini, ada perasa’an tidak senang, kemudian mencari celah untuk bisa membantah dan mengolok-oloknya. Bukan bertanya dari mas’alah yang dia tidak fahami malah mencibir dengan kata-kata buruk hina dan kasar.

– Sahabat Mu’adz bertanya :

يَا نَبِّيَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَا خَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ

“Wahai Nabi Allah, apakah kita kelak akan dihisab atas apa yang kita katakan ?”

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَ مَنَا خِرِهِِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“Bukankah tidak ada yang menjerumuskan orang ke dalam neraka selain buah lisannya”.

– Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”. (Shahih Muslim no. 74).

– Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَشْرَةَ السُّؤَالِ

“Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa dasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah)”.

Mudah-mudahan kita bisa menjaga lisan dari ucapan-ucapan yang tidak berguna.

Wassalam

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

_____

Zakat fitrah dengan beras berarti bid’ah ?

ZAKAT FITRAH DENGAN BERAS BERARTI BID’AH ?

Zakat fitrah dengan beras berarti bid’ah, karena tidak di lakukan Rosululloh ?

Tanggapan :

Zakat fitrah dengan beras bukan bidah, walaupun tidak di lakukan oleh Rosululloh,

Dalam hadits disebutkan zakat fitrah dengan kurma, gandum, anggur atau keju, semua itu adalah makanan pokok, di tiap-tiap negri yang berbeda.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Dahulu kami mengeluarkan zakat fithri di masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada hari Idul Fithri dengan satu sho’ makanan.” Abu Sa’id berkata, Dahulu yang menjadi makanan kami adalah gandum, anggur, keju dan kurma.” (HR. Bukhari no. 1510).

Empat makanan yang disebutkan di atas bukanlah batasan. Makanan tersebut menjadi makanan orang banyak di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kata “makanan” maksudnya adalah makanan pokok penduduk suatu negeri, bisa berupa gandum, jagung, beras, atau lainnya.

Setiap yang menjadi makanan pokok di tiap-tiap negri, bisa digunakan untuk zakat fitrah, seperti di negeri kita dengan beras.

Yang mendukung pendapat ini adalah riwayat Abu Sa’id yang lain, beliau mengatakan : “Kami mengeluarkan (zakat fitrah) berupa makanan di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari ‘Idul Fitri.” Beliau mengatakan lagi, “dan makanan kami pada saat itu adalah gandum, kismis, susu kering, kurma.” (HR. Bukhari).

Inilah pendapat yang kuat yang dipilih jumhur (mayoritas) ulama. Di antaranya pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Mundzir, Ibnul Qayyim, Ibnu Bazz, dan lainnya.

Zakat fitrah bertujuan untuk memberikan makan bagi fakir dan miskin. Sehingga seandainya diberi sesuatu yang bukan dari makanan pokoknya, maka tujuan itu menjadi tidak tepat.

Jadi zakat fitrah dengan beras, bukanlah perkara yang di buat-buat dalam agama.

Kita mengeluarkan zakat fitrah dengan beras, karena beras sebagai makanan pokok di negri kita.

Wassalam

Agus Santosa Somantri

————————

Pesawat berarti bid’ah ?

PESAWAT TERBANG BERARTI BID’AH ?

Kadang-kadang ada orang yang karena tidak fahamnya arti bid’ah, dia mengatakan, pesawat terbang berarti bidah ? Karena tidak ada di zaman Nabi.

Orang yang tidak faham suatu masalah, memang suka asal bicara.

Orang yang pergi haji naik pesawat terbang, apakah ada dalam benaknya jika ibadah hajinya jadi lebih mabrur ?

Atau dia meyakini kalau kendara’an yang dia tumpanginya memberikan nilai tambah terhadap ibadah hajinya ?

Pesawat terbang yang orang gunakan untuk pergi ibadah haji, hanya sebagai sarana transfortasi.

Kalau dahulu kaum muslimin berangkat haji dengan mengendarai unta, kemudian terus berkembang hingga kira-kira di awal abad 20 mulai digunakan kendara’an bermotor dan kapal laut, maka sa’at ini mereka menggunakan pesawat terbang. Entah kendara’an apa yang akan di gunakan seabad kemudian ?

Pesawat terbang yang orang gunakan untuk pergi ibadah haji, bukanlah tujuan utama dari ibadah haji.

Orang yang menggunakan pesawat terbang untuk pergi ibadah haji, tidak menjadikannya jika pesawat terbang sebagai syarat dalam ibadah haji.

Pesawat terbang bisa di ganti atau bahkan tidak di gunakan apabila ada sarana transfortasi yang lebih baik.

Berbeda dengan syarat-syarat dan rukun-rukun dalam ibadah haji, tidak boleh ada yang di rubah, di tambah atau di kurangi, terlebih lagi di hilangkan.

Jadi jelas, pesawat terbang yang orang gunakan untuk pergi ibadah haji, hanyalah sarana transfortasi belaka. sama halnya dengan orang yang berangkat shalat jum’at naik becak, motor, mobil atau kendara’an lainnya.

Pesawat terbang, adalah termasuk kedalam perkara duniawi, yang kaidahnya :

الاصل في العاده حلال حتي يقوم الدليل علي النهي

Artinya :

“Asalnya urusan duniawi halal (boleh) kecuali ada dalil yng melarangnya”.

————————

JAUHI BID’AH WALAUPUN KECIL

JAUHILAH BI’DAH WALAUPUN KECIL

Imam Abu Muhammad Al Barbahaari menulis untaian kata dalam kitab beliau yang bernama Syarhus Sunnah :

“Hindarilah oleh kalian hal-hal yang bid’ah itu betapa pun kecilnya, sebab bid’ah yang kecil itu secara terus-menerus akan menjadi besar. Demikian pula setiap bid’ah yang di munculkan ditengah-tengah ummat, awalnya adalah kecil, lalu di anggap oleh orang bahwa itu kebaikan dan kebenaran, Sehingga orang itu tertipu seolah-olah itu kebenaran, kemudian ia tidak bisa keluar dari hal tersebut, sehingga semakin besar bid’ah itu. Akhirnya akan dianggap sebagai dien (syari’at) yang diyakini, lalu menyelisihi jalan yang lurus”.

https://agussantosa39.wordpress.com/category/bidah/jangan-sepelekan-bidah/

————————

Lebih baik bodoh di atas sunnah daripada pintar tapi bid’ah

LEBIH BAIK BODOH DI ATAS SUNNAH DARIPADA PINTAR DIATAS BID’AH

Al-Imam al-Qasim bin Muhammad rahimahullah berkata : “Seseorang hidup dalam keadaan jahil / bodoh, itu lebih baik daripada dia berkata atas nama agama Allah tanpa ilmu” (Thabaqat al-Hanabilah 1/70)

قال العلامة ربيع بن هادي حفظه الله : الجهل : أفضل من أخذ العلم عن أهل البدع
[ المجموع ١/٣٠١ ]

Berkata Al ‘Allamah Robi’ bin Hadiy hafizhohulloh : “Kejahilan (kebodohan) Lebih utama daripada mengambil ilmu dari ahlul bida’.” (Al Majmu’ 1/301)

Berkata As-Syaikh Hani’ bin Buraik hafidzahullah ; “Lebih baik engkau menjadi orang yang jahil (bodoh) tetapi di atas As-Sunnah, daripada engkau menjadi penuntut ilmu namun mubtadi’/ pelaku bid’ah !”

_____________________