SIAPA YANG SEBENARNYA TUKANG DEBAT ?

SIAPA YANG SEBENARNYA TUKANG DEBAT ?

Ketika mengingatkan umat untuk meninggalkan tahayul, bid’ah dan churafat (TBC) mereka yang merasa terusik sering mencemo’oh, mencibir dan menyebut sebagai tukang debat.

Siapa sesungguhnya yang tukang debat ?

– Nabi Nuh mengingatkan kaumnya untuk meninggalkan kesyirikan, akan tetapi kaumnya mendebatnya. (QS. Hud : 32).

Siapa sesungguhnya yang tukang debat ?

– Nabi Ibrahim mengingatkan kaumnya untuk tidak menyembah berhala, akan tetapi kaumnya mendebatnya. (QS. al- Baqarah:258).

Siapa sesungguhnya yang tukang debat ?

– Nabi Musa menyeru fir’aun untuk menyembah Allah ta’ala, akan tetapi fir’aun mendebatnya.

Siapa sesungguhnya yang tukang debat ?

– Rasulul Sallallaahu ‘alaihi wa sallam menyeru kaum Musyrik Makkah, Nasrani Najran, dan Yahudi Madinah untuk masuk Islam, akan tetapi mereka mendebatnya.

Siapa sesungguhnya yang tukang debat ?

– Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengajak kelompok Khawarij untuk kembali kepada ajaran Islam yang benar, akan tetapi mereka mendebatnya.

Siapa sesungguhnya yang tukang debat ?

– Al-Auza’i meluruskan seorang pengikut aliran Qadariyyah supaya kembali kepada faham yang benar, akan tetapi dia mendebatnya.

Siapa sesungguhnya yang tukang debat ?

Begitu pula sa’at ini ketika ada orang yang mengingatkan saudaranya sesama muslim untuk meninggalkan praktek-praktek yang berasal dari nenek moyang, tahayul, bid’ah dan churafat (TBC) tidak pernah sepi dari cibiran, cemo’ohan, hina’an dan makian dan tentu saja dibantah di debat.

Siapa sesungguhnya yang tukang debat ?

Apakah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Muhammad, Ibnu ‘Abbas, Al-Auza’i, dan orang yang memperingatkan umat dari tahayul bid’ah dan churafat (TBC) yang tukang debat ?

Atau sebaliknya mereka para penentangnya, yang tidak pernah kehabisan kata untuk membantah, mencemo’oh, sinis dan mencibir mengeluarkan ucapan buruk hina dan kasar, yang seolah-olah jadi ciri khas mereka ?

Mendebat atau membantah itu memang mudah.

Ya . . memang mendebat itu mudah, sangat mudah.

Siapapun bisa mendebat tak terkecuali orang bodoh bahkan anak kecil sekalipun bisa membuat bantahan bagi siapa saja yang ingin di debat.

Bisa mendebat tidak berarti keyakinanya di bangun diatas ilmu, karena tidak semua bantahan itu ada ilmunya, sebab ilmu itu hanya bisa dilihat dengan “kacamata ilmu”, begitu pula bodoh bisa dilihat dengan “kacamata ilmu”, tapi ilmu tidak akan bisa dilihat oleh kebodohan, sebab kebodohan hanya melihat kebodohan sebagai satu-satunya ilmu.

Dan tidak ada yang dapat menyadarkan orang bodoh tentang kebodohannya meski langit runtuh di depannya.

Wassalam

Agus Santosa Somantri

_

Iklan